Anda di halaman 1dari 2

Slide 2

Keberhasilan dalam mengoreksi deformitas hidung sangat menantang karena


prinsipnya berdasar pengembalian hidung yang alami brdasarkan anatomi
hidung. Walaupun literatur secara umum telah mendukung endonasal
Rhinoplasty sebagai teknik untuk mengembalikan kondisi hidung, kami juga
mengusulkan bedah algoritma menggunakan pendekatan rhinoplasty eksternal.
Algoritma menyajikan langkah bertahap, terstruktur dengan metode yang sesuai
dengan setiap variasi anatomi dalam kelainan hidung. Keuntungan dan
kekurangan relatif dari pendekatan rhinoplasty eksternal sedang
diperbincangkan dan ditinjau dari 30 pasien. Penerapan berdasarkan algoritma
rhinoplasty eksternal dalam mengkoreksi deformitas hidung dapat menghasilkan
hasil konsisten pada perbaikan fungsional hidung dan estetika yang memuaskan

Slide 3
Memperbaiki deformitas hidung hingga kini menjadi salah satu masalah klinis yang
paling menantang dalam operasi plasik wajah disebabkan karena variasi anatomi
dalam deformitas hidung berbeda- beda. Pendekatan operasi hasus secara individual
untuk dapat mengoptimalkan hasil fungsional dan estetika yang baik
Slide 4
Kelainan deformitas hidung tergantung karakter defleksi hidung luar karena asimetri
kerangka tulang atau tulang rawan menyebabkan gangguan fungsional dan estetis.
Struktural kerangka hidung dapat dinilai dengan mempertimbangkan anatomi secara
individual: septum hidung, tulang rawan, tulang piramida, kulit hidung dan jaringan
lunak hidung
Septum adalah penentu utama dari deformitas hidung luar karena septum
memegang peranan penting dalam sumbatan jalan napas di hidung
Slide 6
Tulang piramida hidung mungkin akan mengalami deformitas jika terkena trauma,
dan dapat menganggu perkembangannya karena merupakan pusat pertumbuhan
osea
Keselarasan antara tulang hidung dan nasal maxillary prosesus sangat mendasar
atas keseimbangan bentuk dan fungsional hidung. Kemudian kulit terluar hidung
dan jaringan lunak subkutan berkontribusi pada deformitas eksternal (bekas luka
kontraktur) contohnya : bekas luka kontraktur di daerah dekat tulang piramida dapat
menyebabkan atrofi, sehingga terjadi penyusutan di hidung. Kemudian kelainan
pada ketebalan kulit terutama pada kelenjar sebasea kulit mengkontribusi ketidak
harmonisan estetika
Slide 7
Pada algoritma bedah ini menggunakan pendekatan septorrhinoplasty eksternal,
dengan sayatan berbentuk columellar w dan saytan standar marginal
Diseksi dengan cara gunting pada bagian subkutan pada ujung hidung, pada
punggung tulang rawan dan tulang hidung memungkinkan untuk membentuk ulang
rangka tulang hidung, dan dapat mengvisualisasikan langsung jika terdapat asimetri
struktural.

Slide 13
Wilayah anatomi berikutnya yang akan dinilai adalah ujung hidung.
Kartilago atas dan bawah akan di skeletonized dan debridement dari jaringan fibrosa
atasnya untuk memberikan visualisasi yang optimal.
Pembersihan lampiran berserat dari tulang rawan hidung akan memberikan
tambahan tersendiri dari pembebasan gangguan pada ujung hidung
penyesuaian harus sangat hati2 dan tepat untuk kartilago pada ujung hidung dengan
pendekatan eksternal, karena perbandingan langsung simetri yang diberikan oleh
paparan bedah.
Slide 15
Penyesuaian dalam krura medial terutama diarahkan untuk mempertahankan dan
memperkuat tinggi tip hidung, terutama di hidung yang telah mengalami modifikasi
ulang dari beberapa struktur pendukung
Slide 17
Gabungan dari ligamentum atas lateral tulang rawan hidung ke tulang rawan bawah
merupakan faktor penentu utama dari kelainan septum yang memelintir
Slide 18
Hanya jika pengerjaan tulang rawan selesai, setelah itu baru kita menilai ke tulang
piramidanya
Slide 19
penyimpangan dalam kulit hidung dan jaringan lunak harus dinilai dan diobati. Kulit
itu sendiri dapat menipis di lapisan subdermal kulit hidung ditandai dengan
sebaceous atau atau dengan bekas luka
slide 20