Anda di halaman 1dari 14

Faktor-faktor Manusiawi

dalam Desain Lingkungan


Kerja
Disusun oleh:
1. Dinda M
2. Hesti Purwaningsih
3. Mentari W.R
4. Rifsiana Putri
5. Sri Rahayu Utami
6. Yunita Dian Fakih
4PA07

Kaitan Psikologi rekayasa &


Psikologi Lingkungan
Psikologi rekayasa biasa dikenal di
Amerika, sedangakan di Eropa disebut
dengan Ergonomi.
Heimstra dan Mc Farling (dalam
Prawitasari, 1989) menyatakan bahwa
psikologi lingkungan adalah disiplin
yang memperhatikan dan mempelajari
hubungan antara manusia dengan
lingkungan fisiknya.

Kaitan
Kaitan antara psikologi lingkungan dengan ergonomic
secara singkat yaitu bahwa tata lingkungan (psikologi
lingkungan)
mempengaruhi
kenyamanan
dan
mempengaruhi kinerja seseorang untuk selanjutnya
(ergonomi).
Psikologi lingkungan yang membahas tentang penataan
setting fisik dengan ergonomic yang membahas tentang
kenyamanan individu dalam mengerjakan sesuatu,
adalah saling mempengaruhi dan bergantungan satu
sama lainterutama dalam mencapai suatu hasil. Jika
lingkungan positif maka dapat menciptakan suasana
yang ergonomic baik secara fisik dan psikologis,
sehingga kinerja kita positif, dan sebaliknya.

Iluminasi

Kondisi Kerja Tanpa Bobot


Bobot merupakan suatu berat atau mutu dimana
hal ini dapat menghambat sesuatu, diperlukan
terhadap sesuatu , dan memberikan nilai tambah
pada sesuatu.
MenurutHandoko(1995), lingkungan kerja fisik
adalah semua keadaan yang terdapat di sekitar
tempat kerja, yang meliputi temperatur,
kelembaban udara, sirkulasi juadara, pencahayaan,
kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna
dan lain-lain yang dalam hal ini berpengaruh
terhadap hasil kerja manusia tersebut.

Akselerasi
Akselerasi merupakan kata lain dari kecepatan. Hal ini
dapat ditunjukkan salah satunya dengan akselerasi atau
kecepatan suatu benda yang melaju atau bergerak.
Efek terhadap kerja: Kemampuan karyawan dalam
bekerja sangat bervariasi atau berbeda-beda apalagi
didalam menyangkut akselerasi kemampuan akan
pencapaian prestasi kerja. Akselerasi atau kecepatan
perkembangan kemampuan karyawan yang tidak lain
diakibatkan oleh kualitas baik alat penunjang kerja atau
ruangan kerja yang memiliki nilai ergonomi (kenyamanan
dan ketepatan) yang baik dan akhirnya akan
menimbulkan kenaikan jabatan atau prestasi kerja.

Ilusi
llusi adalah suatu persepsi panca indera
yang disebabkan adanya rangsangan
panca indera yang ditafsirkan secara
salah.
Memiliki ruangan kerja yang buruk dan
tidak memiliki nilai ergonomi yang baik
akan menimbulkan kejenuhan dan
ketidaknyamanan yang akan dialami oleh
karyawannya. Akibat dari hal ini akan
menimbulkan ilusi.

Stimulasi Sensoris
Suara / bunyi merupakan perubahan
tekanan dalam udara yang ditangkap oleh
gendang telinga dan disalurkan ke otak
(Harrington & Gill, 2005).
Kebisingan adalah bunyi yang tidak
dikehendaki karena tidak sesuai dengan
konteks ruang dan waktu sehingga dapat
menimbulkan gangguan terhadap
kenyamanan dan kesehatan manusia
(Sasongko, 2000).

Efek Suara Terhadap Kerja


Gangguan fisiologi dapat berupa peningkatan tekanan darah,
percepatan denyut nadi, peningkatan ketegangan otot
Gangguan psikologi dapat berupa stres tambahan apabila
bunyi tersebut tidak diinginkan dan mengganggu.
Gangguan komunikasi dapat menyebabkan terjadinya
kesalahan, misalnya tidak dapat mendengar instruksi yang
diberikan.
Gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran akibat
pajanan bising atauNoise Induced Hearing Loss(NIHL)
adalah penyakit akibat kerja yang sering dijumpai di banyak
pekerja industry Gangguan pendengaran akibat bising dapat
ringan sampai berat akibat pajanan bising yang berlangsung
lama, yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel rambut
yang juga terjadi bertahap.

Musik dalam kerja


Pemutaran musik di tempat kerja perlu
utk pekerjaan yg sifatnya monoton dan
pekerjaan tangan (manual work) yg
berulang serta pekerjaan lain yg sedikit
memerlukan aktifitas mental
Bilamana intensitas kebisingan di tempat
kerja cukup tinggi, maka pemutaran musik
tsb tdk dianjurkan krn tdk berguna
Musik yg keras hendaknya tdk diputar di
tmp kerja dimana sdg dilakukan pekerjaan
yg memerlukan aktifitas mental
(konsentrasi) yg tinggi

Fox (1983) membagi musik kerja menjadi dua tipe


yaitu, musik latar dan musik ditempat kerja.
Musik latar adalah musik yang sering kita dengar di
Supermarket dan Mall. Musik latar merupakan musik
yang dipasang terus menerus sepanjang hari, dan
digunakan untuk membuat pembeli merasa nyaman
berada diruangan tersebut.
Sedangkan musik kerja adalah musik yang dipasang
tidak setiap hari, dalam satu hari hanya dipasang
pada waktu tertentu saja. Sebab jika dipasang
sepanjang hari dapat menurunkan nilai manfaat dari
musik itu sendiri.

Efek Musik Terhadap Kerja


musik dianggap bisa menjadi suatu
alat untuk mengurangi kebosanan
dan kelelahan pada saat bekerja,
terutama pada pekerjaan yang
berulang-ulang

Efek Warna Dalam Berkerja


Warna ruangan mempunyai
pengaruh terhadap gairah kerja dan
semangat para karyawan.Warna ini
berpengaruh terhadap kemampuan
mata melihat objek dan memberi
efek psikologis kepada para
karyawan karena warna mempuyai
pengaruh besar terhadap perasaan
seseorang.Sifat dan pengaruh warna
kadang-kadang menimbulkan rasa

Menurut Sedarmayanti (1996:29), membagi warna


berdasarkan pengaruhnya terhadap perasaan manusia, yaitu:
a.Warna merah
Bersifat dinamis dan merangsang, berpengaruh menimbulkan
semangat kerja.
b.Warna kuning
Bersifat keanggunan, terang dan leluasa.Berpengaruh
menimbulkan rasa gembira dan merangsang urat syaraf mata.
c.Warna biru
Bersifat tenang, tentram dan sejuk.Berpengaruh mengurangi
tekanan dan keteganggan.