Anda di halaman 1dari 8

PAPER SUMMARY FISIOLOGI

SISTEM INDERA

KELOMPOK II
Anggota Kelompok:
1.
2.
3.

Inda Syifa Fauzia


Tira Aisah Puspasari
Primawati Dyah R.

(131610101022)
(131610101073)
(131610101077)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

SISTEM INDERA

Konsep Sistem Indera dan Reseptor


Reseptor sensorik dapat merupakan bagian suatu neuron atau merupakan sel khusus yang
membangkitkan potensial aksi di neuron yang kemudian sering kali bersatu dengan sel-sel
non-saraf yang melingkupinya, dan membentuk alat indra. Bentuk-bentuk energi yang diubah
oleh neurotransmiter misalnya mekanis (raba-tekan), suhu (derajat sensasi hangat),
elektromagnetik (cahaya), dan energi kimia (bau, kecap, dan kandungan O 2 darah). Reseptor
di tiap alat indra disesuaikan untuk berespons terhadap satu bentuk energi tertentu (stimulus
adekuat) pada ambang yang jauh lebih rendah dibanding dengan respons reseptor lain
terhadap bentuk energi ini. Disebut stimulus adekuat karena suatu reseptor paling peka
terhadap bentuk energi tersebut. Di dalam klasifikasi alat indra, menurut tradisi, sensasi
khusus yaitu penghidu, penglihatan, pendengaran, percepatan rotasi dan linear, serta rasa
kecap. (Ganong,2015)
Mata : Penglihatan
Sifat Optik Mata
Mata secara optik dapat disamakan dengan sebuah kamera fotografi biasa. Mata mempunyai
sistem lensa, diafragma yang dapat berubah-ubah (pupil), dan retina yang dapat disamakan
dengan film. Sistem lensa mata terdiri atas empat perbatasan refraksi; (1) perbatasan antara
permukaan anterior kornea dan udara, (2) perbatasan anta permuakaan posterior kornea dan
humor aqueous, (3) perbatasan antara humor aqueous dan permukaan anterior lensa mata, dan
(4) perbatasan antara permukaan posterior lensa dan humor vitreous. (Guyton,2014)
Pembentukan bayangan di retina sama seperti pembentukan bayangan oleh lensa kaca pada
secarik kertas. Sistem lensa mata juga dapat membentuk bayangan di retina. Bayangan ini
terbalik dibandingkan bendanya. Namun demikian, persepsi otak terhadap benda tetap dalam
keadaan tegak, meskipun terdapat orientasi terbalik di retina, karena otak sudah dilatih
menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal. (Guyton,2014)
Komponen Utama Mata
Mata adalah alat indra kompleks yang berevolusi dari bintik-bintik peka sinar primitive pada
permukaan golongan invertebrata. Lapisan pelindung luar bola mata adalah sklera yang di
bagian anterior membentuk kornea yang tembus pandang dan akan dilalui oleh berkas sinar
yang masuk ke mata. Kornea merupakan lapisan jernih anterior paling luar mata yang
berperan dalam refraksi mata. Di dalam sklera ada koroid yang mengandung banyak darah
(Ganong,2015). Koroid (lapisan tengah mata), disebelah anterior membentuk badan siliaris

dan iris serta berpigmen untuk mencegah pembuyaran berkas sinar mata, mengandung
pembuluh darah yang memberi makan retina (Sherwood,2014). Pada lapisan dua per tiga
posterior koroid adalah retina. Didepan lensa terdapat iris yang berpigmen dan tidak tembus
pandang, yaitu bagian mata yang berwarna. Iris merupakan cincin otot yang berpigmen,
terletak di cairan aqueous yang berperan dalam warna mata. Iris mengandung serat-serat otot
sirkular

yang

menciutkan

dan

serat-serat

(Ganong,2015;Sherwood,2014).Perubahan

garis

radial
tengah

yang
pupil

melebarkan
dapat

pupil

mengakibatkan

perubahan sampai 5 kali lipat dari jumah cahaya yang mencapai retina. Fovea merupakan
daerah

dengan

ketajaman

tertinggi

yang

terletak

di

tepi

tengah

retina

(Ganong,2015;Sherwood,2014). Retina melebar ke depan dan hamper mencapai korpus


siliaris. Badan siliaris membentuk cincin melingkari tepi luar lensa, berfungsi menghasilkan
cairan aqueous dan mengandung otot siliaris. Struktur ini mengandung sel batang dan sel
kerucut yang merupakan reseptor penglihatan dan terletak di lapisan yang bersebelahan
dengan koroid, bersinaps dengan sel bipolar, dan sel bipolar bersinaps dengan sel ganglion.
Ada pula 4 jenis neuron : sel bipolar, sel ganglion, sel horizontal, dan sel amakrin. Cairan
aqueous terletak di rongga anterior antara kornea dan lensa, berfungsi sebagai nutrien bagi
kornea dan lensa. Cairan vitreous, mirip seperti gel terletak antara lensa dan retina yang
membantu mempertahankan bentuk bulat mata. Lensa terletak antara cairan aqueous dan
vitreous dan melekat ke otot siliaris oleh ligamentum suspensorum yang berperan dalam
variasi kemampuan refraksi selama akomodasi. Mata digerakkan dalam orbita dilakukan oleh
6 pasang otot mata. Otot-otot ini dipersarafi oleh n. okulomotoris, troklearis, dan abdusens.
Mata terlindung baik dari cedera karena adanya dinding orbita yang terdiri dari tulang.
Kornea dijaga tetap jernih dan dibasahi oleh air mata. (Ganong,2015;Sherwood,2014).
Neurofisiologi Penglihatan Sentral
Pada saat prinsip jaras penglihatan dari kedua retina ke korteks penglihatan diterapkan, sinyal
saraf penglihatan meninggalkan retina melalui nervus optikus. Di kiasma optikum, serabut
nervus optikus dari bagian nasal retina menyeberangi garis tengah, tempat serabut nervus
optikus bergabung dengan serabut-serabut yang berasal dari bagian temporal retina mata yang
lain sehingga terbentuklah traktus optikus. Serabut-serabut dari setiap traktus optikus
bersinaps di nukleus genikulatum lateralis dorsalis pada thalamus, dan dari sini, serabutserabut genikulokalkarina berjalan melalui radiasi optikus (atau traktus genikulokalkarina),
menuju korteks penglihatan primer yang terletak di fisura kalkarina lobus oksipitalis.
(Guyton,2014).

Pergerakan mata diatur oleh tiga pasang otot: (1) rektus medialis dan lateralis, (2) rektus
superior dan inferior, dan (3) oblikus superior dan inferior. Ototo rektus medialis dan lateralis
berkontraksi untuk menggerakkan mata dari satu sisi ke sisi lainnya. Otot rektus superior dan
inferior juga berkontraksi untuk menggerakkan mata ke atas dan bawah. Otot oblikus
terutama berfungsi untuk memutar bola mata agar lapangan pandang tetap pada posisi tegak.
Nukleus saraf cranial III, IV, dan VI di batang otsk melewati jaras persarafan yang disebut
dengan fasikulus longitudinalis medial, yang dimana masing-masing dari ketiga susunan otot
tersebut diinnervasi secara timbale balik sehingga satu otot dari setiap pasang otot itu akan
berelaksasi sementara otot yang lainnya berkontraksi (Guyton,2014).
Telinga : Pendengaran dan Keseimbangan
Komponen Utama Telinga
Telinga terdiri dari 3 bagian, yaitu telinga luar dan tengah yang berfungsi menyalurkan
gelombang suara dari udara ke telinga dalam yang berisi cairan, mengamplifikasi energi suara
dalam proses ini; serta telinga dalam yang terdiri dari koklea yang mampu mengubah
gelombang suara menjadi impuls saraf sehingga kita bisa mendengar dan aparatus
vestibularis berperan dalam keseimbangan. (Sherwood,2014)
Koklea adalah suatu sistem tuba yang melingkar-lingkar yang terdiri dari: (1) skala vestibuli,
(2) skala media, (3) skala timpani. Skala vestibule dan skala media dipisahkan satu sama lain
oleh membran Reissner; skala timpani dan skala media dipisahkan satu sama lain oleh
membran basilar. Dan selanjutnya, organ corti adalah organ reseptor yang membangkitkan
impuls saraf sebagai respons terhadap getaran membran basilar (Guyton,2014).
Membran timpani (umumnya disebut gendang telinga) dan tulang-tulang pendengaran, yang
menghantarkan suara dari membrane timpani melewati telinga tengah ke koklea (telinga
dalam). Melekat pada membrane timpani adalah tangkai dari maleus. Maleus terikat pada
inkus oleh ligament yang kecil, sehingga pada saat maleus bergerak, inkus ikut bergerak.
Ujung yang berlawanan dari inkus akan berartikulasi dengan batang stapes, dan bidang depan
dari stapes terletak berhadapan dengan membran labirin koklea pada muara fanestra ovalis
(Guyton,2014).
Ujung tangkai maleus melekat di bagian tengah membrane timpani, dan tempat perlekatan ini
secara konstan akan tertarik oleh muskulus tensor timpani, yang menyebabkan membrane
timpani tetap tegang. Keadaan ini menyebabkan getaran pada setiap bagian membrane
timpani akan dikirim ke tulang-tulang pendengaran, dan hal ini tidak akan terjadi bila

membran tersebut longgar. Tulang-tulang pendengaran telinga tengah ditunjang oleh


ligament-ligamen sedemikian rupa sehingga gabungan maleus dan inkus bekerja sebagai
pengungkit tunggal, dengan fulkrum yang terletak hamper pada perbatasan membran timpani.
Artikulasi inkus dengan stapes menyebabkan stapes mendorong fanestra ovalis ke depan dan
di sisi lain juga mendorong cairan koklea ke depan setiap saat membran timpani bergerak ke
dalam, dan setiap maleus bergerak keluar akan mendorong cairan ke belakang
(Guyton,2014).
Mekanisme Pendengaran
Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat melalui media selain udara, misal air.
Suara ditandai oleh nada yang ditentukan oleh frekuensi getaran; intensitas (kekuatan)
tergantung pada amplitudo gelombang suara; dan warna suara (kualitas) bergantung pada
overtune yaitu frekuensi yang mengenai nada dasar. Telinga luar terdiri dari pinna (daun
telinga), meatus auditorius eksternur (saluran telinga), dan membran timpani (gendang
telinga). Pinna berfungsi mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkannya ke saluran
telinga. Kemudian dari saluran telinga melalui tulang temporal dari bagian luar ke membran
timpani (membran tipis yang memisahkan telinga luar dan tengah) (Sherwood,2014)
Transmisi gelombang suara dimulai dari getaran cairan di dalam koklea yang dipicu oleh
getaran jendela oval yang mengikuti 2 jalur, yaitu meredam energi suara dan memicu potensi
reseptor. Berbagai bagian membran basilaris bergetar maksimal pada berbagai frekuensi yang
berbeda. Ujung membran basilaris kaku dan sempit yang terletak paling dekat dengan jendela
oval bergetar maksimal pada nada frekuensi tinggi. Ujung membran basilaris yang lebar dan
fleksibel

di

deket

helikotrema

bergetar

maksimal

pada

nada

frekuensi

rendah

(Sherwood,2014).
Transduksi suara dimulai dari adanya gelombang suara yang menyebabkan getaran membran
timpani. Selanjutnya terjadi getaran tulang telinga tengah dilanjutkan getaran jendela oval
sehingga terjadi gerakan cairan di dalam koklea dan terjadi getaran membran basilaris. Kemu
median nekuknya rambut di sel rambut reseptor dalam organ corti sewaktu getaran membran
basilaris menggeser rambut-rambut ini relatif terhadap membran tektorium di atasnya, yang
berkontak dengan rambut tersebut. Terjadilah perubahan potensial berjenjang di sel reseptor
dan terjadi perubahan frekuensi potensial aksi yang dihasilkan di saraf auditorius. Akhirnya
terjadi perambatan potensi aksi ke korteks auditorius di lobus temporalis otak untuk persepsi
suara (Sherwood,2014)

Secara ringkas, menurut Ganong tahun 2015 mekanisme pendengaran dimulai dari telinga
luar mengumpulkan gelombang bunyi ke meatus auditorius eksternus. Dari meatus, kanalis
auditorius eksternus berjalan ke dalam menuju membrane timpani (gendang telinga). Telinga
tengah adalah rongga berisi udara di dalam tulang temporalis yang terbuka melalui tuba
auditorius (eustakius) ke nasofaring dan melalui nasofaring ke luar. Tiga tulang pendengaran
(osikulus auditorius), yaitu maleus, inkus, dan stapes terletak di telinga tengah. Telinga dalam
(labirin, rumah siput) terdiri dari 2 bagian, satu di dalam yang lainnya. Labirin tulang adalah
serangkaian saluran di dalam bagian petrosa tulang temporalis. Bagian koklea labirin adalah
saluran melingkar yang panjangnya adalah 35 mm dan membentuk 2 3/4 putaran. Di koklea
terdapat tight junction antara sel rambut dan sel falanks di dekatnya. Tight junction mencegah
endolimfe mencapai dasar sel. Organ korti yang berjalan dari apeks ke dasar koklea
merupakan struktur yang mengandung sel-sel rambut yang merupakan reseptor pendengaran
dan terletak di membrane basilaris.
Sensasi Kimiawi : Pengecapan dan Penghiduan
Pengecapan terutama merupakan fungsi dari taste buds yang terdapat di dalam mulut, tetapi
pengalaman juga menyatakan bahwa indera penghidu juga berperan pada persepsi
pengecapan. Pengenalan bahan kimia spesifik yang mampu merangsang berbagai reseptor
pengecapan belum dapat diketahui semuanya. (Guyton,2014). Pengecapan dan penghiduan
adalah kemoreseptor yang menghasilkan sinyal saraf jika berkaitan dengan bahan kimia
tertentu. (Sherwood,2014)
a. Pengecapan
Kuntum pengecap (taste buds), alat indra untuk pengecapan, merupakan bahan ovoid yang
berukuran 50-70 m. tiap kuntum pengecap terbentuk oleh 4 jenis sel yaitu sel basal, sel tipe
1 dan 2 yang merupakan sel sustentakularis, dan sel tipe 3 yang merupakan sel reseptor
pengecap yang membuat hubungan sinaps dengan serat saraf sensorik (Ganong,2015). Sel
reseptor kecap adalah sel epitel dengan banyak mikrovili dipermukaannya dan sedikit
menonjol melewati pori kecap (Sherwood,2014). Kuntum pengecap terletak di mukosa
epiglottis, palatum, dan faring serta di dinding papilla fungiformis yang merupakan struktur
bulat yang paling banyak ditemukan di dekat ujung lidah dan papilla valata lidah yang
merupakan struktur menonjol yang tersusun membentuk huruf V di belakang lidahSel
reseptor kecap terdapat pada lidah (Ganong,2015).

Impuls pengecap dari du pertiga anterior lidah mula-mula akan diteruskan ke saraf lingualis,
kemudian melalui korda timpani menuju nervus fasialis, dan akhirnya ke traktus solitaries di
batang otak. Sensasi pengecap dari papilla sirkumvalata di bagian belakang lidah dan dari
daerah posterior rongga mulut dan tenggorokan lainnya, akan ditransmisikan melalui nervus
glossofaringeus juga ke traktus solitaries, tetapi pada ketinggian yang sedikit lebih ke
posterior. Akhirnya, beberapa sinyal pengecap dari dasar lidah dan bagian-bagian lain di
daerah faring, akan ditransmisikan ke traktus solitaries melalui nervus vagus. Semua serabut
pengecap bersinaps di batang otak bagian posterior di dalam nucleus traktus solitarius
(Guyton,2014).
Kelima sensasi rasa primer ditimbulkan oleh rangsangan rasa asin (dirangsang garam dapur)
dikecap di dorsum anterior lidah, asam (disebabkan oleh asam) di sepanjang tepi lidah, manis
(dipicu oleh glukosa) dikecap di ujung lidah, pahit dikecap di belakang lidah, dan umami
(dipicu oleh asam amino, khususnya glutamat). Ambang batas untuk merangsnag rasa asam
oleh asam hidroklorida rata-rata 0,0009 N; untuk merangsang rasa asin oleh natrium klorida,
0,01 M; untuk rasa manis oleh sukrosa, 0,01 M; dan untuk rasa pahit oleh kuinin 0,000008
M (Ganong,2015;Guyton,2014; Sherwood,2014).
b. Penghiduan
Penciuman adalah indera penghidu yang merupakan fenomena subjektif dan tidak mudah
dipelajari. Sel reseptor untuk sensasi penghidu adalah sel-sel olfaktorius yang dasarnya
merupakan sel saraf bipolar berasal dari sistem saraf pusat. Terdapat sekitar 100 juta sel
seperti ini pada epitel olfaktorius yang tersebar di antara sel-sel sustentakular. Silia
olfaktorius akan membentuk alas yang padat pada mucus, dan ini adalah silia yang akan
bereaksi terhadap bau di udara (Guyron,2014). Mukosa olfaktorius terdiri dari 3 jenis sel
(reseptor olfaktorius, sel penunjang, dan sel basal). Sel penunjang mengeluarkan mukus yang
melapisi saluran hidung. Sel basal adalah prekursor untuk sel reseptor olfaktorius baru.
(Sherwood,2014)
Sel reseptor olfaktorius adalah neuron aferen yang bagian reseptornya terletak di mukosa
olfaktorius di hidung dan yang akson aferennya berjalan ke dalam otak (Sherwood,2014). Sel
reseptor olfaktorius terletak di bagian mukosa hidung yang khusus, yaitu membran mukosa
olfaktorius yang berpigmen kekuningan. Daerah ini luasnya 5 cm2 berada di atap rongga
hidung dekat septum dan mengandung sel-sel penunjang dan sel-sel calon reseptor penghidu.
Diantara sel-sel ini terdapat 10-20 juta sel reseptor. Setiap reseptor penghidu adalah neuron,

dan di tubuh membran mukosa olfaktorius merupakan sistem saraf yang terletak paling dekat
dengan dunia luar. Reseptor penghidu hanya memberi jawaban terhadap zat-zat yang
bersentuhan dengan epitel penghidu dan larut dalam lapisan tipis mucus yang melapisinya
(Ganong,2015).
Pemrosesan bau di bulbus olfaktorius dimulai dari masing-masing glomerulus yang melapisi
bulbus olfaktorius menerima masukan sinaps dari hanya satu jenis reseptor bau yang nantinya
hanya berespon terhadap satu komponen odoran tertentu. Oleh karena itu, glomerulus
menyortir dan mengarsipkan berbagai komponen suatu molekul odoriferosa sebelum
menyalurkan sinyal bau ke sel mitral dan pusat-pusat otak yang lebih tinggi untuk
pemrosesan lebih lanjut (Sherwood,2014). Kelainan menghidu antara lain anosmia
(hilangnya daya menghidu), hiposmia (berkurangnya kepekaan menghidu), dan disosmia
(distorsi daya menghidu) (Ganong,2015).
Kulit : Peraba
Terdapat 4 sensasi kulit, yaitu raba-tekan (tekanan adalah rabaan yang ditahan agak
lama), dingin, hangat dan nyeri. Kulit mengandung berbagai jenis ujung saraf sensorik yang
meliputi ujung saraf telanjang, saraf yang melebar mencakup diskus Merkel dan ujung saraf
Ruffini, serta ujung saraf berselubung mencakup badan pacini, badan Meissner, dan bulatan
ujung saraf Krause. Ujung-ujung saraf yang melebar ataupun yang berselubung berfungsi
untuk mekanoreseptor yang berespons terhadap rangsangan taktil; badan Meissner dan pacini
merupakan reseptor raba yang beradaptasi cepat, sedangkan diskus Merkel dan ujung saraf
Ruffini merupakan reseptor raba yang beradaptasi lambat. Ujung-ujung saraf di sekitar folikel
rambut menghantarkan rasa raba, sedangkan gerakan rambut membangkitkan sensasi taktil.
(Ganong,2015)
Daftar Pustaka :
Barrett, Kim E., dkk. 2015. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ganong Edisi 24. Jakarta : EGC
Hall, John E. 2014. Guyton and Hall Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 12. Singapore :
Elsevier
Sherwood, Lauralee. 2014. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 8. Jakarta : EGC