Anda di halaman 1dari 9

PERCOBAAN III

DISPERSI MOLEKULER
Teori Umum
Jika kita mencampurkan suatu zat dengan zat cair, maka akan terjadi
penyebaran secara merata dari suatu zat tersebut ke dalam zat cair. Hal inilah yang
disebut sebagai sistem dispersi. Pada umumnya, zat terlarut yang jumlahnya lebih
sedikit disebut sebagai fase terdispersi, sedangkan zat pelarut yang jumlahnya
lebih banyak disebut sebagai medium pendispersi. Jadi sistem dispersi adalah
pencampuran antara fase terdispersi dengan medium pendispersi yang bercampur
secara merata.Berdasarkan ukuran partikelnya, sistem dispersi dibedakan menjadi 3
yaitu :
1. Larutan sejati atau dispersi molekuler.
Larutan sejati adalah campuran antara zat padat / zat cair (sebagai fase
terdispersi)dengan zat cair (sebagai medium pendispersi). Pada larutan sejati,
fase terdispersi larut sempurna dengan medium pendispersi sehingga dihasilkan
campuran yang homogen, sehingga antara fase terdispersi dengan medium
pendispersinya tidak dapat dibedakan lagi. Molekul-molekul fase terdispersi
tersebar merata ke dalam komponen medium pendispersi, sehingga larutan
disebut juga dispersi molekuler.
2. Koloid atau dispersi halus.
Koloid adalah suatu campuran antara fase terdispersi dengan medium
pendispersi tetapi fase terdispersinya bukan dalam bentuk molekuler melainkan
gabungan dari beberapa molekul.
Secara visual, bentuk fisik koloid sama seperti bentuk larutan tetapi jika diamati
dengan mikroskop ultra, campuran ini bersifat heterogen.
3. Suspensi atau dispersi kasar.
Suspensi adalah campuran heterogen antara fase terdispersi dengan medium
pendispersi dimana fase terdispersinya tidak dapat bercampur secara merata ke
dalam medium pendispersinya.Pada umumnya, fase terdispersinya berupa
padatan sedangkan medium pendispersinya berupa cairan.
Dalam suspensi, antara fase terdispersi dengan medium pendispersinya dapat
dibedakan dengan jelas.

Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat


terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif
didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk
dispersi molekuler homogen. Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa
cara. Menurut U.S. Pharima copied dan National Formulary, definisi kelarutan
obat adalah jumlah ml pelarut dimana akan larut 1 gram zat terlarut.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh pada kelarutan, antara lain:
1. pH
2. Suhu
3. Jenis pelarut
4. Bentuk dan ukuran partikel zat
5. Kosolvensi
6. Konstanta dielektrikum bahan pelarut
7. Adanya zat-zat lain seperti surfaktan, pembentuk kompleks, ion sejenis, dll.
8. Modifikasi Kimia Obat
Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut. Pelarut
polar bertindak sebagai pelarut menurut mekanisme berikut:
1. Karena tingginya tetapan dielektrik, pelarut polar mengurangi gaya tarikmenarik antara ion dan Kristal yang bermuatan berlawanan.
2. Pelarut polar
Konstanta dieletrik adalah suatu besaran tanpa dimensi dan merupakan rasio
antara kapasitas elektrik medium (Cx) terhadap terhadap vakum (Cv) yang
dirumuskan sebagai berikut:
= Cx / Cv
Untuk campuran bahan pelarut merupakan hasil penjumlahan tetapan dielektrik
masing-masing sesudah dikalikan dengan % volume setiap komponen pelarut.
Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan
dengan pelarut tunggalnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency. Bahan
pelarut di dalam pelarut campur yang mampu meningkatkan kelarutan zat disebut
co-solvent. Etanol, gliserin dan propilen glikol merupakan contoh-contoh kosolven
yang umum digunakan.
MAKSUD PERCOBAAN

Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kelarutan suatu zat dalam pelarut


tertentu
TUJUAN PERCOBAAN
1. Menjelaskan pengaruh pelarut campur (kosolvensi) terhadap kelarutan suatu
zat
2. Melihat pengaruh nilai konstanta dielektrik pelarut tertentu dalam pelarut
campur
PRINSIP PERCOBAAN
Penentuan kadar asam salisilat yang tidak terlarut pada berbagai seri konsentrasi
gabungan pelarut berdasarkan titrasi asam basa
ALAT DAN BAHAN
1. Alat-alat
Erlenmeyer , Becker glass, Buret, Gelas ukur, Labu ukur , Batang Pengaduk,
Kertas saring, Corong
2. Bahan-bahan
Asam Salisilat, Asam Benzoat, Asam Borat, Asam Asetilsalisilat, NaOH 0,1 N,
Etanol 90%, Propilenglikol (PEG), Fenolftalein, Air suling
PROSEDUR PERCOBAAN:
1. Dibuat 10 mL campuran bahan pelarut seperti yang tertera pada table berikut.
(Variasi konsentrasi disesuaikan jumlah kelompok)
Air (% v/v)

Alkohol (%v/v)

60
60
60
60
60
60
60

0
5
10
20
30
35
40

Propilen
Glikol(%v/v)
40
35
30
20
10
5
0

2. Asam Salisilat/Asam Benzoat/Asam Borat/Asam Asetilsalisilat sebanyak 1


gram dilarutkan ke dalam masing-masing campuran pelarut.

3. Larutan dikocok dengan alat pengocokan elektrik selama 15 menit secara


intermitten shaking.
4. Larutan disaring
5. Kadar asam salisilat/asam benzoat/asam borat/asam asetilasetat yang larut
ditentukan dengan cara titrasi asam basa dengan peniter larutan NaOH 0,1 N
dengan indicator phenolphthalein.
6. Dibuat kurva antar kelarutan asam salisilat dengan harga konstanta dielektrik
bahan pelarut campur yang ditambahkan.

PERCOBAAN VIII
FENOMENA DISTRIBUSI
TEORI UMUM
Koefisian Partisi
Koefisien partisi atau koefisien distribusi, P, adalah parameter yang
mencirikan afinitas relatif dari senyawa dalam bentuk tidak terionisasi, untuk air dan
pelarut

lemak yang tak bercampur (biasanya oktanol). Oktanol dipilih sebagai

model fase lipid karena paling dekat mensimulasikan sifat membran biologis.
Penentuan P (atau log P) menilai penempatan senyawa obat bersama dengan
dua pelarut yang tidak bercampur dalam corong pisah. Molekul zat terlarut akan
mendistribusikan tiap fase sampai keadaan setimbang.
Partisi obat antara pelarut tak bercampur
1. Contoh partisi termasuk :
Partisi obat antara fasa air dan lemak.
Molekul pengawet dalam partisi emulsi antara air dan minyak fase.
Partisi antibiotik ke mikroorganisme.
Partisi obat-obatan dan molekul pengawet ke dalam plastik wadah.
2. Distribusi zat terlarut antara dua fase adalah dinyatakan dalam koefisien partisi
atau koefisien distribusi, P, didefinisikan sebagai rasio kelarutan dalam fase air,
Cw, terhadap fase non-air (minyak), Co atau sebaliknya, dengan rumus :

Ket:
P

: koefisien partisi

Cw

: Konsentrasi dalam air

Co

: Konsentrasi dalam lemak/minyak

Makna nilai Koefisien partisi pada zat obat :

P>1
P=1
P<1

: Memiliki nilai afinitas lebih besar pada air dibanding lemak


: Memiliki nilai afinitas yang sama antara air dan lemak
: Memiliki nilai afinitas lebih besar pada lemak dibanding air

Ekstraksi
Untuk menentukan efisiensi terhadap pelarut yang dapat mengekstraksi senyawa
dari pelarut kedua. Anggaplah W gram zat terlarut diekstraksi secara berulang kali

dari V1 ml pelarut berturut-turut dengan sejumlah V2 ml pelarut kedua, yang tidak


bercampur dengan pelarut pertama. Misalkan W1 gram adalah berat zat terlarut yang
tersisa dalam pelarut pertama sesudah diesktraksi dengan porsi pertama dari pelarut
kedua. Kemudian konsentrasi zat terlarut yang tertinggal dalam pelarut pertama
adalah (W1/V1) dan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut pengekstraksi adalah (WW1)/V2 maka koefisien distribusinya menjadi :

K=

Konsentrasi zat terlarut dalam pelarut pertama


Konsentarsi zat terlarut dalam pelarut pengekstarksi

K=

W 1 /V 1
( W W 1 ) /V 1

Atau
W 1=W

K V1
K V 1+V 2

Proses ini dapat diulang dan setelah n kali ekstraksi maka,


KV1
W n=W
K V 1 +V 2

Ket:
K

: Koefisien partisi

: Jumlah zat terlarut (gram)

V1

: Volume pelarut pertama (ml)

V2

: Volume pelarut kedua (ml)

: Jumlah ekstraksi

Penerapan Koefisien Partisi Dalam Farmasi


1. Pengawet dalam sediaan bentuk cair
Larutan makanan, obat, dan kosmetik merupakan sasaran kerusakan oleh
enzim mikroorganisme yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi penguraian.
Enzim-enzim ini dihasilkan oleh ragi, kapang, bakteri dimana organisme tersebut
harus dimatikan atau dihambat pertumbuhannya untuk mencegah kerusakan

pada sediaan. Sterilitas dan penambahan zat kimia pengawet adalah metode
umum yang digunakan dalam bidang farmasi untuk mengawetkan larutan obat
terhadap kontaminasi ssari berbagai mikroorganisme. Asam benzoat dalam
bentuk garam larut yaitu natrium benzoat, sering digunakan untuk tujuan ini
karena natrium benzoat tidak memberikan efek yang membahayakan bagi
manusia apabila termakan dalam jumlah kecil.
Cara kerja dari asam benzoat dan asam-asam sejenisnya dengan cara molekul
asam benzoat dapat menembus membran lipoid (dibanding bentuk ion lebih sulit
menembus). Molekul tak terdisosiasi yang terdiri dari bagian non-polar yang
besar, larut dalam

membran lipoid dari mikroorganisme dan menembus

membran tersebut dengan cepat kemudian terakumulasi pada membran


sitoplasma dan mengubah permeabilitasnnya menjadi lebih toksik serta
menghambat aktivitas sel
2. Absorpsi Obat Dalam Membran Sel
Koefisien partisi sangat penting karena memberikan kita perkiraan tingkat
penyerapan obat-obatan dalam kondisi pH yang berbeda. Zat obat yang memiliki
afinitas lebih besar pada air maka penyerapannya biasanya dalam bentuk ionion. Sedakan untuk zat yang memiliki afinitas lebih besar pada lemak
penyerapannya dalam bentuk molekul.
3. Pemisahan Suatu Senyawa Dengan Pengotornya (Ekstraksi)
Dengan mengetahui koefisien partisi dan kelarutan suatu senyawa maka
senyawa tersebut dapat dipisahkan dari pengotornya melalui proses ekstraksi
dengan menggunakan 2 pelarut yang tidak bercampur dimana pelarut pertama
hanya mampu menarik senyawa yang diinginkan dan pelarut lainnya hanya
mampu menarik pengotornya (spesifik).
MAKSUD PERCOBAAN
Mengetahui dan memahami cara menentukan koefisien distribusi suatu zat
dan jumlah zat tersebut yang terdistribusi dalam dua pelarut yang tidak saling
bercampur.
TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan koefisien distribusi dan jumlah zat yang terlarut dari asam borat
dan asam benzoat dalam pelarut air dan minyak yang tidak saling bercampur.
PRINSIP PERCOBAAN

Penentuan koefisien distribusi dan jumlah zat terlarut dari suatu zat dalam pelarut air
dan minyak berdasarkan pada perbandingan kelarutan suatu zat dalam dua pelarut
yang tidak saling bercampur. Penetapan kadar zat obat terlarut dilakukan dengan
metode titrimetri dengan larutan baku dan pereaksi mengikuti prosedur analisis
bahan berdasarkan Farmakope.

ALAT DAN BAHAN


Alat-alat
Alat-alat yang digunakan adalah buret, Erlenmeyer, labu takar 50 ml, pipet
volume 25 ml, statif-klem, timbangan analitik.
Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah aquadest, etanol 95% P, fenobarbital
indicator fenolftalein (PP), kafein sitrat, larutan baku NaOH 0,1 N, minyak goreng,
paraffin cair.
PROSEDUR KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Ditimbang sampel (fenobarbital/kafein sitrat) 50 mg.
3. Dimasukkan ke dalam labu takar 50 ml kemudian ditambah dengan air suling
hingga volume 50 ml (larutan stok).
4. Diambil larutan stok diambil sebanyak 25 ml menggunakan pipet volume
kemudian dimasukkan dalam labu erlenmeyer, dan kadar senyawa diukur
sesuai dengan metode alkalimeteri yang tertera dalam Farmakope.
5. Diambil lagi larutan stok sebanyak 25 ml kemudian dimasukkan ke dalam
corong pisah.

6. Diambil minyak sebanyak 25 ml kemudian ditambahkan ke dalam corong


pisah dan dikocok hingga homogen.
7. Didiamkan beberapa menit sampai campuran membentuk dua lapisan yang
jelas.
8. Diambil lapisan air dari corong pisah, kemudian dilakukan penetapan kadar
sesuai dengan langkah nomor 4.
7.