Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

PUD (Perdarahan Uterus Disfungsional)

oleh :
Frianto Ismail
61109037

PEMBIMBING : dr. Ni Made Indri, Sp.OG

SMF/BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
RSUD EMBUNG FATIMAH BATAM
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Hampir semua wanita pernah mengalami gangguan haid selama masa hidupnya.
Gangguan ini dapat berupa kelainan siklus atau perdarahan. Masalah ini dihadapi oleh wanita
usia remaja, reproduksi dan klimakterik. Haid yang tidak teratur pada masa 3-5 tahun setelah
menars dan pramenopause (3-5 tahun menjelang menopause) merupakan keadaan yang lazim

dijumpai. Tetapi pada masa reproduksi (umur 20-40 tahun), haid yang tidak teratur bukan
merupakan keadaan yang lazim, karena selalu dihubungkan dengan keadaan abnormal.
Perdarahan abnormal dari uterus tanpa disertai kelainan organik, hematologik, melainkan
hanya merupakan gangguan fungsional disebut sebagai perdarahan uterus disfungsional.
Berdasarkan gejala klinis perdarahan uterus disfungsional dibedakan dalam bentuk
akut dan kronis.1,3 Sedangkan secara kausal perdarahan uterus disfungsional mempunyai
dasar ovulatorik (10%)k dan anovulatorik (70%). Perdarahan uterus disfungsional akut
umumnya dihubungkan dengan keadaan anovulatorik, tetapi perdarahan uterus disfungsional
kronis dapat terjadi pula pada siklus anovulatorik. Walaupun ada ovulasi tetapi pada
perdarahan uterus disfungsional anovulatorik ditemukan umur korpus luteum yang
memendek, memanjang atau insufisiensi. Pada perdarahan uterus disfungsional anovulatorik,
akibat tidak terbentuknya korpus leteum aktif maka kadar progesteronnya rendah dan ini
menjadi dasar bagi terjadinya perdarahan.
Di Amerika serikat dan inggris, perdarahan uterus disfungsional merupakan 10% dari
kunjungan rumah sakit, dan 90% dari kasus perdarahan uterus abnormal. Berdasarkan
golongan usia 3-4% perdarahan uterus disfungsional terjadi pada remaja. Dalam
hubungannya dengan siklus haid, perdarahan uterus disfungsional lebih sering ditemukan
pada siklus anovulatorik yaitu sekitar 85-90%.
Di Indonesia belum ada angka yang menyebutkan kekerapan perdarahan uterus
disfungsional ini secara menyeluruh. Kebanyakan penulis memperkirakan kekerapannya
sama dengan diluar negeri, yaitu 10% dari kunjungan ginekologik. Di RSCM/ FKUI pada
tahun 1989 ditenukan 39% kasus perdarahan uterus disfungsional dari kunjungan poliklinik
endokronologi dan reproduksi.

BAB II
LAPORAN KASUS
II.1 Identitas Pasien
No. Register

: 145311

Nama

: Ny. J

Umur

: 43 th

Pendidikan

: SMA

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Tanggal Masuk

: 08 Februari 2016

Ruang Rawat Inap

: Mawar / Kelas 3

II.2 Anamnesa
Subjektif
a. Keluhan Utama : Keluar darah haid banyak sejak 1 bulan dan badan terasa lemas
b. Riwayat penyakit sekarang :
Os datang ke IGD RSUD Embung Fatimah dengan keluhan keluar darah haid
yang banyak sejak tanggal 28 desember 2015 disertai badan terasa lemas. Os
mengaku darah haid yang keluar sangat banyak, sehingga Os mengganti pembalut
sampai 8-9 kali per hari. Os mengatakan haid sebelumnya tanggal 05 November
2015, dan os mengatakan memang memiliki riwayat haid tidak teratur.
Os mengatakan badan terasa lemas (+), Pusing (+), Nyeri saat haid (-), mual
(-), muntah (-), benjolan di perut bagian bawah (-), nafsu makan menurun, BAK dan
BAB normal.
Sebelumnya os juga pernah berobat ke klinik, puskesmas dan ke poliklinik,
namaun hingga sekarang tidak mengalami perubahan. Riwayat pemakaian KB spiral
selama 3 tahun, sekarang sudah di buka, dan riwayat persalinan secara normal dan
memiliki 4 orang anak.
c. Riwayat penyakit terdahulu :
Os menyangkal adanya riwayat darah tinggi, gula darah, alergi obat, dan
asma.
d. Riwayat haid :
Menarche
: 15 tahun
Lama haid
: tidak teratur (sejak tanggal 30/12/2015 os masuk RS 08/02/2016)
masih keluar darah
Siklus Haid : Os meiliki riwayat siklus haid tidak teratur, os merasakan siklus haid
yang lama
e. Riwayat Obstetri :
Os sekarang tidak hamil
Objektif
a. Status generalisata
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : E4V5M6 : Komposmentis
TB : 165 , BB : 69 kg
Vital Sign :
o Tekanan Darah : 120/70 mmHg
o Nadi
: 88 x/i
o RR
: 19 x/i

o Suhu

: 36,5C

II.3 Pemeriksaan Fisik

Kepala
Mata
THT dan bibir
Leher
Thorax
o Pulmo
o Cor
Abdomen
Hepar dan lien
Ekstremitas

: Normochepaly
: Conjungtiva anemis (+), Sklera Ikterik (-)
: dalam batas normal
: pembesaran KGB (-)
: Rhonki (-/-), Wheezing (-/-), suara nafas Vesikuler
: S1/S2 Reguler, Murmur (-), gallop (-)
: Asites (-), Nyeri tekan (-)
: dalam batas normal
: akral hangat (+), oedem (-)

II.4 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Lab (tanggal 08-02-2016)
o Hb
: 6,0 gr/dl
o Leukosit
: 5.200
o Hematokrit
: 21%
o Eritrosit
: 3,1 juta
o Trombosit
: 386000
o MCV
: 67,0 fl
o MCH
: 18,2 pg
o MCHC
: 28,7 gr/dl
o BT
: 4 menit
o CT
: 8 menit
o GDS
: 139 gr/dl
o HCG test
: (-) negative
Urinalisa
o Warna
: Kuning dan jernih
o Protein
:+
o Eritrosit
: +++++
II.5 Diagnosa
Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD) + Anemia sedang
II.6 Planning dan Therapy

IVFD NaCL 20 tpm


As.Traneksamat 3x500 mg (IV)
Vit.K 3x1 Ampul (IV)

Vit.C 3x1 Ampul (IV)


Ceftriaxone 2x1 (IV)
SF tablet 2x1 tab

II.7 Follow up
Tanggal &
Follow Up permeriksaan, dan
jam
penatalaksanaan pasien
08-02-2016 Subjective
jam 11.30
Keluar darah haid dari tanggal 29-12-2015
Hari ini jam 10.30 keluar darah banyak
Riw USG 10 hari yg lalu di RSUD EF,
hasil : normal
Riw KB spiral 3 tahun yang lalu sudah
dibuka
Riwayat kehamilan, lahir normal anak
hidup 4 orang
Pusing (+), lemas (+).
Objective
K/U : sedang
Kesadaran : CM
TD : 120/80 mmHg, Nadi : 89x/i
RR : 20 x/I, suhu : 36,7C
TB : 153 cm, BB : 67kg
Mata : Conjungtiva Anemis (+), SI (-)
P/V : (+), tidak mengalir
Assesment
Anemia sedang et causa perdarahan uterus
disfungsional (PUD)
Planning
Konsul dr. indri Sp.OG

Intruksi

Jam 14.00

Os tiba di ruang Nifas


Subjective
Lemas (+)
Objective
K/U : Baik
Kesadaran : CM

IVFD NaCL 20 tpm


Transfusi PRC 2 kolf /
hari, sediakan 4 kolf
As traneksamat 3x500
mg (IV)
Vit K 3x1 Amp IV
Vit C 3x1 Amp IV
Ceftriaxone 2x1
SF tab 2x1

Jam 16.30

TD : 120/80 mmHg, Nadi : 80x/i


Mata : CA (+), SI (-)
P/V : (+), tidak mengalir
Assesment
Anemia sedang EC PUD
Planning
Observasi vital sign
Therapy : sesuai advice dr.indri Sp,OG
R/transfuse 4 kolf, 2kolf/hari

Jam 18.30

Jam 21.00

Injeksi Dexametason
Darah Kolf I dimasukan dengan no.pack
570K 1224
Darah habis, bilas NaCL

Subjective
Lemas (+)
Objective
K/U : Baik
Kesadaran : CM
TD : 110/70 mmHg, Nadi : 76x/i
Mata : CA (+), SI (-)
P/V : (+), tidak mengalir
Assesment
Anemia Sedang EC PUD
Planning
Observasi vital sign
Therapy : sesuai advice dr.indri Sp,OG
Rencana transfuse kolf II
09-02-2016
jam 06.20

Jam 08.00

pasang kolf ke II No. pack 466U 5468

Subjective
Lemas (+), pusing (+), BAK BAB normal,
nyeri perut (-)
Objective
K/U : Baik
Kesadaran : CM
TD : 130/80 mmHg, Nadi : 82x/i
Mata : CA (+), SI (-)
THT : dbn
Mulut : sianosis (+)
Genitalia : P/V : (+), tidak mengalir
Assesment
Anemia Sedang EC PUD

Planning
Observasi vital sign
Therapy : sesuai advice dr.indri Sp,OG
Trasnfusi kolf ke II sedang berlangsung
Jam 09.30
Jam 17.00
Jam 21.10

10-02-2016
Jam 06.30

Subjective
Perdarahan makin banyak (dari kemarin
sore sampai tadi pagi sudah 5x ganti
pembalut)
Nyeri pinggang kiri
Nyeri perut bawah
Pusing (+) sudah berkurang
Tidak bisa tidur
Objective
KU : Sedang, Kes : CM
TD : 140/90 mmHg, N : 90 x/i
RR : 20 x/I, S : 36,6C
Mata : CA (+)
THT : Dbn
Mulut : Sianosis (+)
Thorax, abd, Eks : Dbn
Genitalia : P/V : (+), tidak mengalir
Assesment
Anemia sedang EC PUD
Planning
Lanjut transfuse PRC ke IV
Therapy sesuai advice dr.Indri Sp.OG
R/ Cek HB 6 jam post transfuse, jika Hb >
10gr
R/ Kuretase PA (dr.indri Sp.OG)

Jam 07.00
Jam 09.00
Jam 15.00
Jam 18.00
Jam 20.20
Jam 00.00

Darah kolf ke II habis, bilas NaCL


Pasang kolf ke III No.Pack 966U 5053
Darah kolf ke III habis, bilas NaCL

Pasang kolf IV No pack 466S 2722


Transfusi Kolf IV habis, bilas NaCL
Cek Lab
Lapor dr.indri Sp.OG hasil lab Hb : 9,0 gr/dl
Advice, R/ transfuse 2 kolf PRC lagi
R/Kuret hari jumat
Pasang Kolf V No pack 466U 0506

11-02-2016
jam 07.20

Darah kolf V habis, bilas NaCL

Pasang kolv VI No pack 570J 8745

Subjective
Darah masih keluar (+)
Nyeri perut bag bawah (+)
Nyeri pinggang sebelah kiri (+)
Pusing (-), BAB dan BAK Normal
Objective
KU : baik, Kes : CM
TD : 120/80 mmHg, N : 81 x/i
RR: 19 x/I, S : 36,6C
Mata : CA (-)
THT : dbn
Thorax, abd, eks : dbn
Genitalia : P/V : (+), tidak mengalir
Assesment
Anemia sedang EC PUD
Planning
Transfuse kolf VI sedang berlangsung
Therapy sesuai advice dr.indri Sp.OG
Jika Hb > 10 gr/dl, rencana kuret hari jumat
jam 09.00
Jam 10.10
Jam 15.00

Darah Kolf ke VI habis, bilas NaCL

Lapor dr.indri Sp.OG hasil lab post


transfuse via telp
Hb : 10,7 gr/dl, leuko : 13.100, trombo :
311000
Besok dijadwalkan kuret jam 09.00

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
III.1

Siklus Mentsruasi
Menstruasi (haid) adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai

pelepasan (deskuamasi) endometrium. Menstruasi normal terjadi akibat turunnya kadar


progesteron dari endometrium yang kaya estrogen. Siklus menstruasi yang menimbulkan
ovulasi disebabkan interaksi kompleks antara berbagai organ. Disfungsi pada tingkat
manapun dapat mengganggu ovulasi dan siklus menstruasi. Siklus menstruasi normal terjadi
setiap 21-35 hari dan berlangsung sekitar 3-7 hari. Pada saat menstruasi, jumlah darah yang
hilang diperkirakan 35-80 ml, biasanya berjumlah banyak hingga hari kedua dan selanjutnya
berkurang sampai menstruasi berakhir. 1
Pada tiap siklus dikenal tiga masa utama, yaitu:
1. Masa haid selama dua sampai delapan hari. Pada waktu ini endometrium dilepas
sedangkan pengeluaran hormon-hormon ovarium minimum.
2. Masa proliferasi sampai hari keempat belas. Pada waktu ini endometrium tumbuh
kembali, disebut juga proliferasi. Antara hari kedua belas dan keempat belas dapat
terjadi pelepasan ovum dari ovarium yang disebut ovulasi.
3. Masa sekresi. Pada masa ini korpus rubrum menjadi korpus luteum yang
mengeluarkan

progesteron.

Dibawah

pengaruh

progesterone

ini,

kelenjar

endometrium yang berlekuk-lekuk mengeluarkan sekret yang mengandung glikogen


dan lemak. Pada akhir masa ini stroma endometrium berubah kea rah sel-sel desidua,
terutama yang di sekitar pembuluh arteri. Keadaan ini memudahkan adanya nidasi. 7
Siklus haid normal terbagi menjadi dua fase dan satu saat, yaitu fase folikuler, saat
ovulasi dan fase luteal. Perubahan-perubahan kadar hormone sepanjang siklus haid
disebabkan oleh mekanisme umpan balik (feedback) antara hormone steroid dan
gonadotropin. Estrogen menyebabkan umpan balik negatif terhadap FSH, sedangkan
terhadap LH menyebabkan umpan balik negatif jika kadarnya rendah dan umpan balik
positif jika kadarnya tinggi. 1
Selama fase folikuler dari siklus ovarium normal (berkaitan dengan fase proliferatif
dari siklus endometrium), kadar estrogen meningkat awalnya perlahan-lahan kemudian lebih
cepat karena folikel ovarium yang dominan muncul, tumbuh dan matang. Sebagai respon

terhadap estrogen tersebut, lapisan fungsional dari endometrium tumbuh kembali, setelah
luruh selama menstruasi sebelumnya. Setelah ovulasi, korpus luteum yang berasal dari
folikel ovulatorik terus menghasilkan estrogen, namun saat ini dan yang lebih penting juga
progesteron. Selama fase luteal dari siklus ovarium (berkaitan dengan fase sekretorik dari
siklus endometrium), kadar estrogen dan progesteron meningkat bersamaan saat korpus
luteum tumbuh menjadi matang. Sebagai respon terhadap kerja kombinasi dari estrogen dan
progesteron, endometrium berubah dan diatur untuk datangnya serta implantasi dari hasil
konsepsi yang diharapkan. Jika kehamilan dan peningkatan cepat dari kadar gonadotropin
korionik manusia (hCG) tidak menstimulasi dan menyelamatkannya, korpus luteum
mengalami regresi spontan dalam bentuk kematian sel yang telah diprogram sebelumnya.
Begitu terjadi hal tersebut, kadar estrogen dan progesteron turun secara konstan, akhirnya
menarik dukungan fungsional untuk endometrium. Menstruasi dimulai, menandai akhir dari
satu siklus endometrium dan dimulainya siklus lain. 2,4

III.2

Definisi
Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD) atau Dysfunctional Uterine Bleeding adalah

perdarahan abnormal yang dapat terjadi di dalam siklus maupun di luar siklus menstruasi,
karena gangguan fungsi mekanisme pengaturan hormon (hipotalamus-hipofisis-ovarium-

endometrium), tanpa kelainan organ. Perdarahan ini juga didefinisikan sebagai menstruasi
yang banyak dan atau tidak teratur tanpa adanya patologi pelvik yang diketahui, kehamilan
atau gangguan perdarahan umum. 1,2,3,4
III.3 Etiopatogenesis
Patologi PUD bervariasi. Gambaran penting salah satu kelompok PUD adalah
gangguan aksis hipotalamuspituitariovarium sehingga menimbulkan siklus anovulatorik.
Kurangnya

progesteron

meningkatkan

stimulasi

estrogen

terhadap

endometrium.

Endometrium yang tebal berlebihan tanpa pengaruh progesteron, tidak stabil dan terjadi
pelepasan irreguler. Secara umum, semakin lama anovulasi maka semakin besar resiko
perdarahan yang berlebihan. Ini adalah bentuk PUD yang paling sering ditemukan pada gadis
remaja. 1,4,5
Korpus luteum defektif yang terjadi setelah ovulasi dapat menimbulkan PUD
ovulatori. Hal ini menyebabkan stabilisasi endometrium yang tidak adekuat, yang kemudian
lepas secara irreguler. Pelepasan yang irreguler ini terjadi jika terdapat korpus luteum
persisten dimana dukungan progestogenik tidak menurun setelah 14 hari sebagaimana
normalnya, tetapi terus berlanjut diluar periode tersebut. Ini disebut PUD ovulatori. 1,2,3,4,5
Secara garis besar, kondisi di atas dapat terjadi pada siklus ovulasi (pengeluaran sel
telur/ovum dari indung telur), tanpa ovulasi maupun keadaan lain, misalnya pada wanita
premenopause (folikel persisten). Sekitar 90% perdarahan uterus difungsional (perdarahan
rahim) terjadi tanpa ovulasi (anovulation) dan 10% terjadi dalam siklus ovulasi. 1,2,4
Pada siklus ovulasi
Perdarahan rahim yang bisa terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan
dengan waktu menstruasi. Perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormon estrogen,
sementara hormon progesteron tetap terbentuk.1,4
Ovulasi abnormal (PUD ovulatori) terjadi pada 15 20 % pasien PUD dan mereka
memiliki endometrium sekretori yang menunjukkan adanya ovulasi setidaknya intermitten
jika tidak reguler. Pasien ovulatori dengan perdarahan abnormal lebih sering memiliki
patologi organik yang mendasari, dengan demikian mereka bukan pasien PUD sejati menurut
definisi tersebut. Secara umum, PUD ovulatori sulit untuk diobati secara medis. 1,4
Pada siklus tanpa ovulasi (anovulation) 1,2,4
Perdarahan rahim yang sering terjadi pada masa pre-menopause dan masa reproduksi.
Hal ini karena tidak terjadi ovulasi, sehingga kadar hormon estrogen berlebihan sedangkan
hormon progesteron rendah. Akibatnya dinding rahim (endometrium) mengalami penebalan
berlebihan (hiperplasi) tanpa diikuti penyangga (kaya pembuluh darah dan kelenjar) yang
memadai. Kondisi inilah penyebab terjadinya perdarahan uterus karena dinding uterus yang
rapuh.

Anovulasi kronik adalah penyebab PUD yang paling sering. Keadaan anovulasi
kronik akibat stimulasi estrogen terhadap endometrium terus menerus yang menimbulkan
pelepasan irreguler dan perdarahan. Anovulasi sering terjadi pada gadis perimenarche.
Stimulasi estrogen yang lama dapat menimbulkan pertumbuhan endometrium yang melebihi
suplai darahnya dan terjadi perkembangan kelenjar, stroma, dan pembuluh darah
endometrium yang tidak sinkron. Setiap kegagalan produksi progesteron juga dapat
mempengaruhi kelenjar, stroma, dan pembuluh darah endometrium. Kegagalan produksi
progesteron

disebabkan

berbagai

etiologi

endokrin

seperti

penyakit

tiroid,

hiperprolaktinemia, dan tumor ovarium yang menghasilkan hormon, penyakit Cushing, dan
yang paling penting adalah sindroma ovarium polikistik atau sindroma Stein Leventhal.
III.4

Klasifikasi 2,4
Perdarahan uterus disfungsional dapat berlatar belakang kelainan-kelainan ovulasi,

siklus haid, jumlah perdarahan dan anemia yang ditimbulkannya. Berdasarkan kelainan
tersebut maka perdarahan uterus disfungsional dapat dibagi seperti tabel dibawah ini:

Perdarahan uterus disfungsional biasanya berhubungan dengan satu dari tiga keadaan
ketidakseimbangan hormonal, berupa: estrogen breakthrough bleeding, estrogen withdrawal
bleeding dan progesterone breakthrough bleeding.
Pada perdarahan uterus disfungsional ovulatorik perdarahan abnormal terjadi pada
siklus ovulatorik dimana dasarnya adalah ketidakseimbangan hormonal akibat umur korpus
luteum yang memendek atau memanjang, insufisiensi atau persistensi korpus luteum.
Perdarahan uterus disfungsional pada wanita dengan siklus anovulatorik muncul sebagai
perdarahan reguler dan siklik.
Sedang pada perdarahan uterus disfungsional anovulatorik perdarahan abnormal
terjadi pada siklus anovulatorik dimana dasarnya adalah defisiensi progesteron dan kelebihan

progesteron akibat tidak terbentuknya korpus luteum aktif, karena tidak terjadinya ovulasi.
Dengan demikian efek estrogen terhadap endometrium tak berlawanan. Hampir 80% siklus
mens anovulatorik pada tahun pertama menarche dan akan menjadi ovulatorik mendekati 1820 bulan setelah menarche.
Perdarahan uterus disfungsional dikatakan akut jika jumlah per darahan pada satu
saat lebih dari 80 ml, terjadi satu kali atau berulang dan memerlukan tindakan penghentian
perdarahan segera. Sedangkan perdarahan uterus disfungsional kronis jika perdarahan pada
satu saat kurang dari 30 ml terjadi terus menerus atau tidak tidak hilang dalam 2 siklus
berurutan atau dalam 3 siklus tak berurutan, hari perdarahan setiap siklusnya lebih dari 8
hari, tidak memerlukan tindakan penghentian perdarahan segera, dan dapat terjadi sebagai
kelanjutan perdarahan uterus disfungsional akut. Perdarahan disfungsional yang ovulatorik
gangguan

dianggap

berasal

dari

factor-faktor

neuromuscular,

vasomotorik

ataunhematologiknyang mekanismenya belum dapat dimengerti, sedangkan perdarahan


anovulatorik biasanya dianggap bersumber pada gangguan endokrin. 1
III.5

Gejala Klinis
Perdarahan uterus yang dapat terjadi tiap saat dalam siklus menstruasi. Jumlah

perdarahan bisa sedikit-sedikit dan terus menerus atau banyak dan berulang. Kejadian
tersering pada menarche atau masa pre-menopause. 1,2
Pada siklus ovulasi 1,2,4
Karakteristik PUD bervariasi, mulai dari perdarahan banyak tapi jarang, hingga
spotting atau perdarahan yang terus menerus. Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10%
dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang
(oligomenorea). Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati
haid. Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur sehingga siklus haid tidal lagi
dikenali maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat menolong. Jika sudah
dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa ada sebab organik,
maka harus dipikirkan sebagai etiologi :
1. korpus luteum persistens : dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang bersamaan
dengan ovarium membesar. Dapat menyebabkan pelepasan endometrium tidak
teratur.
2. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia atau
polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron disebabkan oleh
gangguan LH releasing faktor. Diagnosis dibuat, apabila hasil biopsi endometrial
dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang seharusnya
didapat pada hari siklus yang bersangkutan.

3. Apopleksia uteri: pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh
darah dalam uterus
4. Kelainan darah seperti anemia, purpura trombositopenik dan gangguan dalam
mekanisme pembekuan darah.
Pada siklus tanpa ovulasi (anovulation) 1,2,4
Perdarahan tidak terjadi bersamaan. Permukaan dinding uterus di satu bagian baru
sembuh diikuti perdarahan di permukaan lainnya. Jadilah perdarahan uterus berkepanjangan.
Pada tipe ini berhubungan dengan fluktuasi kadar estrogen dan jumlah folikel yang
pada suatu waktu fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum
mengalami atresia dan kemudian diganti oelh folikel-folikel baru. Endometrium dibawah
pengaruh estrogen akan tumbuh terus, dan dari endometrium yang mula-mula proliferatif
dapat terjadi endometrium hiperplastik kistik. Jika gambaran ini diperoleh pada saat kerokan
dapat diambil kesimpulan bahwa perdarahan bersifat anovulatoar. Biasanya perdarahan
disfungsional ini terjadi pada masa pubertas dan masa pramenopause. Pada masa pubertas
terjadi sesudah menarche, perdarahan tidak normal disebabkan oleh gangguan atau
terlambatnya proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bahwa produksi Releasing
factor dan hormon gonadotropin tidak sempurna. Pada wanita dalam masa pramenopause
proses terhentinya fungsi ovarium tidak selalu berjalan lancar.
Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada harapan bahwa
lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovulatoar. Sedangkan pada
wanita dewasa dan terutama dalam masa pramenopause dengan perdarahan tidak teratur
mutlak diperlukan kerokan untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas.
III.6

Diagnosis 4
Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap harus dilakukan dalam pemeriksaan

pasien. Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya penyakit sistemik, maka
penyelidikan lebih jauh mungkin diperlukan. Abnormalitas pada pemeriksaan pelvis harus
diperiksa dengan USG dan laparoskopi jika diperlukan. Perdarahan siklik (reguler) didahului
oleh tanda premenstruasi (mastalgia, kenaikan berat badan karena meningkatnya cairan
tubuh, perubahan mood, atau kram abdomen) lebih cenderung bersifat ovulatori. Sedangkan,
perdarahan lama yang terjadi dengan interval tidak teratur setelah mengalami amenore
berbulan bulan, kemungkinan bersifat anovulatori. Peningkatan suhu basal tubuh (0,3
0,60C), peningkatan kadar progesteron serum (> 3 ng/ml) dan atau perubahan sekretorik pada
endometrium yang terlihat pada biopsi yang dilakukan saat onset perdarahan, semuanya
merupakan bukti ovulasi.
Diagnosis PUD setelah eksklusi penyakit organik traktus genitalia, terkadang
menimbulkan kesulitan karena tergantung pada apa yang dianggap sebagai penyakit organik,

dan tergantung pada sejauh mana penyelidikan dilakukan untuk menyingkirkan penyakit
traktus genitalia. Pasien berusia dibawah 40 tahun memiliki risiko yang sangat rendah
mengalami karsinoma endometrium, jadi pemeriksaan patologi endometrium tidaklah
merupakan keharusan. Pengobatan medis dapat digunakan sebagai pengobatan lini pertama
dimana penyelidikan secara invasif dilakukan hanya jika gejala menetap. Risiko karsinoma
endometrium pada pasien PUD perimenopause adalah sekitar 1 %. Jadi, pengambilan sampel
endometrium penting dilakukan.
Pemeriksaan penunjang:
1. Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi tiroid, dan kadar HCG, FSH, LH,
Prolaktin dan androgen serum jika ada indikasi atau skrining gangguan perdarahan
jika ada tampilan yang mengarah kesana.
2. Deteksi patologi endometrium melalui (a) dilatasi dan kuretase dan (b) histeroskopi.
Wanita tua dengan gangguan menstruasi, wanita muda dengan perdarahan tidak
teratur atau wanita muda (< 40 tahun) yang gagal berespon terhadap pengobatan
harus menjalani sejumlah pemeriksaan endometrium. Penyakit organik traktus
genitalia mungkin terlewatkan bahkan saat kuretase. Maka penting untuk melakukan
kuretase ulang dan investigasi lain yang sesuai pada seluruh kasus perdarahan uterus
abnormal berulang atau berat. Pada wanita yang memerlukan investigasi, histeroskopi
lebih sensitif dibandingkan dilatasi dan kuretase dalam mendeteksi abnormalitas
endometrium.
3. Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang tidak berhasil dalam uji
coba terapeutik.
III.7 Diagnosis Banding 8
1. Berhubungan dengan kehamilan Kehamilan ektopik dan abortus
2. Anovulasi fisiologis post menarche (H-P-O aksis imatur)
3. Kontrasepsi hormonal
4. Berhubungan dengan hipotalamus pemyakit sistemik (DM, penyakit ginjal),
5.
6.
7.
8.
9.
II.7.

gangguan makan dan hipotoroid


Berhubungan dengan hipofisis prolaktinoma
Trauma, mioma uteri, polip dan neoplasma
PCOS, tumor ovarium, dam hyperplasia adrenal
Gangguan koagulasi defisiensi faktor pembekuan dan penyakit Von willebrand
Infeksi PID, servisitis dan vaginitis
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan perdarahan uterus disfungsional secara umum perlu memperhatikan

faktor-faktor berikut: 1,4


a. Umur, status pernikahan, fertilitas

Hal ini dihubungkan dengan perbedaan penanganan pada tingkatan perimenarche,


reproduksi dan perimenopause. Penanganan juga seringkali berbeda antara penderita
yang telah dan belum menikah atau yang tidak dan yang ingin anak.
b. Berat, jenis dan lama perdarahan.
Keadaan ini akan mempengaruhi keputusan pengambilan tindakan mendesak atau tidak.
c. Kelainan dasar dan prognosisnya.
Pengobatan kausal dan tindakan yang lebih radikal sejak awal telah dipikirkan jika dasar
kelainan dan prognosis telah diketahui sejak dini.
Pada dasarnya tujuan penatalaksanaan perdarahan uterus disfungsional adalah: 1,4
1. Memperbaiki keadaan umum
2. Menghentikan perdarahan
3. Mengembalikan fungsi hormon reproduksi
Yang meliputi: pengembalian siklus haid abnormal menjadi normal, pengubahan siklus
anovulatorik menjadi ovulatorik atau perbaikan suasana sehingga terpenuhi persyaratan
untuk pemicuan ovulasi.
4. Menghilangkan ancaman keganasan
Pada perdarahan uterus disfungsional langkah pertama yang harus dikerjakan adalah
memperbaiki keadaan umum, termasuk pengatasan anemia. Langkah kedua adalah
menghentikan perdarahan, baik secara hormonal maupun operatif. Setelah keadaan akut
teratasi, sebagai langkah ketiga, dilakukan upaya pengembalian fungsi normal siklus haid
dengan cara mengembalikan keseimbangan fungsi hormon reproduksi.2,5,6
Untuk ini dapat dilakukan pengobatan hormonal selama 3 siklus berturut-turut. Bilamana
upaya ini gagal, maka diperlukan tindakan untuk meniadakan patologi yang ada guna
mencegah berulangnya perdarahan uterus disfungsional.4
Secara singkat langkah-langkah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1,2,3,4,6
1. Perbaikan keadaan umum
Pada perdarahan yang banyak sering ditemukan keadaan umum yang buruk, pada keadaan
perdarahan uterus disfungsional akut anemia yang terjadi harus segera diatasi dengan
transfusi darah. Pada perdarahan uterus disfungsional kronis keadaan anemia ringan
seringkali dapat diatasi dengan diberikan sediaan besi, sedangkan anemia berat
membutuhkan transfusi darah.
2. Penghentian perdarahan baik secara hormonal maupun operatif.
3. Mengembalikan keseimbangan fungsi hormon reproduksi.
Usaha ini meliputi pengembalian siklus haid abnormal menjadi normal, pengubahan
siklus anovulatorik menjadi ovulatorik atau perbaikan suasana sehingga terpenuhi
persyaratan untuk pemicuan ovulasi.
Langkah-langkah upaya menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut:
Kuret (curettage) 3,6
Hanya untuk wanita yang sudah menikah. Tidak bagi gadis dan tidak bagi wanita menikah
tapi belum sempat berhubungan intim.

Pemakaian hormon steroid seks


a. Estrogen
Dipakai pada perdarahan uterus disfungsional untuk menghentikan perdarahan karena
memiliki berbagai efek yaitu: 4,5
1. Penyembuhan luka (healing effect)
2. Pembentukan mukopolisakarida pada dinding pembuluh darah
3. Vasokonstriksi, karena merangsang pembentukan prostaglandin
4. Meningkatkan pembentukan trombin dan fibrin serta menghambat proses fibrinolisis.
Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya: estradiol valerat (nama generik)
yang relatif menguntungkan karena tidak membebani kinerja liver dan tidak menimbulkan
gangguan pembekuan darah. Jenis lain, misalnya: etinil estradiol, tapi obat ini dapat
menimbulkan gangguan fungsi liver. 5,6
Dosis dan cara pemberian:
Estrogen konjugasi (estradiol valerat): 2,5 mg diminum selama 7-10 hari.
Benzoas estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler. (melalui bokong)
Jika perdarahannya banyak, dianjurkan nginap di RS (opname), dan diberikan
Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 25 mg secara intravenus (suntikan lewat
selang infus) perlahan-lahan (10-15 menit), dapat diulang tiap 3-4 jam. Tidak boleh
lebih 4 kali sehari.
Estrogen intravena dosis tinggi (estrogen konjugasi 25 mg setiap 4 jam sampai
perdarahan berhenti) akan mengontrol secara akut melalui perbaikan proliferatif
endometrium dan melalui efek langsung terhadap koagulasi, termasuk peningkatan
fibrinogen dan agregasi trombosit. 4,5,6
Terapi estrogen bermanfaat menghentikan perdarahan khususnya pada kasus
endometerium atrofik atau inadekuat. Estrogen juga diindikasikan pada kasus PUD
sekunder akibat depot progestogen (Depo Provera). Keberatan terapi ini ialah bahwa
setelah suntikan dihentikan, perdarahan timbul lagi. 6
b. Progestin
Berbagai jenis progestin sintetik telah dilaporkan dapat menghentikan perdarahan.
Beberapa sedian tersebut antara lain adalah noretisteron, MPA, megestrol asetat,
didrogesteron dan linestrenol. 4,6
Noretisteron dapat menghentikan perdarahan setelah 24-48 jam dengan dosis 20-30
mg/hari, medroksiprogesteron asetat dengan dosis 10-20 mg/hari selama 10 hari,
megestrol asetat dengan didrogesteron dengan dosis 10-20 mg/hari selama 10 hari, serta
linestrenol dengan dosis 15 mg/hari selama 10 hari. Uraian lebih rinci terhadap pemakaian
progestin ini akan diberikan pada bagian tersendiri. 4,6
c. Androgen
Merupakan pilihan lain bagi penderita yang tak cocok dengan estrogen dan
progesterone. Sediaan yang dapat dipakai antara lain adalah isoksasol (danazol) dan metil

testosteron (danazol merupakan suatu turunan 17--etinil-testosteron). Dosis yang


diberikan adalah 200 mg/hari selama 12 minggu. Perlu diingat bahwa pemakaian jangka
panjang sediaan androgen akan berakibat maskulinisasi. 4,6
d. Obat kombinasi
Terapi siklik merupakan terapi yang paling banyak digunakan dan paling efektif.
Pengobatan medis ditujukan pada pasien dengan perdarahan yang banyak atau perdarahan
yang terjadi setelah beberapa bulan amenore. Cara terbaik adalah memberikan kontrasepsi
oral; obat ini dapat dihentikan setelah 3 6 bulan dan dilakukan observasi untuk melihat
apakah telah timbul pola menstruasi yang normal. Banyak pasien yang mengalami
anovulasi kronik dan pengobatan berkelanjutan diperlukan. 4,6
Paparan estrogen kronik dapat menimbulkan endometrium yang berdarah banyak
selama penarikan progestin . Pengobatan dengan menggunakan kombinasi kontrasepsi
oral dengan regimen menurun secara bertahap. Dua hingga empat pil diberikan setiap hari
setiap enam hingga duabelas jam , selama 5 sampai 7 hari untuk mengontrol perdarahan
akut. Formula ini biasanya mengontrol perdarahan akut dalam 24 hingga 48 jam;
penghentian obat akan menimbulkan perdarahan berat. Pada hari ke 5 perdarahan ini,
mulai diberikan kontrasepsi oral siklik dosis rendah dan diulangi selama 3 siklus agar
terjadi regresi teratur endometrium yang berproliferasi berlebihan. 4,5,6
Cara lain, dosis pil kombinasi dapat diturunkan bertahap (4 kali sehari, kemudian 3
kali sehari, kemudian 2 kali sehari) selama 3 hingga 6 hari, dan kemudian dilanjutkan
sekali setiap hari. Kombinasi kontrasepsi oral menginduksi atrofi endometrium, karena
paparan estrogen progestin kronik akan menekan gonadotropin pituitari dan menghambat
steroidogenesis endogen. Kombinasi ini berguna untuk tatalaksana PUD jangka panjang
pada pasien tanpa kontraindikasi dengan manfaat tambahan yaitu mencegah kehamilan.4,6
Khususnya untuk pasien perimenarche, perdarahan berat yang lama dapat
mengelupaskan endometrium basal, sehingga tidak responsif terhadap progestin. Kuretase
untuk mengontrol perdarahan dikontraindikasikan karena tingginya resiko terjadinya
sinekia intrauterin (sindroma Asherman ) jika endometrium basal dikuret. OC aman pada
wanita hingga usia 40 dan diatasnya yang tidak obes, tidak merokok, dan tidak hipertensi.
4,6

Pemakaian penghambat sintesis prostaglandin


Pada peristiwa perdarahan, prostaglandin penting peranannya pada vaskularisasi
endometrium. Dalam hal ini PgE2 dan PgE2 meningkat secara bermakna. Dengan dasar itu,
penghambat sintesis prostaglandin atau obat anti inflamasi non steroid telah dipakai untuk
pengobatan perdarahan uterus disfungsional, terutama perdarahan uterus disfungsional

anovulatorik. Untuk itu asam mefenamat dan naproksen seringkali dipakai dosis 3 x 500
mg/hari selama 3-5 hari terbukti mampu mengurangi perdarahan. 4,6
Pemakaian antifibrinolitik
Sistem pembekuan darah juga ikut berperan secara local pada perdarahan uterus
disfungsional. Peran ini tampil melalui aktivitas fibrinolitik yang diakibatkan oleh kerja
enzimatik. Proses ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dasar untuk mengatasi
penumpukan fibrin. Unsur utama pada system fibrinolitik itu adalah plasminogen, yang bila
diaktifkan akan mengeluarkan protease palsmin. 4,6
Enzim tersebut akan menghambat aktivasi palsminogen menjadi plasmin, sehingga
proses fibrinolisis akhirnya akan terhambat pula. Sediaan yang ada untuk keperluan ini
adalah asam amino kaproat (dosis yang diberikan adalah 4 x 1-1,5 gr/hari selama 4-7 hari). 4,6
Pengobatan operatif
Jenis pengobatan ini mencakup: dilatasi dan kuretase, ablasi laser dan histerektomi.
Dilatasi dan kuretase merupakan tahap yang ringan dari jenis pengobatan operatif pada
perdarahan uterus disfungsional. Tujuan pokok dari kuretase pada perdarahan uterus
disfungsional adalah untuk diagnostik, terutama pada umur diatas 35 tahun atau
perimenopause. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya frekuensi keganasan pada usia
tersebut. Tindakan ini dapat menghentikan perdarahan karena menghilangkan daerah
nekrotik pada endometrium. Ternyata dengan cara tersebut perdarahan akut berhasil
dihentikan pada 40-60% kasus. 3,4,6
Namun demikian tindakan kuretase pada perdarahan uterus disfungsional masih
diperdebatkan, karena yang diselesaikan hanyalah masalah pada organ sasaran tanpa
menghilangkan kausa. Oleh karena itu kemungkinan kambuhnya cukup tinggi (30-40%
sehingga acapkali diperlukan kuretase berulang. Beberapa ahli bahkan tidak menganjurkan
kuretase sebagai pilihan utama untuk menghentikan perdarahan pada perdarahan uterus
disfungsional, kecuali jika pengobatan hormonal gagal menghentikan perdarahan. 3,4,6
Pada ablasi endometrium dengan laser ketiga lapisan endometrium diablasikan dengan cara
vaporasi neodymium YAG laser. Endometrium akan hilang permanen, sehingga penderita
akan mengalami henti haid yang permanen pula. Cara ini dipilih untuk penderita yang punya
kontrindikasi pembedahan dan tampak cukup efektif sebagai pilihan lain dari histerektomi,
tetapi bukan sebagai pengganti histerektomi. 3,4,6
Tindakan histerektomi pada penderita perdarahan uterus disfungsional harus
memperhatikan usia dan paritas penderita. Pada penderita muda tindakan ini merupakan
pilihan terakhir. Sebaliknya pada penderita perimenopause atau menopause, histerektomi
harus dipertimbangkan bagi semua kasus perdarahan yang menetap atau berulang. Selain itu
histerketomi juga dilakukan untuk perdarahan uterus disfungsional dengan gambaran

histologis endometrium hiperflasia atipik dan kegagalan pengobatan hormonal maupun


dilatasi dan kuretase.

Prognosis 4
Hasil pengobatan bergantung kepada proses perjalanan penyakit (patofisiologi)
Penegakan diagnosis yang tepat dan regulasi hormonal secara dini dapat memberikan

angka kesembuhan hingga 90 %.


Pada wanita muda, yang sebagian besar terjadi dalam siklus anovulasi, dapat diobati

II.8.

dengan hasil baik.

BAB IV
PEMBAHASAN

Definisi

Klasifikasi,
pemeriksaa
n fisik, dan
pemeriksaa
n penunjang

Teori
(PUD) atau Dysfunctional Uterine Bleeding
adalah perdarahan abnormal yang dapat
terjadi di dalam siklus maupun di luar siklus
menstruasi,
Perdarahan
ini
juga
didefinisikan sebagai menstruasi yang
banyak dan atau tidak teratur tanpa adanya
patologi pelvik yang diketahui, kehamilan
atau gangguan perdarahan umum

Kasus
Berdasarkan hasil anamnesis
pasien, didapatkan bahwa
pasien mengeluh haid tidak
teratur, dan darah haid yang
keluar sangat banyak.
Os mengatakan badan terasa
lemas (+), Pusing (+), Nyeri
saat haid (-), mual (-), muntah
(-), benjolan di perut bagian
bawah (-), nafsu makan
menurun, BAK dan BAB
normal.
Berdasarkan teori, pada kasus
ini PUD yang dialami pasien
diklasifikasikan
PUD
ovulatorik,
siklus
oligomenorea,
jumlah
perdarahan menoragia, dan
anemia
sedang.
Di
klasifikasikan anemia sedang
karena dari hasil pem.lab
didapatkan Hb pasien 6,0 gr/dl.
Dan berdasarkan pemeriksaan
fisik didapatkan conjungtiva
anemis.

BAB V
KESIMPULAN

Perdarahan uterus disfungsional (PUD) atau Dysfunctional Uterine Bleeding adalah


perdarahan abnormal yang dapat terjadi di dalam siklus maupun di luar siklus menstruasi,
karena gangguan fungsi mekanisme pengaturan hormon (hipotalamus-hipofisis-ovariumendometrium), tanpa kelainan organ. Perdarahan ini juga didefinisikan sebagai menstruasi
yang banyak dan / atau tidak teratur tanpa adanya patologi pelvik yang diketahui, kehamilan
atau gangguan perdarahan umum.
Diagnosis dibuat setelah diagnosis lainnya disingkirkan (diagnosis eksklusi).
Pemeriksaan abdomen dan pelvis serta kuretase uterus yang adekuat, histeroskopi atau
setidaknya biopsi endometrium sangat penting untuk menyingkirkan penyakit organik pada
uterus. Perdarahan uterus disfungsional paling sering terjadi pada awal dan akhir masa
menstruasi, tetapi dapat terjadi pada usia manapun.
Tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan perdarahan akut, episode perdarahan
dimasa datang, dan mencegah dampak anovulasi yang serius pada jangka panjang yaitu
kanker endometrium. Pengobatan utama adalah terapi medis meskipun intervensi bedah
dibutuhkan pada sebagian kasus. Jika perdarahan berat, dan / atau berulang, atau pengobatan
medis gagal, maka diperlukan evaluasi ulang.
PUD pada remaja disebabkan oleh immaturitas hipothalamus dan pituitary, dan siklus
menstruasi mungkin anovulatorik. Pada gadis remaja, penyakit organik jarang terjadi dan
PUD biasanya membaik secara spontan. Itulah sebabnya mengapa ditatalaksana secara
konservatif dan kuretase sering ditunda.
Pada pertengahan usia reproduksi (20 39 tahun), penyakit organik jinak sering terjadi,
dan kuretase biasanya dilakukan untuk menyingkirkan penyulit kehamilan dan penyakit
lainnya. Terapi konservatif biasanya diindikasikan, meskipun histerektomi dapat dilakukan
jika perdarahan berat atau berulang dan pasien tidak ingin memiliki keturunan lagi.
PUD perimenopause disebabkan oleh menurunnya jumlah folikel ovarium dan
meningkatnya resistensi folikel ovarium terhadap stimulasi gonadotropin. Terdapat
kemungkinan keganasan. Jadi, wanita perimenopause dengan PUD harus selalu diperiksa
dengan kuretase atau histeroskopi tanpa penundaan. Meskipun terapi konservatif dapat
dicoba sebagai tatalaksana sementara, seringkali diperlukna histerektomi.

Perdarahan uterus disfungsional merupakan salah satu alasan tersering bagi wanita untuk
mencari pengobatan medis. Pemeriksaan pasien secara rinci diperlukan untuk menegakkan
diagnosis dengan menyingkirkan penyakit organik. Saat ini, diagnosis PUD tidak adekuat.
Tersedia berbagai modalitas pengobatan untuk PUD. Pengobatan utama yakni terapi medis
dapat menghasilkan pemulihan simptomatik tetapi keluaran jangka panjangnya tidak
menggembirakan. Oleh karena itu, ahli ginekologi harus selalu memberitahu pasien
mengenai seluruh aspek penatalaksanaan PUD

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu kandungan. Jakarta: PT. Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjdo; 223-228
2. Behera, Millie. A., Thomas, M. P., 2010. Dysfuctional Uterine Bleeding.
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/257007
3. Estephan, Amir., Amir, Richard., 2010. Dysfunctional Uterine Bleeding.
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/795587
4. Setiawan, Y., 2008. Perdarahan Uterus disfungsional. Available from:

http://www.scribd.com/doc/17693423/PUD
5. Dangal, Ganesh. 2006. Dysfunctional Uterine Bleeding And Its
Management Strategy. The Internet Journal of Gynecology and
Obstetrics. Available from:
http://www.ispub.com/journal/the_internet_journal_of_gynecology_and
_obstetrics/volume_4_number_1_19/article/dysfunctional_uterine_blee
ding_and_its_management_strategy.html
6. Chen. B. H., Linda. C. G. 1998. Dysfunctional Uterine Bleeding.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1305317/pdf/westjmed0
0326-0026.pdf
7. Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu kebidanan. Jakarta: PT. Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjdo.
8. Bergquist, Jennifer. 2005. Dysfunctional Uterine Bleeding