Anda di halaman 1dari 12

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat

GREEN CHEMISTRY, GREEN INDUSTRY

Green Chemistry atau Kimia Hijau adalah suatu konsep atau


falsafah baru yang mendorong desain dari sebuah produk atau pun proses untuk
meminimalisasi konsumsi maupun produksi zat-zat (substansi) berbahaya. Dari definisi
tersebut, Green Chemistry memiliki misi, yaitu mendukung terciptanya teknologi kimia
inovatif yang mampu mereduksi atau mengeliminasi zat-zat berbahaya dalam desain, industri,
dan penggunaan produk-produk kimia. Pencanangan Green Chemistry berasal dari beberapa
subbidang ilmu kimia, yaitu Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia, Kimia Fisika,
dan Kima Analitik. Sedikit berbeda dengan cakupan bahasan kimia lingkungan yang
membahas mengenai aspek-aspek kimia dalam lingkungan, Green Chemistry lebih
memfokuskan pada usaha-usaha untuk mengurangi produksi zat-zat berbahaya dan
memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia.
Jika ada pertanyaan, apakah Green Chemistry itu kita butuhkan?. Jawaban yang
paling tepat tentu saja adalah sangat dibutuhkan. Hal ini berkaitan dengan dibutuhkannya
produk kimia yang lebih hijau. Dalam artian, lebih ramah lingkungan. Hal ini disebabkan
oleh kimia yang tidak dapat dipungkiri lagi merupakan bagian yang sangat penting dalam
kehidupan sehari-hari kita. Selain itu, perkembangan kimia juga membawa masalah baru
dalam lingkungan dan memberikan pengaruh yang tidak terduga. Melalui Green Chemistry,
diharapkan produk-produk yang menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari adalah seperti
skema berikut ini

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


Ryoji Noyori, seorang peraih hadiah Nobel Kimia di tahun 2001, mengajukan tiga
aspek pengembangan kimia hijau pada tahun 2005, yaitu karbon dioksida superkritis sebagai
pelarut hijau, hidrogen peroksida sebagai agen oksidasi hijau, dan penggunaan hidrogen
dalam sintesis senyawa asimetris. Aspek-aspek tersebut menjadi lebih bervariasi seiring
dengan berkembang pesatnya semangat ilmuwan dalam berbagai kegiatan di bidang kimia
hijau. Beberapa contoh aspek yang dikembangkan dari tiga aspek sebelumnya, antara lain
proses kimia dalam reaktor ukuran mikro, proses kimia yang melibatkan larutan ionik (ionic
liquids), dan reaksi kimia dalam pelarut multi fasa.
Pengembangan dari beberapa aspek yang dicetuskan oleh Ryoji Noyori telah banyak
dilakukan oleh peneliti-peneliti di berbagai belahan dunia. Selama ini diketahui bahwa
karbon dioksida digunakan dalam berbagai reaksi kimia. Di industri kimia gas tidak berwarna
ini digunakan dalam memproduksi urea untuk pupuk, asam salisilat untuk bahan aspirin, dan
metanol untuk zat aditif bahan bakar. Supercritical Carbon Dioxide adalah karbon dioksida
(CO2) yang berada dalam fase cair (liquid phase), tepat atau di atas temperatur dan tekanan
kritis. Dalam hal ini pada temperatur di atas 31,1 oC dan tekanan 73,3 atm. Zat ini banyak
dimanfaatkan sebagai pelarut dalam industri karena memiliki kandungan racun yang rendah
dan tidak memiliki dampak lingkungan yang berarti. Selain itu, rendahnya temperatur dari
proses dan stabilitas CO2 memungkinkannya berfungsi sebagai pelarut seperti aquades. Pada
kondisi superkritis, CO2 memiliki tegangan permukaan dan viskositas yang rendah sehingga
kecepatan transfer massa yang tinggi dapat dicapai. Hal ini merupakan kondisi ideal untuk
ekstraksi senyawa-senyawa dengan derajat pemulihan yang tinggi dalam waktu yang singkat
dan dengan pemisahan produk yang mudah.
Salah satu contoh pemanfaatan supercritical carbondioxide dapat dilihat pada gambar
berikut :

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


Peneliti dari Fraunhofer Institute for Environmental, Safety and Energy Technology di
Oberhausen, Jerman mengembangkan ide pengujian bagaimana karbon dioksida dapat
digunakan untuk impregnasi plastik. Impregnasi adalah proses memenuhi pori suatu benda
untuk mengubah sifat benda tersebut. Pada suhu 30,1C dan tekanan 73.8 bar, karbon
dioksida berada dalam kondisi superkritis yang menghasilkan gas mirip pelarut. Dalam
kondisi ini, karbon dioksida dapat dibawa ke polimer atau bertindak sebagai pembawa
sehingga pewarna, aditif, senyawa medis, dan substansi lainnya dapat dilarutkan. Dalam hal
ini karbon dioksida cair dipompa ke kontainer bertekanan tinggi dengan komponen plastik
yang akan diimpregnasi. Secara bertahap hal itu dapat meningkatkan suhu dan tekanan
hingga gas mencapai kondisi superkritis. Saat kondisi tersebut dicapai, tekanan ditingkatkan.
Pada 170 bar, pigmen dalam bentuk bubuk larut sepenuhnya dalam karbon dioksida,
kemudian berdifusi dengan gas ke plastik. Secara keseluruhan proses tersebut hanya
memerlukan waktu beberapa menit. Saat kontainer dibuka, gas keluar melalui permukaan
polimer, tetapi pigmen tetap ada dan tidak dapat dihapus.
Dalam pengujian, para peneliti tersebut pun berhasil melakukan impregnasi
polikarbonat dengan partikel nano yang menghasilkan produk anti bakteri. Bakteri E. coli,
yang ditempatkan dalam wadah plastik hasil impregnasi ternyata tidak tumbuh. Dengan
demikian, teknologi tersebut dapat diaplikasikan untuk pegangan pintu yang diimpregnasi
dengan partikel nano yang sama. Metode itu dapat dimanfaatkan dalam penyesuaian
komponen plastik bernilai tinggi dan produk gaya hidup, seperti penutup telepon genggam.
Selain itu, berbeda dengan produk dengan pewarna lainnya, warna karbon dioksida
aman bagi kesehatan dan lingkungan. Pewarna lainnya lebih mudah rusak dan tidak tahan
gores. Proses impregnasi dengan karbon dioksida dapat digunakan untuk mewarnai lensa
kontak. Dalam hal ini lensa kontak dapat divariasikan dengan senyawa farmasi yang dapat
dilepaskan ke mata secara perlahan-lahan sebagai perawatan bagi glukoma.
Sebagai penjelasan aspek kedua dari Green Chemistry yang dinyatakan sebelumnya,
hidrogen peroksida (H2O2) adalah suatu senyawa yang biasa digunakan sebagai dalam proses
pemutihan kertas (paper-bleaching) dan desinfektan. Hidrogen peroksida merupakan salah
satu senyawa yang termasuk dalam oksidator kuat. Melalui proses katalisasi, dapat dihasilkan
radikal hidroksil (-OH) yang memiliki potensial oksidasi di bawah Fluor (F). Keunggulan
hidrogen peroksida dibandingkan senyawa yang lain adalah tidak meninggalkan residu yang
berbahaya. Selain itu, kekuatan oksidatornya juga dapat disesuaikan (adjustable). Contoh
reaksi yang dioksidasi oleh hidrogen peroksida dtunjukkan oleh gambar berikut
3

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat

Sintesis kiral (chiral synthesis) adalah suatu proses sintesis organik yang
menghasilkan suatu senyawa dengan elemen kiralitas yang diinginkan. Ada tiga jenis
pendekatan sintesis kiral, salah satunya adalah katalisasi asimetris (Assymetric Catalysis).
Pada intinya, teknik yang dikembangkan oleh William S. Knowles, Ryoji Noyori, dan K.
Barry Sharpless ini menunjukkan bahwa langkah dari penelitian skala kecil menuju ke arah
aplikasi industri dapat terjadi secara singkat. Selain itu, penemuan mereka sangat bermanfaat
bagi pengembangan industri farmasi atau obat-obatan.
Aspek-aspek yang dikembangkan dalam Green Chemistry erat kaitannya dengan 12
prinsip dasar Green Chemistry yang dikemukakan oleh Paul Anastas dan John C. Warner agar
definisi mengenai istilah tersebut lebih jelas. Prinsip-prinsip dasar yang diberlakukan dalam
Green Chemistry tersebut antara lain :
1. Mencegah terbentuknya sampah sisa proses kimia dengan cara merancang sintesa
kimia yang mencegah terbentuknya sampah atau polutan.
2. Merancang bahan kimia dan produk turunannya yang aman yang menghasilkan
produk kimia yang efektif tapi tanpa atau rendah efek racunnya.
3. Merancang sintesa kimia yang jauh berkurang efek bahayanya, berarti merancang
proses dengan menggunakan dan menghasilkan senyawa yang memiliki sedikit atau
tanpa efek beracun terhadap manusia dan lingkungan.
4. Memanfaatkan asupan proses kimia dari material terbaharukan. Bahan baku dari
produk agrikultur atau aquakultur bisa dikatakan sebagai bahan baku terbaharukan,
sedangkan hasil pertambangan dikatakan sebagai bahan tak dapat diperbaharui.
5. Menggunakan katalis. Reaksi yang memanfaatkan katalis memiliki keunggulan
karena hanya menggunakan sedikit material katalis untuk mempercepat dan
menaikkan produktifitas dan proses daur reaksi.
6. Menghindari proses derivatisasi tehadap senyawa kimia. Artinya menghindari
tahapan pembentukan senyawa antara atau derivat ketika melakukan reaksi, karena
agen derivat tersebut menambah hasil samping atau hanya terbuang percuma sebagai
sampah.
7. Memaksimalkan ekonomi atom dengan jalan merancang proses sehingga hasil akhir
mengandung proporsi maksimum terhadap asupan awal proses sehingga tidak
menghasilkan sampah atom.
4

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


8. Penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang lebih aman dengan cara mencoba
menghindari penggunaan pelarut, agen pemisah, atau bahan kimia pembantu lainnya.
Pelarut digunakan seminimal mungkin dan tidak menimbulkan masalah pencemaran
atau kerusakan terhadap lingkungan dan atmosfer. Air adalah contoh pelarut segala
(universal solvent) yang ramah lingkungan
9. Meningkatkan efisiensi energi yaitu melakukan reaksi pada kondisi mendekati atau
sama dengan kondisi alamiah, misalnya suhu ruang dan tekanan atmosfer.
10. Merancang bahan kimia dan produknya yang dapat terdegradasi setelah digunakan
menjadi material tidak berbahaya atau tidak terakumulasi setelah digunakan.
11. Analisis pada waktu bersamaan dengan proses produksi untuk mencegah polusi.
Dalam sebuah proses, dimasukkan tahapan pengawasan dan pengendalian bersamaan
dengan dan sepanjang proses sintesis untuk mengurangi pembentukan produk
samping.
12. Memperkecil potensi kecelakaan yaitu merancang bahan kimia dan wujud fisiknya
yang dapat mengurangi potensi kecelakaan kimia seperti ledakan, kebakaran, atau
pelepasan racun ke lingkungan.
Berdasarkan pada prinsip-prinsip Green Chemistry sangat erat kaitannya dengan
Green Industry. Dalam hal ini dunia usaha atau industri tidak lagi hanya memperhatikan
berapa keuntungan yang didapat, tetapi juga harus memperhatikan aspek lingkungan. Industri
berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangan
faktor lingkungan hidup. Hal ini menjadi penting karena pembangunan suatu negara bukan
hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan setiap insan manusia berperan untuk
mewujudkan kesejahteraan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Green industry adalah sebuah istilah yang dikenal melalui International
Conference on Green Industry in Asia di Manila, Filipina, pada tahun 2009 lalu.
Konferensi internasional tersebut berlangsung atas kerja sama antara United Nations
Industrial Development Organization, United Nations Economic and Social Commission
for Asia and The Pacific, United Nations Environment Programme, dan International
Labour Organization yang dihadiri 22 negara, termasuk Indonesia. Dalam konsep
tersebut, industri harus menjadi bagian dari masyarakat yang turut peduli akan kelestarian
lingkungan secara nasional, regional, bahkan internasional. Green industry telah menjadi
sebuah strategi pemasaran yang saat ini semakin besar perannya dalam mengambil hati
konsumen. Fokusnya terletak pada konsumen yang relatif lebih terdidik dan peduli pada
masalah-masalah lingkungan. Konsumen pada level ini sebagian besar terdapat di negara5

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


negara di kawasan Eropa dan Amerika. Industri yang menerapkan konsep Green Industry
semakin agresif menerapkan standardisasi proses produksi dan produk jadi yang ramah
lingkungan dalam peredaran barang serta jasa. Lebih dari itu, standardisasi ini telah
dijadikan salah satu alat untuk menyeleksi kualitas produk yang masuk ke pasar.
Saat ini semakin banyak negara yang memasukkan isu eco-product (produk ramah
lingkungan) dalam aturan main kebijakan perdagangan dan investasi. Bahkan mulai
mengaitkan standar proses produksi dan produk jadi dengan kesehatan lingkungan.
Dengan demikian, tuntutan untuk mengembangkan eco-product telah menjadi isu yang
semakin penting dan strategis dalam upaya pengembangan daya saing perekonomian suatu
negara. Dengan kata lain, penguasaan green technology dan penerapan proses green
industry yang menghasilkan produk ramah lingkungan akan menjadi semakin penting bagi
peningkatan daya saing suatu bangsa.
Kepentingan konsumen yang mengharapkan produk-produk ramah lingkungan dan
kepentingan produsen menginginkan perbaikan proses produksi memenuhi kriteria ramah
lingkungan, tidak semata-mata hanya untuk melahirkan biaya dan mengurangi
keuntungan. Hal terpenting adalah sebagai investasi dan perluasan daya penetrasi pasar
untuk melahirkan keuntungan lebih besar pada masa mendatang. Sementara itu, saat ini
Indonesia telah diakui dunia sebagai negara yang aktif dalam mencari solusi atas isu
masalah lingkungan dan pemanasan global. Keseriusan tersebut terpaparkan pada
Peraturan Presiden No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, yang di
dalamnya disebutkan bahwa proses pembangunan industri harus menerapkan prinsip
pembangunan industri berkelanjutan yang didasarkan pada beberapa aspek penting, di
antaranya pembangunan lingkungan hidup dan pengembangan teknologi.
Sebagai tindak lanjut akan keseriusan Indonesia dalam mewujudkan Green Industry,
Kamar Dagang dan Industri Indonesia bekerja sama dengan Dewan Nasional Perubahan
Iklim tengah menyiapkan road map pengembangan Green Industry untuk dibawa dalam
konferensi iklim di Meksiko pada akhir November sampai Desember tahun ini. Road map ini
diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah mengenai apa saja yang perlu dilakukan
untuk menurunkan emisi CO2 sebesar 26% pada 2020. Green Industry juga diharapkan
mampu mendorong peningkatan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


internasional karena telah menerapkan teknologi, produktivitas, dan industri ramah
lingkungan.
Selain itu, dalam rangka penerapan Green Chemistry dan Green Industry pemerintah
Indonesia melalui Kementerian Negara dan Lingkungan Hidup (KNLH) mengembangkan
kebijakan dan pelaksanaan Program Penilaian Peringkat dan Kinerja Perusahaan atau yang
disebut dengan PROPER
Program ini merupakan instrumen kebijakan alternatif untuk mendorong penaatan dan
kepedulian perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui penyebaran informasi
tingkat kinerja penaatan perusahaan kepada publik dan stakeholder (public information
disclosure). PROPER dikembangkan oleh negara-negara di Asia dan Amerika latin sejak
tahun 1995. Pada tahun 1996, program ini menerima Zero Emission Award dari University of
United Nations Tokyo. Perusahaan atau industri yang berhak mendapatkan PROPER ini
adalah yang bergerak di bidang pertambangan, energi, migas, manufaktur, agroindustri,
rumah sakit, dan hotel. Penilaian berdasarkan kategori diklasifikasikan menurut warna, yaitu
hitam, merah, biru, hijau, dan emas (penghargaan tertinggi). Melalui PROPER ini diharapkan
industri di Indonesia semakin bersemangat dalam menerapkan Green Industry.
Dicky Hindarto dari Dewan Nasional Perubahan Iklim menjelaskan dalam workshop
Strategi Menuju Green Industry mengemukakan pendapatnya bahwa perusahaan di
Indonesia dapat membiayai Green Industry melalui tiga cara, yaitu melalui pasar karbon
(market), non-market (Fund) dan peningkatan efisiensi. Pada hakikatnya Green Industry
adalah usaha suatu perusahaan untuk dapat mengurangi jejak karbon dengan konsep
pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, Green Industry menjadi sebuah peluang besar
untuk meningkatkan ekonomi. Penerapan Green Industry dapat dilakukan dengan
mempertemukan tiga dasar bidang yaitu sosial, lingkungan dan ekonomi.
Di Indonesia sudah cukup banyak industri yang menerapkan prinsip-prinsip Green
Chemistry melalui konsep Green Industry. Ada 145 perusahaan di seluruh Indonesia yang
sudah melakukan konsep itu.Kelompok usaha Astra yang bergerak dalam berbagai bidang
misalnya, telah melakukan konsep Green Industry sejak tahun 90-an. Menurut M. Riza
Deliansyah, Head Environment & Social Responsibility Division Astra Internasional
mengatakan bahwa pihaknya selama ini telah berkomitmen melaksanakan konsep Green
Industry

melalui

tiga

aspek

yaitu

sosial,

lingkungan

dan

ekonomi.

Social

responsibility diterapkan dengan prinrip care to local people.


Astra Argo Lestari telah mengembangkan 65.000 hektar plasma yang telah membantu
38.000 kepala keluarga. Dalam perkebunan plasma tersebut, masyarakat lokal yang memiliki
7

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


lahan seluas 1-4 hektar mendapat bantuan untuk mengembangkannya agar mandiri dan
menghasilkan. Program plasma ini berhasil mengangkat kualitas kehidupan petani lokal
dengan cara berkelanjutan ketika saat ini rata-rata petani dapat menghasilkan uang 5 hingga
10 juta rupiah per bulannya.
Mengenai penerapan ramah lingkungan, PT Astra Argo Lestari juga telah menerapkan
environmentally friendly melalui prinsip care to planet. Perusahaan tersebut secara khusus
menggunakan bahan bakar produksi dari limbah cangkang, serat sawit, dan bahan bakar solar
pada instalasi awal. Selanjutkan proses composting limbah padat dan water management
dilakukan di lahan gambut sehingga dapat menjaga tingkat air dan mengurangi emisi. Hal
lain yaitu penggunaan agen biologi untuk hama seperti burung hantu dan ulat, konservasi
mangrove di pinggir pantai Sumatra Barat, dan High Conservation Value (HCV). Hal-hal
tersebut dilakukan dalam rangka mengelola kebun sawit yang sesuai dengan prinsip Green
Industry sehingga pada tahun 2010 mendapatkan penghargaan dari Kementerian Lingkungan
Hidup.
Terkait dengan masih banyaknya industri, khususnya industri sawit yang masih
melanggar undang-undang khususnya pengolahan lahan, Norman Jiwan, Kepala Departemen
Perubahan Iklim Sawit Watch mengatakan yang perlu diperhatikan dan diberi sangsi tegas
adalah perlu diwaspadai dalam industri perkebunan berkelanjutan adalah tantangan dari para
mafia hukum sektor kehutanan dengan berbagai modusnya. Banyak contoh kasus kekerasan
mewarnai praktik perkebunan sawit di Indonesia. Bank Dunia saja pernah menginvestigasi
langsung praktek sawit yang menunjukkan banyaknya ketidaksesuaian dengan prinsip green
industry, yang menyebabkan Bank Dunia melakukan moratorium investasi sawit di seluruh
dunia, kata Norman Jiwan.
Dalam praktiknya, Green Industry memerlukan peranan perbankan. Dalam hal ini
peran perbankan adalah dalam bentuk penerapan Green Banking, yaitu suatu konsep
pembiayaan atau kredit dan produk-produk jasa perbankan lainnya yang mengutamakan
aspek-aspek keberlanjutan, baik ekonomi, lingkungan sosial-budaya, maupun teknologi,
secara bersamaan. Dalam hal ini perbankan diharapkan lebih berfokus pada pemberian
kredit pada usaha-usaha yang tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan, mengarah ke
bisnis yang berkelanjutan dan diterima masyarakat, tidak mengeksploitasi tenaga kerja
dengan membayar upah rendah, tidak menggunakan tenaga kerja di bawah umur, tidak
menghasilkan produk yang berbahaya, perusahaan yang terlibat dalam konservasi dan daur
ulang, menjalankan etika dalam berusaha, tidak terlibat dalam pelanggaran hak asasi
8

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


manusia, tidak terlibat dalam pornografi, perjudian, alkohol dan tembakau, serta tidak
terlibat dalam persenjataan dan pembuatan senjata nuklir.
Green banking dapat diterapkan dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, Surat Edaran Bank Indonesia No. 21/9 tertanggal 25 Maret 1989 perihal
kredit investasi dan penyertaan modal yang mengharuskan memperhatikan masalah
analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), UU Perbankan No. 10 Tahun 1998 yang
membahas tentang minimalisasi risiko lingkungan; prinsip syariah, Peraturan Bank
Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tentang keharusan melakukan penilaian prospek usaha debitor
dikaitkan dengan upaya pemeliharaan lingkungan, dan peraturan lainnya yang terkait.
Perbankan asing dan perbankan di negara-negara tetangga kini sudah banyak yang
melaksanakan Green Banking, bahkan mereka telah memasukkan dalam laporan tahunan
mereka. Sementara itu, bagi perbankan nasional, penerapan green banking masih bersifat
voluntary, belum mandatory. Compliance perusahaan kepada peraturan dan undangundang belum sepenuhnya berjalan. Meski demikian, Bank Indonesia terus mendorong
perbankan menerapkan prinsip penyaluran kredit yang berorientasi pada pelestarian
lingkungan hidup. Bahkan kini BI telah memandang perlu untuk meningkatkan pengaturan
green banking dengan memasukkan klausul penilaian manajemen risiko. Saat ini
ketentuan

tersebut

memang

masih

sebatas

syarat

dalam

AMDAL,

belum

memperhitungkan biaya kerugian lingkungan yang muncul dari suatu proyek.


Seiring berkembangnya waktu, kesadaran para pelaku industri akan konsep Green
Industry ini semakin berkembang. Hampir setiap industri di negara-negara maju mulai
menerapkan konsep kerja ini. Sementara itu, para ilmuwan pun banyak yang mulai
mengadakan penelitian mendalam mengenai segala sesuatu mengenai konsep ini. Bahkan
sejak tahun 1995, dibagikan The Presidential Green Chemistry Challenge Awards, kepada
individu ataupun korporat yang dianggap telah turut andil dalam memberikan inovasi dalam
Green Chemistry. Semua ini, dilakukan dengan satu tujuan. Yaitu untuk menyelamatkan bumi
kita yang tercinta ini.
Kesinambungan dalam ilmu dan teknologi dimulai ketika kita mulai berfikir
bagaimana untuk memecahkan masalah atau bagaimana untuk mengaplikasikan ilmu ke
dalam teknologi. Kimia sebagai ilmu dari materi dan transformasinya berperan penting dalam
9

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


proses ini dan menjembatani ilmu fisika, material dan hayati. Hanya proses kimia yang telah
dicapai melalui optimasi yang hati-hati dalam efisiensi akan membawa ke arah produksi dan
produk yang berkesinambungan. Ilmuwan dan teknokrat yang menemukan, mengembangkan
dan mengoptimasi proses tersebut, oleh karenanya mereka memegang peranan penting.
Kepedulian, kreativitas dan pandangan ke depan mereka dibutuhkan untuk menghasilkan
reaksi dan proses kimia dengan efisiensi maksimum TermKimia Hijau telah digunakan
untuk usaha-usaha untuk mencapai tujuan ini. Beberapa bentuk kepedulian itu tercantum
dalam beberapa hasil penelitian berikut ini
1.Vitamin C (asam askorbat) untuk proses pembuatan polimer,
Professor

Krzysztof

Matyjaszewski

dari

Carnegie

Mellon

University

telah

mengembangkan pelarut yang aman bagi lingkungan. Proses yang ditelitinya disebut
Atom Transfer Radical Polymerization (ATRP) yang biasa dilakukan untuk proses
pembuatan polimer.Menariknya proses ATRP ini dilakukan dengan Vitamin C (asam
askorbat) sebagai pereduksi (reduction agent).Tentu saja hal ini menghemat pemakaian
katalis serta aman bagi lingkungan.
2. Gula dan minyak sayur sebagai bahan baku cat
Procter and Gamble mengembangkan cat yang yang dapat diperbaharui. Produsen cat
biasanya memakai senyawa alkid sebagai bahan baku cat karena sifatnya tahan lama,
mengkilap dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan misalnya bahan bangunan,
industri metal, alat pertanian dan konstruksi. Namun sayangnya senyawa ini beracun. Oleh
karena itu Procter & Gamble menciptakan formulasi cat berbahan baku minyak
Sefose menggantikan bahan baku yang berasal dari turunan minyak bumi. Minyak
Sefose dibuat dari gula dan minyak sayur yang jauh lebih aman bahkan pemakaiannya
hanya separuh dari senyawa alkid
3. Gula pati dan selulosa sebagai bahan bakar.
Virent Energy Systems, Inc. membuat bahan bakar yang berasal dari Gula pati dan
selulosa, Cadangan minyak bumi yang terus menipis mendorong perusahaan ini mencari
bahan bakar alternatif dari sumber yang dapat diperbaharui.Dengan bahan dasar air dan
katalis khusus gula pati dan selulosa dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif melalui
10

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat


proses yang hemat energi dan mudah dimodifikasi sesuai kebutuhan. Ini suatu terobosan
yang menarik untuk mengimbangi harga minyak bumi yang tidak stabil.
4.Pemakaian enzim untuk pembuatan bahan dasar kosmetik .
Eastman Chemical dikenal sebagai perusahaan yang membuat kosmetik dan perlengkapan
mandi . Perusahaan seperti ini seringkali memakai asam kuat dan pelarut yang beracun.
Pemakaian bahanbahan jenis ini membutuhkan proses yang mahal . untuk mengatasi
masalah ini Eastman Chemical mengembangkan teknologi pembuatan ester yang biasa
digunakan sebagai bahan baku dengan secara enzimatis.
Green chemistry

is not a solution to all environmental problems, but the most

fundamental approach to preventing pollution.


Referensi :
http://www.asdlib.org/onlineArticles/ecourseware/Manahan/GreenChem-2.pdf
http://www.oc-praktikum.de/en/articles/pdf/why_en.pdf
http://www.wiley-vch.de/books/sample/3527309853_c01.pdf
http://old.iupac.org/projects/posters01/tundoGCE01.pdf
http://coeh.berkeley.edu/docs/GreenChemBrief_final.pdf
http://www.epa.gov/region2/p2/tucker.pdf
http://www.greenradio.fm/business/green-bussines/5107-green-industry-sebuah-keharusan
http://gagasanhukum.wordpress.com/2010/12/16/urgensi-green-banking-menciptakan-greenindustry/

11

Tugas 7 Mata Kuliah Kimia dan Masyarakat

12