Anda di halaman 1dari 49

Ilmu Budaya Dasar ( I B D )

ILMU BUDAYA DASAR


( IBD)
Dosen Pembina : Bayu Pramutoko,SE,MM

Pendahuluan
Ilmu Budaya Dasar (IBD) sebagai mata kuliah dasar umum (MKDU), diberikan kepada
mahasiswa di seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta, bertujuan untuk mengembangkan daya
tangkap, persepsi, penalaran, dan apresiasi mahasiswa terhadap lingkungan budaya. Ada dua hal
yang menyebabkan pentingnya pembahasan materi itu, yaitu.
Pertama, tema-tema IBD merupakan tema-tema inti permasalahan dasar manusia yang
dialami dan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, seperti tema-tema yang telah disusun oleh
Konsorsium Antar Bidang yang meliputi cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan,
pandangan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan.
Kedua, pada saat ini, terdapat kecenderungan bahwa ilmu atau ilmuwan sering
mengabaikan sikap dan perilaku moral. Banyak di antara ilmuwan yang menganggap bahwa
aspek moral itu tidak penting. Menurutnya, aspek yang lebih penting daripada moral dalam suatu
ilmu adalah ontologis dan epistemologis. Apabila hal itu yang terjadi, maka ia akan mengabaikan
unsur manusiawinya, kurang berbudaya, dan tidak peka terhadap permasalahan moral. Untuk
mengantisipasi hal itu, setiap sarjana dirasa perlu memahami aspek budaya.
Penyusunan buku ini disiapkan dalam beberapa aspek pokok.Mengingat tema IBD sangat
luas, maka pembahasannya dilakukan dengan pendekatan multidisiplin ilmu pengetahuan, seperti
budaya, filsafat, etika, dan agama. Mengingat begitu luasnya wawasan tema IBD. Dalam buku
ini juga dilampirkan tulisan-tulisan ilmuwan yang berkiprah dalam masalah humaniora. Tulisantulisan itu bertujuan untuk pendalaman materi pokok IBD melalui pengembangan daya imajinasi
dan apresiasi mahasiswa.
B. Ilmu Budaya Dasar
Ilmu Budaya Dasar (IBD) adalah salah satu komponen dari sejumlah matakuliah Dasar
Umum (MKDU), sebagai matakuliah wajib yang menjadi kesatuan dengan matakuliah lain di
Perguruan Tinggi.
Secara khusus MKDU bertujaun untuk menghasilkan warga negera sarjana yang
berkualifikasi sebagai berikut:
a. Berjiwa Pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan pengamalan
nilai-nilai Pancasila dan memiliki intergritas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan
kepentingan nasional dan kemanusiaan scbagai sarjana Indonesia.

b.

Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran
agamanya, dan memiliki tenggang rasa terhadap pemeluk agama lain.

c. Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral di dalam menyikapi permasalah


kehidupan baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan keamanan.
d. Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bcrmasyarakat dan secara bcrsamasama mampu berperan serta meningkatkan kualitas-nya, maupun lingkungan alamiah dan
secara bersama-sama berperan serta di dalam pelestariannya.
C. Pengertian Ilmu Budaya Dasar
Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat membcrikan
pengetahuan dasar dan pengcrtian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk
mengkaji masalah-masalah dan kebudayaan.
Istilah IBD dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanities yang
berasal dari istilah bahasa Inggris The Humanities. Adapun istilah Humanities itu sendiri
berasal dari bahasa Latin Humanus yang bisa diartikan manusiawi, berbudaya dan halus
(fefined). Dengan mempelajari The Humanities diandaikan seseorang akan bisa mcnjadi lebih
manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Secara demikian bisa dikatakan bahwa The
Humanities berkaitan dengan masalah nilai-nilai, yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo
humanus atau manusia berbudaya. Agar. manusia bisa menjadi humanus, mereka harus
mempelajari ilmu yaitu The Humanities di samping tidak mehinggalkan tanggung jawabnya
yang lain sebagai manusia itu sendiri. Kendatipun demikian, Ilmu Budaya Dasar (atau Basic
Humanities) sebagai satu matakuliah tidaklah identik dengan The Humanities (yang disalin ke
dalam bahasa Indonesia menjadi: Pengetahuan Budaya).
Pengetahuan Budaya (The Humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup
keahlian cabang ilmu (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian ini pun dapat dibagi-bagi lagi ke
dalam berbagai bidang kahlian lain, seperti seni sastra, seni tari, seni musik, seni rupa dan lainlain. Sedang Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities) sebagaimana dikemukakan di atas, adalah
usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang
konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Masalah-masalah ini dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (The
Humanities), baik secara gabungan berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya ataupun dengan
menggunakan masing-masing keahlian di dalam pengetahuan budaya (The Humanities). Dengan
poerkataan lain, Ilmu Budaya Dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasa! dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan
dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Dengan perkataan lain dapatlah dikatakan bahwa setelah mendapat matakuliah IBD ini,
mahasiswa diharapkan memperlihatkan:

a. Minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi di sekitarnya dan diluar lingkungannya,
menelaah apa yang dikcrjakan sendiri dan mengapa.
b. Kesadaran akan pola-pola nilai yang dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini
dengan cara hidupnya sehari-hari.
c. Keberanian moral untuk mempertahankan nilai-nilai yang dirasakannya sudah dapat
diterimanya dengan penuh tanggung jawab dan scbaliknya mcnolak nilai-nilai yang tidak
dapat dibenarkan.
D. Tujuan Ilmu Budaya Dasar (IBD).
Sebagaimana dikemukakan di atas, penyajian Ilmu Budaya Dasar (IBD) tidak lain
merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum
tentang konsep-konsep yang dikem-bftngkan untuk mengkaji msalah-masalah manusia dan
kebudayaan, Dengan demikian jelas bahwa matakuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik
seorang pakar dalam salah satu bidang keahlian (disiplin) yang termasuk. dalam pengetahuan
budaya, akan tetapi Ilmu Budaya Dasar semata-mata sebagai salah satu usaha mengembangkan
kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan
kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya,
maupun yang menyangkut dirinya sendiri.
Dan bahwa dalam masyarakat yang berkabung semakin Cepat dan rumit ini, mahasiswa
harus mcngalami pergeseran nilai-nilai yang , mungkin sekali dapat membuatnya masa bodoh
atau putus asa, suatu sikap yang tidak selayaknya dimiliki oleh seorang terpelajar. Bagaimanapun
juga, mahasiswa adalah orang-orang muda yang sedang mempelajari cara memberikan
tanggapan dan penilaian terhadap apa saja yang terjadi atas dirinya sendiri dan masyarakat
sekitarnya. Sudah barang tentu ia perlu dibimbing untuk menemukan cara terbaik yang sesuai
dengan dirinya sendiri tanpa harus mengorbankan masyarakat dan alam sekitarnya. Secara tidak
langsung Budaya Dasar akan membantu mereka untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Berpijak dari hal di atas, tujuan matakuliah Ilmu Budaya Dasar adalah untuk
mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran, khususnya berkenaan dengan
kebudayaan, agar daya tangkap, persepsi dan penalaran mengenai lingkungan budaya mahasiswa
dapat menjadi lebih halus. Untuk bidag menjangkau tujuan tersebut di atas, diharapkan Ilmu
Budaya Dasar dapat:
a.Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka
akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk
kepentingan profesi mereka.
b.Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan mereka tcntang
masalah kemanusiaan dan budaya, serta mengembangkan daya kritis mercka tcrhadap
persoalan-persoalan yang mcnyangkut kedua hal tcrscbut.

c.Mcngusahakan agar mahasiswa sebagai caion pcmimpin bangsa dan ncgara, serta ahli dalatn
bidang disiplin masing-masing, tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotaan
disiplin yang ketat. Usaha ini tcrjadi karcna ruang lingkup pendidikan kita amat dan condong
mem-buat manusia spcsialis yang berpandangan kurang luas. Matakuliah ini berusaha
menambah kcmampuan mahasiswa untuk menanggapi nilai-nilai dan masalah dalam
masyarakat lingkungan mereka khususnya dan masalah seria nilai-nilai umumnya tanpa
terlalu terikat oleh disiplin mereka.
d.Mcngusahakan wahana komunikasi para akademisi, agar mercka lebih mampu bcrdialog satu
sama lain. Dengan mcmiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan dapat lebih
lancar berkomunikasi. Kalau cara berkomunikasi ini selanjutnya akan lebih memperlancar
pclaksanaan pembangunan dalam bcrbagai bidang keahlian. Mcskipun spcsialisasi sangat
penting, spcsialisasi yang terlalu sempit akan membuat dunia scorang mahasiswa/sarjana
menjadi tcrlalu sempit. Masyarakat yang pcrcaya pada pentingnya modcrnisasi tidak akan
dapat memanfaat-kan sccara penuh sarjana-sarjana demikian, scbab proses modcrnisasi
mcmerlukan orang yang bcrpandangan luas.
Secara umum tujuan IBD adalah Pembentukan dan pengembangan keperibadian serta
perluasan wawasan perhatian, pengetahuan dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada
dan timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala berkenaan dengan kebudayaan dan
kemanusiaan, agar daya tanggap, persepsi dan penalaran berkenaan dengan lingkungan budaya
dapat diperluas. Jika diperinci, maka tujuan pengajaran llmu Budaya Dasar itu adalah:
1.Lebih peka dan terbuka terhadap masalah kemanusiaan dan budaya, scrta lebih bertanggung
jawab terhadap masalah-masalah tersebut.
2.Mengusahakan kepekaan terhadap nilai-nilai lain untuk lebih mudah menyesuaikan diri.
3.Menyadarkan mahasiswa terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, hormat
menghormati serta simpati pada nilai-nilai yang hidup pada masyarakat.
4.Mengembangkan daya kritis tcrhadap pcrsoalan kemanusiaan dan kebudayaan.
5.Memiliki latarbelakang pengetahuan yang cukup luas tentang kebudayaan Indonesia.
6.Menimbulkan minat untuk mendalaminya.
7.Mcndukung dan mcngcmbangkan kebudayaan sendiri dengan kreatif.
8.Tidak terjerumus kepada sifat kedaarahan dan pengkotakan disiplin ilmu.
9.Menambahkan kemampuan mahasiswa untuk mcnanggapi masalah nilai-nilai budaya dalam
masyarakat Indonesia dan dunia tanpa terpikat oleh disiplin mereka.

10.Mempunyai kesamaan bahan pembicaraan, tempat berpijak mengenai masalah kemanusiaan


dan kebudayaan.
11.Terjalin interaksi antara cendekiawan yang berbeda keahlian agar lebih positif dan
komunikatif.
12.Menjembatani para sarjana yang berbeda keahliannya dalam bertugas menghadapi masalah
kemanusiaan dan budaya.
13.Memperlancar pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bidang yang ditangani oleh
berbagai cendekiawan.
14.Agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun.
15.Agar mampu memenuhi tuntutan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma
pendidikan.
Dari kerangka tujuan yang telah dikemukakan tersebut diatas, dua masalah pokok biasa
dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian matakuliah Ilmu
Budaya Dasar (IBD). Kedua masalah pokok tersebut ialah :
a.Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya mcrupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan
budaya yang dapal didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (The Humanities),
baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) di dalam pengetahuan budaya, maupun
sccara gabungan (anlar bidang) bcrbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
b.Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya
dalam kebudayaan masing-masing zaman.
Proses budaya sebagai kemapanan Emosional
Dari Basic Cultural , akan dapat diketahui kemapanan emosi dan sosialnya. Dan ini akan
berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dengan adat kebiasaan hidupnya sehari-hari
dalam interaksinya (pergaulan) dengan manusia lain, pengaruh lain yang ditimbulkan secara
individu adalah ketrampilan yang diperoleh dari interaksi yang terjadi terus-menerus tersebut,
sehingga bisa melekat pada diri individu itu selama-lamanya. Seperti bunyi pepatah Lain lading
lain belalang-lain lubuk lain pula Ikannya artinya disuatu tempat akan beda cara dan
kebiasaanya sehari-hari dengan tempat lain.
Bidang ilmu yang dibawanya kelak juga akan dipengaruhi oleh budaya dan adapt istiadat yang
sudah melekat dalam dirinya.
Maka seringkali kita saksikan, sebuah perilaku sosial yang menyimpang dari adat kebiasaan
yang lazim, Dan itu terjadi 1 orang dari 10 orang yang lain yang memiliki sikap yang berbeda.

Namun kita tidak bisa menjustifikasi atau menghakimi tindakan dia salah, karena fenomena yang
terjadi pada diri seseorang berasal dari kejadian yang ditimbulkan sebelumnya.Sikapsikap tersebut adalah :
1.Angkuh
2.Sombong
3.Mau menang Sendiri
4.Egois
5.Sektarian
6.Acuh tak acuh
Sikap-sikap tersebut akan terbawa pada saat mereka memiliki kepandaian atau pengetahuan,
sehingga akan menjadi lain manakala ilmu tersebut digunakan pada hal-hal yang buruk.
Ada sementara orang yang mengatakan bahwa sikap yang berbeda akan membawa dampak
kemajuan dalam hidupnya, tetapi dilain pihak ada yang mengatakan sebaliknya, yaitu membawa
kehancuran dalam dirinya. Yang terbaik adalah keselarasan yaitu membentuk sikap yang selaras
dan sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Dari perpaduan orang yang memiliki
pribadi yang baik dan ilmu yang dimiliki, akan berguna bagi umat manusia.
Berkesenian dapat membentuk sikap dan pribadi yang baik, hal ini dapat dilakukan apabila
seseorang memahami proses sebuah penciptaan karya seni, dimana dari awalnya ada proses :
CIPTA RASA KARSA
1.CIPTA : Adalah sebuah proses perenungan yang dilakukan dengan kontemplasi, yang dalam
hal ini didasarkan dari kedalaman ilmu seseorang dari olah batin, pengetahuan, wawasan
serta ketajaman intuisi seseorang hingga tercipta sebuah karya seni.
2.RASA : Setelah proses pertama selesai, maka selanjutnya dari hasil penciptaan hingga
menghasilkan karya seni tersebut sebelum di edarkan atau diinformasikan pada orang lain,
dirasakan terlebih dahulu oleh sang pembuatnya. Dari proses ini terjadi perpaduan antara
pikiran dan perasaan sehingga terjadi dialog yang kemudian bisa memutuskan layak dan
tidaknya karya ini ditampilkan.
3.KARSA : setelah selesai dalam proses pengkombinasian tersebut, maka kemudian dilakukan
proses tahapan terakhir yaitu mengkarsakan atau memvisualisasikan dalam bentuk gerakan,
lukisan, tulisan atau bentuk lain yang diinginkan.

Proses proses tahapan tersebut terjadi begitu cepat, tergantung dari kemampuan seseorang
dalam memadukan segala potensi yang dimilikinya.

Kebudayaan
A. Pendahuluan
Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses
pembangunan atau keberlanjutan suatu bangsa. Lebih-lebih jika bangsa itu sedang membentuk
watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zamannya. Dilihat dari segi
kebudayaan, pembangunan tidak lain adalah usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup
manusia yang lebih baik. Menciptakan lingkungan hidup yang lebih serasi. Menciptakan
kemudahan atau fasilitas agar kehidupan itu lebih nikmat. Pembangunan adalah suatu intervensi
manusia terhadap alam lingkungannya, baik lingkungan alam fisik, maupun lingkungan sosial
budaya.
Pembangunan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan
hidupnya. Serentak dengan laju perkembangan dunia, terjadi pula dinamika masyarakat. Terjadi
perubahan sikap terhadap nilai-nilai budaya yang sudah ada. Terjadilah pergeseran sistem nilai
budaya yang membawa perubahan pula dalam hubungan interaksi manusia di dalam
masyarakatnya.
Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur
yang merata, materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila. Bahwa hakekat pembangunan Nasional
adalah pembangunam manusia Indonesia seutuhnya dan pcmbangunan seluruh masyarakat
Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan
hendaknya menempatkan manusia scbagai pusat intcraksi kcgiatan pcmbangunan spiritual
maupun material. Pembangunan yang melihat manusia sebagai makhluk budaya, dan sebagai
sumber daya dalam pembangunan. Hal itu berarti bahwa pembangunan seharusnya mampu
meningkatkan harkat dan martabat manusia. Menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa.
Menumbuhkan sikap hidup yang seimbang dan berkepribadian utuh. Memiliki moralitas serta
integritas sosial yang tinggi. Manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Mahasa Esa.
Dewasa ini kita dihadapkan paling tidak kepada tiga masalah yang saling berkaitan, yaitu
1). Suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa, dengan latar
belakang sosio budaya yang beraneka ragam. Kemajemukan tersebut tercermin dalam
berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu diperlukan sikap yang mampu mengatasi ikataikatan primordial, yaitu kesukuan dan kedaerahan.
2). Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu nampak
terjadinya pergeseran sistem nilai budaya, penyikapan yang berubah pada anggota
masyarakat tcrhadap nilai-nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas sosial,
yang diikuti oleh hubungan antar aksi yang bergeser dalam kelompok-kclompok masyarakat.
Sementara itu terjadi pula penyesuaian dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dapat

dipahami apabila pergeseran nilai-nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan kita
sebagai bangsa.
3). Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi massa dan transportasi, yang membawa
pengaruh terhadap intensitas kontak budaya antar suku maupun dengan kebudayaan dari luar.
Khusus dengan terjadinya kontak budaya dengan kebudayaan asing itu bukan hanya
itensitasnya menjadi lebih besar, tetapi juga penyebarannya bcrlangsung dengan cepat dan
luas jangkauannya. Terjadilah perubahan orientasi budaya yang kadang-kadang menimbulkan
dampak terhadap tata nilai masyarakat, yang sedang menumbuhkan identitasnya sendiri
sebagai bangsa.
Untuk itulah, kepada lulusan Perguruan Tinggi perlu di bekali pengetahuan yang dapat
mengembangkan kepribadiannya dan agar memiliki sikap hidup yang halus dan terbuka.
B. Pengertian Kebudayaan
Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta budhayah, yaitu bentuk
jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Sedangkan ahli antropologi yang memberikan
definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Tylor dalam buku yang
berjudul Primitive Culture, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di
dalamnya terkandung ilmu pengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai
anggota masyarakat. Pada sisi yang agak berbeda,
Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan manusia dari kelakuan
dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkanya dengan belajar dan
yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dari beberapa pengertian tersebut dapat
ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil
karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun
dalam kehidupanan masyarakat.
Secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut:
1.Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia, yang meliputi:
b.kebudayaan materiil (bersifat jasmaniah), yang meliputi benda-benda ciptaan manusia,
misalnya kendaraan, alat rumah tangga, dan lain-lain.
c.Kebudayaan non-materiil (bersifat rohaniah), yaitu semua hal yang tidak dapat dilihat dan
diraba, misalnya agama, bahasa, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.
2.Kebudayaan itu tidak diwariskan secara generatif (biologis), melainkan hanya mungkin
diperoleh dengan cara belajar.

3.Kebudayaan diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tanpa masyarakat


kemungkinannya sangat kecil untuk membentuk kebudayaan. Sebaliknya, tanpa kebudayaan
tidak mungkin manusia (secara individual maupun kelompok) dapat mempertahankan
kehidupannya. Jadi, kebudayaan adalah hampir semua tindakan manusia dalam kehidupan
sehari-hari.
C. Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan meliputi semua kebudayaan yang ada dunia, baik yang kecil,
sedang, besar, maupun yang kompleks. Menurut konsepnya Malinowski, kebudayaan di dunia ini
mempunyai tujuh unsur universal, yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian,
organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian .Seluruh unsur itu saling terkait antara
yang satu dengan yang lain dan tidak bisa dipisahkan.
D. Sistem Budaya dan Sistem Sosial
Sistem sosial dan sistem budaya merupakan bagian dari kerangka budaya. Ketiga sistem
tersebut secara analisis dapat dibedakan. Sistem sosial lebih banyak dibahas oleh ilmu sosiologi,
sementara itu sistem budaya banyak dikaji dalam ilmu budaya.Sistem diartikan sebagai
kumpulan bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Sistem
mempunyai sepuluh ciri, yaitu:
1.fungsi,
2.satuan,
3.batasan,
4.bentuk,
5.lingkungan,
6.hubungan,
7.proses,
8. masukan,
9.keluaran, dan
10.pertukaran.
Sistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan. Sistem budaya a tau
kultural sistem merupakan ide-ide dan gagasan manusia yang hidup bersama dalam suatu
masyarakat. Gagasan tersebut tidak dalam keadaan berdiri sendiri, akan tetapi berkaitan dan

menjadi suatu sistem. Dengan demikian, sistem budaya adalah bagian dari kebudayaan yang
diartikan pula adat-istiadat. Adat-istiadat mencakup sistem nilai budaya, sistem norma, normanorma menurut pranata-pranata yang ada di dalam masyarakat yang bersangkutan, termasuk
norma agama.
Fungsi sistem budaya adalah menata dan memantapkan tindakan-tindakan serta tingkah
laku manusia. Proses belajar dari sistem budaya ini dilakukan melalui proses pembudayaan atau
institutionalization (pelembagaan). Dalam proses ini, individu mempelajari dan menyesuaikan
alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan yang hidup dalam
kebudayaannya. Proses ini dimulai sejak kecil, dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat,
mula-mula meniru berbagai macam ilmu n. Setelah itu menjadi pola yang mantap, dan mengatur
apa yang dimilikinya.
Sedangkan, sistem sosial pertama kali diperkenalkan oleh Talcott Parsons. Konsep
struktur sosial digunakan untuk menganalisis aktivitas sosial sehingga sistem sosial menjadi
model analisis terhadap organisasi sosial.
Konsep sistem sosial adalah alat bantu untuk menjelaskan tentang kelompok-kelompok
manusia. Model ini bertitik tolak dari pandangan bahwa kelompok manusia merupakan suatu
sistem.
Parsons menyusun strategi untuk menganalisis fungsional yang meliputi semua sistem
sosial, termasuk hubungan berdua, kelompok kecil, keluarga, organisasi sosial, termasuk
masyarakat secara keseluruhan. terdapat empat unsur dalam sistem sosial, yaitu:
1. dua orang atau lebih,
2. terjadi interaksi di antara mereka,
3. interaksi yang dilakukan selalu bertujuan, dan
4. memiliki struktur, simbol, dan harapan-harapan bersama yang dipedomaninya.

Lebih lanjut, suatu sistem sosial akan dapat berfungsi apabila empat persyaratan di bawah ini
terpenuhi. Keempat persyaratan itu meliputi:
1.Adaptasi, menunjuk pada keharusan bagi sistem-sistem sosial untuk menghadapi
lingkungannya.
2.Mencapai tujuan, merupakan persyaratan fungsional bahwa tindakan itu diarahkan pada tujuantujuannya.
3.Integrasi, merupakan persyaratan yang berhubungan dengan interelasi antara para anggota
dalam sistem sosial.

4.Pemeliharaan pola-pola tersembunyi, merupakan konsep latent (tersembunyi) pada titik


berhentinya suatu interaksi akibat kejenuhan sehingga tunduk pada sistem sosial lainnya
yang mungkin terlibat.
Lebih lanjut, Parson menjelaskan bahwa dalam suatu sistem sosial terdapat 10 unsur yang
membentuk kesempurnaan suatu sistem. Kesepuluh unsur itu, yaitu:
(1) keyakinan,
(2) perasaan,
(3) tujuan sasaran cita-cita,
(4) norma,
(5) kedudukan peranan,
(6) tingkatan,
(7) kekuasaan atau pengaruh,
(8) sanksi,
(9) sarana atau fasilitas, dan
(10) tekanan ketegangan.
E.Makna Sosial
Manusia adalah makhluk sosial yang dapat bergaul dengan dirinya sendiri, dan orang lain
menafsirkan makna-makna obyek-obyek di alam kesadarannya dan memutuskannya bagaimana ia
bertindak secara berarti sesuai dengan penafsiran itu. Bahkan seseorang melakukan sesuatu karena
peran sosialnya atau karena kelas sosialnya atau karena sejarah hidupnya. Tingkah laku manusia
memiliki aspek-aspek pokok penting sebagai berikut :
(1)Manusia selalu bertindak sesuai dengan makna barang-barang (semua yang ditemui dan dialami,
semua unsur kehidupan di dunia ini);
(2)Makna dari suatu barang itu selalu timbul dari hasil interaksi di antara orang seorang;
(3)Manusia selalu menafsirkan makna barang-barang tersebut sebelum dia bisa bertindak sesuai
dengan makna barang-barang tersebut. Atas dasar aspek-aspek pokok tersebut di atas,
interaksi manusia bukan hasil sebab-sebab dari luar. Hubungan interaksi manusia memberikan
bentuk pada tingkah laku dalam kehidupannya sehari-hari, bergaul saling mempengaruhi.
Mempertimbangkan tindakan orang lain perlu sekali, bila mau membentuk tindakan sendiri.
Menurut Blumer dalam premisnya menyebutkan bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu
berdasarkan makna-makna yang berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain dan
disempurnakan pada saat proses interaksi sosial berlangsung.
Makna dari sesuatu berasal dari cara-cara orang atau aktor bertindak terhadap sesuatu dengan
memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokkan dan mentransformasikan situasi di mana dia ditempatkan
dan arah tindakannya.
F. Perubahan Sosial

Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan dimensi ruang dan
waktu.Perubahan itu bisa dalam arti sempit , luas, cepat atau lambat. Perubahan dalam masyarakat pada
prinsipnya merupakan proses terus-menerus untuk menuju masyarakat maju atau berkembang, pada
perubahan sosial maupun perubahan kebudayaan.
Menurut Moore dalam karya Lauer, perubahan sosial didefinisikan sebagai perubahan penting
dalam struktur sosial . Yang dimaksud struktur sosial adalah pola-pola perilaku dan interaksi sosial.
Perubahan sosial mencakup seluruh aspek kehidupan sosial, karena seluruh aspek kehidupan sosial itu
terus menerus berubah, hanya tingkat perubahannya yang berbeda.
Himes dan More mengemukakan tiga dimensi perubahan sosial :
(1)Dimensi structural dari perubahan sosial mengacu kepada perubahan dalam bentuk struktur masyarakat
menyangkut perubahan peran, munculnya peranan baru, perubahan dalam struktur kelas sosial dan
perubahan dalam lembaga sosial;
(2)Perubahan sosial dalam dimensi cultural mengacu kepada perubahan kebudayaan dalam masyarakat
seperti adanya penemuan dalam berpikir (ilmu pengetahuan), pembaharuan hasil teknologi, kontak
dengan kebudayaan lain yang menyebabkan terjadinya difusi dan peminjaman kebudayaan;
(3)Perubahan sosial dalam dimensi interaksional mengacu kepada perubahan hubungan sosial dalam
masyarakat yang berkenaan dengan perubahan dalam frekuensi, jarak sosial, saluran, aturan-aturan atau
pola-pola dan bentuk hubungan.

G. Konsep Nilai
Batasan nilai bisa mengacu pada berbagai hal seperti minat, kesukaan, pilihan, tugas,
kewajiban agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, daya tarik, dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan perasaan dari orientasi seleksinya (Pepper, dalam Sulaeman, 1998).
Rumusan di atas apabila diperluas meliputi seluruh perkem-bangan dan kemungkinan unsurunsur nilai, perilaku yang sempit diperoleh dari bidang keahlian tertentu, seperti dari satu disiplin
kajian ilmu. Di bagian lain, Pepper mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang
baik atau yang buruk. Sementara itu, Perry (dalam Sulaeman, 1998) mengatakan bahwa nilai
adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subjek.
Ketiga rumusan nilai di atas, dapat diringkas menjadi segala sesuatu yang dipentingkan
manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai abstraksi,
pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat.
Seseorang dalam melakukan sesuatu terlebih dahulu mempertimbangkan nilai. Dengan
kata lain, mempertimbangkan untuk melakukan pilihan tentang nilai baik dan buruk adalah suatu
keabsahan. Jika seseorang tidak melakukan pilihannya tentang nilai, maka orang lain atau
kekuatan luar akan menetapkan pilihan nilai nnluk dirinya.
Seseorang dalam melakukan pertimbangan nilai bisa bersifat subyektif dan bisa juga
bersifat objektif. Pertimbangan nilai subjektif tcnlapat dalam alam pikiran manusia dan
bergantung pada orang yang memberi pertimbangan itu. Sedangkan pertimbangan objektif
beranggapan bahwa nilai-nilai itu terdapat tingkatan-tingkatan sampai pada tingkat tertinggi,
yaitu pada nilai fundamental yang mencerminkan universalitas kondisi fisik, psikologi sosial,
menyangkut keperluan setiap manusia di mana saja.
Dalam kajian filsafat, terdapat prinsip-prinsip untuk pemilihan nilai, yaitu sebagai
berikut.

1.nilai instrinsik harus mendapat prioritas pertama daripada nilai ekstrinsik. Sesuatu yang
berharga instrinsik, yaitu yang baik dari dalam dirinya sendiri dan bukan karena
menghasilkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berharga secara ekstrinsik, yaitu sesuatu yang
bernilai baik karena sesuatu hal dari luar. Jika sesuatu itu merupakan sarana untuk mendapat
sesuatu yang lain. Semua benda yang bisa digunakan untuk aktivitas mem-punyai nilai
ekstrinsik.
2.nilai ini tidak harus terpisah. Suatu benda dapat bernilai instrinsik dan ekstrinsik. Contoh
pengetahuan, mempunyai nilai instrinsik baik dari dirinya sendiri dan mempunyai nilai
ekstrinsik apabila digunakan untuk kepentingan pembangunan baik di bidang ekonomi,
politik, hukum, maupun bidang-bidang yang lainnya.
3.nilai yang produktif secara permanen didahulukan daripada nilai yang produktif kurang
permanen. Beberapa nilai, seperti nilai ekonomi akan habis dalam aktivitas kehidupan.
Sedangkan nilai persahabatan akan bertambah jika dipergunakan untuk membagi nilai akal
dan jiwa bersama orang lain. Oleh karena itu, nilai persahabatan harus didahulukan daripada
nilai ekonomi.
H. Sistem Nilai
Sistem nilai adalah nilai inti (core value) dari masyarakat. Nilai inti ini diakui dan
dijunjung tinggi oleh setiap manusia di dunia untuk berperilaku. Sistem nilai ini menunjukkan
tata-tertib hubungan timbal balik yang ada di dalam masyarakat. Sistem nilai budaya berfungsi
sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia (Koentjaraningrat, 1981). Sistem nilai budaya
ini telah melekat dengan kuatnya dalam jiwa setiap anggota masyarakat sehingga sulit diganti
atau diubah dalam waktu yang singkat. Sistem budaya ini menyangkut masalah-masalah pokok
bagi kehidupan manusia.
Sistem nilai budaya ini berupa abstraksi yang tidak mungkin sama persis untuk setiap kelompok
masyarakat. Mungkin saja nilai-nilai itu dapat berbeda atau bahkan bertentangan, hanya saja
orien-tasi nilai budayanya akan bersifat universal, sebagaimana Kluckhohn (1950) sebutkan.
Menurut Kluckhohn, sistem nilai budaya dalam masyarakat di mana pun di dunia ini, secara
universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:
4.Hakikat hidup manusia. Hakikat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstrim. Ada
yang berusaha untuk memadamkam hidup (nirvana = meniup habis). Ada pula yang dengan
pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai sesuatu hal yang baik (mengisi
hidup).
5.Hakikat karya manusia. Setiap manusia pada hakikatnya berbeda-beda, di antaranya ada yang
beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau
kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.

6.Hakikat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda. Ada yang berpandangan mementingkan
orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau yang akan datang.
7.Hakikat alam manusia. Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi
alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan
bahwa manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
8.Hakikat hubungan manusia. Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan
manusia, baik secara horisontal maupun secara vertikal kepada tokoh-tokoh. Ada pula yang
berpandangan individualists (menilai tinggi kekuatan sendiri).
Berdasarkan hasil suatu penelitian, ada tiga pandangan dasar tentang makna hidup, yaitu:
(1) hidup untuk bekerja,
(2) hidup untuk beramal, berbakti, dan
(3) hidup untuk bersenang-senang.
Sedangkan makna kerja, yaitu:
(1) untuk mencari nafkah,
(2) untuk memper-tahankan hidup,
(3) untuk kehormatan,
(4) untuk kepuasan dan kesenangan, dan
(5) untuk amal ibadah.
I. Perubahan Kebudayaan
Masyarakat dan kebudayaan di mana pun selalu dalam keadaan berubah, ada dua sebab
perubahan
1.Sebab yang berasal dari masyarakat dan lingkungannya sendiri,misalnya perubahan jumlah
dan komposisi
2.sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya
terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain,
cenderung untuk berubah secara lebih cepat.
3.adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.

Dalam masyarakat maju, perubahan kebudayaan biasanya terjadi melalui penemuan


(discovery) dalam bentuk ciptaan baru (inovatiori) dan melalui proses difusi. Discovery
merupakan jenis penemuan baru yang mengubah persepsi mengenai hakikat suatu gejala
mengenai hubungan dua gejala atau lebih. Invention adalah suatu penciptaan bentuk baru yang
berupa benda (pengetahuan) yang dilakukan melalui penciptaan dan didasarkan atas pengkombinasian pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada mengenai benda dan gejala yang dimaksud.
Ada empat bentuk peristiwa perubahan kebudayaan. Pertama, cultural lag, yaitu perbedaan
antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Dengan kata lain,
cultural lag dapat diartikan sebagai bentuk ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara
saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai
masyarakat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut.
Kedua, cultural survival, yaitu suatu konsep untuk meng-gambarkan suatu praktik yang telah
kehilangan fungsi pentingnya seratus persen, yang tetap hidup, dan berlaku semata-mata hanya
di atas landasan adat-istiadat semata-mata. Jadi, cultural survival adalah pengertian adanya suatu
cara tradisional yang tak mengalami perubahan sejak dahulu hingga sekarang.
Ketiga, pertentangan kebudayaan (cultural conflict), yaitu proses pertentangan antara
budaya yang satu dengan budaya yang lain.
Konflik budaya terjadi akibat terjadinya perbedaan kepercayaan atau keyakinan antara anggota
kebudayaan yang satu dengan yang lainnya.
Keempat, guncangan kebudayaan (cultural shock), yaitu proses guncangan kebudayaan sebagai
akibat terjadinya perpindahan secara tiba-tiba dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Ada
empat tahap yang membentuk siklus cultural shock, yaitu: (1) tahap inkubasi, yaitu tahap
pengenalan terhadap budaya baru, (2) tahap kritis, ditandai dengan suatu perasaan dendam; pada
saat ini terjadi korban cultural shock, (3) tahap kesembuhan, yaitu proses melampaui tahap
kedua, hidup dengan damai, dan (4) tahap penyesuaian diri; pada saat ini orang sudah
membanggakan sesuatu yang dilihat dan dirasakan dalam kondisi yang baru itu; sementara itu
rasa cemas dalam dirinya sudah berlalu.
Konsepsi Budaya Dasar Dalam Berbagai Bidang Kesusasteraan
1. Hakekat Puisi
Dipandang dari segi bangunan bentuknya pada umumnya puisi dianggap sebagai
pemakaian atau penggunaan bahasa yang intensif; oleh karena itu minimnya jumlah kosa kata
yang digunakan dan padatnya struktur yang dimanipulasikan,namun justru karena itu
berpengaruh kita dalam menggerakkan emosi pembaca karena gaya penuturan dan daya
lukisnya. Bahasa puisi dikatakan lebih padat lebih indah, lebih cemerlang dan hidup
(compressed, picturesque, vivid) daripada bahasa prosa atau percakapan sehari-hari.

Bahasa puisi mengandung penggunaan lambang-lambang metaforis dan bentuk-bentuk


intutive yang lain untuk mengekspresikan gagasan, perasaaan dan emosi oleh karena puisi
senantiasa menggapai secara eksklusif ke arah imajinasi dan ranah (domain) bentuk-bentuk
emotif dan artistiknya sendiri.
Kepadatan bahasa puisi itu sebenarnya sangat berkaitan. Secara sinkron dan integratif
dengan upaya sang penyair dalam memadatkan sejumlah pikiran, pcrasaan dan emosi serta pengalaman hidup yang diungkapannya. Hal yang membedakan seorang penyair dari pengarang
prosa adalah karena kemampuannya dalam mengekspresikan hal-hal yang sangat besar dan luas
dalam bentuk yang ringkas dan padat.
Dipandang dari segi isinya puisi yang bagus merupakan ekspresi yang paling benar
(genuine expression) atas kcseluruhan kepri-badian manusia dan kerena itu ia dapat
menyampaikan secara luar biasa keinsyafan pikiran dan hari manusia tehadap pcngalaman dan
peristiwa kehidupan. Dengan demikian fenomen- budaya puisi itu tcrcipta dalam proses yang
kira-kira bisa dibagankan sebagai bcrikut:
2. Penyajian Puisi dalam Pendidikan dan pengajaran di semua tingkatan
Berdasarkan sejumlah pandangan yang terpilih dari para ahli dan kritikus sastra dapatlah
dikatakan bahwa puisi bersifat koekstensif dengan hidup (W.J.G. race, 1965:5) yang berarti
bcrdiri berdampingan dalam kedudukan yang sama dengan hidup sebagai pencerminan dan
krilik atau interpretasi terhadap hidup.
Dalam pemikiran aslinya Dr. Smuel Johnson menyebutkan general nature sebagai
obyek percerminan. Dalam hal ini puisi itu sendiri bukanlah sebuah cermin, dalam pengertian
ia tidak semata-mata mereproduksi suatu bayangan alam (dan kehidupan), tetapi ia membuat
alam itu direfleksikan di dalam bentuknya yang banyak berisi arti (Northrop Frye, 1957: 84).
Secara aktual apa yang dinyatakan oleh penyair dalam puisinya dapat merupakan analogi,
koresponden atau mirip dengan alam lahir (external nature). Di sini cermin tidak semata-mata
mereflcksikan alam lahir itu, oleh karena alam di sini juga mencakup inleligensi manusia,
perasaanya dan cara atau aktivitas manusia itu melihat dirinya sendiri. Tendensi pandangan
dalam kritik modern mengenai dalil pencerminan tersebut menganggap bahwa puisi sebagai
suatu jenis karya scni merupakan heterokosmos yakni sebagai alam kedua. Dalam
memandang sastra pada umumnya dan puisi pada khususnya sebagai pencerminan pengalaman,
kita tidak akan berpikir bahwa sastra (puisi) sebagai penyajian norma-norma secara statistik.
Sebegitu jauh sastra/puisi di zaman angkatan Pujangga Baru (tahun 30-an) boleh disebut
hanya mengenal atau cenderung kepada minoritas orang-orang berpendidikan menengah dan
feodal sebagaimana sastra Eropa Barat di abad pertengahan yang hanya menyuarakan gerak
hidupnya kaum bangsawan yang mencari kekuatannya pada tema-tema tertentu saja, misalnya
cinta istana.

Namun sastra/puisi Indonesia di kurun 1942 1945 mengumandangkan tuntutan


masyarakat akan kemerdekaan dan di tahun 1960-an meneriakkan pemberontakan kepada kaum
tirani dan despot. Sedangkan puisi-puisi Gunawan Muhammad atau Sapardi Joko Damono
lebih banyak ber-sifat renungan pada pencarian nilai-nilai.
2.1. Hubungun puisi dengan pengalaman hidup manusia
Perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra/puisi disebut pengalaman
perwakilan (vicarious experience, (1) D.L. Burton, 1964: 4, (2) M.E. Fowler, 1965: 219, (3) W.J.
Grace, 1965: (4). lni berarti bahwa manusia senantiasa ingin mcmiliki salah satu kebutuhan
dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya dari sekedar kumpulan pengalaman
langsung yang terbalas. Dengan pengalaman perwakilan itu sastra/puisi dapat memberikan
kepada mahasiswa memiliki kesadaran (insight wawasan) yang penting untuk dapat melihat
dan mengerti banyak tentang dirinya sendiri dan tentang masyarakat.
Dengan keseringan membaca dan mendiskusikan hasil karya sastra/puisi dengan
bimbingan dosen yang bijaksana dan matang mcreka dapat berkembang untuk mengerti tidak
saja terhadap diri mereka masing-masing dan hubungannya dengan masyarakat di mana mereka
hidup, tetapi juga terhadap kcahlian dan kearifan senimannya (the craft of the artist).
Pendekatan terhadap pengalaman perwakilan ilu dapat dilakukan dengan suatu
kemampuan yang disebut imaginative entry (D.L. Burton, 1965: 1544), yaitu kemampuan
menghubungkan pengalaman hidup sendiri dengan pengalaman yang diluangkan penyair dalam
puisinya. Sebagai pemuda tentulah mahasiswa itu pcrnah jatuh cinta, kebencian yang
mendendam, keberanian memprotes, sakit hati dan penderitaan olch kesedihan, keterharuan dan
kebanggaan olch dalang-nya suatu harapan yang membahagiakan. Dengan mengidentifikasi
pengalaman-pengalaman itu mereka dapat memasuki pcngalaman dalam puisi dengan membaca
dan mendiskusikannya, sehingga mcreka dapat mempcrluas ketahuannya terhadap dirinya dan
terhadap orang lain.
Puisi mempunyai kekuatannya sendiri dalam memperluas pengalaman hidup aktual
dengan jalan mengalur dan mensintesekannya. Pengalaman yang melayani kebutuhan universal
manusia untuk memperoleh pelarian dan obat penawar dari beban kesibukan hidup yang rutin.
2.2 Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual.
Dengan membaca puisi kita dapat diajak untuk dapat menjenguk hati dan
pikiran/kesadaran manusia, baik orang lain maupun diri sendiri. Hal ini sangat dimungkinkan
oleh puisi itu sendiri, karena melalui puisinya sang penyair menunjukkan kepada pembaca
bagian dalam hati manusia, ia menjelaskan pengalaman sctiap orang, yang bisa mengenai;
topang yang dipakai orang dalam kehidupan yang nyata
bcrbagai pcranan yang diperankan orang dalam mcnampilkan diri di dunia atau lingkungan
masyarakatnya.

Adalah hak dan misi seorang penyair lewat puisinya untuk membuka tabir yang mcnutupi
hati manusia dan membawa kita untuk melihat sedekat- dekatnya rahasia pikiran, perasaan dan
impian manusia. Pada akhirnya puisi mempcrluas dacrah pcrscpsi kita memperlcbar dan
memperdalam serta menyempurnakan sensibilitas emosional kita, kemampuan kita untuk
merasakan, sehingga kila dibuatnya menjadi lebih sensitif, lebih responsif dan mejadi manusia
yang lebih simpatik.
2.3. Puisi dan keinsyafan sosial.
Puisi juga membcrikan kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai makhluk
sosial, yang tcrlibat dalam issue dan problema sosial. Sccara imajinatif puisi dapat menafsirkan
sittuasi dasar manusia sosial, yang bisa bcrupa:
penderitaan atas ketidak adilan
perjuangan untuk kekuasaan.
konfliknya dengan secsamanya
pemberontakannya lerhadap hukum Tuhan atau hukum manusia sendiri.
2.4. Puisi dan nilai-niiai.
Dengan membcrikan pengarahan dna bimbingan yang tepat dalam proses membaca dan
mendiskusikan puisi, mahasiswa akan men-jumpai nilai-nilai (value) yang bermanfaat bagi
lingkungan hidupnnya. Ia akan membaca tentang manusia laki-laki atau perempuan yang
mungkin telah mengambil sikap tertentu tentang moral dan etika yang menjadi pilihannya.
Kata drama berasal dari kata Greek draien yang berarti to do, to act. Sementara itu kata
teater berasal dari kata Greek the-atron yang berarti to see, to view. Perbedaan antara kedua
istilah itu dapat dilihat pada pasangan ciri-ciri sebagai berikut ;Drama teater
play

performance

script

production

text

staging

author

creation

theory

actor
interpretation
practice

Dari perbandingan di atas kiranya nampak bahwa drama lebih me-rupakan lakon yang
belum dipentaskan; atau skrip yang belum diproduksikan; atau teks yang belum dipanggungkan;
atau hasil kreasi pengarang yang dalam batas-batas tertentu masih bersifat teoritis. Sementara itu
teater lebih merupakan performansi dari lakon; atau produksi dari skrip; atau pemanggungan dari
teks; atau hasil interpretasi aktor dari kreasi pengarang yang dalam batas-batas tertentu bersifat
mempraktekkan.
Mengapresiasi drama sebagai sastra (terutama jika menggunakan pendekatan obyektif)
tidak dapat dilepaskan dari memahami elemen-elemen atau unsur-unsur drama yakni : alur (plot)
bahasa lakon (terutama dialog), dan tokoh (character). Namun hendaklah diingat bahwa
ketiganya (plot, dialog dan character) bukanlah monopoli drama, oleh karena prosa fiksi pun
memiliki elemen-elemen tadi.
Dari sini jelas bahwa perbedaan antara novelis dengan penulis lakon dalam menyajikan
tokoh, terletak pada alat yang digunakan. Penulis lakon menggunakan alat dialog dan aksi.
Sementara itu novelis akan menggunakan alat dialog dan wacana narator (narrators
discourse).Dari apa yang telah disajikan di atas semakin jelaslah bahwa elemen-elemen drama
dalam batas-batas tertentu terdapat juga di dalam prosa fiksi.
4. PROSA FIKSI
Istilah prosa fiksi banyak padanannya. Kadang-kadang di sebut : narrative fiction,
fictional narrative, prose fiction atau hanya fiction saja. Kata Latin fictionem dari kata fingere
artinya menggambarkan atau menunjukkan. Dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering
diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai Bentuk cerita atau prosa kisahan
yang mempunyai peme-ran, lakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau
imajinasi (Saad & Moeliono). Istilah cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman, atau novel,
atau cerita pendek.
4.1 Nilai-nilai di dalam prosa fiksi
Yang dimaksud dengan nilai di sini adalah persepsi dan pengertian yang diperoleh
pembaca lewat sastra (prosa fiksi). Hendaknya disadari bahwa tidak semua pembaca dapat memperoleh persepsi dan pengertian tersebut. Ini hanya dapat diperoleh pembaca, apabila sastra
menyentuh diririya. Nilai tersebut tidak akan diperoleh secara otomatis dari membaca. Dan
hanya pembaca yang berhasil mendapat pengalaman sastra saja yang dapat merebut nilai-nilai
dalam sastra.
(a). Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca
mendapatkan pengalaman sebagaimana jika mengalaminya sendiri peristiwa atau keja-dian
yang dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imaginasinya untuk mengenal daerah atau
tempat yang asing, yang belum dikunjunginya, atau yang tak mungkin dikunjungi selama
hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah lakunya

atau mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai suatu sukses. Namun demikian
tidak menutup kemungkinan bahwa tempat atau tokoh dalam fiksi itu mirip dengan manusia
manusia atau tempat-tempat dalam kehidupan sehari-hari.
Kecuali kenikmatan literer, fiksi juga memberikan kesenangan yang berupa stimulasi
intelektual. Ini datang dari adanya ide-ide, wawasan-wawasan, atau pemikiran-pemikitan
yang baru, yang aneh, yang luar biasa, bahkan juga yang mungkin sangat membahayakan
jika diungkap-kan bukan lewat sastra.
(b). Prosa fiksi memberikan informasi.
Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedi. Jika
kita memerlukan suatu fakta, maka kita dapat membuka buku. Tetapi jika kita menginginkan
wawasan yang berbeda dari apa yang ada di dalam fakta, maka kita harus memilih sastra.
Dari sastra mungkin kita akan mendapatkan nilai-nilai dari sesuatu yang mungkin di luar
perhatian kita. Dari novel sering kita dapat belajar sesuatu yang lebih daripada sejarah atau
laporan jurnalistik tentang kehidupan masa kini, kehidup-an masa lalu, bahkan juga
kehidupan yang akan datang, atau kehidupan yang sama sekali asing. (Kita ingat misalnya
Robinson Crusoe (Defoe) atau Perjalanan ke Akhirat (Djamil Suherman).
Fiksi juga memberikan ide atau wawasan yang lebih dalam daripada sekedar fakta
yang hanya bersifat meng-gambarkan. Dari fiksi dapat dipahami tentang kelemahan,
ketakutan, keterasingan, atau hakekat manusia lebih daripada apa yang disajikan oleh bukubuku psikologi, sosiologi, atau anthropologi.
Fiksi bersifat mendramatisasikan, bukan hanya sekedar menerangkan seperti
misalnya buku teks psikologi. Mendramatisasikan, berarti mengubah prinsip-prinsip abstrak
menjadi suatu kehidupan atau lakuan/tindakan (action). Kita jadi ingat misalnya pada Ziarah
(Iwan Simatupang) yang merupakan dramatisasi atau fisikalisasi dari ide keterasingan
kehidupan manusia, sebagaimana diperankan oleh profesor filsafat itu.
(c). Prosa fiksi memberikan warisan kultural.
Pelajaran sejarah dapat memberikan sebagian warisan kultural kepada mahasiswa;
demikian pula dengan pelajaran matematika, seni, dan musik. Para mahasiswa yang
mempelajari bahasa dan sastra akan memperoleh kontak dengan : impian-impian, harapanharapan, dan aspirasi-aspirasi, sebagai akar-akar dari kebudayaan. Prosa fiksi dapat
menstimulai imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari
warisan budaya bangsa.
Novel-novel yang terkenal seperti : Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang
mengungkapkan impi-an-impian, harapan-harapan, aspirasi-aspirasi dari generasi yang
terdahulu yang seharusnya dihayati oleh generasi kini. Bagi bangsa Indonesia novel-novel

yang berlatar belakang perjuangan revolusi seperti Jalan Tak Ada Ujung, Perburuhan, jelas
merupakan buku novel yang berarti, sementara kita menyadari bahwa revolusi itu sendiri
adalah suatu tindakan heroisme yang mengagumkan dan memberikan kebanggaan.
(d). Prosa fiksi memberikan keseimbangan wawasan.
Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalamanpengalamannya dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rang-kaian aksi (action) yang mungkin
sangat berbeda daripa-da apa yang disajikan oleh kehidupan sendiri. Rangkaian aksi itu
sendiri mungkin tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi di dalam kehidupan faktual.
Adanya semacam kaidah kemungkinan yang tidak mungkin dalam fiksi inilah yang
memungkinkan pembaca untuk dapat memperluas dan memperdalam persepsi dan
wawasannya tentang tokoh, hidup, dan kehidupan manusia. Dari banyak memperoleh
pengalaman sastra, pembaca akan terbentuk keseimbangan wawasannya, terutama dalam
menghadapi kenyataan-kenyataan di luar dirinya yang mungkin sangat berlainan dari
pribadinya. Seorang dokter yang dianggap memiliki status sosial tinggi, tetapi ternyata
mendatangi perempuan simpanannya walaupun dengan alasan-alasan psikologis, seperti
dikisahkan novel Belenggu, adalah contoh dari the probable impossibility. Tetapi justru
dari sinilah pembaca memperluas per-spektifnya tentang kehidupan manusia.
Kesanggupan sastra (fiksi) untuk menembus pikiran dan emosi seperti itu dapat
memberikan impaknya yang luar biasa. Beberapa novel kadang-kadang menyajikan suatu
wawasan atau pemikiran yang subtil, bahkan sampai kepada yang gila (Ingat beberapa
novelet Putu Wijaya).
4.2 Aspek ekstrinsik prosa fiksi.
Faktor sejarah dan lingkungan seringkali dapat dibuktikan ada kaitannya dengan sebuah
cipta sastra (fiksi). Dengan kata lain kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat atau lingkungan
itulah justru memiliki pengaruh yang kuat pada diciptakanya sebuah karya prosa fiksi. Sehingga
kejadian-kejadian yang bersamaan dalam proses pembuatan sebuah karya prosa fiksi seringkali
menjadi ide dan inspirasi dari pengarangnya.
Konsepsi Budaya Dasar Dalam Seni Rupa
1. HAKEKAT SENI RUPA.
Keutuhan manusia sebagai pribadi dapat dimungkinkan melalui pemahaman,
penghayatan dan meresapkan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu karya seni rupa sebagai
salah satu bagian dari kebudayaan. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi
pikiran, perasaan dan kemauan secara naluriah memerlukan pranata budaya untuk menyatakan
rasa seninya, baik secara aktif dalam kegiatan kreatif, maupun secara pasif dalam kegiatan
apresiatif.

Dalam kegiatan apresiatif, yaitu mengadakan pendekatan terhadap seni rupa seolah-olah
kita memasuki suatu alam rasa yang kasat mata. Seni rupa sebagai karya seni yang nampak rupa
seolah-olah hanya dapat dihayati dengan indra mata. Maka itu kadang-kadang seni rupa itu
disamakan dengan seni visual, yakni seni yang aktifitasnya erat sangkut pautnya dengan visi
indrawi (mata) Tetapi sebenarnya seni rupa itu lebih dari yang hanya bersifat lahiriah semata,
yakni lebih dalam lagi dan meliputi pula visi bathiniah.
Seni rupa sebagai karya yang kasat mata, perwujudannya itu adalah merupakan wadah
pembabaran idea yang bersifat bathiniah Dalam mengadakan pendekatan terhadap seni rupa
seluruh pancaindra kita, khususnya penglihatan, perabaan dan perimbangan kita terlibat dengan
asyiknya terhadap bentuk seni rupa itu yang terdiri dari aneka warna, garis, bidang, tekstur dan
sebagainya yang bersifat lahiriah itu untuk seterusnya menguak alam kesadaran jiwa kita untuk
lebih jauh menghayati isi yang terbabar dalam karya seni rupa itu serta idea yang melatar
belakangi kehadirannya.
Maka itu dalam mengadakan pendekatan terhadap karya seni rupa kita tidak cukup hanya
bersimpati terhadap karya seni rupa itu, tetapi lebih dari itu yaitu secara empati (empathy).
Empati berasal dari kata Yunani yang berarti Terasa di dalam, sedangkan simpati yang juga
berasal dari kata Yunani berarti merasa dengan. Jadi dalam menghayati suatu karya seni secara
empati berarti kita menempatkan diri kita ke dalam karya seni itu.
Seorang pribadi yang berempati orang ini mencoba melihat dunia dari makhluk manusia
lain, melalui mata dari orang lain. Empati memerlukan keterlibatan, imajinasi, pengertian,
identifikasi dan interaksi. Dengan faktor-faktor tersebut maka kualitas empati lebih meningkat
Dengan kesediaan kita mempelajari suatu karya seni secara empati, yaitu mencoba
memahami apa yang sebenarnya terbabar dalam karya seni itu, baik terhadap karya seni yang
berasal dari jaman lampau maupun dari masa kini dari daerah yang sama atau berjauhan,berarti
kita telah terbuka untuk memahaminya.
Memang, pada dasarnya manusia bersifat sukar memahami manusia lainnya, termasuk
bersifat sukar menerima karya seni bentuk-bentuk asing. Pemahaman terhadap karya seni
bentuk-bentuk asing seperti karya seni rupa prmitif atau karya seni rupa kuno, bahkan juga
terhadap karya seni rupa modern tidaklah mudah, Satu syarat yang masih dituntut oleh seni
modern yang bahkan merupakan ciri khasnya, ialah kreativitas. Dari sebuah perkataan ini
tercantumlah beberapa sifat yang merupakan gejala-gejalanya. Oleh karena itu untuk
menghindarkan istilah modern yang bermuka banyak itu tadi, ada yang menamai seni modern itu
dengan seni kreatif. Contoh, karya-karya seni rupa modern adalah karya-karya seniman :
a.Paul Cezane,
b.Paul Gauguin,

c.Vincent van Gogh,


d.Pablo Picasso,
e.Naum Gabo,
f.Antoine Pevsner,
g. Ozcenfant,
h.Marinelti,
i.Mari Utrillo,
j.Max Chagal,
k.Henry Moor,
l.Kandinsky dan sebagainya.
Di Indonesia kita mengenal seniman pelukis dan pemahat modern antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Affandi,
Popo Iskandar,
Zaini,
G. Sidharta,
Klul,
Cokot,
Ida Bagus Nyana dan sedcretan scniman muda lainnya

Karya-karya mereka (sebagian) dipajang di becrapa lempat scperti :Balai Scni Rupa Pusat di
Jakarta, Museum Affcndi di Yogyakarta, Museum bali di Dcnpasar, Museum Ralna Warta di
Ubud (Bali), Pusat Kcsenian Bali di Dcnpasar, Museum Sctcja Neka di Ubud (Bali) dan di
bebcrapa tempat kolcktor lainnya.
2. BEBERAPA GAYA, CORAK, ATAU ISME SENI RUPA.
Di muka telah di singgung, bahwa kclahiran karya-karya seni rupa yang berbeda-beda
pada liap-liap jaman dikarcnakan masing-masing jaman itu mcmiliki aliran-aliran pikiran yang
berbeda-beda. Masing-masing jaman mclahirkan karya-karya scni rupa dengan ciri-cirinya
masing-masing. Ada kalanya pada satu jaman lahir aliran-aliran pikiran yang berbeda-beda,
schingga melahirkan pula corak karya seni rupa yang berbeda.

Jadi yang dimaksud dengan gaya dalam seni rupa adalah corak atau isme yang
dikarenakan aliran-aliran pikiran yang mendorong alau mclatar belakangi kelahiran karya scni
rupa itu.
Karena adanya perbedaan-perbedaan konsepsi pikiran dari masing-masing jaman, maka
masing-masing jaman mclahirkan kcsenian yang mem-punyai ciri-ciri yang khusus. Adanya
bermacam gaya, corak atau isme.itu mempunyai pesona-pesona sendiri yang khusus dan khas. Di
samping itu, tiap-tiap aliran corak, gaya atau ismc itu mempunyai tujuan tcrtcntu atau fungsi
sendiri-sendiri. Atau tiap-tiap aliran itu mempunyai cita-cita seni sendiri, sesuai dengan pikiran
jamannya.
Karena cila-cita seni itu berbeda-beda, yang satu ke arah kemanusiaan, yang satunya kc
arah ke Tuhanan dan sebagainya, maka karya-karya seni itu memperlihatkan wujud yang
berbeda-beda. Namun demikian kesenian mempunyai aspek-aspek persamaan.
Kesenian Primitif
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa mutu suatu ciptaan terutama pada sifatnya yang
khas, yang tak ada pada ciptaan lain untuk mencari karya yang khas, unik dan tidak ada duanya
itu, maka orang menoleh ke masa seni primitif.
Kesenian primitif kesederhanaannya menimbulkan kesan yang mengagumkan. Kesenian
primitif tidak di buat atas dasar sadar artistik tctapi dibuat atas dasar sadar magis. Benda yang
dibuat tidak ditujukan sama sekali untuk benda seni yang menarik (artistik), tapi sebagai benda
sakti. Contoh : patung-patung suku Asmat dari Irian sungguh menarik pesona seni orang-orang
modern, meskipun karya-karya itu tidak memiliki keindahan menurut pesona seni klasik.
Kita sering keliru menilai suatu karya seni dan menilai tidak dari karya scni itu sendiri
pada jamannya, melainkan dengan kriteria dari luar jaman karya scni itu. Biasanya kita
menggunakan ukuran masa kini atau masa klasik untuk menilai karya seni primitif. Gaya klasik
semula dimaksudkan ialah kesenian Yunani kuno.
Di Indonesia kesenian dan kesusastraan Hindhu dianggap klasik. Kadang-kadang
kesusastraan melayu juga di scbut klasik. Ciri-ciri seni klasik adalah tenang, harmonis, symetris
atau seimbang. Contoh: wayang kulit, patung dari jaman Hindhu dan sebagainya.
Lawan dari klasik ialah seni romantik, yang dengan sadar mengingkari keseimbangan
klasik, bentuk teratur dan tradisional. Sedangkan romantik menyampingkan realitas dan
mengikuti emosi, terutama cmosi yang dramatis dan tragis yang amat menarik. Para scniman
romantik mengubah ralitas dengan berdasarkan fantasinya dan selanjutnya seolah-olah hidup di
dalam impian.
Dengan demikian wajarlah para seniman romantik mencari obyek yang biasa merangsang
fantasi-fantasinya dan bisa memberi jalan untuk melahirkan rasa romantisnya. Pelukis romantis

Indonesia yang terkenal adalah Basuki Abdullah dengan buah karyanya yang menawan
penggemarnya.
Di Barat romantik berkembang pada bagian akhir abad ke 18 atau pada permulaan abad
ke 19, bersamaan dengan aliran neo-klasik.
Neo-klasik adalah aliran yang berorientasi pada kcbcnaran dan kcindahan Recoco yang
berkembang di Perancis pada pertcngahan abad ke 18 (*).
Apabila gaya rococo mcncerminkan kehalusan dan pcrmainan cinta serta keingingan
menghias tanpa tujuan tertentu, maka gaya neo-klasik ialah suatu jawaban terhadap kerinduan
pada masa silam dari kcscnian negara tua. Ciri-cirinya:
1). mengagung-agungkan bentuk,
2). komposisi seimbang,
3). gerak tidak berlebih-lebihan,
4). warnanya dingin dan
5). obyek tentang sejarah dan mitologi
Contoh karya neo-klasik adalah karya-karya Jacques Louis David yang menunjukkan adanya
kemahiran dalam anatomi dan kctclitian dalam membuat lipatan-lipatan kain serta penyusunan
figur-figur secara scimbang.
Perbedaannya dengan corak Barok nampak jelas. Gaya Barok litik berat di scgala
jurusan, tidak ada kescimbangan synctris. Warna dan sinar kontras dan scrba bcrgcrak. Ukuran
tafril scrba besar. Sedangkan seni klasik, titik bcrat pada tengah-tengah lukisan, scimbang dan
symetris. Karya korcvoor dan Hcsscling adalah salah satu contoh gaya Barok yang
mempcrlihatkan bcrmacam-macam efck yang bcrgerak dengan kontras yang kuat sckali.
Sesudah gaya romantik, berturut-turut limbul realisme, impresionisme dan
ekspresionesme. Realisme dibedakan dengan naturalisme. Realisme tidak seperti halnya
romantik yang hanyut pada emosi individual, melainkan tingkah laku di dunia pada umumnya.
Jadi terletak pada arah kebenaran umum dalam hal ini kehidupan sosial. Di Barat karya Daumier
adalah contoh yang baik unluk gaya realisme. Dan di Indonesia kita dapat menunjuk karya-karya
Henk Ngantung yang menggambarkan kchidupan para petani buruh dan nelayan dari tingkat
kelompok sosial bawah.
Gaya Racoco >

Hanya dipakai dalam interior rumah (pintu, mebel, barang-barang kerajinan dan
sebagainya) yang ditaati oleh pemakai ornamen yang berlebih-lebihan seperti motif sulur-sluran
daun,
Apa yang telah di paparkan di atas sebagai gaya realis yang berbeda dengan gaya
naturalis. Gaya naturalis selalu mewujudkan seperti terlihat dalam alam. Dalam lukisan naturalis
seniman menghubungkan hal-hal kecil scbanyak mungkin, membangun lukisan secara teliti dan
tcrperinci dengan selalu mengulang supaya mirip dengan benda scsungguhnya secara foto grafis
dengan mempcrhatikan bentuk maupun tekstur, refleksi warna dari satu benda terhadap yang lain
dan sebagainya. Contoh karya naturalis yang banyak adalah karya-karya Abdullah Suryo Subroto
yang senang melukis obyek-obyek pemandangan di sekitar gunung Merapi dan alam
pegunungan yang indah.
Apabila aliran naluralis sangal leliti dalam melukis obyeknya, tidak demikian halnya
dengan aliran imprcsionismc. Naturalisme mcnimbulkan kesan efck yang pcrmanen dan abadi,
scdang imprcsionisme mcrupakan hasil dari pcrtumbuhan keadaan scpintas lalu serta pcrcobaan
scketika. Imprcsionismc menunjukkan kesan-kesan scketika atau scsaat dan tidak pcrmanen.
Pclukis imprcsionismc tidak Iagi mcncliti dengan ccrmat bentuk-bentuk obyeknya.
3. ALIRAN SENI LUKIS
a. Surrealisme
Aliran untuk melukiskan suatu aktivitas jiwa manusia yakni aktivitas jiwa yang masih dalani
kcadaan bebas, yang belum terkekang oleh kaidah-kaidah logika, etika, estetika dan scbagainya. Lukisan
dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis
berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari
objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk
aslinya.
Jadi surrealisme ini hendak melukiskan pcngalaman manusia secara scdalam-dalamnya. Aliran
ini lahir sejak terbitnya manifes yang di tulis oleh A. Breton (manifesto du surrcalisme) pada tahun 1942
dan memuneak an-tara tahun 1934 1938. Karya-karya yang tergolong surrealis adalah buah karya :
Savador Dali, M. Chagall dan Paul Klce.

b. Kubisme
Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam
bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran
ini adalah Pablo Picasso . adalah nama bagi suatu aliran dalam scni lukis dan seni pahat modern
yang lahir pada tahun 1908. Aliran ini mula bcrtujuan untuk mempcrsahajakan benda-benda
menjadi bentuk-bentuk geomctris, kemudian lcbih bcrcorak dekoratif dan non obyektif.
Penganjuran pcrtama adalah Pablo Picasso dan Brauquc. Karya Pablo Picasso yang bcrgaya
kubisme yang tcrkcnal adalah lukisannya yang bcrjudul Guernice (1937). Sebenarnya lukisan ini

kombinasi gaya ekspresionisme, surrealisme dan kubisme. Lukisan ini adalah buah dari reaksi
kemarahan Picasso atas pengeboman scmcna:mcna olch angkatan udara Jerman atas Guernice yang
sama sckali tidak dipertahankan secara milker.

c. Romantisme
Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini
berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam
adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan. Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis
pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di
zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh
d. Ekspresionisme

Ekspressionisme adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan


efek-efek emosional . Ekspresionisme bisa ditemukan di dalam karya lukisan , sastra , film ,
arsitetur , dan musik . Istilah emosi ini biasanya lebih menuju kepada jenis emosi kemarahan dan
depresi
daripada
emosi
bahagia.
Pelukis Matthias Grnewald dan El Greco bisa disebut ekspresionis. seniman berusaha
mengungkapkan kesadaran jiwanya yang dalam terhadap obycknya. Jadi corak cksprcsionismc
ilu scsungguhnya mcnggambarkan bagaimana scsungguhnya pcrasaan jiwanya tcrhadap
obycknya, bukan lagi mcngambarkan kesan rasan luar dari sualu obyck. Corak cksprcsionismc
lcbih mcmcntingkan cksprcsi, yaitu pcrnyataan balhin yang sclalu tumbuh karcna dorongan akan
mcnjclmakan pcrasaan atau buah pikiran . Pada corak ekspresionismc itu yang diutamakan
adalah inti-sari atau hakekat, jadi soal di dalam atau ada juga yang mcngatakan soal
kejawaan.
Oleh karena yang diungkapkan soal kejiwaan, scdangkan jiwa itu scsuatu yang abstrak, maka
wujudnya ada kalanya abstrak. Corak eksporcsionismc inilah mcnjadi dasar scni modern dengan
bebcrapa cabangnya sepcrti: kubisme, fauvismc, purismc, futurismc, dadaisme, sur-realisme, naifprimitifismc dan scbagainya.

e. Impresionisme
Impresionisme adalah suatu gerakan seni dari abad 19 yang dimulai dari Paris pada tahun
1860an . Nama ini awalnya dikutip dari lukisan Claude Monet , Impression, Sunrise (Impression, soleil
levant) . Kritikus Louis Leroy menggunakan kata ini sebagai sindiran dalam artikelnya di Le Charivari .
Karakteristik utama lukisan impresionisme adalah kuatnya goresan kuas, warna-warna cerah (bahkan
banyak sekali pelukis impresionis yang mengharamkan warna hitam karena dianggap bukan bagian dari
cahaya), komposisi terbuka, penekanan pada kualitas pencahayaan, subjek-subjek lukisan yang tidak
terlalu menonjol, dan sudut pandang yang tidak biasa. Impresionisme menjadi pelopor berkembangnya
aliran-aliran seni modern lain seperti Post-Impresionisme , Fauvisme , and Kubisme . Ia memiliki ciri
khas:

Goresan kuas pendek dan tebal dengan gaya mirip sketsa, untuk memberikan kemudahan pelukis
menangkap esensi subjek daripada detailnya.
Warna didapat dengan sesedikit mungkin pencampuran pigmen cat yang digunakan. Diharapkan warna
tercampur secara optis oleh retina .
Bayangan dibuat dengan mencampurkan warna komplementer (Hitam tidak digunakan sebagai
bayangan).
Cat tidak ditunggu kering untuk ditimpa dengan warna berikutnya.
Pengolahan sifat transparansi cat dihindari.
Meneliti sedetail mungkin sifat pantulan cahaya dari suatu objek untuk kemudian

diterapkan di dalam

lukisan.
Dikerjakan di luar ruangan

Apabila warna yang diletakkan terpisah (berjajar) satu persatu yang mempertinggi
kecemerlangan warna terhadap yang lain. Hasilnya melahirkan efek-efek yang menggetar pada
mala pengamal. Contoh karya-karya impresionisme adalah karya-karya seniman : Monet, Manet,
Vincent van Gogh dan sebagainya. Di Indonesia karya Gusti Ngurah Gede Pemecutan yang
bergaya pointilismc adalah salah salu contoh gaya impresionismc.
Apabila gaya imprcsionismc hanya menangkap kesan luar dari suatu Obyek yang
dilukiskannya dengan warna cahaya yang mclclch, lain halnya dengan ekspresionisme. Aliran ini
mengulamakan (untuk dilukis) kesan llahi yang bcrsifat bathiniah. Melalui ekspresionisme,
seniman sedang berusaha mengungkapkan pcrasaan yang biasanya ada, ialah sesualu yang
nenyedihkan. Tidak ada suatu kemungkinan unluk melihat lukisan-lukisan macam ini, tanpa
merasakan sesuatu dari konflik bathin yang menggcrakkan Jiwa. Lukisan ekspresionisme
memaksa pengamat berfikir tentang bentuk fieri a dislori warna yang dipcrgunakan sebagai
bahasa oleh pelukisnya. Contoh karya Vincent van Gogh dan El Greco. Di Indonesia karya-karya
Affandi adalah contoh yang baik bagi gaya cksprcsionismc.
f. Post-Impresionisme
Post-Impresionisme adalah suatu masa yang masih dipengaruhi sisa-sisa impresionisme. Pada
awal 1880 pelukis mulai mengeksplorasi sisi lain dari penggunaan warna, pola, bentuk, dan garis yang
sedikit berlawanan dari pencapaian impresionisme. Pelukis pada era ini contohnya adalah Vincent Van
Gogh , Paul Gauguin , Georges Seurat dan Henri de Toulouse-Lautrec . Camille Pissarro , yang
sebelumnya adalah seniman impresionis kemudian mengembangkan gaya pointilisme . Monet
meninggalkan kewajiban melukis di luar ruangan. Paul Czanne , meskipun telah tiga kali terlibat dalam
pameran impresionis, kemudian mengembangkan gayanya tersendiri. Karya seluruh seniman ini
meskipun tidak lagi menganut aliran impresionisme namun masih mengandung unsur-unsur dasarnya.
g. Fauvisme
Fauvisme adalah suatu aliran dalam seni lukis yang berumur cukup pendek menjelang
dimulainya era seni rupa modern. Nama fauvisme berasal dari kata sindiran fauve (binatang liar) oleh
Louis Vauxcelles saat mengomentari pameran Salon dAutomne dalam artikelnya untuk suplemen Gil
Blas edisi 17 Oktober 1905, halaman 2. Kepopuleran aliran ini dimulai dari Le Havre , Paris , hingga
Bordeaux . Kematangan konsepnya dicapai pada tahun 1906.

Fauvisme adalah aliran yang menghargai ekspresi dalam menangkap suasana yang hendak
dilukis. Tidak seperti karya impresionisme , pelukis fauvis berpendapat bahwa harmoni warna yang tidak
terpaut dengan kenyataan di alam justru akan lebih memperlihatkan hubungan pribadi seniman dengan
alam tersebut. Konsep dasar fauvisme bisa terlacak pertama kali pada 1888 dari komentar Paul Gauguin
kepada Paul Srusier :
Bagaimana kau menginterpretasikan pepohonan itu? Kuning, karena itu tambahkan kuning .
Lalu bayangannya terlihat agak biru, karena itu tambahkan ultramarine . Daun yang kemerahan?
Tambahkan saja vermillion .
Segala hal yang berhubungan dengan pengamatan secara objektif dan realistis, seperti yang
terjadi dalam lukisan naturalis , digantikan oleh pemahaman secara emosional dan imajinatif. Sebagai
hasilnya warna dan konsep ruang akan terasa bernuansa puitis. Warna-warna yang dipakai jelas tidak
lagi disesuaikan dengan warna di lapangan, tetapi mengikuti keinginan pribadi pelukis.
Penggunaan garis dalam fauvisme disederhanakan sehingga pemirsa lukisan bisa mendeteksi
keberadaan garis yang jelas dan kuat. Akibatnya bentuk benda mudah dikenali tanpa harus
mempertimbangkan banyak detail .

adalah aliran dalam scni lukis yang bcrckspcrimcn dengan bcntuk. Karena kebebasannya
mcnggambarkan bentuk, maka oleh pelukis tradisional disebut pelukis liar bahasa Pecrancis
(fauvc = binatang liar), nama yang dikarang olch L. Fauxclles (1903). CIri-cirinya: warnanya
kuat, sapuan-sapuannya lebar bcrjejer berdampingan dan pinggiran warna-war-nanya
dilunakkan. Lahir dan berkembang pada tahun 1904 1909. Tokoh-tokohnya : Matisse, Drain
dan Vlaminch.
h. Realisme
Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil
dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula
mengacu kepada usaha dalam seni rupa unruk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa
menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.
Pembahasan realisme dalam seni rupa bisa pula mengacu kepada gerakan kebudayaan yang bermula di
Perancis pada pertengahan abad 19 . Namun karya dengan ide realisme sebenarnya sudah ada pada
2400 SM yang ditemukan di kota Lothal , yang sekarang lebih dikenal dengan nama India .
Dalam pengertian lebih luas, usaha realisme akan selalu terjadi setiap kali perupa berusaha mengamati
dan meniru bentuk-bentuk di alam secara akurat. Sebagai contoh, pelukis foto di zaman renaisans ,
Giotto bisa dikategorikan sebagai perupa dengan karya realis, karena karyanya telah dengan lebih baik
meniru penampilan fisik dan volume benda lebih baik daripada yang telah diusahakan sejak zaman
Gothic .

Kejujuran dalam menampilkan setiap detail objek terlihat pula dari karya-karya Rembrandt yang dikenal
sebagai salah satu perupa realis terbaik. Kemudian pada abad 19, sebuah kelompok di Perancis yang
dikenal dengan nama Barbizon School memusatkan pengamatan lebih dekat kepada alam, yag
kemudian membuka jalan bagi berkembangnya impresionisme . Di Inggris, kelompok Pre-Raphaelite
Brotherhood menolak idealisme pengikut Raphael yang kemudian membawa kepada pendekatan yang
lebih intens terhadap realisme.
i. Naturalisme
Naturalisme di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan
seting alam. Hal ini merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan realisme pada abad19 sebagai
reaksi atas kemapanan romantisme . Salah satu perupa naturalisme di Amerika adalah William Bliss
Baker , yang lukisan pemandangannya dianggap lukisan realis terbaik dari gerakan ini. Salahs atu bagian
penting dari gerakan naturalis adalah pandangan Darwinisme mengenai hidup dan kerusakan yang telah
ditimbulkan manusia terhadap alam.

j. Purisme,
Adalah aliran dalam seni lukis yang amat menyederhanakan elcmen-clemcn kontruksi
dan sangat membatasi pemakaian warna. Bahkan dikatakan, purisme adalah pcngolahan lcbih
lanjut tcrhdap kubisme. Tokoh-nya adalah Ozenfant.
k. Futurismc,
Suatu gcrakan sastra yang bcrcorak politik. Lahir olch scorang Italia F.T. Marinelti
dengan suatu manifes yang menganjurkan sifat sportif dan pro tcrhadap scgala apa yang dapat
memajukan tchnik dan keccpatan. Sebaliknya ia mencntang kepada apa yang masih berhubungan
dengan waktu lalu. Anti terhadap sctiap sikap yang bcrdasarkan filsafat atau sikap hidup yang
didapatkan secara intclcktualistis. Kchidupan seni rupa waktu itu sangat dipengaruhi, scbagai
rcaksi tcrhadap akademismc yang mundur waktu itu di Italia.
Lukisan-lukisan futurisme mcngulamakan gerak sehingga lahir macam-macam gcrak dari
suatu benda. Semuanya dilihat dari pangkal tolak motoris (gerak). Pelukis futuristik melukiskan
benda-benda tidak lagi dari suatu tempat tcrtcntu, tetapi mcngumpulkan pecnangkapan kesan
menjadi satu gambaran atau kombinasi, fragmen dari pengamatan yang menggugah. Selanjutnya
mereka melahirkan gerak dan kekuatan dan juga buah dan suara dari pada warna dan garis.
Mereka mclemparkan jauh-jauh prinsip pcrspektif.
l. Dadaisme,
Adalah suatu gerakan yang radikal sekali dikalangan pelukis dan pujangga-pujangga,
yang menentang segala macam kesenian yang telah diakui dan anli terhadap nilai-nilai
tradisional.
Pcrkataan dada berasal dari bahasa Perancis, yaitu pcrkataan yang di ucapkan anak kecil baru
belajar bcrkata-kata. Perkataan dada juga bcrarti hobby suatu pekerjaan yang digemari. Gaya
dadaisme muncul sewaktu Perang Dunia I di Swiss dan mengalami kemajuan dengan pesat

sesudah tahun 1908, tcrutama di Pcrancis dan Jerman. Tokohnya di bidang seni lukis adalah
Hans Arp.
m. Naif- Primitifismc
> aliran dalam seni lukis yang sederhana kekanak- kanakan. (Naif artinya = kekanakkanakan; primitif artinya = sederhana). Aliran ini diikuti oleh pelukis Henri Rousseau (1844
1910), Moris Utrillo dan Marval.
Corak dan gaya seni modern ekspresionis tidak terbatas oleh obyek-obyek tertentu. la
dilanjutkan oleh sikap bathin si penciptanya. la melampaui batas ruang dan waktu.Akibat
daripada luasnya daerah seni modern itu, maka variasi yang terdapat di dalamnyapun tidak
terhingga pula jumlahnya sehingga tidak mungkin untuk memasukkannya ke dalam sesuatu
devinisi yang normal. Seni modern berkisar dari yang paling realislis sampai kepada yang paling
abstrak.
MANUSIA DAN CINTA KASIH
Cinta kasih, kasih sayang, kemesraan, pemujaan, dan belas kasihan merupakan bagian
hidup diri manusia. Bentuk-bentuk kehidupan yang dipenuhi rasa cinta kasih dan kasih sayang
dapat membangkitkan kreativitas manusia. Untuk mengungkapkan rasa kasih sayang dan cinta
kasih dapat melalui beberapa media. Melalui media bahasa, lahirlah seni sastra; dengan media
garis, warna, dan bentiik, lahirlah seni rupa; dengan media nada, irama, dan suara, lahirlah seni
musik, dan lain-lain.
Pengkajian makna seni budaya sebagai manifestasi cinta kasih, kasih sayang, dan belas
kasihan terutama yang berkaitan dengan norma, moral dan nilai dimaksudkan untuk
mengembangkan kepnibadian dan wawasan pemikiran. Hal mi. berarti akan memperluas daya
tanggap, persepsi, dan penalaran mengenai fakta seni budaya yang dihadapi keseharian.
Menurut Purwodarminto, cinta kasih adalah perasaan sayang, perasaan cinta, dan
perasaan suka pada seseorang. Secara sederhana cinta dapat dikatakan sebagai paduan rasa
simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang di antara pria dan wanita,
akan tetapi dapat pula di antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita.Dalam kehidupan
keluarga, kasih sayang atau cinta kasih merupakan kunci kebahagiaan. Dalam kasih sayang,
sadar atau tidak sadar dan masing-masing pihak dituntut rasa tanggung jawab, pcngorbanan,
kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan
kesatuan yang utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang itu hilang, sebagai misal tanggung jawab,
maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran juga dapat
mengancam kebahagiaan rumah tangga yang telah terbina.
Cinta kasih memang sangat terkait dengan kehidupan manusia. Hampir semua manusia
mengatakan bahwa cinta adalah sesuatu yang penting dalam hidup. Namun dalam kehidupan
sehari-hari kebanyakan orang tidak pernah berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu. Padahal
menurut Erich Fromm, cinta dapat diibaratkan sebagai suatu seni sebagaimana bentuk seni
lainnya, sangat memerlukan pengetahuan dan latihan untuk dapat menggapainya.

Agar dapat memahami cinta kasih secara mendalam, berikut akan diuraikan tentang cinta
dalam kehidupan sehari-hari yang selalu menjadi masalah hangat untuk diperbincangkan. Dalam
membina gerakan cinta, yang pertama perlu cepat disadari bahwa yang disebut cinta sama sekali
bukan nafsu. Sulit dihindari bahwa atas dasar cinta murni yang dirasakan seseorang terhadap
orang lain yang berlawanan jenisnya, akhirnya akan bermuara pada perkawinan, yang akan
berlanjut pula pada hubungan seksual. Oleh karena itu, rasanya sulit diterima bahwa seseorang
menyatakan cinta sejati. Perbedaan cinta dengan nafsu dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.cinta bersifat manusiawi. Pada manusia cinta dapat tumbuh dan berkembang, sedangkan pada
binatang hanya terbatas pada nalurinya untuk melindungi.
b.cinta bensifat rohaniah, sedangkan nafsu sifatnya jasmaniah. Luapan cinta seseora memberikan
semangat dalam hidupnya dan bagi yang menerimanya dirasakan sebagai kebahagiaan.
Sementara nafsu yang jasmamah cenderung untuk memuaskan dorongan seksual.
c.cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut. Pemberian cinta
dilakukan secara halus karena rohaniab sifatnya, sedangkan dorongan nafsu mudah dilakukan
sebagai paksaan.
Menurut Erich Fromm (1983), cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi
merupakan ungkapan paling tinggi dan kemampuan. Hal yang paling penting dalani memberi
adalah yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyatakan unsur unsur dasar
tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan. Dalam pengasuhan,
contoh yang paling sederhana adalah cinta kasih seorang ibu dalarn mengasuh anaknya dengan
sepenuh hati. Tanggung jawab adalah suatu tindakan yang benar benar berdasarkan atas suka
rela, seperti hubungan antara ayah dengan keluarganya. Tanggung jawab biasanya wujud
penyelenggaraan atas kebutuhan fisik. Perhatian merupakan suatu perbuatan yang bertujuan
untuk mengembangkait prihadi orang lain, terutama agar mau membuka dirinya, memperhatikan
sebagaimana seharusnya.
Dalam cinta yang sejati selalu ada kesungguhan untuk mem bangun hubungan cinta yang
ideal dalam mewujudkan kehidupan yang terbaik. Cinta itu bersifat timbal balik. Cinta itu
sebenarnya praktis, cinta memperbolelikan satu sama lain memperoleh kemajuan dan kesalahankesalahannya. Sebagai ekspresi cinta antara seorang pria dan wanita, tindakan seksual
memperbarui dan menguatkan, membangkitkan kembali kesadaran insting mereka berdua,
misalnya untuk bercinta, untuk bertahan hidup dalam penderitaan dan kemalangan, dan untuk
menikmati kehidupan mereka bersama.
Menurut Sarlito W Sarwono (dalam Supartono,1996) bahwa cinta ideal memiliki tiga
unsur, yaitu keterikatan, keintiman, dan ikatan adalah adanya perasaan untuk bersama dia, secara
totalitas untuk dia, tidak mau bersama orang lain kecuali dengan dia. Keintiman, yaitu adanya
kebiasaan-kebiasaan dari lingkungan yang menunjukkan bahwa antara anda dan dia sudah stidah
nyaris tak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti Ibu, Saudara telah digantikan

dengan memanggil sebutan, seperti sayang. Makan dan minum dalam satu piring atau cangkir
tanpa rasa risi, saling memakai uang tanpa rasa berutang, tidak saling menyimpan rahasia, dan
sebagainya. Kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa rindu jika lama tak
ketemu, ungkapan-ungkapan yang mengungkapkan rasa sayang, saling mencium, merangkul,
dan sebagainya.
Berbagai Bentuk Cinta
Dalam buku Seni Mencintai, Erich Fromm (1983) mengartikan cinta sebagai sikap,
suatu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, bukan
menuju satu objek cinta. Ta mengemukakan tentang macam-macam cinta, yaitu cinta
persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotis, cinta diri sendiri, dan cinta pada Allah SWT. Bersumber
dari cinta-cinta tersebut, manusia memberikan kasih sayangnya kepada yang lain, terutama
kepada sesama manusia dalam mewujudkan hubungan pnibadinya.
1. Cinta Persaudaraan
Cinta persaudaraan (agape dalam bahasa Yunani) diwujudkan manusia dalam tingkah
laku atau perbuatannya. Cinta per saudaraan tidak mengenal adanya batas-batas manusia yang
berdasarkan suku bangsa, bangsa, ataupun agama. Dalam cinta mi semua manusia sama, yaitu
sebagai makhluk ciptaan Allah.
Cinta persaudaraan pada umumnya melekat dengan sikap tanpa pamrih. Secara filosofis
dibuatkan dengan jargon cintailah sesamamu sepertiengkau mencintaidirimu sendiri.
2. Cinta Keibuan
Kasih sayang yang bersumber pada cinta keibuan yang paling ash adalah yang terdapat
pada seorang ibu terhadap anak kandungnya. Seorang ibu yang memperoleh benih anak dan
suaminya tercinta akan memeliharanya secara hati-hati dan penuh kasih sayang. Setelah anak
lahir melalui penderitaan yang hebat dan ibu, dirawat dan diasuhlah anak dengan penuh kasih
sayang. Dalam proses pengasuhan itu terdapat serangkaian tugas yang harus dilakukan ibu, yaitu
menyusui, merawat, menemani, memandikan, membelai, dan sebagainya. Bagi seorang ibu tidak
ada harta yang paling berharga kecuali kehadiran anak, yang dianggap sebagai buah hati.
3. Cinta Erotis
Kasih sayang yang bersumber dan cinta erotis (sifat membirahikan), memang merupakan
suatu yang sifatnya eksklusif sehingga sering memperdayakan cinta yang sebenarnya. Hal mi
terjadi karena antara cinta dan nafsu dipersepsikan secara sama. Padahal jika dicermati secara
seksama, keduanya memihiki pengertian yang berbeda bahkan bertolak belakang. Kasih sayang
dalam cinta erotis merupakan kontak seksual yang ash dan yang ideal bersumber dan cinta.
Kasih sayang erotis dapat menjadi perekat hubungan suami istri dalam membina hidup
berkeluarga.
4. Cinta Diri Sendiri

Pada din individu, di samping harus mencintai sesama juga ada keharusan mencintai din
sendiri (self love). Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada din sendiri identik dengan &
Jika hal mi yang terjadi maka cinta pada din sendiri int nilai negatif. Namun esensi mencintai din
sendiri Incrigurus din sendiri sehingga kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar.
Setiap individu wajib niencintai dininya sendiri.
5. Cinta pada Allah
Cinta pada Allah merupakan perwujudan pengabdian manusia ketika hidup di dunia.
Orang yang cinta pada Allah umumnya disebut religius atau taat beragama.
Hakikat Cinta
Eksistensi manusia adalah koeksistensi. Tidak ada manusja yang bisa hidup sendirian
tanpa adanya orang lain, dan kekuatan yang menyatukan manusia dengan manusia lain ialah
cinta. Relasi antara manusia tidak akan berarti tanpa didasarkan atas cinta.
Cinta membuat aku dan kamu menjadi kita. Dan kita adalah communion
(kebersamaaan). Untuk mencapai kebersamaan yang ideal diperlukan keterbukaan dan kesediaan
tiap manusia untuk membangun relasi antar pribadi yang bersifat kreatif,
maka jelaslah bahwa cinta merupakan kebutuhan dasar bagi perkembangan hidup
manusia.
Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi, maka orang akan mengalami gangguan serius.
Manusia membutuhkan cinta seperti halnya makanan, karena itu cinta harus diupayakan terus
agar tidak punah. Caranya orang harus saling memberikan cinta.
Keadilan dan Cinta > Betas kasih di atas keadilan, pernyataan tersebut dikatakan apabila
yang memberi betas kasih itu juga yang memiliki hak, Misalnya seseorang tertangkap sedang
melakukan kejahatan, kemudian ia meminta maaf kepada orang banyak supaya diberi belas
kasih, tidak dibawa ke kantor polisi. Hukuman kepada pencuri itu adalah hak warga masyarakat.
Cinta Sejati > Ada pandangan yang menyebutkan bahwa cinta sejati dapat diwujudkan oleh
manusia. Alasannya ada 2, yaitu:
1.Cinta sejati bukan objek statis, tetapi situasi yang terus berkembang ke kehidupan yang lebih
bahagia. Ini tidak mungkin diupayakan dengan sekali langkah, melainkan melalui proses
jatuh bangun berkali-kali.
2.Karena manusia memiliki dimensi rohani yang bersifat tak terbatas. Dengan terbuka terhadap
daya rohani itulah dapat diwujudkan suasana damai dan bahagia. Contoh cinta sejati adalah
cinta ibu kepada anaknya.
MANUSIA DAN KEINDAHAN
Manusia adalah sesuatu yang indah, karena mereka menyukai terhadap keindahan alam
maupun terhadap keindahan seni. Keindahan alam adalah keharmonisan yang menakjubkan dan

hukum-hukum alam, yang dibukakan untuk mereka yang mempunyai kemampuan untuk
menerimanya. Sedangkan keindahan seni adalah keindahan buatan atau hasil ciptaan manusia,
yaitu buatan seseorang (seniman) yang mempunyai bakat untuk menciptakan sesuatu yang indah,
scbuah karya seni. Rata-rata manusia terhadap yang indah tentu mengambil sikap terpesona.
Bahwasannya tidak scmua orang memuliki kepekaan keindahan itu memang benar, tetapi pada
umumnya manusia mempunyai perasaan keindahan.
Keindahan yang diperbincangkan dalam tulisan ini adalah keindahan seth, sehingga tidak
terlepas dan pembicaraan tentang seni atau karya seni (keindahan seni, seni sebagai intuisi dan
cita-cita seni). Keindahan tentang seni telah lama menarik perhatian para ahli atau filosof, sejak
jaman Plato sampai jaman modern sekarang ini. Teori tentang keindahan seni (artistik) muncul,
karena mereka berpendapat bahwa seni adalah pengetahuan per septip pcrasaan yang khusus.
lstilah estetika, yang dikemukakan untuk pertama kali olehBaumgarten, dipergunakan untuk
membicarakan teori tentang keindahan seni (artistik). Kemudian pengertian estetika berkenibang,
akhir-akhir ini diberi arti sebagai ilmu pengetahuan tentang seni.
Maka itu urutan uraian tentang keindahan dalam tulisan ini disusun sebagai berikut
I) Pengertian keindahan,
2) Teori tentang keindahan dan seni (estetika),
3) Pcrasaan keindahan (sensibilitas estctik), dan
4) Keindahan seni yang meliputi seni sehagai intuisi dan cita-cita seni.
1. PENGERTIAN KEINDAHAN
Ada banyak batasan yang diberikan pada kita, yang sanipai sekarang belum ada kata
sepakat tentang definisi keindahan yang obyektif. Mengenai batasan keindahan pada umumnya
dapat digolongkan pada 2 kelompok, yaitu:
(a). Definisi-definisi yang bertumpu pada obyek (keindahan yang obyektif )
(b). Definisi-definisi yang bertumpu pada subyck (keindahan yang subycktif).
Atas dasar kcdua pokok penilaian itu, keindahan dapat ditinjau dan makna yang obycktif
dan juga dan segi yang subyektif.
Yang disebut keindahan obyektif ialah keindahan yang memang ada pada obyeknya, yang
diharuskan menerima sebagaimana mestinya. Sedangkan yang disebut keindahan subyektif,
adalah keindahan yang biasanya ditinjau dan segi subyck yang diharuskan mcnghayatinya.
Dalam ha! mi keindahan adalah segala sesuatu yang dapat mcnimbulkan rasa senang pada din si
penghayat tanpa diiringi keinginan-keinginan terhadap segala sesuatu yang praktis untuk
kebutuhan-kebutuhan pribadi.

Menurut Hebert Read : Jadi keindahan itu adalah sesuatu kesatuan hubungan-hubungan
yang formal daripada pcngamatan yang dapat menimbulkan rasa senang (Beauty is unity of
format relation among our sence perceptions). Atau keindahan itu merangsang timbulnya rasa
senang tanpa pamrih pada subyck yang melihatnya, dan bertumpu kepada ciri-ciri yang terdapat
pada obyek yang sesuai dengan rasa senang itu.
Batasan keindahan yang dikemukakan oleh Hebert Read tersebut di atas, dikatakan yang
paling mendekati kebenaran. Tetapi apabila kita telah lebih dalam, batasan Hebert Read itu
terlalu ditentukan oleh subyck dan dianggap sebagai perpaduan unsur-unsur pengamatan. Jadi
batasan Hebert Read itu sifatnya terlalu sensual (jasmaniah), kurang ditinjau dan segi obyek yang
diamati yang memiliki keindahan itu. Keindahan itu tidak hanya merupakan pcrpaduan dan peng
amatan panca indera semata-mata, tetapi lebih daripada visual melulu, lebih dalam lagi, juga
merupakan pcrpaduan pengamatan batiniah. Pengertian keindahan tidak hanya terbatas pada
kenikmatan penglihatan saja, tetapi juga termasuk kenikmatan spiritual.
Berdasarkan pandangan tersebut di atas, maka kita dapatkan batasan keindahan yang
bermacam-macam, sebanyak para ahli yang memberi batasan itu. Di bawah ini dikemukakan
beberapa diantaranya adalah:
1. Menurut Leo Tolstoy (Rusia) > Dalam bahasa Rusia tcrdapat istilah yang serupa dengan
keindahan yaitu krasota, artinya that wich pleases the sigh atau suatu yang mendatangkan
rasa yang menyenangkan bagi yang melihat dengan mata. Bangsa Rusia tidak punya
pengertian keindahan untuk musik. Bagi bangsa Rusia yang indah hanya yang dapat dilihat
mata (Leo Tolstoy). Jadi menurut Leo Tolstoy, keindahan itu adalah sesuatu yang
mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat.
2.Menurut Alexander Baurngarten (Jerman).> Keindahan itu dipandang scbagai kcseluruhan
yang mcrupakan susunan yang teratur daripada bagian-bagian, yang bagian-bagian itu crat
hubungannya satu dengan yang lain, juga dengan keselunuhan. (Beauty is on of parts in their
manual relations and in their relations to the whole).
3.Menurut Sulzer.> Yang indah iu hanyalah yang baik. Jika bcluni haik, ciptaan itu bclum
indah. Keindahan hartis dapat memupuk pcrasaan moral. Jadi ciptaan amoral adalah tidak
indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral.
4.Menurut Winchelman.> Keindahan itu dapat terlepas sama sekali daripada kebaikan.
5.Menurut Shaftesbury (Jerman).> Yang indah itu adalah yang memiliki proporsi yang
harmonis. Karena yang proporsinya harmonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan
de-ngan kebaikan. Yang indah adalah yang nyata dan yang nyata adalah yang baik.
6.Menurut Humo (Inggris).> Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa senang.
7.Menurut Hemsterhuis (Belanda) >Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa
senang dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak mcmberikan
pengamatan-pengamatan yang mcnycnangkan itu.
8.Menurut Emmanuel Kant.> Meninjau keindahan dan 2 segi. Pertama dan segi arti yang sub
ycktif dan kedua dan segi arti yang obyektif.
(a). Yang subyektif.

Keindahan adalah sesuatu yang tanpa dircnungkan dan tanpa sangkut paut dengan
kegunaan praktis, tetapi mendatangkan rasa senang pada si penghayat.
(b). Yang obyektif.
Keserasian dan suatu obyek terhadap tujuan yang dikandungnya, scjauh obyek ini tidak
ditinjau dan segi gunanya.
9.Menurut at Ghazzali.> Keindahan sesuatu benda terletak di dalam perwujudan dan
kcscmpurnaan, yang dapat dikenali kembali dan sesuai dengan sifat bcnda itu. Bagi setiap
benda tcntu ada pcrfcksi yang karakteristik, yang berlawanan dengan itu dapat dalam
keadaan-keadaan tertenlu mcnggan tikan perfeksi karakteristik dari benda lain. Apabila
semua sifat-sifat yang mungkin terdapat di dalam sebuah benda itu merupakan representasi
keindahan yang bernilai paling tinggi; apabila hanya sebagian yang ada, maka benda itu
mempunyai nilai keindahan sebanding dengan nilai-nilai keindahan yang terdapat di
dalamnya.
Misalnya sebuah karangan (tulisan) yang paling indah ialah yang mempunyai semua
sifat- sifat perfeksi yang khas bagi karangan (tulisan), seperti keharmonisan huruf-huruf,
hubung an arti yang tcpat satu sama lainnya, pelanjutan dan spasi yang tepat dan susunan
yang mcnyenangkan.
Di samping lima rasa (alat) untuk mengemukakan keindahan di alas, al Ghazzali juga
menambahkan rasa keenam, yang disebutnya dengan (ruh, yang disebut juga sebagai
spirit, jantung pemikiran, cahaya), yang dapat merasakan keindahan dalam dunia
yang lebih dalam (inner world) yaitu nilai-nilai spiritual, moral dan agama.
Dari batasan tersebut di atas, keindahan sebagai pengertian mem punyai arti yang
relatif berdasarkan subyeknya. Oleh karena keindahan itu relatif, maka sebaiknya meninjau
seni (anpa sangkutnya dengan keindahan.
2. ESTETIKA (TEORI TENTANG KEINDAHAN DAN SENI)
Manusia memiliki sensibilitas esthetis, karena itu manusia tak dapat dilepaskan dan
keindahan. Manusia membutuhkan keindahan dalam kcsempurnaan (keutuhan) pribadinya.
Tanpa estetika mi, kemanusiaan tidak lagi mempunyai perasaan dan semua kehidupan akan
menjadi steril. Dcmikian cratnya kehidupan manusia dengan keindahan, maka banyak para
ahli/ccndckiawan mengadakan studi khusus tentang keindahan.
Teori tentang keindahan dan seni dikembangkan dan pengertian estetika. Aslinya
estetika berarti tentang ilmu penginderaan yang sesuai dengan pengertian etiinologisnya.
Tetapi kemudian diberi pengertian yang dapat ditenima lebih luas ialah teori tentang keindahan
dan seni.

Filosof yang pertama memperlakukan estetika sebagai suatu bidang studi khusus ialah
Baumgarten (1735). Baumgarten mengkhususkan penggunaan istilah estetika untuk teori
tentang keindahan artistik, karena ia berpendapat seni sebagai pengetahuan perseptif perasaan
yang khusus. Tetapi filosof lain yaitu Kant tidak sependapat, sehingga ia tidak pernah
menggunakan istilah estetika dalam memperbincangkan teori tentang kein dahan dan seni.
Aristoteles menggunakan istilali puitik dan untuk teori keindahan artistik, yang oleh
Baumgarten dijadikan bagian khusus dan estetika.Dahulu estetika dianggap sebagai suatu cabang
filsafat, sehingga memiliki atau diberi pengertian sebagai sinonim dan filsafat seni. Tetapi sejak
akhir abad 19, lebih-lebih akhir- akhir ini ada suatu gejala yang menekankan sifat-sifat imperis,
oleh karena itu menganggap sebagai ilmu pengetahuan tentang seni.
Dalam sejarah peradaban manusia, perhatian pada estetika demikian menonjOl dan
berpengarUh langsung atau tidak langsung memprakarsai aspek-aspek kehidupan intelcktual dan
spiritual dalam masyarakat. Bangsa Yunani kuno telah menyadari betapa pentingnya anti
keindahan dan seni dalam konsep hidup manusia. Dan bangsa Timur (termasuk Indonesia)
bahkan lebih tinggi mcnempatkan penhingnya keindahan dan seni dalam konsep hidupnya. hasilhasil karya seniman timur, merupakan penampilan ekspresi tertinggi tentang kebutuhan spiritual
ini. Bangsa bangsa Timur seperti halnya Plato melihat adanya hubungan harmonis an tara seni
dan keindahan. Bangsa Indonesia telah mempcnlihatkan hal mi sejak sebelum kedatangan orangorang Hindhu di Indonesia. Menurut Prof. H. Muhammad Yamin yang dikemukakan dalam
bukunya 6000 tahun Sang Merah Putih, yang dikutip dan pendapat Kern, bahwa bangsa
Indonesia sebelum datangnya orang-orang Hindhu di Indonesia telah memiliki tujuah kepadaian
Austronesia, yaitu:

2.
3.
4.
5.
6.
7.

1. Pandai bersawah berladang.


Pandai beternak dan menyalurkan air.
Pandai bcnlayar dan melihat bintang.
Berkepercayaan sakti yang teratur.
Berkesenian rupa, pahat dan logam.
Bersatuan masyarakat dan tata negara.
Berpenghormatan sang Merah Putih.

Berdasarkan kepandaian yang tujuh tersebut di atas, dalam jaman prascjarah itu sungguhlah
jikalau kita pikirkan meriahnya hidup kepercayaan yang melahirkan kesenian di lapangan
kewarnaan, kepahatan, kelogaman dan keukiran serta pengertian tentang ilmu hitung.
Dan kctcrangan tersebut di atas, bangsa Indonesia tclah terbukti bahwa sejak masa prasejarah
telah mcncmpatkan pentingnya arti keindahan seni dalam konsep hidupnya. Beberapa bukti yang
telah sampai ke jaman kita sekarang mi mcnunjukkan hal itu. Waruga, yaitu kubunan batu yang
terdapat di Gunung Kidul di sebelah selatan Yogyakanta, Pascmah dan Jawa Timur, yang usianya
barangkali lcbih tua daripada jaman perunggu In donesia, di antara Waruga itu ada yang
menyimpan lukisan berwarna-warna. Satu daripadanya melukiskan bendera mcrah putih yang

berkibar di bclakan.g scorang perwira menunggang kcrbau, sepcnti yang berasal dan kaki
gunung Dompu.
Demikian dan itulah beberapa bukit bahwa bangsa Indonesia telah menyadari scjak jaman
dahulu kala, bctapa pcntingnya arti keindahan dan seni dalam konsep hidupnya.
3. PERASAAN KEINDAHAN (SENSIBILITAS ESTETIS)
Manusia dikatakan adalah makhluk bcnpikir atau homosapiens. Tetapi manusia itu bukan
semata-mata makhluk yang berpikir, sekedar homo sapiens yang steril. Manusia disamping
makhluk berpikin, juga merasa dan mengindera. Melalui panca indera manusia dapat merasakan
sesuatu. Apabila manusia merasakan akan sesuatu itu menyenangkan atau menggembirakan dan
sebagainya, timbul perasaan puas. Demikian juga terjadi, kepuasan timbul setelah seseorang
melihat atau merasakan sesuatu yang indah. Rasa kepuasan itu lahir setelah perasaan keindahan
yang ada pada setiap orang itu bangkit. Tiap-tiap orang memiliki pcrasaan keindahan.
KONTEMPLASI
Kontemplasi adalah suatu proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan
mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan alau fiat suatu hasil penciptaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang mungkin bcrkontcmplasi dcngan dirinya sendiri atau
mungkin juga dcngan benda-benda ciptaan Tuhan atau dengan peristiwa kehidupan tertentu
berkenaan dengan dirinya atau di luar dirinya. Di kalangan umum kontemplasi diartikan sebagai
aktivitas melihat dengan mata dan atau dengan pikiran untuk mencari scsuatu di balik yang
tampak atau tersurat. Misalnya dalam ekspresi kita saat sedang berkontemplasi dengan
bayang.bayang atau dirinya di muka cermin.
Pengertian konlemplasi tersebut sebenarnya bersumber pada berbagai kenyataan dalam
kehidupan sehari-hari, yang tampaknya bertentangan dcngan adat kebiasaan dan kcbudayaan
bangsa dalam hakikatnya yang selalu menghendaki perubahan. Itulah sebabnya manusia itu
menurut pembawaannya selalu berkepentingan concerned, dengan kontemplasi ; sebagaimana
menurut pembawaannya juga, manusja berkepentingan dengan segala macam kegiatan dalam
hidupnya. Hal-hal demikian juga berkaitan dengan tuntutan individu dan masyarakat yang
dinamis serta meningkat dalam latar setting peradaban, civilazazion ilmu pengetahuan dan
teknologi maju dunia.
MANUSIA DAN KEADILAN
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya memiliki 3 jenis gejala,
yaitu:
1. Akal menyatu menjadi manunggalnya jiwa menghasilkan pikiran (derajat tinggi)
2. Rasa
3. Kehendak

Pengertian Adil atau Keadilan adalah :


Keadilan ialah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban.
Keadilan pada pokoknya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut
hak dan menjalankan kewa jibannya
Keadilan bisa berjalan dengan baik jika dilandasi oleh cinta kasth, karena tanpa cinta kasih
keadilan hanya dilaksanakan atas dasar hak dan hukum saja, sehingga berlaku kejam dan
mungkin bisa teqadi kecurangan atau penipuan.
Pendapat para Tokoh dan Filosof tentang arti keadilan:
1.Khong Hu Tsu (filosof China) berpendapat: Bila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah,
bila raja sehagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya, maka itulah
keadilari. Artinya menyadari akan peran masing-masing dan suatu fungsi merupakan suatu
keharusan bagi tercapainya suatu keadilan.
2.Aristoteles berpendapat: keadilan adalah suatu kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan
di sini diartikan sebagai titik tengah di antara kedua ujung yang terialu ke kanan atau terlalu
ke kin dan suatu masalah.
3.Plato berpendapat: keadilan itu merupakan kewajiban tertinggi dalam kehidupan negara yang
baik, sedangkan orang yang adil adalah orang yang mampu mengendalikan din, perasaannya
dikendaljkan oleh akal sehat.
4.Soekarno > Keadilan = Kesejahteraan (tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia
Merdeka).
5.Moh. Hatta > Cita-cita Keadilan Sosial adalah dapat mencapai kemakmuran yang merata.
Batasan adil menurut Ensiklopedi Indonesia adalah:
1.Tidak berat sebelah atau tidak memihak kesalahan satu pihak saja.sama.
2.Memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan hak yang harus diperolehnya.
3.Mengetahui hak dan kewajiban, mengerti mana yang benar dan mana yang salah, bertindak
jujur, dan tidak sewenang wenang.
4.Adil merupakan pokok di dalam soal hukum. Dan jika kamu memutuskan perkara, hukumlah
antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah cinta kepada orang orang yang berbuat adil
(Qs. Al-Maidah: 42). Putuslah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan
janganlah kamu turuti hawa nafsu mereka (Qs. Al-Maidah: 49).

Ditinjau dan bentuk ataupun sifat-sifatnya, keadilan dikelom pokkan menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Keadilan Legal/Keadilan Moral.
Plato: Keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dan masyarakat yang
membuat dan menjaga kesatuannya.
Kong Hu Cu: Keadilan terwujud jika setiap anggota masyarakat menjalankan fungsi dan
peranannya masing-masing. Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap
pihak lain.
b. Keadilan Distributif.
Aristoteles: Keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara
sama, dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak sama pula (justice is done
when equals are treated equally).
Misalnya:
Upah buruh lama dan yang baru harus beda.
Uangjajan anak SD dan SMP harus berbeda.
Pengadilan tidak memihak, tanpa pandang bulu.
Hukuman bagi anak di bawah umur.
4.Keadilan Komulatif
Keadilan bertujuan memelihara pertalian dan ketertiban masyarakat dan kesejahteraan
umum. Tindakan yang bercorak ujung ekstrim (Dyadic) menjadikan ketidakadilan dan akan
merusak/menghancurkan pertalian dalam masyarakat, misalnya dokter ada main dengan
pasiennya.
Usaha untuk mencapai keadilan sosial dengan 8 jalur pemerataan, yaitu:
Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan, sandang, dan
peruniahan.
Pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Pemerataan pembagian pendapatan.
Pemerataan kesempatan kerja.
Pcmerataan kesempatan usaha.

Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda


dan kaum wanita.
Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air.
Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.
Hak dan Kewajiban
Manusia adalah makhluk sosial yang dibatasi oleh norma norma. Hak adalah suatu
kekuasaan yang secara sah dimiliki seseorang, baik atas pribadi, atas orang lain maupun atas
harta atau benda yang di luar dirinya:
Hak-hak Asasi Manusia:
1. Hak untuk hidup.
2. Hak untuk kemerdekaan hidup.
3. Hak untuk mendapat perlindungan hukum.
4. Hak untuk memiliki sesuatu.
5. Hak untuk memperoleh nama baik.
6. Hak untuk berpikir dan mengeluarkan pendapat.
7. Hak untuk menganut aliran kepercayaan atau agama.
8. Hak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran.
9. Hak untuk memperoleh pekerjaan.
Kewajiban adalah sesuatu tugas yang harus dijalankan oleh setiap manusia untuk
mempertahankan dan membela haknya. Empat macam kewajiban, yaitu:
1. Kewajiban terhadap din sendiri.
2. Kewajiban terhadap orang lain (individu dan golongan).
3. Kewajiban terhadap terhadap negara.
4. Kewajiban terhadap Tuhan.

Pada dasarnya pembalasan positif dilakukan berdasarkan saling menjaga dan menghargai
hak dan kewajiban masing masing. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
MANUSIA DAN PENDERITAAN
Dr. Orison Swctt Marden dalam bukunya, Menindas wasangka dan rasa takut,
peperangan, kejahatan, penyakit, kemelaratan ataupun kelaparan sebagai musuh besar kita, meski
bagaimanapun hebatnya belumlah boleh kita namakan musuh terbesar manusia, karena menurut
ahli ini ada sesuatu yang lebih merupakan musuh utama manusia yaitu
RASA TAKUT .
Gangguan seperti penyakit, bencana kelaparan ataupun peperangan itu tidak setiap hari
datangnya pada kita. Mereka tidak bisa begitu saja merajalela dan merusak ketentraman hidup
manusia. Justru rasa takutlah yang setiap saat menghinggapi diri kita. Memang bila kita selidiki
maka sebenarnya kita jusru lebih banyak mendenita karena takut gagal, takut merasa sakit dan
sebagainya, daripada menderita karena kegagalan atau menderita karena sakit itu sendiri. Kita
takut pada sesuatu lama sebelum malapetaka itu sendiri datang mengganggu kita.
Kadangkala demikian kuatnya daya khayal itu merasuk pada diri seseorang sehingga
dapat menyebabkan gangguan jiwa yang disebut dcngan PHOBIA. Perkataan ini berasal dan
bahasa Yunani yang artinya takut, sedangkan rasa takut itu sendiri merupakan suatu yang sangat
penting bagi kita dalam kehidupan ini. Rasa takut atau kuatir membuat kita bcrhati-hati dan
membuat kita merasa perlu memanggil ambulance jika ada kecelakaan, jadi rasa takut
memperingatkan kita setiap ada bahaya. Tetapi phobia adalah rasa takut yang terlalu dibesarbesarkan, di mana sebenarnya tidak ada perlunya. Akibatnya akan menjadi penyakit psikis dan
medis, sehingga harus ditangani oleh dokter.dan bila hal itu dibiarkan terus-menerua akan
menjadi penyakit kejiwaan.
Beberapa jenis Phobia
A. CLAUSTROPHOBIA
Phobia ini adalah yang paling dikenal dan paling biasa. Claustrophobia adalah rasa takut
terhadap ruangan tertutup, sesuatu yang agak mudah dimengerti dan dengan mana kita dapat
bersimpati.
B. AGORAPHOBIA.
Sedang agoraphobia lebih sukar diterangkan dan diperkirakan bahwa untuk phobia ini
adalah rasa takut pada ruangan yang terbuka. Dalam bahasa Yunani kuno, agora berarti tenipat
pertemuan umum dan agoraphobia secara lebih jauh dapat diterangkan sebagai ketakutan akan
tempat umum. Penderita agoraphobia takut pergi dan berada di antara orang banyak. Tanpa
pcrawatan dan prngobatan, pendenita ini dapat menjadi begitu gugup sehingga mereka takut
pergi keluar rumah mereka sendiri.
Kebanyakan dan pcnderita-pendcrita ini terdiri dan wanita wanita dan mereka kadangkadang terikat pada rumah-rumah mereka sampai bertahun-tahun. Meskipun mereka takut keluar
sendiri dan menghadapi umum, mereka tidak suka diam di rumah sendirian; mrreka merasa
tertekan, tidak dapat tidur dan mempunyai banyak gejala-gejala lain. Terlalu mudah untuk
mengatakan bahwa agaraphobia adalah pendenila penyakit syaraf atau penyakit berbahaya. Bagi

seorang yang tidak pernah merasakan panik yang tidak dapat diterangkan, memang
kedengarannya mustahil. Bagaimana scorang agoraphobia mencrangkan kctakutannya. Kita takut
pada tiap kcadaan yang tidak dapat dihindari. Kadang kadang kita bangun malam hari dalam
kcadaan takut tanpa ada sebab.
c. Phobia Terbang
Banyak orang mengalami suatu getaran atau tekanan bila mereka memakai tali pengaman
di dalam pesawat terbang, mereka harus diberi obat penenang sebelum mereka naik pesawat
terbang atau mereka tidak mau terbang sama sekali.
Penyebab Phobia
Ahli-ahli medis mempunyai pendapat yang berbeda-beda, dan hanya penderita yang
mempunyai teori tentang asal mula dan ketakutan mereka. Kebanyakan phobia dimulai dengan
suatu shock emosional atau suatu tekanan pada waktu tertentu. Umumnya ada dua aliran tentang
penyebab phobia. Ahli-ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa suatu phobia adalah suatu
gejala dan suatu problema psikologis yang dalam yang harus ditemukan, dihadapi, dan
ditaklukkan. Kebanyak ahli-ahli setuju bahwa tekanan dan sindiran. Rasa sakit banyak
hikmahnya, antara lain dapat mendekatkan diri penderita kepada Tuhan, dapat menimbulkan rasa
kasihan terhadap penderita dapat membuka rasa keprihatinan manusia, rasa sosial, dermawan,
dan sebagainya. Tiap rasa sakit atau penyakit ada obatnya. Hanya tergantung kepada penderita
atau keluarga penderita, apakah ada usaha atau tidak. Bagi yang berusaha sungguh-sungguh
dengan disertai mendekatkan diri kepada Tuhan dan pasrah kepada-Nya maka Tuhan akan
mengabulkan doa dan usahanya.
Pengobatan Phobia
Penderita phobia dianggap sebagai kasus tersendiri maka pengobatannya juga masih
dicarikan. Kesukaran pertama adalah mcnentukan diagnosanya. Beberapa dokter memberikan
obat penenang yang dapat menolong, meskipun banyak penderita merasa bahwa obat penenang
hanya dapat meredakan gejala tanpa menyembuhkan penyakitnya. Psikoanalis psikoanalisis
berkonsentrasi pada penemuan sebab Mana phobia itu dan menolong si penderita supaya
mengerti dan berkompromi dengan dorongan-dorongan sex atau dorongan- dorongan yang
mcnghancurkan daripada melarikan diri dan penyakit itu.
Suatu cara pengobatan yang dipergunakan. Si penderita didorong untuk mengalami
ketakutan yang semaksimal mungkin, maka gejala ketakutan akan hilang sesudah penderita
mengalami secara dalam. TETAPI TINGKAH LAKU adalah cara lain yang tetap dipakai dengan
sukses. Prinsipnya adalah rileks. Si penderita diajar untuk dapat rileks sambil memandang obyck
atau keadaan yang ditakuti.
MELENYAPKAN RASA TAKUT.
Kita sudah mengetahui bahwa rasa takut itu merupakan momok yang senantiasa
mengganggu kita. Sebenarnya, sebagaimana kita sendiri menciptakan rasa takut itu, kita pun
dapat mcnguasainya. Dengan akal sehat kita bisa menentangnya. Memang tidak mudah untuk

melakukan itu. Tapi dengan latihan-latihan kita akan bisa melawan rasa takut itu sedikit demi
sedikit. Jangan biarkan diri terpengaruh oleh gangguan gangguan itu. Justru biarkan diri untuk
menjadi tuan dan mereka, hingga kita berkuasa untuk menerima atau menolak, menurut
kehendak kita. Yakinlah bahwa tidak ada orang lain yang akan sanggup membuat kita takut.
Memang mereka bisa berbuat sesuatu yang kiranya dapat rnembangkitkan rasa takut kita. Tapi
itu tidak akan berarti apa-apa, bila kita telah siap menghadapinya, bahkan kita bisa
mengendalikannya.
Dibawah ini beberapa cara untuk melenyapkan rasa takut yaitu :
1.Kembangkan kelebihan lupakan kekeliruan
2.menganggap kegagalan adalah kesempatan yang tertunda
3.mencari cara dan hal baru yang lebih efisien
4.jangan melakukan pekerjaan dengan tergesa-gesa
5.berani mengambil resiko dengan perhitungan yang matang.
FRUSTASI
Frustasi adalah suatu problem pribadi yang disebabkan oleh keinginan, harapan yang tidak atau
gagal diselesaikan, diperolehnya.
Frustasi juga berarti suatu keadaan dimana suatu kebutuhan tidak dapat terpenuhi atau tujuan
yang tidak bisa tercapai, dengan kata lain orang yang mengalami hambatan atau usahanya
gagal mencapai tujuan.
OBSESI
Obsessi merupakan pikiran yang bersifat terpaku (parsistent) dan senantiasa bcrulang
kembali, yang mcndcsakkan din ke taraf kesadaran individu dan timbulnya tidak dapat diclakkan
oleh individu yang bersangkutan. Merupakan pikiran yang tidak wajar pula, seperti halnya
phobia, disertai sikap emosional yang kuat. Obsessi dan phobia biasanya merupakan alasan
untuk bertindak secara kompulsif. Individu yang ber sangkutan tahu betul sifat yang tidak wajar
dalam sikapnya. Tetapi perubahan juga tidak akan terjadi, meskipun orang berusaha menginsyaf
kannya melalui jalan dan ratio.
KOMPULSIF
Merupakan suatu pcrbuatan yang didasari dan diketahui oleh individu yang bersangkutan,
akan tetapi seolah-olah dilakukannya di luar kekuasaannya, walaupun ia tahu perbuatan itu tidak
wajar atau tidak masuk akal.

Soni tidak pernah puas menutup pintu hanya satu kali. Rasa was- was dan takut selalu
menyelimuti dirinya, seakan-akan ia belum beres dalam menutup pintu. Soni sangat kompulsif
dalani mengunci pintu. Soni sendiri sebenarnya tahu dan sadar bahwa kunci itu cukup dikunci
satu kali saja. Tetapi karena pikirannya bersifat obsessif, maka ia tidak kuasa mengelak dorongan
perbuatan yang bersifat kompulsif itu. Seakan-akan mengunci pintu yang berulang ulang sampai
menjengkelkan dirinya sendiri itu di luar kekuasaannya sendiri.
MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
Manusia dan pandangan hidup adalah merupakan satu di antara beberapa materi pokok
ilmu yang terkandung dalam Ilmu Budaya Dasar. Ilmu Budaya Dasar atau yang identik dengan
istilah Basic Humanities itu sendiri dimaksudkan agar dengan kondisi kehidupan masyarakat kita
yang demikian heterogen diharapkan seseorang menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan
lebih halus.
Menurut Koentjoroningrat, sebagai salah satu pokok bahasan dalam Ilmu Budaya Dasar,
pandangan hidup mengandung pengertian yang mendasar yakni bahwa Pandangan Hidup adalah
nilai nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang dipilih secara selektif oleh para individu dan
golongan di dalam masyarakat.
Sistem nilai budaya sering juga merupakan pandangan hidup atau world view bagi
manusia yang menganutnya. Apabila sistem nilai merupakan pedoman hidup yang dianut oleh
sebagian besar warga masyarakat, pandangan hidup merupakan suatu sistem pedoman yang
dianut oleh golongan-golongan atau, lebih sempit lagi, oleh individu-individu khusus di dalam
masyarakat. Oleh karena itu, hanya ada pandangan hidup golongan atau individu tertentu, tetapi
tidak ada pandangan hidup pada keseluruhan masyarakat.
Pandangan hidup merupakan bagian hidup manusia, tidak ada seorang pun yang hidup
tanpa pandangan hidup meskipun pada tingkatan yang berbeda-beda. Pandangan hidup
mencerminkan citra diri seseorang karena pandangan hidup itu mencerminkan cita-cita atau
aspirasinya.
Dalam kehidupanya manusia tidak akan terlepas dan 3 hal pokok, yakni:
Cita-cita,
Kebajikan, dan
Sikap hidup
Karena itu pula, wajarlah apabila cita-cita, kebajikan dan sikap hidup merupakan bagian
hidup manusia. Dan itu pulalah sebabnya cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup banyak
menimbulkan daya kreativitas manusia. Banyak hasil seth yang melukiskan cita-cita, kebajikan,
dan sikap hidup seseorang.

Pandangan Hidup dan Ideologi


Ideologi merupakan komponen dasar terakhir dan sistem sistem sosial budaya. Pengertian
ini menyangkut sistem-sistem dasar kepercayaan dan petunjuk hidup sehari-hari.
Suatu ideologi bagi masyarakat tersusun dan 3 unsur, yakni:
1. Pandangan hidup
2. Nilai-nilai
3. Norma-norma
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa pandangan hidup itu merupakan bagian dan
ideologi kebudayaan yang dapat membuat kemungkinan-kernungkinan menjawab pertanyaan
mengapa (why) tentang sesuatu dan kehidupan.
Klasifikasi Pandangan hidup
1.
2.

Pandangan Hidup yang berasal dari Agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
Pandangan hidup berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma-norma yang
terdapat dalam Negara tersebut.
3.
Pandangan hidup yang berasal dari renungan adalah pandangan hidup yang relative
kebenarannya, karena sifatnya individu dan diyakini oleh persepsi diri sendiri.

Langkah Langkah Berpandangan Hidup Yang Baik


Manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana
kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Ada yang
memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang
memperlakukan sebagai sarana kesejahteraan, ketenteraman dan sebagainya.
Maka kita seharusnya mempunyai langkah-langkah berpandangan hidup ini. Karena
hanya dengan mempunyai langkah-langkah itulah kita dapat memperlakukan pandangan hidup
sebagai sarana mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Maka dari itu di bawah ini beberapa
langkah-langkah dalam berpandangan hidup yang baik, sebagat berikut:
1.Mengenal.
Mengenal ini merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dan
setiap aktivitas hidupnya yang dalam hal ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya kita
yakin dan sadar bahwa setiap manusia itu pasti mempunyai pandangan hidup.
2.Mengerti
Tahap kedua untuk berpandangan hidup yang balk adalah mengcrti. Mengerti di sini
dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bernegara kita

berpandangan pada Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila kita hendaknya
mengerti apa Pancasila dan bagairnana mengatur kehidupan bernegara. Begitu juga bagi yang
berpandangan hidup pada agama islam, hendaknya kita mengerti apa itu Al Quran, hadits dan
ijmak itu dan bagaimana ketiganya itu mcngatur kehidupan baik di dunia niaupun di akherat.
Selain itu juga kita mengerti untuk apa dan dan mana Al Quran, hadits, dan ijmak itu. Sehingga
dengan demikian mempunyai suatu konsep pengrrtian tentang pandangan hidup Islam itu.
3.Menghayati
Langkah selanjutnya setelah mengerti pandangan hidup adalah menghayati pandangan
hidup itu. Dengan menghayati pandangan hidup kita mcniperoleh ganibaran yang tepat dan benar
mengenai pandangan hidup itu sendiri.
Mcnghayati di sini dapat diibaratkan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya,
yaitu dengan memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu
scndiri. Dengan menganalisa dan bertanya kepada orang yang lebih mampu dalam pemahaman
pandangan hidup.
4.Meyakini
Setelah mengetahui kcbenaran dan validitasnya, baik secara kemanusiaan, maupun
ditinjau dan segi kemasyarakatan maupun bernegara dan dan kehidupan di akherat, maka
hcndaknya kita menyakini pandangan hidup yang telah kita hayati itu. Meyakini me merupakan
suatu hal untuk cenderung memperoleh suatu kcpasiian sehingga dapat mencapai suatu tujuan
hidupnya.
Dengan yakin (meyakini) berarti secara langsung ada penerimaan yang ikhlas terhadap
pandangan hidup itu. Adanya sikap menerima secara ikhlas ini maka ada kecenderungan untuk
selalu brrpedoman kepadanya dalam segala tingkah laku dan tindakannya atau setidak-tidaknya
tingkah laku dan tindak-tanduknya scialu dipengaruhi oleh pandangan hidup yang diyakininya.
5.Mengabdi
Pengabdian merupakan snatu hal yang pcnting dalani mcnghayati dan mcyakini sesuatu
yang telah dibcnarkan dan ditenima baik oleh dirinya lebih lebih oleh orang lain. Dengan
mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya. Sedang perwujudan manfaat mengabdi ini
dapat dirasakan oleh prihadi kita sendiri. Dan mengabdi itu sendiri bisa terwujud di masa masih
hidup dan atau sesudah meninggal yaitu di alam akherat. Dampak berpandangan hidup Islam
yang antara lain yaitu mengabdi kepada orang kedua orang tua.
Jadi bila kita sudah mengenal, mengerti, menghayati dan meyakini pandangan hidup ini,
maka selayaknya disertai dengan pengabdian Dan pengabdian maka hendaknya dijadikan
pakaiannya baik dalam waktu tenteram lebih-lebih bila menghadapi hambatan dan tantangan.

6.Mengamankan
Proses mengamankan mi merupakan langkah terakhir. Tidak mungkin atau sedikit
kemungkinan bila belum mendalami langkah sebelumnya lalu akan ada proses mengamankan
ini. Langkah yang terakhir ini merupakan langkah yang terberat dan benar-benar membutuhkan
iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu demi tetap tegaknya
pandangan hidup itu.
Misalnya seorang yang beragama Islam dan berpegang teguh kepada pandangan
hidupnya, lain suatu ketika dia dicela baik secara langsung ataupun secara tidak Iangsung, maka
jelas dia tak menenima celaan itu. Bahkan bila ada orang yang ingin merusak atau bahkan ingin
memusnahkan agama Islam baik terang-terangan ataupun secara diam-diam, sudah tentu dan
sudah selayaknya bila kita mengadakan tindakan terhadap segala sesuatu yang menjadi
pengganggu. Dengan kata lain para pengikut pandangan hidup Islam akan bertindak untuk
mengamankan terhadap segala tindakan yang bermaksud atau ingin mengganggu salah satu
diantara pandangan hidup itu, pasti ditindak selain oleh Allah kelak juga oleh para pengikut
Islam itu sendiri.
CITA-CITA DAN PANDANGAN HIDUP
Di samping itu juga pandangan hidup yang teguh ini akan mampu memperbaiki segala
tingkah lakunya, baik dalam bermasyarakat ataupun dalam menyelesaikan segala masalah
hambatan, gangguan dan tantangan sehingga nantinya akan terwujud cita-cita yang
didambakannya.
Oleh karetia itu scbagai makhluk yang mempunyai Cita-cita terutama cita-cita yang akan
memimpin kepada kebaikan dan keselamatan baik pribadi maupun orang lain dan lebih-lebjh
keselamatan di akherat kelak.
Bila kita kaji lebih datam maka dalam berpandangan hidup yang baik itu tentu terdapat
keyakinan yang teguh. Pandangan hidup yang demikian ini merupakan dasar akan adanya citacita artinya bila adanya cita-cita ini didasari oleh pandangai hidup ini maka cita-cita ini akan
lebih besar kemungkinannya dan bila berhasil maka berarti cita-citanya itu merupakan hasil
petunjuk dan Allah sebagai pencipta seluruh makhluk yang ada. Dengan demikian besar
kemungkinannya untuk selamat dalam menjalankan tugas dan keberhasilan cita-citanya itu
dengan syarat yang bcrsangkutan selalu berpegang teguh pada pandangan hidupnya dimanapun
berada.
SELESAI