Anda di halaman 1dari 5

Dewan Kesenian Jakarta

adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan
dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada tanggal 17 Juni 1969.

Tugas dan fungsi DKJ adalah sebagai mitra kerja Gubernur Kepala Daerah Propinsi
DKI Jakarta untuk merumuskan kebijakan guna mendukung kegiatan dan
pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta.

Kebijakan pengembangan kesenian tercermin dalam bentuk program tahunan


yang diajukan dengan menitikberatkan pada skala prioritas masing-masing
komite. Anggota DKJ berjumlah 25 orang, terdiri dari para seniman, budayawan
dan pemikir seni, yang terbagi dalam 6 komite: Komite Film, Komite Musik, Komite
Sastra, Komite Seni Rupa, Komite Tari dan Komite Teater.

VISI & MISI


Visi kami adalah ingin mendorong para seniman untuk mengembangkan
kreativitas dan penciptaaan karya seni; menyalurkan berbagai karya seni bermutu
kepada masyarakat serta memelihara, mengembangkan dan membangun
kesenian di Jakarta.

DKJ menjadi payung yang mengayomi, memelihara dan menjembatani


masyarakat seni dengan masyarakat umum, agar Jakarta menjadi kota seni
terdepan. Selain itu mengakomodasi terciptanya iklim inspiratif bagi para seniman
agar dapat mempersembahkan kreativitas kesenian yang bermutu.

Komite Sastra

Bincang Tokoh adalah salah satu program Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta
(DKJ) yang memberikan forum kepada tokoh sastra Indonesia yang telah banyak
melahirkan karya secara konsisten. Tujuannya, mendekatkan sastrawansastrawan terkemuka dan masih aktif, yang telah menghasilkan karya penting,
dengan khalayaknya.

Program yang dirilis Komite Sastra DKJ periode 2010-2013 ini sudah dapat
mendatangkan satrawan-sastrawan Indonesia seperti Remy Silado, Seno Gumira
Aji Darma, Afrizal Malna, Budi Darma, dan Acep Zamzam Noor.

Napak Tilas Sastra Indonesia merupakan ruang untuk memperbincangkan dan


menafsir kembali mutiara pemikiran sastrawan Indonesia yang sudah tiada oleh
sastrawan- sastrawan mahir Indonesia. Dengan cara seperti itulah, karya-karya
sastrawan menjadi tetap hidup. Selain perbincangan acara ini juga akan ada
pertunjukan teater yang diangkat dari karya sastra.

Komite Tari

Maestro! Maestro! merupakan sebuah program yang dikonsep oleh Komite Tari
DKJ. Melalui program ini DKJ hendak mengedepankan kembali pembacaan atas
tari tradisi Indonesia, harta karun budaya yang luar biasa mumpuni.

Acara Maestro! Maestro! telah diselenggarakan sejak 2009 mementaskan empu


tari
dengan tarian khas mereka.

Pada 2014 lalu, Komite Tari DKJ mempersembahkan program Telisik Tari, sebuah
program yang memberikan ruang untuk membahas dan mendiskusikan tarian
tradisional secara tuntas berikut isu-isu sekitarnya.

Telisi Tari edisi pertama mengambil tema Cokek dan Tari Topeng Betawi.

Komite Musik

Pekan Komponis Indonesia adalah program Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta
yang pertama kali diadakan pada 1979. pada masa itu bernama Pekan Komponis
Muda yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki sebagai sebuah gelaran
forum diskusi dan dialog antar seniman dari berbagai daerah dengan latar budaya
yang berbeda.

Para Komposer yang pernah terlibat seperti Slamet Abdul Sjukur, Rahayu
Supanggah, Tony Prabowo, Ben Pasaribu, Trisutji Kamal, Dody Satya Ekagusdiman,
Iwan Gunawan dan sejumlah nama komposer besar lain telah menghasilkan dan
membuka pembaharuan dalam kreatifitas musik yang memiliki keunikan
tersendiri.

Pekan Komponis 2013 mengusung tema Musik Dawai Indonesia dan 2014
mengusung tema Keroncong: Riwayatmu, Kini...

Komite Teater

Festival Teater Jakarta (FTJ) pada awalnya bernama Festival Teater Remaja Jakarta,
dikonsep oleh (alm) Bapak Wahyu Sihombing yang ketika itu menjadi anggota

Komite Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan mulai dilaksanakan sebagai
program DKJ sejak 1973.
Pada mulanya FTJ dilaksanakan sebagai sasaran pembinaan kelompok-kelopok
teater, karena pada masa itu tidak banyak kelompok teater yang dianggap
profesional di Jakarta, sehingga tidak banyak pertunjukan teater yang dapat
diagendakan tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang didirikan pada 1968 itu.

Sejak 2006, FTJ melakukan pembenahan diri dengan perbaikan pada sistem dan
mekanisme pelaksanaannya. FTJ menjadi program berjenjang karena
dilaksanakan mulai dari babak penyisihan tingkat wilayah kota administrasi
sampai babak finalnya di tingkat provinsi DKI Jakarta.

Komite Seni Rupa

Jakarta Biennale adalah perhelatan akbar seni rupa Indonesia yang dilangsungkan
setiap dua tahun.

Pada biennale 2015 ini mulai dirasakan kebutuhan bagi Jakarta Biennale untuk
memiliki kesinambungan dalam pola penyelenggaraannya. Perlu ada fokus yang
padu dalam menyorot persoalan-persoalan aktual sosial, budaya, dan politik, baik
yang lokal maupun yang global.

Komite Film

Komite Film DKJ mempunyai kineforum, bioskop pertama di Jakarta yang


menawarkan ragam program film sekaligus diskusi tentang film. Film-film yang

diputar adalah film-film yang bisa menjadi alternatif tontonan bagi publik. Mulai
dari film klasik maupun kontemporer, film panjang maupun pendek, film luar
maupun dalam negeri, dan juga film-film dari non arus utama. Ruang ini diadakan
sebagai tanggapan terhadap ketiadaan bioskop non komersial di Jakarta dan
kebutuhan pengadaan suatu ruang bagi pertukaran antar budaya melalui karya
audio-visual.