Anda di halaman 1dari 32

Bronkitis Kronis

RIZKI NUR FAIZAL

Definisi
Bronkhitis kronis adalah inflamasi luas jalan
napas dengan penyempitan atau hambatan jalan
napas dan peningkatan produksi sputum
mukoid, menyebabkan ketidakcocokan ventilasi
perfusi dan menyebabkan sianosis

Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan


pada bronchus yang sifatnya menahun
(berlangsung lama) dan disebabkan oleh
berbagai faktor, baik yang berasal dari luar
bronchus maupun dari bronchus itu sendiri,
merupakan keadaan yang berkaitan dengan
produksi mukus trakeobronkial yang berlebihan
sehingga cukup untuk menimbulkan batuk
dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam
setahun untuk lebih dari 2 tahun secara
berturut-turut.

Etiologi Bronkhitis Kronis


Faktor etiologi yang paling penting dalam
pengembangan bronkitis kronis adalah merokok
rokok. Ada hubungan langsung antara jumlah
dan durasi merokok dan tingkat keparahan
penyakit. Penyebab lainnya termasuk agen
dihirup dari paparan kerja, tapi tanpa efek
merokok tampaknya relatif tidak signifikan.
Bronkitis kronis jarang dalam populasi nonmerokok

Tanda dan Gejala


Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan
memberikan gejala :
Batuk, mulai dengan batuk batuk pagi hari, dan makin lama batuk
makin berat, timbul siang hari maupun malam hari, penderita terganggu
tidurnya.
Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum menjadi purulen
atau mukopuruen dan kental.
Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah, kadang kadang
disertai tanda tanda payah jantung kanan, lama kelamaan timbul kor
pulmonal yang menetap
Dyspnea

Patofisiologi Bronkitis Kronis


Asap mengiritasi jalan nafas mengakibatkan hipersekresi
lendir dan inflamasi. Karena iritasi yang konstan ini,
kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel goblet
meningkat jumlahnya, fungsi silia menurun dan lebih banyak
lendir yang dihasilkan. Sebagai akibat bronkiolus dapat
menjadi menyempit dan tersumbat. Alveoli yang berdekatan
dengan bronkiolus dapat menjadi rusak dan membentuk
fibrosis, mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar
yang berperan penting dalam menghancurkan partikel asing
termasuk bakteri. Pasien kemudian menjadi lebih rentan
terhadap infeksi pernapasan. Penyempitan bronkial lebih
lanjut terjadi sebagai akibat perubahan fibrotik yang terjadi
dalam jalan napas. Pada waktunya mungkin terjadi
perubahan paru yang ireversibel, kemungkinan
mengakibatkan emfisema dan bronkiektasis(kolaps).

Pasien dengan bronkhitis kronis akan


mengalami:
a. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar
mukus pada bronkhus besar sehingga
meningkatkan produksi mukus.
b. Mukus lebih kental
c. Kerusakan fungsi siliari yang dapat
menurunkan mekanisme pembersihan mucus.

Komplikasi
Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik
pada beberapa alat tubuh, yaitu:
a. Emfisema
b. Penyakit jantung menahun, yang disebabkan oleh kelainan
patologik pada katup maupun miokardia. Kongesti menahun pada
dinding bronkhus melemahkan daya tahan sehingga infeksi bakteri
mudah terjadi.
c. Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, area infeksi
merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronkhus.
d. Dilatasi bronkhus (bronkhiektasis), menyebabkan gangguan
susunan dan fungsi dinding bronkhus sehingga infeksi bakteri mudah
terjadi.
e. Rokok dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput
lendir bronkhus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir
tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.

Penatalaksanaan Medis
a. Pengobatan
bronkhitis kronik adalah sebagai berikut:
1) Bronkodilator untuk menghilangkan bronkopasme dan mengurangi
obstruksi jalan napas, sehingga lebih banyak oksigen di distribusikan ke
seluruh bagian paru, dan ventilasi alveolar diperbaiki.
2) Terapi kortikosteroid mungkin digunakan ketika pasien tidak
menunjukkan keberhasilan terhadap pengukuran yang lebih konservatif.
Pasien harus menghentikan rokok karena menyebabkan
bronkokonstriksi, melumpuhkan silia, menginaktivasi surfaktan, yang
memainkan peran penting dalam memudahkan pengembangan paru.
3) Antimicrobial
4) Postural drainase
5) Aerosolized Nebulizer
6) Surgical Intervention

b. Cairan
Cairan diberikan peroral / parenteral jika
bronkopasme berat ) adalah bagian penting dari
terapi, karena hidrasi yang baik membantu
untuk mengencerkan sekresi sehingga dapat
dengan mudah dikeluarkan dengan
membatukkannya.

ASUHAN KEPERAWATAN

a.
Pengkajian
a) Aktivitas/istirahat
Gejala : Keletihan, kelelahan, malaise, Ketidakmampuan melakukan
aktivitas sehari hari, Ketidakmampuan untuk tidur, Dispnea pada
saat istirahat.
Tanda : Keletihan, Gelisah, insomnia, Kelemahan umum/kehilangan
massa otot.
b) Sirkulasi
Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi
jantung/takikardia berat, Distensi vena leher, Edema dependent,
Bunyi jantung redup, Warna kulit/membran mukosa
normal/cyanosis, Pucat, dapat menunjukkan anemi.

c) Integritas Ego
Gejala : Peningkatan faktor resiko, Perubahan pola hidup
Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang.
d) Makanan/cairan
Gejala : Mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia,
ketidakmampuan untuk makan, penurunan berat badan,
peningkatan berat badan..
Tanda : Turgor kulit buruk, edema dependen,
berkeringat, penurunan berat badan, palpitasi abdomen.
e) Hygiene
Gejala : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan
Tanda :Kebersihan buruk, bau badan.

f)
Pernafasan
Gejala : Batuk menetap dengan produksi sputum setiap
hari selama minimun 3 bulan berturut turut tiap
tahun sedikitnya 2 tahun, episode batuk hilang timbul.
Tanda : Pernafasan biasa cepat, penggunaan otot bantu
pernafasan, bentuk barel chest, gerakan diafragma
minimal, bunyi nafas ronchi, perkusi hyperresonan
pada area paru, warna pucat dengan cyanosis bibir dan
dasar kuku, abu abu keseluruhan.
g)
Keamanan
Gejala : Riwayat reaksi alergi terhadap zat/faktor
lingkungan, adanya / berulangnya infeksi.

h) Seksualitas
Gejala : Penurunan libido
i)
Interaksi social
Gejala : Hubungan ketergantungan, kegagalan
dukungan/terhadap pasangan/orang dekat,
penyakit lama/ketidakmampuan membaik
Tanda : Ketidakmampuan untuk mempertahankan
suara karena distress pernafasan. Keterbatasan
mobilitas fisik, kelalaian hubungan dengan anggota
keluarga lain.

b.
Pemeriksaan Diagnostik
a) Sinar x dada: Dapat menyatakan hiperinflasi paru
paru, mendatarnya diafragma, peningkatan area
udara retrosternal, hasil normal selama periode remisi.
b) Tes fungsi paru: Untuk menentukan penyebab
dispnoe, melihat obstruksi, memperkirakan derajat
disfungsi.
c) TLC: Meningkat
d) Volume residu: Meningkat.
e) FEV1/FVC: Rasio volume meningkat.

f)
GDA: PaO2 dan PaCO2 menurun, pH Normal.
g) Bronchogram: Menunjukkan di latasi silinder
bronchus saat inspirasi, pembesaran duktus mukosa.
h)
Sputum : Kultur untuk menentukan adanya
infeksi, mengidentifikasi patogen.
i)
EKG : Disritmia atrial, peninggian gelombang P
pada lead II, III, AVF.
j)
Analisa gas darah memperlihatkan penurunan
oksigen arteri dan peningkatan karbon dioksida arteri.
k) Polisetemia (peningkatan konsentrasi sel darah
merah) terjadi akibat hipoksia kronik yang disertai
sianosis, menyebabkan kulit berwarna kebiruan.

c.
Pemeriksaan Fisik
Pada stadium ini tidak ditemukan kelainan fisis. Hanya
kadang kadang terdengar ronchi pada waktu ekspirasi
dalam. Bila sudah ada keluhan sesak, akan terdengar
ronchi pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai
bising mengi. Juga didapatkan tanda tanda overinflasi
paru seperti barrel chest, kifosis, pada perkusi
terdengar hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas
paru hati lebih ke bawah, pekak jantung berkurang,
suara nafas dan suara jantung lemah, kadang kadang
disertai kontraksi otot otot pernafasan tambahan.

d.
Pemeriksaan Radiologis
Tubular shadow atau traun lines terlihat
bayangan garis yang paralel, keluar dari hilus
menuju apeks paru. bayangan tersebut adalah
bayangan bronchus yang menebal. Corak paru
bertambah

e.
Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d peningkatan
produksi sekret.
2. Gangguan pertukaran gas b.d obstruksi jalan nafas
oleh sekresi, spasme bronchus.
3. Pola nafas tidak efektif b.d broncokontriksi, mukus.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d
dispnoe, anoreksia, mual muntah.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d menetapnya
sekret, proses penyakit kronis.

f. Intervensi
1. Diagnosa I : Bersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
.NOC : Status Pernapasan Kepatenan jalan napas
.Tujuan : px mampu bernafas dengan mudah
dalam waktu 1x24 jam
.Kriteria Hasil :
-Kemudahan bernapas
-Frekuensi dan irama pernapasan
-Pergerakan sputum keluar darijalan napas

NIC : Pemantauan pernapasan


Mengumpulkan dan menganalisis data pasien
untuk memastikan kepatenan jalan napas dan
pertukaran gas yang adekuat.

Auskultasi bunyi nafas.


- Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan
obstruksi jalan nafas dan dapat dimanifestasikan dengan adanya
bunyi nafas.
Kaji/pantau frekuensi pernafasan.
- Rasional : Tachipneabiasanya ada pada beberapa derajat dan
dapat ditemukan selama / adanya proses infeksi akut.
Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir
-Rasional : Memberikan cara untuk mengatasi dan mengontrol
dispnea dan menurunkan jebakan udara.
Observasi karakteristik batuk
-Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya
pada lansia, penyakit akut atau kelemahan
Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari
-Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret
mempermudah pengeluaran.

2. Diagnosa 2 : Gangguan pertukaran gas


berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh
sekresi, spasme bronchus.
. NOC : Status pernapasan Ventilasi
. Tujuan : px mampu bernafas dengan mudah
dalam waktu 1x24 jam
. Kriteria Hasil :
-Frekuensi pernapasan
-Irama pernapasan
-Kedalaman inspirasi

NIC : Manajemen Memfasilitasi kepatenan


jalan napas

Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan.


-Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan
kronisnya proses penyakit.
Tinggikan kepala tempat tidur, dorong nafas dalam.
-Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi
duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan
nafas, dispenea dan kerja nafas.
Auskultasi bunyi nafas.
-Rasional : Bunyi nafas makin redup karena penurunan aliran
udara atau area konsolidasi.
Awasi tanda vital dan irama jantung
-Rasional : Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah
dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.
Awasi GDA
-Rasional : PaCO2 biasanya meningkat, dan PaO2 menurun
sehingga hipoksia terjadi derajat lebih besar/kecil.
Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA
-Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia.

g. Implementasi
Pada pelaksanaan keperawatan diprioritaskan
pada upaya untuk mempertahankan jalan nafas,
mempermudah pertukaran gas, meningkatkan
masukan nutrisi, mencegah komplikasi,
memperlambat memperburuknya kondisi,
memberikan informasi tentang proses penyakit

h. Evaluasi
Catat perkembangan pasien yang meliputi SOAP
S : Pernyataan px terhadap kesehatannya
O : Pengamatan perawat terhadap kondisi
pasien
A : Analisis masalah
P : Rencana tindakan selanjutnya

Any Question.???