Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN

Kajian Teori Thorndike


Belajar merupakan suatu usaha yang berupa kegiatan
hingga terjadi perubahan tingkah laku yang relatif. Di sekolah
perubahan tingkah laku itu ditandai oleh kemampuan peserta
didik mendemostrasikan pengetahuan dan ketrampilannya.
Teori merupakan prinsip umum yang didukung oleh data
dengan maksud untuk menjelaskan sekumpulan fenomena.
Dari pengertian belajar dan teori dapat dikatakan teori belajar
menyatakan hukum-hukum atau prinsip-prinsip umum yang
melukiskan kondisi terjadinya belajar. Dengan memahami
teori belajar, pengajar akan memahami proses terjadinya
belajar pada peserta didik dan diharapkan dapat
mengantarkan bahan ajarannya secara efektif.
Thorndike ini mengembangkan hukumnya
yang dikenal dengan hukum pengaruh. Pada
hukum ini, jika suatu tindakan diikuti oleh
suatu perubahan yang memuaskan dalam
lingkungan, kemungkinan bahwa tindakan itu
diulangi dalam situasi yang mirip, akan
meningkat. Tetapi, bila suatu perilaku diikuti
oleh suatu perubahan yang tidak memuaskan
dalam lingkungan, kemungkinan perilaku itu
diulangi akan menurun. Dengan adanya
pengaruh seperti ini akan menimbulkan suatu
interaksi di mana terjadi timbal balik antara
pengajar dan peserta didik.
Teori yang dikemukakan oleh Thorndike ini
disebut "Koneksionisme" menurut teori ini belajar
pada hewan dan manusia pada dasarnya sama.
Dasar terjadinya belajar adalah pembentukan
aosiasi antara stimulus dan respon. Pada teori ini
Thorndike memandang perilaku sebagai suatu
respon terhadap stimulus-stimulus dalam
lingkungan, pandangan ini, bahwa stimulus-
stimulus dapat mengeluarkan respon-respon,
merupakan titik tolak dari teori stimulus-respon atau
teori S-R yang dikenal sekarang. Teori ini
menitikberatkan pada aspek fungsional dari
perilaku, yaitu proses mental dan perilaku
organisme berkaitan dengan penyesuaian diri
terhadap lingkungan.
Terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon menurut
Thorndike menurut hukum-hukum berikut:
* Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Hukum ini adalah belajar berhasil jika peserta didik telah siap
untuk belajar.
* Hukum Latihan (Law of Exercise)
Hukum ini menunjukkan bahwa prinsip utama belajar adalah
pengulangan. Makin sering konsep matematika diulangi
maka makin dikuasailah konsep matematika itu.
* Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum ini menunjukkan bagaimana pengaruh suatu
tindakan bagi tindakan serupa.
Belajar pada teori ini merupakan proses yang mekanis dan
pengajar memberikan peranan penting di dalam proses
belajar peserta didik.
Permasalahan
Dalam makalah ini kami membatasi masalah
yang dibahas sebagai berikut:
* Bagaimanakan strategi penerapan teori stimulus-
respon dari Thorndike!
* Bagaimana penerapan teori stimulus-respon
Thorndike pada materi?
BAB II
PEMBAHASAN
Strategi Penerapan Teori Stimulus
Respon dari Thorndike
Pada dasarnya Thorndike menggunakan
stimulus – respon (S-R) yang dikemukakan
oleh Thorndike yang disebut juga
"Koneksionisme". Karena belajar ini
merupakan proses pembentukan koneksi
antara stimulus dan respon. Pada teori ini
individu belajar melakukan kegiatan melalui
proses dalam rangka memilih respon yang
tepat.
Terjadinya asosiasi
antara stimulus dan
respon ini menurut
Thorndike menurut
hukum-hukum
berikut:
1. Hukum Kesiapan (Law of Readiness)

Hukum ini menjelaskan kesiapan individu untuk melakukan


sesuatu. Ciri-ciri berlakunya hukum kesiapan sebagai
berikut:
- Jika kecenderungan individu itu bertindak atau berperilaku,
maka akan menimbulkan kepuasan, sedangkan tindakan
lain tidak dilakukan.
- Jika kecenderungan individu tidak bertindak, maka akan
menimbulkan rasa tidak puas dan akan melakukan
tindakan yang dapat meniadakan rasa tidak puas tadi.-
- Jika tidak mempunyai kecenderungan bertindak, maka
akan menimbulkan rasa tidak puas dan melakukan
tindakan untuk meniadakan rasa tidak puas tadi.
Interpretasi dari hukum kesiapan ini adalah bahwa belajar
akan berhasil bila peserta didik telah siap untuk belajar.
2. Hukum Latihan (Law of Exercise)

Hukum ini menunjukkan bahwa prinsip utama


belajar adalah pengulangan. Bila S diberikan
maka akan terjadi R sering terjadi asosiasi S
dan R dipergunakan, makin kuatlah hubungan
yang terjadi, begitupun sebaliknya.
Thorndike mengemukakan bahwa latihan yang
berupa pengulangan tanpa ganjaran tidak
efektif. Asosiasi antara S dan R hanya diperkuat
bila diiringi ganjaran. Hukum latihan ini
mengarah banyaknya pengulangan yang biasa
berbentuk drill. Pengaturan waktu, distribusi
frekuensi ulangan akan menentukan juga
keberhasilan belajar peserta didik.
3. Hukum Akibat (Law of Effect)

Hukum ini menunjukkan bagaimana


pengaruh suatu tindakan bagi
tindakan serupa. Suatu tindakan
diikuti oleh akibat yang
menyenangkan, akan cenderung
tindakan itu akan diulangi lagi, begitu
juga sebaliknya.
Hukum akibat ini mengenai pengaruh
ganjaran dan hukuman. Ganjaran
(misalnya nilainya baik hasil suatu
pekerjaan matematika) menyebabkan
peserta didik ingin terus melakukan
kegiatan serupa. Sedangkan hukuman
(misalnya nilainya jelek, celaan
terhadap hasil suatu pekerjaan
matematika) menyebabkan peserta
didik mogok untuk mengerjakan
matematika.
Hasil studi Pavlov tentang teori
classical conditionins merangsang para
penemua dari Amerika Serikat, seperti
EL. Thorndike ia memandang perilaku
sebagai suatu respon terhadap
stimulus-stimulus dalam lingkungan.
Pandangan ini, bahwa stimulus-
stimulus dapat mengeluarkan respon-
respon, merupakan titik tolak dari
teori stimulus-respon atau teori S-R
yang dikenal sekarang.
Seperti para ahli teori perilaku
sebelumnya, Thorndike
menghubungkan perilaku para refleks-
refleks fisik. Refleks-refleks tertentu,
seperti sekonyong-konyong
mengangkat lutut ke atas bila lutut itu
dipukul, terjadi tanpa diproses didalam
otak. Dihipotesiskan, bahwa perilaku
yang lain juga ditentukan secara
refleksi oleh stimulus yang ada
dilingkungan, dan bukan oleh pikiran
yang sadar atau tidak sadar.
Dalam sejumlah eksperimen-
eksperimennya, Thorndike menempatkan
kucing-kucing dalam kotak-kotak. Dari
kotak-kotak ini kucing-kucing itu harus
keluar untuk memperoleh makanan. Ia
mengamati, bahwa sesudah beberapa
selang waktu kucing-kucing itu mempelajari
cara mengeluarkan diri lebih cepat dari
kotak-kotak itu dengan mengulangi
perilaku-perilaku yang mengarah pada
keluar, dan tidak mengulangi perilaku-
perilaku yang tidak efektif. Dari eksperimen-
eksperimen ini, Thorndike mengembangkan
hukumnya, yang dikena dengan hukum
pengaruh atau Law of Effect.
Hukum pengaruh Thorndike
mengemukakan, bahwa jika suatu tindakan
diikuti oleh suatu perbahan yang
memuaskan dalam lingkungan,
kemungkinan bahwa tindakan itu diulangi
dalam situasi-situasi yang mirip, akan
meningkat. Tetapi, bila suatu perilaku diikuti
oleh suatu perubahan yang tidak yang tidak
memuaskan dalam lingkungan,
kemungkinan-kemungkinan bahwa perilaku
itu diulangi, akan menurun. Jadi,
konsekuensi-konsekuensi dari perilaku
seseorang pada suatu saat, memegang
peranan penting dalam menentukan perilaku
orang itu selanjutnya.
Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Matematika


Aspek : Ruang DimensiTiga
Materi : Volum Kubus
Kelas/Semester: X / II
I. Standar Kompetensi
Menggunakan sifat dan aturan
geometri dalam menenetukan
kedudukan titik, garis dan bidang,
jarak sudut dan volum.
II. Kompetensi Dasar
Menggunakan aturan-aturan geometri,
abstraksi, dan gambar dalam
pemecahan masalah ruang dimensi
tiga.
III. Indikator
– Menentukan titik, garis, dan bidang
dalam kubus.
– Menentukan volum kubus.
– Menggunakan volum kubus dalam
menyelesaikan soal.
IV. Tujuan
Memahami titik, garis, dan bidang
geometri pada kubus, mengetahui volum
kubus dan dapat menyelesaikan tugas.
V. Metode Pengajaran
Metode yang digunakan drill dan latihan.
VI. Langkah-langkah
a. Kegiatan awal
– Apersepsi : Mengingat kembali definisi
dari kubus. Unsur-unsur pada bangun ruang kubus
serta volum.
– Motivasi : Materi ini akan bermanfaat
untuk materi selanjutnya dan dalam kehidupan
sehari-hari
b. Kegiatan inti
– Guru menyampaikan target belajar yang harus
dicapai.
– Guru memaparkan definisi kubus, dan unsur-unsur
yang ada dalam kubus dengan alat peraga.
– Guru memberikan contoh-contoh dan siswa
memperhatikan.
– Guru memberikan latihan.
– Siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
– Guru mengoreksi pekerjaan siswa dan memberikan
bimbingan seperlunya dan melakukan penilaian.
MATERI
Untuk mengetahui bentuk kubus kita
harus mengetahui jarring-jaring kubus, di
mana ukuran kubus itu semua sama,
melalui proses sebagai berikut:
Titik E, berimpit dengan titik E2.
Titik F, berimpit dengan titik F2.
Titik G, berimpit dengan titik G2.
Titik H, berimpit dengan titik H2 dan
Titik E, H2 berimpit dengan garis E3 H3.
Proses di atas akan menghasilkan
benda atau bangun ruang kubus
sebagaimana diperlihatkan pada
gambar 1.b yang diberi nama kubus
ABCD EFGH.
Berdasarkan paparan tersebut dapat
disimpulkan bahwa bagian-bagian atau
unsur-unsur pada bangun ruang kubus
terdiri dari sisi rusuk dan titik sudut
kubus.
a. Sisi Kubus

Telah disebutkan bahwa kubus dibatasi oleh


enam buah bidang datar berbentuk persegi
yang kongruen. Enam buah persegi pada
kubus itu disebut bidang batas atau bidang
sisi kubus, dan biasanya disingkat dengan
sisi kubus. Sisi-sisi kubus pada gambar 1a
di atas adalah: ABCD, EFGH, BCGF, ADHE,
ABFE, dan CDHB. Perhatikan, sisi-sisi pada
kubus berpasang-pasangan dan dua buah
sisi yang berpasangan disebut berhadapan.
Sebagai contoh untuk pasangan sisi
ABCD dan EFGH dikatakan sisi ABCD
berhadapan dengan sisi EFGH.
Sisi ABCD disebut bidang alas atau
bidang dasar, sedankan sisi EFGH
disebut bidang atas atau bidang tutup.
Sisi-sisi selain bidang alas dan bidang
atas disebut sisi-sis tegak yaitu sisi-
sisi ABFE, BCGF, CDHG dan ADHE
b. Rusuk Kubus
Keenam sisi kubus masing-masing
dibatasi oleh 4 buah garis. Garis-garis
yang merupakan batas sisi kubus
disebut rusuk kubus. Jadi, rusuk kubus
merupakan garis persekutuan
(perpotongan) antara dua sisi kubus.
Misalnya, rusuk AB merupakan
perpotongan antara sisi ABCD dengan
sisi ABFE.
Rusuk sebuah kubus ada 12 buah, yang
dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Rusuk alas adalah rusuk yang terdapat
pada bidang alas, yakni rusuk AB, BC,
CD dan AD.
Rusuk atas adalah rusuk yang terdapat
pada bidang atas, yakni rusuk EF, FG,
GH dan EH.
Rusuk tegak adalah rusuk yang terdapat
pada sisi tegak, yakni rusuk AE, BF, CG
dan DH.
c. Titik Sudut Kubus

Kedua belas rusuk kubus masing-masing


dibatasi oleh titik-titik ujung. Titik-titik
ujung ini disebut titik sudut kubus atau titik
pojok kubus. titik sudut itu merupakan
persekutuan (perpotongan) tiga rusuk atau
persekutuan tiga bidang sisi. Misalnya, titik
sudut A merupakan perpotongan antara
rusuk AB, AD, dan AE atau merupakan
perpotongan antara bidang sisi ABCD, ABFE,
dan ADHE.
Titik sudut dalam kubus ABCD EFGH ada 8
buah, yaitu titik A, B, C, D, E, F, G, dan H.
Delapan titik sudut dalam kubus berhadapan
secara berpasang-pasangan. Sebagai
contoh, titik sudut B berhadapan dengan
titik sudut H dalam kubus ABCD EFGH.
Volum Kubus
Setelah bangun ruang kubus beserta unsur-
unsur ruangnya dipahami, sekarang akan
dihitung besaran pada bangun ruang.
Besaran ini adalah volum kubus yang
dinyatakan sebagai fungsi dari panjang
rusuknya.
Volum kubus ditentukan melalui
hubungan berikut:
Misalkan suatu kubus dengan panjang
rusuk dan satuan, maka volum kubus
ditentukan dengan rumus:
Volum kubus V = a3
Contoh soal:
Diketahui suatu kubus dengan luas
permukaannya = 96 cm2
a. Hitunglah panjang rusuknya
b. Hitunglah panjang diagonal sisinya
c. Hitunglah panjang diagonal ruangnya
d. Hitunglah luas bidang diagonalnya
Jawab
a. Kita ingat bahwa jika panjang rusuk
suatu kubus a satuan, maka luas
permukaan kubus itu ditentukan dengan
rumus L = b a2 oleh karena L = 96 cm2,
maka diperoleh hubungan
b a2 = 96
 a2 = 16
a=4
Jadi, panjang rusuk kubus itu = 4 cm
b. Jika panjang rusuk kubus a cm, maka
panjang diagonal sisi kubus sama
dengan = cm
Jadi, panjang diagonal sisi kubus itu =
cm
c. Jika panjang rusuk a cm, maka panjang
diagonal ruang kubus = = cm
Jadi, panjang diagonal ruang kubus itu =
cm2
d. Jika panjang rusuk kubus a cm, maka
luas bidang diagonal kubus sama dengan
= cm2
Jadi, luas bidang kubus itu = cm2
e. Volum kubus V = a3 = (4)3 = 64 cm3
Jadi, volum kubus itu = 64 cm3
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori belajar sangat membantu
pengajar dalam menyampaikan bahan
pelajaran kepada peserta didik. Teori
merupakan prinsip umum yang
didukung oleh data untuk menjelaskan
sekumpulan fenomena. Dengan
memahami teori belajar, pengajar
akan memahami proses terjadinya
belajar sehingga mampu memberikan
stimulusasi kepada peserta didik
sehingga akan menyukai belajar.
Pengajar juga dapat memprediksikan
secara tepat dan beralasan tentang
keberhasilan peserta didik. Manfaat
teori belajar itu selanjutnya ialah,
bahwa teori belajar itu merupakan
sumber hipotesis, kunci dan konsep-
konsep sehingga dapat lebih efektif
dalam menyampaikan bahan ajar.
Anak anak lebih berhasil dalam belajar
bila respon yang diberikan suatu stimulus
segera diikuti dengan rasa senang atau
kepuasan. Rasa senang, dan kepuasan ini
bisa timbul sebagai akibat peserta didik
mendapatkan pujian atau penghargaan
lainnya. Selain itu, jika reaksi terhadap
stimulus didukung oleh kesiapan untuk
bertindak atau reaksi itu maka reaksi
menjadi memuaskan.
Kemudian makin banyak dipraktikkan
atau digunakannya hubungan stimulus
respon semakin kuat hubungan itu.
Jadi guru harus mampu memberikan
stimulus-stimulus, dan stimulus
tersebut disesuaikan dengan tingkat
kesiapan peserta didik, agar reaksi
yang diberikan peserta didik
memuaskan.
B. Saran

* Kepada peserta didik agar lebih


peka terhadap stimulus-stimulus
yang diberikan oleh guru.
* Kepada para guru agar mampu
memberikan motivasi-motivasi dan
stimulus-stimulus yang menarik dan
disesuaikan dengan kesiapan
peserta didik.
Jika kedua hal tersebut dapat
dilaksanakan, maka yang disebut
sebagai stimulus-respon ini dapat
berjalan sesuai dengan tujuannya
yaitu memperoleh hasil belajar yang
maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Willis Dahar, Ratna, Teori-teori
Belajar, Erlangga, Bandung, 1996
Hudoyo, Herman, Strategi Belajar
Mengajar Matematika, Erlangga,
Malang, 1990
Wirodikromo, Sartono, Matematika
Untuk SMA Kelas X, Erlangga, Jakarta,
2004