Anda di halaman 1dari 20

Probing Periodontal dan Keterlibatan Furkasi

Periodontal Probing & Furcation Involvement


Halls Critical Decisions in Periodontology and Dental Implantology, 5th ed. Lisa A Harpenau. 2013. p24-27

Oleh :
Febriyanti Rahmadini
160112140513
Dwi Novani
160112140514
Primadiyanti Putrina Gustira 160112140522

Pembimbing : Dr. Ira Komara, drg., Sp.Perio (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2015

Probing Periodontal
Dua pengukuran penting yang
didapat dari probing periodontal
kedalaman probing/ probing depth (PD)
level perlekatan klinis/ clinical
attachment level (CAL).

Probing Depth (PD)


kedalaman poket periodontal tempat
ekologi utama mikroflora subgingiva.
Berhubungan:
Peningkatan prevalensi dan level patogen
periodontal
Peningkatan resiko perkembangan penyakit

Menentukan keperluan perawatan

PD jarak dari margin


gingiva ke dasar sulkus.
PD harus diukur pada enam
atau lebih daerah di tiap
gigi.
Probe dimasukkan sejajar
dengan sumbu panjang gigi
dan berjalan melingkar di
sekitar tiap permukaan gigi
untuk menemukan daerah
terdalam

Pada area
interproksimal
probe
disandarkan
melawan kontak
dan sedikit miring
memungkinkan
ujung probe
mencapai area
terdalam dibawah
titik kontak

Bone sounding bentuk diagnostik


probing periodontal yang dilakukan
dengan anestesi lokal di mana ujung
probe dimasukkan transmukosal
sampai berkontak dengan
permukaan tulang.
menentukan ketebalan jaringan lunak
periodontal dan topografi arsitektur
tulang pengambilan keputusan
bedah.

Clinical Attachment Level


(CAL)
clinical attachment level
jarak dari cementoenamel
junction (CEJ) ke dasar sulkus.
Jarak dari CEJ ke margin
gingiva diukur.
Posisi margin gingiva
nomor positif apical ke CEJ
nomor negatif koronal ke CEJ.

CAL = PD + pengukuran
margin gingiva ke CEJ

Keparahan periodontitis
ringan CAL 1-2mm
sedang 3-4mm
berat 5mm

Scaling tidak ada CAL


Root planning ada CAL dan terbuka
permukaan akar
Pemeliharaan rutin setelah terapi inisial
pemeliharaan kesehatan periodontal.

D. PD 4 - 6 mm poket yang cukup dalam.


Biasanya sembuh setelah prosedur skeling dan root
planing, perawatan lebih lanjut seperti bedah mungkin
tidak diperlukan.
jika kondisi periodontal tidak membaik maka bedah
periodontal harus dipertimbangkan dan dianjurkan untuk
merujuk ke periodontis.
E. PD > 6 mm Poket dalam.
Jika kondisi periodontal tidak sembuh setelah skeling dan
root planing bedah periodontal harus dipertimbangkan
dan dianjurkan untuk merujuk ke periodontis.

PROBING PERIODONTAL PADA PASIEN

Penilaian : Kedalam Probing (PD)


Penilaian : Perlekatan klinis (CAL)

PD= 4-6mm

PD= 1-4 mm

CAL 0 mm
0mm
Skeling

Pemeliharan
periodontal

CAL> 1mm

Skeling dan Root


planning

Skeling dan
Root planning

PD= 6 mm

CAL < 4mm


0mm

CAL >4 mm
0mm

Re-evaluasi 4-8
minggu

Tentukan : Apakah
ada perbaikan
kesehatan jaringan

Ada perbaikan :
Pemeliharan
periodontal

Tidak ada
perbaikan : Rujuk
ke spesialis

BAB 10. KETERLIBATAN FURKASI

Menentukan tingkat keterlibatan furkasi sangat penting untuk


menegakkan diagnosis, prognosis, dan menyusun rencana
pengobatan.
Furkasi (furca) : area gigi dimana akar terbagi dari bentuk
batang akar pada umumnya menjadi bifurkasi atau trifurkasi.
Keterlibatan furkasi : tingkat kehilangan tulang interradikular
pada akar jamak dan ditandai oleh faktor-faktor seperti panjang
batang akar, konkavitis akar, dan luasnya jarak akar.
Penilaian yang benar keterlibatan furkasi dan re-evaluasi
penting karena penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa
gigi dengan keterlibatan furkasi adalah gigi yang cenderung
hilang dari waktu ke waktu.

Instrumen untuk
mendeteksi dan
memeriksa adanya
keterlibatan furkasi
Nabers probe

Anatomi Furkasi Gigi Molar


Rahang Atas
Memiliki tiga furkasi di mesial,
bukal dan distal
Furkasi mesial : dua pertiga
panjang bukolingual terhadap
aspek palatal dan hanya dapat
diperiksa melalui mesiopalatal.
Furkasi distal : pertengahan
bukolingual dan dapat diperiksa
melalui bukal atau palatal.
Gambar 10-1. Anatomi furkasi
Furkasi bukal : pertengahan
internal gigi molar rahang
mesiodistal.
atas
Panjang rata-rata akar : dari
cementoenamel junction (CEJ)
yaitu sekitar 4 mm pada mesial, 5
mm pada distal, dan 4 mm pada
bukal

Anatomi Furkasi Gigi Molar Rahang Bawah

memiliki dua furkasi di


bukal dan lingual
Furkasi bukal : pertengahan
mesiodistal dan jarak ratarata antara apikal ke CEJ
sekitar 3 mm.
Furkasi lingual :
pertengahan lingual dan
jarak rata-rata antara
apikal ke CEJ sekitar 4 mm

Gambar 10-2 Anatomi furkasi


internal gigi molar rahang
bawah

Anatomi Furkasi Gigi Premolar Rahang Atas


memiliki dua furkasi,
yaitu di mesial dan
distal serta memiliki
akar yang panjang
Furkasi mesial dan
distal dapat diperiksa
melalui bukal atau
palatal
Keterlibatan furkasi
prognosis yang buruk
karena akar gigi yang
panjang

Klasifikasi Glickman
Grade I :
adanya poket supraboni dan
tulang interradikuler yang
masih utuh
Gambaran radiografi akan
memperlihatkan sedikit
awal tebentuknya
keterlibatan furkasi.
dicatat dengan simbol
Grade II
seperti jalan buntu (cul-desac)
probe dapat penetrasi ke
furkasi secara horizontal.
dicatat dengan simbol

Gambar 10-3 Klasifikasi Glickman


grade I (kiri) dan grade II (kanan)

Klasifikasi Glickman
Grade III
probe dapat menembus
dari satu furkasi ke
furkasi lain karena
rusaknya tulang
interradikuler (throughand-through
communication)
dicatat dengan simbol

Gambar 10-4A Klasifikasi


Glickman grade III (tanpa
ditutup jaringan)

Gambar 10-4B Klasifikasi


Glickman grade III (dengan
ditutup jaringan)

Klasifikasi Glickman
Grade IV
perluasan kerusakan
tulang interradikuler
sehingga probe dapat
menembus dari satu
furkasi ke furkasi lain
(through-and-through
communication)
Secara klinis, furkasi
terlihat karena adanya
penurunan gingiva
dicatat dengan simbol

Gambar 10-5 Klasifikasi Glickman grade

Terima Kasih