Anda di halaman 1dari 17

45

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Umum Serangga


Serangga tergolong dalam Filum Arthrophoda, Sub Filum Mandibulata, Kelas
Insecta. Ruas yang membangun tubuh serangga terbagi atas tiga bagian yaitu, kepala
(caput), dada (toraks) dan perut (abdomen). Sesungguhnya serangga terdiri dari tidak
kurang dari 20 segmen. Enam Ruas terkonsolidasi membentuk kepala, tiga ruas
membentuk thoraks, dan 11 ruas membentuk abdomen Jumar (2000). Selanjutnya
Brotowidjoyo (1994), serangga dapat dibedakan dari anggota Arthropoda lainnya
karena adanya 3 pasang kaki (sepasang pada setiap segmen thoraks). Bagian-bagian
tubuh tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Serangga memiliki skeleton yang berada pada bagian luar tubuhnya
(eksoskeleton). Rangka luar ini tebal dan sangat keras sehingga dapat menjadi
pelindung tubuh, yang sama halnya dengan kulit kita sebagai pelindung luar. Pada
dasarnya, eksoskeleton serangga tidak tumbuh secara terus-menerus. Pada tahapan
pertumbuhan serangga eksoskeleton tersebut harus ditanggalkan untuk menumbuhkan
yang lebih baru dan lebih besar lagi (Voshel, 2003).

Larva Ephemeroptera

Larva Diptera

Universitas Sumatera Utara

46

Larva Trichoptera

Coleoptera dewasa

Gambar 2.1.Berbagai Bentuk Tubuh Serangga

2.2 Tubuh Serangga

a. Kepala (Caput)
Kepala pada hewan serangga memiliki fungsi yang sama dengan fungsi kepala pada
hewan-hewan yang bersimetris bilateral lain pada umumnya. Kepala tersusun atas
mulut; organ-organ sensoris, dan otak yang merupakan sistem saraf pusat dan pusat
memori (Evans, 1984). Menurut Voshell (2003) serangga mempunyai bentuk mulut
yang termodifikasi sesuai dengan kebutuhan akan makanannya.
Jumar (2000) menyatakan bahwa posisi kepala serangga berbeda-beda
berdasarkan letak arah mulutnya menjadi:
a. Hypognatus (vertikal), apabila bagian dari alat mulut mengarah ke bawah dan
dalam posisi yang sama dengan tungkai. Contohnya pada ordo Orthoptera
b. Prognatus (horizontal), apabila bagian dari alat mulut mengarah ke depan dan
biasanya serangga ini aktif mengejar mangsa. Contohnya pada ordo Coleoptera.
c. Opistognathus (oblique), apabila bagian dari alat mulut mengarah ke belakang dan
terletak di antara sela-sela pasangan tungkai. Contohnya pada ordo Hemiptera.

Universitas Sumatera Utara

47

b. Antena
Antena pada serangga bervariasi bentuknya dengan fungsi sebagai alat sensor.
Borror et al (1992) menyatakan bahwa fungsi antena pada serangga merupakan alat
perasa dan bertindak sebagai organ-organ pengecap, organ pembau, serta organ untuk
mendengar. Antena memiliki segmen scape pada segmen pertama yang langsung
berhubungan dengan kepala, pedisel pada segmen kedua dan flagella pada segmen
berikutnya. Bervariasinya bentuk antena ini juga merupakan satu karakteristik
pembeda yang penting dalam serangga (Arora & Dhaliwal,1999).

c. Mata Majemuk dan Ocelli


Reseptor cahaya yang utama adalah sepasang mata majemuk (compound ayes) dan
juga unit mata tunggal (ocelli) berada pada kepala (Pechenik, 2005).
Menurut Jumar (2000), serangga dewasa memiliki 2 tipe mata, yaitu mata
tunggal dan mata majemuk. Mata tunggal dinamakan ocellus (jamak: ocelli). Mata
tunggal dapat dijumpai pada larva, nimfa, maupun pada serangga dewasa. Mata
majemuk sepasang dijumpai pada serangga dewasa dengan letak masing-masing pada
sisi kepala dan posisinya sedikit menonjol ke luar, sehingga mata majemuk ini mampu
menampung semua pandangan dari berbagai arah. Mata majemuk (mata faset), terdiri
atas ribuan ommatidia.

d. Bagian Mulut
Bagian mulut serangga tersusun atas labrum, sepasang mandibula, sepasang maksila,
labium dan hypofaring (Gillot, 1980). Bentuk mulut pada serangga berdasarkan tipe
makanan yang dikonsumsi serangga itu sendiri (Pechenik, 2005).
Menurut Jumar (2000), pada dasarnya bentuk mulut pada serangga dapat
digolongkan menjadi:

Universitas Sumatera Utara

48

a. Menggigit-mengunyah, seperti pada Ordo Orthoptera, Coleoptera, Isoptera, dan


pada larva serangga
b. Menusuk-menghisap, seperti pada Ordo Homoptera dan Hemiptera
c. Menghisap, pada Ordo Lepidoptera
d. Menjilat-menghisap, pada Ordo Diptera.

e. Dada (Toraks)
Menurut Borror et al (1992), toraks merupakan tagma (segmen) lokomotor tubuh dan
toraks mangandung tungkai-tungkai dan sayap-sayap. Toraks terdiri atas tiga ruas,
bagian anterior protoraks, mesotoraks, dan bagian posterior metatoraks. Diantara
serangga-serangga memiliki dua pasang spirakel terbuka pada toraks. Spirakel yang
satu berkaitan dengan mesotoraks dan yang lain berkaitan dengan metatoraks. Meso
dan metahoraks mengalami beberapa perubahan yang berkaitan dengan penerbangan.
Menurut Jumar (2000) pada dasarnya tiap ruas toraks dapat dibagi menjadi
tiga bagian. Bagian dorsal disebut tergum atau notum, bagian ventral disebut sternum
dan bagian lateral disebut pleuron (jamak: pleura). Sklerit yang terdapat pada sternum
dinamakan sternit, pada pleuron dinamakan pleurit, dan tergum dinamakan tergit.
Pronotum dari beberapa jenis serangga kadang mengalami modifikasi, seperti dapat
terlihat pada pronotum Ordo Orthoptera yang membesar dan mengeras menutupi
hampir semua bagian protoraks dan mesotoraksnya.
f. Sayap
Dalam Borror et al (1992) sayap-sayap serangga adalah pertumbuhan-pertumbuhan
keluar dari dinding tubuh yang terletak pada dorso-lateral antara notum dan pleura.
Mereka timbul sebagai pertumbuhan keluar seperti kantung, tetapi bila berkembang
dengan sempurna, maka akan berbentuk gepeng dan seperti sayap dan diperkuat oleh
suatu deretan rangka-rangka sayap. Pada serangga, sayap berkembang sempurna dan
berfungsi dengan baik hanya ada dalam stadium dewasa, kecuali pada Ordo
Ephemeroptera, sayap berfungsi pada instar terakhirnya.

Universitas Sumatera Utara

49
Tidak semua serangga memiliki sayap. Serangga tidak bersayap digolongkan
ke dalam subkelas Apterygota, sedangkan serangga yang memiliki sayap dimasukkan
ke dalam golongan subkelas Pterygota. Sayap serangga juga mengalami modifikasi.
Modifikasi sayap menurut Jumar (2000) adalah sebagai berikut:
a. Pada Ordo Tysanoptera, sayap depan berupa rumbai
b. Pada Ordo Coleoptera, sayap depan mengeras dan dinamakan elitra (tungggal:
elitron). Elitra berfungsi untuk melindungi sayap belakang yang berupa selaput
(membran)
c. Pada Ordo Diptera, sayap depan berkembang sempurna, sedangkan sayap
belakang mengalami modifikasi menjadi struktur seperti gada yang disebut halter.
Halter berfungsi sebagai penyeimbang tubuh pada saat terbang
d. Pada Ordo Hemiptera, sayap depan sebagian mengeras dan sebagian lagi tetap
berupa membran. Sayap depan ini disebut sebagai hemielitra (tunggal:
hemielitron)
e. Pada Ordo Orthoptera, sayap depan berupa perkamen, diduga sebagai pelindung
dan disebut sebagai tegmina (tunggal: tegmen).

g. Tungkai/kaki
Menurut Borror et al (1992) tungkai-tungkai thoraks serangga bersklerotisasi
(mengeras) dan selanjutnya dibagi menjadi sejumlah ruas. Secara khas, terdapat 6 ruas
pada kaki serangga. Ruas yang pertama yaitu koksa yang merupakan merupakan ruas
dasar; trokhanter, satu ruas kecil (biasanya dua ruas) sesudah koksa; femur, biasanya
ruas pertama yang panjang pada tungkai; tibia, ruas kedua yang panjang; tarsus,
biasanya beberapa ruas kecil di belakang tibia; pretarsus, terdiri dari kuku-kuku dan
berbagai struktur serupa bantalan atau serupa seta pada ujung tarsus. Sebuah bantalan
atau gelambir antara kuku-kuku biasanya disebut arolium dan bantalan yang terletak
di dasar kuku disebur pulvili.
Menurut Jumar (2000), tungkai-tungkai serangga mengalami modifikasi.
Sejumlah modifikasi tersebut adalah:
a. Tipe cursorial, adalah tungkai yang digunakan untuk berjalan dan berlari

Universitas Sumatera Utara

50
b. Tipe fussorial, tungkai yang digunakan untuk menggali, ditandai dengan adanya
kuku depan yang keras
c. Tipe saltatorial, tungkai yang berfungsi untuk meloncat, ditandai dengan
perbesaran femur pada tungkai belakang
d. Tipe raptorial, tungkai yang berfungsi untuk menangkap dan mencengkeram
mangsa, ditandai dengan pembesaran femur tungkai depan
e. Tipe natatorial, tungkai yang berfungsi untuk berenang, ditandai dengan bentuk
yang pipih serta adanya sekelompok rambut-rambut renang yang panjang
f. Tipe ambolatorial, tungkai yang berfungsi untuk berjalan ditandai dengan femur
dan tibia yang lebih panjang dari bagian tungkai lainnya. Bentuk ini merupakan
bentuk umum tungkai serangga.

h. Perut (Abdomen)
Pada umumnya abdomen serangga terdiri dari 11 segmen metameri (berulang). Tiap
segmen metamer memiliki satu sklereit dorsal tergum (jamak: terga), satu sklereit
ventral sternum (jamak: sterna) dan satu selaput daerah lateral pleuron (jamak: pleura)
(Borror et al, 1992).
Menurut Arora & Dhaliwal (1999), abdomen merupakan tempat organ dalam
berada, yang mana fungsi-fungsi fisiologis tubuh berada di sana. Bagaimanapun
sistem itu mulanya berasal dari saluran yang dimulai dari bagian kepala, melewati
thoraks dan salurannya sampai sejauh mana pada abdomen.

2.3 Siklus Hidup Serangga Air


Serangga tumbuh dimulai dari telur sampai dengan dewasa, melewati berbagai
tahapan perkembangan yang disebut dengan metamorfosis (Voshell, 2003).
Pertumbuhan serangga biasanya melalui empat tahap bentuk hidup yaitu: telur, larva/
nimfa, pupa dan stadium dewasa. Telur diletakkan secara tunggal, atau dalam
kelompok, di dalam atau di atas jaringan tanaman atau binatang inang yang menjadi
sasaran makanan serangga. Embrio di dalam telur berkembang menjadi larva atau

Universitas Sumatera Utara

51
nimfa (tergantung macam metamorfosis atau perkembangan) yang keluar dari telur
pada saat telur menetas. Larva/nimfa memiliki tahapan perkembangan (instar), yang
setiap tahapannya melalui proses pergantian kulit (ecdysis), karena setiap peningkatan
ukuran tubuh pada satu instar ke instar berikutnya memerlukan integumen baru yang
lebih besar. Larva berkembang menjadi pupa (pada ulat kupu-kupu disebut
kepompong), dan pupa dan nimfa berkembang menjadi serangga dewasa
(Tarumingkeng, 2001).
Menurut Voshell (2003), Ada dua tipe utama metamorfosis pada serangga air,
yaitu incomplete metamorphosis (hemimetabola) dan complete metamorphosis
(holometabola) seperti pada Gambar 2 berikut ini:

Gambar 2.2. Metamorfosis serangga

Pada hemimetabola, bentuk nimfa mirip dewasa hanya saja sayap belum
berkembang dan habitat (tempat tinggal dan makanan) nimfa biasanya sama dengan
habitat stadium dewasanya. Nimfa menempati habitat yang sama dengan dewasa
Kumbang (Coleoptera), kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera) dan semut serta lebah
(Hymenoptera) adalah serangga holometabola. Bentuk pradewasa (larva dan pupa)
jenis-jenis

holometabola

ini

sangat

berbeda

dengan

stadium

dewasanya

(Tarumingkeng, 2001).

2.4 Habitat Serangga Air


Menurut De la Rosa & De la Rosa (2001), serangga air hidup di dekat atau di dalam
air. Habitat aquatik dalam dua golongan berdasarkan ukurannya. Aquatik

Universitas Sumatera Utara

52
makrohabitat merupakan area yang luas, area yang kompleks seperti danau, laut
ataupun kolam. Aquatik mikrohabitat, merupakan area yang lebih sempit, seperti
sehelai daun yang berada di bawah permukaan air. Mikrohabitat merupakan tempat
spesifik dimana individu dari suatu spesies atau kelompok yang hidup di sana.
Dilihat dari atas ke bawah, habitat aquatik dapat dibagi menjadi 3 bagian
makrohabitat, yaitu bagian permukaan air, yang banyak dihuni oleh seranggaserangga air yang berjalan di atas air atau larva-larva nyamuk, juga berbagai jenis dari
Ordo Diptera dan Hemiptera. Bagian tengah, dimana merupakan daerah yang paling
sibuk pada badan perairan, serangga dan organisme aquatik lainnya banyak hidup
pada daerah ini. Serangga dapat terbawa arus aliran air dari suatu tempat ke tempat
lainnya, seperti pada Ordo Hemiptera. Bagian dasar atau lantai perairan, merupakan
tempat hidup serangga air. Mereka hidup di dalam lumpur, pasir, bebatuan atau pada
akar tanaman. Contohnya, Ephemeroptera, Odonata, Plecoptera, Trichoptera.
Menurut Voshell (2003), salah satu hal yang menakjubkan dari serangga air
adalah beragamnya habitat mereka hidup. Tidak ada suatu badan perairan yang
kondisinya

terlalu kecil, terlalu besar, terlampau dingin atau panas, keruh atau

berlumpur, dengan kadar oksigen terlampau rendah, arus yang terlalu deras, atau
tempat yang terlalu banyak polusi untuk beberapa jenis serangga air untuk dapat hidup
di sana.
Hanya satu batasan tempat hidup mereka adalah perairan asin seperti laut.
Tetapi ada juga beberapa serangga air yang luar biasa dapat hidup pada lingkungan
batu karang dan laut. Estuari, tempat dimana air tawar bergabung dengan air asin, juga
merupakan tempat hidup beberapa jenis serangga air. Orang- orang bepergian ke
pantai dapat melihat jenis-jenis nyamuk yang berkembang biak pada rawa-rawa dekat
pantai tersebut.

Universitas Sumatera Utara

53

2.5 Keanekaragaman dan Distribusi Serangga Air

2.5.1 Keanekaragaman Serangga Air


Serangga menyusun sekitar 64 % (950.000 spesies) dari total spesies flora
dan fauna yang diperkirakan ada dibumi ini (Grombridge, 1992, dalam Shahabuddin,
2003). Selanjutnya Daly et al. (1978) dalam Putra (1994) menyatakan bahwa serangga
merupakan salah satu anggota kerajaan binatang yang memiliki jumlah anggota
terbesar. Hampir lebih dari 72% anggota hewan termasuk dalam golongan serangga,
dengan jumlah spesies dan individu yang begitu besar maka serangga memegang
peranan yang sangat penting dalam suatu ekosistem.
Pennak (1978) menyatakan bahwa serangga tersebar luas pada habitat-habitat
tempat hidupnya, mereka terdapat dalam jumlah yang sangat luar biasa banyaknya dan
sebagian besar dari mereka menjadi terspesialisasi dan beradaptasi dengan hebat pada
habitat hidupnya. Namun, sebagai suatu kelompok, serangga tidak seluruhnya dapat
hidup di habitat perairan. Ada sekitar 1% dari keseluruhan serangga yang terdapat di
atau sebagian hidupnya berada di air. Kemudian Daly et al (1998) menyatakan bahwa
serangga air

hanya terdiri atas 3-5% dari keseluruhan spesies serangga, tetapi

serangga air sangat tinggi keanekaragamannya.


Keanekaragaman yang tinggi dalam sifat-sifat morfologi, fisiologi dan
perilaku adaptasi dalam lingkungannya, dan demikian banyaknya jenis serangga yang
terdapat di muka bumi, menyebabkan banyak kajian ilmu pengetahuan, baik yang
murni maupun terapan, menggunakan serangga sebagai model. Kajian dinamika
populasi misalnya, bertumpu pada perkembangan populasi serangga. Demikian pula,
pola, kajian ekologi, ekosistem dan habitat mengambil serangga sebagai model untuk
mengembangkannya ke spesies-spesies lain dan dalam skala yang lebih besar
(Tarumingkeng, 2001).
Sekitar kurang lebih 10% serangga menempati habitat perairan yang tergabung
dalam

Ordo

Lepidoptera,

Ephemeroptera,
Hemiptera,

Odonata,

Diptera,

Plecoptera,

Megaloptera,

Trichoptera,

Neuroptera,

Coleoptera,

Orthoptera

dan

Universitas Sumatera Utara

54
Coleombola (McCafferty, 1981; Merrit & Cummins, 1996). Kesemua ordo ini
menempati habitat yang bervariasi dari mulai kolam, sungai dan danau yang meliputi
baik ekosistem lentik dan ekosistem lotik merupakan tempat hidup dan berkembang
bagi serannga air. Serangga air dan komponen biota aquatik lainnya dapat dipakai
sebagai indikator untuk menilai tingkat pencemaran (Sudariyanti et al, 2001 dalam
Aswari, 2001).
Dalam menduga atau memantau keanekaragaman hayati perlu dilengkapi
informasi jumlah individu dan fungsi atau peranannya pada suatu habitat dan
ekosistem. Kelimpahan jenis serangga sangat ditentukan oleh aktivitas reproduksinya
yang didukung oleh lingkungan yang sesuai dan tercukupinya kebutuhan sumber
makanannya. Kelimpahan dan aktivitas reproduksi serangga di daerah tropik sangat
dipengaruhi oleh musim, karena musim berpengaruh kepada ketersediaan bahan
makanan dan kemampuan hidup serangga yang secara langsung dapat mempengaruhi
kelimpahan. Setiap ordo serangga mempunyai respon yang berbeda terhadap
perubahan musim dan iklim (Wolda, 1978 dalam Aswari, 2001).

2.5.2 Distribusi Serangga Air


Distribusi jenis invertebrata air dalam ekosistem air tidak tersebar luas dan tidak juga
seragam. Kebanyakan dari mereka memiliki kebutuhan khusus dan hanya dapat
tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah atau tempat dimana kebutuhankebutuhan khusus tersebut dapat terpenuhi. Dengan demikian, distribusi spesiesspesies yang hidup di lingkungan pasti mencerminkan aspek kualitas lingkungan
tersebut. Komunitas serangga juga mencerminkan tingkatan dan struktur habitatnya
(Barbern & Kavern, 1973; Hawkins, 1984; Minshall & Minshall, 1977; Minshall et al,
1985; Shaldon & Walker, 1998 dalam Salmah et al, 1999)
Keanekaragaman, kelimpahan dan distribusi serangga air dapat dijadikan
sebagai bioindikator berhubungan dengan kondisi fisik dan kimia yang terdapat dalam
habitat. Ketika lingkungan habitatnya bersih atau tercemar, keanekaragaman dan
kelimpahan serangga air di dalamnya dapat menjelaskan hal tersebut. Beberapa
spesies diketahui memiliki kebutuhan khusus berhubungan dengan nutrisi atau kadar

Universitas Sumatera Utara

55
oksigen. Dapat dijelaskan bahwa kehadiran spesies-spesies tertentu dalam suatu
habitat mengindikasikan bahwa parameter fisik-kimia tersebut berada pada batas
toleransi untuk setiap spesies di dalamnya (Salmah, 1999)

2.6 Ekosistem Danau


Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen komponen
biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Di
dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan biotik (produsen,
konsumen dan pengurai) yang membentuk suatu hubungan timbal balik dan saling
mempengaruhi (Marganof, 2007).
Perairan danau merupakan salah satu bentuk ekosistem air tawar yang ada di
permukaan bumi. Secara fisik, danau merupakan suatu tempat yang luas yang
mempunyai air yang tetap, jernih atau beragam dengan aliran tertentu (Jorgensen &
Vollenweiden, 1989). Sementara itu, menurut Ruttner (1977) dan Satari (2001),
danau adalah suatu badan air alami yang selalu tergenang sepanjang tahun dan
mempunyai mutu air tertentu yang beragam dari satu danau ke danau yang lain serta
mempunyai produktivitas biologi yang tinggi. Kemudian menurut Barus (2004),
perairan disebut sebagai danau apabila perairan itu dalam dengan tepi yang umumnya
curam. Air danau biasanya bersifat jernih dan keberadaan tumbuhan air terbatas hanya
pada daerah pinggir saja.

2.7 Faktor Fisik-Kimia Perairan


Pada banyak parameter fisik kimia perairan, dapat menyatakan tipikal kondisi air dan
invertebtara yang ada di dalamnya membutuhkan adaptasi khusus untuk dapat
bertahan hidup pada kondisi tersebut (William 1987 dalam Suhling et al, 2000).
Karena kehidupan suatu organisme sangat tergantung pada faktor lingkungan,
setiap jenis organisme di permukaan bumi selalu dan terus berusaha untuk tumbuh

Universitas Sumatera Utara

56
dan berkembangbiak

dengan baik, dalam hal ini mereka akan mencari daerah

yang lingkungannya optimum bagi pertumbuhan dan perkembangbiakannya


(Suin, 2003).

2.7.1 Suhu
Menurut hukum Vant Hoffs, kenaikan temperatur sebesar 100C (hanya pada kisaran
temperatur yang masih ditolerir) akan meningkatkan laju metabolisme dari organisme
sebesar 2-3 kali lipat. Akibat meningkatnya laju metabolisme akan menyebabkan
konsumsi oksigen meningkat, sementara di lain pihak dengan naiknya temperatur
akan mengakibatkan kelarutan oksigen dalam air menjadi berkurang. Hal ini
menyebabkan organisme air akan mengalami kesulitan untuk melakukan respirasi
(Barus, 2004).
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari
permukaan laut, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman dari
badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi di
badan air. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia,
evaporasi dan volatilisasi. Selain itu, peningkatan suhu air juga mengakibatkan
penurunan kelarutan gas dalam air seperti O2, CO2, N2, dan CH4 (Haslam, 1995 dalam
Marganof, 2007).

2.7.2 Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen, DO)


Oksigen terlarut adalah gas oksigen yang terlarut dalam air. Oksigen terlarut dalam
perairan merupakan faktor penting sebagai pengatur metabolisme tubuh organisme
untuk tumbuh dan berkembangbiak. Sumber oksigen terlarut dalam air berasal dari
difusi oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air 25 melalui air hujan serta
aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty & Olem, 1994).
Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan,
karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan
anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan proses biologis yang dilakukan oleh

Universitas Sumatera Utara

57
organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah
untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah
nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi
anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi
lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi
inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi
beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang
ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga (Salmin 2005).
Difusi oksigen atmosfer ke air bisa terjadi secara langsung pada kondisi air
stagnant (diam) atau terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air akibat adanya
gelombang atau angin. Difusi oksigen dari atmosfer ke perairan pada hakekatnya
berlangsung relatif lambat, meskipun terjadi pergolakan massa air atau gelombang.
Sebagian besar oksigen pada perairan danau dan waduk merupakan hasil sampingan
aktivitas fotosintesis.

Di perairan danau, oksigen lebih banyak dihasilkan oleh

fotosintesis alga yang banyak terdapat pada zona epilimnion, sedangkan pada perairan
tergenang yang dangkal dan banyak ditumbuhi tanaman air pada zona litoral,
keberadaaan oksigen lebih banyak dihasilkan oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan air.
Keberadaan oksigen terlarut di perairan sangat dipengaruhi oleh suhu, salinitas,
turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen berkurang dengan semakin
meningkatnya suhu, ketinggian, dan berkurangnya tekanan atmosfer (Jeffries & Mills,
1996).
Penyebab utama berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air disebabkan
karena adanya zat pencemar yang dapat mengkonsumsi oksigen. Zat pencemar
tersebut terutama terdiri dari bahan-bahan organik dan anorganik yang berasal dari
barbagai sumber, seperti kotoran (hewan dan manusia), sampah organik, bahan-bahan
buangan dari industri dan rumah tangga. Menurut Connel & Miller (1995), sebagian
besar dari zat pencemar yang menyebabkan oksigen terlarut berkurang adalah limbah
organik.
Menurut Schworbel dalam Barus (2004), nilai oksigen terlarut di suatu
perairan mengalami fluktuasi harian maupun musiman. Fluktuasi ini selain

Universitas Sumatera Utara

58
dipengaruhi oleh perubahan temperatur juga dipengaruhi oleh aktivitas fotosintesis
dari tumbuhan yang menghadirkan oksigen. Nilai oksigen terlarut di perairan
sebaiknya berkisar antara 6-8 mg/l.
Menurut Lee et al. (1978), kandungan oksigen terlarut pada suatu perairan
dapat digunakan sebagai indikator kualitas perairan. Status kualitas air sebagai berikut
a. > 6,5 Tidak tercemar sampai tercemar sangat ringan
b. 4,5 6,4 Tercemar ringan
c. 2,0 4,4 Tercemar sedang
d. < 2,0 Tercemar berat

2.7.3 Derajat Keasaman (pH)


Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen dalam
perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman
atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7
dikatakan kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi
perairan bersifat basa (Effendi, 2003). Adanya karbonat, bikarbonat dan hidroksida
akan menaikkan kebasaan air, sementara adanya asam mineral bebas dan asam
karbonat menaikkan keasaman suatu perairan. Sejalan dengan pernyataan tersebut
Mahida (1993) menyatakan bahwa limbah buangan industri dan rumah tangga dapat
mempengaruhi nilai pH perairan.
Nilai pH dapat mempengaruhi spesiasi senyawa kimia dan toksisitas dari
unsur-unsur renik yang terdapat di perairan, sebagai contoh H2S yang bersifat toksik
banyak ditemui di perairan tercemar dan perairan dengan nilai pH rendah. Selain itu,
pH juga mempengaruhi nilai BOD5, fosfat, nitrogen dan nutrien lainnya (Dojildo &
Best, 1992). Barus (2004) menyatakan bahwa organisme air dapat hidup dalam suatu
perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah
dan basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya
terdapat antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang sangat asam dan sangat basa akan
membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya
gangguan metabolisme dan respirasi. Disamping itu pH yang sangat rendah akan

Universitas Sumatera Utara

59
menyebabkan mobilitas senyawa logam berat, terutama Aluminium yang bersifat
toksik, semakin tinggi yang tentunya akan mengancam kelangsungan hidup organisme
air. Sedangkan pH yang sangat tinggi akan mengakibatkan keseimbangan antara
amonium dan amoniak dalam perairan menjadi terganggu. Dengan meningkatnya
amoniak maka amoniak menjadi senyawa yang sangat toksik bagi organisme.

2.7.4 Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen Demand, BOD5)


BOD5 merupakan salah satu indikator pencemaran organik pada suatu perairan.
Perairan dengan nilai BOD5 tinggi mengindikasikan bahwa air tersebut tercemar oleh
bahan organik. Bahan organik akan distabilkan secara biologis dengan melibatkan
mikroba melalui sistem oksidasi aerobik dan anaerobik. Oksidasi aerobik dapat
menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut di perairan sampai pada tingkat
terendah, sehingga kondisi perairan menjadi anaerob yang dapat mengakibatkan
kematian organisme akuatik (Marganof, 2007).
Barus (2004) menyebutkan, nilai BOD merupakan jumlah oksigen yang
dibutuhkan oleh mikroorganisme aerobik dalam proses penguraian senyawa organik,
yag diukur pada temperatur 200C.
Lee et al. (1978) menyatakan bahwa tingkat pencemaran suatu perairan dapat
dinilai berdasarkan nilai BOD5-nya, status kualitas air sebagai berikut:
a. 2,9 tidak tercemar
b. 3,0 5,0 tercemar ringan
c. 5,1 14,9 tercemar sedang
d. 15 tercemar berat.
Menurut Barus (2004), pengukuran nilai BOD didasarkan pada kemampuan
mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik, artinya hanya terhadap
senyawa yang mudah diuraikan secara biologis seperti senyawa yang terdapat dalam
limbah rumah tangga. Untuk produk-produk kimiawi seperti senyawa minyak dan
buangan kimia lainnya akan sangat sulit atau bahkan tidak bisa diuraikan oleh

Universitas Sumatera Utara

60
mikroorganisme. Oleh karena itu disamping mengukur BOD, perlu dilakukan
pengukuran terhadap jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam proses oksidasi kimia
yang dikenal dengan COD (Chemical Oxygen Demand) yang dinyatakan dalam mg/l.
Dengan mengukur nilai COD, maka akan diperoleh nilai yang menyatakan jumlah
oksigen yang dibutuhkan untuk proses oksidasi terhadap total senyawa organik baik
yang mudah diuraikan secara biologis maupun terhadap yang sukar/tidak dapat
diuraikan secara biologis.

2.7.5 Kandungan Organik Substrat


Menurut Seki (1982) komponen organik utama yang terdapat di dalam perairan adalah
asam amino, protein, karbohidrat dan lemak, sedangkan komponen lain seperti asamasam organik, hidrokarbon, vitamin dan hormon juga ditemukan di perairan. Tetapi
hanya 10% dari material organik tersebut yang mengendap sebagai substrat ke dasar
perairan.
Konsentrasi bahan organik yang tinggi akan membutuhkan jumlah oksigen
dalam jumlah yang besar. Melalui prosedur secara kimia dapat dilihat bahan-bahan
organik yang terkandung di dalam substrat yang dilakukan dengan metode Black
&Walkey ( Michael, 1984).

2.7.6 Nitrat
Nitrat dapat terbentuk karena tiga proses, yakni badai listrik, organisme pengikat
nitrogen, dan bakteri yang menggunakan amoniak. Ketiganya tidak dibantu manusia.
Tetapi jika manusia membuang kotoran dalam air, maka proses ketiga akan
meningkat, karena kotoran mengandung banyak amoniak. Konsentrasi nitrat tinggi
memungkinkan ada pengotoran dari lahan pertanian. Kemungkinan lain penyebab
nitrat konsentrasi tinggi ialah pembusukan sisa tanaman dan hewan, pembuangan
industri dan kotoran hewan. Sumber nitrat sukar dilacak di sungai atau di danau.
Karena merupakan nutrien, nitrat mempercepat tumbuh plankton (Sastrawijaya,
2000).

Universitas Sumatera Utara

61
Dalam kondisi dimana konsentrasi oksigen terlarut sangat rendah dapat terjadi
proses kebalikan dari nitrifikasi, yaitu proses denitrifikasi dimana nitrat melalui nitrit
akan menghasilkan nitrogen bebas yang akhirnya lepas ke udara atau dapat juga
kembali membentuk amonium/amoniak melalui proses ammonifikasi nitrat (Barus,
2004).

2.7.7 Phosfor
Seperti halnya Nitrogen, Phosfor merupakan komponen penting lainnya dalam
ekosistem air. Kedua unsur ini berperan dalam proses terjadinya eutrofikasi di suatu
ekosistem air. Zat-zat terutama protein mengandung gugus Phosfor, misalnya ATP,
yang terdapat dalam sel mahluk hidup dan berperan penting dalam penyediaan energi.
Seperti diketahui bahwa fitoplankton dan tumbuhan air lainnya membutuhkan
Nitrogen dan Phosfat sebagai sumber nutrisi utama bagi pertumbuhannya.
Dalam ekosistem air Phosfor terdapat dalam tiga bentuk yaitu senyawa
Phosfor anorganik seperti ortoposfat, senyawa organik dalam protoplasma dan sebagai
senyawa organik terlarut yang terbentuk dari proses penguraian tubuh organisme.
Phosfor terutama berasal dari sedimen yang selanjutnya akan terinfiltrasi ke dalam air
tanah dan akhirnya masuk dalam sistem perairan terbuka (sungai dan danau). Selain
itu dapat berasal dari atmosfer dan bersama dengan curah hujan masuk ke dalam
sistem perairan (Barus, 2004).

Universitas Sumatera Utara