Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH FARMASI INDUSTRI

PRODUKSI SEDIAAN CAIR (LIQUID)

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3
1.
2.
3.
4.

Hesti Riana Sari


Lidya Dewi Agustina
Rezekilah
Shinta Christiani

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan karunia-Nya, sehingga makalah Farmais Industri mengenai Produksi Sediaan
Steril dapat terselesaikan tepat waktu.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna dan masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini untuk kedepannya.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi bagi yang membacanya.

Samarinda, Desember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ........................................................................................


1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................
1.3. Tujuan .....................................................................................................
BAB II

1
1
2

ISI

2.1. Definisi Sediaan Cair ..............................................................................


2.2. Produksi Sediaan Cair ............................................................................
2.2.1.................................................................................................................Pemb
agian ruang produksi ..............................................................................
2.2.2.................................................................................................................Alur
masuk personil dan barang .....................................................................
2.2.3.................................................................................................................Kegi
atan produksi ..........................................................................................
2.2.4.................................................................................................................Alatalat produksi ...........................................................................................
2.3. Pengawasan Mutu ...................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan .............................................................................................
3.2. Saran .......................................................................................................

13
13

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
berkembang pesat, begitu juga dengan dunia kefarmasian. Hal ini dapat dilihat
dari bentuk sediaannya yang beragam yang telah di buat oleh tenaga farmasis.
Diantara sediaan obat tersebut menurut bentuknya yaitu solid (padat), semisolid
(setengah padat) dan liquid (cair). Dengan adanya bentuk sediaan tersebut
diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi konsumen. Salah
satu contoh sediaan farmasi yang beredar di pasaran, Apotek, Instalasi kesehatan,
maupun toko obat adalah sediaan cair (liquid).
Sediaan liquid merupakan sediaan dengan wujud cair, mengandung satu
atau lebih zat aktif yang terlarut atau terdispersi stabil dalam medium yang
homogen pada saat diaplikasikan. Sediaan cair atau sediaan liquid lebih banyak
diminati oleh kalangan anak-anak dan usia lansia, sehingga satu keunggulan
sediaan liquid dibandingkan dengan sediaan-sediaan lain adalah dari segi rasa dan
bentuk sediaan.
Sediaan cair juga mempunyai keunggulan terhadap bentuk sediaan solid
dalam hal kemudahan pemberian obat terkait sifat kemudahan mengalir dari
sediaan liquid ini. Selain itu, dosis yang diberikan relatif lebih akurat dan
pengaturan dosis lebih mudah divariasi dengan penggunaan sendok takar. Sediaan
liquid lebih banyak digunakan pada bayi, anak-anak dan lanjut usia yang sukar
minum obat, seperti tablet dan pil yang memiliki rasa pahit atau tidak enak. Selain
itu, sediaan liquid juga lebih mudah diabsorpsi oleh tubuh. Namun, sediaan liquid
sangat mudah terkontaminasi oleh mikroba sehingga tumbuh jamur pada sediaan,
tidak dapat dibuat untuk senyawa obat yang tidak stabil dalam air, dan bagi obat
yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi.
Dengan demikian pembuatan sediaan liquid dengan aneka fungsi sudah
banyak digeluti oleh sebagian besar produsen. Sehingga terkait itu semua, seorang
farmasis harus mengetahui cara pembuatan obat yang baik dalam memproduksi

13

sediaan cair, demi menjamin kualitas atau mutu yang dihasilkan oleh suatu
industri.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil rumusan masalah sebagai
berikut:
a. Apa definisi dari sediaan cair (liquid)?
b. Bagaimana proses produksi dari sediaan cair (liquid)?
c. Bagaimana pengawasan mutu dari sediaan cair (liquid)?
1.3.
a.
b.
c.

Tujuan
Mengetahui definisi sediaan cair (liquid).
Mengetahui proses produksi sediaan cair (liquid).
Mengetahui pengawasan mutu sediaan cair (liquid).

BAB II
ISI
2.1. Pengertian Sediaan Cair
14

Sediaan cair adalah ..


2.2. Produksi Sediaan Cair
Hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan produksi adalah sebagai
berikut:
a. Bahan awal
Bahan awal sebelum dinyatakan lulus untuk digunakan hendaklah
memenuhi spesifikasi yang sudah ditetapkan dan diberi label dengan nama yang
dinyatakan dalam spesifikasi. Semua pemasukan, pengeluaran, dan sisa bahan
hendaknya dicatat.
b. Validasi proses
Luas serta tingkat validasi yang dilakukan tergantung dari sifat dan
kerumitan produk dan proses yang bersangkuatan. Program dan dokumentasi
validasi hendaklah membuktikan kecocokan bahan yang dipakai, keandalan
peralatan dan sistem serta kemampuan petugas pelaksana.
c. Sistem penomoran batch dan lot
Sistem penomoran batch adalah suatu sistem yang menjabarkan cara
penomoran batch dan lot secara rinci yang diperlukan untuk memastikan bahwa
produk antara, produk ruahan atau obat jadi suatu batch atau lot dapat dikenali
dengan nomor batch atau lot tertentu. Sistem penomoran batch dan lot harus
menjamin bahwa nomor batch dan lot yang sama tidak digunakan secara
berulang. Pemberian nomor batch dan lot yang dialokasikan harus segera dicatat
dalam buku catatan harian. Catatan mencakup tanggal pemberiaan nomor,
identitas produk dan besarnya batch dan lot yang bersangkutan.
d. Pengembalian
Bahan baku, bahan pengemas, produk antara, dan produk ruahan yang
dikembalikan ke tempat penyimpanan hendaklah didokumentasikan dan dirujuk
sesuai dengan prosedur. Bahan baku, bahan pengemas, produk antara, dan produk
ruahan tidak boleh dikembalikan ke gudang, kecuali bila tidak memenuhi
spesifikasi yang ditetapkan.
e. Pengolahan
Bahan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa terlebih dahulu
sebelum digunakan. Sebelum pengolahan dimulai hendaknya ditempuh langkah
yang menjamin bahwa daerah pengolahan dan peralatan bebas dari bahan, produk
atau dokumen yang diperlukan untuk pengolahan yang bersangkutan.
1. Produk Cair
15

Produk berupa cairan seharusnya dibuat sedemikian rupa agar produk


terlindung dari pencemaran mikroba dan pencemaran lain. Sistem pembuatan dan
pemindahan secara tertutup sangat dianjurkan. Kualitas kimiawi dan mikrobiologi
air yang digunakan harus ditetapkan dan selalu dipantau.
2. Pengemasan
Kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk ruahan
menjadi obat jadi. Proses pengemasan hendaknya dilaksanakan dibawah
pengawasan ketat untuk menjaga identitas, keutuhan, dan kualitas barang yang
sudah dikemas
2.2.1. Pembagian ruang produksi
Ruang produksi pada industri farmasi meliputi:
a. Ruang antara
Ruang ini berfungsi sebagai ruang untuk transfer barang dari gudang kepada
Production Supervisor berdasarkan kesesuaian antara barang yang dikirim dengan
permintaan yang tertera pada batch record. Setelah serah terima ini barang
kemudian dibawa ke dispensing room.
b. Ruang penimbangan (dispensing room)
Dispensing room merupakan ruang untuk menimbang raw material (RM)
yang dilakukan oleh petugas. Ruang ini memiliki sistem Laminar Air Flow (LAF)
yang dilengkapi High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter. Sistem HEPA filter
memiliki dua indikator yaitu airflow gauge yang mengatur keluar masuknya udara
dan fine dust filter yang berfungsi untuk menyaring partikel.
Tujuan penggunaan LAF dan HEPA filter yaitu untuk memberikan kualitas
udara yang bersih dengan aliran udara yang teratur dan menjamin kualitas bahan
yang ditimbang tetap baik. Di dalam dispensing room terdapat tiga buah
timbangan dengan kapasitas yang berbeda yang terhubung dengan satu display
dan printer.
Penimbangan dimulai dari bahan tambahan (non toksik), setelah itu
ditimbang zat aktif. Penimbangan bahan tambahan seperti pewarna dan pewangi
dilakukan terakhir. Penimbangan dilakukan untuk satu bets secara lengkap
sehingga mencegah kontaminasi dan/atau kontaminasi silang. Setelah satu bets
selesai, harus dilakukan line clearance sebelum penimbangan RM berikutnya.
Untuk penimbangan bahan-bahan yang higroskopis, ruangan dikondisikan dengan
RH kurang dari 50% dan suhu kurang dari 25C.

16

Pada saat penimbangan bahan (bahan baku dan bahan tambahan) harus
selalu dicek kebenaran bahan yang ditimbang (nama, bentuk kimia) dan ketepatan
penimbangan (jumlah dan cek skala). Parameter kritis dari tahap penimbangan
adalah jenis atau nama bahan dan ketepatan jumlah.
c. Ruang pencampuran (blending room)
Blending room merupakan ruangan yang digunakan untuk proses
pencampuran bahan aktif dengan bahan tambahan. Untuk pemindahan bahanbahan yang bersifat higroskopis menggunakan alat khusus yaitu siever
(pengayak).
Proses pencampuran dibagi menjadi dua cara, yaitu:
1. Pencampuran secara langsung
Seluruh komponen formula ditimbang sesuai kebutuhan. Kemudian
dimasukkan ke dalam tangki pencampur secara bertahap (bahan awal, bahan
tambahan ke dalam cairan pembawa), diaduk hingga seluruhnya larut.
2. Pencampuran secara tidak langsung
Terdiri dari dua tahapan, yaitu masing-masing komponen dilarutkan terlebih
dahulu dalam pelarut yang sesuai dan pencampuran dilakukan setelah masingmasing komponen formula berada dalam bentuk terlarut.
Parameter kritis dalam pencampuran adalah temperatur selama proses
pencampuran, lama waktu pengadukan dan kecepatan pengadukan. IPC meliputi
organoleptis (warna, bau, kejernihan), pH, dan homogenitas (kadar).
d. In Process Control Room
Ruang IPC merupakan ruangan untuk melakukan pengujian-pengujian
khusus selama proses produksi yang tidak mungkin dilakukan di ruang produksi
yang bersangkutan. IPC dilakukan terhadap tahap-tahap kritis selama proses
produksi. IPC untuk sediaan cair antara lain:
1. Keseragaman volume dan pH
2. Kejernihan
3. Removal torque (kekencangan tutup untuk dibuka) dan cap torque
(kemampuan tutup botol untuk ditutup kembali)
4. Tes appearance, pencetakan expired date dan nomor bets pada label.
e. Ruang pencucian
Ruang pencucian merupakan ruangan yang digunakan untuk mencuci
peralatan yang telah selesai digunakan dalam proses produksi. Alat yang
telah dicuci bersih dan siap digunakan diberi label cleaned. Setiap alur

17

produksi memiliki wash room tersendiri. Pada masing-masing wash room


tersedia suplai tap water dan deionized water.
f. Bottle Washing Room
Merupakan ruangan yang digunakan untuk mencuci botol sediaan cair.
Pencucian botol dilakukan dengan metode blow and suck. Botol ditiup dengan
udara bertekanan dalam kondisi vakum dan langsung dihisap. Mesin pencucian
botol ini dihubungkan dengan conveyor belt langsung ke ruang pengisian.
Tekanan udara pada ruang pengisian dibuat lebih tinggi daripada ruang pencucian
botol untuk mencegah kontaminasi.
g. Liquid Manufacturing Room
Ruangan ini digunakan untuk membuat sediaan cair, khususnya pada proses
pencampuran dan penyaringan. Tekanan udara di ruang pengolahan sediaan cair
dibuat lebih tinggi daripada di koridor sehingga aliran udara akan bergerak dari
ruangan ke koridor dengan tujuan agar kontaminan di koridor tidak berpindah dan
mencemari ruang pengolahan sediaan cair yang sedang diproduksi.
2.2.2. Alur masuk personil dan barang
Agar proses produksi berlangsung dengan baik, maka harus dilakukan
pemetaan alur barang dan personil di ruang produksi. Hal ini bertujuan agar waktu
yang terpakai akan efektif dan efisien serta mengurangi kontaminasi yang dapat
timbul.
a. Alur personil
Alur personil yang bekerja di dalam grey area telah diatur dengan peraturan
yang mengikat untuk semua. Untuk memasuki area produksi, ada peraturan yang
harus diikuti, antara lain, membuka pakaian dan sepatu yang digunakan saat
berada di black area, menyimpan pakaian dan sepatu dalam loker yang telah
disediakan, memakai baju untuk grey area, menggunakan sepatu khusus untuk
grey area, dan mencuci tangan dengan sabun dan kemudian di bilas dengan
alkohol 70% sebelum masuk ke ruang produksi.
Memasuki area produksi dengan melewati air lock, pintu harus dibuka satu
per satu karena merupakan sistem otomatis. Baju yang digunakan merupakan baju
terusan dengan penutup kepala. Selama proses produksi berlangsung, operator
diwajibkan menggunakan masker bersih. Visitor menggunakan baju berupa jas
laboratorium dengan bahan dan warna yang sama, menggunakan tutup kepala, dan
menggunakan masker selama berada dalam ruang produksi.
18

b. Alur barang
Bahan baku dan bahan kemas primer masuk melalui alur barang yang
tersedia. Alur bahan baku dan bahan kemas berbeda, di mana bahan baku akan
masuk melalui dedusting area, kemudian dibawa ke ruang antara (weighing
airlock), untuk kemudian ditimbang, sedangkan bahan kemas melalui pass box.
Setelah dilakukan penimbangan, bahan baku masuk ruang stagging dengan
keadaan tertutup dalam satu wadah untuk satu bets tertentu dan sisa bahan baku
yang tersedia dibungkus kembali dengan rapi, kemudian dikembalikan ke ruang
weighing air lock, untuk kemudian dikembalikan ke gudang melalui dedusting
area. Bahan kemas primer yang tersisa, setelah digunakan, juga akan
dikembalikan melalui jalurnya.
2.2.3. Kegiatan produksi
Proses produksi sediaan cair dilakukan di ruang kelas D (grey area).
Kegiatan pengemasan primer seperti liquid filling juga dilakukan di ruang kelas
D. Sedangkan untuk proses pengemasan sekunder seperti cartoning dilakukan di
ruang kelas F (black area).
a. Proses produksi sirup
Bahan-bahan yang telah disetujui oleh departemen QC ditimbang dan
dilarutkan dengan menggunakan purified water (PW) kemudian dilakukan
pembuatan sirup simplex. Setelah itu semua bahan dicampurkan dalam tangki
pencampuran (thorax homogenizer) dan dilakukan penambahan PW hingga
volume yang dikehendaki kemudian diaduk hingga homogen. Setelah sirup jadi,
dilakukan penyaringan dan dikarantina sambil menunggu hasil pemeriksaan dari
bagian QC yang meliputi kadar zat aktif, pH, viskositas, berat jenis dan cemaran
mikroba. Apabila lulus uji maka dilakukan pengisian sirup ke dalam botol yang
telah dicuci di ruang bottle washing room. Pengisian dilakukan menggunakan
mesin LF Avanty atau CVC dan dilanjutkan dengan penutupan botol dengan
capperr machine. Hasil pengisian ini kemudian diperiksa oleh QC meliputi
pemeriksaan keseragaman volume dan kekerasan segel atau kebocoran.
b. Proses produksi suspensi
Proses pembuatan hampir sama dengan sirup, namun pada suspensi
digunakan suspending agent salah satunya adalah Na CMC. Bahan yang telah

19

disetujui, ditimbang dahulu kemudian dilakukan pembuatan sirup simplex dalam


thorax homogenizer hingga dihasilkan larutan sirup yang homogen dan jernih.
Selain itu juga dilakukan pembuatan suspensi dengan mendispersikan bahan aktif
dan suspending agent dalam PW dan dilanjutkan penghalusan larutan suspensi
dengan menggunakan thorax homogenizer. Sirup simplex dan larutan suspensi
dicampur dalam vacuum emulsifier mixer. Setelah itu diperiksa berat jenisnya,
pH, kadar zat aktif dan viskositas serta cemaran mikrobanya. Apabila lulus uji
maka suspensi diisi ke dalam botol dan diperiksa kembali oleh QC meliputi
pemeriksaan keseragaman bobot, kekerasan segel atau kebocoran.
Penimbangan

Pembuatan larutan gula


(hot water tank)

BA+BT lain

Pencampuran (mixing tank)


IPC: kadar, pH
Penyaringan
Produk ruahan (karantina)
IPC: organoleptis, kadar, pH

Pengisian
(filling machine)
Capping

IPC: kadar, volume

IPC: kebocoran

Pengemasan sekunder (karantina)


Batch, exp, isi, dus
Gambar 2.1. Alur Produksi Sediaan Cair
2.2.4. Alat-alat produksi
Alat yang digunakan pada proses pembuatan sediaan cair, antara lain:
Karantina
Gudang
20

a. Mixing Tank
Alat ini dilengkapi dengan dipstick yang terkalibrasi yang berfungsi untuk
mengukur volume larutan yang terdapat dalam tangki dan mixer yang berfungsi
untuk mengaduk. Alat ini menggunakan sistem double jacket yang dihubungkan
dengan sistem supply steam dan chilled water.

b. Holding Tank
Alat yang digunakan untuk menampung bulk sebelum dilakukan pengisian.
Untuk keperluan final mixing, alat ini dilengkapi dengan paddle mixer. Alat ini
tidak dilengkapi dengan double jacket sehingga tidak memungkinkan untuk
dilakukan proses pencampuran yang disertai pemanasan. Semua bagian alat yang
kontak langsung dengan produk terbuat dari stainless steel.
c. Liquid Filling Machine
Alat yang digunakan untuk mengisi cairan secara otomatis. Alat ini terbuat
dari stainless steel yang tahan terhadap karat dan bersifat antibocor sehingga
proses pengisian tidak akan mengotori ruang pengisian.

d. Bottle Capping Machine


21

Alat yang digunakan untuk menyegel kemasan berupa botol, baik botol kaca
maupun botol plastik. Mesin ini sangat berperan besar dalam suatu produk karena
menyangkut segel dan juga masa penghitungan jangka kadaluarsa.

2.3. Pengawasan Mutu


Pengawasan mutu dilakukan oleh Departemen Pengawasan Mutu atau
Quality Control (QC) untuk menjamin produk yang dihasilkan, meliputi:
a. Uji kejernihan yang dilakukan secara visual
b. Keseragaman volume: Bobot tiap produk ditimbang, kemudian hasil
penimbangan dikonversikan ke dalam volume dengan mengetahui berat
jenis larutan terlebih dahulu.
c. Uji kekuatan tutup botol (torque test): Menggunakan alat khusus dimana
diukur rentang kekuatan menutup botol (capping torque) dan rentang
kemampuan membuka tutup botol (removal torque) sesuai dengan yang
dipersyaratkan.
d. Uji penampilan, yaitu uji kerapian penampilan produk.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
22

3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

23