Anda di halaman 1dari 8

Proses Terjadinya Sinar X

Sinar X berawal dari adanya tegangan tinggi pada katoda yang dibalut filamen ( logam
pijar molybdeum) yang mengalirkan elektron dari katoda ke anoda, pada anoda terdapat
antikatodan yang akan ditumbuk oleh elektron daerah pada antikatoda ini disebut daerah focal
spot yang bertujusan untuk menghilangkan panas. Focal spot ini akan menimbulkan proyeksi
yang datangnya tegak lurus searah sumber, proyeksi ini disebut optical focus.
Dari sinilah penyinaran sinar terjadi. Sinar yang terbentuk dilewatkan pada kolimasi
yang berada dipangkal kerucut atau konus. Konis X ray unit ini digunakan untuk
memproyeksikan jarinagn, gigi dan tulang pada permukaan film untuk membantu radiodiagnosis.

Processing Film
Tahapan pengolahan film secara konvensional terdiri dari pembangkitan (developing),
pembilasan (rinsing), penetapan (fixing), pencucian (washing), dan pengeringan (drying).
A. Developing ( Pembangkitan )
Pembangkitan merupakan langkah pertama dalam memproses film. Suatu larutan kimia yang
dikenal sebagai larutan pengembang atau developer digunakan dalam proses pembangkitan.
Tujuan dari developer atau pengembang adalah mengurangi paparan, energi Kristal perak halida
kimia ke perak hitam metalik. Larutan pengembang ini melembutkan emulsi film selama proses
ini
a. Sifat dasar
Pembangkitan merupakan tahap pertama dalam pengolahan film. Pada tahap ini
perubahan terjadi sebagai hasil dari penyinaran. Dan yang disebut pembangkitan adalah
perubahan butir-butir perak halida di dalam emulsi yang telah mendapat penyinaran menjadi
perak metalik atau perubahan dari bayangan laten menjadi bayangan tampak. Sementara butiran
perak halida yang tidak mendapat penyinaran tidak akan terjadi perubahan.
Perubahan menjadi perak metalik ini berperan dalam penghitaman bagian-bagian yang
terkena cahaya sinar-X sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima oleh film.Sedangkan yang
tidak mendapat penyinaran akan tetap bening. Dari perubahan butiran perak halida inilah akan
terbentuk bayangan laten pada film.
b. Bayangan laten (latent image)

Emulsi film radiografi terdiri dari ion perak positif dan ion bromida negative (AgBr)
yang tersusun bersama di dalam kisi kristal (cristal lattice). Ketika film mendapatkan eksposi
sinar-X maka cahaya akan berinteraksi dengan ion bromide yang menyebabkan terlepasnya
ikatan elektron. Elektron ini akan bergerak dengan cepat kemudian akan tersimpan di daiam
bintik kepekaan (sensitivity speck) sehingga bermuatan negatif.
Kemudian bintik kepekaan ini akan menarik ion perak positif yang bergerak bebas untuk
masuk ke dalamnya lalu menetralkan ion perak positif menjadi perak berwarna hitam atau perak
metalik. Maka terjadilah bayangan laten yang gambarannya bersifat tidak tampak.
c. Larutan developer terdiri dari:
i. bahan pelarut (solvent)
Bahan yang dipergunakan sebagai pelarut adalah air bersih yang tidak mengandung mineral.
ii. Bahan pembangkit (developing agent).
Bahan pembangkit adalah bahan yang dapat mengubah perak halida menjadi perak metalik. Di
dalam lembaran film, bahan pembangkit ini akan bereaksi dengan memberikan elektron kepada
kristal perak bromida untuk menetralisir ion perak sehingga kristal perak halida yang tadinya
telah terkena penyinaran menjadi perak metalik berwarna hitam, tanpa mempengaruhi kristal
yang tidak terkena penyinaran. Bahan yang biasa digunakan adalah jenis benzena (C6H6).
iii. Bahan pemercepat (accelerator)
Bahan developer membutuhkan media alkali (basa) supaya emulsi pada film mudah
membengkak dan mudah diterobos oleh bahan pembangkit (mudah diaktifkan). Bahan yang
mengandung alkali ini disebut bahan pemercepat yang biasanya terdapat pada bahan seperti
potasium karbonat (Na2CO3 / K2CO3) atau potasium hidroksida (NaOH / KOH) yang
mempunyai sifat dapat larut dalam air.
iv. Bahan penahan (restrainer).
Fungsi bahan penahan adalah untuk mengendalikan aksi reduksi bahan pembangkit terhadap
kristal yang tidak tereksposi, sehingga tidak terjadi kabut (fog) pada bayangan film. Bahan yang
sering digunakan adalah kalium bromida.
v. Bahan penangkal (preservatif).
Bahan penangkal berfungsi untuk mengontrol laju oksidasi bahan pembangkit. Bahan
pembangkit mudah teroksidasi karena mengabsorbsi oksigen dari udara. Namun bahan
penangkal ini tidak menghentikan sepenuhnya proses oksidasi, hanya mengurangi laju oksidasi
dan meminimalkan efek yang ditimbulkannya.
vi. Bahan-bahan tambahan.

Selain dari bahan-bahan dasar, cairan pembangkit mengandung pula bahan-bahan tambahan
seperti bahan penyangga (buffer) dan bahan pengeras (hardening agent). Fungsi dari bahan
penyangga adalah untuk mempertahankan pH cairan sehingga aktivitas cairan pembangkit relatif
konstan. Sedangkan fungsi dari bahan pengeras adalah untuk mengeraskan emulsi film yang
diproses.
B. Rinsing (Pembilasan)
Setelah proses pembangkitan, rendaman air digunakan untuk mencuci atau membilas
film. Pembilasan digunakan untuk menghilangkan developer atau pengembang dari film dan
memberhentikan proses pengembangan. Pada waktu film dipindahkan dari tangki cairan
pembangkit, sejumlah cairan pembangkit akan terbawa pada permukaan film dan juga di dalam
emulsi filmnya.
Cairan pembilas akan membersihkan film dari larutan pembangkit agar tidak terbawa ke
dalam proses selanjutnya.Cairan pembangkit yang tersisa masih memungkinkan berlanjutnya
proses pembangkitan walaupun film telah dikeluarkan dari larutan pembangkit. Apabila
pembangkitan masih terjadi pada proses penetapan maka akan membentuk kabut dikroik
(dichroic fog) sehingga foto hasil tidak memuaskan.Proses yang terjadi pada cairan pembilas
yaitu memperlambat aksi pembangkitan dengan membuang cairan pembangkit dari permukaan
film dengan cara merendamnya ke dalam air. Pembilasan ini harus dilakukan dengan air yang
mengalir selama 5 detik.
C. Fixing (Penetapan)
Setelah proses pembilasan, difiksasi. Suatu larutan kimia yang dikenal sebagai fiksator
digunakan dalam proses fiksasi. Tujuan dari fiksator adalah untuk menghilangkan Kristal perak
halida yang tidak terpapar dan terkena energi emulsi film. Fiksator menguatkan emulsi film
selama proses ini.
Diperlukan untuk menetapkan dan membuat gambaran menjadi permanen dengan
menghilangkan perak halida yang tidak terkena sinar-X. Tanpa mengubah gambaran perak
metalik. Perak halida dihilangkan dengan cara mengubahnya menjadi perak komplek. Senyawa
tersebut bersifat larut dalam air kemudian selanjutnya akan dihilangkan pada tahap pencucian.
Tujuan dari tahap penetapan ini adalah untuk menghentikan aksi lanjutan yang dilakukan
oleh cairan pembangkit yang terserap oleh emulsi film. Pada proses ini juga diperlukan adanya
pengerasan untuk memberikan perlindungan terhadap kerusakan dan untuk mengendalikan
akibat penyerapan uap air.
Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat suatu cairan penetap adalah:
a. Bahan penetap (fixing agent).

Dipilih bahan yang berfungsi mengubah perak halida. Bahan ini bersifat dapat bereaksi dengan
perak halida dan membentuk komponen perak yang larut dalam air, tidak merusak gelatin, dan
tidak memberikan efek terhadap bayangan perak metalik. Bahan yang umum digunakan adalah
natrium thiosulfat (Na2S2O3) yang dikenal dengan nama hypo.
b. Bahan pemercepat (accelerator).
Untuk menghindari kabut dikroik dan timbulnya noda kecoklatan, biasanya digunakan asam
yang sesuai. Karena pembangkit memerlukan basa dalam menjalankan aksinya, maka tingkat
keasaman cairan penetap akan menghentikan aksinya.
Asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) akan merusak bahan penetap dan mengendapkan sulfur
c. Bahan penangkal (preservatif).
Untuk menghindari adanya pengendapan sulfur maka pada cairan penetap ditambahkan bahan
penangkal yang akan melarutkan kembali sulfur tersebut. Bahan penangkal yang digunakan
adalah natrium sulfit, natrium metabisulfit, atau kalium metabisulfit.
d. Balian pengeras (hardener)
Bahan ini digunakan untuk mencegah pembengkakan emulsi film yang berlebihan.
Pembengkakan emulsi akan membuat perak bromida mudah terkelupas dan pengeringan film
yang tidak merata. Bahan yang digunakan biasanya adalah potassium alum
[K2SO4Al3(SO4)2H2O], aluminium sulfat [Al2(SO4) 3].
e. Bahan penyangga (buffer).
Digunakan untuk mempertahankan pH cairan agar dapat tetap terjaga pada nilai 4 5. Bahan
yang digunakan adalah pasangan antara asam asetat dengan natrium asetat, atau pasangan
natrium sulfit dengan natrium bisulfit.
f. Pelarut (solvent).
Pelarut yang ummn digunakan adalah air bersih.
D.Washing (Pencucian)
Setelah film menjalani proses penetapan maka akan terbentuk perak komplek dan garam.
Pencucian bertujuan untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut dalam air. Tahap ini sebaiknya
dilakukan dengan air mengalir agar dan air yang digunakan selalu dalam keadaan bersih.
E. Drying (Pengeringan)

Merupakan tahap akhir dari siklus pengolahan film. Tujuan pengeringan adalah untuk
menghilangkan air yang ada pada emulsi. Hasil akhir dari proses pengolahan film adalah emulsi
yang tidak rusak, bebas dari partikel debu, endapan kristal, noda, dan artefak.
Cara yang paling umum digunakan untuk melakukan pengeringan adalah dengan udara. Ada tiga
faktor penting yang mempengaruhinya, yaitu suhu udara, kelembaban udara, dan aliran udara
yang melewati emulsi.
Cara kerja otomatis prosesing
Film dimasukkan kedalam alat (prosesor otomatis) yang berisi developer dan fixer. Film
secara otomatis akan berjalan melewati kedua larutan tersebut dan keluar dari alat sudah dalam
keadaan kering.
Mengetahui alat dan cara pemaparan radasi
Teknik radiografi merupakan salah satu metode pengujian material tak-merusak yang
selama ini sering digunakan oleh industri baja untuk menentukan jaminan kualitas dari produk
yang dihasilkan. Teknik ini adalah pemeriksaan dengan menggunakan sumber radiasi (sinar-x
atau sinar gamma) sebagai media pemeriksa dan film sebagai perekam gambar yang dihasilkan.
Radiasi melewati benda uji dan terjadi atenuasi dalam benda uji.
Sinar yang akan diatenuasi tersebut akan direkam oleh film yang diletakkan pada bagian
belakang dari benda uji. Setelah film tersebut diproses dalam kamar gelap maka film tersebut
dapat dievaluasi. Bila terdapat cacad pada benda uji maka akan diamati pada film radiografi
dengan melihat perbedaan kehitaman atau densitas. Pemilihan sumber radiasi berdasarkan pada
ketebalan benda yang diperlukan karena daya tembus sinar gamma terhadap material berbeda.
Pada sumber pemancar sinar gamma tergantung besar aktivitas sumber. Sedangkan
pemilihan tipe film sangat mempengaruhi pemeriksaan kualitas material. Film digunakan untuk
merekam gambar material yangdiperiksa. Pemilihan tipe film yang benar akan menghasilkan
kualitas hasil radiografi yang sangat baik. Pada umumnya kita mengenal dua macam jenis film,
yaitu film cepat dan film lambat. Pada film cepatbutir-butirannya besar, kekontrasan dan
definisinya kurang baik. Sedangkan pada film lambat butir- butirannya kecil,

ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM PROSESING FILM DARK ROOM


Tempat memproses film sampai terjadi gambar yang siap untuk dibaca
PERSYARATAN:
Ukuran memadai ~kapasitas, beban kerja

Terlindung (radiasi, sinar matahari,bahan kimia lain selain


bahan prosesing film)
ada sirkulasi udara
Air bersih
Safe light (cukup lampu merah atau hijau 5 watt)
DARK ROOM TERDIRI DARI:
Wet side
- bak berisi air mengalir
- Tangki pembangkit/pengembang (developer tank)
- Tangki penetap (fixer tank)
dry side
@ Almari untuk penyimpan
- Film
- Kaset
-dll
@ Film hanger

FILM PROSESING TANK

FILM PROCESSING SOLUTION


Developing solution
- Natrium Karbonat akselerator developer, menjaga developer tetap basa
-Kalium Bromide reduksi kristal yg tidak tertembus x-ray, mencegah kabut film
-Natrium sulfit (preservative) mencegah oksidasi zat pereduks
- Air pelarut

-Metol (elon) ; pereduksi timbulkan detail gambar


-Hiroquinone(pereduksi) kontras yg baik

Fixing solution
Bersifat asam Menghilangkan developerMengandung:
- Natrium tiosulfat melarutkan AgBr yg tidak larut dlm developing
-Asam asetat netralisir sisa developer pd film
-Natrium sulfit mencegah zat fixing terurai dlm asam asetat(mencegah pengendapan)
-Kalium alum (boraks) mengeraskan gelatin pada emulsi film gambaran tahan lama
-Air pelarut

3.3 Mengetahui evaluasi dari hasil prosesing film


Kegagalan dalam processing film bisa terjadi oleh beberapa alasan di antranya:
Time and temperature errors
Pengaturan waktu dalam processing film harus diperhatikan, seperti contoh dalam FIXING, yang
menurut ketentuan harus dilakukan selama 4-15 menit. Jika kurang dari penetapan waktu
tersebut maka hasil film akan mudah kabur dalam jangka waktu pendek. Sedangkan pabila
melebihi batasan waktu, maka gambar pada film akan hilang. Sedangkan pengaturan temperature
di gunakan dalam processing film dengan metode Time and Temperature.
Chemical contamination errors
Bahan-bahan kimia yang mencampuri dalam processing film dapat mengakibatkan hasil film
yang buruk. Seperti bila ada senyawa AgBr, yang masih tertinggal pada film maka hasil film
pada nantinya akan terlihat buram
Film handling errors

Pemegangang pada film diperbolehkan saat memastikan bahawa film tersebut sudah benar benar
kering. Karena kalau tidak akan tercetak jari jari kita pada film, bisa juga timbul bercak bercak
yang akan mengganggu dari hasil FILM itu sendiri.
Lighting errors
Tidak diperbolehkan untuk menggunakan warna lampu yang berwarna putih, dan jarak antara
penerangan dengan working area tidak boleh terlalu dekat, minimum 4 kaki. Bila hal ini tidak
diperhatikan maka hasil pada film akan terlihat seperti berkabut (fogged)

ARTEFACT RADIOGRAFI:
Struktur atau gambaran yang tidak normal ada/tampak dlm radiograf ; pada obyek yg difoto tidak
ada
SEBAB:
Defect pada film atau film packet
Improper handling of the film packet
Accidental incidental to processing of the film
Radiographic technical error

DAFTAR PUSTAKA :
Copyright 2003, Elsevier Science (USA). Produced in the United States of America
OBrien, Richard C. 1982. Dental Radiography: An Introduction for Dental Hygienists
and Assistants. Philadelphia: W. B. Saunders Company