Anda di halaman 1dari 19

Refleksi kasus

Dibacakan 20 Januari 2016

PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR DARI IBU


HEPATITIS B

NAMA

: MUTIA NUR RAHMI

STAMBUK

: N 111 15 007

PEMBIMBING

: dr. SULDIAH, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara endemis tinggi Hepatitis B dengan prevalensi
HbsAg positif di populasi antara 7-10%. Pada kondisi seperti ini, transmisi
vertikal dari ibu yang berstatus HbsAg positif ke bayinya memegang peranan
penting. Di lain pihak, terdapat perbedaan patofisiologi antara infeksi Hepatitis B
yang terjadi pada awal kehidupan dengan infeksi Hepatitis B yang terjadi pada
masa dewasa. Infeksi yang terjadi pada awal kehidupan, atau bahkan sejak dalam
kandungan (transmisi dari ibu dengan HBsAg positif), membawa resiko kronisitas
sebesar 80-90%.
Resiko kematian yang terjadi pada infeksi HBV biasanya berhubungan
dengan kanker hati kronis atau sirosis hepatis yang terdapat pada 25% penderita
yang secara kronis terinfeksi sejak kecil. Jika tidak terinfeksi pada masa perinatal,
maka bayi dari ibu HBsAg positif tetap memiliki resiko tinggi untuk mengidap
infeksi virus Hepatitis B kronis melalui kontak orang ke orang (transmisi
horizontal) pada 5 tahun pertama kehidupannya Sedangkan infeksi pada masa
dewasa yang disebabkan oleh transmisi horizontal memiliki resiko kronisitas
hanya sebesar 5%.
Berdasarkan imunopatogenesis Hepatitis B, infeksi kronis pada anak
umumnya bersifat asimtomatik. Di satu pihak, anak tersebut tidak menyadari
bahwa dirinya sakit. Di pihak lain, anak tersebut merupakan sumber penularan
yang potensial.
Dalam rangka memotong transmisi infeksi Hepatitis B, maka kunci utama
adalah imunisasi Hepatitis B segera setelah lahir, terutama pada bayi-bayi dengan
ibu yang memiliki status HbsAg positif. Berikut ini refleksi kasus tentang
penatalaksanaan bayi yang lahir dari ibu HBsAg positif yang didapatkan di RSUD
Undata Palu.

BAB II
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Tanggal Masuk

: 01 Januari 2016

Identitas Penderita

Nama Penderita
Jenis Kelamin
Tanggal Lahir
Usia
Agama
Kebangsaan
Suku Bangsa

:
:
:
:
:
:
:

By. Ny Mila
Perempuan
01 Januari 2016
0 hari
Islam
Indonesia
Jawa

:
:
:
:
:
:
:

Tn. S (48 tahun)


Ny. M (39 tahun)
TNI
PNS
SMA
S1
BTN Tinggede

Identitas Orang Tua/Wali

Nama Ayah
Nama Ibu
Pekerjaan Ayah
Pekerjaan Ibu
Pendidikan Ayah
Pendidikan Ibu
Alamat

II. ANAMNESIS
Bayi perempuan lahir di RSUD Undata pada tanggal 1 Januari 2016 pk 06.45
dengan persalinan normal letak bokong, cukup bulan, berat badan lahir 3400 gram
dan panjang badan lahir 50 cm. Apgar skor 6/7, bayi langsung menangis, tidak
merintih, tidak sianosis dan tidak ada retraksi dinding dada. Air ketuban berwarna
putih. Mec/mic (+) Riwayat maternal G3P2A0, usia ibu 39 tahun, sering melakukan
pemeriksaan ANC (1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua

dan 2 kali pada trimester ketiga). Riwayat HbsAg positif.


III.

PEMERIKSAAN FISIK

TTV: denyut jantung 140 kali/menit, respirasi 60 kali/menit, temperature


36,5C, CRT <2 detik

Data antropometri: berat badan 3400 gram, panjang badan 50 cm,


lingkar kepala: 33 cm, lingkar lengan: 10 cm, lingkar dada: 31 cm,
lingkar perut: 30 cm
Pernapasan: sianosis (-), merintih (+), apnea (-), retraksi dinding dada (-), stridor
(-), bunyi nafas bronkovesikular bilateral, bunyi tambahan (-).

DOWNE SCORE

Frekuensi Napas
Retraksi
Sianosis
Udara masuk
Merintih
Total Skor
Kesimpulan

:1
:0
:0
:0
:0
:1
: tidak ada gawat napas

Kardiovaskular: bunyi jantung I/II murni regular, murmur (-)

Hematologi: pucat (-), ikterus (-)

Gastrointestinal: kelainan dinding abdomen (-), muntah (-), diare (-),


residu

lambung (-), organomegali (-), bising usus (+) kesan normal,

umbilikus normal.

Sistem saraf: aktifitas aktif, fontanela datar, sutura belum menutup,


kejang (-), tonus otot baik.

Genitalia: Anus imperforata (-), hipospadia (-), hidrokel (-), hernia (-)

Lainnya: ektremitas lengkap, akral hangat. Turgor < 2 detik, kelainan


kongenital (-), trauma lahir (-)

Skor BALLARD
Maturitas Neuromuskular

Maturitas Fisik

Sikap tubuh

:4

Kulit

:3

Persegi jendela

:2

Lanugo

:4

Recoil Lengan

:2

Permukaan Plantar

:4

Sudut Poplitea

:3

Payudara

:3

Tanda Selempang

:3

Mata/Telinga

:3

Tumit Ke kuping

:3

Genitalia

:3
Penilaian pertumbuhan bayi
berdasarkan klasifikasi
neonates menurut Battaglia &
Lubchenco (1967)
KB

: Kurang Bulan

CB

: Cukup Bulan

LB

: Lebih Bulan

BMK : Besar masa kehamilan


SMK :
kehamilan

Sesuai

masa

KMK : Kecil masa kehamilan

IV.

Total Skor

: 37

Estimasi Umur Kehamilan

: 38-40 Minggu

RESUME
Bayi perempuan lahir di RSUD Undata pada tanggal 1 Januari 2016 pk 06.45
dengan persalinan normal letak bokong, cukup bulan, berat badan lahir 3400 gram
dan panjang badan lahir 50 cm. Apgar skor 6/7, bayi langsung menangis. Air ketuban
berwarna putih. Riwayat maternal G3P2A0, usia ibu 39 tahun, sering melakukan
pemeriksaan ANC (1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua

dan 2 kali pada trimester ketiga). Riwayat HbsAg positif. Dari pemeriksaan fisik
didapatkan suhu 36,50C, pernapasan 60x/menit, denyut jantung 140x/menit

V. DIAGNOSIS KERJA
Bayi aterm (SMK) dari ibu HbsAg positif
VI.
a.

PENATALAKSANAAN
Jaga bayi agar tetap hangat, bersihkan atau usap lendir dari mulut dan
hidung, atur posisi kepala untuk patensi jalan napas, keringkan dan

b.
c.
d.
e.

rangsang taktil, atur kembali posisi bayi


Memantau tanda-tanda bahaya
Mengklem dan memotong tali pusat kira-kira 2 menit setelah lahir
Lakukan inisiasi menyusu dini
Memberikan suntikan vit K1 (phytomenadion) 1 mg IM di paha kiri

f.

anterolateral
Memberikan salep mata antibiotik atau tetes mata antibiotik gentamicyn

g.
h.

1%
Melakukan pemeriksaan fisik
Memberikan imunisasi hepatitis B 0,5 ml IM di paha kanan anterolateral
sebaiknya 1-2 jam setelah suntikan vitamin K. Pada pasien ini
mendapatkan imunisasi hepatitis B pukul 17.30, tidak lebih dari 12 jam
setelah lahir

VII.

ANJURAN
a. Berikan HBIg (dalam rentang umur 12 jam)
b. Lanjutkan pemberian ASI
c. Imunisasi dengan 3 dosis vaksin pada 0, 1, 6 bulan umur kronologis
d. Periksa anti-Hbs dan HbsAg pada umur 9-15 bulan

BAB III
DISKUSI
3. 1

Definisi
Hepatitis adalah peradangan hati yang dapat disebabkan oleh virus,
bakteri, parasit dan lain-lain. Peradangan ini dapat berdiri sendiri atau
merupakan penyakit penyerta dari infeksi sistemis. Hepatitis virus
hepatotropik adalah peradangan hati yang disebabkan oleh virus yang target
utamanya adalah hati. Contoh dari virus hepatotropik adalah virus hepatitis
A, B, C, D, dan E, yang kemudian penyakitnya disebut sesuai virus
penyebabnya. Contohnya hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis B
dikenal sebagai hepatitis B. Diantara hepatitis virus tersebut yang dapat

dicegah dengan imunisasi saat ini adalah hepatitis A dan hepatitis B.


Hepatitis A sampai saat ini tidak pernah dilaporkan menyebabkan penyakit
hati kronis (kronisitas), namun sebaliknya hepatitis B merupakann penyebab
utama kronisitas, yang kemudian dapat menjadi sirosis dan kanker hati. Hal
inilah yang kemudian menjadikan hepatitis B menjadi masalah di dunia
termasuk di Indonesia. Kejadian hepatitis B ini sangat berbeda di berbagai
tempat di dunia dan berdasarkan pemetaan yang dibuat oleh Badan
Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia termasuk daerah dengan endemisitas
sedang sampai tinggi (Ranuh IGN, 2014)
3. 2

Faktor Resiko
Faktor resiko terbesar terjadinya infeksi HBV pada anak-anak adalah
melalui transfer perinatal dari ibu dengan status HBsAg positif. Resiko akan
menjadi lebih besar apabila sang ibu juga berstatus HbeAg positif. 70-90%
dari anak-anak mereka akan tumbuh dengan infeksi HBV kronis apabila
tidak diterapi. Pada masa neonatus, antigen Hepatitis B muncul dalam darah
2.5% bayi-bayi yang lahir dari ibu yang telah terinfeksi. Hal ini
menunjukkan bahwa penyebaran infeksi dapat terjadi pula intra uterine.
Dalam beberapa kasus, antigenemia baru timbul kemudian. Hal ini
menunjukkan bahwa infeksi terjadi pada saat janin melewati jalan lahir.
Virus yang terdapat dalam cairan amnion, kotoran, dan darah ibu dapat
merupakan sumber. Meskipun umumnya bayi yang lahir dari ibu yang
terinfeksi menjadi antigenemis sejak usia 2-5 tahun, adapula bayi-bayi yang
lahir dari ibu dengan HBsAg positif tidak terpengaruh hingga dewasa.
(Zhang, 2004)
Anak-anak yang mengidap infeksi kronis Hepatitis B memiliki resiko
tinggi untuk memiliki penyakit hati yang berat, termasuk karsinoma primer
sel hati, seiring dengan bertambahnya usia. Pada umumnya jarang terjadi
karsinoma sel hati pada anak-anak karena puncaknya adalah pada dekade
ke-5 kehidupan, namun beberapa kasus dapat pula terjadi pada anak-anak.

Resiko tertinggi umumnya terjadi pada bayi-bayi yang terpapar infeksi saat
lahir atau pada awal-awal masa kanak-kanak (Ranuh IGN, 2014)
Ditemukan bahwa tanpa resiko persalinan yang tinggi, maka jarang
terjadi infeksi virus Hepatitis B kronis pada perinatal, kecuali pada bayibayi dengan nilai Apgar yang rendah. Hal ini mungkin berhubungan dengan
terjadinya peningkatan dan perbaikan pada perawatan sebelum kelahiran
(prenatal care/PNC). Bagaimanapun juga, status karier pembawa HBsAg
positif merupakan faktor resiko ibu dan neonatus, terutama pada negaranegara berkembang dimana tingkat karier HBsAg cukup tinggi. Dibutuhkan
penelitian lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan terjadinya infeksi
virus Hepatitis B kronis pada kehamilan dengan komplikasi pada populasi
dengan tingkat infeksi virus Hepatitis B kronis yang tinggi (Ranuh IGN,
2014).
3. 3

Patofisiologi
Transmisi pada neonatus pada umumnya adalah transmisi vertikal,
artinya bayi mendapat infeksi dari ibunya. Infeksi pada bayi dapat terjadi
apabila ibu menderita hepatitis akut pada trimester ketiga, atau bila ibu
adalah karier HBsAg. Bila ibu menderita Hepatitis pada trimester pertama,
biasanya terjadi abortus. Transmisi virus dari ibu ke bayi dapat terjadi pada
masa intra uterine, pada masa perinatal, dan pada masa postnatal.
(Matondang, 2008)
Kemungkinan infeksi pada masa intra uterine adalah kecil. Hal ini dapat
terjadi bila ada kebocoran atau robekan pada plasenta. Kita menduga infeksi
adalah intra uterine bila bayi sudah menunjukkan HBsAg positif pada umur
satu bulan. Karena sebagaimana diketahui masa inkubasi Hepatitis B
berkisar antara 40-180 hari, dengan rata-rata 90 hari. (Matondang, 2008)
Infeksi pada masa perinatal yaitu infeksi yang terjadi pada atau segera
setelah lahir adalah kemungkinan cara infeksi yang terbesar. Pada infeksi
perinatal, bayi memperlihatkan antigenemia pada umur 3-5 bulan, sesuai
dengan masa inkubasinya. Infeksi diperkirakan melalui maternal-fetal

microtransfusion pada waktu lahir atau melalui kontak dengan sekret yang
infeksius pada jalan lahir. (Matondang, 2008)
Infeksi postnatal dapat terjadi melalui saliva, air susu ibu rupanya tidak
memegang peranan penting pada penularan postnatal. Transmisi vertikal
pada bayi kemungkinan lebih besar terjadi bila ibu juga memiliki HbeAg.
(Zhang, 2004; Matondang, 2008) Antigen ini berhubungan dengan adanya
defek respon imun terhadap HBV, sehingga memungkinkan tetap terjadi
replikasi virus dalam sel-sel hepar. Hal ini menyebabkan kemungkinan
terjadinya infeksi intra uterin lebih besar.
Banyak peneliti yang berpegang pada mekanisme infeksi HBV intra
uterin yang merupakan infeksi transplasenta. Pada tahun 1987, Lin
mendeteksi adanya 32 plasenta dari ibu dengan HBsAg dan HbcAg positif
dengan menggunakan PAP imunohistokimia, dan tidak menemukan adanya
HBsAg. Dari hasil penelitian diadapatkan bahwa HBV DNA didistribusikan
tertama melalui sel desidua maternal, namun tidak ditemukan adanya sel
pada villi yang mengandung HBV DNA. Hasil penelitian dengan PCR
menunjukkan adanya tingkat sel-sel yang positif mengandung HBsAg dan
HbcAg proporsinya secara bertahap menurun dari plasenta sisi maternal ke
sisi fetus (sel desidua > sel trofoblas > sel vilus mesenkim > sel endotel
kapiler vilus). HBV dapat menginfeksi seluruh tipe sel pada plasenta
sehingga sangat menunjang terjadinya infeksi intra uterin, dimana HBV
menginfeksi sel-sel dari desidua maternal hingga ke endotel kapiler
vilus. (Roshan, 2005; Lu, 2004)
HBV juga menginfeksi sel trofoblas secara langsung, kemudian ke sel
mesenkim vilus dan sel endotel kapiler vilus sehingga menyebabkan
terjadinya infeksi pada janin.HBV terlebih dahulu menginfeksi janin,
kemudian menginfeksi berbagai lapisan sel pada plasenta. HBsAg dan
HbcAg ditemukan di sel epidermis amnion, cairan amnion, dan sekret
vagina yang menunjukkan bahwa juga memungkinkan untuk terjadinya
infeksi ascending dari vagina. HBV dari cairan vagina menginfeksi
membran fetal terlebih dahulu, kemudian menginfeksi sel-sel dari berbagai
lapisan plasenta mulai dari sisi janin ke sisi ibu. (Lu, 2004)

Sejak tahun 1980, ditemukan HBV DNA pada seluruh stadium sel
spermatogenik dan sperma dari pria yang terinfeksi HBV. Pada pria-pria
tersebut, terjadi sequencing pada anak-anaknya sebanyak 98-100%. HBV
DNA terutama berada pada plasma ovum dan sel interstitial. Oosit
merupakan salah satu bagian yang dapat terinfeksi pula oleh HBV, sehingga
transmisi HBV melalui oosit dapat terjadi. Sebagai kesimpulan, infeksi
HBV dapat terjadi melalui plasenta dari darah ibu ke janin, selain itu dapat
pula terjadi infeksi HBV melalui vagina dan oosit. (Lu, 2004)
3. 4

Diagnosis
Tes serologis antigen komersil tersedia untuk mendeteksi HBsAg dan
HBeAg, dimana Hepatitis B surface antigen akan terdeteksi selama masa
infeksi akut. Jika infeksi yang terjadi bersifat self-limited, maka HBsAg
telah hilang sebelum serum anti-HBs terdeteksi (menandakan window
period dari infeksi) (Ranuh IGN, 2014)
Jika seorang wanita yang akan melahirkan memiliki riwayat Hepatitis B
akut tepat sebelum atau saat kehamilannya, maka wanita tersebut akan dites
segera saat melahirkan, jika tes dilakukan 6 bulan atau lebih dari sejak
wanita tersebut sakit, maka tes dibutuhkan untuk menentukan status HBsAg
yang terakhir (imun atau karier), terutama jika tes sebelumnya belum
lengkap. Wanita hamil dengan status HBsAg negatif, namun dicurigai
memiliki riwayat kontak Hepatitis B, maka status HBsAg wanita tersebut
harus diperiksa segera setelah melahirkan. (Freij, 2005)
Diagnosis serologis

1.

Adanya HBsAg dalam serum tanpa adanya gejala klinik menunjukkan


bahwa penderita adalah pembawa HBsAg, yang merupakan sumber yang
penting untuk penularan.

2.

Adanya HbeAg dalam serum memberi petunjuk adanya daya penularan


yang besar. Bila ia menetap lebih dari 10 minggu, merupakan petunjuk
terjadinya proses menahun atau menjadi pembawa virus.

3.

Adanya anti HBc IgM dapat kita pakai sebagai parameter diagnostik
adanya HBV yang akut, jadi merupakan stadium infeksi yang masih akut.
10

4.

Adanya anti HBc IgG dapat dipakai sebagai petunjuk adanya proses
penyembuhan atau pernah mengalami infeksi dengan HBV.

5.

Adanya anti HBsAg menunjukkan adanya penyembuhan dan resiko


penularan menjadi berkurang dan akan memberi perlindungan pada infeksi
baru.

6.

Adanya anti HbeAg pertanda prognosis baik.


(Matondang, 2008)
Skrining untuk HBsAg maternal pada ibu karier merupakan salah satu
pemeriksaan rutin antenatal. Walaupun tidak ada bukti bahwa infeksi HBV
kronis memiliki efek samping terhadap kehamilan, namun ditemukan bahwa
infeksi HBV kronis berhubungan dengan beberapa peningkatan kejadian
pada fetal distress, kelahiran prematur, dan peritonitis akibat aspirasi
mekonium. Patofisiologi pada fenomena ini belum jelas, namun faktor
perbedaan etnik dan aktifitas penyakit pada ibu karier HBsAg juga berperan.
(Zhang, 2004)
Kriteria ibu mengidap Hepatitis B kronis:

1.

Bila ibu mengidap HBsAg positif untuk jangka waktu lebih dari 6 bulan
dan tetap positif selama masa kehamilan dan melahirkan.

2.

Bila status HBsAg positif disertai dengan peningkatan SGOT/SGPT,


,maka status ibu adalah pengidap Hepatitis B.

3.

Bila diseertai dengan peningkatan SGOT/SGPT pada lebih dari lebih dari
3 kali pemeriksaan dengan interval pemeriksaan antara 2-3 bulan, maka
status ibu adalah penderita Hepatitis B kronis.

4.

Status HBsAg positif tersebut dapat disertai dengan atau tanpa HbeAg
positif. (Matondang, 2008)

3. 5

Penatalaksanaan bayi dengan ibu HbsAg positif


Pada umumnya bayi dengan ibu HBsAg + memiliki nilai Apgar 1 menit
dan 5 menit yang lebih rendah dibandingkan bayi normal. Hal ini
dimungkinkan karena adanya kecenderungan bahwa bayi dengan ibu
HBsAg+ lahir prematur sebelum 34 minggu. (Ranuh IGN, 2014)

11

Status

Bayi dgn berat >= 2000 gram

Bayi dengan berat < 2000

Maternal
HbsAg (+)

Vaksin Hepatitis B dan HBIG

gram
Vaksin Hepatitis B dan HBIG

positif

dalam 12 jam setelah kelahiran

dalam 12 jam setelah

Vaksinasi sebanyak 3 kali, yaitu

kelahiran
Vaksinasi sebanyak 4 kali,

pada usia 0, 2, dan 6 bulan

yaitu pada usia 0, 1, 2-3

Periksa kadar anti HBs dan

bulan, dan 6-7 bulan


Periksa kadar anti HBs dan

HBsAg pada usia 9 dan 15

HBsAg pada usia 9 dan 15

bulan
Jika HBsAg dan anti HBs pada

bulan
Jika HBsAg dan anti HBs

bayi negatif (-), berikan

pada bayi negatif (-), berikan

vaksinasi ulang 3 kali dengan

vaksinasi ulang 3 kali dengan

interval 2 bulan, kemudian

interval 2 bulan, kemudian

Jika kadar

kembali periksa.
Vaksin Hepatitis B (dalam 12

kembali periksa
Vaksin Hepatitis B dan HBIG

HBsAg

hari) dan HBIG (dalam 7 hari)

dalam 12 jam.

tidak

jika hasil tes menunjukkan ibu

diketahui

HBsAg +.
Segera periksa kadar HBsAg

Jika hasil tes HbsAg ibu

ibu

belum diketahui dalam 12


jam, berikan bayi vaksin

HBsAg

Sebaiknya tetap lakukan

HBIG.
Vaksinasi Hepatitis B

negatif (-)

vaksinasi Hepatitis B segera

pertama dalam 30 hari setelah

setelah lahir

kelahiran jika keadaan klinis

Vaksinasi 3 kali pada usia 0-2

baik.
Vaksinasi 3 kali pada usia 1-2

bulan, 1-4 bulan, dan 6-18

bulan, 2-4 bulan, dan 5-18

bulan.
Vaksinasi kombinasi Hepatitis B

bulan.
Vaksinasi kombinasi

lainnya dapat diberikan dalam

Hepatitis B lainnya dapat

12

waktu 6-8 minggu.

diberikan dalam waktu 6-8

Tidak diperlukan tes ulang

minggu
Tidak diperlukan tes ulang

terhadap kadar anti HBs dan

terhadap kadar anti HBs dan

HbsAg

HbsAg

(Jill, 2005)
Apabila status HBsAg ibu tidak diketahui, maka bayi preterm dan
BBLR harus divaksin Hepatitis B dalam 12 jam pertama setelah
kelahirannya. (Jill, 2005) Karena reaksi antibodi bayi dengan berat badan
lahir kurang dari 2000 gram masih kurang bila dibandingkan dengan bayi
dengan berat badan lahir lebih dari 2000 gram, maka bayi-bayi kecil
tersebut juga harus mendapat vaksin HBIG dalam 12 jam pertama setelah
kelahirannya. Bayi-bayi dengan berat badan lahir 2000 gram atau lebih
dapat menerima vaksin HBIG secepatnya setelah status HBsAg positif ibu
diketahui, namun sebaiknya vaksin diberikan sebelum tujuh hari setelah
kelahiran bayi tersebut. (Jill, 2005; Pujiarto, 2000)
Apabila diketahui bahwa ibu dengan HBsAg positif, maka seluruh bayi
preterm, tidak tergantung berapapun berat badan lahirnya, harus menerima
vaksin Hepatitis dan HBIG dalam 12 jam setelah kelahirannya. Bayi dengan
berat badan lahir 2000 gram atau lebih dapat menerima vaksin Hepatitis B
sesuai dengan jadwal, namun tetap harus diperiksakan kadar antibodi antiHBs dan kadar HBsAg nya dalam jangka waktu 3 bulan setelah melengkapi
vaksinasinya. Jika kedua tes tersebut memberikan hasil negatif, maka bayi
tersebut dapat diberikan tambahan 3 dosis vaksin Hepatitis B (ulangan)
dengan interval 2 bulan dan tetap memeriksakan kadar antibodi anti-HBs
dan HBsAg nya. Jika kedua tes tersebut tetap memberikan hasil negatif,
maka anak tersebut dikategorikan tidak terinfeksi Hepatitis B, namun tetap
dipertimbangkan sebagai anak yang tidak berespon terhadap vaksinasi.
Tidak dianjurkan pemberian vaksin tambahan. (Jill, 2005; Matondang,
2008)

13

Bayi dengan berat badan kurang dari 2000 gram dan lahir dari ibu
dengan HBsAg positif mendapatkan vaksinasi Hepatitis B dalam 12 jam
pertama setelah kelahiran, dan 3 dosis tambahan vaksin Hepatitis B harus
diberikan sejak bayi berusia 1 bulan. Vaksin kombinasi yang mengandung
komponen Hepatitis B belum diuji keefektifannya jika diberikan pada bayi
yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif. Semua bayi dengan ibu HBsAg
positif harus diperiksan kadar antibodi terhadap antigen Hepatitis B
permukaan (anti-HBS, atau Hepatitis B surface antigen) dan HBsAg pada
usia 9 bulan dan 15 bulan, sesudah melengkapi serial imunisasi HBV.
Beberapa pendapat mengatakan bahwa tes serologis terhadap antigen dan
antibodi tersebut dapat dilakukan 1-3 bulan setelah selesai melaksanakan
serial imunisasi Hepatitis B. (Snyder, 2000)
Menurut meta-analisis terkini pemberian segera vaksin baik berupa
rekombinan maupun vaksin plasma yang diikuti pengulangan pada bulan
kedua dan keenam sejak kelahiran bayilahir dari ibu dengan HBsAg positif
dapat mengurangi kejadian dari Hepatitis B bila dibandingkan dengan
pemberian placebo (RR 0,28, 95% CI 0,20-0,40), sedangkan vaksinasi
ditambah pemberian HBIg mengurangi kejadian lebih banyak lagi (RR 0,54,
95% CI 0,41-0,73). Angka dari penelitian ini menegaskan pemberian
vaksinasi dapat menurunkan kejadian sebanyak hampir 30%, sedangkan
pemberian vaksin ditambah HBIg dapat menurunkan angka kejadian hingga
50%. (Lee, 2006)
Banyak alasan yang mendukung pemberian vaksin Hepatitis tersebut.
Bayi-bayi preterm yang dirawat di rumah sakit seringkali terpapar oleh
berbagai produk darah melalui prosedur-prosedur bedah yang secara teoritis
tentu saja meningkatkan predisposisi terkena infeksi. Pemberian vaksin
lebih awal juga akan memperbaiki jika status maternal HBsAg positif dan
juga menghindarkan terpaparnya bayi dari anggota keluarga lainnya yang
juga HBsAg positif. Hal ini juga menyingkirkan kemungkinan adanya
demam yang disebabkan oleh pemberian vaksin lainnya (Ranuh IGN, 2014).

14

Usia kehamilan kurang bulan dan kurangnya berat badan lahir bukan
merupakan pertimbangan untuk menunda vaksinasi Hepatitis B. Beberapa
ahli menganjurkan untuk tetap melakukan tes serologis 1-3 bulan setelah
melengkapi jadwal imunisasi dasar (Ranuh IGN, 2014)
Imunisasi sesuai jadwal pada anak-anak dengan suspek kontak positif
adalah cara preventif utama untuk mencegah transmisi. Untuk mengurangi
dan menghilangkan terjadinya transmisi Hepatitis B sedini mungkin, maka
dibutuhkan imunisasi yang sifatnya universal. Secara teoritis, vaksinasi
Hepatitis B dianjurkan pada semua anak sebagai bagian dari salah satu
jadwal imunisasi rutin, dan semua anak yang belum divaksinasi
sebelumnya, sebaiknya divaksin sebelum berumur 11 atau 12 tahun (Ranuh
IGN, 2014).
Imunoprofilaksis dengan vaksin Hepatitis B dan Imunoglobulin
Hepatitis B segera setelah terjadinya kontak dapat mencegah terjadinya
infeksi setelah terjadi kontak dengan virus Hepatitis B. Sangat penting
dilakukan tes serologis pada semua wanita hamil untuk mengidentifikasi
apakah bayi yang dikandung membutuhkan profilaksis awal, tepat setelah
kelahirannya untuk mencegah infeksi Hepatitis B yang terjadi melalui
transmisi perinatal. (Pujiarto, 2000)
Bayi yang menjadi karier HBV kronis karena imunoprofilaksis yang
tidak sempurna, kemungkinan besar terinfeksi saat berada dalam
kandungan, atau ibu bayi tersebut memiliki jumlah virus yang sangat
banyak atau terinfeksi oleh virus yang telah bermutasi dan lolos dari
vaksinasi. Apabila infeksi telah terjadi transplasenta, vaksin HBIg dan HBV
tidak dapat mencegah infeksi. (Roshan, 2005)

15

BAB III
KESIMPULAN

Faktor resiko terbesar terjadinya infeksi HBV pada bayi dan anak-anak adalah
melalui transfer perinatal dari ibu dengan status HBsAg positif.

Transmisi virus dari ibu ke bayi dapat terjadi pada masa intra uterine, pada
masa perinatal, dan pada masa postnatal.

Imunisasi sesuai jadwal pada orang-orang dengan suspek kontak positif adalah
cara preventif utama untuk mencegah transmisi.

Bayi preterm maupun aterm yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, maka
tidak tergantung berapapun berat badan lahirnya, harus menerima vaksin
Hepatitis dan HBIG dalam 12 jam setelah kelahirannya.

16

DAFTAR PUSTAKA
Freij BJ, Sever JL. 2005, Hepatitis B. In: Avery GB, Fletcher MA, MacDonald
MG, eds. Neonatology, Pathophysiology and Management of the
Newborn. 5th ed. Philadelphia: Lippincott-Williams and Wilkins; p1146-9.
Lee, Chuanfang et al. 2006. Effect of hepatitis B immunisation in newborn infants
of mothers positive for hepatitis B surface antigen: systematic review and
meta-analysis. British Medical Journal10.1/1136. London
Lu CY, et.al., 2004, Waning immunity to plasma-derived hepatitis B vaccine and
the need for boosters 15 years after neonatal
vaccination,http://www.natap.org/2004/HBV/121304_04.htm#top , 29 Juli
2006
Matondang CS, Akib AAP, 2008, Hepatitis B, eds. Ikterus Pada Neonatus, FKUI,
h73-9
Pujiarto PS, et.al., 2000, Bayi Terlahir dari Ibu Pengidap Hepatitis B, eds. Sari
Pediatri, Vol.2. no.1, IDAI, h.48-9
Ranuh IGN, 2014, Vaksin Hepatitis B, IDAI, http;//idai.or.id/publicarticles/klinik/
imunisasi
Snyder JD, Pickering LK. Viral hepatitis. In: Kliegman RM, Jenson HB, 2000,
eds.Nelson Textbook of Pediatrics. 16th ed. Philadelphia: WB Saunders;
p768-73.
Zhang SL, et.al., 2004, Mechanism of intrauterine infection of hepatitis B
virus,http://www.wjgnet.com/1007-9327/9/108.asp , 29 Juli 2006

17

18