Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANGAN

PENGAMATAN SISTEM PENYALIRAN PADA TAMBANG TERBUKA


BATUBARA PADA PT. JHONLIN BARATAMA
DI SITE SUNGAI DUA, KABUPATEN TANAH BUMBU
KALIMANTAN SELATAN

Disusun Oleh :
Ary Rizki Novandy

H1C112208

Ahmad Ramli

H1C112070

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
BANJARBARU
2015

PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANGAN


PENGAMATAN SISTEM PENYALIRAN PADA TAMBANG TERBUKA
BATUBARA PADA PT. JHONLIN BARATAMA
DI SITE SUNGAI DUA, KABUPATEN TANAH BUMBU
KALIMANTAN SELATAN

Pengusul :

Mahasiwa I

Mahasiswa II

Ary Rizki Novandy


NIM. H1C112208

Ahmad Ramli
NIM. H1C112070

Ketua Program Studi


Teknik Pertambangan,

Riswan, MT
NIP. 19731231 200812 1 008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pertambangan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pekerjaan pencarian,
penyelidikan, penambangan, pengolahan, penjualan mineral-mineral dan batuan yang
memiliki arti ekonomis (berharga). Bahan galian itu biasanya berupa mineral,
batubara, panas bumi dan migas.
Salah satu kegiatan penting yang dilakukan pada usaha pertambangan adalah
penyaliran tambang. Maksud kegiatan penyaliran ini untuk mengalirkan air yang
masuk dalam daerah kerja tambang yang tertampung pada kolam sump menuju ke
settling pond atau di alirkan ke tempat yang tidak mengganggu kegiatan
penambangan sehingga kegiatan penambangan dapat berjalan dengan baik. Air yang
masuk ke daerah kerja tambang dapat berasal dari air tanah maupun dari air hujan.
Pada musim penghujan air yang masuk ke daerah kerja tambang semakin banyak,
sehingga penyaliran ini sangat diperlukan agar kegiatan penambangan dapat
dilakukan dengan lancar.
Air tambang memiliki pengaruh yang besar terhadap produktifitas tambang.
Oleh karena itu diperlukan berbagai metode/cara untuk mengatur aliran air yang
masuk ke dalam front kerja. Jalan tambang menjadi bagian utama di sektor
pertambangan, dimana jalan angkut tambang difungsikan selain sebagai lintasan
pengangkutan bahan galian ataupun overburden oleh truk dan alat berat. Untuk
menciptakan kondisi jalan yang bebas dari air, maka dibuatlah jalan yang relatif
cembung. Sehingga ketika air berada pada jalan angkut, air otomatis akan mengalir
ke sisi-sisi jalan yang kemudian dialirkan melalui paritan yang dapat diarahkan
langsung kolam penampungan air (sump) atau dapat langsung dialirkan ke daerah
cakupan air berupa sungai. Genangan air pada daerah tambang akan masuk ke front
kerja penambangan sehingga akan mengganggu kegiatan penambangan. Oleh karena
itu perlu dilakukan system penyaliran tambang pada PT. Jhonlin Baratama, Di Site
Sungai Dua, Kalimantan Selatan.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN


Adapun maksud kerja praktek ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengetahui peralatan yang digunakan pada aktivitas penyaliran tambang.


Mengamati tahapan aktivitas penyaliran pada PT. Jhonlin Baratama.
Memahami rancangan saluran drainase penyaliran tambang.
Mengetahui catchment area.
Mengetahui curah hujan rencana dan intensitas curah hujan.
Mengamati volume dan daya tampung sump

1.3.

METODE PENGAMATAN
Didalam

melaksanakan

pengamatan

permasalahan

ini,

penulis

menggabungkan antara teori dengan data-data lapangan sehingga dari keduanya


didapat pendekatan penyelesaian masalah. Adapun urutan pengerjaan penelitian
sebagai berikut :
1.

Pengamatan Lapangan yaitu pengambilan data secara langsung di lapangan


dengan mengamati kegiatan dari alat-alat yang dipergunakan.

2.

Pemahaman terhadap literatur-literatur yang relevan dalam mendukung


pengolahan data yang diperoleh di lapangan.

3.

Wawancara dengan pembimbing maupun dengan tenaga ahli yang berwenang


yang ada di lapangan.

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Pengertian Penyaliran


Sistem penyaliran tambang adalah suatu kegiatan yang diterapkan pada
daerah penambangan dalam usaha mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air
yang masuk ke daerah penambangan. Dalam system penyaliran tambang, banyak
sekali aspek yang perlu diperhatikan agar rancangan penyaliran yang di desain dapat
digunakan dengan maksimal. Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah terganggunya
aktifitas penambangan akibat adanya air dalam jumlah yang berlebihan terutama
pada musim hujan. Selain itu, sistem penyaliran tambang ini juga dimaksudkan untuk
memperlambat kerusakan alat sehingga alat-alat mekanis yang digunakan pada
daerah tersebut mempunyai umur yang lama. Air tambang merupakain air yang
berbahaya jika tidak ditangani dengan maksimal, oleh karena itu perlu penanganan
yang bertahap dan berkelanjutan agar air dari tambang tidak membahayakan
lingkungan dan penduduk sekitar.
1.

Aspek Penyaliran Tambang


Ada berbagai aspek yang perlu diamati dalam pembuatan desain penyaliran

tambang, yaitu antara lain:


a.
Aspek Topografi
Topografi daerah yang diamati sangat berpengaruh besar pada system
penyaliran tambang, apakah area merupakan tanah laterit atau daerah rawa. selain itu
juga cakupan aspek topografi ini meliputi luas area, kontur tanah dan elevasi
permukaan tanah.
b.
Aspek Hidrologi
Air di bumi mengalami perputaran terus atau membentuk siklus yang dimulai
dari penguapan (evaporasi), hujan (presipitation) dan pengaliran (out flow). Air
menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut berubah menjadi awan sesudah
melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan
laut atau daratan. Sebagian air hujan yang tiba ke permukaan tanah akan masuk ke
dalam tanah (infiltrasi). Bagian lain yang merupakan kelebihan akan mengisi lekuklekuk permukaan tanah kemudian mengalir ke daerah-daerah yang rendah mengikuti
alur paritan, masuk ke sungai-sungai dan akhirnya bermuara di laut. Daur hidrologi
air hujan yang masuk ke daerah tangkapan hujan di area penambangan perlu dikelola
dengan baik agar tidak mengganggu aktifitas penambangan.

*Sumber : Syaiful, 2012

2.

Gambar 2.1
Daur Hidrologi
Metode Penyaliran Tambang
Penanganan masalah air dalam tambang terbuka dapat dibedakan menjadi dua

macam yaitu :
a. Mine Drainage
Mine drainage merupakan upaya untuk mencegah aliran masuk air ke lokasi
penggalian. Hal ini umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah dan air yang
berasal dari sumber air permukaan.
b. Mine Dewatering
Mine dewatering merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk
ke daerah penambangan. Upaya ini terutama untuk menangani air yang berasal dari
air hujan. Beberapa metode penyaliran mine dewatering adalah sebagai berikut :
1) Cara Paritan
Cara ini adalah yang paling murah dimana beberapa lubang parit dibuat pada
lokasi penambangan guna menampung aliran air limpas (run off) sehingga tidak
mengganggu pekerjaan penambangan. Beberapa macam bentuk saluran penirisan
dapat dibuat guna melakukan pekerjaan penirisan tetapi yang sederhana dan umum
digunakan adalah saluran dengan bentuk trapesium, dengan kemiringan sisinya 1 : 1
(45o) (Budiarto, 1997:94).

*Sumber : Budiarto, 1997

Gambar 2.2
Cara Paritan
2) Penyaliran dengan Sump
Cara penyaliran ini sangat umum diterapkan di tambang terbuka. Air yang
masuk ke dalam tambang dikumpulkan ke suatu sump yang biasanya dibuat di dasar
tambang dan dari sump tersebut air dipompa keluar tambang (Nurhakim, 2005:53).

*Sumber : Nurhakim, 2005

Gambar 2.3
Penyaliran dengan Sump

2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sistem Penyaliran


Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam merancang sistem
penyaliran pada tambang terbuka adalah :
1. Curah Hujan
Curah hujan adalah jumlah air hujan yang jatuh pada satuan luas dan
dinyatakan dalam millimeter. Sedangkan derajat curah hujan merupakan banyaknya
curah hujan persatuan waktu tertentu dan disebut sebagai intensitas hujan. Dalam
pembuatan suatu rancangan penirisan tambang data distribusi curah hujan yang
diperlukan adalah distribusi curah hujan jangka waktu pendek yaitu jangka waktu
harian, namun bias juga menggunakan data curah hujan jangka panjang. Penggunaan
dari masing-masing data distribusi curah hujan tersebut disesuaikan dengan tujuan
dari perencanaan yang dilakukan. Besarnya curah hujan dinyatakan dalam mm yang
berarti jumlah air hujan yang jatuh pada satuan luas. Curah hujan 1 mm identik

dengan 1 liter/m2. Derajat curah hujan dinyatakan dalam curah hujan per satuan
waktu disebut intensitas curah hujan.
Berdasarkan pergerakan udara penyebab turunnya hujan dapat dibedakan 3
tipe hujan :
a. Hujan konvektif, yaitu hujan yang disebabkan oleh naiknya udara panas ke daerah
udara dingin. Udara panas tersebut mendingin dan terjadi kondensasi. Hujan tipe
ini umumnya berjangka waktu pendek. Daerah hujannya terbatas dan
intensitasnya bervariasi dari hujan sangat ringan sampai sangat lebat. Tipe hujan
ini sering terjadi di daerah khatulistiwa.
b. Hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi di daerah pegunungan dan disebabkan
oleh naiknya massa udara lembab karena punggung pegunungan.
c. Hujan siklon, yaitu hujan yang berhubungan dengan front udara (front udara panas
dan front udara dingin).
(Budiarto, 1997 :22)
2. Debit Air
Debit air pada paritan merupakan akumulasi jumlah air yang mengalir pada
paritan jalan angkut tambang dengan luasan daerah pengaliran dalam satuan waktu
tertentu. Debit air yang mengalir dinyatakan dalam satuan Standar Internasional (SI)
berupa kubik perdetik (m3/s).
3. Intensitas Curah Hujan (I)
Intensitas hujan adalah banyaknya curah hujan per satuan waktu tertentu dan
dinyatakan dengan satuan mm/jam. Dengan kata lain bahwa intensitas curah hujan
menyatakan besarnya curah hujan dalam jangka pendek yang memberikan gambaran
derasnya hujan perjam. Untuk mengelola data curah hujan menjadi intensitas hujan
di gunakan cara statistik dari data pengamatan curah hujan yang terjadi (Suripin,
2003 : 66-68).
4. Air Limpasan
Air limpasan permukaan adalah air hujan yang mengalir di atas permukaan
tanah. Air limpasan ini secara garis besar dipengaruhi oleh elemen-elemen
meteorologi yang diwakili oleh curah hujan dan elemen-elemen daerah pengaliran
yang menyatakan sifat-sifat fisik dari daerah pengaliran.
Koefisien

limpasan

(C)

merupakan

bilangan

yang

menunjukkan

perbandingan besarnya limpasan permukaan, dengan intensitas curah hujan yang

terjadi pada tiap-tiap daerah tangkapan hujan. Dalam penentuan koefisien limpasan
faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah :
a. Kerapatan vegetasi.
Daerah dengan vegetasi yang rapat, akan memberikan nilai C yang kecil,
karena air hujan yang masuk tidak dapat langsung mengenai tanah, melainkan akan
tertahan oleh tumbuh-tumbuhan, sedangkan tanah yang gundul akan memberi nilai C
yang besar.
b. Tata guna lahan.
Lahan persawahan atau rawa-rawa akan memberikan nilai C yang kecil
daripada daerah hutan atau perkebunan, karena pada daerah persawahan misalnya
padi, air hujan yang jatuh akan tertahan pada petak-petak sawah, sebelum akhirnya
menjadi limpasan permukaan.
c. Kemiringan tanah.
Daerah dengan kemiringan yang kecil (<3%), akan memberikan nilai C yang
kecil, daripada daerah dengan kemiringan tanah yang sedang sampai curam untuk
keadaan yang sama.
5.

Permeabilitas Tanah
Permeabilitas tanah merupakan sifat bahan berpori yang memungkinkan

aliran rembesan dari cairan yang berupa air mengalir melewati rongga pori yang
menyebabkan tanah bersifat permeable. Permeabilitas tanah dipengaruhi oleh
beberapa hal yaitu besar kecilnya ukuran pori-pori tanah, gradasi tanah (pembagian
dan ukuran butir-butir tanah) dan kepadatannya, kadar air yaitu berat jenis dan kadar
udara diantara butir-butir padat (Budiarto, 1997 : 112 - 133).
Tanah permeable disebut tanah yang mudah dilalui oleh air sedangkan tanah
impermeable adalah tanah yang sulit dilalui oleh air. Contoh tanah yang permeable
adalah tanah pasir dan kerikil. Oleh karena itu jenis tanah ini sangat cocok sekali
untuk sistem drainase pipa dibawah muka tanah. Contoh tanah impermeable adalah
tanah lempung murni sehingga dihindari untuk penggunaan pada sistem drainase
pipa. Hubungan antara nilai permeabilitas tanah dengan cara penyaliran dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel 1
Hubungan Permeabilitas dengan Cara Penyaliran

Jenis Tanah*)
Pasir, Kerikil
Pasir+Lempung
Lempung tidak
kompak
Lempung
kompak
Silt
Silt yang halus

Permeabilitas**)
10-1
Tinggi

Cara Penyaliran
Tunnel dan Open Sump

10-1 10-3
Sedang

Open Sump, Siemens

10-3 10-5
Rendah

Small pipe, deep well pump

10-5 10-7
Sangat rendah

Electro osmosis

Kohesif
10-7
Tidak dapat dipompa
material
*) : menunjukkan ukuran butir (grain size)
**) : satuan dalam cm3/detik
6.

Daerah Tangkapan Hujan


Daerah Tangkapan Hujan atau Catchment area merupakan suatu areal atau

daerah tangkapan hujan dimana batas wilayah tangkapannya ditentukan dari titiktitik elevasi tertinggi sehingga akhirnya merupakan suatu poligon tertutup yang mana
polanya disesuikan dengan kondisi topografi dengan mengikuti kecenderungan arah
gerak air (Suwandhi, 2004 : 9).
Dengan pembatasan catchment area maka diperkirakan setiap debit hujan
yang tertangkap akan terkonsentrasi pada elevasi terendah pada catchment tersebut.
Pembatasan catchment area biasa dilakukan pada peta topografi dan untuk
perencanaan sistem penyaliran dianjurkan dengan menggunakan peta rencana
penambangan dan peta situasi tambang.
7. Saluran Air
Saluran air yang terdapat pada area tambang yang diamati berupa saluran air
terbuka, yaitu kolam penampungan air (sump) yang didapat dari bekas lahan galian
yang ditinggalkan. Selain itu terdapat paritan yang dialirkan menuju kolam
penampungan tersebut. Saluran air sebenrnya terbagi atas dua macam, yaitu :
a. Aliran Saluran Terbuka (Open Channel Flow)
Saluran terbuka adalah saluran yang dibuat menyerupai saluran drainase atau
berupa parit dan selokan. Aliran saluran terbuka harus memiliki permukaan bebas
yang dipengaruhi oleh tekanan udara bebas (P Atmosfer). Saluran terbuka pada
instalasi di daerah pengamatan tidak bisa digunakan dalam pembuangan langsung air
tambang, akan tetapi bisa dipakai dalam rangkaian penampungan.

*Sumber : Syaiful, 2012

Gambar 2.4
Saluran Terbuka
b. Aliran Saluran Tertutup (Pipe Flow)
Aliran saluran tertutup tidak dipengaruhi langsung oleh tekanan udara bebas
kecuali oleh tekanan hydrolic. Perancangan instalasi aluran tertutup ini digunakan
untuk memindahkan semua air-air yang ada di sump terendah sampai ke sump yang
lebih tinggi.

*Sumber : Syaiful, 2012

Gambar 2.5
Saluran Tertutup
2.3. Penyelesaian Masalah Pada Sistem Penyaliran
Dalam suatu permasalahan pasti ada cara penanganannya, berikut beberapa
factor yang dapat dijadikan acuan untuk permasalahan system penyaliran tambang.
1. Perhitungan Intensitas Curah Hujan (I)
Intensitas curah hujan dalam kegiatan penyaliran dapat dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
I

= Intensitas curah hujan (mm/jam).

= Lamanya curah hujan / durasi curah hujan (jam).

R24 = Curah hujan rencana dalam suatu periode ulang, yang nilainya didapat dari
tahapan sebelumnya (tahapan analisis frekuensi).
2. Perhitungan Debit Limpasan Permukaan (Qt)
Debit limpasan permukaan yang masuk ke dalam pit dalam kegiatan
penyaliran dapat dihitung dengan rumus :

Keterangan :
Q

= Debit air (m3/detik)

= Koefisien limpasan

= Intensitas curah hujan (mm/jam)

= Luas daerah limpasan (Ha)

3. Perhitungan Debit Air Tanah


Pada saat hari tidak hujan dan juga tidak dilakukan pemompaan air sehingga
air yang terdapat di sump hanya berasal dari mata air dan air rembesan. Pengukuran
pertama dilakukan dengan melihat tinggi permukaan kemudian setelah selang waktu
tertentu dilakukan pengukuran ketinggian air kedua. Luas permukaan air diukur
berdasarkan peta kontur sehingga didapatkan luas permukaan air. Adapun rumus
yang digunakan untuk perhitungan volume air dan debit air :

Kemiringan

Tabel 2
Koefisien Limpasan (C)
Kondisi Daerah Pengaliran

Koefisien

<3%

3 % - 15 %

> 15 %

Sawah, Rawa
Hutan, Perkebunan
Perumahan dengan kebun
Hutan, Perkebunan
Perumahan
Tumbuhan yang jarang
Daerah penimbunan, tanpa tumbuhan
Hutan
Perumahan, Kebun
Tumbuhan yang jarang
Daerah Tambang, tanpa tumbuhan

Limpasan (C)
0,2
0,3
0,4
0,4
0,5
0,6
0,7
0,6
0,7
0,8
0,9

Sumber : Sayoga, 1993 dalam Suwandhi, 2004 : 10

4. Penghitungan Kapasitas Pompa


Kapasitas pompa merupakan debit air yang dikeluarkan pompa dalam selang
waktu tertentu. Kapasitas pompa yang ada dihitung berdasarkan hasil pengukuran
tinggi muka air debit pada saat dilakukan pemompaan. Hal ini dilakukan saat tidak
terjadi hujan.

Keterangan :
Qp

= Kapasitas pompa, m3/menit

QL

= Debit air yang berkurang pada selang waktu tertentu, m3/menit

Qz

= Debit air tanah, m3/menit

5. Perhitungan Head Total Pompa (Hr)


Head Total Pompa (Hr) dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :

Keterangan :
Hr = Head total, meter
hs = Beda tinggi flens isap dan flens keluar, meter
hp = Tekanan bekerja pada kedua permukaan dianggap sama (hp = 0)

hf
hv
4.

= Kerugian head, meter


= Head kecepatan keluar, meter
Perhitungan Waktu Kerja Pompa
Waktu kerja pompa dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai

berikut :
Keterangan :
Q
= Debit air yang dipompa, m3/hari
Qp = Kapasitas pompa, m3/menit
Wp = Waktu kerja pompa, m3/menit

7. Perhitungan Daya Pompa


Daya

pompa

dapat

dihitung

berikut :

Keterangan :
P

= Daya pompa, Hp

= Berat jenis cairan, ton/m3

Qp

= Kapasitas pompa, m3/menit

= Total head, meter

= Efisiensi pompa (0,5 - 0,6)

dengan

menggunakan

rumus

sebagai

BAB III
METODE KEGIATAN
3.1. Diagram Alir
FAKTA
sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang diterapkan pada daerah
penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air yang masuk ke
daerah penambangan
PROBLEM STATEMENT
Pengambilan data dalam pengamatan yang dilakukan adalah dalam berbagai hal
antara lain dengan studi literatur, mengetahui peralatan, prinsip kerja, serta tahapan
penanganan air pada tambang pengamatan langsung.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

TUJUAN
Mengetahui peralatan yang digunakan pada aktivitas penyaliran tambang.
Mengamati tahapan aktivitas penyaliran pada PT. Jhonlin Baratama.
Memahami rancangan saluran drainase penyaliran tambang
Mengetahui curah hujan rencana dan intensitas curah hujan maksimum
Mengamati volume dan daya tampung sump
Mengetahui debit aktual pompa

ANALISA DATA
Pengamatan, peralatan, dan faktor faktor yang mempengaruhi aktivitas system
penyaliran di perusahaan.

HASIL YANG DICAPAI :


Efisiensi alat pompa
Tahapan aktvitas sistem penyaliran
Faktor yang memperngaruhi sistem penyaliran

PEMBAHASAN

3.2. JADWAL PENELITIAN

KESIMPULAN

Penelitian Kerja praktek diusulkan Oktober 2015 sampai November 2015


dengan beberapa rincian perencanaan uraian kegiatan. Apabila diperlukan, waktu
pelaksanaan dapat disesuaikan dengan keadaan perusahaan.
Tabel 3
Rencana Kegiatan Penelitian (Format Mingguan)
No
Uraian Kegiatan
Minggu
1
2
3
4
Observasi dan pengamatan
1
Lapangan
2 Pengambilan data
3 Pengolahan Data
4 Pembuatan Laporan
5 Konsultasi Pembimbing
Pengamatan akan dilaksanakan pada PT. Jhonlin Baratama, Di Site
Sungai Dua, Kalimantan Selatan.

BAB IV
PENUTUP
Demikian proposal ini dibuat sebagai bahan pertimbangan bagi pihak
perusahaan dengan harapan dapat memudahkan pelaksanaan Kerja Praktek (KP).
Kami menyadari bahwa dalam penulisan dan pembuatan proposal ini banyak terdapat
kekurangan dan kekeliruan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan pelaksanaan Kerja
Praktek ini.

DAFTAR PUSTAKA
Budiarto, 1997, Sistem Penirisan Tambang, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas
Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta, Hal.
149.
Nasution, Ichwan Ridwan. 2005. Aliran Seragam pada Saluran Terbuka. Medan :
Universitas Sumatera Utara.
Nurhakim, 2005, Draft Bahan Kuliah Tambang Terbuka, Program Studi Teknik
Pertambangan FT UNLAM, Banjarbaru, Hal. 56.
Suripin, 2003, Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan, Penerbit ANDI,
Semarang, Hal. 19-106.
Suwandhi, A., 2004, Perencanaan Sistem Penyaliran Tambang, Diklat Perencanaan
Tambang Terbuka, Unisba, 12-22 Juli, 17 Hal.
Suyono dan Takeda K., 2003, Hidrologi untuk Pengairan, PT Pradnya Paramita,
Jakarta, Hal. 15.
Syaiful. 2012. Sistem
blogspot.com/?m=1.

Penyaliran

Tambang,

(online),

(http://syaiful049.

LAMPIRAN
DATA YANG AKAN DIAMBIL DILAPANGAN

Metode Penyaliran Yang Digunakan

Catchment area

Data Curah hujan : 1. Cara pengambilan data curah hujan


2. Rumus yang digunakan

Cara Mengetahui Intensitas Curah Hujan

Mengetahui Debit Limpasan

Mengetahui Debit air Tanah

Kapasitas Pompa : 1. Cara Menghitung Kapasitas Pompa


2. Mengetahui Head Total Pompa
3. Kerja Waktu Pompa dan Daya Pompa