Anda di halaman 1dari 87

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Keselamatan (safety) telah menjadi isu global
termasuk juga untuk rumah sakit.Ada lima isu penting
yang terkait dengan keselamatan (safety) di rumah
sakit yaitu : keselamatan pasien (patient safety),
keselamatan

pekerja

atau

petugas

kesehatan,

keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit


yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien
dan

petugas,

keselamatan

lingkungan

(green

productivity) yang berdampak terhadap pencemaran


lingkungan dan keselamatan bisnis rumah sakit yang
terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Ke
lima aspek keselamatan tersebut sangatlah penting
untuk dilaksanakan di setiap rumah sakit. Namun
harus diakui kegiatan institusi rumah sakit dapat
berjalan apabila ada pasien. Karena itu keselamatan
pasien merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan,

dan hal tersebut terkait dengan isu mutu dan citra


rumah sakit.
Harus

diakui,

pelayanan

kesehatan

pada

dasarnya adalah untukmenyelamatkan pasien sesuai


dengan yang diucapkan Hipocrates kira-kira 2400
tahun yang lalu yaitu primum, non nocere (first, do no
harm). Namun diakui dengan semakin berkembangnya
ilmu dan teknologi pelayanan kesehatan - khususnya
di rumah sakit - menjadi semakin kompleks dan
berpotensi terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan KTD
(adverse event) apabila tidak dilakukan dengan hatihati.
Di rumah sakit terdapat ratusan macam obat,
ratusan

tes

dan

prosedur,

banyak

alat

dengan

teknologinya, bermacam jenis tenaga profesi dan non


profesi yang siap memberikan pelayanan pasien 24
jam

terus

menerus.

Keberagaman

dan

kerutinan

pelayanan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik


dapat menyebabkan terjadinya KTD.
Pada tahun 2000 Institute of Medicine di Amerika
Serikat

menerbitkan

laporan

yang

mengagetkan

banyak pihak: TO ERR IS HUMAN, Building a Safer

Health System. Laporan itu mengemukakan penelitian


di rumah sakit di Utah dan Colorado serta New York. Di
Utah dan Colorado ditemukan KTD (adverse event)
sebesar 2,9 %, dimana 6,6 % diantaranya meninggal.
Sedangkan di New York KTD adalah sebesar 3,7 %
dengan angka kematian 13,6 %. Angka kematian
akibat KTD pada pasien rawat inap diseluruh Amerika
yang berjumlah 33,6 juta per tahun berkisar 44.00098.000 per tahun. Publikasi WHO pada tahun 2004,
mengumpulkan angka-angka penelitian rumah sakit di
berbagai negara : Amerika, Inggris, Denmark, dan
Australia, ditemukan KTD dengan rentang 3,2-16,6 %.
Dengan data-data tersebut, berbagai negara segera
melakukan penelitian dan mengembangkan Sistem
Keselamatan Pasien.
Di Indonesia data tentang KTD apalagi Kejadian
Nyaris Cedera (near miss) masih langka, namun dilain
pihak terjadi peningkatan tuduhan mal praktek, yang
belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Dalam
rangka meningkatkan keselamatan pasien di rumah
sakit

maka

Perhimpunan

Rumah

Sakit

Seluruh

Indonesia (Persi) telah mengambil inisiatif membentuk

Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS).


Komite tersebut telah aktif melaksanakan langkahlangkah persiapan pelaksanaan keselamatan pasien
rumah sakit dengan mengembangkan laboratorium
program keselamatan pasien rumah sakit.
Mengingat keselamatan pasien sudah menjadi
tuntutan masyarakat dan berdasarkan
belakang

itulah

maka

atas

pelaksanaan

latar

program

keselamatan pasien di Royal Progress perlu dilakukan.


Untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan Royal
Progress

terutama

didalam

melaksanakan

keselamatan pasien sangat diperlukan suatu pedoman


yang jelas sehingga angka kejadian KTD dapat dicegah
sedini mungkin.
1.1

Tujuan Pedoman Keselamatan Pasien

1.1.1 Tujuan Umum :


Sebagai Pedoman bagi manajemen Royal Progress
untuk

dapat

melaksanakan

program

keselamatan

pasien dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan


rumah sakit.
1.1.2 Tujuan Khusus :

Sebagai acuan yang jelas bagi manajemen Royal


Progress didalam mengambil keputusanterhadap
keselamatan pasien.

Sebagai acuan bagi para dokter untuk dapat


meningkatkan keselamatan pasien.

Terlaksananya

program

keselamatan

pasien

secara sistematis dan terarah.


1.2 Manfaat

Dapat meningkatkan mutu pelayananan yang


bekualitas

dan

citra

yang

baik

bagi

Royal

Progress.

Agar seluruh personil rumah sakit memahami


tentang

tanggung

jawab

dan

rasa

nilai

kemanusian terhadap keselamatan pasien di


Royal Progress.

Dapat meningkatkan kepercayaan antara dokter


dan

pasien

terhadap

tindakan

yang

dilakukan

Mengurangi terjadinya KTD di rumah sakit.

akan

BAB II
KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT
1. Mengapa Keselamatan Pasien ?
Sejak awal tahun 1900 institusi rumah sakit selalu
meningkatkan mutu pada 3 (tiga) elemen yaitu input,
proses dan output sampai outcome dengan bermacam

macam

konsep

dasar,

program

regulasi

yang

berwenang misalnya antara lain penerapan Standar


Pelayanan Rumah Sakit, Penerapan Quality Assurance,
Total

Quality

Improvement,

Management,
Perizinan,

Countinous

Akreditasi,

Quality

Kredensialing,

Audit Medis, Indikator Klinis, Clinical Governance, ISO,


dan lain sebagainya. Harus diakui program-program
tersebut telah meningkatkan mutu pelayanan rumah
sakit baik pada aspek input, proses maupun output
dan outcome. Namun harus diakui, pada pelayanan
yang telah berkualitas tersebut masih terjadi KTD yang
tidak jarang berakhir dengan tuntutan hukum. Oleh
sebab itu perlu program untuk lebih memperbaiki
proses

pelayanan,

karena

KTD

sebagian

dapat

merupakan kesalahan dalam proses pelayanan yang

sebetulnya dapat dicegah melalui rencana pelayanan


yang

komprehensif

dengan

melibatkan

pasien

berdasarkan haknya. Program tersebut yang kemudian


dikenal dengan istilah keselamatan pasien (patient
safety). Dengan meningkatnya keselamatan pasien
rumah

sakit

diharapkan

kepercayaan

masyarakat

terhadap pelayanan rumah sakit dapat meningkat.


Selain itu keselamatan pasien juga dapat mengurangi
KTD, yang selain berdampak terhadap peningkatan
biaya pelayanan juga dapat membawa rumah sakit ke
arena

blamming,

dokter/petugas

menimbulkan

konflik

antara

kesehatan dan pasien, menimbulkan

sengketa medis, tuntutan dan proses hukum, tuduhan


malpraktek, blow-up ke media massa yang akhirnya
menimbulkan opini negatif terhadap pelayanan rumah
sakit. Selain itu rumah sakit

dan dokter bersusah

payah melindungi dirinya dengan asuransi, pengacara


dsb. Tetapi pada akhirnya tidak ada pihak yang
menang,

bahkan

menurunkan

kepercayaan

masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.


2. Pengertian

Keselamatan pasien (patient safety)rumah sakit


adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi :
assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal
yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan
dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden
dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan

timbulnya

risiko,

Sistem

tersebut

diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang


disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan

atau

tidak

melakukan

tindakan

yang

seharusnya dilakukan.
3. Tujuan :

Terciptanya

budaya

keselamatan

pasien

di

rumah sakit

Meningkatnya

akuntabilitas

rumah

sakit

terhadap pasien dan masyarakat

Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di


rumah sakit

Terlaksananya

program-program

pencegahan

sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian


tidak diharapkan.
4. Programme

WHO,

World

Alliance

for

Patient Safety
Pada Januari 2002 Executive Board WHO menyusun
usulan resolusi, dan kemudian diajukan pada World
Health Assembly ke 55 Mei 2002, dan diterbitkan
sebagai Resolusi WHA55.18. Selanjutnya pada World
Health

Assembly

ke

57

Mei

2004,

diputuskan

membentuk aliansi International untuk peningkatan


keselamatan pasien dengan sebutan World Alliance for
Patient Safety, dan ditunjuk Sir Liam Donaldson
sebagai Ketua.
World Alliance for patient safety pada tahun 2004
menerbitkan 6 program keselamatan pasien, dan
tahun 2005 menambah 4 program lagi, keseluruhan 10
program WHO untuk keselamatan pasien adalah sbb :

Global Patient Safety Challenge :

Ist Challenge : 2005-2006 : Clean Care is Safer


Care,

2nd Challenge : 2007-2008 : Safe Surgery Safe


Lives

Patient for Patient Safety

Taxonomy for Patient Safety

Research for Patient Safety

Solutions for Patient Safety

Reporting and Learning

Safety in action

Technology for Patient Safety

Care of acutely ill patients

Patient safety knowledge at your fingertips

5. Sembilan

Solusi

Keselamatan

Pasien

di

Rumah Sakit
WHO Collaborating

Centre for Patient Safety,

dimotori oleh Joint Commission International, Suatu


badan akreditasi dari Amerika Serikat, mulai tahun
2005 mengumpulkan pakar keselamatan pasien dari
lebih 100 Negara, dengan kegiatan mengidentifikasi
dan

mempelajari

pasien,

dan

berbagai

mencari

solusi

10

masalah
berupa

keselamatan
sistem

atau

intervensi

sehingga

mengurangi

cedera

mampu
pasien

mencegah
dan

atau

meningkatkan

keselamatan pasien. Pada tgl 2 Mei 2007 WHO


Colaborating

Centre

for

Patient

Safety

resmi

menerbitkan panduan Nine Life-Saving Patient Safety


Solutions

(Sembilan

Solusi

Keselamatan

Pasien

Rumah Sakit).
Sembilan topik yang diberikan solusinya adalah sbb:

Perhatikan Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip


(Look-Alike, Sound-Alike Medication Names)

Pastikan Identifikasi pasien

Komunikasi

secara

benar

saat

serah

terima/pengoperan pasien

Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh


yang benar

Kendalikan cairan elektrolit pekat (concentrated)

Pastikan

akurasi

pemberian

obat

pada

pengalihan pelayanan

Hindari salah kateter dan salah sambung slang


(tube)

Gunakan alat injeksi sekali pakai

11

Tingkatkan kebersihan tangan (Hand hygiene)


untuk pencegahan infeksi nosokomial
BAB III

STANDAR KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT


Mengingat

masalah

keselamatan

pasien

merupakan masalah yang perlu ditangani segera di


rumah sakit di Indonesia maka diperlukan standar
keselamatan pasien rumah sakit yang merupakan
acuan

bagi

rumah

melaksanakan

sakit

kegiatannya.

di

Indonesia

Standar

untuk

keselamatan

pasien wajib diterapkan rumah sakit dan penilaiannya


dilakukan dengan menggunakan Instrumen Akreditasi
Rumah Sakit.
Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh
standar yaitu:
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan

pasien

pelayanan

12

dan

kesinambungan

4. Penggunaan

metoda

metoda

peningkatan

kinerja untuk melakukan evaluasidan program


peningkatan keselamatan pasien
5. Peran

kepemimpinan

dalam

meningkatkan

keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk
mencapai keselamatan pasien
Uraian tujuh standar tersebut diatas adalah sebagai
berikut :
Standar I. Hak Pasien
Standar :
Pasien

dan

keluarganya

mempunyai

hak

untuk

mendapatkan informasi
tentang

rencana

dan

hasil

pelayanan

termasuk

kemungkinan terjadinya
insiden.
Kriteria :
1.1.Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan

13

1.2.Dokter

penanggung

jawab

pelayanan

wajib

pelayanan

wajib

membuat rencana pelayanan


1.3.Dokter

penanggung

jawab

memberikan penjelasan secara jelas dan benar


kepada pasien dan keluarganya tentang rencana
dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur
untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya
insiden.
Standar II. Mendidik pasien dan keluarga
Standar :
Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya
tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam
asuhan pasien.
Kriteria :
Keselamatan

dalam

ditingkatkan

dengan

pemberian

pelayanan

keterlibatan

pasien

dapat
yang

merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena


itu, di rumah sakit harus ada sistem dan mekanisme
mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban
dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

14

Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan


keluarga dapat :
2.1. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap
dan jujur.
2.2. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien
dan keluarga.
2.3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal
yang tidak dimengerti.
2.4. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
2.5. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan
rumah sakit.
2.6. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang
rasa.
2.7. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.
Standar

III.

Keselamatan

pasien

dalam

kesinambungan pelayanan
Standar:
Rumah Sakit menjamin keselamatan pasien dalam
kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi
antar tenaga dan antar unit pelayanan.

15

Kriteria:
Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh
mulai dari saat pasien masuk, pemeriksaan, diagnosis,
perencanaan

pelayanan,

tindakan

pengobatan,

rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit.


3.1.

Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan

dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber


daya secara berkesinambungan sehingga pada
seluruh

tahap

pelayanan

transisi

antar

unit

pelayanan dapat berjalan baik dan lancar.


3.2.

Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup

peningkatan
dukungan

komunikasi
keluarga,

untuk

memfasilitasi

pelayanan

keperawatan,

pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan


kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya.
3.3.

Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar

profesi

kesehatan

sehingga

dapat

tercapainya

proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan


efektif.

16

Standar

IV.

Penggunaan

metode-metode

peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi


dan program peningkatan keselamatan pasien
Standar:
Rumah sakit harus mendesain proses baru atau
memperbaiki

proses

yang

ada,

mengevaluasi

kinerja

melalui

memonitor

pengumpulan

dan
data,

menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan


perubahan

untuk

meningkatkan

kinerja

serta

keselamatan pasien.
Kriteria:
4.1.

Setiap rumah sakit harus melakukan proses

perancangan (desain) yang baik, mengacu pada visi,


misi, dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien,
petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini,
praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang
berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan Tujuh
Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
4.2.

Setiap

rumah

sakit

harus

melakukan

pengumpulan data kinerja yang antara lain terkait

17

dengan : pelaporan insiden, akreditasi, manajemen


risiko, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
4.3.

Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi

intensif terkait dengan semua insiden, dan secara


proaktif melakukan evaluasi satu proses kasus risiko
tinggi.
4.4.

Setiap rumah sakit harus menggunakan semua

data dan informasi hasil analisis untuk menentukan


perubahan sistem yang diperlukan, agar kinerja dan
keselamatan pasien terjamin.
Standar

V.

Peran

kepemimpinan

dalam

meningkatkan keselamatan pasien


Standar:
1. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi
program keselamatan pasien secara terintegrasi dalam
organisasi melalui penerapan Tujuh Langkah Menuju
Keselamatan Pasien Rumah Sakit .
2.

Pimpinan menjamin berlangsungnya program

proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan pasien


dan program menekan atau mengurangi insiden.

18

3.

Pimpinan

mendorong

dan

menumbuhkan

komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu


berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien.
4.

Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang

adekuat

untuk

mengukur,

mengkaji,

dan

meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan


keselamatan pasien.
5.

Pimpinan

mengukur

dan

mengkaji

efektifitas

kontribusinya dalam meningkatkan kinerja rumah sakit


dan keselamatan pasien.
Kriteria:
5.1.Terdapat

tim

antar

disiplin

untuk

mengelola

program keselamatan pasien.


5.2.Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko
keselamatan dan program meminimalkan insiden.
5.3.Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa
semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan
berpartisipasi dalam program keselamatan pasien.
5.4.Tersedia

prosedur

cepat-tanggap

terhadap

insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang terkena

19

musibah, membatasi risiko pada orang lain dan


penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk
keperluan analisis.
5.5.Tersedia
eksternal

mekanisme
berkaitan

pelaporan

dengan

internal

insiden

dan

termasuk

penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang


Analisis Akar Masalah Kejadian Nyaris Cedera (Near
miss) dan Kejadian Sentinel pada saat program
keselamatan pasien mulai dilaksanakan.
5.6.Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai
jenis insiden, misalnya menangani Kejadian Sentinel
(Sentinel

Event)

memperkecil
mendukung

atau

risiko,
staf

kegiatan

termasuk

dalam

kaitan

proaktif

untuk

mekanisme

untuk

dengan

Kejadian

Sentinel.
5.7.Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara
sukarela antar unit dan antar pengelola pelayanan di
dalam rumah sakit dengan pendekatan antar disiplin.
5.8.Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang
dibutuhkan dalam kegiatan perbaikan kinerja rumah
sakit dan perbaikan keselamatan pasien, termasuk

20

evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya


tersebut.
5.9.Tersedia
informasi

sasaran

terukur,

menggunakan

dan

kriteria

pengumpulan
objektif

untuk

mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah


sakit dan keselamatan pasien, termasuk rencana
tindak lanjut dan implementasinya.

Standar VI. Mendidik staf tentang keselamatan


pasien
Standar:
1. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan
dan

orientasi

keterkaitan

untuk

jabatan

setiap
dengan

jabatan

mencakup

keselamatan

pasien

secara jelas.
2. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan
pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan
memelihara

kompetensi

staf

serta

mendukung

pendekatan interdisipliner dalam pelayanan pasien.


Kriteria:

21

6.1. Setiap rumah sakit harus memiliki program


pendidikan, pelatihan dan orientasi bagi staf baru yang
memuat topik keselamatan pasien sesuai dengan
tugasnya masing-masing.
6.2. Setiap rumah sakit harus mengintegrasikan topik
keselamatan pasien dalam setiap kegiatan in-service
training dan memberi pedoman yang jelas tentang
pelaporan insiden.
6.3.

Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan

pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork)


guna

mendukung

pendekatan

interdisipliner

dan

kolaboratif dalam rangka melayani pasien.


Standar VII. Komunikasi merupakan kunci bagi
staff untuk mencapai keselamatan pasien
Standar:
Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses
manajemen

informasi

keselamatan

pasien

untuk

memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.


Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan
akurat.
Kriteria:

22

7.1.

Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan

dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh


data dan informasi tentang halhal terkait dengan
keselamatan pasien.
7.2.

Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan

kendala

komunikasi

untuk

informasi yang ada.

23

merevisi

manajemen

BAB IV
TUJUH LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN
RUMAH SAKIT
Mengacu kepada standar keselamatan pasien
(Permenkes 1691/MENKES/PER/VIII/2011), maka Royal
Progress

harus

merancang

proses

memperbaiki

proses

yang

ada,

mengevaluasi

kinerja

melalui

baru

memonitor

pengumpulan

atau
dan
data,

menganalisis secara intensif KTD, dan melakukan


perubahan untuk meningkatkan

kinerja mutu serta

keselamatan pasien.
Proses perancangan tersebut harus mengacu
pada visi,misi, dan tujuan Royal Progress, kebutuhan
pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis
terkini, praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain
yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan
Tujuh Langkah Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Berkaitan hal tersebut diatas maka perlu ada
kejelasan perihal tujuh langkah keselamatan pasien
rumah sakit tersebut

24

Uraian

Tujuh

Langkah

Menuju

Keselamatan

Pasien Rumah Sakit adalah sebagai berikut:


1. BANGUN

KESADARAN

AKAN

NILAI

KESELAMATAN PASIEN
Ciptakan

kepemimpinan

dan

budaya

yang

kebijakan

yang

terbuka dan adil.


Langkah penerapan:
A. Tingkat Rumah Sakit :

Royal

Progress

telah

memiliki

menjabarkan apa yang harus dilakukan staf segera


setelah terjadi insiden, bagaimana langkah-langkah
pengumpulan fakta harus dilakukan dan dukungan
apa yang harus diberikan kepada staf, pasien dan
keluarga

Royal

Progress

prosedur

yang

telah

memiliki

menjabarkan

kebijakan

dan

peran

dan

akuntabilitas individual bilamana ada insiden.

Royal

Progress

telah

berupaya

menumbuhkan

budaya pelaporan dan belajar dari insiden yang


terjadi di rumah sakit.

Lakukan asesmen dengan menggunakan survei


penilaian keselamatan pasien.

25

B. Tingkat Unit Kerja/Tim :

Pastikan semua rekan sekerja merasa mampu untuk


berbicara mengenai kepedulian mereka dan berani
melaporkan bilamana ada insiden.

Demonstrasikan kepada seluruh personil ukuranukuran yang dipakai di Royal Progress untuk
memastikan semua laporan dibuat secara terbuka
dan terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan
tindakan/solusi yang tepat
2. PIMPIN DAN DUKUNG STAF ANDA
Bangunlah komitmen dan fokus yang kuat dan

jelas tentang Keselamatan Pasien di seluruh jajaran


Royal Progress.
Langkah penerapan :
A. Tingkat Rumah Sakit :

Direksi bertanggung jawab atas keselamatan pasien

Telah

dibentuk

Panitia

Mutu

dan

Keselamatan

Pasien yang ditugaskan untuk menjadi penggerak


dalam gerakan keselamatan pasien

26

Prioritaskan Keselamatan Pasien dalam agenda


rapat

jajaran

Direksi

maupun

rapat-rapat

manajemen rumah sakit

Keselamatan Pasien menjadi materi dalam semua


program orientasi dan pelatihan di Royal Progress.
dan dilaksanakan evaluai dengan pre dan post test.
B. Tingkat Unit Kerja/Tim :

Semua

pimpinan

unit

kerja

wajib

memimpin

gerakan Keselamatan Pasien

Selalu jelaskan kepada seluruh personil relevansi


dan pentingnya serta manfaat bagi mereka dengan
menjalankan gerakan Keselamatan Pasien

Tumbuhkan

sikap

kesatria

yang

menghargai

pelaporan insiden
3. INTEGRASIKAN

AKTIVITAS

PENGELOLAAN

RISIKO
Kembangkan sistem dan proses pengelolaan
risiko, serta lakukan identifikasi dan asesmen hal yang
potensial bermasalah.
Langkah penerapan:

27

A. Tingkat Rumah Sakit :

Telaah kembali input dan proses yang ada dalam


manajemen risiko klinis dan non klinis, serta
pastikan hal tersebut mencakup dan terintegrasi
dengan Keselamatan Pasien dan staf

Kembangkan indikator-indikator kinerja mutu dan


Insiden

Keselamatan

pengelolaan

risiko

Pasien

yang

(IKP)

dapat

bagi

sistem

dimonitor

oleh

Direksi/Manajer Rumah Sakit Royal Progress

Gunakan informasi yang benar dan jelas yang


diperoleh

dari

asesmen

risiko

sistem
untuk

pelaporan
dapat

insiden

secara

dan

proaktif

meningkatkan kepedulian terhadap pasien.


B. Tingkat Unit Kerja/Tim:

Dalam setiap rapat koordinasi selalu laksanakan


diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan
Keselamatan Pasien guna memberikan umpan balik
kepada Manajer terkait

Pastikan ada penilaian risiko pada individu pasien


dalam proses asesmen risiko rumah sakit

28

Lakukan proses asesmen risiko secara teratur,


untuk menentukan akseptabilitas setiap risiko, dan
ambilah

langkah-langkah

yang

tepat

untuk

memperkecil risiko tersebut

Pastikan

penilaian

sebagai

masukan

risiko
ke

tersebut
proses

disampaikan

asesmen

dan

pencatatan risiko rumah sakit.


4. KEMBANGKAN SISTEM PELAPORAN
Pastikan staf anda agar dengan mudah dapat
melaporkan
mengatur

kejadian/insiden,
pelaporan

kepada

serta
Komite

rumah

sakit

Keselamatan

Pasien Rumah Sakit (KKPRS).


Langkah penerapan :
A. Tingkat Rumah Sakit
Sistem pelaporan insiden ke dalam maupun ke
luar rumah sakit mengacu pada Pedoman Keselamatan
Pasien Royal Progress.
B. Tingkat Unit Kerja/Tim :
Berikan semangat kepada seluruh personil untuk
secara aktif melaporkan setiap insiden yang terjadi

29

dan insiden yang telah dicegah tetapi tetap terjadi


juga, karena mengandung bahan pelajaran yang
penting.
5. LIBATKAN DAN BERKOMUNIKASI DENGAN
PASIEN
Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka
dengan pasien.
Langkah penerapan :
A. Tingkat rumah sakit :

Royal Progress memiliki kebijakan dan pedoman


yang jelas tentang cara-cara komunikasi terbuka
selama proses asuhan tentang insiden dengan para
pasien dan keluarganya.

Seluruh staf Royal Progress terkait harus mampu


memastikan bahwa pasien dan keluarga mendapat
informasi yang benar dan jelas bilamana terjadi
insiden.

Seluruh jajaran manajerial harus mampu memberi


dukungan,

pelatihan

dan

dorongan

semangat

kepada staf agar selalu terbuka kepada pasien dan


keluarganya.

30

B. Tingkat Unit Kerja/Tim :

Pastikan

seluruh

personil

menghargai

dan

mendukung keterlibatan pasien dan keluarganya


bila telah terjadi insiden.

Prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan


keluarga bilamana terjadi insiden, dan segera
berikan kepada mereka informasi yang jelas dan
benar secara tepat.

Pastikan, segera setelah kejadian, tim menunjukkan


empati kepada pasien dan keluarganya.
6. BELAJAR

DAN

BERBAGI

PENGALAMAN

TENTANG KESELAMATAN PASIEN


Seluruh staf harus mampu untuk melakukan analisis
akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa
KTD itu timbul.
Langkah penerapan:
A. Tingkat Rumah Sakit:

Pastikan staf yang tekait telah terlatih untuk


melakukan kajian insiden secara tepat, yang dapat
digunakan untuk mengidentifikasi penyebab.

31

Kembangkan kebijakan yang menjabarkan dengan


jelas kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah
(Root Cause Analysis/RCA) yang mencakup insiden
yang terjadi dan minimum satu kali per tahun
melakukan melakukan Failure Modes and Effects
Analysis (FMEA) untuk proses risiko tinggi.
B. Tingkat Unit Kerja/Tim:

Diskusikan dalam jajaran unit/tim pengalaman


dari hasil analisis insiden.

Identifikasi unit atau bagian lain yang mungkin


terkena dampak di masa depan dan bagilah
pengalaman tersebut secara lebih luas.

7. CEGAH

CEDERA

MELALUI

IMPLEMENTASI

SISTEM KESELAMATAN PASIEN


Gunakan informasi yang ada tentang kejadian /
masalah untuk melakukan perubahan pada sistem
pelayanan.
Langkah Penerapan:
A. Tingkat Rumah Sakit :

32

Gunakan informasi yang benar dan jelas yang


diperoleh dari sistem pelaporan, asesmen risiko,
kajian insiden, dan audit serta analisis, untuk
menentukan solusi.

Solusi tersebut dapat mencakup penjabaran ulang


sistem (input dan proses), penyesuaian pelatihan
staf dan/atau kegiatan klinis, termasuk penggunaan
instrumen yang menjamin keselamatan pasien.

Lakukan asesmen risiko untuk setiap perubahan


yang direncanakan.

Sosialisasikan

solusi

yang

dikembangkan

oleh

KKPRS-PERSI.

Beri umpan balik kepada staf tentang setiap


tindakan yang diambil atas insiden yang dilaporkan.

B. Tingkat Unit Kerja/Tim :

Libatkan seluruh personil dalam mengembangkan


berbagai

cara

untuk

membuat

asuhan

pasien

menjadi lebih baik dan lebih aman.

Telaah kembali perubahan-perubahan yang telah


dibuat dan pastikan pelaksanaannya.

33

Pastikan seluruh personil menerima umpan balik


atas setiap tindak lanjut tentang insiden yang
dilaporkan
Tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit

merupakan panduan yang komprehensif untuk menuju


keselamatan pasien, sehingga tujuh langkah tersebut
secara menyeluruh harus dilaksanakan oleh setiap
rumah
tersebut

sakit.

Dalam

tidak

harus

pelaksanaan,
berurutan

tujuh

dan

langkah

tidak

harus

serentak. Dapat dipilih langkah-langkah yang paling


strategis dan paling mudah dilaksanakan. Bila langkahlangkah

ini

berhasil

maka

kembangkan

langkah-

langkah yang belum dilaksanakan.


Bila tujuh langkah ini telah dilaksanakan dengan
baik maka dapat menambah penggunaan metodametoda lainnya.

34

BAB V
SASARAN KESELAMATAN PASIEN
Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat untuk
diterapkan di semua rumah sakit yang diakreditasi
oleh

Komisi

Akreditasi Rumah Sakit.

Penyusunan

sasaran ini mengacu kepada Nine Life-Saving Patient


SafetySolutions dari WHO Patient Safety (2007) yang
digunakan
Rumah

juga

Sakit

oleh
PERSI

Komite

Keselamatan

(KKPRS

PERSI),

dan

Pasien
dari

JointCommission International (JCI).


Maksud dari Sasaran Keselamatan Pasien adalah
mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan
pasien.

Sasaran

bermasalah

menyoroti

dalam

bagian-bagian

pelayanan

kesehatan

yang
dan

menjelaskan bukti serta solusi dari konsensus berbasis


bukti dan keahlian atas permasalahan ini. Diakui
bahwa desain sistem yang baik secara intrinsik adalah
untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman
dan bermutu tinggi, sedapat mungkin sasaran secara
umum difokuskan pada solusi-solusi yang menyeluruh.

35

Enam

sasaran

keselamatan

pasien

adalah

tercapainya hal-hal sebagai berikut:

SASARAN I : KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN


Standar SKP I
Rumah

sakit

mengembangkan

memperbaiki/meningkatkan

pendekatan

ketelitian

untuk

identifikasi

pasien.
Maksud dan Tujuan Sasaran I
Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien
dapat

terjadi

diagnosis

dan

di

hampir

pengobatan.

semua

aspek/tahapan

Kesalahan

identifikasi

pasien bisa terjadi pada pasien yang dalam keadaan


terbius/tersedasi, mengalami disorientasi, tidak sadar,
bertukar tempat tidur/kamar/ lokasi di rumah sakit,
adanya kelainan sensori, atau akibat situasi lain.
Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali
pengecekan yaitu: pertama, untuk identifikasi pasien
sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau
pengobatan; dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan
atau pengobatan terhadap individu tersebut.

36

Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif


dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi,
khususnya pada proses untuk mengidentifikasi pasien
ketika pemberian obat, darah, atau produk darah;
pengambilan

darah

dan

spesimen

lain

untuk

pemeriksaan klinis; atau pemberian pengobatan atau


tindakan

lain.

memerlukan

Kebijakan
sedikitnya

dan/atau
dua

prosedur

cara

untuk

mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien,


nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang identitas
pasien dengan bar-code, dan lain-lain. Nomor kamar
pasien

atau

identifikasi.

lokasi

tidak

Kebijakan

bisa

dan/atau

digunakan
prosedur

untuk
juga

menjelaskan penggunaan dua identitas berbeda di


lokasi

yang

berbeda

di

rumah

sakit, seperti

di

pelayanan rawat jalan, unit gawat darurat, atau ruang


operasi termasuk identifikasi pada pasien koma tanpa
identitas. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk
mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur agar
dapat memastikan semua kemungkinan situasi untuk
dapat diidentifikasi.

37

Elemen Penilaian Sasaran I

Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas


pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar
atau lokasi pasien.

Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat,


darah, atau produk darah.

Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah


dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis.

Pasien

diidentifikasi

sebelum

pemberian

pengobatan dan tindakan/prosedur.

Kebijakan

dan

prosedur

mengarahkan

pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada


semua situasi dan lokasi.
SASARAN II : PENINGKATAN KOMUNIKASI YANG
EFEKTIF
Standar SKP II
Rumah

sakit

meningkatkan

mengembangkan
efektivitas

komunikasi

pemberi layanan.
Maksud dan Tujuan Sasaran II

38

pendekatan
antar

untuk
para

Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap,


jelas,

dan

mengurangi

yang

dipahami

kesalahan,

oleh
dan

pasien,

akan

menghasilkan

peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat


berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis Komunikasi
yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi
pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui
telepon. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan
yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan
kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito
melalui telepon ke unit pelayanan. Rumah sakit secara
kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau
prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk:
mencatat (atau memasukkan ke komputer) perintah
yang lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima
perintah; kemudian penerima perintah membacakan
kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan;
dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan
dan dibaca ulang adalah akurat. Kebijakan dan/atau
prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa
diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali

39

(read back) bila tidak memungkinkan seperti di kamar


operasi dan situasi gawat darurat di IGD atau ICU.
Elemen Penilaian Sasaran II

Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui


telepon atau hasil pemeriksaan dituliskan secara
lengkap oleh penerima perintah.

Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil


pemeriksaan dibacakan kembali secara lengkap
oleh penerima perintah.

Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi


oleh pemberi perintah atau yang menyampaikan
hasil pemeriksaan

Kebijakan

dan

prosedur

mengarahkan

pelaksanaan verifikasi keakuratan komunikasi


lisan atau melalui telepon secara konsisten.

SASARAN III : PENINGKATAN KEAMANAN OBAT


YANG PERLU DIWASPADAI(HIGH-ALERT)
Standar SKP III

40

Rumah

sakit

mengembangkan

suatu

pendekatan

untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu


diwaspadai (high-alert).
Maksud dan Tujuan Sasaran III
Bila

obat-obatan

pengobatan

menjadi

pasien,

bagian

manajemen

dari

harus

rencana
berperan

secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien.


Obat-obatan

yang

perlu

diwaspadai

(high-alert

medications) adalah obat yang sering menyebabkan


terjadi

kesalahan/kesalahan

serius

(sentinelevent),

obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang


tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat
yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama
Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike
Soun Alike/LASA). Obat-obatan yang sering disebutkan
dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian
elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya,
kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat, kalium
fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0.9%, dan
magnesium sulfat =50% atau lebih pekat). Kesalahan
ini

bisa

terjadi

bila

perawat

tidak

mendapatkan

orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien, atau

41

bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih


dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat
darurat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi
atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan
meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang
perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit
konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu
kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar
obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data
yang ada di rumah sakit. Kebijakan dan/atau prosedur
juga

mengidentifikasi

area

mana

saja

yang

membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau


kamar operasi, serta pemberian label secara benar
pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di
area tersebut, sehingga membatasi akses, untuk
mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hatihati.
Elemen Penilaian Sasaran III

Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar


memuat proses identifikasi, menetapkan lokasi,

42

pemberian label, dan penyimpanan elektrolit


konsentrat.

Implementasi kebijakan dan prosedur.

Elektrolit

konsentrat

tidak

berada

di

unit

pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara


klinis dan tindakan diambil untuk mencegah
pemberian

yang

kurang

hati-hati

di

area

tersebut sesuai kebijakan. Elektrolit konsentrat


yang disimpan pada unit pelayanan pasien harus
diberi label yang jelas, dan disimpan pada area
yang dibatasi ketat (restricted).
SASARAN IV : KEPASTIAN TEPAT-LOKASI, TEPATPROSEDUR, TEPATPASIEN OPERASI
Standar SKP IV
Rumah

sakit

mengembangkan

suatu

pendekatan

untuk memastikan tepatlokasi, tepat-prosedur, dan


tepat- pasien.
Maksud dan Tujuan Sasaran IV
Salah

lokasi,

salah-prosedur,

pasien-salah

pada

operasi, adalah sesuatu yang menkhawatirkan dan


tidak jarang terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini

43

adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau


yang

tidak

adekuat

antara

anggota

tim

bedah,

kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan


lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk
verifikasi lokasi operasi. Di samping itu, asesmen
pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan
medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung
komunikasi

terbuka

permasalahan

yang

antar

anggota

berhubungan

tim

bedah,

dengan

tulisan

tangan yang tidak terbaca (illegiblehandwritting) dan


pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi
yang sering terjadi. Rumah sakit perlu untuk secara
kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau
prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah
yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek
berbasis bukti, seperti yang digambarkan di Surgical
Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga
di The Joint Commissions Universal Protocol for
Preventing

WrongSite,

Wrong

Procedure,

Wrong

Person Surgery.
Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan
dilakukan atas satu pada tanda yang dapat dikenali.

44

Tanda itu harus digunakan secara konsisten di rumah


sakit dan harus dibuat oleh operator/orang yang akan
melakukan tindakan, dilaksanakan saat pasien terjaga
dan sadar jika memungkinkan, dan harus terlihat
sampai saat akan disayat. Penandaan lokasi operasi
dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality),
multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi) atau
multipel level (tulang belakang).
Maksud proses verifikasi praoperatif adalah untuk:
-

memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang


benar;

memastikan
(imaging),
tersedia,

bahwa
hasil

diberi

semua

dokumen,

pemeriksaan
label

yang

dengan

foto

relevan

baik,

dan

dipampang; dan
-

melakukan

verifikasi

ketersediaan

peralatan

khusus dan/atau implant yang dibutuhkan.


Tahap Sebelum insisi (Time out) memungkinkan
semua pertanyaan atau kekeliruan diselesaikan. Time
out

dilakukan di tempat, dimana

dilakukan,

tepat

sebelum

45

tindakan

tindakan akan
dimulai,

dan

melibatkan

seluruh

tim

operasi.

Rumah

sakit

menetapkan bagaimana proses itu didokumentasikan


secara ringkas, misalnya menggunakan checklist.
Elemen Penilaian Sasaran IV

Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang


jelas dan dimengerti untuk identifikasi lokasi
operasi dan melibatkan pasien di dalam proses
penandaan.

Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau


proses lain untuk memverifikasi saat preoperasi
tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien
dan

semua

dokumen

serta

peralatan

yang

diperlukan tersedia, tepat, dan fungsional.

Tim operasi yang lengkap menerapkan dan


mencatat

prosedur

sebelum

insisi/time-out

tepat pembedahan.

Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk


mendukung

proses

yang

seragam

untuk

memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan


tepat pasien, termasuk prosedur medis dan
dental yang dilaksanakan di luar kamar operasi.

46

SASARAN V : PENGURANGAN RISIKO INFEKSI


TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN
Standar SKP V
Rumah

sakit

mengembangkan

suatu

pendekatan

untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan


kesehatan.
Maksud dan Tujuan Sasaran V
Pencegahan
tantangan

dan

pengendalian

terbesar

dalam

infeksi

merupakan

tatanan

pelayanan

kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi


infeksi

yang

berhubungan

dengan

pelayanan

kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien


maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi
biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan
kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi
pada

aliran

darah

(bloodstream

infections)

dan

pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi


mekanis).
Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi
lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat.
Pedoman hand hygiene bisa dibaca kepustakaan WHO,

47

dan berbagai organisasi nasional dan internasional.


Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk
mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang
menyesuaikan

atau

mengadopsi

petunjuk

hand

hygiene yang diterima secara umum dan untuk


implementasipetunjuk itu di rumah sakit.
Elemen Penilaian Sasaran V

Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi


pedoman hand hygiene terbaru yang diterbitkan
dan sudah diterima secara umum (al.dari WHO
Patient Safety).

Rumah sakit menerapkan program hand hygiene


yang efektif.

Kebijakan
untuk

dan/atau

mengarahkan

prosedur

dikembangkan

pengurangan

secara

berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait


pelayanan kesehatan.

48

SASARAN VI : PENGURANGAN RISIKO PASIEN


JATUH
Standar SKP VI
Rumah

sakit

mengembangkan

suatu

pendekatan

untuk mengurangi risiko pasien dari cedera karena


jatuh.
Maksud dan Tujuan Sasaran VI
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab
cedera

bagi

pasien

rawat

inap.

Dalam

konteks

populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang


disediakan,

dan

fasilitasnya,

rumah

sakit

perlu

mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil


tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai
jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan
telaah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan
keseimbangan,
digunakan

oleh

serta

alat

pasien.

bantu

berjalan

yang

Program

tersebut

harus

diterapkan rumah sakit.


Elemen Penilaian Sasaran VI

Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal


atas pasien terhadap risiko jatuh dan melakukan

49

asesmen ulang pasien bila diindikasikan terjadi


perubahan kondisi atau pengobatan, dan lainlain.

Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi


risiko jatuh bagi mereka

yang pada hasil asesmen dianggap berisiko


jatuh.

Langkah-langkah

dimonitor

hasilnya,

baik

keberhasilan pengurangan

cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian


tidak diharapkan.

Kebijakan

dan/atau

prosedur

dikembangkan

untuk mengarahkan pengurangan berkelanjutan


risiko pasien cedera akibat jatuh di rumah sakit.

50

BAB VI
PENCATATAN DAN PELAPORAN
1. Rumah sakit , dalam hal ini seluruh unit, wajib
melakukan pencatatan dan pelaporan insiden yang
meliputi Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian
Nyaris Cedera (KNC), Kejadian Tidak Cedera (KTC) ,
Kejadian

Potensial

Cedera

(KPC)

dan

Kejadian

Sentinel
2. Pencatatan dan pelaporan insiden Keselamatan
Pasien

(IKP)

mengacu

pada

pedoman

yang

dikeluarkan oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah


Sakit Persi.
3. Seluruh

unit

rumah

sakit

melaporkan

hasil

pencatatan tersebut kepada Panitia Mutu dan


Keselamatan Pasien setiap bulan
4. Pelaporan insiden terdiri dari :
a. Pelaporan

internal

yaitu

mekanisme/alur

pelaporan KPRS di internal Rumah Sakit Royal


Progress.

51

b. Pelaporan eksternal yaitu pelaporan dari Royal


Progress ke Komite Keselamatan Pasien Rumah
Sakit.
5. Panitia

Mutu

Progress

dan

melakukan

Keselamatan

Pasien

Royal

pencatatan

kegiatan

yang

telah dilakukan dan membuat laporan kegiatan


kepada Direktur Rumah Sakit secara berkala.
BAB VII
MONITORING DAN EVALUASI
1. Seluruh jajaran manajemen Royal Progress secara
berkala

melakukan

monitoring

dan

evaluasi

program keselamatan pasien yang dilaksanakan


oleh Panitia Mutu dan Keselamatan Pasien Royal
Progress.
2. Panitia

Mutu

dan

Keselamatan

Pasien

Royal

Progress secara berkala (paling lama 2 tahun)


melakukan

evaluasi

pedoman,

kebijakan

dan

prosedur keselamatan pasien yang dipergunakan di


Royal Progress.

52

3. Panitia

Mutu

dan

Keselamatan

Pasien

Royal

Progress melakukan evaluasi kegiatan setiap bulan.


4. Panitia

Mutu

dan

Keselamatan

Pasien

Royal

Progress melakukan analisa kegiatan keselamatan


pasien setiap empat bulan dan membuat tindak
lanjutnya .

Lampiran 1 :
Deklarasi Jakarta
Pasien untuk Keselamatan Pasien
di Negara-negara South-East Asia Region
Kami,

53

Pasien, konsumen pendukung, para profesional


pelayanan kesehatan, pembuat kebijakan dan wakil
lembaga swadaya masyarakat, asosiasi profesional
dan dewan pengarah, setelah dipaparkan pada isu
keselamatan pasien pada WHO regional work shop
tentang pasien untuk Keselamatan Pasien , 17-19 Juli
2007, di Jakarta, Indonesia.
Mengacu pada Resolution SEA/RC59/53 tentang
Promoting Patient Safety in Health Care, yang diadopsi
pada Sesi yang 59 thn Regional Committee untuk Asia
Tenggara,

yang

mencatat

keprihatinan

atas

banyaknya korban manusia dan biaya akibat kejadian


tidak diharapkan (adverse events) dan lingkaran
setan adverse events, tuntutan hukum dan praktek
kedokteran yang defensive, dengan ini mendesak
Negara-negara

Anggota

untuk

melibatkan

para

pasien , asosiasi konsumen, para pekerja pelayanan


kesehatan dan asosiasi profesional dalam membangun
sistem

asuhan

kesehatanyang

lebih

aman

dan

menciptakan suatu budaya keselamatan di dalam


institusi pelayanan kesehatan.

54

Dengan diilhami oleh Patients for Patient Safety


London Declaration yang didukung oleh WHO World
Alliance for Patient Safety.
Menimbang

rekomendasi

WHO

Regional

Workshop yang pertama tentang Patient Safety, 12-14


Juli 2006, di New Delhi, India,
1. Menyatakan bahwa tidak boleh ada pasien
menderita cedera yang dapat dicegah ;
2. Menyepakati bahwa pasien adalah pusat dari
semua upaya keselamatan pasien;
3. Menyatakan bahwa rasa takut disalahkan dan
hukuman

seharusnya

tidak

menghalangi

komunikasi yang terbuka dan jujur antara pasien


dan pemberi pelayanan kesehatan;
4. Mengakui bahwa kami harus bekerja dalam pola
kemitraan untuk mencapai perubahan prilaku
utama

dan

sistem

yang

dibutuhkan

untuk

penerapan keselamatan pasien di regional kami;


5. Percaya bahwa :

Transparansi,tanggungjawab
manusiawi

adalah

yang

dan

utama

pendekatan
pada

sistem pelayanan kesehatan yang aman;

55

suatu

dasar hubungan adalah saling percaya dan


saling

menghormati

antara

para

profesional

pelayanan kesehatan dan pasien ;

Pasien dan pendampingnya perlu mengetahui


mengapa suatu pengobatan diberikan

dan

diberitahu tentang semua risiko, kecil atau


besar,

sehingga

bagian

di

dalam

mereka

dapat

mengambil

keputusan-keputusan

yang

berhubungan dengan asuhan kepada mereka;

Pasien

perlu mempunyai akses kepada rekam

medis nya;
6. Mengakui bahwa ketika cedera terjadi :

Harus ada suatu sistem dimana kejadian itu


dapat dilaporkan dan diperiksa secara rahasia;

Pasien

dan

keluarganya

harus

memperoleh

informasi dan dukungan sepenuhnya;

Pemberi pelayanan yang terlibat pada cedera


yang

tak

disengaja

perlu

juga

menerima

dukungan;

Tindakan korektif harus diambil untuk mencegah


cedera di masa depan dan pelajaran yang
didapat perlu disebarluaskan;

56

Harus ada suatu mekanisme untuk kompensasi


yang

wajar

atas

kerugian

pasien

dan

keluarganya;
7. Komit terhadap :

Pemberdayaan konsumen melalui pendidikan


yang jujur dan tulus;

Bekerjasama dengan media untuk mendorong


pelaporan yang bertanggung jawab dan untuk
berkesempatan mendidik masyarakat;

Partisipasi aktif konsumen di dalam pelaporan


kejadian tidak diharapkan;

Komunikasi dua arah antar pasien dan pemberi


pelayanan kesehatan untuk mendorong adanya
tanya jawab;

Wakil pasien yang bermakna dalam komite


keselamatan pasien dan forum-forum;

8. Berikrar melalui upaya yang berkesinambungan


untuk mencapai sasaran sbb :

Berfungsinya sistem mutu dan keselamatan


pasien pada setiap sarana pelayanan kesehatan,
baik pemerintah maupun swasta, mulai dengan
pembentukan suatu komite keselamatan pasien

57

dan dalam suatu sistem pelaporan kejadian tidak


diharapkan dan sistem tanggapannya;

Taat pada pedoman berbasis bukti dan etik dan


menghindari pengobatan yang irrasional seperti
pemberian obat, pemeriksaan dan operasi yang
tidak perlu;

Pendidikan kedokteran berkelanjutan untuk para


profesional kesehatan;

Konsep keselamatan pasien yang terintegrasi ke


dalam pelatihan para professional kesehatan;

Indikasi yang rasional untuk admisi pasien pada


setiap sarana pelayanan kesehatan;

Lampiran 2

58

FORMULIR LAPORAN INSIDEN INTERNAL di RS


Rumah Sakit
RAHASIA, TIDAK BOLEH DIFOTOCOPY, DILAPORKAN MAXIMAL 2 X 24 JAM

LAPORAN INSIDEN KNC, KTC, KTD, KPC DAN


KEJADIAN SENTINEL
I.

DATA PASIEN
Nama:
No MR

Ruangan:
Umur *

0-1 bulan

> 1 bulan

1 tahun
> 1 tahun 5 tahun > 5 tahun
15 tahun
> 15 tahun 30 tahun

> 30 tahun 65

tahun
> 65 tahun
Jenis kelamin

Laki-laki

Perempuan
Penanggung biaya pasien:
59

Pribadi

Asuransi Swasta

ASKES Pemerintah
JAMKESMAS

Perusahaan *

Jaminan Kesehatan Daerah

TanggalMasukRs:Jam.
II.

RINCIAN KEJADIAN
1. Tanggal dan Waktu Insiden
Tanggal

:Jam

.
2. Insiden

3. Kronologis Insiden :

4. Jenis Insiden * :

60

Kejadian Potensi Cedera / KPC


Kejadian Nyaris Cedera / KNC (Near miss)
Kejadian Tidak Cedera / KTC (No Harm)
Kejadian Tidak diharapkan / KTD ( Adverse
Event) / Kejadian Sentinel (Sentinel Event)

5. Orang Pertama Yang Melaporkan Insiden *


Karyawan : Dokter / Perawat / Petugas lainnya
Pasien
Keluarga / Pendamping Pasien
Pengunjung
Lain-lain ...
.(sebutkan)
6. Insiden terjadi pada * :
Pasien
Lain-lain

(sebutkan)
Mis : Karyawan / Pengunjung / Pendamping / Keluarga
pasien, lapor ke K3 RS

61

7. Insiden menyangkut pasien


Pasien rawat inap
Pasien rawat jalan
Pasien UGD
Lain-lain
8. Tempat Insiden
Lokasi

kejadian

(sebutkan)
(Tempat pasien berada)
9. Insiden terjadi pada pasien : (sesuai kasus
penyakit / spesialisasi)
Penyakit Dalam dan Subspesialisasinya
Anak dan Subspesialisasinya
Bedah dan Subspesialisasinya
Obstetri Ginekologi dan Subspesialisasinya
THT dan Subspesialisasinya
Mata dan Subspesialisasinya
Saraf dan Subspesialisasinya
Anestesi dan Subspesialisasinya
Kulit & kelamin dan Subspesialisasinya
Jantung dan Subspesialisasinya

62

Paru dan Subspesialisasinya


Jiwa dan Subspesialisasinya
Lokasi kejadian .......................
(sebutkan)
10.

Unit Kerja tempat terjadinya insiden

Unit kerja

...................

(sebutkan)
11.

Akibat Insiden Terhadap Pasien *

Kematian
Cedera Irreversibel / Cedera Berat
Cedera Reversibel / Cedera Sedang
Cedera Ringan
Tidak ada cedera
12.

Tindakan yang dilakukan

segera setelah

kejadian, dan hasilnya :


....

63

13.
Tim

Tindakan dilakukan oleh *


:

terdiri

dari

...

..................
Dokter
Perawat
Petugas

lainnya

:.

14.

Apakah kejadian yang sama pernah terjadi

di Unit Kerja lain ? *


Ya

Tidak

Apabila ya, isi bagian dibawah ini.


Kapan ? dan Langkah / tindakan apa yang telah
diambil pada unit kerja tersebut untuk mencegah
terulangnya kejadian yang sama ?

64

.
Pembuat

Penerima

Laporan

Laporan

Paraf

.
:

Paraf

..
:

Tgl Terima

..
:

Tgl Lapor

..

Grading Risiko Kejadian * (Diisi oleh atasan pelapor) :

BIRU

HIJAU

KUNING MERAH

NB.* = pilih satu jawaban.

65

Lampiran 3 :
Formulir Laporan Insiden Keselamatan Pasien ke KKPRS
KOMITE KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT
LAPORAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
KKP-RS
(Patient Safety Incident Report)

Laporan ini hanya dibuat jika timbul kejadian yang


menyangkut pasien. Laporan bersifat anonim, tidak
mencantumkan nama, hanya diperlukan rincian
kejadian, analisa penyebab dan rekomendasi.

Untuk

mengisi

laporan

ini

sebaiknya

dibaca

Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien


(IKP), bila ada kerancuan persepsi, isilah sesuai
dengan pemahaman yang ada.

Isilah

semua

Keselamatan

data
Pasien

pada
dengan

Laporan

Insiden

lengkap.

Jangan

dikosongkan agar data dapat dianalisa.

Segera kirimkan laporan ini langsung ke Komite


Nasional Keselamatan Pasien (KNKP)

66

KODE RS :

1. DATA RUMAH SAKIT :


Kepemilikan Rumah Sakit :
Pemerintah Pusat
Pemerintah Daerah (Provinsi / Kab / Kota)
TNI /POLRI
Swasta
BUMN / BUMD
Jenis RS :
RS Umum
RS Khusus :
RS Ibu dan Anak
RS Paru
RS Mata
RS Orthopedi
RS Jantung
RS Jiwa
RS Kusta
RS Khusus lainnya

67

Kelas RS
A
B
C
D
Untuk RS Swasta menyesuaikan misal RS Pratama
setara dengan RS kelas D, RS Madya setara dengan RS
Kelas C dst.
Kapasitas tempat tidur :

..

.....tempat tidur
Propinsi (lokasi RS)

.
Tanggal Laporan Insiden

di kirim ke KKP-RS :

.........
II.

DATA PASIEN
Umur *

0-1 bulan

> 1 bulan

1 tahun
> 1 tahun 5 tahun > 5 tahun
15 tahun

68

> 15 tahun 30 tahun> 30


tahun 65 tahun
> 65 tahun
Jenis kelamin

Perempuan

:Laki-laki

Penanggung biaya pasien :


Pribadi

Asuransi Swasta

ASKES Pemerintah

Perusahaan *

JAMKESMAS
Jaminan Kesehatan Daerah
Tanggal Masuk RS : .............................................
Jam :..........................
III. RINCIAN KEJADIAN
1.

Tanggal dan Waktu Insiden


Tanggal : ...........................................
.Jam : ....................................

2. Insiden

..

....................
3. Kronologis Insiden

69

4.

Jenis Insiden * :

Kejadian Nyaris Cedera / KNC (Near miss)


Kejadian Tidak Cedera / KTC (No Harm Incident)
Kejadian Tidak Diharapkan / KTD ( Adverse Event) /
Kejadian Sentinel (Sentinel Event)
5.

Orang Pertama Yang Melaporkan Insiden *

Karyawan : Dokter / Perawat / Petugas lainnya

Pasien
Keluarga / Pendamping Pasien
Pengunjung

Lain-lain

(sebutkan)
6.

Insiden terjadi pada * :

Pasien

70

Lain-lain

(sebutkan)
Mis : Karyawan / Pengunjung / Pendamping / Keluarga
pasien, lapor ke K3 RS
7.

Insiden menyangkut pasien

Pasien rawat inap


Pasien rawat jalan
Pasien UGD
Lain-lain
8.

Tempat Insiden

Lokasi

kejadian

(sebutkan)
(Tempat pasien berada)
9.

Insiden terjadi pada pasien : (sesuai kasus

penyakit / spesialisasi)
Penyakit Dalam dan Subspesialisasinya
Anak dan Subspesialisasinya
Bedah dan Subspesialisasinya
Obstetri Gynekologi dan Subspesialisasinya
THT dan Subspesialisasinya
Mata dan Subspesialisasinya

71

Saraf dan Subspesialisasinya


Anastesi dan Subspesialisasinya
Kulit & kelamin dan Subspesialisasinya
Jantung dan Subspesialisasinya
Paru dan Subspesialisasinya
Jiwa dan Subspesialisasinya

Lain-lain

.
(sebutkan)
10. Unit / Departemen terkait yang menyebabkan
insiden
Unit

kerja

penyebab

.....

(sebutkan)
11. Akibat Insiden Terhadap Pasien *
Kematian
Cedera Irreversibel / Cedera Berat
Cedera Reversibel / Cedera Sedang
Cedera Ringan
Tidak ada cedera
12. Tindakan yang dilakukan segera setelah kejadian,
dan hasilnya :

72

13. Tindakan dilakukan oleh *


Tim terdiri dari :
Dokter
Perawat

Petugas

lainnya : ...............................................................
14. Apakah kejadian yang sama pernah terjadi di Unit
Kerja lain ? *
Ya

Tidak

Apabila ya, isi bagian dibawah ini.


Kapan ? dan Langkah / tindakan apa yang telah
diambil pada unit kerja tersebut untuk mencegah
terulangnya kejadian yang sama ?

73

IV. TIPE INSIDEN


Tipe Insiden

Sub Tipe Insiden :

V.

ANALISA PENYEBAB INSIDEN

Dalam

pengisian

penyebab

penyebab

masalah

dapat

langsung

menggunakan

kontributor (bisa pilih lebih dari 1)


a. Faktor Eksternal / di luar RS
b Faktor Organisasi dan Manajemen
c. Faktor Lingkungan kerja
d. Faktor Tim
e. Faktor Petugas dan Kinerja
f. Faktor Tugas
g. Faktor Pasien
h. Faktor Komunikasi

74

atau

akar
factor

1.Penyebab langsung (Direct / Proximate / Immediate


Cause)

2.Akar penyebab masalah (underlying root cause)

3.

Rekomendasi / solusi

75

No

NB * =

Akar Masalah

Pilih

satu

Rekomendasi / Solusi

jawaban,

kecuali

bila

berpendapat lain.
Saran :

Baca

Pedoman

Keselamatan Pasien (IKP)

76

Pelaporan

Insiden

Lampiran 4 :

Kejadian Sentinel dan Indikator Keselamatan


Pasien

Kejadian Sentinel
N
O

INDIKATOR

Kematian tidak terduga dan tidak terkait dengan


perjalanan alamiah atau kondisi yang mendasari
penyakitnya . Contoh bunuh diri

Kehilangan fungsi utama (major) secara permanen yang


tidak terkait dengan perjalanan alamiah penyakit pasien
atau kondisi yang mendasari penyakitnya

Salah lokasi, salah prosedur, salah pasien operasi

Penculikan bayi atau bayi yang dipulangkan bersama


orang yang bukan orang tuanya.

77

Indikator Keselamatan Pasien


INSTALASI RADIOLOGI

N
O

INDIKATOR

Insiden kesalahan posisi pemeriksaan

Insiden kesalahan memberikan hasil pemeriksaan

Insiden ketidaksesuaian antara foto dengan hasil


expertise

Insiden kecelakaan pasien di radiologi (pemberian


obat penenang yang melebihi dosis)

INSTALASI GIZI

N
O

INDIKATOR

Insiden kesalahan jenis diet

Insiden tercemarnya makanan


78

INSTALASI LABORATORIUM

N
O

INDIKATOR

Insiden kesalahan penyediaan sample

Insiden kesalahan menginput hasil

Insiden kesalahan pengoperasian alat

Insiden kesalahan pencampuran reagen

Insiden kesalahan golongan darah

Insiden kesalahan jenis darah

Insiden kesalahan menyampaikan hasil

Insiden kesalahan pasien

INTENSIVE CARE UNIT (ICU)

79

N
O

INDIKATOR

Insiden tersumbatnya saluran nafas yang berakibat


bradikardi

Insiden kesalahan setting ventilator


INSTALASI FARMASI

N
O

INDIKATOR

Insiden kesalahan penyerahan obat pada pasien IRJA

Insiden kesalahan penyerahan obat pada pasien IRNA

Insiden kelebihan penyerahan obat pada pasien IRJA

Insiden kelebihan penyerahan obat pada pasien IRNA

Insiden kekurangan penyerahan obat pada pasien IRJA

Insiden kekurangan penyerahan obat pada pasien


IRNA

Insiden kesalahan dosis obat

Insiden penggunaan antibiotika double

80

KAMAR OPERASI (OK)

N
O

INDIKATOR

Insiden kesalahan identifikasi pasien

Insiden kesalahan jenis operasi

Insiden kesalahan posisi

Insiden tertinggalnya kain kasa

Insiden tertinggalnya instrumen

Insiden operasi tanpa spesialis anestesi

Insiden operasi dengan kekurangan darah

Insiden konsultasi durante operasi

Insiden perluasan operasi

10

Insiden kesalahan diagnosis pra operasi

81

INSTALASI RAWAT INAP (IRNA)

N
O

INDIKATOR

Insiden pasien jatuh

Insiden infus blong

Insiden kesalahan pemberian obat

Insiden kesalahan cara pemberian obat

Insiden kesalahan pencampuran obat

Insiden kesalahan sampling

Insiden kesalahan identifikasi pasien pada saat


pengambilan sample

Insiden kesalahan persiapan operasi

Insiden luka bakar akibat buli-buli panas

82

10

Insiden kesalahan golongan / jenis darah tranfusi

11

Insiden ketidaktepatan tehnik pengambilan sample


darah

12

Insiden luka bakar akibat pemasangan Bicnat Drip


(100 CC)

INSTALASI REHABILITASI MEDIK

N
O

INDIKATOR

Angka kejadian luka bakar akibat pemakaian alat


diathermy

Angka kejadian luka akibat terapi dingin

INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)

N
O

INDIKATOR

83

Insiden kesalahan identifikasi kegawat daruratan

INSTALASI RAWAT JALAN

N
O
1

INDIKATOR
Angka
Kejadian
Pemeriksaan

Kesalahan

Pemakaian

alat

GLOSARIUM KKP-RS
1

Keselamatan
Pasien
Rumah Sakit
(Patient
Safety)

Suatu sistem dimana rumah sakit


membuat asuhan pasien lebih aman. Hal
ini termasuk asesmen risiko, identifikasi
dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan risiko pasien, pelaporan dan
analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya risiko. Sistem
ini mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya
diambil.

84

Kejadian
tidak
diharapkan
(KTD) /
(Adverse
event)

KTD yang
tidak dapat
dicegah
(Unpreventa
ble adverse
event)

Kejadian
Nyaris
Cedera
(KNC) /(Near
miss)

Kejadian

Suatu kejadian yang tidak diharapkan


yang mengakibatkan cedera pasien
akibat melaksanakan suatu tindakan
atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil, dan bukan karena
penyakit dasarnya atau kondisi pasien.
Cedera dapat diakibatkan oleh
kesalahan medis atau bukan kesalahan
medis karena tidak dapat dicegah.
Suatu KTD akibat komplikasi yang tidak
dapat dicegah dengan pengetahuan
yang mutakhir.

Suatu kesalahan akibat melaksanakan


suatu tindakan (commission) atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya
diambil (omission), yang dapat
mencederai pasien, tetapi cedera serius
tidak terjadi, karena keberuntungan
(mis. pasien terima suatu obat kontra
indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat),
karena pencegahan (suatu obat
dengan overdosis lethal akan diberikan,
tetapi staf lain mengetahui dan
membatalkannya sebelum obat
diberikan), atau peringanan (suatu
obat dengan overdosis lethal diberikan,
diketahui secara dini lalu diberikan
antidotenya).
Insiden yang sudah terpapar ke pasien,

85

Tidak Cedera
(KTC)
Kejadian
Potensial
Cedera (KPC)

tetapi tidak timbul cedera.

Kesalahan
Medis
(Medical
errors)

Insiden
Keselamatan
Pasien
(Patient
Safety
Incident)

Kesalahan yang terjadi dalam proses


asuhan medis yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada
pasien. Kesalahan termasuk gagal
melaksanakan sepenuhnya suatu
rencana atau menggunakan rencana
yang salah untuk mencapai tujuannya.
Dapat akibat melaksanakan suatu
tindakan (commission) atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya
diambil (omission).
Setiap kejadian yang tidak disengaja dan
tidak diharapkan, yang dapat
mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien.

Pelaporan
Insiden
Keselamatan
Pasien
Rumah Sakit

10

Analisis Akar

Kondisi yang sangat berpotensi untuk


menimbulkan cedera, tetapi belum
terjadi insiden.

Suatu sistem untuk mendokumentasikan


insiden yang tidak disengaja dan tidak
diharapkan, yang dapat mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera
pada pasien. Sistem ini juga
mendokumentasikan kejadian-kejadian
yang tidak konsisten dengan operasional
rutin rumah sakit atau asuhan pasien.
Suatu proses terstruktur untuk

86

Masalah
(Root Cause
Analysis)
11

Manajemen
Risiko (Risk
Management
)

12

Kejadian
Sentinel
(Sentinel
Event)

mengidentifikasi faktor penyebab atau


faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya penyimpangan kinerja,
termasuk KTD.
Dalam hubungannya dengan operasional
rumah sakit, istilah manajemen risiko
dikaitkan kepada aktivitas perlindungan
diri yang berarti mencegah ancaman
yang nyata atau berpotensi nyata
terhadap kerugian keuangan akibat
kecelakaan, cedera atau malpraktik
medis.
Suatu KTD yang mengakibatkan
kematian atau cedera yang serius;
biasanya dipakai untuk kejadian yang
sangat tidak diharapkan atau tidak
dapat diterima seperti: operasi pada
bagian tubuh yang salah. Pemilihan kata
sentinel terkait dengan keseriusan
cedera yang terjadi (mis. amputasi pada
kaki yang salah, dsb) sehingga
pencarian fakta terhadap kejadian ini
mengungkapkan adanya masalah yang
serius pada kebijakan dan prosedur yang
berlaku.

87