Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) merupakan hak asasi karyawan dan salah satu
syarat untuk dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Menurut Frank Bird

kecelakaan adalah peristiwa yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan kecelakaan fisik
terhadap seseorang atau kerusakan pada alat , ini biasanya terjadi karena adanya kontak dari
sumber energy seperti : energy kinetic, listrik, kimia, energy panas dan lain-lain.
Di samping itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga merupakan syarat untuk
memenangkan persaingan bebas die r a globalisasi dan pasar bebas Asean Free Trade
Agrement (AFTA), WorldTrade Organization (WTO) dan Asia Pacipic Economic
Community(APEC). Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan
masyarakat pekerja Indonesia, telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2020 yaitu gambaran
masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan
perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan
merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Kesehatan kerja bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan
sejahtera , bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta bebas pencemaran
lingkungan menuju peningkatan produktifitas sebagaimana diamanatkan dalam undangundang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Dewan Keselamatan dan Kesehatan

Kerja Nasional, 2007). Kesehatan kerja tidak dilaksanakan dengan baik dapat menimbulkan
kecelakaan.
Didalam Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) terdapat salah satu unsur kelengkapan yang
wajib digunakan saat bekerja yaitu Alat Pelindung Diri (APD). APD adalah alat untuk
melindungi pekerja yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi
bahaya di tempat kerja (Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, 2010). Penggunaan APD
diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.8/MEN/VII/2010.
Pada tempat kerja dengan potensi bahaya dan resiko kecelakaan, pekerja diwajibkan
menggunakan APD demi mempertahankan kesehatan kerja (Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi RI, 2010; OSHA, 2003).
Alat Pelindung Diri selanjutnya disebut APD adalah seperangkat alat yang digunakan oleh
tenaga kerja untuk melindungi seluruh dan atau sebagian tubuh dari adanya kemungkinan potensi
bahaya dan kecelakaan kerja.(Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia
Nomor Per.08/MEN/VII/2010).
Jadi, alat perlindungan diri merupakan alat yang digunakan oleh pekerja yang melekat pada tubuh
pekerja dengan tujuan untuk melindungi sebagian tubuh pekerja atau seluruh tubuh pada saat
melaksanakan pekerjaan dari kemungkinan bahaya yang melebihi batas yang diperbolehkan.
Penggunaan APD ini merupakan tahap akhir pengendalian untuk mengurangi bahaya atau resiko pada
pekerja saat bekerja.

Setiap tempat kerja mempunyai potensi bahaya yang berbeda-beda sesuai dengan jenis,
bahan, dan proses produksi yang dilakukan. Dengan demikian, sebelum melakukan
pemilihan alat pelindung diri mana yang tepat digunakan, diperlukan adanya suatu
inventarisasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja masing-masing.

Dapat dipastikan sebagai suatu pemborosan perusahaan, bila alat pelindung diri yang
dipilih dan digunakan tidak sesuai dengan potensi bahaya yang dihadapi pekerja. Secara
lebih detail pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri harus memperhatikan aspekaspek sebagai berikut :
Aspek teknis, meliputi :
1) Pemilihan berdasarkan jenis dan bentuknya. Jenis dan bentuk alat pelindung diri
harus disesuaikan dengan bagian tubuh yang dilindungi.
2) Pemilihan berdasarkan mutu atau kualitas. Mutu alat pelindung diri akan
menentukan tingkat keparahan dari suatu kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang
mungkin terjadi.
3) Penentuan jumlah alat pelindung diri. Jumlah yang diperlukan sangat tergantung dari
jumlah tenaga kerja yang terpapar potensi bahaya di tempat kerja.
4) Teknik penyimpanan dan pemeliharaan. Penyimpanan dan pemeliharaan alat
pelindung diri yang baik adalah merupakan investasi untuk penghematan dari pada
pembelian alat yang baru.

Adapun masalah-masalah dalam menggunakan APD salah satunya adalah rasa tidak nyaman saat
menggunakan APD itu dipengaruhi oleh Terjadinya gangguan gerak terhadap pemakaian Apd dan
persepsi sensoris pemakainya ,iritasi pada kulit ketika pemakaian handscound yang terlalu lama,dan
adanya persepsi seseorang bahwa ketika memakai Apd akan mempengaruhi beban dalam tubuh
pekerja dikarnakan alat apd yang berat seperti pemakaian Helm safety dan baju pelindung badan.

APD merupakan peralatan yang harus disediakan oleh pengusaha oleh karyawan.
Kewajiban menggunakan APD itu sendiri telah disepakati oleh pemerintah melalui
departemen tenaga kerja Republik Indonesia.
APD yang diberikan kepada karyawan juga harus memenuhi persyaratan. Menurut
Sumamur, APD yang baik adalah yang memenuhi persyaratan:

a. Enak dipakai,
b. Tidak mengganggu pekerjaan/kenyamanan, dan
c. Memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya.

Pengawasan penggunaan Apd di lapangan kerja merupakan suatu kegiatan yang


dilakukan seseorang dalam mengamati,memeriksa dan memantau penggunaan Apd dalam
kegiatan-kegitan yang dilakukan pekerja selama bekerja (dyah,2002).Pengawasan bertujuan
untuk meningkatkan kedisiplinan dari pekerja untuk dapat melakukan pekerjaan sesuai
dengan prosedur yang sudah ditetapkan atau sesuai dengan Standar Operatting Procedure
(SOP).dengan adanya pengawasan di suatu instansi/kantor akan sangat mempengaruhi
kualitas dalam pelayanan bekerja dan dapat mempengaruhi kepatuhan dalam menggunakan
Apd di tempat bekerja.

Pemeliharaan dan Penyimpanan Alat Pelindung Diri (APD) Agar alat pelindung diri
(APD) tetap dapat digunakan dengan baik, harus disimpan pada tempat penyimpanan yang
bebas debu, kotoran, dan tidak terlalu lembab serta terhindar dari gigitan binatang.
Penyimpanan harus diatur sedemikian rupa sehingga mudah diambil dan dijangkau oleh
pekerja dan diupayakan disimpan di almari khusus alat pelindung diri.
a. Prinsip Pemeliharaan Alat Pelindung Diri (APD)
Secara prinsip pemeliharaan alat pelindung diri dapat dilakukan dengan cara, antara
lain.
1) Penjemuran di panas matahari untuk menghilangkan bau dan mencegah tumbuhnya
jamur dan bakteri.

2) Pencucian dengan air sabun untuk alat pelindung diri seperti safety helm, kaca
mata, ear plug yang terbuat dari karet, sarung tangan kain, kulit atau karet dan lainlain.
3) Penggantian cartridge atau canister pada respirator setelah dipakai beberapa kali.
b. Sistem Pemeliharaan dan Penyimpanan Alat Pelindung Diri
Bila memungkinkan, perusahaan dapat mengembangkan system pemeliharaan dan
penyimpanan alat pelindung diri secara kelembagaan yang mencakup hal-hal sebagai
berikut :
1) Penunjukan orang yang bertanggung jawab atas pemeliharaan dan penyimpanan
APD.
2) Pengembangan prosedur pembersihan dan pemeriksaan secara rutin dan khusus.
3) Ketersediaan informasi tentang lamanya waktu proteksi APD dan prosedur
penggantian dan pembelian, dan lain-lain.
Perlu disadari bersama, bahwa pemeliharaan dan penyimpanan alat pelindung diri yang
baik akan lebih menguntungkan dari segi ekonomis dari pada sering membeli baru karena
alat sering rusak. Mengingat implementasi pengendalian risiko yang lebih bersifat teknis
teknologis sering mengalami hambatan, baik secara teknis maupun non teknis, maka selama
paparan potensi bahaya dapat diturunkan sampai batas yang diperkenankan, pemakaian alat
pelindung diri merupakan alat pelindung terakhir yang wajib digunakan.

Alat Pelindung Diri (APD) memberikan perlindungan yang baik apabila dipilih dan
dipakai secara tepat oleh pekerja yang bersangkutan. Pemilihan yang salah selain tidak

bermanfaat, juga dapat menimbulkan bahaya bagi pemakainya. Bahaya tersebut antara lain
keracunan gas berbahaya, terkena bahan-bahan kimia yang korosif, terkena radiasi panas dari
alat produksi, tertimpa benda-benda berat, tersengat arus listrik, tertusuk benda-benda tajam
dan sebagainya. Bahaya tersebut tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian
materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara
menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.
Berdasarkan data (Jamsostek, 2011), angka kecelakaan kerja di Indonesia tahun 2011
mencapai 99.491 kasus. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Pada tahun 2007 sebanyak 83.714 kasus, tahun 2008 sebanyak 94.736 kasus,
tahun 2009 sebanyak 96.314 kasus, dan tahun 2010 sebanyak 98.711 kasus. Data
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyebutkan, sampai tahun 2013 di Indonesia
tidak kurang dari enam pekerja meninggal dunia setiap hari akibat kecelakaan kerja.
PT. Samko Farma Tangerang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam
bidang farmasi yang telah menerapkan kaidah-kaidah CPOB (Cara Pembuatan Obat yang
Baik) dan juga pemakaian alat pelindung diri (APD) di dalamnya yang dapat menunjang
keselamatan dan kesehatan kerja. Alat pelindung diri (APD) yang digunakan oleh bagian
produksi di PT.Samko farma Tangerang, antara lain pelindung kepala, masker, pelindung
mata, pakaian pelindung, sarung tangan, pelindung kaki. Namun, berdasarkan pengamatan
penulis terdapat beberapa pekerja khususnya di bagian produksi yang kurang peduli dan
merasa tidak nyaman untuk memakai Alat Pelindung Diri(APD) secara tepat. Oleh karena itu
penulis termotivasi untuk mengetahui gambaran pemakaian APD, khususnya bagian produksi
di PT. Samko Farma Tangerang dalam rangka mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja
dan kurang maksimalnya produksifitas kerja

1.2 Tujuan Magang


1.2.1

Tujuan Umum
Tujuan umum dari kegiatan magang ini adalah untuk mengetahui Gambaran
tentang cara pemakaian Alat pelindung diri (APD) di bagian produksi di PT. Samko
Farma Tangerang.

1.2.2

Tujuan Khusus
Adapun Tujuan khusus sebagai berikut :
1. Mengetahui gambaran pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) di PT. Samko
Farma Tangerang
2. Mengetahui unit yang bertanggung jawab terhadap pemakaian Alat Pelindung
Diri (APD) di PT. Samko Farma Tangerang
3. Mengetahui gambaran identifikasi resiko di bagian produksi PT. Samko Farma
Tangerang

4. Mengetaui persediaan Peralatan Alat Pelindung Diri (APD) di PT Samko Farma


Tangerang
5. Mengetahui pengawasan Alat Pelindung Diri (APD) bagian produksi di PT.
Samko Farma Tangerang
6. Mengetahui penyimpanan dan pemeliharaan Alat Pelindung Diri (APD) bagian
produksi di PT. Samko Farma Tangerang

1.3 Manfaat magang


1.3.1

Bagi Perusahaan
Memberikan

saran

atau

masukan

kepada

perusahaan

tentang

meminimalisirkan resiko terjadinya kecelakaan di PT Samko Farma Tangerang

1.3.2

Bagi fakultas
Menyumbangkn hasil pemikiran dan serta untuk memberikan acuan referensi
bagi kalangan akademisi untuk menunjang perkembangan penulisan selanjutnya.

1.3.3

Bagi Mawasiswa
Menerapan ilmu yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan untuk
diterapkan di perusahan.