Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

“ INTEGRITAS ETIKA DALAM SISTEM NILAI KEHIDUPAN MANUSIA “

MAKALAH “ INTEGRITAS ETIKA DALAM SISTEM NILAI KEHIDUPAN MANUSIA “ Oleh: Kelompok 2 Jefta M Damanik

Oleh:

Kelompok 2 Jefta M Damanik Agil Adi Darma Cendekia Muthahhar Choirul Anam Junaedi Fauzan Amien Muhammad Kresna Putra Reza Muhammadi Yusuf Mahardika

135040201111010

135040200111100

135040200111194

135040200111162

135040200111131

135040201111054

135040200111157

135040200111180

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI MINAT MANAJEMEN SUMBER DAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN UNVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

KATA PENGANTAR

Syukur alhamadulillah penulis ucapkan kehadirat allah S.W.T. karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai pada waktunya, makalah ini membahas tentang kode etik profesi yang penulis beri judul : “INTEGRITAS ETIKA DALAM SISTEM NILAI KEHIDUPAN MANUSIA”. Penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Etika Profesi. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Besar harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Malang, 8 maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2 ..................................................................................................................

DAFTAR ISI

................................................................................................................................

3

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang

.........................................................................................................................

4

1.2 Tujuan

.....................................................................................................................................

5

BAB II PEMBAHASAN

  • 1.1 ETIKA…………………………………………………………………………………………6

  • 1.2 PROFESI………………………………………………………………………………

...

……7

  • 1.3 Etika, Moral dan Norma Kehidupan 8 ................................................................................

  • 1.4 Pelanggaran Etika dan kaitannya dengan Hukum 9 ..............................................................

  • 1.5 Berbagai Macam Etika yang Berkembang di Masyarakat 11 ...................................................

  • 1.6 Etika dan Teknologi; Tantangan Masa Depan 12 ...................................................................

BAB III PENUTUP KESIMPULAN……………………………………………… 13 ...................................................

DAFTAR PUSTAKA………………………………………… 14 .................................................

  • A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Integrasi adalah mutu sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaannya dan kejujuran.Sementara etika didefenisikan sebagai pemahaman tentang hal baik dan buruk atau hak dan kewajiban mengenai moral dan akhlak.Jika keduanya digabung dan ditempatkan di dalam sanubari,maka dapat mencetak perilaku setiap individu untuk selalu bertindak baik serta berintegrasi tinggi dalam maupun luar lingkungan organisasi.KArena itu organisasi penanaman modal harus berani merumuskan integrasi keduanya ke dalam sebuah nilai etika (Drs,H, Malayu S.P. Hasibuan , 2009).

Kata etik atau etika berasal dari kata ethos ( bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakan salah atau benar, buruk atau baik. Dalam seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dibuat dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum dinilai menyimpang dari kode etik.

Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.

B. Tujuan Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Profesi. Selain itu agar para professional bias menjalankan profesi nya secara baik menurut integrasi nya didalam nilai kehidupan manusia.

  • 1.3 ETIKA

BAB II PEMBAHASAN

Kamus besar bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan kebudayaan (1988)

merumuskan etika dalam tiga arti sebagai berikut:

Ø Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral.

Ø Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.

Ø Nilai mengenai benar salah yang dianut masyarakat.

Dari asal usulnya, etika berasal daari bahasa yunani ”ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan yang baik. Bertolak dari kata tersebut, akhirnya etika berkembang menjadi studi tentang kebiasan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya.

Menurut profesor Robert salomon, etika dapat dikelompokkan menjadi dua definisi yaitu:

  • a. Etika merupakan karakter individu, dalam hal ini termasuk bahwa orang yang beretika adalah orang yang baik.

  • b. Etika merupakan hukun sosial.etika merupakan hukum yang mengatur, mengendalikan serta membatasi periaku manusia.

Pada perkembangannya, etika telah menjadi sebuah studi. Fagothey (1953) mengatakan bahwa etika adalah studi tentang kehndak manusia, yaitu kehendak yang berhubungan dengan keputusan yang benar dan yang salah dalam tindak perbuatannya. Pernyataan tersebut kembali di tegaskan oleh Sumaryono (1995) yang menyatakan bahwa etika merupakan studi tentang kebenaran dan ketidabenaran berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan melalui kehendak manusia dalam perbuatannya (Drs,H, Malayu S.P. Hasibuan , 2009).

Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidangbidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut DE GEORGE, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi (Prof.Dr. Sondang P.Siagian .MPA, 2013).

1.3 Etika, Moral dan Norma Kehidupan

Secara etimologis, etika dapat pula disamakan dengan moral.moral merasal dari bahasa latin”MOS”yang berati adat kebiasaan. Secara etimologis, kata moral sama dengan etika yaitu nilaia-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya didalam komunitas kehidupannya.

Hal senada disampaikan oleh Lawrence Konhberg(1927-1987), yang menyatakan bahwa etika dekat dengan moral. Lawrence menyatakan bahwa pendidikan moral merupakan integrasi sebagai ilmu seperti psikologi, sosiologi, antropologi budaya, filsafat, ilmu pendidikan, bahkan ilmu politik. Hal-hal itu yang dijadikan dasar membangun sebuah etika.

Lawrence konhberg juga mencatat 6 orientasi tahap perkembangan moral yang dekat hubungannya

  • 1. Orientasi pada hukuman, ganjaran, kekuatan fisik dan material.

Nilai-nilai yang bersifat kemanusiaan tidak di persoalkan pada orientasi ini. Orang cenderung takut pad hukuman dibandingkan sekedar menjalakan mana yang baik atau mana yang buruk.

  • 2. Orientasi hidonistis hubungan manusia.

Orientasi ini melihat bahwa perbuatan benar adalah perbuatan yang memuaskan individu dan atau kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dipandang seperti hubungan formal di tempat umum, unsur kewajaran adalah timbal balik. Hal itu terlihat pada adanya tanggapan seperti ”jika anda merugikan saya, saya juga bisa merugikan anda”. Orientasi ini tak mempersoalkan kesetiaan, rasa terima kasih dan keadilan sebagai latar belakang pelaksanaan etika.

  • 3. Orientasi konformitas

Orientasi ini sering disebut orientasi ”anak manis” dimana seseorang cenderung mempertahankan harapan kelompoknya, serta memperoleh persetujuan kelompoknya, sedangkan moral adalah ikatan antar individu. Tingkah laku konformitas dianggap tingkah laku wajar dan baik.

  • 4. Orientasi pada otoritas

Pada orientasi ini orang lebih cenderung melihat hukum, kewajiban untuk mempertahankan tata tertib sosial, religius, dan lain-lain yang dianggap sebagai nilai utama dalam kehidupan.

5.

Orientasi kontrak sosial

Orientasi ini dilatarbelakangi adanya tekanan pada persamaan derajat dan hak kewajiban timbal balik atas tatanan bersifat demokratis. Kesadaran akan relativitas nilai dan pendapat pribadi, pengutamaan pada prosedur dan upaya mencapai kesepakatan konstitusional dan demokratis, kemudian diangkat sebagai moralitas resmi kolompok tersebut.

  • 6. Orientasi moral prinsip suara hati, individual, komprehensif, dan universal.

Orientasi ini memberi nilai tertiggi pada hidup manusia, dimana persamaan derajat dan martabat menjadi suatu hal pokok yang di pertimbangakan.

Beberapa ahli mebedakan etika dengan moralitas. Menurut Sony Keraf (1991) moralitas adalah sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup dengan baik sebagai manusia. Nilai- nilai moral mengandung petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan lain sebagainya yang terbentuk secara turun-temurun melalui suatu budaya tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup dengan baik agar menjadi manusia yang benar-benar baik.

1.4 Pelanggaran Etika dan kaitannya dengan Hukum

Etika menjadi sebuah nilai yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah laku di dalam kehidupan kelompok tersebut. Tentunya tidak akan terlepas dari tindakan-tindakan tidak etis. Tindakan tidak etis yang di maksud disini adalah tindakan yang melangar etika yang berlaku dalam lingkungan kehidupan tersebut.

Jam husada (2002) mencatat beberapa faktor berpengaruh pada keputusan atau tindakan- tidakan tidak etis dalam sebuah perusahaan ,antara lain adalah:

a. Kebutuhan individu

Kebutuhan individu merupakan faktor utama penyebab terjadinya tindakan-tindakan tidak etis.

  • b. Tidak ada pedoman

Tindakan tidak etis bisa saja muncul karena tidak adanya pedoman atau prosedur- prosedur yang baku tentang bagaimana melakukan sesuatu.

  • c. Perilaku dan kebiasaan individu

Tindakan tidak etis bisa juga muncul karena perilaku dan kebiasaan individu, tanpa memperhatikan faktorlingkungan dimana individu itu berada.

  • d. Lingkungan tidak etis

Kebiasaan tidak etis yang sebelumnya sudah ada dalam suatu lingkungan, dapat mempengaruhi orang lain yang berada dalam lingkungan tersebut untuk melakukan hal serupa. Lingkungan tidak etis ini terkait pada teori psikilogi sosial, dimana anggota mencari konformitas dengan lingkungan dan kepercayaan pada kelompok.

  • e. Perilaku atasan

Atasan yang terbiasa melakukan tindakan tidak etis, dapat mempengaruhi orang-orang yang berada dalam lingkup pekerjaannya dalam melakukan hal serupa.

Etika juga tidak terlepas dari hukum urutan kebutuhan (needs thoery). Menurut kerangka berpikir Maslow, yang paling pokok adalah pemenuhan kebutuhan jasmaniah terlebih dahulu agar dapat melaksanakan urgensi kebutuhan ekstrim dan aktualisasi diri sebagai profesional (Drs,H, Malayu S.P. Hasibuan , 2009).

1.5

Berbagai Macam Etika yang Berkembang di Masyarakat

Jika etika dihubungkan dengan moral, kita akan berbicara tentang nilai dan norma yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Dan jika dilihat berdasarkan nilai dan norma yang terkandung didalamnya, etika dapat dikelompokkan dalam dua jenis;

  • a. Etika deskriptif

Etika deskriptif merupakan etika yang berbicara mengenai suatu fakta, yaitu tentang nilai dan pola perilaku manusia terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya dalam kehidupan masyarakat.

  • b. Etika normatif

Etika normatif merupakan etika yang memberikan penilaian serta hibauan kepada manusia tentang bagaimana harus bertindak sesuai norma yang berlaku.

Perbedaan

etika

deskriptif

dengan

etika

normatif

adalah

bahwa

etika

deskriptif

memberikan fakta sebagai dasar utnuk mengambil keputusan tentang perilaku yang akan dilakukan, sedangkan etika normatif memberikan penilaian sekaligus memberikan norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan di putuskan.

  • 1.6 Etika dan Teknologi; Tantangan Masa Depan Perkembangan teknologi yang terjadi dalam kehidupan manusia, seperti refolusi yang memberikan banyak perubahan pada cara berfikir manusia, baik dalam usaha pemecahan masalah, perencanaan maupun dalam pengambilan keputusan. Para pakar ilmu kognitif telah menemukan bahwa ketika teknologi mengambil alih fungsi-fungsi mental manusia, pada saat yang sama terjadi kerugian yang di akibatkan oleh hilangnya fungsi-fungsi tersebut dari kerja mental manusia. Perubahan yang terjadi pada cara berfikir manusia sebagai salah satu akibat perkembangan teknologi tersebut, sedikit banyak akan berengaruh terhadap pelaksanaan dan cara pandang manusia terhadap etika dan norma-norma dalam kehidupannya. Orang yang

biasanya berinteraksi secara fisik, melakukan komunikasi secara langsung dengan orang lain, karena perkembangan teknologi internet dan email maka interaksi tersebut menjadi kurang.

Teknologi sebenarnya hanya alat yang digunakan manusia untuk menjawab tantangan hidup. Jadi, faktor manusia dalam teknologi sangat penting. Ketika manusia membiarkan dirinya dikuasai oleh teknologi maka manusia yang lain akan mengalahkannya. Sebenarnya, teknologi dikembangkan untuk membantu manusia dalam melaksanakan aktifitasnya. Hal itu karena manusia memang memilki kterbatasan (Prof.Dr. Sondang P.Siagian .MPA, 2013).

BAB III KESIMPULAN

Etika merupakan karakter individu, dalam hal ini termasuk bahwa orang yang beretika adalah orang yang baik. Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Lawrence konhberg juga mencatat 6 orientasi tahap perkembangan moral yang dekat hubungannya, Orientasi pada hukuman, ganjaran, kekuatan fisik dan material, Orientasi hidonistis hubungan manusia, Orientasi konformitas, Orientasi pada otoritas, Orientasi kontrak sosial, Orientasi moral prinsip suara hati, individual, komprehensif, dan universal, Orientasi ini memberi nilai tertiggi pada hidup manusia, dimana persamaan derajat dan martabat menjadi suatu hal pokok yang di pertimbangakan.

Beberapa faktor berpengaruh pada keputusan atau tindakan-tidakan tidak etis dalam sebuah perusahaan , Kebutuhan individu, Tidak ada pedoman, Perilaku dan kebiasaan individu, Perilaku atasan, Lingkungan tidak etis. Berdasarkan nilai dan norma yang terkandung didalamnya, etika dapat dikelompokkan dalam dua jenis Etika deskriptif dan Etika normatif

Perkembangan teknologi yang terjadi dalam kehidupan manusia, seperti refolusi yang memberikan banyak perubahan pada cara berfikir manusia, baik dalam usaha pemecahan masalah, perencanaan maupun dalam pengambilan keputusan. Para pakar ilmu kognitif telah menemukan bahwa ketika teknologi mengambil alih fungsi-fungsi mental manusia, pada saat yang sama terjadi kerugian yang di akibatkan oleh hilangnya fungsi-fungsi tersebut dari kerja mental manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Drs,H, Malayu S.P. Hasibuan , 2009, manajemen sumber daya manusia, jakarta:Bumi Aksara

http://www.tuk.lsp-telematika.or.id/download/203/203.doc

Prof.Dr. Sondang P.Siagian .MPA, 2013, manajemen sumber daya manusia, jakarta:Bukti Aksara