Anda di halaman 1dari 4

PENGORBANAN BAPAK

Nama beliau adalah Parmin. Laki-laki kekar yang mencangkul sawah tanpa
menghiraukan terik matahari. Peluh membasahi dari wajah hingga seluruh tubuh.
Mengenakan caping untuk menutupi kepala dari panas. Sesekali mengelap dahinya yang
berpeluh dengan lengan penjang kemeja lusuh. Memandangi sawah yang kian tahun makin
turun dalam menghasilkan panen. Toh itu tak menyurutkankan niatnya untuk tetap bertani.

Adzan Dhuhur telah berkumandang dari surau. Menganjak umat utnuk meninggalkan
pekerjaannya dan menghadap pada Ilahi. Bapak sudah menaruh cangkulnya di samping
dinding bilik bambu.

“Mandi dulu sana, Pak!! Makannya sudah ibu siapkan!!” sapa ibu menyambut bapak
sembari menerima ember yang bapak gunakan tadi di sawah.

“Pak, tadi si Dwi telpon kalau dia lagi butuh duit untuk bayar kuliahnya!!” kata ibu
mengawali pembicaraan setelah bapak selesai makan dan shalat. “Tadi dia telpon ke hp nya
Lek Min. Katanya dia akan pulang sore ini?”

“Emang butuh duit berapa, Bu?”

“Katanya butuh duit dua juta, Pak!!”

Bapak hanya diam mendengar balasan dari ibu. Itulah yang aku kagumi dari bapakku.
Tak banyak bicara. Pendiam sejati. Berkata jika hanya dibutuhkan. Hubunganku dengan
bapak memang tidak sedekat dengan hubunganku dengan ibu. Ya, aku memang takut kalau
berbicara dengan bapak. Makanya setiap membutuhkan uang aku selalu mengadu kepada Ibu.

“Butuh duit kok jujakan gitu!! Emang kamu ada uang apa sebanyak itu? Panen ini aja
kalian turun?” sergah Nenek yang mendengar pembicaraan Bpak dan Ibu.

Aku masih mempunyai nenek dari ibu. Sedangkan kakek meninggal beberapa tahun
yang lalu. Orangtua dari bapak juga sudah lama meninggal. Nenek tinggal di sebelah rumah
ibu. Beliau tidak mau hidup serumah dengan ibu. Katanya tidak mau merepotkan keluraga
ibu. Meski begitu ibu selalu menyiapka makanan untuk nenek.

“Dulu kan sudah aku bilang! Si Dwi itu gak usah disekolahkan tinggi-tinggi segala!
Biarkan ikut saja sama masnya, Purwanto, merantau di Jakarta. Tidak malah gini, bisanya
minta duit terus. Mau kamu jualkan apa itu duit segitu banyak?”

Nenek mengomeli ibu dan Bapak. Menyalahkan bapak yang menyekolahkan aku
sampai ke perguruan tinggi. Padahal bapak masih punya tanggungan adikku yang masih
duduk di bangku SMP. Sebenarnya aku sudah punya keinginan untuk ikut kakak di Jakarta.
Tetapi malah ditentang keras sama bapak.

“Bapak tidak izinkan kalau kamu pergi ke Jakarta. Bapak masih sanggup untuk
membiayai kamu kuliah.” Bapak berhenti sebentar melihat reaksiku. Aku hanya diam. Takut
bapak makin marah. “Bapak ingin kamu itu sukses, Le! Sekolah yang tinggi. Tidak seperti
Bpak dan Ibumu ini hanya lulus dari sekolah dasar. Bpak tidak pingin kamu kayak Bapak ini.
Masmu itu., Purwanto, yang menghendaki sendiri tidak mau melanjutkan sekolah ke SMA.”
Bpak dan ibu hanya diam mendengar ceramah nenek.

Diantara kami bertiga akulah yang menjadi andalan bapak dalam hal pendidikan.
Kakakku hanya lulus SMP. Adikku masih di bangku SMP. Akulah yang menjadi kebanggaan
Bapak dalam masyarakat. Bapak selalu membanggakanku di antara teman-temannya.

“Anakku juara satu lagi dalam kelas. Kata guru walinya dia termasuk murid terpintar
dan teladan!! Kalian bisa lihat nanti anakku itu akan jadi orang sukses!” kata Bpak diirngi
tawa renyah.

“Emang kamu kuat, Lek, nyekolahkan si Dwi itu sampai ke perguruan tinggi?” tanya
Lek Darto setelah menyeruput kopi di hadapannya.

“Dengar-dengar biaya kuliah sekarang itu semakin mahal!!” timpal Lek Darto yang
duduk di samping Bapak. Suasana di warung kopi semakin ramai saja. Lek Darto, Lek Damo
adalah sahabat bapak sejak kecil.

“Meski aku tak punya apa-apa. Yang penting aku punya niat untuk nyekolahkan. Pasti
juga ada jalan keluarnya sendiri!!” senyum Bpak melihat teman-temannya itu.

“Kami hanya bisa membantu sebisa kami. Aku juga setuju bahwa pendidikan anak itu
sangat penting. Tentu kita tak maukan anak-anak kita kelak hidup seperti kita ini, ha ha ha
ha,” kata Lek Damo.

Mereka bertiga tertawa bersama.

*******

“Kamu apa tidak golek gawean to Le? Mbokyo nyambi-nyambi gitu? Bapak dan ibu
bukannya tidak mau membiayai. Tapi setidaknya kamu juga harus bisa hidup mandiri di sana.
Bapak dan ibu di sini tidak punya apa-apa, tapi bapak dan ibu akan selalu berusaha
semampunya!!” kata ibu.

Aku rebahkan kepalaku di pangkuan ibu. Ibu menbelai rambutku yang mulai panjang
lagi. Entah jawaban apa yang harus aku beriakn kepada ibu.

“Aku juga sedang berusaha, Bu! Tetapi belum ada panggilan. Kalau ibu dan bapak
tahu aku di sana selalu kangen ama bapak dan ibu. Perasaan ini terus-terusan teringat ama
bapak, ibu, adik dan nenek!” kataku dalam hati. Mulutku terasa kelu untuk berucap.

“Kamu mbokyo ngomong sendiri ama bapakmu!! Bapakmu itu pasti senang kalau
kamu ngomong.” Ibu masih membelai rambutku dan aku masih diam. “Kamu itu mbokyo
kayak masmu sama adikmu itu. Butuh apa-apa selalu bilang ama bpak!” tutur kata ibu
lembut. Itulah nasihat-nasihat yang selalu ingin aku dengar.

“Bapak kemana, Bu?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Biasalah kumpul-kumpul ama temen-temennya di warug kopi. Tadi sore Pak Lurah
juga mencari Bapakmu, entah urusan apa!!”

*******

Bapak memang dekat dengan Pak Lurah. Setiap pekerjaan sawah beliau pasti
diserahkan kepada Bapak. Kebetulan bapak juga menjabat ketua RT. Jadi bapak memang
orang kepercayaan Pak Lurah, secara tak langsung.

Bapak selalu berusaha memenuhi semua uang kuliahku. Meski aku sendiri tahu
bahwa panen bapak terus menurun setiap tahun. Tapi entah gimana bapak selalu
mendapatkan uang tersebut. Dulu secara tak sengaja, aku mendengar pembicaraan bapak
sama ibu.

“Bapak sudah mendapatkan uang tersebut? Katanya beberapa hari lagi harus
dibayarkan, Pak?” tanya ibu brusaha memelankan suaranya.

“Belum, Bu!! Tadi minta sama Pak Lurah tidak dapat. Pak Lurah lagi butuh sendiri
untuk membayar anaknya yang sekolah di Jogjakarta. Biar besuk BPKB motornya Lek Darto
bapak gadaikan.”

“Terus bagaimana cara bapak mengembalikannya?”

“InsayAllah bisa, Bu!! Ntar kita telpon Purwanto di Jakarta untuk meminta kiriman.
Lagian Lek Darto juga mengizinkan kok, demi sekolahnya si Dwi!”

Aku sangat merasa bersalah. Tulang-tulangku serasa lemas. Tenagaku seakan lemas.
Jadi bapak mencari utang kemana-kemana untuk membayar kuliahku selama ini. Tak ada lagi
yang bisa aku pikirkan saat itu. Memikirkan bapak yang dililit banyak utang. Begitu bertnya
aku telah membebani bapak selama ini.

*******

“Le, ini duit yang kamu butuhkan! Pas dua juta dan ini seratus untuk saku kamu!”
kata Bapak sembari menyodorkan uang dua juta seratus ribu.

“Bapak Cuma mau pesen, belajar yang sungguh-sungguh. Bapak tidak menharapkan
apa-apa. Bapak dan ibumu ini cuma ingin lihat kamu kelak jadi orang sukses.”

Seperti biasanya, aku hanya bisa diam. Bapak juga tahu kediamanku ini berarti aku
mendengarkan. Di hadapan bapak semua kata-kataku hilang. Mulutku seakan terkunci rapat.

“Disambi golek gawean yo, Le?” tambah Ibu.

Meski aku berusaha menhan tangis mata ini. Hatiku sudah meraung-raung.
Melelehkan airmata ynag tak bisa aku bending lagi. Aku memeluk Ibu dan Bapak. Perasaan
ini datang kembali. Perasaan bersalah dan kangen yang datang dengan begitu besar.
“Aku pasti akan jadi orang sukses, Pak!! Aku sayang sama Bpak dan Ibu!!” teriakku
dalam hati.

Jujakan = mendadak

Golek gawean = mencari pekerjaan

Le = panggilan untuk anak kecil

Lek = dari kata Pak Cilek, paman.