Anda di halaman 1dari 19

PEDOMAN

PELAYANAN LAUNDRY

Jl. Raya Kaligawe KM. 4 Semarang


Telp. 024 6580019 Fax 024 6581928
Web : www.rsisultanagung.co.id Email : rs@rsisultanagung.co.id

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit adalah
melalui pelayanan

bagian umum, khususnya dalam pengelolaan linen di

rumah sakit. Linen di rumah sakit dibutuhkan di setiap ruangan. Kebutuhan


akan linen di setiap ruangan ini sangat bervariasi, baik jenis, jumlah dan
kondisinya. Alur pengelolaan linen cukup panjang, membutuhkan pengelolaan
khusus dan banyak melibatkan tenaga kesehatan dengan berbagai klasifikasi.
Klasifikasi tersebut terdiri dari ahli manajemen, tehnisi, perawat, tukang cuci,
penjahit, tukang setrika, ahli sanitasi, serta ahli kesehatan dan keselamatan
kerja.
Untuk mendapatkan kualitas linen yang baik, nyaman dan siap pakai,
diperlukan perhatian khusus, seperti kemungkinan terjadinya pencemaran
infeksi dan efek penggunaan bahan bahan kimia, maka bagian laundry
sebagai

salah

satu

pelayanan

wajib

mengantisipasi

dan

mengikuti

perkembangan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas sumber daya


manusia maupun peralatan non medis sesuai perkembangan bidang teknologi
di bidang laundry.
Pelayanan laundry harus dikelola dengan system yang baik dan benar melalui
penerapan managemen yang baik dan benar serta koordinasi antar bagian dan
upaya untuk terus memberikan pelayanan yang berkaitan dengan pelanggan,
maka perlu disusun Buku Pedoman Pelayanan Laundry.
Adapun buku Pedoman Pelayanan Laundry Rumah Sakit Islam Sultan Agung
ini akan menjadi acuan kerja seluruh petugas yang bekerja di bagian Laundry,
serta sebagai landasan pelayanan laundry RSI Sultan Agung.

B. Tujuan Pedoman
Adapun tujuan dari Pedoman Pelayanan Laundry di Rumah Sakit Islam
Sultan Agung adalah :
Tujuan Umum
Meningkatkan mutu pelayanan Laundry yang berkualitas dan berperan aktif
dalam pengendalian infeksi nosokomial di RSI Sultan Agung.
Tujuan Khusus
a) Sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan linen di rumah sakit.
b) Sebagai pedoman kerja untuk mendapatkan linen yang bersih, kering, rapi,
utuh dan siap pakai.
c) Sebagai panduan dalam meminimalisasi kemungkinan untuk terjadinya
infeksi nosokomial.
d) Untuk menjamin tenaga kesehatan, pengunjung, kontraktorMewujudkan
pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit melalui legiatan Laundry.

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Ruang lingkup pelayanan Laundry meliputi :
a. Pengambilan linen
b. Pemilahan linen
c. Penimbangan linen
d. Pencucian linen
e. Penyetrikaan linen
f. Pelipatan linen
g. Pendistribusian linen
h. Perbaikan linen
i. Pencatatan dan pelaporan
D. Batasan Operasional
1. Beberapa Batasan / Definisi
a. Pengambilan Linen
Pengambilan linen kotor dilakukan oleh petugas laundry ke ruangan
dengan menggunakan APD dan menggunakan troli tertutup. Linen yang
infeksius ditempatkan dalam tempat/ ember yang dilapisi plastic warna

kuning, sedangkan linen non infeksius ditempatkan dalam wadah/ember


tersendiri yang tertutup.
b. Pemilahan Linen
Linen dipilah dan dihitung di laundry sesuai tingkat kekotoran, warna dan
infeksius, kemudian linen dimasukkan ke dalam troli untuk non infeksius
dan ember tertutup untuk linen infeksius.
c. Penimbangan Linen
Linen ditimbang 30 kg kemudian linen dimasukkan ke dalam troli untuk
non infeksius dan ember tertutup untuk linen infeksius.
d. Pencucian linen
Pencucian linen dilakukan dengan memasukkan linen infeksius ke mesin
cuci dengan kapasitas 35 kg, dengan memprogram berat , untuk linen
non infeksius di mesin cuci non infeksius dengan program sedang
untuk tingkat kotoran sedang dan linen jenis tebal atau ringan untuk
tingkat kekotoran ringan dan linen jenis tipis dan ukuran kecil.
e. Penyeterikaan dan pelipatan
Linen yang telah dikeringkan di bawa ke ruang pelipatan kemudian dilipat
dan di setrika kemudian di sendirikan di rak penyimpanan linen bersih
berdasar ruang masing - masing
f. Distribusi
Petugas ruangan mengambil linen bersih ke ruang laundry dengan
membawa buku pengambilan linen. Linen dihitung dan di cocokkan
dengan jumlah linen pagi oleh petugas laundry dan ruangan kemudian
linen dimasukkan dalam plastik dan di bawa ke ruangan
g. Perbaikan Linen
Ruangan mengirim linen yang rusak ke laundry dan petugas laundry
bertugas memperbaiki linen yang rusak, jika linen tidak bisa diperbaiki,
laundry memberitahu ke ruangan, linen di masukkan inventaris rusak.
h. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan yang dilakukan di laundry antara lain: pencatatan linen yang di
setorkan ke laundry, pencatatan linen yang di distribusikan, dan linen
rusak, pelaporan chemical, plastic, linen rusak

E. Landasan Hukum
1.

Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

2.

Undang-Undang Nomor 23 tentang Penelolaan lingkungn Hidup Tahun 1997

3.

Undang-Undang Nomor 1 tentang Keselamatan Kerja tahun 1970

4.

Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan

5.

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit


6.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/2005 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan

7.

Permenkes no 1204 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah


Sakit Tahun 2004

8.

Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia tentang Pengelolaan Linen


Tahun 2002

9.

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah tentang Baku Mutu Air Limbah
Tahun 2004

10.

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas


Pelayanan Kesehatan Lainnya tahun 2008

11.

Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan Kesehatan


tahun 2010

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Dalam upaya mempersiapkan tenaga Laundry yang
handal, perlu kiranya melakukan kegiatan menyediakan,
mempertahankan sumber daya manusia yang tepat bagi
organisasi.
Perencanaan bertujuan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kemampuan oganisasi dalam mencapai
sasarannya melalui strategi pengembangan kontribusi.
Adapun kualifikasi sumber daya manusia di Laundry
RSI Sultan Agung adalah sebagai berikut :
Tabel Kualifikasi SDM Laundry RSI Sultan Agung

NAMA JABATAN

KUALIFIKASI
FORMAL

TENAGA
YANG
DIBUTUHKA
N

Kabag Sanitasi & Laundry

S1 Kesehatan Masyarakat

Koordinator

SLTA ( pengalaman
minimal 5 tahun )

Staff Pengambilan dan


penghitungan

Minimal SMP

Staff Pencucian

Minimal SMP

Staff Pelipatan dan


Penyetrikaan

Minimal SMP

Staff Distribusi dan


Penyimpanan

Minimal SMP

Staff Penjahitan
Jumlah

Minimal SMP

1
17

B. Distribusi Ketenagaan
Rumah Sakit Islam Sultan Agung di baian Laundry terdiri atas 17 tenaga
Laundry, yang terdiri atas :
1. Kepala Bagian 1 orang
2. Koordinator 1 orang
3. Staff 15 orang yang di bagi dalam 2 shift, pagi terdiri atas 5 orang
Sore terdiri atas 10 orang

BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang
Denah gedung baru
B. Standar Fasilitas
Daftar Inventaris Peralatan di Laundry
No

Nama Alat

Jumlah

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Mesin cuci kapasitas 35 kg


Mesin pengering kapasitas 35 kg
Setrika manual
Setrika roll
Trolley
Kontainer linen kotor
Kontainer linen bersih
Mesin Jahit
Rak linen
Almari Baju
Lemari kayu 2 pintu
Meja kerja

2 buah
2 buah
2 buah
1 buah
5buah
10 buah
5 buah
1 buah
3 buah
1 buah
2
2

13

Meja untuk melipat

2 buah

14
15
16
17
18
19
20
21

Meja komputer
Kursi Lipat
Kursi kayu bulat
Komputer
Printer Epson
Jam Dinding
Pel Lantai
Dispenser

1 buah
4 buah
6 buah
1 set
1 buah
3 buah
1 buah
1 buah

ATK
22
23
24

Tempat Isolasi
Perfurator
Kalkulator

Jumlah
1 buah
1 buah
1 buah

Keterangan

Warna kuning
Warna biru
Singer

1 untuk computer, 2 meja


kerja

Compac
EPSON L 100
Seiko
Miyako
Keterangan

25
26
27
28
29
30

Steples / Hecter
Rautan
Stempel
Cutter
Gunting
Penggaris plastik

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN
A. Kebijakan yang berkaitan dengan falsafah dan tujuan
Bagian Laundry Rumah Sakit Islam Sultan Agung mulai penanganan linen
kotor sampai dengan bersih ke bagian ruangan.
Bagian Laundry Rumah Sakit Islam Sultan Agung menyelenggarakan
pelayanan laundry pada pukul 07.00 16 .00 WIB.
Bagian Laundry melakukan kegiatan secara koordinatif dengan semua bagian
pengguna linen.
Dalam upaya menjaga kualitas dan profesionalisme, Laundry memberikan
pelayanan dengan mengutamakan kepuasan pengguna dan didukung sarana
dan prasarana yang ada.
Bagian Laundry melaksanakan evaluasi dan meningkatkan fungsi dan kualitas
sesuai tuntutan customer.
B. Kebijakan yang berkaitan dengan administrasi dan pengelolaan
Pelayanan Laundry di RSI Sultan Agung hanya melakukan proses penanganan
linen kotor sampai dengan siap pakai.
Pelayanan Laundry menyimpan linen bersih sebelum di distribusikan ke
masing-masing bagian.
Petugas yang bekerja di pelayanan Laundry bertugas sesuai jadwal dan SPO
yang ditetapkan.
Selain melaksanakan penanganan linen dari kotor sampai bersih pelayanan
Laundry juga melaksanakan penjahitan linen yang robek..
Ketentuan tentang pelabelan linen untuk membedakan ruangan terlampir
Ketentuan warna linen putih di seluruh rumah sakit
C. Kebijakan yang berkaitan dengan staf dan pimpinan.
Pelayanan Laundry dilengkapi dengan pimpinan dan Staf yang ditetapkan
sesuai dengan struktur Organisasi RSI Sultan Agung dan dipimpin oleh
seorang Kepala Bagian.
Sesuai dengan Struktur Organisasi RSI Sultan Agung, Unit Laundry berada
dibawah Direktur Umum, dibantu Manager Umum dan Kepala Bagian
Sanitasi & Laundry dalam pengelolaan pelayanan laundry.
Kepala Bagian Laundry membawahi Petugas Mesin Cuci, Petugas Setrika dan
Petugas Pencatatan dan Penyortiran yang masing-masing dilengkapi dengan
uraian tugas, kewenangan dan tanggung jawab.
Pertemuan rutin diadakan sedikitnya sebulan sekali untuk mengantisipasi
permasalahan yang timbul dan evaluasi peningkatan mutu pelayanan Laundry.
Pertemuan lintas jalur dilaksanakan secara koordinatif dengan bidang lain
sesuai ketentuan dan kebutuhan.

D. Kebijakan yang berkaitan dengan fasilitas dan peralatan


Pemisahan linen infeksius dan non infeksius dilakukan di ruangan dengan
pembedaan tempat.
Linen dihitung dan dimasukkan ke dalam ember tertutup untuk yang
infeksius dan ke troli untuk linen non infeksius
Linen inkfeksius yang sudah ditimbang sebanyak 30 kg langung dimasukkan
ke dalam mesin cuci.
Ruang penanganan linen kotor harus terpisah dengan linen bersih.
Tersedia jadwal pembersihan lantai Laundry maksimal 2x sehari.
Untuk
menghindari kontaminasi, dalam melaksanakan tugas petugas
menggunakan Alat Pelindung Diri.
Kegiatan perencanaan kebutuhan, penyediaan, permintaan dan penyimpan
linen dilakukan oleh bagian pengguna sesuai ketentuan.
Tersedia tempat cuci tangan dan antiseptic bagi petugas.
Semua kegiatan dilakukan sesuai prosedur.
Penanggung jawab kelancaran peralatan diataur sebagai berikut:
a) Kepala Bagian Pengadaan bertanggung jawab atas pengadaan
peralatan dan bahan pembersih.
b) Kepala Bagian bertanggung jawab atas pemeliharaan dan perbaikan
peralatan, gedung dan sarana yang lain.
c) Kepala Bagian Laundry bertanggung jawab atas pengelolaan
fasilitas.
Sistem komunikasi diatur melalui telphon intern-ekstern
Pengaturan tentang pemeriksaan, pemeliharaan dan perbaikan peralatan
dilaksanakan secara berkala dan dilengkapi dengan jadwal pemeliharaan,
kalibrasi serta adanya prosedur perbaikan dan penggantian peralatan yang
rusak.
Pengelolaan pengadaan dan penyediaan bahan pembersih sesuai prosedur yang
berlaku di RSI Sultan Agung dilengkapi dengan Surat Permintaan Barang ke
Pengadaan dan Bukti Penerimaan Barang apabila barang telah diterima.
Chemical yang dipergunakan di bagian Laundry RSI Sultan Agung :
Flufi
Boost
Woost
Oxibrite
E. Kebijakan yang berkaitan dengan kebijakan dan prosedur
Pelayanan laundry di RSI Sultan Agung Semarang dilaksanakan berdasarkan:
Buku Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia
Buku Pedoman Laundry tahun 2004
Keputusan Dirjen PPM dan PLP Depkes RI

Pelayanan laundry di RSI Sultan Agung dilakukan oleh intern ( oleh SDM
bagian Laundry )
Pelayanan laundry ( pencucian ) oleh internal SDM bagian Laundry
dilakukan pada jam kerja 07.00 16.00 WIB ( dua shift )
Pelayanan laundry dalam pengelolaannya selalu memperhatikan hygiene dari
sanitasi
Pemakaian bahan dan prasarana untuk proses laundry memperhatikan bahan
yang efektif, aman bagi pemakai, tidak merusak kain dan lingkungan.
Adanya pemisahan ruang linen/ cucian kotor dan bersih.
Adanya evaluasi dan monitoring hasil cucian dari aspek fisik ( kebersihan,
kelembutan, warna )
Adanya evaluasi proses laundry dan bahan pencuci.
Adanya koordinasi antara bagian Laundry dan bagian sanitasi dalam hal
pengawasan pengelolaan Laundry yang terkait hyegiene sanitasi, monitoring
kualitas air bersih untuk laundry, monitoring sanitasi orang banyak
( penerangan, kebisingan, penghawaan)
F. Kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan staf dan program
pendidikan
Adanya program peningkatan keterampilan/ pendidikan yang berkelanjutan
tiap tahun sesuai kebutuhan perorangan dan organisasi.
Adanya program pelatihan pengelolaan pencucian bagi tenaga pencucian.
G. Kebijakan yang berkaitan dengan evaluasi dan pengendalian mutu
Penilaian mutu pelayanan laundry melalui kuisioner yang ditujukan bagi
pasien rawat inap dan masukan dari bagian pengguna dari ruangan masingmasing.
Evaluasi terhadap pelaksanaan SPO oleh Kepala Bagian Laundry melalui
supervise kegiatan sehari-hari.

BAB V
PENGADAAN
5.1

Permintaan Barang (Stock) ke Logistik


Logistik merupakan segala sesuatu baik sarana, prasarana dan semua
barang yang diperlukan untuk Laundry dalam rangka pelaksanaan pelayanan di
rumah sakit.
Adapun prosedur yang perlu diperhatikan dalam proses permintaan
barang (stock) ke logistik yaitu :
1. Petugas Administrasi /koordinator menulis bon permintaan barang (stock)
secara tertulis di form permintaan barang.
2. Bon permintaan dicek dan ditanda tangani oleh Kabag Sanitasi & Laundry
3. Petugas Administrasi /koordinator menyerahkan bon permintaan kepada
Petugas Pengadaan.
4. Petugas Pengadaan menerima bon permintaan barang.
5. Pada hari berikutnya Petugas Administrasi /koordinator mengambil barang
yang telah diminta ke Pengadaan.
6. Petugas Administrasi /koordinator melakukan pengecekan antara Bon
permintaan dengan barang yang diserahkan
7. Apabila barang yang diserahkan sesuai dengan permintaan, Administrasi
/coordinator menandatangani penerimaan pada Bon permintaan.
8. Barang yang telah diterima dicatat oleh Petugas Administrasi /koordinator ke
dalam kartu inventaris barang pengadaan.
9. Petugas Administrasi /koordinator menempatkan Barang ke dalam lemari
stok barang.

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
6.1.

Pengertian
Merupakan suatu system yang membuat asuhan pasien di Rumah Sakit menjadi
lebih aman.
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya di
ambil.

6.2

Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan pelaksanaan keselamatan pasien (Patient Safety) :
A. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit.
B. Meningkatnya akuntabilitas Rumah Sakit terhadap pasien dan masyarakat.
C. Menurunnya angka Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di Rumah Sakit.
D. Terlaksananya program program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD).

Keselamatan Umum
Aturan Umum Mencuci Tangan
Mencuci tangan merupakan aturan yang penting untuk mencegah penyebaran
infeksi, langkah langkahnya sebagai berikut :
1. Tuangkan Cairan anti septik / sabun ke telapak tangan secukupnya.
2. Gosokkan kedua telapak tangan.
3. Gosok punggung tangan dan sela sela jari tangan kiri dengan tangan kanan
dan sebaliknya.
4. Gosok kedua telapak tangan dan sela sela jari.
5. Jari jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci.
6. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan
sebaliknya.

7. Gosokkan dengan memutar ujung jari jari tanagn kanan di telapak tangan
kiri dan sebaliknya.
8. Bilas kedua tangan dengan air mengalir.
9. Keringkan kedua tangan dengan tissue.
Dengan memperhatikan 5 moment mencuci tanagn sebagai berikut :
1. Sebelum Menyentuh Pasien.
2. Sesudah Menyentuh Pasien.
3. Sebelum Melakukan Tindakan Anti Septik.
4. Apabila Terkontaminasi ( Cairan, Tertusuk Jarum, dll ).
5. Setelah menyentuh Lingkungan Pasien.
Alat Pelindung Diri
Jenis-jenis Alat Pelindung Diri:
1) SARUNG TANGAN melindungi tangan dari bahan yang dapat menularkan
penyakit dan melindungi pasieen dari mikroorganisme yang berada di tangan
petugas kesehatan.Sebelum memakai sarung tangan dan setelah melepas
sarung tangan lakukan kebersihan tangan menggunakan antiseptik cair atau
handrub berbahan dasar alkohol.Satu pasang sarung tangan harus digunakan
untuk setiap pasien, sebagai upaya untuk menghindari kontaminasi silang.
Pemakaian sepasang sarung tangan yang sama atau mencuci tangan yang
masih bersarung tangan, ketika melakukan perawatan di bagian tubuh yang
kotor kemudian berpindah ke bagian tubuh yang bersih, bukan merupakan
praktek yang aman.
2) MASKER harus cukup besar untuk melindungi hidung, mulut, bagian bawah
dagu, dan rambut pada wajah(jenggot).Masker dipakai untuk menahan
cipratan yang keluar sewaktu petugas kesehatan atau petugas bedah berbicara,
batuk atau bersin serta untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh
lainnya memasuki hidung atau mulut petugas kesehatan. Bila masker tidak
terbuat dari bahan tahan cairan, maka masker tersebut tidak efektif untuk
mencegah kedua hal tersebut.
3) ALAT PELINDUNG MATA melindungi petugas dari percikan darah atau
cairan tubuh lain dengan cara melindungi mata. Pelindung mata mencakup
kacamata (goggles) plastik bening, kacamata pengaman, pelindung wajah dan
visor. Petugas kesehatan harus menggunakan masker dan pelindung mata atau

pelindung wajah, jika melakukan tugas yang memungkinkan adanya percikan


cairan secara tidak sengaja ke arah wajah. Bila tidak tersedia pelindung wajah,
petugas kesehatan dapat menggunakan kacamata pelindung atau kacamata
biasa serta masker.
4) TOPI digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan
kulit dan rambut tidak tercampur ke linen.Topi harus cukup besar untuk
menutup

semua

rambut.Meskipun

topi

dapat

memberikan

sejumlah

perlindungan pada petugas, tetapi tujuan utamanya adalah untuk melindungi


pemakainya dari darah atau cairan tubuh yang terpercik dari linen kotor
infeksius.
5) APRON yang terbuat dari karet atau plastik, merupakan penghalang tahan air
untuk sepanjang bagian depan tubuh petugas kesehatan. Petugas kesehatan
harus mengenakan apron ketika melakukan penghitungan dan pemilahan linen
kotori. Apron akan mencegah cairan tubuh pasien yang ada di linen mengenai
baju dan kulit petugas kesehatan.
6) PELINDUNG KAKI digunakan untuk melindungi kaki dari cedera akibat
benda tajam atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak sengaja ke atas
kaki. Sepatu yang tahan terhadap benda tajam atau kedap air harus tersedia di
Laundry.
Pemakaian APD di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Cara Mengenakan APD di Ruang Pemilahan :
1. Kenakan baju kerja sebagai lapisan pertama pakaian pelindung.
2. Kenakan pelindung kaki.
3. Kenakan sepasang sarung tangan.
4. Kenakan celemek plastik..
5. Kenakan masker.
6. Kenakan penutup kepala.
7. Kenakan pelindung mata.
Cara Melepas APD :
1. Disinfeksi sepasang sarung tangan..
2. Lepaskan celemek..
3. Lepaskan pelindung mata.
4. Lepaskan penutup kepala.

5. Lepaskan masker.
6. Lepaskan pelindung kaki.
7. Lepas sarung tangan
8. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih.
7.2

Prosedur Penanganan Kecelakaan di laundry


1.2.1 Tertusuk Jarum
1. Segera keluarkan darah.
2. Siram dengan air mengalir selama 10 15 menit.
3. Cuci dengan air sabun / desinfektan. ( Jika perlu bilas dengan alkohol
70 % )
4. Penanganan selanjutnya sesuai alur prosedur di bawah ini.
1.2.2 Terpajan Cairan Tubuh ( Kulit, Mata, Hidung dan Mulut )
1. Cuci dengan air mengalir selama 10 15 menit.
2. Untuk mata cuci dengan air mengalir dari pangkal ujung mata dekat
hidung dengan memiringkan kepala.
3. Untuk kulit cuci dengan air mengalir dan air sabun / desinfektan (Jika
perlu, bilas menggunakan alkohol 70 %) dan keringkan dengan handuk
bersih.
4. Penanganan selanjutnya sesuai alur prosedur.

BAB VII
PENGENDALIAN MUTU
Prinsip dasar upaya peningkatan mutu pelayanan adalah pemilihan aspek yang
akan ditingkatkan dengan menetapkan indikator, kriteria serta standar yang digunakan
untuk mengukur mutu pelayanan Rumah Sakit yaitu :
Defenisi Indikator adalah:
Adalah ukuran atau cara mengukur sehingga menunjukkan suatu indikasi. Indikator
merupakan suatu variabel yang digunakan untuk bisa melihat perubahan. Indikator
yang baik adalah yang sensitif tapi juga spesifik.
Kriteria :
Adalah spesifikasi dari indikator.
Standar :

Tingkat performance atau keadaan yang dapat diterima oleh seseorang yang
berwenang dalam situasi tersebut, atau oleh mereka yang bertanggung jawab
untuk mempertahankan tingkat performance atau kondisi tersebut.

Suatu norma atau persetujuan mengenai keadaan atau prestasi yang sangat
baik.

Sesuatu ukuran atau patokan untuk mengukur kuantitas, berat, nilai atau mutu.

Dalam melaksanakan upaya peningkatan mutu pelayanan maka harus memperhatikan


prinsip dasar sebagai berikut:
1. Aspek yang dipilih untuk ditingkatkan

Keprofesian

Efisiensi

Keamanan petugas

Kepuasan pasien

Sarana dan lingkungan fisik

2. Indikator yang dipilih

a. Indikator lebih diutamakan untuk menilai output daripada input dan proses
b. Bersifat umum, yaitu lebih baik indikator untuk situasi dan kelompok daripada
untuk perorangan.
c. Dapat digunakan untuk membandingkan antar daerah dan antar Rumah Sakit
d. Dapat mendorong intervensi sejak tahap awal pada aspek yang dipilih untuk
dimonitor
e. Didasarkan pada data yang ada.
3. Kriteria yang digunakan
Kriteria yang digunakan harus dapat diukur dan dihitung untuk dapat menilai
indikator, sehingga dapat sebagai batas yang memisahkan antara mutu baik dan
mutu tidak baik.
4. Standar yang digunakan
Standar yang digunakan ditetapkan berdasarkan :
a. Acuan dari berbagai sumber
b. Benchmarking dengan Rumah Sakit yang setara
c. Berdasarkan trend yang menuju kebaikan