Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dewasa ini, persaingan yang terjadi di perusahaan menuntut sumber daya
manusianya untuk selalu berkembang demi perbaikan performansi kerjanya di
perusahaan.

Perusahaan

melakukan

pengukuran

performansi

kerja

untuk

meningkatkan produktifitas pekerjanya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain


didunia bisnis. Performansi kerja sendiri mempunyai peranan penting dalam
pencapaian tujuan perusahaan. Faktor faktor individu dan situasional seperti sikap,
motivasi, karakteristik pekerjaan, lingkungan fisik, dan kepuasan kerja merupakan halhal yang paling berpengaruh terhadap performansi kerja.

Faktor

karakteristik

pekerjaan seperti variasi keterampilan, identitas tugas, dan umpan balik akan
mendorong kenaikan tingkat kepuasan kerja dari sumber daya manusia.
Dari kuisioner tersebut dapat terlihat faktor faktor yang terjadi disaat pekerja
melakukan pekerjaannya. Semua dapat dilihat dari faktor psikologis kejiwaan yang
terdapat pada pekerja, tetapi pada dasarnya penelitian harus dimulai dari tingkat yang
paling bawah. Mulai dari konsumsi energi, perhitungan waktu baku pekerja, work rest
cycle, dan pengukuran kerja secara psikologis. Dari semua itu, perusahaan dapat
mengetahui kondisi pekerja agar dapat mengubah untuk perbaikan sistem yang lebih
baik.

1.2 Perumusan Masalah


Dalam praktikum kali ini praktikan ingin menganalisa apakah beban pekerjaan
yang diberikan kepada pekerja CV.KUF sudah memenuhi ergonomi atau belum,
apakah terdapat pengaruh yang signifikan terhadap pengukuran terhadap denyut
jantung operator, sebelum, sesaat dan sesudah melakukan pekerjaan serta praktikan
ingin menganalisa stasiun mana saja yang memiliki beban pekerjaan fisik dan
psikologis yang paling berat.

1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah :
1. Praktikan mampu memahami dan menggunakan kriteria kriteria ukuran
performansi sistem kerja yang mencakup aspek waktu, fisiologi, dan psikologi
kerja
2. Mampu memahami dan melakukan pengukuran waktu kerja dengan
menggunakan metoda jam-henti secara benar mencakup pemilahan elemenelemen operasi, pengukuran waktu siklus, pengolahan data sampai dengan
formulasi waktu baku
3. Mampu memahami, melakukan, dan menghitung beban kerja fisik suatu
pekerjaan tertentu dengan metoda pengukuran denyut jantung menggunakan
pulse-meter
4. Mampu menilai tingkat beban kerja fisik suatu pekerjaan tertentu dan
menentukan selang kerja istirahat karena beban kerja fisik tersebut
5. Mampu menggunakannya sebagai alat analisis dan perancangan sistem kerja
menilai tingkat beban kerja mental suatu pekerjaan tertentu

Mulai

Perumusan Masalah

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Pengukuran Denyut Jantung dan Beban kerja psikologis

Sebelum Bekerja

Saat Bekerja

Sesudah Bekerja

Pengolahan Data

Analisis

Kesimpulan dan Saran

Selesai

1.4

Flowchart Praktikum

Saat Istirahat

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1

Sistem Kerja
Mendapatkan suatu sistem kerja yang lebih baik dari sistem kerja yang telah
ada atau memiliki sistem kerja dari beberapa sistem kerja yang diajukan merupakan
salah satu hal yang ingin dicapai dengan mempelajari teknik tata cara ini.
Kemampuan untuk dapat membentuk atau menciptakan cara-cara kerja yang
baikmerupakan kebutuhan utama dalam kegiatan diatas yaitu mencari sistem kerja
yang baik dari yang lainnya, karena dari cara-cara alternatif yang dibentuk dengan
sembarangan. Untuk dapat merancang sistem kerja yang baik, seorang perancang
kerja harus dapat menguasai dan mengendalikan faktor-faktor yang membentuk
sistem kerja. Faktor-faktor tersebut bila dilihat dalam kelompok besarnya terdiri atas
pekerja, mesin ,peralatan serta lingkungan. Kerja merupakan suatu sistem, karena
dalam pelaksanaanya melibatkan komponen-komponen pendukung dan analisa
terhadap objek kerja yang dilaksankan. Dimana terdapat keterkaitan, saling
mendukung dan mempengaruhi antara komponen yang satu dengan lainnya.
a. Manusia
Manusia berperan sebagai perancang, pelaksana dan pengevaluasi. Sebagai
pekerja, manusia dengan segala sifat, kemampuan, kelebihan dan keterbatasanya
dalam melakukan pekerjaan memberikan pengaruh yang besar atas keberhasilan
sistem kerja.
b. Bahan
Bahan merupakan segala sesuatu yang akan diproses dalam sistem kerja. Untuk
dapat menghasilkan output yang diharapkan dapat dilakukan penyesuain terhadap
bahan yang meliputi ukuran/dimensi, warna dan faktor lain yang berpengaruh
terhadap proses dalam sistem kerja.

c. Mesin
Mesin sebagai segala sesuatu yang membantu/mempermudah manusia dalam
memproses input sistem kerja

d. Lingkungan kerja
Kondisi lingkunagan kerja sangat mempengaruhi terhadap operator dalam
menyelesaikan pekerjaanya Parameter lingkungan kerja yang berpengaruh
terhadap proses dan hasil kerja manusia antara lain temperature, kelembaban,
penerangan, kebisingan dan getaran.
Prinsip-prinsip sistem kerja :
a. Tidak terjadi antrian
b. Minimasi waktu siklus
c. Minimasi waktu delay
Sasaran yang ingin dicapai dengan penelitian cara kerja ini adalah untuk
mendapatkan cara kerja yang lebih baik guna meningkatkan produktivitas dan
efisiensi kerja. Usaha ini dapat dilakukan dengan :
a. Melakukan perbaikan tata letak tempat kerja
b. Melakukan analisa dan perbaikkan elemen gerakan
c. Mendesain tempat kerja dan peralatan sesuai dengan prinsip ergonomic
Kreativitas seseorang dapat memungkinkan diperolehnya beberapa alternative
dalam penyelesaian suatu pekerjaan. Untuk melakukan perbaikkan cara kerja,
alternatif itu harus dipilih yang baik yang dapat dilaksanakan. Untuk memilih suatu
cara kerja perlu dikembangkan suatu kriteria penilaian yang dapat digunakan.
Kriteria penilaian ini dapat meliputi :
a. Waktu penyelesaian yang dibutuhkan
b. Tenaga yang dikeluarkan
c. Akibat psikologis dan sosiologis yang ditimbulkan oleh pekerjaan tersebut

2.2

Pengukuran Waktu Kerja


Pengukuran Waktu Kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara kegiatan
manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Dari pengukuran
waktu kerja dan waktu baku suatu pekerjaan yang berguna untuk :
1. Masalah Power Planning (Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kerja)
2. Estimasi biaya-biaya untuk upah karyawan atau pekerja
3. Penjadwalan produksi dan anggaran
4. Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi karyawan atau pekerja
yang berprestasi.
5. Indikasi output yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja
Pengukuran waktu kerja itu sendiri dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu:
Pengukuran waktu kerja secara langsung dan pengukuran waktu kerja secara tidak
langsung.

2.2.1

Pengukuran Waktu Kerja dengan Metode Pengukuran Langsung


Secara langsung yaitu pengukuran dilaksanakan secara langsung
yaitu di

tempat

dimana

pekerjaan

yang

diukur

dijalankan.

Terdapat 2 cara pengukuran secara langsung yaitu cara pengukuran kerja


dengan menggunakan jam henti (stop watch time-study) dan dengan cara
sampling kerja (work sampling).
a. Metode Jam Henti (Stop Watch Time-Study)
Pengukuran waktu kerja dengan menggunakan jam henti (stop watch
time- study) diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W. Taylor sekitar
abad 19 yang lalu. Metode ini terutama sekali diaplikasikan diaplikasikan
untuk pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulang-ulang
(repetitive). Dari hasil pengukuran maka akan diperoleh waktu baku
untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan, yang mana waktu ini
dipergunakan sebagai standar penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja

yang akan melakukan pekerjaan yang sama seperti itu. (Wignjosoebroto,


2000, p171).
Ada tiga

metode

yang

umum

yang

digunakan

untuk

mengukur elemen-elemen kerja dengan menggunakan jam henti (stopwatch) yaitu :


1. Pengukuran waktu secara terus-menerus, dimana pengamat kerja
akan menekan tombol stop-watch pada saat elemen kerja pertama
dimulai dan membiarkan jarum petunjuk stop-watch berjalan secara
terus menerus samapai periode atau siklus kerja selesai berlangsung.
Disini pengamat kerja terus mengamati jalannya jarum stop-watch
dan mencatat pembacaan waktu yang ditunjukkan setiap akhir
dari elemen-elemen kerja pada lembar pengamatan. Waktu
sebenarnya dari masing-masing elemen diperoleh dari pengurangan
pada saat pengukuran waktu selesai dilaksanakan.
2. Pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing) atau
disebut juga Snap-Back Method, dimana jarum penunjuk stop-watch
akan selalu dikembalikan (snap-back) lagi ke posisi nol setiap akhir
dari elemen kerja yang diukur. Dengan cara tersebut maka data
waktu untuk setiap elemen kerja yang diukur akan dapat dicatat
secara langsung tanpa ada pekerjaan tambahan untuk pengurangan
seperti dijumpai dalam metode pengukuran secara terus-menerus.
Dengan melihat data waktu tiap elemen secara langsung maka
pengamat akan bisa segera

bisa mengetahui variasi data waktu

selama proses kerja berlangsung untuk setiap elemen kerja. Variasi


yang terlalu besar dari data waktu yang bisa diakibatkan oleh
kesalahan membaca atau menggunakan stop-watch ataupun bisa pula
karena penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan
kerja.
3. Pengukuran waktu secara akumulatif, dimana dalam pengukuran

waktu secara akumulatif ini akan digunakan dua atau lebih stopwatch yang akan bekerja secara bergantian. Dua atau tiga stop-watch
dalam hal ini didekatkan sekaligus pada papan pengamatan atau
dihubungkan dengan suatu tuas. Tuas ini

akan

diberhentikan

apabila elemen kerja yang diamati telah selesai dan kemudian


menggerakkan stop-watch kedua untuk melakukan elemen kerja
selanjutnya. Metode pengukuran akumulatif ini memberi keuntungan
didalam hal pembacaan karena akan lebih mudah dan lebih teliti
karena jarum stop-watch tidak dalam keadaan bergerak pada saat
pembacaan data waktu dilaksanakan seperti halnya yang kita jumpai
untuk penguliran kerja dengan menggunakan satu stop-watch.
b. Metode Work Sampling
Metode ini dikemukakan oleh L.H.C. Tippett sorang sarjana inggris.
Metode sampling kerja ini berdasarkan hukum probabilitas, sehingga
pengamatan suatu objek cukup dengan mengambil beberapa
sample yang diambil secara acak dari

polpulasi

contoh

yang

Metode ini sesuai digunakan untuk pekerjaan yang sifatnya

ada.
tidak

berulang dan memiliki siklus waktu panjang. Langkah-langkah


pengukuran waktu kerja dengan metode sampling kerja work sampling
sebagai berikut :
a) Lakukan penentuan jumlah sample yang dibutuhkan
b) Lakukan uji keseragaman dan kecukupan data
c) Tentukan tingkat ketelitian yang dibutuhkan dalam pengamatan
d) Lakukan analisa hasil akhir yang berkaitan dengan presentase delay
e) Gunakan peta kontrol untuk mengetahui kondisi-kondisi kerja yang
wajar

2.2.2

Pengukuran Waktu Kerja dengan Metode Pengukuran Tidak Langsung


Secara tidak langsung, pengukuran waktu kerja adalah dengan
melakukan aktivitas yang dilakukan hanya melakukan perhitungan waktu
kerja dengan membaca tabel-tabel waktu yang tersedia asalkan mengetahui
jalannya pekerjaan melalui
elemen

gerakan.

elemen-elemen

pekerjaan

atau

elemen-

Cara pengukuran waktu kerja tidak langsung yaitu

dengan cara aktivitas data waktu baku (standard data) dan data waktu
gerakan (predetermined time system). Data waktu gerakan terdiri dari Work
Factor, Maynard Operation Sequance Time (MOST), Motion Time
Measurement (MTM), Basic Motion Time (BMT) dan lain-lain.
a. Metode Waktu Baku (standard data)
Waktu

baku

ini

merupakan

waktu

yang

dibutuhkan

oleh

seseorang pekerja yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk


menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu baku ini disini sudah meliputi
kelonggaran waktu yang diberikan dengan memperhatikan situasi dan
kondisi pekerjaan yang harus diselesaikan tersebut. Dengan demikian
maka waktu baku yang dihasilkan dalam aktivitas pengukuran kerja ini
akan dapat digunakan sebagai alat untuk membuat rencana penjadwalan
kerja yang menyatakan berapa lama serta berapa jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Di sisi lain dengan
adanya waktu baku yang sudah ditetapkan ini akan dapat pula ditentukan
upah ataupun insentif (bonus) yang harus dibayar

sesuai

dengan

performa yang ditunjukkan oleh pekerja (konsep a fair days work for a
fair days pay).
Cara mendapatkan waktu baku dari data yang telah terkumpul yaitu
adalah sebagai berikut :
1. Hitung waktu siklus rata-rata.
2. Hitung waktu normal dengan
Wn = Ws x p.....................persamaan 1

Dimana p adalah faktor penyesuaian. Faktor ini diperhitungkan jika


pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan
tidak wajar, sehingga hasil perhitungan waktu perlu disesuaikan atau
dinormalkan dulu untuk mendapatkan waktu siklus rata-rata yang wajar.
Jika pekerja bekerja dengan wajar, maka faktor penyesuaiannya p
sama dengan 1, artinya waktu siklus

rata-rata sudah normal.

Jika

bekerja terlalu lambat maka untuk menormalkannya pengukur harus


memberi harga p < 1 atau p < 100%, dan sebaliknya, jika p > 1 atau p >
100%, artinya dianggap bekerja cepat.
3. Hitung waktu baku dengan :
Wb = Wn + 1.....................persamaan 2
Dimana 1 adalah kelonggaran atau allowance yang diberikan kepada
pekerja unuk menyelesaikan pekerjaannya di samping waktu normal.
Kelonggaran ini diberikan untuk hal-hal seperti kebutuhan pribadi,
menghilangkan rasa fatique, dan gangguan-gangguan yang mungkin
terjadi yang tidak dapat dihindarkan pekerja. Umumnya kelonggaran ini
dinyatakan dalam persen dari waktu normal.

b. Metode Waktu Gerakan


Pengukuran waktu kerja secara tidak lansung dengan data waktu
gerakan yaitu pengukuran waktu yang tidak langsung berdasarkan
elemem-elemen pekerjaannya, melainkan berdasarkan elemen-elemen
gerakannya. Elemen gerakan timbul dari gagasan konsep Therbligs yang
dikemukakan oleh Frank dan Lilian Gilberth. Menetapkan waktu baku
dengan pengukuran metode ini menggunakan data waktu gerakan yang
terdiri atas sekumpulan data waktu dan prosedur sistematis yang
dilakukan dengan menganalisa dan membagi setiap operasi kerja yang
dilakukan secara manual kedalam gerakan-gerakan kerja, gerakan
anggota tubuh/gerakan-gerakan manual lainnya.

1. Metode Work Factor


Sistem

faktor

kerja

merupakan

salah

satu

sistem

dari

Predetermined Time System yang paling awal dan secara luas


diaplikasikan Sistem ini memungkinkan untuk menetapkan waktu
untuk pekerjaan-pekerjaan manual dengan menggunakan data waktu
gerakan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Langkah-langkah yang
diambil di sini pertama kali adalah membuat analisa detai setiap
langkah kerja yang ada berdasarkan 4 variabel yang merupakan dasar
utama pelaksanaan kerja (anggota tubuh, kerja perpidahan gerakan,
manual kontrol dan berat/hambatan yang ada) dan mengunakan data
faktor kerja sebagai unit pengukurnya. Langkah kemudian adalah
menentukan waktu bakunya. Pada Work-Factor System, suatu
pekerjan dibagi atas elemen-elemen gerakan standart kerja sebagai
berikut : Transport atau reach & move (TRP), Grasp (GR), PrePosition (PP), Assemble (ASY), Use (manual, process or machine
time)-(US), Diassemble (DSY), Mental Process (MP), dan Release
(RL). Dan simbol-simbol yang digunakan untuk menunjukan anggota
tubuh yang dipergunakan dan faktor-faktor kerja juga distandardkan
sebagai berikut :
Tabel 2.1 Tabel Work Factor Motion

Simbol-simbol tersebut di atas digunakan untuk mencatat dan


mengevaluasi gerakan-gerakan kerja yang ada. Di sini anggota tubuh
yang dipergunakan akan diindikasikan pertama kali, kemudian jarak
tempuh yang kedua, dan faktor-faktor kerja akan metoda WorkFactor untuk menentukan gerakannya :
Tabel 2.2 Tabel deskripsi elemen kerja berdasarkan Work Factor

2. Motion Time Measurement (MTM)


Dalam menganalisa gerakan kerja sering kali dijumpai kesulitankesulitan dalam menentukan batas-batas suatu elemen Therblig
dengan elemen Therblig yang lainnya karena waktu kerja yang terlalu
singkat. Untuk memudahkannmya dilakukan perekaman atas
gerakan-gerakan kerja dengan menggunakan kamera film (video
recorder). Hasil perekaman dapat diputar ulang kalau perlu dengan
kecepatan lambat (slow motion) sehingga analisa gerakan kerja dapat
dilakukan dengan lebih teliti. Aktivitas ini mengharuskan untuk
merekam setiap gerakan kerja yang ada secara detail dan memberi
kemungkinan-kemungkinan analisa gerakan kerja secara detail dan
secara lebih baik.

3. Basic Motion Time (BMT)


Basic motion dikembangkan dari tahun 1949 1953 oleh Gerald
B. Bailey dan Ralph Presgrave. Data pada Basic Motion ini
sebenarnya adalah revisi dari MTM dan ada penambahan beberapa
pola dari predetermined system. Ini bertujuan agar lebih mudah untuk
diaplikasikan dan perbedaan penghitungan waktu baku yang relatif
kecil selisihnya dan lebih memungkinkan pendekatannya.

2.3

Kelebihan dan Kekurangan Pengukuran Kerja Langsung dan Tidak Langsung


Pengukuran langsung mempunyai kelebihan yaitu praktis artinya mencatat
waktu

saja

tanpa

harus

menguraikan

pekerjaan

kedalam

elemen-elemen

pekerjaannya. Sedangkan kekurangannya adalah dibutuhkan waktu lebih lama untuk


memperoleh data waktu yang banyak tujuannya. Hasil pengukuran yang teliti dan
akurat dan membutuhkan biaya yang labih besar karena harus pergi ke tempat
dimana pekerjaan pengukuran kineja berlangsung.
Adapun pengukuran tidak langsung mempunyai kelebihan yaitu waktu relatif
singkat, hanya mencatat waktu dan menguraikan pekerjaan kedalam elemen-elemen
pekerjaannya. Sedangkan kekurangannya adalah belum ada data waktu gerakan
berupa tabel-tabel waktu gerakan yang menyeluruh dan rinci, tabel yang digunakan
adalah untuk Eropa, tidak cocok untuk orang Indonesia, dibutuhkan ketelitian yang
tinggi untuk seorang pengamat pekerjaan karena akan berpengaruh terhadap hasil
perhitungan, data waktu gerakan harus disesuaikan dengan kondisi pekerjaan misal
elemen pekerjaan kantor tidak sama dengan elemen pekerjaan pabrik.

2.4

Pengukuran Konsumsi Energi


Secara garis besar, kegiatan-kegiatan kerja manusia dapat digolongkan menjadi
kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak). Pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara
sempurna, karena terdapatnya hubungan yang erat antara satu dengan lainnya.
Apabila dilihat dari energi yang dikeluarkan, kerja mental murni relatif lebih sedikit

mengeluarkan energi dibandingkan kerja fisik. Kerja fisik akan mengakibatkan


perubahan pada fungsi alat-alat tubuh, yang dapat
dideteksi melalui perubahan :
a) Konsumsi oksigen
b) Denyut jantung
c) Peredaran udara dalam paru-paru
d) Temperatur tubuh
e) Konsentrasi asam laktat dalam darah
f) Komposisi kimia dalam darah dan air seni
g) Tingkat penguapan, dan faktor lainnya
Kerja fisik mengakibatkan pengeluaran energi yang berhubungan erat dengan
konsumsi energi. Konsumsi energi pada waktu bekerja biasanya ditentukan dengan
cara tidak langsung, yaitu dengan pengukuran :
1. Kecepatan denyut jantung
2. Konsumsi oksigen
Bilangan nadi atau denyut jantung merupakan peubah yang penting dan pokok,
baik dalam penelitian lapangan maupun dalam penelitian laboratorium. Dalam hal
penentuan konsumsi energi, biasa digunakan parameter indeks kenaikan bilangan
kecepatan denyut jantung. Indeks ini merupakan perbedaan antara kecepatan denyut
jantung pada waktu kerja tertentu dengan kecepatan denyut jantung pada saat
istirahat.
Untuk merumuskan hubungan antara energi expenditure dengan kecepatan
denyut jantung, dilakukan pendekatan kuantitatif hubungan antara energi
ekspenditure dengan kecepatan denyut jantung dengan menggunakan analisis regresi.
Bentuk regresi hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung adalah regresi
kuadratis dengan persamaan sebagai berikut:
Y = 1,80411 0,0229038 X + 4,71711.10

-4

Dimana: Y : energi (kilokalori per menit)


X : kecepatan denyut jantung (denyut per menit)

X ...............persamaan 3

Setelah besaran kecepatan denyut jantung disetarakan dalam bentuk energi,


maka konsumsi energi untuk suatu kegiatan kerja tertentu bisa dituliskan dalam
bentuk matematis sebagai berikut :
KE = Et Ei..............................................persamaan 4
Dimana : KE = konsumsi energi (kilokalori/menitt)
Et = pengeluran energi pada saat waktu kerja tertentu (kilokalori/menit)
Ei = pengeluaran energi pada saat istirahat (kilokalori/menit)
Dengan demikian, konsumsi energi pada waktu kerja tertentu merupkan selisih
antara pengeluaran energi pada waktu kerja tersebut dengan pengeluaran energi pada
saat istirahat.

2.4

Siklus Kerja Fisiologis


Jika denyut nadi dipantau selama istirahat, kerja dan pemulihan, maka waktu
pemulihan untuk beristirahat meningkat sejalan dengan beban kerja. Dalam keadaan
yang ekstrim, pekerja tidak mempunyai waktu istirahat yang cukup sehingga
mengalami kelelahan yang kronis. Murrel membuat metode untuk menentukan
waktu istirahat sebagai kompensasi dari pekerjaan fisik.
R = T (W-S) / W 1,5...........................persamaan 5
Dimana : R = Istirahat yang dibutuhkan dalam menit
T = Total waktu kerja dalam menit
W = Konsumsi energi rata-rata untuk bekerja dalam kkal/min
S = Pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan dalam kkal/min
(biasanya 4 atau 5 kkal/min)

2.5

Kurva Pemulihan
Untuk menghindari kerugian pengukuran pekerja ketika bekerja, dapat
digunakan perubahan tingkat denyut selama pemulihan. Kurva pemulihan tingkat
denyut jantung menunjukkan

1.

Tekanan fisiologis

2.

Aptitude fisik dari subyek

3.

Keberadaan kelelahan fisiologis


Heart rate recovery merupakan respons didapat yang mudah dan berguna untuk

evaluasi outcome pasien rehabilitasi jantung. Latihan menghasilkan pemulihan laju


jantung (Heart Rate Recovery = HRR) yang lebih cepat pada pasien gagal jantung.
Sebagai petanda sederhana untuk fungsi otonom, HRR merupakan respons
didapat yang mudah dan berguna untuk evaluasi outcome pasien rehabilitasi jantung.
Kesimpulan tersebut dikemukakan oleh Jonathan Myers dkk dalam

laporan

penelitian mereka. Dengan berpijak pada fakta bahwa HRR merupakan salah satu
petanda tonus vagal yang berhubungan dengan survival, namun pengetahuan
mengenai efek latihan terhadap HRR pada pasien dengan gagal jantung masih
sedikit, maka dilakukan penelitian atas 24 pasien dengan gagal jantung yang diacak
untuk program 2 bulan rehabilitasi di rumah atau perawatan biasa.
Uji latih yang terbatas gejala dilakukan pada awal dan akhir program. HRR
dinyatakan dengan penurunan laju jantung dari latihan puncak sampai 6 menit saat
pemulihan. Disamping itu, kurva pemulihan HRR dinormalkan pada kisaran 1 pada
laju jantung puncak 0 pada 6 menit serta disesuaikan untuk perbedaan dalam hal
cadangan laju jantung, sehingga mempermudah perbandingan bentuk kurva
pemulihan antar kelompok. Secara berturut-turut, rerata ambilan oksigen puncak dan
ambilan oksigen pada nilai ambang laktat meningkat 26% (P < 0,05) dan 39% (P <
0,001) pada kelompok latihan, sedangkan pada kelompok kontrol tidak satu pun
terajdi perubahan respons yang signifikan lebih cepat tercapai pada kelompok latihan
sesudah menjalani latihan (efek utama berturut-turut 12,6 vs 2,6 denyut/menit pada
kelompok latihan dan kontrol, P = 0,005). Kurva normal menunjukkan bahwa
perbaikan terbesar pada bentuk kurva terjadi pada kelompok latihan, namun sebagian
besar perbaikan HRR disebabkan oleh pelebaran antara laju jantung puncak dan
istirahat.

2.6

Penyesuaian Waktu dengan Rating Performance Kerja


Kegiatan evaluasi kecepatan dan performance kerja operator pada saat
pengukuran kerja berlangsung merupakan bagian yang paling sulit dan penting dalam
pengukuran kerja atau dengan kata lain aktifitas untuk menilai atau mengevaluasi
kecepatan kerja operator. Hal ini yang dikenal dengan Rating Performance.
Tujuan dari rating performance adalah untuk menormalkan waktu kerja yang
disebabkan oleh ketidakwajaran operator dalam bekerja.
2.6.1

Cara Menentukan Faktor Penyesuaian

1. Presentasi
Ini merupakan cara paling awal, sederhana dan mudah. Nilai p
ditentukan oleh pengukur melalui pengamatan selama pengukuran, misal :
ditentukan p = 110% jika Ws = 14,6 menit, Wn = 14,6 x 1,1 = 16,6 menit.
Kekurangan dari cara ini adalah hanya menghasilkan penilaian kasar.
2. Cara Schumard
Yaitu metode dengan melalui suatu daftar indeks nilai/skor
kecepatan kerja (40 s/d 100), atasan dari responden diminta menilai
seberapa cepat bawahan mengerjakan suatu tugas atau aktivitas tertentu
dibandingkan dengan kecepatan orang normal (nilai 60) untuk
mendapatkan nilai P (Penyesuaian) dari responden pada tugas tersebut.
Dengan mengkalikan waktu yang digunakan responden tersebut dengan
nilai P maka akan diperoleh waktu yang diperkirakan digunakan oleh
orang normal untuk menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas tertentu.
Patokan penilaian berdasarkan kelas-kelas performansi kerja. Setiap
kelas mempunyai nilai yang berbeda-beda seperti yang diperlihatkan oleh
tabel di bawah ini:

Tabel 2.3 Tabel Schumard

Kelas

Kelas

100

Good

65

Fast +

95

NORMAL

60

Fast

90

Fair +

55

85

Fair

50

80

Fair

45

75

Poor

40

Superfast

Fast
Excelent
Good +
Good

70

3. Cara Westinghouse
Westinghouse company (1927) juga ikut memperkenalkan sistem
yang dianggap lebih lengkap dibandingkan dengan sistem yang
dilaksanakan oleh Bedaux. Disini selain kecakapan (skill) dan usaha
(effort) yang telah dinyatakan oleh Bedaux sebagai faktor yang
mempengaruhi performa manusia, maka Westinghouse

menambahkan

lagi dengan kondisi kerja (working condition) dan konsistensi


(consistency) dari operator di dalam melakukan pekerjaan. Untuk ini
Westinghouse telah berhasil membuat suatu tabel performance rating
yang berisikan nilai-nilai angka yang berdasarkan tingkatan yang ada
untuk masing-masing faktor tersebut. Untuk menormalkan waktu yang
ada maka hal ini dilakukan dengan jalan mengalikan waktu yang
diperoleh dari pengukuran kerja dengan jumlah ke empat rating faktor
yang dipilih sesuai dengan performance rating yang ditunjukkan oleh
operator.

Tabel 2.4 Tabel Westinghouse

EFFORT

SKILL
+ 0,15 A1 Superskill

+ 0,13 A1 Superskill

+ 0,13 A2

+ 0,12 A2

+ 0,11 B1 Excellent

+ 0,10 B1 Excellent

+ 0,08 B2

+ 0,08 B2

+ 0,06 C1 Good

+ 0,05 C1 Good

+ 0,03 C2

+ 0,02 C2

0,00 D

Average

- 0,05 E1 Fair
- 0,10 E2
- 0,16 F1 Poor
- 0,22 F2

0,00 D

- 0,04 E1 Fair
- 0,08 E2
- 0,12 F1 Poor
- 0,17 F2
CONSISTENCY

CONDITION
+ 0,06 A Ideal

Average

+ 0,04 A Ideal

+ 0,04 B Excellent

+ 0,03 B Excellent

+ 0,02 C Good

+ 0,01 C Good

0,00 D Average

0,00 D Average

- 0,03 E Fair

- 0,02 E Fair

- 0,07 F Poor

- 0,04 F Poor

4. Cara Objektif
Cara ini dengan memperhatikan dua faktor kecepatan kerja dan tingkat
kesulitan pekerjaan yang dipandang secara bersama dapat menentukan
berapa harga p untuk mendapatkan waktu normal. Di sini pengukur
melakukan penilaian keseluruhan yaitu menilai semua faktor yang
dianggap berpengaruh sekaligus.

2.7

Pengukuran Beban Kerja Fisik


Salah satu kebutuhan umum dalam pergerakan otot adalah oksigen yang
dibawa oleh darah ke otot untuk pembaaran zat dalam menghasilkan energi. Menteri
Tenaga Kerja melalui Kep. No. 51 tahun 1999, menetapkan kategori beban kerja
menurut kebutuhan kalori sebagai berikut :
1. Beban kerja ringan : 100 200 kilo kalori/jam
2. Beban kerja sedang : >200 350 kilo kalori/jam
3. Beban kerja berat : >350 500 kilo kalori/jam
Menurut Grandjean (1993) bahwa kebutuhan kalori seorang pekerja selama 24
jam ditentukan oleh tiga hal :
1.

Kebutuhan kalori untuk metabolisme basal. Keterangan kebutuhan seorang lakilaki dewasa memerlukan kalori untuk metabolisme basal + 100 kilo joule (23,87
kilo kalori) per 24 jam per kg BB. Sedangkan wanita dewasa memerlukan kalori
untuk metabolisme basal + 98 kilo joule (23,39 kilo kalori) per 24 jam per kg
BB.

2.

Kebutuhan kalori untuk kerja. Kebutuhan kalori untuk kerja sangat ditentukan
oleh jenis aktifitas kerja yang dilakukan atau berat ringannya pekerjaan.

3.

Kebutuhan kalori untuk aktifitas-aktifitas lain diluar jam kerja. Rata-rata


kebutuhan kalori untuk aktifitas diluar kerja adalah + 2400 kilo joule (573 kilo
kalori) untuk laki-laki dewasa dan sebesar 2000-2400 kilo joule (425-477 kilo
kalori) per hari untuk dewasa.

2.8

Pengukuran Beban Psikologis


Aspek psikologi dalam suatu pekerjaan berubah setiap saat. Banyak faktorfaktor yang mempengaruhi perubahan psikologi tersebut. Faktor-faktor tersebut
dapat berasal dari dalam diri pekerja (internal) atau dari luar diri pekerja/lingkungan
(eksternal). Baik faktor internal maupun eksternal sulit untuk dilihat secara kasat

Kelompok
4

2
0

mata, sehingga dalam pengamatan hanya dilihat dari hasil pekerjaan atau faktor yang
dapat diukur secara obyektif, atau pun dari tingkah laku dan penuturan si pekerja
sendiri yang dapat diidentifikasikan.
Pengukuran beban psikologi dapat dilakukan dengan :
1. Pengukuran beban psikologi secara obyektif
a. Pengukuran denyut jantung
Secara umum, peningkatan denyut jantung berkaitan dengan meningkatnya
level pembebanan kerja.
b. Pengukuran waktu kedipan mata
Secara umum, pekerjaan yang membutuhkan atensi visual berasosiasi dengan
kedipan mata yang lebih sedikit, dan durasi kedipan lebih pendek.
c. Pengukuran dengan metoda lain
Pengukuran dilakukan dengan alat flicker, berupa alat yang memiliki sumber
cahaya yang berkedip makin lama makin cepat hingga pada suatu saat sukar
untuk diikuti oleh mata biasa.
2. Pengukuran beban psikologi secara subyektif
a. National Aeronautics and Space AdministrationTask Load Index (NASA
TLX)
NASATLX merupakan multidimensional scale yang digunakan untuk
mengukur beban kerja mental sebagai fungsi dari mental demand, physical
demand, temporal demand, performance, effort, dan frustration dimension.
Dalam pengukuran beban kerja mental dengan menggunakan metode NASA
TLX, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :
1. Rating
Pada bagian pertama responden diminta memberi rating terhadap
keenam indikator beban mental.
2. Pembobotan
Pada bagian kedua responden diminta untuk melingkari salah
satu dari dua indikator yang dirasakan lebih dominan menimbulkan

beban kerja mental terhadap pekerjaan tersebut. Kuesioner yang


diberikan berbentuk perbandingan berpasangan yang terdiri dari 15
perbandingan berpasangan. Dari kuesioner ini dihitung jumlah tally
dari setiap indikator yang dirasakan paling berpengaruh . Jumlah tally
ini kemudian akan menjadi bobot untuk tiap indikator beban mental.
Tabel 2.5 Tabel keterangan metode NASA-TLX

b. Subjective Workload Assessment Technique (SWAT)


Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Reid dan Nygren pada Harry G.
Armstrong Aerospace Medical Research Laboratory Wrigt Patterson Air
Force Base, Ohio, USA. Metoda ini muncul sebagai akibat dari meningkatnya
kebutuhan akan pengukuran subyektif yang dapat digunakan dalam pekerjaan
secara langsung. SWAT ini dibuat sedemikian rupa sehingga tanggapan hanya
diberikan melalui tiga deskriptor pada masing-masing tiga faktor/dimensi.
Penggunaan metoda ini dilakukan melalui 2 (dua) tahapan pekerjaan yakni
scale development dan event scoring.

2.9

Kelonggaran (Allowance)
Waktu normal untuk suatu elemen operasi kerja adalah semata-mata
menunjukkan bahwa seorang operator yang berkualifikasi baik akan bekerja
menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan atau tempo kerja yang normal. Walaupun
demikian pada prakteknya kita akan melihat bahwa tidaklah

bisa

diharapkan

operator tersebut akan mampu bekerja secara terus-menerus sepanjang hari tanpa
adanya interupsi sama sekali. Disini kenyataannya operator akan sering
menghentikan pekerjaan dan membutuhkan waktu- waktu khusus untuk keperluan
seperti personal needs, istirahat melepas lelah, dan alasan-alasan lain yang diluar
kontrolnya. Waktu longgar yang dibutuhkan dan akan

menginterupsi

proses

produksi ini diklasifikasikan menjadi personal allowance, fatique allowance, dan


delay allowance.
2.9.1

Personal Allowance
Pada dasarnya setiap pekerja

haruslah

diberikan

kelonggaran

waktu untuk keperluan pribadi (personal needs). Jumlah waktu longgar untuk
kebutuhan pribadi dapat ditetapkan dengan jalan melaksanakan aktivitas time
study sehari kerja penuh atau dengan metode sampling kerja. Untuk pekerjaan
relatif ringan, dimana operator bekerja selama 8 jam per hari tanpa jam
istirahat yang resmi sekitar 2 sampai 5% (10 sampai 24 menit). Meskipun
jumlah waktu longgar untuk kebutuhan pribadi yang diperlukan ini akan
bergantung pada individu pekerjanya dibandingkan dengan jenis pekerjaan
yang dilaksanakan, akan tetapi kenyataannya untuk pekerjaan-pekerjaan yang
berat dan kondisi kerja yang tidak enak (terutama temperatur tinggi) akan
menyebabkan kebutuhan waktu untuk personil ini lebih besar lagi. Allowance
untuk hal ini bisa lebih besar dari 5%.
2.9.2

Fatique Allowance
Kelelahan fisik manusia bisa disebabkan oleh beberapa penyebab
diantaranya adalah kerja yang membutuhkan pikiran banyak (lelah mental)

dan kerja fisik. Masalah yang dihadapi untuk menetapkan jumlah waktu
yang diijinkan untuk

istirahat

melepas

kompleks sekali. Disini waktu yang

lelah

ini

dibutuhkan

sangat

sulit

dan

untuk keperluan

istirahat sangat tergantung pada individu yang bersangkutan, interval waktu


dari siklus kerja dimana pekerja akan memikul beban kerja secara penuh,
kondisi lingkungan fisik pekerjaan, dan faktor-faktor lainnya.
2.9.3

Delay Allowance
Keterlambatan atau delay bisa disebabkan oleh faktor-faktor yang sulit
untuk dihindarkan (Unavoidable Delay), tetapi bisa juga disebabkan oleh
beberapa faktor yang sebenarnya masih bisa dihindari (Avoidable Delay).
Keterlambatan yang terlalu besar atau lama tidak akan dipertimbangkan
sebagai dasar untuk menetapkan waktu baku.
Untuk avoidable delay disini terjadi dari saat ke saat yang umumnya
disebabkan oleh mesin, operator, ataupun hal-hal lain yang diluar kontrol.
Mesin dan peralatan kerja lainnya selalu diharapkan tetap pada kondisi siap
pakai atau kerja. Apabila terjadi kerusakan dan perbaikan berat terpaksa
harus dilaksanakan, operator biasanya akan ditarik dari stasiun kerja ini
sehingga delay yang terjadi akan dikeluarkan dari pertimbangan untuk
menetapkan waktu baku untuk proses kerja tersebut.
Untuk unvoidable delay sebaiknya dipertimbangkan sebagai tantangan
dan sewajarnya dilakukan usaha-usaha keras untuk mengeliminir delay
semacam ini. Macam dan lamanya keterlambatan untuk suatu aktivitas kerja
dapat ditetapkan dengan teliti dengan melaksanakan aktivitas time study
secara penuh ataupun bisa juga dengan kegiatan sampling kerja.

Kelompok