Anda di halaman 1dari 4

2.1 Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc. Var.

Rubrum)
2.1.1 Tanaman Jahe Merah
Berdasarkan aroma, warna, bentuk dan ukuran rimpang, dikenal tiga jenis jahe
yaitu jahe besar atau jahe badak, jahe kecil atau biasa disebut jahe emprit dan jahe
merah atau jahe sunti (Sastroamidjojo, 1997). Herlina et al. (2002), menambahkan
bahwa jahe besar berwarna hijau muda, berbentuk bulat, beraroma kurang tajam dan
berasa kurang pedas. Jahe kecil memiliki ukuran rimpang kecil, berbentuk sedikit
pipih, berwarna putih, beraroma agak tajam dan berasa pedas. Jahe merah berwarna
kuning kemerahan, berserat kasar, berasa sangat pedas dan beraroma tajam.
Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan salah satu jenis jahe
yang ada di Indonesia. Jahe merah ini mempunyai ciri fisik yaitu batang jahe
berbentuk bulat, berwarna hijau kemerahan dan agak keras karena diselubungi oleh
pelepah daun. Tinggi tanaman mencapai 34,18-62,28 sentimeter. Daun tersusun
berselang-seling secara teratur dan memiliki warna yang lebih hijau (gelap)
dibandingkan dengan kedua jenis jahe lainnya. Permukaan daun bagian atas berwarna
hijau muda dibandingkan dengan bagian bawahnya. Luas daun 32,55-51,18
sentimeter2 dengan panjang 24,30- 24,79 sentimeter; lebar 2,79-31,18 sentimeter dan
lebar tajuk 36,93- 52,87 sentimeter. Rimpang jahe berwarna merah hingga jingga
muda. Ukuran rimpang pada jahe merah lebih kecil dibandingkan dengan dua jenis
jahe lainnya, yaitu panjang rimpang 12,33-12,60 sentimeter, tinggi 5,86-7,03
sentimeter, dan berat rata-rata 0,29-1,17 kilogram. Akar berserat agak kasar dengan
panjang 17,03-24,06 sentimeter dan diameter akar 5,36-5,46 milimeter (Herlina et al.,
2002).
Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan salah satu varietas
dari tanaman jahe. Berdasarkan taksonomi tanaman, jahe termasuk divisi
Pteridophyta, subdivisi Angiospermae, klas Monocotyledone, ordo Scitaminae, famili
Zingiberaceae dan genus Zingiber (Koeswara, 1995).

Guzman dan Siemonsma (1999), menyatakan bahwa jahe merah sama seperti
varietas jahe yang lain yaitu merupakan tanaman berbatang semu yang tumbuh tegak
tidak bercabang dengan tinggi tanaman dapat mencapai 1,25 meter. Pusat Studi
Biofarmaka (2004), menambahkan bahwa tanaman ini tersusun atas pelepah daun
berbentuk bulat berwarna hijau pucat dengan warna pangkal batang kemerahan dan
bentuk daun memanjang.
Setiap jenis jahe memiliki perbedaan penggunaan yang disesuaikan dengan
karakteristik masing-masing varietas. Jahe besar lebih banyak digunakan untuk
masakan, minuman, permen dan asinan. Jahe kecil banyak digunakan sebagai
penyedap rasa pada makanan dan minuman. Jahe merah yang mempunyai
keunggulan dari segi kandungan senyawa kimia lebih banyak digunakan sebagai
bahan baku obat (Herlina et al. 2002).

Gambar 1. Tanaman Jahe Merah


2.1.2 Rimpang Jahe Marah
Bagian jahe yang banyak digunakan adalah rimpangnya. Rimpang jahe yang
biasa digunakan berumur antara 9 sampai 11 bulan. Rimpang jahe bercabang-cabang
tidak teratur dengan daging berwarna merah atau jingga muda, berukuran kecil dan
memiliki serat yang kasar (Koeswara, 1995).
Menurut Herlina et al., (2002) bahwa jahe merah mempunyai banyak
keunggulan dibandingkan dengan jenis jahe lainnya, terutama ditinjau dari segi

kandungan senyawa kimia dalam rimpang dimana terdiri dari zat gingerol, oleoresin,
dan minyak atsiri yang tinggi sehingga lebih banyak digunakan sebagai obat.
Koeswara (1995) menambahkan bahwa sifat khas jahe disebabkan oleh adanya
minyak atsiri dan oleoresin. Jahe juga mengandung beberapa komponen kimia lain
seperti air, pati, minyak atsiri, oleoresin, serat kasar dan abu. Komposisi setiap
komponen berbeda-beda berdasarkan varietas, iklim, curah hujan dan topografi atau
kondisi lahan. Komposisi kimia jahe dapat dilihat pada Tabel 1.
Herlina et al. (2002), menyatakan bahwa kandungan minyak atsiri dan
oleoresin yang tinggi pada rimpang jahe merah menyebabkan jahe merah memiliki
peranan penting dalam dunia pengobatan. Kandungan minyak atsiri jahe merah
berkisar antara 2,58 sampai 3,72 persen dari bobot kering. Jahe besar mengandung
minyak atsiri sebesar 0,82 sampai 1,68 persen, sedangkan jahe kecil memiliki
kandungan minyak atsiri sebesar 1,5 sampai 3,3 persen. Jahe merah juga memiliki
kandungan oleoresin tertinggi dibandingkan dengan jenis jahe lainnya, yaitu dapat
mencapai 3 persen dari bobot kering.
Tabel 1. Komposisi kimia jahe per 100 gram (edible portion)
Komponen
Air (g)
Energi (kcal)
Protein (g)
Lemak (g)
Karbohidrat (g)
Serat kasar (g)
Total abu (g)
Kalsium (mg)
Besi (mg)
Magnesium (mg)
Phospor (mg)
Potasium (mg)
Sodium (mg)
Seng (mg)
Niasin (mg)
Vitamin A (IU)

Jumlah
9.4
347
9.1
6
70.8
5.9
4.8
116
12
184
148
1342
32
5
5
147

Sumber: Farrel (1985)

Gambar 2. Rimpang Jahe Merah


2.1.3 Kegunaan Jahe Merah
Jahe merah memiliki banyak kegunaan. Penelitian untuk menguji aktivitas
farmakologi maupun untuk mengisolasi komponen aktif sudah banyak dilakukan
dansemakin berkembang. Pada pengobatan tradisional China dan India, jahe merah
digunakan untuk mengatasipanyakit batuk, diare, mual, asma, gangguan pernapasan,
sakit gigi, dan arftitis rheumatoid, dyspersia, dan morning sickness. Beberapa efek
farmakologi yang sudah diuji baik pada hewan caoba maupun secara in vitro adalah
antioksidan, antiemetic, antikanker, antiinflamasi akut maupun kronik, antipiretik,
dan analgesic (Joanne, Anderson, Phillipson, 2007).