Anda di halaman 1dari 15

16

IV. HASIL RUNNING DAN PEMBAHASAN

4.1

Listing Program
Pada percobaan ini praktikan melakukan percobaan tentang masalah awal
pada persamaan diferensial biasa. Percobaan ini dilakukan bertujuan agar
mahasiswa memahami masalah syarat awal pada persamaan diferensial
biasa menggunakan metode numerik, dapat membuat program yang berisi
metode numerik untuk menyelesaikan persamaan diferensial biasa yang
menggunakan syarat awal, dan dapat menyelesaikan masalah-masalah fisika
yang menyangkut metode numerik untuk menyelesaikan persamaan
diferensial biasa yang menggunakan syarat awal. Pada dasarnya bentuk
numerik untuk turunan parsial dari sebuah fungsi multidimensi mempunyai
bentuk yang hampir sama dengan bentuk numerik turunan dari sebuah
fungsi satu dimensi. Pada percobaan ini, menggunakan enam metode
numerik yang berbeda-beda, yaitu metode Euler Maju, metode Euler
Termodifikasi, metode Euler Mundur, metode Runge-Kutta Orde Kedua,
metode Runge-Kutta Orde Ketiga, dan metode Runge-Kutta Orde Keempat.
Dalam percobaan ini yang dilakukan adalah membuat program untuk
menentukan suhu akhir dari potongan logam. Berikut listing program yang
digunakan pada percobaan ini:
%modul7-program untuk masalah syarat batas pada persamaan
differensial
%biasa dengan metode Euler (3 buah) dan Range-Kutta (3 buah)
clear;
disp('Penyelesaian masalah PDB dengan syarat batas');
disp('');
disp('Pilihan penyelesaian');
disp(' 1.Metode Euler Maju');
disp(' 2.Metode Euler Termodifikasi');
disp(' 3.Metode Euler Mundur');
disp(' 4.Metode Runge-Kutta Orde Kedua');
disp(' 5.Metode Runge-Kutta Orde Ketiga');

17

disp(' 6.Metode Runge-Kutta Orde Keempat');


pilih=input('pilihan (1-6)-->');
switch pilih
case 1
disp('1.Metode Euler Maju');
disp(' Penyelesaian PD umum: y*=f(y,t),a<=t<=b, nilai awa
y(a)=alpa');
disp(' Kasus: perambatan panas/suhu pada logam');
disp('----------------------------------------------');
disp('');
m=input('massa logam, m(kg)= ');
suhu=input('suhu pada t=0 (suhu awal) = ');

rho=300;
vol=0.001;
A=0.25;
c=900;
t=0;
tf=input('waktu yang dibutuhkan dlm perambatan panas (menit)
');
takhir=tf*60;
q=3000;
hc=30;
epsil=0.8;
tho=5.67e-8;
rhocv=1/(rho*c*vol);
epsthoA=epsil*tho*A;
hcA=hc*A;

for i=1:300
tplot(i)=t;
yplot(i)=suhu;
dsuhu=rhocv*(q-epsthoA*(suhu^4-298^4)-hcA*(suhu-298));
suhu=suhu+hc*dsuhu;
t=t+tf;
if(t==takhir)
break;
end
end
tplot(i+1)=t;
yplot(i+1)=suhu;
fprintf('T setelah waktu %gdetik--%g oF\n',t,suhu);
xtanah=[0 plot(i+1)];
ytanah=[298 298];
plot(tplot,yplot,'r',xtanah,ytanah,'-');
legend('T(t)')
xlabel('waktu penyebaran panas(detik)')
ylabel('suhu setelah penyebaran panas(oF)')
title('perambatan panas metode Euler Maju')
case 2
disp('2.Metode Euler termodifikasi');
disp('penyelesaian PD umum:y*=f(y,t),a<=t<=b,nilai awal
y(a)=alpa');

18

disp('Kasus:perambatan panas/suhu pada logam');


disp('---------------------------------------------');
disp('');
m=input('massa logam,m(kg) = ');
tf=input('waktu yang dibutuhkan dlm perambatan panas(menit)
=

');
takhir=tf*60;
h=input('step size,h(menit) = ');dt=h*60;
rho=300;
vol=0.001;
A=0.25;
c=900;
t=0;
q=3000;
hc=30;
epsil=0.8;
tho=5.67e-8;
rhocv=1/(rho*c*vol);
epsthoA=epsil*tho*A;
hcA=hc*A;
suhu=298;suhu1=suhu;

for i=1:100
for j=1:4
%fprintf('T pada n=0 = %f\n',suhu1)
if j==1
suhu1=suhu;
end
Tsuhu(i,j)=suhu+(h/2)*((11.11-(4.199e-11)*(suhu1^4-298)0.0287*(suhu1-298))+(11.11-(4.199e-11)*(suhu^4-298)0.028*(suhu-298)));
suhu1=Tsuhu(i,j);
end
suhu=suhu1;
%fprintf('T setelah iterasi j(1-4) = %f\n',suhu1;')
t=t+tf;
if(t==takhir)
break;
end
end
disp('T setelah waktu 10 menit = ')
disp(suhu1);
case 3
disp('3.Metode Euler Mundur');
disp('Penyelesaian PD umum:y*=f(y,t),a<=t<=b,nilai awal
y(a)=alpa');
disp('Kasus:perambatan panas/suhu pada logam');
disp('----------------------------------------------');
disp('');
m=input('massa logam,m(kg) = ');
suhu=input('suhu pada t=0(suhu awal) = ');
tf=input('waktu yang dibutuhkan dlm perambatan panas(menit) =
');
takhir=tf*60;
h=input('step size,h(menit) = ');

19

dt=h*60;
rho=300;
vol=0.001;
A=0.25;
c=900;
t=0;
q=300;
hc=30;
epsil=0.8;
tho=5.67e-8;
rhocv=1/(rho*c*vol);
epsthoA=epsil*tho*A;
hcA=hc*A;
for i=1:100
tplot(i)=t;
yplot(i)=suhu;
if i==1
dsuhu=suhu;
end
dsuhu=rhocv*(q-epsthoA*(suhu^4-298^4)-hcA*(suhu-298));
suhu=suhu+hc*dsuhu;
t=t+tf;
if(t==takhir)
break;
end
end
tplot(i+1)=t;
yplot(i+1)=suhu;
fprintf('T setelah waktu %gdetik = %goF\n',t,suhu);
xtanah=[0 plot(i+1)];
ytanah=[298298];
plot(tplot,yplot,'r',xtanah,ytanah,'-');
legend('T(t)')
xlabel('waktu penyebaran panas(detik)')
ylabel('suhu setelah penyebaran panas(oF)')
title('perambatan panas metode Euler Mundur')
case 4
disp('4. Metode Runge-Kutta Orde Kedua');
disp('Penyelesaian PD Umum:y*=f(y,t),a<=t<=b,nilai awal
y(a)=alpa');
disp('Kasus : PerambatanPanas/suhu pada logam');
disp('---------------------------------------------------');
disp('');
tf=input('takhir(menit) = ');
takhir=tf*60;
suhu=input('suhu pada t=0 = ');
h=input('step size, h (menit) = ');
dt=h*60;
A=0.25;
vol=0.001;
rho=300;
c=900;
dt=h*60;

20

q=300;
hc=30;
epsil=0.8;
tho=5.67e-8;
rhocv=1/(rho*c*vol);
epsthoA=epsil*tho*A;
hcA=hc*A;
kstep=0;
%Runge-Kutta Orde Kedua
%y(n+1)=y(n)+(k1+k2); k1=h*f(yn.tn); k2=h*f(yn+k1,tn+1)
for i=1:5
for j=1:10
kstep=kstep+1;
t=dt*kstep;
k1=dt*(rhocv*(q-epsthoA*(suhu^4-298^4)-hcA*(suhu-298)));
k2=dt*(rhocv*(q-epsthoA*((suhu^4+k1-298^4)-hcA*((suhu+k1)298))));
suhu=suhu+(k1+k2)/2;
end
fprintf('T setelah iterasi j(1-5):%f\n',suhu);
end
disp('T setelah waktu 10 menit = ')
disp(suhu)

case 5
disp('5. Metode Runge-Kutta Orde Ketiga');
disp('Penyelesaian PD Umum:y*=f(y,t),a<=t<=b,nilai awal
y(a)=alpa');
disp('Kasus:PerambatanPanas/suhu pada logam');
disp('---------------------------------------------------');
disp('');
m=input('massa logam,(kg) = ');
suhu=298;
rho=300;
vol=0.001;
A=0.25;
c=900;
t=0;
tf=input('takhir (menit) = ');
takhir=tf*60;
h=input('step size,h (menit) = ');
dt=h*60;
q=300;
hc=30;
epsil=0.8;
tho=5.67e-8;
rhocv=1/(rho*c*vol);
epsthoA=epsil*tho*A;
hcA=hc*A;
kstep=0;
for i=1:10
for j=1:8
kstep=kstep+1;
t=dt*kstep;

21

k1=dt*(rhocv*(q-epsthoA*(suhu^4-298^4)-hcA*(suhu-298)));
k2=dt*(rhocv*(q-epsthoA*((suhu^4+0.5*k1)-298^4)hcA*((suhu+k1*0.5)-298)));
k3=dt*(rhocv*(q-epsthoA*((suhu^4-k1+2*k2)-298^4)-hcA*((suhuk1+2*k2)-298)));
suhu=suhu+(k1+4*k2+k3)/6;
end
fprintf('T setelah iterasi j(1-5):%f\n',suhu);
disp('');
end
fprintf('T setelah waktu 10 menit%f\n',suhu);
case 6
disp('6.Metode Runge-Kutta Orde Keempat');
disp('Penyelesain PD umum:y*=f(y,t),a<=t<=b,nilai awal
y(a)=alpa');
disp('Kasus:perambatan panas/suhu pada logam');
disp('-------------------------------------------------');
disp('');
m= input('massa logam,m(kg) = ');
suhu=298;
rho=300;
vol=0.001;
A=0.25;
c=900;
t=0;
tf=input('t akhir(menit) = ');takhir=tf*60;
h=input('step size,h(menit) = ');dt=h*60;
q=3000;
hc=30;
epsil=0.8;
tho=5.67e-8;
rhocv=1/(rho*c*vol);
epsthoA=epsil*tho*A;
hcA=hc*A;
kstep=0;
%Runge Kutta ke-4 dengan metode simpson1/3
for i=1:10
for j=1:8
kstep=kstep+1;
t=tf*kstep;
k1=tf*(rhocv*(q-epsthoA*(suhu^4-298^4)-hcA*(suhu-298)));
k2=tf*(rhocv*(q-epsthoA*((suhu^4+0.5*k1)-298^4)hcA*((suhu+k1*0.5)-298)));
k3=tf*(rhocv*(q-epsthoA*((suhu^4+0.5*k2)-298^4)hcA*((suhu+0.5*k2)-298)));
k4=tf*(rhocv*(q-epsthoA*((suhu^4+k3)-298^4)-hcA*((suhu+k3)298)));
suhu=suhu+(k1+2*k2+2*k3+k4)/6;
end
fprintf('T setelah iterasi j(1-5) = %f\n',suhu);
end
disp('');
fprintf('T setelah waktu 10 menit = %f\n',suhu);
otherwise

22

disp('pilihan habis');

Dari listing program di atas terlihat bahwa pada percobaan ini sintaks yang
digunakan yaitu switchcase. Sintaks switchcase ini sistem kerjanya yaitu
instruksi seleksi akan memilih satu instruksi berdasarkan nilai yang diberikan
pada variabel. Jika nilainya adalah 1 maka instruksi yang dilaksanakan adalah
1. Jika nilainya adalah 2 maka instruksi yang dilaksanakan adalah 2, begitu
seterusnya. Listing program di atas merupakan program yang digunakan
untuk mencari suhu dari sebuah potongan logam. Untuk mendapatkan nilai
suhu akhir, maka cara yang digunakan adalah dengan memberi inputan pada
program yang dibuat berupa perintah atau instruksi-instruksi untuk
memasukan nilai variabel-variabel yang telah dimasukkan ke dalam instruksiinstruksi program.
Pada percobaan ini dalam masing-masing kasus telah diberikan masukan
tetap yaitu seperti nilai massa jenis, volume logam, luas permukaan, panas
jenis logam, koefisien transfer panas, emisivitas panas dan konstanta stefanboltzman. Dengan menggunakan program yang telah dibuat seperti di atas,
praktikan menggunakannya untuk menyelesaikan beberapa masalah yang kan
dibahas dalam pembahasan ini.
4.2 Metode Euler
Metode euler terbagi menjadi tiga yaitu metode euler maju, metode euler
termodifikasi, dan metode euler mundur. Pada metode euler maju untuk y=
f(y,t) diperoleh dari pendekatan maju untuk differensial. Hasil running dari
metode euler maju ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

23

Gambar 1. Hasil running menggunakan metode Euler Maju


Dari gambar 1 di atas dapat diketahui bahwa sebelum mendapatkan suhu
akhir dari logam berdasarkan inputan yang diberikan, maka harus terlebih
dulu memasukkan nilai-nilai yang diminta berdasarkan instruksi yang telah
dibuat pada program. Instruksi yang diminta berupa pilihan metode yang akan
digunakan. Setelah memasukkan inputan, kemudian akan muncul intruksi
untuk inputan nilai massa logam, suhu awal, dan waktu yang dibutuhkan
dalam perambatan panas. Besarnya massa logam yang digunakan pada
percobaan ini atau yang di input adalah 0,1 kg, suhu awal yang digunakan
adalah 500 celcius dan waktu yang dibutuhkan dalam perambatan panas yaitu
selama 15 menit. Dengan inputan di atas maka diperoleh suhu akhir setelah
waktu 900 detik adalah 560.594o. Berikut grafik yang terbentuk:

Gambar 2. Hasil grafik menggunakan metode Euler Maju


Dari gambar 2 di atas diketahui bahwa grafik merupakan fungsi suhu setelah
penyebaran panas terhadap waktu penyebaran panas. Pada grafik terlihat
besarnya suhu pada waktu kurang dari 100 detik suhu mencapai 600.000o
yang kemudian mengalami perubahan, sehingga diperoleh suhu akhir sebesar
560.594o selama 900 detik.
Metode euler termodifikasi diperoleh dengan mengaplikasikan aturan
trapesoid dalam mengintegralkan y= f(y,t). Hasil running dari metode euler
termodifikasi ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

24

Gambar 3. Hasil running menggunakan metode Euler Termodifikasi


Dari gambar 3 di atas dapat diketahui bahwa sebelum mendapatkan suhu
akhir dari logam berdasarkan inputan yang diberikan, maka harus terlebih
dulu memasukkan nilai-nilai yang diminta berdasarkan instruksi yang telah
dibuat pada program. Instruksi yang diminta berupa pilihan metode yang akan
digunakan. Setelah memasukkan inputan, kemudian akan muncul intruksi
untuk inputan nilai massa logam, waktu yang dibutuhkan dalam perambatan
panas, dan step size atau h. Pada percobaan kedua menggunakan metode
Euler Termodifikasi perlu adanya input step size. Besarnya massa logam yang
digunakan pada percobaan ini atau yang di input adalah 0,1 kg, suhu awal
yang digunakan adalah 500 celcius, waktu yang dibutuhkan dalam perambatan
panas yaitu selama 15 menit dan step size atau h sebesar 0,1. Dengan inputan
di atas maka diperoleh suhu akhir setelah waktu 10 menit adalah 356.5375o.
Pada metode euler mundur untuk y= f(y,t) diperoleh dari pendekatan maju
mundur untuk differensial. Sama seperti halnya metode euler maju, pada
metode ini memasukkan nilai inputan parameter seperti yang telah
ditentukan. Hasil running dari metode euler maju ini ditunjukkan oleh
gambar berikut ini:

25

Gambar 4. Hasil running menggunakan metode Euler Mundur


Dari gambar 4 di atas dapat diketahui bahwa sebelum mendapatkan suhu
akhir dari logam berdasarkan inputan yang diberikan, maka harus terlebih
dulu memasukkan nilai-nilai yang diminta berdasarkan instruksi yang telah
dibuat pada program. Instruksi yang diminta berupa pilihan metode yang akan
digunakan. Setelah memasukkan inputan, kemudian akan muncul intruksi
untuk inputan nilai massa logam, suhu awal, waktu yang dibutuhkan dalam
perambatan panas, dan step size atau h. Pada percobaan ketiga ini
menggunakan metode euler maju perlu adanya input step size. Besarnya
massa logam yang digunakan pada percobaan ini atau yang di input adalah
0,1 kg, suhu awal yang digunakan adalah 500 celcius, waktu yang dibutuhkan
dalam perambatan panas yaitu selama 15 menit dan step size atau h sebesar
0,1. Dengan inputan di atas maka diperoleh suhu akhir setelah waktu 900
detik adalah 331.635o. Berikut grafik yang terbentuk:

Gambar 5. Hasil grafik menggunakan metode Euler Mundur

26

Dari gambar 5 di atas diketahui bahwa grafik merupakan fungsi suhu setelah
penyebaran panas terhadap waktu penyebaran panas. Pada grafik dapat dilihat
jika besarnya suhu setelah perambatan panas adalah konstan selama waktu
perambatan 900 detik.
4.3 Metode Runge-Kutta
Metode runge-kutta terbagi menjadi tiga metode yaitu metode runge-kutta
orde kedua, metode runge-kutta orde ketiga, dan metode runge-kutta orde
keempat. Metode runge-kutta ini mirip seperti metode euler. Hasil running
dari metode runge-kutta orde kedua ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

Gambar 6. Hasil running menggunakan metode Runge-Kutta Orde Kedua


Dari gambar 6 di atas dapat diketahui bahwa sebelum mendapatkan suhu
akhir dari logam berdasarkan inputan yang diberikan, maka harus terlebih
dulu memasukkan nilai-nilai yang diminta berdasarkan instruksi yang telah
dibuat pada program. Instruksi yang diminta berupa pilihan metode yang akan
digunakan. Setelah memasukkan inputan, kemudian akan muncul intruksi
untuk inputan t akhir, suhu awal, dan step size (h). Besarnya t akhir yang
digunakan pada metode ini adalah 15 menit, besarnya suhu awal yang
digunaka adalah 500, dan step size (h) yang diinput adalah 0,1. Pada metode
ini dilakukan iterasi sebanyak 5 kali. Besarnya nilai suhu yang mengalami
iterasi sebanyak lima kali berturut-turut adalah 252.039274o, 325.037564o,

27

346.550978o, 352.264599o, dan 353.732373o. Setelah iterasi maka diperoleh


besarnya suhu setelah 10 menit adalah 353.7324o.
Metode runge-kutta orde ketiga ini merupakan metode penyelesaian numerik
dari persamaan diferensial orde satu. Hasil running dari metode runge-kutta
orde ketiga ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

Gambar 7. Hasil running menggunakan metode Runge-Kutta Orde Ketiga


Dari gambar 7 di atas sama halnya dengan metode runge-kutta orde kedua,
dapat diketahui bahwa sebelum mendapatkan suhu akhir dari logam
berdasarkan inputan yang diberikan, maka harus terlebih dulu memasukkan
nilai-nilai yang diminta berdasarkan instruksi yang telah dibuat pada
program. Instruksi yang diminta berupa pilihan metode yang akan digunakan.
Setelah memasukkan inputan, kemudian akan muncul intruksi untuk inputan
massa logam, t akhir, dan step size (h). Pada metode ini tidak melakukan
inputan suhu awal berbeda dengan metode runge-kutta kedua. Besarnya
massa logam yang digunakan adalah 0,1 kg, t akhir yang digunakan pada
metode ini adalah 15 menit, dan step size (h) yang diinput adalah 0,1. Pada
metode ini dilakukan iterasi sebanyak 10 kali. Besarnya nilai suhu yang
mengalami iterasi sebanyak sepuluh kali berturut-turut adalah 325.070345o,
330.380398o, 331.396104o, 331.589399o, 331.626148o, 331.633133o,
331.634461o, 331.634713o, 331.634761o, dan 331.634770o. Setelah iterasi
maka diperoleh besarnya suhu setelah 10 menit adalah 331.634770o.

28

Metode runge-kutta orde keempat ini terdiri dari dua jenis metode yaitu
metode yang didasarkan aturan Simpson 1/3 dan metode yang didasarkan
pada aturan Simpson 3/8. Hasil running dari metode runge-kutta orde
keempat ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

Gambar 8. Hasil running menggunakan metode Runge-Kutta Orde Keempat


Dari gambar 8 di atas sama halnya dengan metode runge-kutta orde kedua
dan orde ketiga dapat diketahui bahwa sebelum mendapatkan suhu akhir dari
logam berdasarkan inputan yang diberikan, maka harus terlebih dulu
memasukkan nilai-nilai yang diminta berdasarkan instruksi yang telah dibuat
pada program. Instruksi yang diminta berupa pilihan metode yang akan
digunakan. Setelah memasukkan inputan, kemudian akan muncul intruksi
untuk inputan massa logam, t akhir, dan step size (h). Pada metode ini tidak
melakukan inputan suhu awal berbeda dengan metode runge-kutta kedua.
Besarnya massa logam yang digunakan adalah 0,1 kg, t akhir yang digunakan
pada metode ini adalah 15 menit, dan step size (h) yang diinput adalah 0,1.
Pada metode ini dilakukan iterasi sebanyak 10 kali. Besarnya nilai suhu yang
mengalami iterasi sebanyak sepuluh kali berturut-turut adalah 560.551141o,

29

560.594178o, 560.594180o, 560.594180o, 560.594180o, 560.594180o,


560.594180o, 560.594180o, 560.594180o, dan 560.594180o. Sehingga Setelah
iterasi maka diperoleh besarnya suhu setelah 10 menit adalah 560.594180o.
Berdasarkan keenam metode yang digunakan, dapat terlihat jika metode
Runge-Kutta mempunyai tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan
metode Euler.

16

V. KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diambil kesimpulan bahwa:


1. Pada percobaan metode euler maju diperoleh suhu akhir setelah waktu 900
detik adalah 560.594o. Pada grafik yang terbentuk terlihat besarnya suhu
waktu kurang dari 100 detik suhu mencapai 600.000 o kemudian
mengalami perubahan, sehingga diperoleh suhu akhir sebesar 560.594o
selama 900 detik.
2. Pada percobaan metode euler termodifikasi diperoleh suhu akhir setelah
waktu 10 menit adalah 356.5375o.
3. Pada percobaan metode euler mundur diperoleh suhu akhir setelah waktu
900 detik adalah 331.635o. Pada grafik terlihat jika besarnya suhu setelah
perambatan panas adalah konstan selama waktu perambatan 900 detik.
4. Pada percobaan Runge-Kutta Orde Kedua besarnya suhu setelah 10 menit
yang mengalami 5 kali iterasi adalah 353.7324o.
5. Pada percobaan Runge-Kutta Orde Ketiga besarnya suhu setelah 10 menit
yang mengalami 10 kali iterasi adalah 331.634770o.
6. Pada percobaan Runge-Kutta Orde Keempat besarnya suhu setelah 10
menit yang mengalami 10 kali iterasi adalah 560.594180o.