Anda di halaman 1dari 8

RESUME KASUS 3

HIPOSPADIA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Sistem Urinaria

Disusun oleh :
Masriyah Komalasari

220110120063
Tutor 10

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2015

A. Definisi
Hipospadia berasal dari kata hypo yang berarti dibawah dan spadon yang berarti
keratan yang panjang. Hipospadia adalah kelainan kongenital dimana muara uretra
eksterna (MUE) terleak di ventral penis dan lebih ke proximal dari tempat normalnya
(ujung gland penis) (Arif Mansjoer, 2000: 374). Pada pasien dengan hipospadia yang
berat, kadang tampak seperti ambiguous genitalia yang menyebabkan beban psikologi
bagi orang tua dan menjadi pertanyaan mengenai jenis kelamin anak mereka.
B. Etiologi
Penyebab tidak diketahui secara pasti. Beberapa etiologi yang memungkinkan adalah:
a. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon-hormon yaitu hormon androgen yang
mengatur organogenesis kelamin pria. Pembesaran tuberkel genitalia dan
perkembangan lanjut dari phallus dan uretra tergantung dari kadar testosteron selma
embriogenesis. Jika testis gagal memproduksi sejumlah testosteron atau jika struktur
sel-sel genital kekurangan reseptor androgen atau tidak terbentuknya androgen
converting enzyme (5 alpha-reductase) maka hal-hal inilah yang diduga menyebabkan
terjadinya hipospadia.
b. Genetika, terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Biasanya terjadi karena mutasi
pada gen yang mengode sintesis androgen sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak
terjadi.
c. Lingkungan, ppolutan danzat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan
mutasi.
C. Klasifikasi
1. Tipe hipospadia yang lubang uretranya di anterior:
- Hipospadia glandular yaitu lubang kencing berada dibawah kepala penis.
Kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan tindakan. Bila meatus
-

agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.


Hipospadia subcoronal yaitu lubang kencing berada pada sulcus coronarius penis

(cekungan kepala penis)


2. Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di tengah:
- Hipospadia mediopenean yaitu lubang kencing berada dibawah bagian tengah
-

dari batang penis


Hipospadia peneescrotal yaitu lubang kencing terletak diantara skrotum dan
batang penis. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit
prepusium bagian ventral sehingga penis terlihat melengkung kebawah atau

glands penis menjadi pipih.


3. Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di posterior:
- Hipospadia perineal yaitu lubang kencing berada di antara anus dan skrotum

D. Manifestasi Klinis
1. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada dibawah penis
2. Penis melengkung ke bawah
3. Panis tampak seperti tertutup karena kelainan pada kulit depan penis
4. Jika berkemih, anak harus duduk
5. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal dibagian bawah
penis yang menyerupai meatus uretra eksternus
6. Preputium tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk dibagian punggung penis
7. Adanya chordee, atau jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang
hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar
8. Kulit penis bagian bawah sangat tipis
9. Tunika dartos, fasia buch dan korpus spongiosum tidak ada
10. Dapat timbul tanpa chordee bila letak meatus pada dasar dari glans penis
11. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok
12. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum)
13. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal
14. Ketidaknyamanan anak saat BAK karena adanya tahanan pada ujung uretra eksterna
E. Penatalaksanaan
Untuk saat ini penanganan hipospadia adalah dengan cara operasi. Operasi bertujuan
untuk merekonstruksi penis agar lurus dengan orifisium uretra pada tempat yang normal.
Sebaiknya operasi dilaksanakan pada saat usia anak 6 bulan sampai prasekolah ketika
anak belum sadar bahwa dirinya berbeda, ketika teman-temannya miksi dengan posisi
berdiri, dirinya harus miksi dengan posisi jongkok. Selain itu juga hendaknya anak
jangan dulu dikhitan karena saat tindakan oprasi rekonstruksi kulit preputium penis akan
diambil untuk menutup lubang dari sulcus uretra yang tidak menyatu pada penderita
hipospadia. Tahapan operasi rekonstruksi antara lain:
1. Meluruskan penis yaitu orifisium dan canalis uretra senormal mungkin. Langkah
selanjutnya adalah mobilisasi (memotong dan memindahkan) kulit preputium penis
unruk menutup sukcus uretra.
2. Uretroplasty, dilaksanakan apabila tidak terbentuk fossa naficularis pada glans penis.
Setelah terbentuk fossa naficularis baru, dihubungkan dengan canalis uretra yang
telah terbentuk sebelumnya melalui tahap pertama.
Perawatan pasca operasi
Suatu tekanan ringan dan elastis dari perban dipakai untuk memberikan kompres
postoperatif bagi reparasi hipospadia, untuk mengatasi edema, dan untuk mencegah
perdarahan setelah operasi. Dressing harus segera dihentikan bila terlihat kedaan sudah
membiru disekitar daerah tersebut dan bila terjadi hematoma harus segera diatasi. dalam
keadaaan dimana terjadi luka yang memburuk sebagai akibat edema pada luka, ereksi,

atau hematoma, maka sebaiknya dikompres dengan mempergunakan bantalan saline


steril yang hangat. Diversi urine terus dilanjutkan hingga daerah yang luka sembuh. Bila
jaringan telah sembuh, maka masalahnya dapat direparasi dalam operasi yang kedua 6-12
bulan yang akan datang.
F. Komplikasi
Komplikasi awal yang bisa terjadi adalah perdarahan, infeksi, edema, jatihan yang
terlepas, dan nekrosis flap. Sedangkan komplikasi lanjut yang bisa terjadi adalah:
- Ketidakpuasan kosmetis, biasa terjadi dari hasil penjahitan yang irregular, gumpalan
-

kulit (skin blobs), atau kulit bagian ventral yang berlebihan


Stenosis atau menyempitnya meatus uretra karena edema atau hipetrofi pada tempat

anastomosis juga terbentuknya hematom dibawah kulit.


Fistula uretrokutan: Fistula jarang menutup spontan dan dapat diperbaiki dengan
penutupan berlapis dari flap kulit lokal. Jika fistula masih bertahan lebih dari 6 bulan
setelah prosedur inisial, salurnya harus di eksisi, di jahit, dan ditutup dengan beberapa
lapis jaringan. Angka kejadian 5-10 % dan digunakan sebagai parameter keberhasilan

operasi.
Striktura uretra: Disebabkan oleh angulasi dari anastomosis. Keadaan ini dapat

dilatasi dengan pembedahan, insisi, eksisi, atau reanastomosis.


Divertikula: Ditandai dengan adanya pengembangan uretra saat berkemih. Striktur

pada distal dapat mengakibatkan obstruksi aliran dan berakhir pada divertikula uertra.
Adanya rambut dalam uretra: Kulit yang mengandung folikel rambut dihindari
digunakan dalam rekonstruksi hipospadia. Bila kulit ini berhubungan dengan uretra

dapat menimbulkan infeksi saluran kemih dan pembentukkan batu saat pubertas.
Komplikasi lainnya adalah ektropion mukosa, balanitis xerotica oblliterans (BXO),
uretrocele, chordee persisten, dan kebocoran traktus urinaria karena penyemnbuhan
yang lama.

ASUHAN KEPERAWATAN HIPOSPADIA


Kasus 3
Anak A, laki-laki 4 tahun dirawat di ruang bedah anak. Saat ini klien memasuki hari
ketiga post operasi uretroplasty. Operasi ini merupakan operasi kedua, 6 bulan sebelumnya
klien menjalani operasi chordectomy. Orang tua mengatakan sejak lahir penis anak terlihat
bengkok, anak BAK secara jongkok, BAK tidak memancar. Ibu mengatakan sebelum hamil
anak A, ibu sering mengalami gangguan menstruasi dan mendapatkan terapi hormon estrogen
dan baru menyadari dirinya hamil anak A setelah kehamilannya berusia 2 bulan. Sebelum
dilakukan operasi, klien menjalani pemeriksaan urografi yang menunjukkan klien menderita
hipospadia tipe penil dengan chordee.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan kesadaran komposmentis , HR 100x/menit, RR
24x/menit, dan suhu 37,5oC. Penis nyeri, penis kemerahan dan sudah disunat, terpasang stent
dan kateter. BAK melalui kateter namun kateter sedikit rembes dan kulit di sekitar paha agak
kemerahan. Saat ini klien dilakukan perawatan kateter dan mendapat terapi:
a. Ceftriaxone, IV 2x/gr
b. Ketorolac, drip 3x25 mg
c. Ranitidine, IV 2x25 mg
d. RL, 1600 cc/24 jam
A. Pengkajian
1. Biodata
Nama
: An. A
Umur
: 4 tahun
Jenis kelamin
: laki-laki
Diagnosa medis
: Hipospadia
2. Riwayat kesehatan
Keluhan utama: Sejak lahir penis anak terlihat bengkok, anak BAK secara jongkok,
BAK tidak memancar
Riwayat kesehatan sekarang: Penis nyeri, penis kemerahan dan sudah disunat,
terpasang stent dan kateter. BAK melalui kateter namun kateter sedikit rembes dan
kulit di sekitar paha agak kemerahan.
Riwayat kesehatan dahulu: Sejak lahir penis anak terlihat bengkok, anak BAK secara
jongkok, BAK tidak memancar. 6 bulan sebelumnya klien menjalani operasi
chordectomy.
Riwayat pengobatan: 6 bulan sebelumnya klien menjalani operasi chordectomy.
Riwayat kesehatan keluarga: Sebelum hamil, ibu sering mengalami gangguan
menstruasi dan mendapatkan terapi hormon estrogen dan baru menyadari dirinya
hamil setelah kehamilannya berusia 2 bulan.
3. Data biologis
a. TTV

- Kesadaran: Composmentis
- TD: - HR: 100 x/menit
- RR: 24 x/menit
- Suhu: 37,5oC
b. Pemeriksaan menyeluruh
- Pemeriksaan penis: Penis nyeri, penis kemerahan dan sudah disunat, terpasang
-

stent dan kateter


BAK melalui kateter namun kateter sedikit rembes dan kulit di sekitar paha

agak kemerahan
c. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan urografi dengan hasil yang menunjukkan klien menderita
hipospadia tipe penil dengan chordee
B. Analisa Data
Data
DO: Penis kemerahan dan
terpasang stent dan kateter,
RR 24x/menit
DS: Kline mengeluh penis
nyeri

Etiologi
Hipospadia

Masalah
Nyeri

Tindakan reposisi meatus


urinari
Chordectomy dan
uretroplasty
Luka post op
Nyeri

DO:

Penis

kemerahan,

kateter sedikit rembes dan

Hipospadia

Kerusakan integritas kulit

Kencing merembes

kulit di sekitar paha agak


Kandungan urine mengenai
area genitalia terus menerus

kemerahan
DS: -

Paha dan penis kemerahan


Kerusakan integritas kulit

C. Diagnosa dan Intervensi


No
Diagnosa
Kriteria Hasil
1 Nyeri
akut Melaporkan bahwa nyeri
berhubungan

dengan terkontrol, tampak rileks,

Intervensi
1. Tanyakan pasien tentang
nyeri,

tentukan

tindakan pembedahan dan dapat tidur dengan

karakteristik nyeri seperti

reposisi

terus menerus, terbakar,

meatus nyaman,

berpartisipasi

urinari, post operasi, dalam

aktivitas

yang

dan tindakan invasif diinginkan.

dan buat skala nyeri


2. Berikan
tindakan
kenyamanan, ubah posisi

ditandai dengan penis

secara

kemerahan dan klien

berkala

dan

massase pada punggung


3. Jadwalkan
periode

mengeluh nyeri.

istirahat

dan

berikan

lingkungan yang tenang


4. Kolaborasi
pemberian
2

kulit

analgesik sesuai indikasi


1. Pertahankan kecukupan

berhubungan kembali normal dengan

masukkan cairan untuk

Kerusakan
kulit
dengan

integritas Tujuan

inegritas

rembesan kriteria penis dan paha

hidrasi

yang

adekuat

urine ditandai dengan tidak kemerahan kembali

(kira-kira 2500 ml/hari

paha

kecuali

dan

kemerahan.

penis dan

keadaan

pasien baik.

umum

bila

kontraindikasi)
2. Cuci
area

yang

kemerahan
lembut

dengan
menggunakan

sabun ringan (pH yang


sesuai), bilaslah seluruh
area dengan bersih untuk
menghilangkan sabun dan
keringkan
3. Tingkatkan

masukan

protein dan karbohidrat


untuk

mempertahankan

keseimbangan nitrogen
4. Timbang individu setiap
hari dan tentukan kadar
albumin

serum

untuk

memantau status
Referensi
Amilal Bhat (2008). General Considerations in Hypospadias Surgery. Indian Journal of
Urology; 24 (2): 188-194
Mansjoer, Arif, dkk (2000). Kapitaselekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius

Purnomo B.B (2000). Uretra dan Hipospadia dalam Dasar-dasar Urologi. Malang
Sastrasupena H (1995). Hipospadia dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa
Aksara
Snell, Richard S (2006). Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta: EGC