Anda di halaman 1dari 9

2.1.1.

Erosi
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagianbagian tanah dari suatu tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah
atau bagian-bagian tanah pada suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian
diendapkan di suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan di
tempat lain. Pengikisan dan pengangkutan tanah tersebut terjadi oleh media alami,
yaitu air dan angin (Arsyad, 2010).
Istilah erosi digunakan dalam bidang geologi untuk menggambarkan proses
pembentukan alur-alur atau parit-parit dan penghanyutan bahan-bahan padat oleh
aliran air. Proses erosi lereng dapat dimulai dari pencucian tanah (slopewash).
Istilah pencucian tanah menunjukkan suatu bentuk erosi oleh akibat bergeraknya
air sebagai lapisan film yang tipis dan relatif seragam (Rice, 1988 dalam
Hardiyatmo, 2012).
Erosi berdasarkan bentuknya dibedakan menjadi 7 (Suripin, 2001), yaitu:
1. Erosi percikan (flash erosion)
Erosi percikan adalah terlepas dan terlemparnya partikel tanah dari massa
tanah akibat pukulan butiran air hujan secara langsung. Menurut McIntyre
(1985) dalam Suripin (2001) menyatakan bahwa proses erosi percikan terdiri
dari tiga tahap, yaitu (1) terjadinya penggemburan yang cepat pada permukaan
tanah sehingga kohesi menurun, akibatnya laju erosi percikan akan meningkat;
(2) terjadinya pemadatan permukaan akibat pukulan butiran air hujan sehingga
terbentuk lapisan kerak tipis yang akan menurunkan jumlah partikel tanah
yang terlempar ke udara dan meningkatkan akumulasi air permukaan; (3)
terjadinya aliran turbulensi yang mampu mengangkut sebagian lapisan kerak
pada permukaan tanah.
2. Erosi aliran permukaan (overland flow erosion)
Erosi aliran permukaan akan terjadi hanya dan jika intensitas dan/ atau
lamanya hujan melebihi kapasitas simpan tanah. Mengingat bahwa aliran
permukaan terjadi tidak merata dan arah alirannya tidak beraturan maka,
kemampuan untuk mengikis tanah juga tidak sama atau tidak merata untuk
semua tempat.
3. Erosi alur (rill erosion)
Erosi alur adalah erosi akibat pengikisan tanah oleh aliran air yang
membentuk parit atau saluran kecil, dimana pada bagian tersebut telah terjadi

konsentrasi aliran air hujan di permukaan tanah. Aliran air menyebabkan


pengikisan tanah, lama-kelamaan membentuk alur-alur dangkal pada
permukaan tanh yang arahnya dari atas memanjang ke bawah.
4. Erosi parit/ selokan (gully erosion)
Erosi parit adalah kelanjutan dari erosi alur, yaitu terjadi bila alur-alur menjadi
semakin lebar dan dalam yang membentuk parit dengan kedalaman yang dapat
mencapai 1 sampai 2,5 m atau lebih. Parit ini membawa air selama dan segera
setelah hujan dan tidak seperti alur, parit tidak dapat lenyap oleh pengolahan
tanah secara normal. Parit-parit cenderung berbentuk menyerupai huruf V dan
U, dimana aliran limpasan dengan volume besar terkonsentrasi dan mengalir
ke bawah lereng terjal pada tanah yang mudah tererosi. Bila tanah tahan
terhadap erosi maka, alurnya berbentuk V, bila tidak tahan erosi (tanah-tanah
tak berkohesi) berbentuk U.
5. Erosi tebing sungai (stream bank erosion)
Erosi tebing sungai adalah erosi yang terjadi akibat dari pengikisan tebing
oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing atau oleh terjangan arus air
sungai yang kuat terutama pada tikungan-tikungan. Erosi tebing akan lebih
hebat jika tumbuhan penutup tebing telah rusak atau pengolahan lahan terlalu
dekat dengan tebing.
6. Erosi internal (internal or subsurface erosion)
Erosi internal adalah proses terangkutnya partikel-partikel tanah ke bawah
masuk ke celah-celah atau pori-pori akibat adanya aliran bawah permukaan.
Akibat erosi ini tanah menjadi kedap air dan udara sehingga, menurunkan
kapasitas infiltrasi dan meningkatkan aliran permukaan atau erosi alur.
Pengaruh erosi sebenarnya tidak menyebabkan kehilangan tanah sehingga
tidak menyebabkan kerusakan langsung yang berarti.
7. Tanah longsor (landslide)
Tanah longsor merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan
massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relative besar. Berbeda
dengan jenis erosi yang lain, pada tanah longsor pengangkutan tanah terjadi
sekaligus dalam jumlah yang besar. Ditinjau dari segi gerakannya maka, selain

serosi longsor masih ada beberapa erosi akibat gerakan massa tanah, yaitu (1)
rayapan (creep), runtuhan batuan (rock fall) dan aliran lumpur (mud flow).
Menurut Arsyad (2010) erosi dapat terjadi akibat beberapa faktor yaitu:
1. Iklim
Di daerah beriklim basah, faktor iklim yang mempengaruhi erosi adalah
hujan. Besarnya curah hujan, intensitas, dan distribusi hujan menentukan
kekuatan disperse hujan terhadap tanah, jumlah dan kekuatan aliran
permukaan serta tingkat kerusakan erosi yang terjadi
2. Topografi
Kemiringan lereng dan panjang lereng adalah dua sifat topografi yang paling
berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi. Unsur lain yang mungkin
berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman, dan arah lereng.
3. Vegetasi
Vegetasi merupakan lapisan pelindung atau penyangga antara atmosfer dan
tanah. Suatu vegetasi penutup tanah yang baik seperti rumput tebal atau rimba
yang lebat akan menghilangkan pengaruh hujan dan topografi terhadap erosi.
Oleh karena kebutuhan manusia akan pangan, sandang, dan permukiman,
semua tanah tidak dapat dibiarkan tertutup hutan dan padang rumput. Namun
demikian, dalam usaha pertanian, jenis tanaman yang diusahakan mempunyai
peranan penting dalam pencegahan erosi.
4. Tanah
Berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda-beda.
Kepekaan erosi tanah atau mudah tidaknya tanah tererosi adalah fungsi
berbagai interaksi sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Sifat-sifat fisik dan kimia
tanah yang mempengaruhi erosi adalah (1) tekstur, (2) struktur, (3) bahan
organik, (4) kedalaman, (5) sifat lapisan tanah dan (6) tingkat kesuburan
tanah.
5. Manusia
Pada akhirnya

manusialah

yang

menentukan

apakah

tanah

yang

diusahakannya akan rusak dan menjadi tidak produktif atau menjadi baik dan
produktif secara lestari.
2.1.2. Erosi yang Diperbolehkan (Edp)
Erosi yang diperbolehkan adalah jumlah tanah yang hilang yang
diperolehkan pertahun agar produktivitas lahan tidak berkurang sehingga tanah

tetap produktif secara lestari (, ). Menurut Thompson (1957) dalam Arsyad


(2010), erosi yng diperbolehkan dapat dihitung dengan rumus:
Edp = T x BV x 10
Keterangan:
T
= Pedoman penetapan Edp untuk tanah-tanah di Indonesia (mm/ tahun)
BV
= Berat jenis tanah (g/ cm3)
Tabel 2.1. Pedoman penetapan nilai T untuk tanah-tanah di Indonesia
No.
1
2

Sifat Tanah dan Substratum

Tanah sangat dangkal di atas batuan


Tanah sangat dangkal di atas batuan telah melapuk (tidak
terkonsolidasi)
3
Tanah dangkal di atas batuan telah melapuk
4
Tanah dengan kedalaman sedang di atas batuan telah melapuk
5
Tanah yang dalam dengan lapisan bawah yang kedap air di atas
substrata yang telah melapuk
6
Tanah yang dalam dengan lapisan bawah berpermeabilitas lambat,
di atas substrata yang telah melapuk
7
Tanah yang dalam dengan lapisan bawah berpermeabilitas
sedang, di atas substrata yang telah melapuk
8
Tanah yang dalam dengan lapisan bawah yang permeabel, di atas
substrata yang telah melapuk
Sumber: Thompson (1957) dalam Arsyad (2010)

Nilai T
(mm/ tahun)
0,0
0,4
0,8
1,2
1,4
1,6
2,0
2,5

Keterangan:
Tanah sangat dangkal = < 25 cm
Tanah dangkal
= 25-50 cm
Tanah sedang
= 50-90 cm
Tanah dalam
= >90 cm
2.1.3. Prediksi Laju Erosi
Suatu model parametrik untuk memprediksi erosi dari suatu bidang tanah
telah dilaporkan Wischmeier dan Smith (1965, 1978) dalam Arsyad (2010),
dinamai the Universal Soil Loss Equation (USLE). USLE memungkinkan
perencana menduga laju rata-rata erosi suatu bidang tanah tertentu pada suatu
kecuraman lereng dengan pola hujan tertentu untuk setiap penanaman dan
tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang mungkin dilakukan atau
yang sedang digunakan. Persamaan yang digunakan mengelompokkan berbagai
parameter fisik dan pengelolaan yang mempengaruhi laju erosi ke dalam enam
peubah utama yang nilainya untuk setiap tempat dapat dinyatakan secara numerik.
USLE adalah suatu model erosi yang dirancang untuk memprediksi erosi
rata-rata jangka panjang dari erosi lembar atau erosi alur di bawah keadaan

tertentu. USLE juga bermanfaat untuk tanah tempat bangunan dan penggunaan
non-pertanian

tetapi, tidak dapat memprediksi pengendapan dan tidak

memperhitungkan hasil sedimen dari erosi parit, tebing sungai dan dasar sungai
(Arsyad, 2010).
Persamaan USLE dinyatakan sebagai berikut:
A = R.K.LS.C.P
yang menyatakan:
A = banyaknya tanah tererosi dalam ton per ha per tahun (laju erosi).
R = indeks erosivitas hujan, yaitu jumlah satuan indeks erosi hujan. Faktor R
dihitung dengan rumus yang dikemukakan oleh Lenvain, yaitu:
R = 2,21.P1,36
Keterangan:
R = indeks erosivitas
P = rata-rata curah hujan bulanan (cm/ bulan)
K = faktor erodibilitas tanah. Faktor K dihitung dengan rumus
K= 2,713M1,14 (10-4) (12-a) + 3,25 (b-2) +2,5(c-3)
100
Keterangan:
K = nilai erodibilitas tanah
M = Kelas tekstur tanah ( % pasir halus + % debu) (100-% liat )
a = % Bahan Organik ( % C organik x 1,274)
b = kode struktur tanah
c = kode permeabilitas profil tanah
Tabel 2.2. Penilaian ukuran butir M
Kelas tektsur
Nilai M
Liat Berat
210
Liat Sedang
750
Liat Berpasir
1213
Liat Ringan
1685
Lempung Liat Berpasir
2160
Liat Berdebu
2830
Lempung Berliat
2830
Pasir
3035
Lempung Berpasir
3245
Lempung liat Berdebu
3770
Pasir Berlempung
4005
Lempung
4330
Lempung Berdebu
6330
Debu
8245
Sumber : Harjowigeno dan Widiatmaka (2011) dalam Margianmoko (2015)

Tabel 2.3. Kelas Kandungan C Organik


Kelas
C-organik
Nilai

Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi

<1
1-2
2,1-3
3,1-5
>5

0
1
2
3
4

Sumber : Harjowigeno dan Widiatmaka (2011) dalam Margianmoko (2015)

Tabel 2.4. Penilaian permeabilitas tanah


Kelas Permeabilitas
cm/jam Nilai
Cepat
>25,4
1
Sedang sampai cepat
sedang
sedang sampai lambat
Lambat
Sangat lambat

12,7-25,4
6,3-12,7
2,0-6,3
0,5-2,0
<0,5

2
3
4
5
6

Sumber : Harjowigeno dan Widiatmaka (2011) dalam Margianmoko (2015)

Tabel 2.5. Penilaian Struktur Tanah


Tipe Struktur
Nilai
Granular sangat halus
1
Granular halus
2
Granular sedang dan kasar
3
Granular lempeng, pejal
4
Sumber : Harjowigeno dan Widiatmaka (2011) dalam Margianmoko (2015)

LS = Faktor panjang lereng dan sudut lereng, yaitu nisbah antara besarnya erosi
per indeks erosi dari suatau lahan dengan panjang dan kemiringan lahan
tertentu terhadap besarnya erosi. Faktor LS dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
Tabel 2.6. Nilai sudut lereng terhadap faktor LS
KEMIRINGAN
LERENG (%)
0-8
8-15
15-25
25-45
>45

NILAI
LS
0.25
1.2
4.25
9.5
12

Sumber : Harjowigeno dan Widiatmaka (2011) dalam Margianmoko (2015)

C = faktor vegetasi penutup tanah, yaitu nisbah antara besarnya erosi dari suatu
areal dengan vegetasi penutup dan pengelolaan tanaman tertentu terhadap

besarnya erosi dari tanah yang identik tanpa tanaman. Faktor C yang diamati
di lapangan akan dicocokkan dengan tabel 2.7.
P = faktor tindakan-tindakan khusus konservasu tanah, yaitu nisbah antara
besarnya erosi dari tanah yang diberi perlakuan tindakan konservasi khusus,
seperti pengolahan menurut kontur, penanaman dalam strip atau teras,
terhadap besarnya erosi dari tanah yang diolah searah lereng, dalam keadaan
identik. Faktor P yang diamati di lapangan akan dicocokkan dengan tabel 2.8.

Tabel 2.7. Nilai Faktor C


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Penggunaan Lahan
Tanah terbuka/ tanpa tanaman
Hutan atau semak belukar
Savannah dan prairie dalam kondisi baik
Savannah dan prairie yang rusak untuk gembalaan
Sawah
Tegalan tidak dispesifikasikan
Ubi kayu
Jagung
Kedelai
Kentang
Kacang tanah
Padi
Tebu
Pisang
Akar wangi
Rumput bede (tahun pertama)
Rumput bede (tahun kedua)
Kopi dengan penutup tanah buruk
Talas
Kebun campuran:
Kerapatan tinggi
Kerapatan sedang
Kerapatan rendah
Perladangan
Hutan alam:
Serasah banyak
Serasah kurang
Hutan produksi:
Tebang habis
Tebang pilih
Semak belukar/ padang rumput
Ubi kayu + Kedelai
Ubi kayu + Kacang tanah
Padi Sorghum
Padi Kedelai
Kacang tanah + Gude
Kacang tanah + Kacang tunggak
Kacang tanah + Mulsa jerami 4 ton/ ha

Nilai C
1
0,001
0,01
0,1
0,01
0,7
0,8
0,7
0,399
0,4
0,2
0,561
0,2
0,6
0,4
0,287
0,002
0,2
0,85
0,1
0,2
0,5
0,4
0,001
0,005
0,5
0,2
0,3
0,181
0,195
0,345
0,417
0,495
0,571
0,049

32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42

Padi + Mulsa jerami 4 ton/ ha


Kacang tanah + Mulsa jagung 4 ton/ ha
Kacang tanah + Mulsa Crotalia 3 ton/ ha
Kacang tanah + Mulsa kacang tunggak
Kacang tanah + Mulsa jerami 2 ton/ ha
Padi + Mulsa Crotalia 3 ton/ ha
Pola tanaman tumpang gilir + Mulsa Jerami
Pola tanaman berurutan + Mulsa sisa tanaman
Alang-alang murni subur
Padang rumput (stepa dan savanna
Rumput Brachiaria

0,096
0,128
0,136
0,259
0,377
0,387
0,079
0,357
0,001
0,001
0,002

Sumber: Suripin (2001)

Tabel 2.8. Nilai Faktor P


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

Jenis Perlakuan
Tidak ada perlakuan konservasi tanah
Teras Bangku
Sempurna
Sedang
Jelek
Teras tradisional
Padang rumput
Bagus
Jelek
Hill side ditch/ field pits
Contour cropping
Dengan kemiringan 0-8%
Dengan kemiringan 8-20%
Dengan kemiringan >20%
Limbah
jerami
yang 6 ton/ ha/ th
digunakan
3 ton/ ha/ th
1 ton/ ha/ th
Tanaman perkebunan
Dengan penutup tanah rapat
Dengan penutup tanah sedang
Reboisasi dengan penutup tanah pada awal tahun
Strip cropping jagung kacang tanah, sisa tanaman dijadikan mulsa
Jagung kedelai, sisa tanaman dijadkan mulsa
Jagung mulsa jerami padi
Padi gogo kedelai, mulsa jerami 4 ton/ ha
Kacang tanah kacang hijau
Kacang tanah kacang hijau mulsa jerami
Padi gogo jagung kacang tanah + mulsa
Jagung + padi gogo + ubi kayu + kacang tanah, sisa tanaman dijadikan mulsa
Teras gulud : padi jagung
Teras gulud : sorghum- sorghum
Teras gulud : ketela pohon
Teras gulud : jagung kacang tanah, mulsa + sisa tanaman dijadikan mulsa
Teras gulud : jagung + kedelai
Teras gulud : padi jagung kacang tunggak, kapur 2 ton/ ha
Teras bangku : jagung ubi kayu/ kedelai
Teras bangku : sorghum - sorghum
Teras bangku : kacang tanah - kacang tanah
Teras bangku : tanpa tanaman
Serai wangi

Faktor P
1
0,04
0,15
0,35
0,4
0,04
0,40
0,3
0,5
0,75
0,9
0,3
0,5
0,8
0,1
0,5
0,3
0,05
0,087
0,008
0,193
0,730
0,013
0,267
0,159
0,013
0,041
0,063
0,006
0,105
0,012
0,056
0,024
0,009
0,039
0,537

29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41

Alang-alang
Ubi kayu
Sorghum - sorghum
Crotalia ussaramuensis
Padi gogo - jagung
Padi gogo jagung mulsa jerami
Padi gogo jagung kapur 2 ton/ ha mulsa/ pupuk kandang 10-20 ton/ ha
Jagung + padi gogo + ubi kayu kedelai/ kacang tanah
Jagung + kacang tanah kacang hijau mulsa
Strip crotalia - sorghum - sorghum
Strip crotalia kacang tanah ketela pohon
Strip crotalia padi gogo - kedelai
Strip rumput pad gogo

0,021
0,461
0,341
0,502
0,209
0,083
0,030
0,421
0,014
0,264
0,405
0,193
0,841

Sumber: Hardjowigeno dan Sukmana (1995) dalam ()

2.1.4. Penetapan Tingkat Bahaya Erosi (TBE)


Tingkat bahaya erosi adalah prakiraan kehilangan tanah maksimum
dibandingkan tebal solum tanahnya pada setiap unit lahan bila teknik pengelolaan
tanaman tidak mengalami perubahan (, ). Tngkat bahaya erosi dapat dinilai
berdasarkan tebal solum tanah dan besarnya bahaya erosi yang tersaji di tabel di
bawah ini.
Tabel 3.7 Tingkat bahaya erosi
Erosi Maksimum (A) ton/ha/tahun

Tebal solum
(cm)

<15

15-60

60-180

180-480

>480

>90

SR

SB

60-90

SB

SB

30-60

SB

SB

SB

SB

<30

SB

SB

SB

Sumber : Harjowigeno dan Widiatmaka (2011) dalam Margianmoko (2015)


Keterangan:
SR= Sangat Ringan
R=Ringan
S=Sedang
B=Berat
SB=Sangat Berat