Anda di halaman 1dari 60

SISTEM OPERASI TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

PADA JARINGAN LISTRIK


PT. PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI AREA PELAKSANA
PEMELIHARAAN SALATIGA GARDU INDUK 150KV
GEJAYAN

LAPORAN
PRAKTEK KERJA NYATA I
Disusun Oleh :
Dimas Wahyu Sasongko
No. Mahasiswa

: 121.041.018

Jurusan

: Teknik Elektro

Program Studi

: Teknik Elektro

Konsentrasi

: Ketenagaan

Jenjang

: Strata-1

Fakultas

: Teknologi Industri

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND


YOGYAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN
SISTEM OPERASI TRANSFORMATOR DISTRIBUSI
PADA JARINGAN LISTRIK
PT. PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI AREA PELAKSANA
PEMELIHARAAN SALATIGA GARDU INDUK 150KV
GEJAYAN
Praktek Kerja Nyata I merupakan salah satu syarat untuk memenuhi kurikulum
Strata-1 Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Disusun Oleh :

Dimas Wahyu Sasongko


No. Mahasiswa

: 121.041.018

Jurusan

: Teknik Elektro

Program Studi

: Teknik Elektro

Jenjang

: Strata-1

Fakultas

: Teknologi Industri

Telah diperiksa dan disetujui oleh;


Yogyakarta , Juni 2015
Ketua Jurusan Teknik Elektro

Dosen Pembimbing

(Ir. Muhammad Suyanto,M.T)

(Mujiman. ST., MT)

NIK : 89.0760.378.E

NIK : 84.0754.323.E

ii

LEMBAR PENGESAHAN
SISTEM OPERASI TRANSFORMATOR DISTRIBUSI
PADA JARINGAN LISTRIK
PT. PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI AREA PELAKSANA
PEMELIHARAAN SALATIGA GARDU INDUK 150KV
GEJAYAN
Praktek Kerja Nyata I merupakan salah satu syarat untuk memenuhi kurikulum
Strata-1 Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
Disusun Oleh :

Dimas Wahyu Sasongko


No. Mahasiswa

: 121.041.018

Jurusan

: Teknik Elektro

Program Studi

: Teknik Elektro

Jenjang

: Strata-1

Fakultas

: Teknologi Industri

Telah Disahkan Oleh :


ASMAN HASET
BC YOGYAKARTA

SPV JARGI KENTUNGAN DAN


GEJAYAN

SUHARDI

NURKHOLIS
MANAJER

BUDI SANTOSO

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, karunia serta izin-Nya lah penulis berhasil menyelesaikan laporan Praktek
Kerja Nyata (PKN) yang penulis beri judul Sistem Operasi Transformator
Distribusi Pada Jaringan Listrik PT. PLN (Persero) P3B Jawa Bali Area
Pelaksana Pemeliharaan Salatiga Gardu Induk 150KV Gejayan.
Praktek Kerja nyata ini penulis laksanakan selama kurang lebih satu bulan
terhitung tanggal 4 Mei 2015 sampai 29 Mei 2015. Praktek kerja nyata merupakan
salah satun syarat yang harus dipenuhi untuk memenuhi persyaratan Akademik di
Jurusan Teknik Elektro Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
Kegiatan ini dapat menjadi media pembelajaran bagi penulis untuk dapat
menerapkan ilmunya dibangku perkuliahan.
Selama proses pelaksanaan Kerja Praktek, tidak lupa penulis sampaikan
penghargaan dan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
penulisan dalam melaksanakan kerja praktek dan menyusun laporan ini sehingga
dapat terselesaikan dengan baik. Oleh sebab itu perkenankanlah penulis
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Sudarsono, MT. Selaku Rektor Institut Sains & Teknologi
AKPRIND Yogyakarta.
2. Bapak Muhammad sholeh, S.T., M.T selaku Dekan Institut Sains & Teknologi
AKPRIND Yogyakarta.

iv

3. Bapak Ir. Muhammad Suyanto, MT. selaku ketua Jurusan Teknik Elektro dan
Pembimbing Praktek Kerja Nyata. Terima kasih atas dukungan dan bimbingan
yang diberikan kepada saya.
4. Bapak Mujiman ST, MT selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktek Nyata,
Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta.
5. Bapak Budi Santoso selaku Manajer APP Salatiga yang telah memberikan ijin
untuk melaksanakan kerja praktek di APP Salatiga.
6. Bapak Nurkholis selaku pembimbing lapangan kerja praktek yang senantiasa
memberikan pengarahan tentang teknis pelaksanaan kerja praktek
7. Seluruh Staf dan karyawan PT. PLN (PERSERO) P3B Jawa Bali Area
Pelaksana Pemeliharaan Salatiga Gardu Induk 150 KV Gejayan Yogyakarta
atas kesediaan dan kerja samanya selama pelaksanaan kerja praktek .
8. Kepada kedua orang tua saya yang telah membesarkan dan memberikan
motivasi kuat dalam melaksankan kerja praktek ini.
9. Rekan-rekan mahasiswa yang melaksanakan kerja praktek yang juga
merupakan teman sekelompok selama pelaksanaan kerja praktek
10. Kepada seseorang yang saya cintai yang selalu memberikan petunjuk sekaligus
motivasi kepada penulis baik sebelum, selama, ataupun sesudah pelaksanakan
kerja praktek
11. Rekan-rekan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Institut Sains & Teknologi
Akprind Yogyakarta yang telah memberikan masukan-masukan dalam
penyusunan laporan ini

12. Semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan maupun pembuatan
laporan Kerja Praktek ini, walaupun tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna dan sudah barang
tentu masih banyak kekurangannya baik segi teknik, penyajian dan bahasa. Oleh
sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
perbaikan dimasa yang akan datang. Dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
kita semua

Yogyakarta, Juni 2015

Penyusun

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................i


HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
KATA PENGANTAR ...................................................................................iv
DAFTAR ISI ................................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ x

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ........................................................................ 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................... 2
1.3 Maksud dan Tujuan ................................................................ 2
1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ............................................ 3
1.5 Batasan Masalah..................................................................... 4

BAB II

TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN


2.1 Sejarah PT.PLN (Persero) ....................................................... 5
2.2 Visi, Misi dan Motto Perusahaan ............................................ 6

BAB III METODE PENGAMBILAN DATA


3.1 Metode Pengumpulan Data ................................................... 10
3.2 Metode Analisis Data ............................................................ 13

vii

BAB IV

LANDASAN
4.1 Umum..................................................................................... 16
4.2 Sistem Jaringan Listrik ........................................................... 19
4.3 Struktur Distribusi Tenaga Listrik Gardu Induk .................... 19
4.4 Gardu Hubung(Switch Substation) ........................................ 20
4.5 Gardu Distribusi ..................................................................... 21
4.6 Gangguan ............................................................................... 21
4.7 Konsep Dasar Keandalan Sistem Distribusi ......................... 22
4.8 Penertian Relay Differensial .................................................. 38
4.9 Gas Insulated Switchger ......................................................... 41

BAB V

KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan ............................................................................ 49
5.2 Saran ....................................................................................... 50

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

viii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Struktur Organisasi PT.PLN (Persero) APP Salatiga................. 9
Gambar 3.1. Konfigurasi Gardu Induk Gejayan. ........................................... 15
Gamabr 4.1. Konfigurasi Saluran Distribusi Secara Umum Gardu Induk ..... 17
Gambar 4.2. Struktur Distribusi GI 150KV Gejayan ..................................... 20
Gambar 4.3. Transformator Merk Starlite...................................................... 23
Gambar 4.4. Transformator Distribusi Merk XIAN SFZ 60000 ................... 24
Gambar 4.5. Contoh Transformator 3 phasa .................................................. 25
Gambar 4.6. Transformator Tipe Conventional Beradiator ........................... 30
Gambar 4.7. Prinsip Hukum Kirchoff ............................................................ 39
Gambar 4.8. Pengawatan Dasar Relay Differensial ....................................... 39
Gambar 4.9. Sistem Pengaman Relay Differensial ........................................ 40
Gambar 4.10. GIS Indoor PLN 150KV GI Gejayan ...................................... 41
Gambar 4.11. Molekul Sulfur Heksa Fluorida(SF6)...................................... 44
Gambar 4.12. Single Line Diagram Gardu Induk Single Busbar .................. 46
Gambar 4.13. Single Line Diagram Gardu Induk Sistem Double Busbar ..... 47
Gambar 4.14. Single Line Diagram Gardu Induk Satu Setengah Busbar ...... 48

ix

DAFTAR TABEL

Halaman
Table 3.1. Data Pengukuran Transformator 150 KV ..................................... 10
Table 3.2. Data Pengukuran Belitan Transformator I 20KV ......................... 11
Tabel 3.3. Pengukuran Pada Transformator II 150KV Merek XIAN SFZ
150KV/20KV ................................................................................ 11
Table 3.4. Data Pengukuran Belitan Transformator II 20KV ........................ 12
Tabel 3.5. Pengukuran Saluran Kabel Tegangan Tinggi 150 KV GI
Gejayan ......................................................................................... 13
Tabel 4.1. Spesifikasi Minyak Isolasi Baru ................................................. 28
Tabel 4.2. Spesifikasi Minyak Isolasi Pakai ................................................ 28
Tabel 4.3. Tipe Pendinginan Transformator ............................................... 31
Tabel 4.4. Karakteristik Gas SF6 .................................................................. 45

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Sistem keterandalan pada jaringan distribusi sangat besar peranannya untuk
memenuhi kebutuhan tenaga listrik pada setiap konsumen. Oleh karena peranannya
yang sangat penting bagi konsumen maka penyaluran listrik PT. PLN tidak boleh
terputus selama 24 jam. Hal ini akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar
bagi konsumen. Bagian dari sistem tenaga listrik yang paling dekat dengan
pelanggan adalah sistem distribusi. Sistem distribusi merupakan hal yang banyak
mengalami gangguan, sehingga masalah dalam operasi sistem distribusi adalah
mengatasi gangguan, jumlah gangguan dalam sistem distribusi relatif banyak
dibandingkan dengan jumlah gangguan pada bagian sistem yang lain seperti pada
unit pembangkit, saluran transmisi dan transformator gardu induk.
Sistem distribusi tenaga listrik merupakan suatu sistem penyalur energi
listrik dari pusat pembangkit tenaga listrik (power station) pada tingkat tegangan
yang diperlukan, pada umumnya terdiri dari beberapa bagian yaitu: Gardu induk,
Jaringan Distribusi Primer, Gardu Distribusi, Jaringan Distribusi Sekunder.
Populasi penduduk yang semakin tahun terus bertambah mengakibatkan kebutuhan
akan energi listrik juga semakin bertambah.

1.2

Rumusan Masalah
Agar

dapat

dicapainya

sasaran

yang

diharapkan,

penulis

menetapkan rumusan masalah dalam penyusunan laporan kerja praktek ini


antaranya:
1. Bagaimana cara operasi Transformator distribusi pada jaringan 150KV?
2. Bagaimana sistem pemodelan beban dan keadaan trafo distribusi
150KV?
3. Bagaimana cara perawatan dan pemeliharaan Trafo GIS di gardu induk
150 KV agar gardu bekerja dengan stabil serta melindungi baik
gangguan Pada jaringan listrik?

1.3

Tujuan dan Manfaat Praktek Kerja Nyata

a. Tujuan :
untuk memenuhi salah satu syarat dalam penyusunan tugas akhir yang
ada pada Jurusan Teknik Elektro , Fakultas Teknologi Industri, Institut
Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
Untuk meningkatkan keprofesionalan khusunya pada bidang keahlian
teknologi bagi mahasisawa dan memenuhui tuntutan peningkatan mutu
profesional dan sumber daya manusia (SDM) yang handal memenuhi
kebutuhan sub sektor industri,
Untuk memperdalam pengalaman/ wawasan sesuai dengan bidang yang
dipraktekkan serta untuk melatih kemampuan berfikir mengungkapkan
pendapat dan menyusun suatu laporan.

Untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya tentang pekerjaan yang


ada, sebagai bekal setelah selesai kuliah.
Manfaat Bagi Mahasiswa :
a. Memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang dunia kerja yang
sesungguhnya, khususnya di PT. PLN (Persero) P3B Jawa - Bali Area
Pelaksana Pemeliharaan Salatiga Gardu Induk 150KV Gejayan.
sehingga dapat mempersiapkan langkah-langkah yang perlu diambil
untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan kerjanya pada masa yang
akan datang.
b. Meningkatkan

dan

mengembangkan

kemampuan

dalam

mengumpulkan, menganalisa dan menyimpulkan suatu permasalahan


teknik.

1.4

Waktu Dan Tempat Pelaksanaan

Adapun tempat dan waktu pelaksanaan praktek kerja nyata adalah :


Tempat

: PT. PLN GIS 150 KV Gejayan


Jln. Gejayan Yogyakarta

Waktu

: 04 Mei s/d 29 Mei 2015

1. Jadwal Kegiatan
Kegiatan

Minggu
I

II

III

IV

I. Pengenalan
a. Mengetahui
gambaran umum
perusahaan
b. Mengetahui
sejarah dan
perkembangan
c. Mengetahui
struktur
organisasi
II. Pengamatan
Mempelajari
peralatan/ subyek
sesuai dengan tema
yang diambil
III.
Permasalahan
a. Studi kasus
b. Diskusi,
konsultasi, dan
evaluasi
c. Interpretasi
hasil dan
analisis data
IV.
Penyusunan
a. Konsultasi
b. Penyusunan
laporan

1.5

Batasan Masalah
Dalam laporan Praktek Kerja Nyata di Sistem Operasi Transformator

Distribusi Pada Jaringan Listrik PT. PLN (Persero) P3B Jawa - Bali Area Pelaksana
Pemeliharaan Salatiga Gardu Induk 150kv Gejayan ini penulisan menjelaskan
mengenai jaringan listrik pada Trafo Tenaga di Gardu khususnya dikota
Yogyakarta.

BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Profil Perusahaan PT. PLN (Persero) APP SALATIGA P3B JB


Sejarah APP Salatiga
PT. PLN (Persero) APP Salatiga merupakan salah satu unit dari PT. PLN
(Persero) P3B Jawa Bali dimana dibentuk berdasarkan SK Direktur No.
1466.K/DIR/2011 tanggal 13 Desember 2011. Proses Bisnis APP Salatiga adalah
Pelaksana Pemeliharaan. Tugas utama PT. PLN (Persero) APP Salatiga adalah
mengelola transmisi dan transaksi tenaga listrik di wilayah sistem Salatiga,
Yogyakarta, Surakarta secara unggul, andal, terpercaya.
Wilayah Kerja PT. PLN (Persero) APP Salatiga adalah meliputi 3 (tiga)
daerah atau Basecamp yaitu Basecamp Salatiga, Yogyakarta dan Surakarta dengan
jumlah gardu induk yang dikelola sebanyak 31 (tiga puluh satu), dimana terdapat
62 Trafo IBT Dan Trafo Distribusi (3638 MVA) serta panjang transmisi 2101,702
kms .
Jumlah aset di APP Salatiga Dalam menjalankan fungsinya sebagai pengelola
dan pemeliharaan, APP Salatiga memiliki aset yang terpasang dan tersebar di
seluruh wilayah Salatiga, Surakarta dan Yogyakarta. Jumlah aset yang dimiliki APP
Salatiga s.d tahun 2012 adalah Rp 3,935 Triliun. Jumlah Gardu Induk yang dikelola
APP Salatiga saat ini berjumlah 31 unit, baik GIS maupun GI Konvensional baik
di Grid 500 KV maupun 150 KV.

2.2 VISI DAN MISI PT. PLN (Persero)


VISI:
Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh kembang, Unggul
dan Terpercaya dengan bertumpu pada potensi Insani.
MISI UTAMA:
Melakukan dan mengelola penyaluran tenaga listrik Menjalankan bisnis
kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan
pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.
Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

VISI DAN MISI PT PLN (Persero) P3B Jawa-Bali APP Salatiga


VISI:
Menjadi unit pengelola transmisi dan transaksi tenaga listrik yang Unggul,
Andal dan Terpercaya berkelas dunia.
MISI UTAMA:
Melakukan dan mengelola penyaluran tenaga listrik tegangan tinggi secara
efisien, andal, dan akrab lingkungan;
Mengelola transaksi tenaga listrik secara kompetitif, transparan dan adil.

Program Unggulan PT. PLN (Persero) APP Salatiga


1. Manajemen Aset
Manajemen Aset (Asset Management/AM) merupakan bagian dari program
Metamorfosa yang sedang dikembangkan PLN Pusat. Penjabaran AM tersebut
bertujuan untuk mencapai efektivitas pembiayaan investasi (cost effectiveness of
investment) dan memaksimalkan keuntungan jangka panjang.
2. Pembentukan Tim Verifikasi Operasi Sistem Penyaluran
Sehubungan dengan terjadinya gangguan pada system penyaluran di
wilayah kerja APP Salatiga, maka perlu dilakukan verifikasi gangguan operasi
system dengan tujuan untuk mengetahui penyebab gangguan.
3. Remapping SDM
Remapping SDM merupakan langkah yang dilakukan manajemen untuk
mengoptimalkan fungsi SDM untuk mencapai target dan tujuan perusahaan
4. Code Of Conduct & Good Corporate Government
Code of conduct (tata nilai) adalah kaidahkaidah yang menjadi landasan
bagi kita dalam bertindak dan mengambil keputusan. Perjalanan mewujudkan Visi
melalui Misi menuntut perilaku tertentu dari para pegawai APP Salatiga. Perilaku
yang diharapkan dari setiap pegawai diwujudkan melalui core values yang perlu
dijunjung tinggi oleh setiap anggota organisasi.
5. Penyempurnaan proses bisnis
Proses bisnis merupakan sekumpulan tugas atau aktivitas untuk mencapai
tujuan yang diselesaikan baik secara berturut atau paralel oleh manusia atau sistem
baik diluar ataupun didalam organisasi, juga merupakan sebuah abstraksi yang

menggambarkan cara orangorang atau pihakpihak saling berinteraksi di dalam


sistem, untuk menangani permintaan bisnis yang dijelaskan dalam cara tertentu.
6. SMK3
Bertujuan menciptakan suatu sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja/ pegawai,
kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan
mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja
yang aman (Safe), efisien dan produktif.

Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) APP Salatiga

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) APP Salatiga

BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

3.1 Metode Pengumpulan Data


Dalam pelaksanaan penelitian / pengambilan data untuk transformator
150/20 kV di PLN GIS 150KV Gejayan Yogyakarta dilakukan dalam kurung waktu
3 minggu, sbb:
1. Minggu pertama pengenalan pada perusahaan dan melihat kondisi lapangan,
serta menentukan daerah bagian yang mau diambil datanya.
2. Minggu kedua

Melakukan pengukuran transformator distribusi pada

jaringan listrik pada pukul 10:00 wib dan 19:00 wib Transformator adalah
XIAN SFZ 150KV/20KV. Dan kondisi Transformator
Table 3.1. Data Pengukuran Transformator 150KV

10

Tabel 3.2. Data Pengukuran Belitan Transformator I 20KV


SUHU

Hari ke

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

POSISI
TAB

OIL

WIND .P

WIND.S

56

66

66

13

59

70

70

58

68

58

SISI 20KV IN 1732 AMPER

COUNTER
OLTC

KV

96934

20.4

1232

1180

1225

15

96938

20.4

1361

1365

1355

68

12

96949

20.6

1315

1265

1305

69

69

16

20.8

1307

1251

1297

14

20.7

59

71

71

96969

1299

1191

1231

60

68

69

14

96974

21

1214

1145

1191

58

68

68

16

96984

20.6

1060

1045

1085

14

20.7

1227

1219

1221

55

67

66

13

96997

20.5

1115

1086

1095

21

1220

1190

1226

56

68

68

14

97010

20.9

1260

1290

1260

15

20.7

1211

1167

1197

Tabel 3.3. Pengukuran Pada Transformator II 150KV Merek XIAN SFZ


150KV/20KV
Hari ke

SISI 150 KV IN : 230,9 AMPER


PUKUL

KV

MW

MVAR

10:00

145

150

140

135

33

30

19:00

143

165

160

150

35

31

10:00

147

180

170

165

39

34

19:00

143

162

150

150

35

30

10:00

19:00

145

150

140

135

34

27

10:00

19:00

145

143

137

133

31

27

10:00

144

125

225

220

49

42

11

19:00

146

160

155

155

37

32

10:00

145

217

206

201

47

41

19:00

145

151

144

140

32

29

10:00

145

190

180

175

42

32

19:00

143

105

155

160

36

30

Tabel 3.4. Pengkuran Belitan Transformator II 20KV


Hari ke

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

SUHU

POSISI
TAB

COUNTER
OLTC

OIL

WIND .P

WIND.S

55

65

65

13

57

68

68

57

66

57

SISI20KV IN 1732 AMPER


KV

97228

20.7

975

985

965

15

97293

20.7

1163

1137

1121

66

13

97288

20.6

1160

1165

1155

67

68

14

20.8

1132

1127

1131

14

20.8

58

68

68

97299

993

979

971

63

66

65

14

97315

21

897

961

919

59

71

71

16

97326

20.6

1495

1500

1475

14

20.6

1131

1119

1121

61

70

71

14

97347

20.7

1393

1418

1410

20.6

993

980

970

58

69

69

14

97358

20.5

1240

1255

1235

15

20.6

1153

1135

1141

3. Minggu ketiga melakukan pengukuran saluran kabel tegangan tinggi


150KV pukul 10.00 wib dan 19.00 Wib, dengan mengambil data berupa
tegangan dan arus yang ada pada SKTT KENTUNGAN 1,
Kentungan 2 Dan Koppel.
12

SKTT

Tabel 3.5. Pengukuran Saluran Kabel Bawah Tanah Tegangan Tinggi 150
KV GI Gejayan
Hari Waktu Sktt kentungan in 500 A
ke
kv
A
MW MVAR
1
10:00 150 120 -30 2
19:00 147 118 -30 2
10:00 19:00 150 148 -35 0
3
10:00 19:00 148 150 -35 -2
4
10:00 140 180 -40 -10
19:00 146 155 -35 -2
5
10:00 149 165 -40 -5
19:00 145 162 -36 -3
6
10:00 145 175 -40 -10
19:00 145 170 -35 -5
7
10:00 146 180 -40 -8
19:00 144 170 -35 -5

Sktt kentungan II in 500A


KV
150
147
150
148
140
146
149
145
145
145
146
144

Koppel in
2000A
A
MW MVAR KV
A
130 -30 -10
150 0
118 -30 -10
147 0
153 -35 -12
150 0
180 -35 -12
148 0
200 -30 -20
140 0
163 -34 -15
146 0
175 -38 -18
144 0
170 -36 -15
145 0
193 -40 -20
145 0
180 -40 -18
145 0
190 -40 -18
146 0
180 -40 -15
144 0

KV
150
147
150
148
140
146
149
145
145
145
146
144

3.2 Metode Analisis Data


Untuk mendapatkan arus perbandingan yang sama besar rasio CT antara
primer dan sekunder transformator harus disesuaikan dengan rasio transformator
itu sendiri. Misalkan Transformator 42 MVA, 150 kV/20kV dengan hubungan
YNyn0, maka rasio CTnya :
Arus nominal sisi primer transformator
adalah
Ip =

420 00
150 3

= 161,66

Maka primer CT dipilih = 161, 66 * 3 = 280


Arus nominal sisi sekunder transformator adalah
IS =

42000
20 3

= 1212,4

13

Maka primer CT dipilih


= 1212,4 x 3 = 2099
Sedangkan untuk pengenal sekunder CT 1, 2 dan 5 A. Sehingga rasio CT sisi primer
dapat dipilih 300/5 dan rasio CT sisi sekunder 2000/5. Karena arus primer tidak
sama dengan arus sekunder serta arus primer belum tentu sefasa dengan arus
sekunder ( tergantung vector groupnya ) maka secara umum diperlukan trafo arus
bantu atau Aux CT.
Aux. CT berfungsi untuk :
1. Menyesuaikan arus yang akan masuk ke relay differential.
2. Menyesuaikan pergeseran sudut fasa yang akan masuk ke relay differential.
Pemasangan Aux. CT
3. Jika berfungsi untuk menyesuaikan pergeseran fasa selalu dipasang pada
sisi Y transformator dayanya, dan disisi lainnya dapat dipasang atau tidak.
4. jika berfungsi hanya penyesuaian arus dapat dipasang disisi primer maupun
sekunder, atau kedua duanya.
5. bila CT disisi primer mempunyai sekunder 1 A dan disisi sekunder 5 A,
umumnya Aux. CT dipasang dikedua sisi.
Dari contoh di atas maka arus yang masuk ke relay adalah
sebesar : Sisi 150 kV :

I primer =

5 . 162
300

I primer = 2,7 A
Maka arus yang masuk ke relay adalah :
I primer = 2,7 . 3
I primer = 4,67 A
14

Sisi 20 kV :

I skunder =

5 . 1212
2000

I skunder = 3,03 A
Maka arus yang masuk ke relay adalah :
I skunder = 3,03 . 3
I skunder = 5,24 A
Fasilitas tap changer yang berfungsi untuk mendapatkan tegangan operasi
sekunder yang lebih baik (diinginkan) dari tegangan jaringan yang berubah-ubah.
Arus sisi sekunder CT dapat dibuat macth hanya pada satu titik dari rentang
pengubahan tap. Pada posisi lain akan timbul arus beda.

Gambar 3.1. Konfigurasi Gardu Induk Gejayan

15

BAB IV
LANDASAN TEORI

4.1 Umum
Transformator tenaga adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi
untuk menyalurkan tenaga/daya listrik, dalam operasi penyaluran tenaga listrik
transformator dapat dikatakan sebagai jantung dari transmisi dan distribusi. Sistem
distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem distribusi ini berguna
untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar (bulk power source)
sampai ke konsumen. Jadi fungsi distribusi listrik adalah: Pembagian atau
penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat (pelanggan). Merupakan sub sistem
tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan pelanggan, karena catu daya pada
pusat-pusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan distribusi.
Tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik besar dengan
tegangan dari 11 KV sampai 24 KV dinaikkan tegangannya oleh gardu induk
dengan transformator penaik tegangan menjadi 70 KV, 154 KV, 220 KV atau 500
KV kemudian disalurkan melalui saluran transmisi. Tujuan menaikkan tegangan
adalah untuk memperkecil kerugian daya listrik pada saluran transmisi, dimana
dalam hal ini kerugian daya adalah sebanding dengan kuadrat arus yang mengalir.
Dengan daya yang sama bila nilai tegangannya diperbesar, maka arus yang
mengalir semakin kecil sehingga kerugian daya juga akan kecil pula.
Dari saluran transmisi, tegangan diturunkan lagi menjadi 20 KV dengan
transformator penurun tegangan pada gardu induk distribusi, kemudian dengan

16

sistem tegangan tersebut penyaluran tenaga listrik dilakukan oleh saluran distribusi
primer. Dari saluran distribusi primer inilah gardu-gardu distribusi mengambil
tegangan untuk diturunkan tegangannya dengan trafo distribusi menjadi sistem
tegangan rendah, yaitu 220/380 Volt. Selanjutnya disalurkan oleh saluran distribusi
sekunder ke konsumen-konsumen. Dengan ini jelas bahwa sistem distribusi
merupakan bagian yang penting dalam sistem tenaga listrik secara keseluruhan.
Konfigurasi sistem tenaga listrik dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.1 Konfigurasi Saluran Distribusi Secara Umum Pada Gardu Induk

Berdasarkan gambar di atas, maka dapat dikelompokkan dalam beberapa


pembagian sebagai berikut:

17

1. Daerah I

:Bagian pembangkitan (Generation).

2. Daerah II

:Bagian penyaluran (Transmission) bertegangan tinggi (HV,


UHV, dan EHV).

3.

Daerah III :Bagian distribusi primer bertegangan menengah (6, 12, atau 20
KV).

4. Daerah IV :Bagian distribusi sekunder bertegangan rendah.


Berdasarkan pembagian tersebut, maka diketahui bahwa sistem distribusi
listrik terdapat pada daerah III dan IV, yang pada dasarnya dapat diklasifikasikan
menurut beberapa cara, bergantung dari segi apa klasifikasi itu dibuat. Dengan
demikian ruang lingkup jaringan distribusi adalah sebagai berikut:
1. SUTM, terdiri dari tiang dan peralatan kelengkapannya, konduktor dan
peralatan perlengkapannya, serta peralatan pengaman dan pemutus.
2. SKTM, terdiri dari kabel tanah, terminasi dalam dan luar ruangan, dan lainlain.
3. Gardu Trafo, terdiri dari Transformator, tiang, pondasi tiang, rangka tempat
Trafo, panel, pipa-pipa pelindung, arrester, kabel-kabel, pengikat
Transformator, peralatan pertanahan, dan lain-lain.
4. SUTR dan SKTR, sama dengan perlengkapan/material pada SUTM dan
SKTM, yang membedakan hanya dimensinya.

4.2 Sistem Jaringan Distribusi


Sistem distribusi tenaga listrik adalah penyaluran energi listrik dari gardu
induk (GI) tenaga listrik hingga sampai kepada konsumen pada tingkat tegangan

18

yang diperlukan. Jaringan distribusi terdiri atas dua bagian, yang pertama adalah
jaringan tengah menengah / primer (JTM), yang menggunakan tiga kawat atau
empat kawat untuk tiga fasa. Jaringan distribusi primer berada antara gardu induk
dan transformator distribusi. Jaringan yang kedua adalah jaringan tegangan rendah
(JTR) dengan tegangan 380/220 Volt.

4.3 Struktur Distribusi Tenaga Listrik Gardu Induk GIS 150 KV Gejayan
Gardu induk berisikan ujung-ujung dari saluran transmisi / sub transmisi,
transformator, peralatan proteksi, control dan pangkal saluran distribusi. Gardu
induk memberikan suplai tenaga listrik ke jaringan distribusi. Tegangan suplai
gardu induk adalah berupa tegangan menengah, gardu induk berfungsi sebagai:
1. Mentransformasikan tenaga listrik dari tegangan tinggi yang satu ke
tegangan tinggi lainnya, atau ke tegangan menengah.
2. Pengukuran, pengawasan operasi serta pengaturan dan pengamanan sistem
tenaga listrik.

19

Gambar 4.2 Struktur Distribusi GI 150 KV Gejayan

4.4 Gardu Hubung (Switch Substation)


Gardu hubung merupakan gardu penghubung antara gardu induk dengan
gardu Trafo distribusi. Gardu ini tidak berisikan Transformator, tetapi hanya
perlengkapan hubung-bagi (Switcgear) dan bisanya rel-rel (busbars). Gardu hubung
ini terdiri dari gardu hubung spindel yang memiliki maksimum 7 unit penyulang
dan gardu hubung non-spindel yang memiliki 3 unit penyulang.

20

4.5 Gardu Distribusi


Gardu Distribusi adalah gardu yang berisikan trafo distribusi dan
merupakan daerah / titik pertemuan antara jaringan primer dan jaringan sekunder
karena pada gardu ini tegangan menengah (TM) diubah ketegangan rendah (TR).

4.6 Gangguan
Gangguan pada peralatan ketenaga listrikan sudah menjadi bagian dari
pengoperasian peralatan tenaga listrik. Mulai dari pembangkit, transmisi hingga
pusat-pusat beban tidak pernah lepas dari berbagai macam gangguan. Bagian dari
peralatan tenaga listrik yang sering mengalami gangguan adalah kawat
transmisinya (kira-kira 70-80% dari seluruh gangguan).
Hal ini disebabkan luas dan panjang kawat transmisi yang terbentang dan
yang beroperasi pada kondisi udara yang berbeda-beda dimana pada umumnya
yang lewat udara (diatas tanah) lebih rentan terhadap gangguan dari pada yang
ditaruh dalam tanah (underground).
Akibat-akibat yang timbulkan oleh gangguan
a. Menginterupsi kontinuitas pelayanan daya kepada para konsumen apabila
gangguan itu sampai menyebabkan terputusnya suatu rangkaian atau
menyebabkan rusaknya suatu unit pembangkit.
b. Penurunan tegangan yang cukup besar menyebabkan rendahnya kualitas
tenaga listrik dan merintangi kerja normal pada peralatan konsumen.
c. Pengurangan stabilitas sistem dan menyebabkan jatuhnya generator.

21

d. Merusak peralatan pada daerah terjadinya gangguan itu.

4.7 Konsep Dasar Keandalan Sistem Distribusi


Definisi klasik dari keandalan adalah peluang berfungsinya suatu alat atau
sistem secara memuaskan pada keadaan tertentu dan dalam periode waktu tertentu
pula. Dapat juga dikatakan kemungkinan atau tingkat kepastian suatu alat atau
sistem akan berfungsi secara memuaskan pada keadaan tertentu dalam periode
waktu tertentu pula. Dalam pengertian ini, tidak hanya peluang dari kegagalan
tetapi juga banyaknya, lamanya dan frekuensinya juga penting. Kemungkinan atau
tingkat kepastian sedemikian itu tidak dapat diduga dengan pasti, tetapi dapat
dianalisa atas dasar logika ilmiah.
Keandalan yaitu kemampuan dari sistem pengiriman kekuatan untuk
membuat tegangan listrik yang siap secara terus-menerus dan cukup dengan mutu
kepuasan, untuk memenuhi kebutuhannya konsumen.
Metodologi Tentang Life Time Transformator Pada dasarnya perhitungan
yang tepat serta management yang baik dari Trafo Distribusi akan meningkatkan
keandalan sistem tenaga listrik sehingga kontinuitas pelayanan listrik ke konsumen
terjamin. Trafo Distribusi merupakan komponen yang sangat penting dalam
mendistribusikan tenaga listrik kekonsumen, jadi ada beberapa faktor yang
mempengaruhi keandalan dan lama waktu pakai trafo jaringan distribusi.
1. Klasifikasi Transformator Tenaga
1) Data Trafo PS(Pemakaian Sendiri) 200 KVA:

Merk STARLITE buatan Indonesia

22

Kapasitas 200KVA frekuensi 50 HzTransformator 3 fase tahun buat 1995

Hubungan P. Bintang dan S. Z n 5 ; Arus nominal 5.77 A , 288,6 A

Perbandingan dengan minyak Diala B ; Jumlah berat 1080kg

Low voltage terminal 2V 2V 2W 2N


Volt : 20000 ; ampere 1732.1 ; MVA : 60

Tertiary Terminal Volt : 16079 ; Ampere : 414.6 x V3 ; MVA : 20

Gambar 4.3 Transformator Merk Starlite


2) Transformator Distribusi 60 MVA Merk XIAN SFZ 60000

Serial number A95007 4 . Power Tranformator 3 fase

Standart IEC 1976, Year of Manuf 1995

Cooling ONAN / ONAF 70/100%

Insulation LI 650 AC 27 ; LEVEL LI AC 381; LI 125 AC 50; LI AC 38

Connection symbol YN yn O+d

Altitude Average Wind 58k

Mass Total 10360 t ; Oil 2610t ; Untaking 5920t

23

Gambar 4.4 Transformator Distribusi 60 MVA Merk XIAN SFZ 60000

Menurut Pendinginan, menurut cara pendinginannya dapat dibedakan sebagai


berikut:
a. Berdasarkan Fungsi dan pemakaian:

Transformator mesin (untuk mesin-mesin listrik)

Transformator Gardu Induk

Transformator Distribusi
b. Berdasarkan Kapasitas dan Tegangan Kerja: Contoh transformator 3
phasa dengan tegangan kerja di atas 1100 kV dan daya di atas 1000
MVA.

24

Gambar 4.5. Contoh Transformator 3 Phasa dengan Tegangan Kerja


>1100 kV dan Daya >1000 MVA.

Dalam usaha mempermudah pengawasan dalam operasi, Transformator


dapat dibagi menjadi: Transformator besar, Transformator sedang, dan
Transformator

kecil.

Cara

Kerja

dan

Fungsi

Bagian-Bagian

Transformator Suatu Transformator terdiri atas beberapa bagian, yaitu:

Bagian utama transformator

Peralatan Bantu

Peralatan Proteksi

Setiap bagian tersebut memiliki fungsi masing-masing, dan untuk detailnya


anda juga dapat membaca laporan mengenai komponen-komponen Transformator
di sini Bagian utama transformator, terdiri dari:

25

a) Inti besi
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluks, yang ditimbulkan oleh
arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi
tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang
ditimbulkan oleh arus pusar atau arus eddy (eddy current).
b) Kumparan transformator
Beberapa lilitan kawat berisolasi membentuk suatu kumparan, dan
kumparan tersebut diisolasi, baik terhadap inti besi maupun terhadap
kumparan lain dengan menggunakan isolasi padat seperti karton, pertinax
dan lain-lain. Pada transformator terdapat kumparan primer dan kumparan
sekunder. Jika kumparan primer dihubungkan dengan tegangan/arus bolakbalik maka pada kumparan tersebut timbul fluks yang menimbulkan
induksi tegangan, bila pada rangkaian sekunder ditutup (rangkaian beban)
maka mengalir arus pada kumparan tersebut, sehingga kumparan ini
berfungsi sebagai alat transformasi tegangan dan arus.
c) Kumparan tertier
Fungsi kumparan tertier diperlukan adalah untuk memperoleh tegangan
tertier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan tersebut,
kumparan tertier selalu dihubungkan delta atau segitiga. Kumparan tertier
sering digunakan juga untuk penyambungan peralatan bantu seperti
kondensator synchrone, kapasitor shunt dan reaktor shunt, namun demikian
tidak semua Transformator daya mempunyai kumparan tertier.

26

d) Minyak Transformator
Sebagian besar dari Transformator tenaga memiliki kumparan-kumparan
yang intinya direndam dalam minyak transformator, terutama pada
Transformator

tenaga

yang

berkapasitas

Transformator mempunyai sifat

besar,

karena

minyak

sebagai media pemindah panas

(disirkulasi) dan juga berfungsi pula sebagai isolasi (memiliki daya


tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan
isolasi.
Minyak transformator harus memenuhi persyaratan, yaitu:

Kekuatan isolasi tinggi

Penyalur panas yang baik, berat jenis yang kecil, sehingga partikelpartikel dalam minyak dapat mengendap dengan cepat

Viskositas yang rendah, agar lebih mudah bersirkulasi dan memiliki


kemampuan pendinginan menjadi lebih baik

Titik nyala yang tinggi dan tidak mudah menguap yang dapat
menimbulkan baha

Tidak merusak bahan isolasi padat

Sifat kimia yang stabil


Minyak transformator baru harus memiliki spesifikasi seperti
tampak pada Tabel di bawah ini Untuk minyak isolasi pakai.
berlaku untuk transformator berkapasitas > 1 MVA atau
bertegangan > 30 kV

27

Tabel 4.1. Spesifikasi Minyak Isolasi Baru.


NO.

Sifat Minyak
Isolasi
Kejernihan
Massa jenis(20o)
Vikositas (20o)
Kinematic (15o)
Kinematik (30o)
Titik Nyata
Titik Tuang
Angka Kenetralan
Koreksi Belerang
Tegangan Tembus
Faktor Kebocoran
Dielektrik
Ketahanan Oksidasi
a. angka kenetralan
b. kotoran

1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Satuan

Klas V / Klas II

Metode Uji

Tempat uji

g/cm3
cSt
cSt
cSt
oC
oC
mgKOH/g
KV/3.5 mm
-

Jernih
<0.895
<40 < 25
<800
<1800
>140 >100
<30 < 40
<0.03
Tidak Korosit
>30 > 50
<0.05

Di Tempat
LAB
LAB
LAB
LAB
LAB
LAB
LAB
Di tempat
Di tempat
LAB

mgKOH/
9%

<0.40
<0.10

IEC 296
IEC 296
IEC 296
IEC 296
IEC 296
IEC 296A
IEC 296A
IEC 296
IEC 296
IEC 156
IEC 250/IEC
274
IEC 74

LAB

Tabel 4.2. Spesifikasi Minyak Isolasi Pakai.


NO.

Sifat Minyak Isolasi

1.
2.

Tegangan tembus
Kandungan air

3.
4.
5.
6.

faktor
Dielektrik Tahanan
Jenis
Angka Kenetralan
Sedimen

7.
8.

Titik Nyala
Tegangan permukaan

9.

Kandungan Gas

Tegangan
Peralatan
>170KV
<70KV
>170KV
<170KV
All Voltage
All Voltage

Batas yang
diperbolahkan
50KV/2.5mm
>30KV/2.5mm
<20mg/L
<30 mg/L
<0.2 2.0
G/mm

All Voltage
>170KV

<0.5mg/KOH
Tidak terukur
penurunan
Maximum 15oC
>15x100nm-1

Metode Uji

Tempat Uji

IEC 156
IEC 250 (90o)
IEC 93

Di Tempat
LAB

IEC 93 & 274


IEC 93 & 274

LAB
LAB

IEC 296
IEC 296

LAB
LAB

IEC 296
Sedang
dikerjakan IEC
Sedang
dikerjakan IEC

LAB
Sedang
Dikerjakan IEC
Sedang
Dikerjakan IEC

e) Bushing
Hubungan antara kumparan transformator ke jaringan luar melalui sebuah
bushing, yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator, yang

28

sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor tersebut dengan


tangki Transformator.
f) Tangki Dan Konservator
Pada umumnya bagian-bagian dari Transformator yang terendam minyak
Transformator berada atau (ditempatkan) di dalam tangki. Untuk
menampung pemuaian pada minyak Transformator, pada tangki dilengkapi
dengan sebuah konservator. Terdapat beberapa jenis tangki, diantaranya
adalah:

Jenis sirip (tank corrugated) Badan tangki terbuat dari pelat baja
bercanai dingin yang menjalani penekukan, pemotongan dan
proses pengelasan otomatis, untuk membentuk badan tangki
bersirip dengan siripnya berfungsi sebagai radiator pendingin dan
alat bernapas pada saat yang sama. Tutup dan dasar tangki terbuat
dari plat baja bercanai panas yang kemudian dilas sambung kepada
badan tangki bersirip membentuk tangki corrugated ini. Umumnya
transformator di bawah 4000 kVA dibuat dengan bentuk tangki
corrugated.

Jenis tangki Conventional Beradiator, Jenis tangki terdiri dar badan


tangki dan tutup yang terbuat dari mild steel plate (plat baja
bercanai panas) ditekuk dan dilas untuk dibangun sesuai dimensi
yang diinginkan, sedang radiator jenis panel terbuat dari pelat baja
bercanai dingin (cold rolled steel sheets). Transformator ini

29

umumnya dilengkapi dengan konservator dan digunakan untuk


25.000,00 kVA, yang ditunjukkan pada Gambar dibawah ini.

Gambar 4.6. Transformator Tipe Conventional Beradiator


(Sumber Trafindo, 2005)

Hermatically Sealed Tank With N2 Cushined, Tipe tangki ini sama


dengan jenis conventional tetapi di atas permukaan minyak
terdapat gas nitrogen untuk mencegah kontak antara minyak
dengan udara luar.

2. Peralatan Bantu
a) Pendingin
Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas akibat rugi-

30

rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut mengakibatkan


kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak isolasi transformator,
maka untuk mengurangi adanya kenaikan suhu yang berlebihan
tersebut pada transformator perlu juga dilengkapi dengan sistem
pendingin

yang

bergungsi

untuk

menyalurkan

panas

keluar

transformator. Media yang digunakan pada sistem pendingin dapat


berupa udara, gas, minyak dan air.
Sistem pengalirannya (sirkulasi) dapat dengan cara:

Alamiah (natural)

Tekanan/paksaan (forced).

Tabel 4.3. Tipe Pendinginan Transformator


NO.

Macam
Sistem
Pendingin

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

AN
AF
ONAN
ONAF
OFAN
OFAF
OFWF
ONAN/ONAF
ONAN/OFAN
ONAN/OFAF
ONAN/OFWF

Media
Didalam Transformator
Diluar transformator
Sirkulasi
Sirkulasi
Sirkulasi
Sirkulasi
Alami
Paksa
Alami
Paksa
Udara
Udara
Minyak
Udara
Minyak
Udara
Minyak
Udara
Minyak
Udara
Minyak
Air
Kombinasi 3 Dan 4
Kombinasi 3 Dan 5
Kombinasi 3 Dan 6
Kombinasi 3 Dan 7

keterangan: A = air (udara), O = Oil (minyak), N = Natural (alamiah),


F = Forced (Paksaan / tekanan)

31

b) Tap Changer (perubah tap)


Tap Changer adalah perubah perbandingan belitan transformator
untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder sesuai yang
diinginkan dari tegangan jaringan/primer yang berubah-ubah. Tap
changer dapat dilakukan baik dalam keadaan berbeban (on-load)
atau dalam keadaan tak berbeban (off load), dan tergantung jenisnya.
c) Alat pernapasan Karena adanya pengaruh naik turunnya beban
transformator maupun suhu udara luar, maka suhu minyak akan
berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi,
minyak akan memuai dan mendesak udara di atas permukaan
minyak keluar dari dalam tangki, sebaliknya bila suhu minyak
turun, minyak menyusut maka udara luar akan masuk ke dalam
tangki. Kedua proses di atas disebut pernapasan transformator.
Permukaan minyak transformator akan selalu bersinggungan
dengan udara luar yang menurunkan nilai tegangan tembus pada
minyak transformator, maka untuk mencegah hal tersebut, pada
ujung pipa penghubung udara luar dilengkapi tabung berisi kristal
zat hygroscopis.
d) Indikator
Untuk mengawasi selama transformator beroperasi, maka perlu
adanya indikator yang dipasang pada Transformator. Indikator
tersebut adalah sebagai berikut:

32

Indikator suhu minyak

Indikator permukaan minyak

Indikator sistem pendingin indikator kedudukan tap, dan


sebagainya.

Penuaan Isolasi Transformator


Secara disain, biasanya umur trafo berkisar 30-40 tahun. Namun demikian,
trafo yang dipasang tahun 1940 1950-an banyak yang sekarang masih beroperasi
dengan normal. Ada fakta-fakta yang harus kita ketahui, misalnya bahwa isolasi
trafo mengalami penuaan, belitan trafo harus diisolasi dari turn ke turn dan dari coil
ke coil, ada berbagai bahan material yang bisa dipakai untuk isolasi ini.
Untuk trafo daya, bahan isolasi yang biasa dipakai adalah kertas Kraft
(kertas isolasi selulosa). Sekarang juga mulai banyak bahan kertas sintetik yang
dipakai, yang bisa beroperasi pada temperatur kerja tinggi (isolasi hybrid), yang
dikenal sebagai kertas Aramid. Gardu Induk yang menggunakan isolasi udara :
1. Gardu induk yang menggunakan gas SF 6 sebagai isolasi antara bagian
yang bertegangan yang satu dengan bagian lain yang bertegangan, maupun
antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan.
2. Gardu induk ini disebut Gas Insulated Substation atau Gas Insulated
Switchgear (GIS), yang memerlukan tempat yang sempit.
Di awal abad ke-20 bahan isolasi yang dipakai adalah asbestos, low grade
pressboard, kertas shellac impregnated. Kemudian dikembangkan kertas resin
impregnated, lalu kertas isolasi dengan selulosa high sulfate. Kertas, pressboard,

33

transformer board dari selulosa adalah bahan isolasi yang paling banyak digunakan.
Minyak hidrokarbon juga merupakan bagian dari isolasi.
Isolasi solid seperti kertas, press board dan transformer board terbuat dari
selulosa tumbuhan. Sumber utama serat selulosa adalah kayu. Kayu mengandung
40 sampai 50% selulosa, 20 sampai 30% lignin dan 10 sampai 30% hemi selulosa.
Selulosa sendiri adalah polimer linier yang unit-unit glukosa-nya terhubung pada
atom Karbon yang pertama dan ke-4. Selulosa dalam keadaan baru mempunyai
1000 sampai 3000 rantai glukosa.
Kertas Kraft mengandung polimer selulosa dengan berat molekul tinggi
sekitar 75 sampai 90%, hemi selulosa dengan berat molekul rendah 10 sampai 20%
dan lignin 0 sampai 5%. Selulosa adalah polimer linier yang terdiri dari unit-unit
glukosa anhydrous tunggal yang terhubung pada atom-atom Karbon pertama dan
keempat melalui ikatan glukosidik. Jumlah unit monomer dalam polimer disebut
sebagai degree of polymerisation. Sering kali, kualitas selulosa diukur dari tingkat
polimerisasi (DP) dengan metode viskometrik rata- rata. Panjang rantai selulosa
yang diukur dari tingkat polimerisasi rata-rata berdasarkan metode viskositas
dinyatakan oleh DP. Kekuatan isolasi bergantung pada:
1. Komposisi kimia
2. Berat molekul polimer
3. Morfologi polimer
Pada isolasi padat, pengeringan dan impregnasi minyak sangat penting
untuk menjaga kekuatan isolasi kertas. Kadang-kadang kapas juga dipakai sebagai
isolasi. Kertas yang telah diupgrade secara thermal disebut kertas Aramid yang

34

terbuat 100% dari serat polyamide aromatik. Penggunaan kertas Aramid tidak
terlalu umum karena mahal. Minyak trafo modern mempunyai ketahanan dielektrik
yang tinggi, viskositas rendah, bebas dari sludging, hambatannya bagus terhadap
listrik statis. Minyak trafo terdiri dari senyawa campuran hidrokarbon. Kandungan
utamanya adalah Parafin, Iso Parafin, Naphtene dan Aromatic. Cairan Silicone
lebih baik dari pada minyak mineral namun lebih mahal.
Aplikasi pada trafo distribusi kecil dan trafo daya besar dibedakan. Pada
trafo kecil sampai dengan beberapa MVA, variasi isolasinya biasanya tidak banyak
atau sistemnya konvensional, contohnya trafo jenis kering, trafo yang diisi minyak
silicone dan trafo yang diisolasi gas dan didinginkan uap air. Untuk trafo yang
bekerja pada suhu tinggi, serat Aramid merupakan alternatif yang bagus.

Pengertian Over Eksitasi


Over eksitasi pada transformator merupakan suatu kejadian dimana inti
transformator mengalami saturasi karena fluks magnetik yang mengalir di inti
meningkat sehingga meningkatkan arus eksitasi yang melebihi batas desain
peralatan. Seringkali tanpa disadari suatu transformator yang beroperasi
pada jaringan mengalami over eksitasi. Oleh karena itu perlu diketahui penyebab
terjadinya over eksitasi pada transformator. Penyebab Terjadinya Over Eksitasi
Dalam jaringan, seringkali jarak antara IBT 500/150 kV dengan transformator
150/20 kV sangat jauh hingga ratusan kilometer. Keadaan ini tentu saja
menyebabkan tegangan suplai ke transformator 150/20 kV menjadi turun, bernilai
lebih rendah, dibawah tegangan nominalnya bahkan hingga batas toleransi

35

minimum yang diperbolehkan, sehingga tegangan di sisi sekunder (penyulang)


pun akan ikut turun, berada di bawah tegangan nominalnya. Begitu juga saat suatu
transformator dari keadaan tidak berbeban, kemudian menjadi berbeban, maka
tegangan di sisi sekunder akan turun dibandingkan tegangan ratingnya (mengalami
voltage drop).
Untuk menjaga kualitas ke sisi konsumen, transformator-transfomator
ke sisi penyulang ini harus dinaikkan kembali tegangannya agar kualitas
tegangan

yang disyaratkan terpenuhi. Hal ini biasanya dilakukan dengan

pengoperasian OLTC (On Load Tap Changer) pada posisi tap tertentu sehingga
diperoleh nilai tegangan sekunder yang sesuai.
Akibat Over Eksitasi Pada Transformator menyebabkan kenaikan
temperatur inti transformator dan meningkatkan temperatur minyak transformator
sebagai media pendingin transformator, meningkatkan tingkat kebisingan (noise)
dan getaran (vibration) pada transformator. Beberapa transformator yang
mengalami over eksitasi mengalami stress termal yang lebih besar dibandingkan
dengan transformator sejenis pada beban yang sama jika tanpa over eksitasi.
Over eksitasi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada belitan dan
inti transformator akibat panas yang disebabkan oleh arus eksitasi yang tinggi yang
mengalir ketika tegangan meningkat tajam ke level saturasi. Transformator akan
menuju ke kondisi over eksitasi ketika tegangan sistem berubah, ketika beban
berubah dan/atau faktor daya (PF) berubah, atau ketika kombinasi antara tegangan
sistem dan kondisi beban .

36

Peningkatan

over

eksitasi

juga

dapat

menyebabkan

penurunan

kemampuan menyuplai daya pada transformator. Walaupun penurunan ini tidak


terlalu besar, hot spot akan meningkat dan menyebabkan terjadinya penuaan
pada isolasi transformator sehingga terjadi penurunan masa hidup (lifetime)
isolasi transformator yang cukup mengkhawatirkan.
Over eksitasi pada transformator dapat menyebabkan kerusakan termal
pada inti akibat fluks besar yang berlebihan pada rangkaian magnetik. Fluks yang
berlebih ini membuat inti besi mengalami saturasi dan mengalir ke dalam struktur
yang berdekatan, menyebabkan tingginya rugi-rugi arus Eddy pada inti dan material
konduktor yang berdekatan.

4.8 Pengertian Relay Differensial


Relay Differensial

merupakan

pengaman

utama

pada

generator,

Transformator dan bus-bar, sangat selektif , cepat bekerja tidak perlu berkoordinasi
dengan relay lain dan tidak dapat digunakan sebagai pengaman cadangan untuk
seksi atau daerah berikutnya.
Relay Differensial mengamankan peralatan tersebut diatas dari gangguan
hubung singkat yang terjadi di dalam generator ataupun transformator, antara lain
hubung singkat antara kumparan dengan kumparan atau antara kumparan dengan
tangki. Relay ini harus bekerja kalau terjadi gangguan di daerah pengamanan, dan
tidak boleh bekerja dalam keadaan normal atau gangguan di luar daerah
pengamanan. Ini juga merupakan unit pengamanan dan mempunyai selektifitas

37

mutlak. Penggunaan Relay Differensial sebagai Relay pengaman, antara lain pada
generator, Transformator daya, bus bar, dan saluran transmisi. Relay Differensial
digunakan sebagai pengaman utama (main protection) pada transformator daya
yang berguna untuk mengamankan belitan Transformator bila terjadi suatu
gangguan. Relay ini sangat selektif dan sistem kerjanya sangat cepat.

Prinsip Kerja Relay Differensial


Relay Differensial prinsip kerjanya berdasarkan hukum kirchoff, dimana
arus yang masuk pada suatu titik, sama dengan arus yang keluar dari titik tersebut
seperti gambar dibawah..

I1

I2

I1 = I2

Gambar 4.7 Prinsip Hukum Kirchoff

Sebagaimana disebutkan diatas, Relay differensial adalah suatu alat proteksi


yang sangat cepat bekerjanya dan sangat selektif berdasarkan keseimbangan
(balance) yaitu perbandingan arus yang mengalir pada kedua sisi trafo daya melalui
suatu perantara yaitu trafo arus (CT). Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui
peralatan listrik yang diamankan (generator, transformator dan lain-lainnya). Arusarus sekunder transformator arus, yaitu I1 dan I2 bersikulasi melalui jalur IA. Jika
relay pengaman dipasang antara terminal 1 dan 2, maka dalam kondisi normal tidak
akan ada arus yang mengalir melaluinya.

38

Gambar 4.8 Pengawatan Dasar Relay Differensial

Jika terjadi gangguan diluar peralatan listrik peralatan listrik yang


diamankan (external fault), maka arus yang mengalir akan bertambah besar, akan
tetapi sirkulasinya akan tetap sama dengan pada kondisi normal, sehingga relay
pengaman tidak akan bekerja untuk gangguan luar tersebut. Jika gangguan terjadi
didalam (internal fault), maka arah sirkulasi arus disalah satu sisi akan terbalik,
menyebabkan keseimbangan pada kondisi normal terganggu, akibatnya arus ID akan
mengalir melalui relay pengaman dari terminal 1 menuju ke terminal 2. Selama
arus-arus sekunder transformator arus sama besar, maka tidak akan ada arus yang
mengalir melalui kumparan kerja (operating coil) relay pengaman, tetapi setiap
gangguan (antar fasa atau ke tanah) yang mengakibatkan sistem keseimbangan
terganggu, akan menyebabkan arus mengalir melalui Operating Coil relay
pengaman, maka relai pengaman akan bekerja dan memberikan perintah putus
(tripping) kepada circuit breaker (CB) sehingga peralatan atau instalasi listrik yang
terganggu dapat diisolir dari sistem tenaga listrik. Seperti gambar dibawah ini :

39

Gambar 4.9 Sistem Pengaman Relay Diferensial

4.9 GAS INSULATED SWITCHGEAR


1. Gas Insulated Switchgear
Gas Insulated Switchgear atau Gas Insulated Substation biasa disebut dengan
istilah GIS, merupakan sebuah sistem penghubung dan pemutus jaringan listrik
yang dikemas dengan menggunakan gas SF6 bertekanan sebagai material isolasi
elektrik dan pemadaman busur api.
GIS sendiri merupakan salah satu klasifikasi gardu induk yang menggunakan
isolasi Gas. Berdasarkan lokasi peletakannya, GIS terbagi menjadi dua, yaitu di
dalam ruangan (indoor) dan di luar ruangan (outdoor). GIS biasa ditempatkan pada
perkotaan karena luas wilayah yang terpakai lebih kecil dibandingkan dengan yang
konvensional.

40

Gambar 4.10. GIS Indoor PLN 150 KV GI Gejayan


Pada GIS terdapat bermacam jenis peralatan seperti pemutus tenaga,
busbar, pemisah, pemisah tanah, trafo arus dan trafo tegangan yang ditempatkan
didalam kompartemen yang terpisah pisah dan diisi gas SF6. Kekuatan dielektrik
Gas SF6 yang lebih tinggi dari pada udara, menyebabkan jarak konduktor yang
diperlukan akan lebih kecil. Maka ukuran setiap peralatan dapat dikurangi, yang
menyebabkan ukuran secara keseluruhan menjadi lebih kecil.
Berdasarkan hasil kajian PLN dan mengacu pada hasil kajian Konwledge
Sharing and Research (KSANDR) Belanda, GIS dibagi menjadi 5 subsistem
berdasarkan fungsinya, yaitu:
1. Subsistem Primary
Subsistem primary berfungsi untuk menyalurkan energi listrik dengan
nilai losses yang masih diijinkan.
2. Subsistem Secondary
Subsistem secondary berfungsi men-trigger subsistem driving untuk
mengaktifkan subsistem mechanical pada waktu tepat.
3. Subsistem Dielectric

41

Subsistem dielectric berfungsi untuk memadamkan busur api dan


mengisolasikan active part.
4. Subsistem Driving mechanism
Subsistem driving mechanism adalah mekanik penggerak yang menyimpan
energi untuk menggerakkan kontak utama (PMT, PMS) pada waktu yang
diperlukan. Jenis jenis driving mechanism terdiri dari :

Pneumatic : Merupakan penggerak yang menggunakan tenaga udara


bertekanan.

Hydraulic : Merupakan penggerak yang menggunakan tenaga minyak


hidrolik bertekanan.

Spring

: Merupakan penggerak yang menggunakan energi yang

disimpan oleh pegas.


5. Subsistem Mechanical
Subsistem mechanical adalah peralatan penggerak yang menghubungkan
subsistem driving mechanism dengan kontak utama peralatan PMT dan PMS untuk
mentransfer driving energy menjadi gerakan pada waktu yang diperlukan.

2.

Sulfur Hexafluoride (SF6)


Isolasi berfungsi untuk memisahkan bagian bagianyang mempunyai beda

potenstial agar diantara bagian bagiantersebut tidak terjadi lompatan listrik atau
percikan. Sulfur Hexafluoride (SF6) merupakan sebuah bahan isolasi berwujud gas
yang terbentuk antara sulphur dan fluorine dengan reaksi eksotermis seperti
persamaan berikut :

42

S + 3 F2 SF6 + 262 kKal

Secara umum sulfur heksa fluorida (SF6) murni adalahsenyawa yang tidak
berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak beracun serta memiliki kerapatan
lima kali lipat dari udara. Molekul SF6 memiliki enam atom fluorine dan terdapat
sebuah atom sulphur di tengah molekulnya. Molekul SF6ditunjukkan seperti
gambar berikut :

Gambar 4.11. Molekul sulfur heksa fluorida (SF6)


2.1 Sifat Gas SF6
Hingga saat ini sebanyak 80% gas SF6 dari yang diproduksi di seluruh dunia
dipakai sebagai media isolasi dalam sistem kelistrikan. Hal ini disebabkan sifatsifat sebagai berikut
a. Hanya memerlukan energi yang rendah untuk memadamkan arc (busur api).
Pada prinsipnya, SF6 sebagai pemadam busur api tidak memerlukan energi
untuk mengkompresikannya, namun karena pengaruh panas busur api yang
terjadi.

43

b. Tekanan SF6 sebagai pemadam busur api maupun sebagai pengisolasi dapat
dengan mudah dideteksi
c. Penguraian pada waktu memadamkan busur api maupun pembentukannya
kembali setelah pemadaman adalah menyeluruh
d. Isolasi yang baik, karena relatif mudah terionisasi sehingga membuat
konduktivitas tetap rendah. Hal ini mengurangi kemungkinan busur api
tidak stabil, dengan demikian pemotongan arus dapat terjadi.
e. Karakteristik gas SF6 adalah elektronegatif sehingga penguraiannya
menjadikan dielektriknya naik secara bertahap
f. Memiliki viskositas yang rendah sehingga dapat mengisi volume dari
perangkat secara menyeluruh, stabil (tidak mudah bereaksi) dan penghantar
panas yang baik.
2.2 Karakteristik dan Spesifikasi Gas SF6
Sebagai bahan isolasi,gas SF6 memiliki karakteristik yang dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 4.4. Karakteristik Gas SF6
No.

Indikator

Nilai

1.

Konstanta Thermal

500 oC

2.

GWP (Global Warming Potential)

23.900

3.

Lifetime di atmosphere

3500 Tahun

4.

Tegangan Tembus

75 kV/cm

5.

Konduktivitas Panas

1,9 x 10-5 W/m

44

Pada aplikasinya sebagai isolasi, spesifikasi gas SF6 terbagi menjadi dua
berdasarkan gas yang telah digunakan dan gas yang belum pernah digunakan, yaitu
Gas SF6 baru (New-SF6) dan Gas SF6 yang digunakan (SF6-Used).Dikatakan
spesifikasi New-SF6 , karena speksifikasi tersebut merupakan spesifikasi yang akan
digunakan pertama kali pada suatu perangkat, sedangkan spesifikasi SF6-Used
merupakan spesifikasi gas SF6 saat gas tersebut digunakan.
2.3 Berdasarkan Sistem Rel (Busbar)
Rel (busbar) merupakan titik hubungan pertemuan (connecting) antara
transformator daya, SUTT/ SKTT dengan komponen listrik lainnya, untuk
menerima dan menyalurkan tenaga listrik. Berdasarkan sistem rel (busbar), gardu
induk dibagi menjadi beberapa jenis, sebagaimana tersebut di bawah ini :
1. Gardu Induk sistem ring busbar adalah gardu induk yang busbarnya
berbentuk ring. Pada gardu induk jenis ini, semua rel (busbar) yang ada,
tersambung (terhubung) satu dengan lainnya dan membentuk ring (cincin).
2. Gardu Induk sistem single busbar adalah gardu induk yang mempunyai satu
(single) busbar. Pada umumnya gardu dengan sistem ini adalah gardu induk
yang berada pada ujung (akhir) dari suatu sistem transmisi. Single line
diagram gardu sistem single busbar, lihat gambar 4.12.

45

Gambar 4.12.Single Line Diagram Gardu Induk Single Busbar

3. Gardu Induk sistem double busbar adalah gardu induk yang mempunyai dua
(double) busbar. Gardu induk sistem double busbar sangat efektif untuk
mengurangi terjadinya pemadaman beban, khususnya pada saat melakukan
perubahan sistem (manuver sistem). Jenis gardu induk ini pada umumnya
yang banyak digunakan. Single line diagram gardu induk sistem double
busbar lihat gambar 4.13.

Gambar 4.13 Single Line Diagram Gardu Induk Sistem Double Busbar.

46

4. Gardu Induk sistem satu setengah (on half) busbar adalah gardu induk yang
mempunyai dua (double) busbar. Pada umumnya gardu induk jenis ini
dipasang pada gardu induk di pembangkit tenaga listrik atau gardu induk
yang berkapasitas besar. Dalam segi operasional, gardu induk ini sangat
efektif, karena dapat mengurangi pemadaman beban pada saat dilakukan
perubahan sistem (manuver system). Sistem ini menggunakan 3 buah PMT
dalam satu diagonal yang terpasang secara deret (seri). Single line diagram,
lihat gambar 4.14.

Gambar 4.14 Single Line Diagram Gardu Induk Satu Setengah Busbar

47

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan.
Pada pelaksanaan penelitian ini dengan melakukan pengambilan data di

PLN GIS 150KV GEJAYAN Yogyakarta, maka dari hasil yang dicapai dapat
diambil beberapa kesimpulan:
1. Jika beban yang disuplai oleh transformator pada jaringan semakin besar,
maka digunakan transformator dengan kapasitas yang besar pula untuk
menyuplai beban yang besar tersebut, jika tidak sedemikian rupa, maka
transformator akan mengalami Over Load yang dapat mengakibatkan
transformator terbakar.
2. Semakin besar nilai arus pada beban maka akan semakin besar pula daya
reaktif yang dibangkitkan pada transformator baik trafo merk XIAN SFZ
maupun merk Starlite 20 kV.
3. GIS sendiri merupakan salah satu klasifikasi gardu induk yang
menggunakan isolasi Gas. Berdasarkan lokasi peletakannya, GIS biasa
ditempatkan pada perkotaan karena luas wilayah yang terpakai lebih kecil
dibandingkan dengan yang konvensional.
4. Pada dasarnya sistem proteksi di gardu induk menggunakan dua atau tiga
relai yang dipasang sebgai pengaman, dan pemasangannya pun dibuat
saling terikat satu sama yang lain, adapun jika salah satu relai pada sistem

48

proteksi tersebut mengalami kerusakan maka relai yang lain akan


menggantikan relai yang tidak berfungsi.

5.2

Saran
Dalam laporan ini , penulis mencoba memberikan saran pada PT. PLN

(Persero) APP Salatiga:


1. Bisa meningkatkan Penggunaan Energi Baru dan Terbarukan,
Melakukan Pengawasan (Monitoring) Terhadap Peralatan saluran
distribusi yang Kerap Terjadi Trip/bocor Pada Gardu Induk Gejayan.
2. Agar Dapat Mengoptimalkan Kualitas dan Kuantitas Kerja Sumber
Daya Manusia-nya, Memberlakukan Sistem Keterbukaan Informasi
Publik tentang sosialisasi penggunaan listrik pintar hemat energi.

49

DAFTAR PUSTAKA
Brown, E. Richard. 2002, Electric Power Distribution Reliability, New York. Basel
: Marcel Dekker, Inc.
Dedy Widhianto Adisuwito. 2008, Simulasi dan analisa ketidak seimbangan beban
transformator distribusi untuk identifikasi beban lebih dan estimasi rugi rugi
pada jaringan tegangan rendah pada PLN UJ Darmo Permai APJ Surabaya
selatan, Surabaya.
Marsudi, Djiteng. 2005, Pembangkitan Energi Listrik, Jakarta: Penerbit Erlangga.
Morhel Mubarak. 2008, Studi Keterandalan Sistem Jaringan Distribusi udara 20
kV pada Gardu hubung kandis kota Padang, Padang.
Momoh, A. James. 2008, Electric Power Distribution, Automation, Protection, And
Control, CRC Press Taylor & Francis Group Boca Raton London New Yok.
Pabla, A.S. 2007, Electric Power Distribution fifth Editon, Tata McGraw-Hill
Publishing Company Limited. New Delhi.
Taufiq. 2009, Studi pengaruh penempatan arrester terhadap efektivitas proteksi
transformator distribusi 20 kV pada gadu transformator tiang.
http://one.indokripsi.com/node/8473
PT. PLN (Persero) P3B Suplemen SE. 032/PST/1984, 2000, Uraian kegiatan
Pemeliharaan Listrik, Jakarta.

50