Anda di halaman 1dari 64

DENSITAS 15 , API GRAVITY

I.

TUJUAN
a. Mahasiswa dapat menentukan densitas dan API-Gravity memakai alat
hidrometer glass dari contoh minyak solar dan crude oil Ledok
b. Mahasiswa dpaat mengubah hasilnya ke standar temperatur 15 oC atau 60/60
F menggunakan tabel reduksi pada ASTM D 1250

II. KESELAMATAN KERJA


a. Hati-hati dalam menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.
III. TEORI DASAR
Metoda yang banyak dipakai untuk melakukan pemeriksaan terhadap
minyak dan produknya adalah:
1.
2.
3.
4.

ASTM (American Society for Testing Material)


API (American Petroleum Institute)
IP (Institute du Petrol)
ISI (Indian Specification Institute)
Macam-macam pemeriksaan rutin yang dilakukan di laboratorium Minyak
Bumi STEM Akamigas dimaksudkan untuk melakukan pengawasan dan
pengendalian pada proses dan operasi pengilangan terutama menyangkut
kualitas produk yang dihasilkan. Pemeriksaan rutin tersebut salah satunya:

a. Densitas
Kepadatan adalah massa zat dibagi dengan volumenya. Dengan sudut pandang
perdagangan, pengetahuan mengenai kepadatan BBM secara fundamental
penting karena bahan bakar disampaikan oleh volume dan dijual oleh massa.
Hubungan antara massa dan volume adalah sebagai berikut;
Unit untuk kepadatan kg/m3 dan untuk suhu acuan bahan bakar selalu

1.

dinyatakan dalam suhu 15oC. Sebuah suhu acuan harus diberikan karena
kepadatan bahan bakar bervariasi dengan suhu.
Gravitasi spesifik adalah rasio massa volume tertentu zat dengan massa

2.

volume air yang sama pada suhu yang sama. Karena merupakan suatu ratio, SG
tidak memiliki unit satuan tetapi dapat dinyatakan dkarena suhu dinyatakan

dengan suhu, misalnya. 15/15oC. Terkadang berat jenis dikutip juga pada 20/
4oC, tapi ini bukanlah berat jenis karena suhu tidak identik. Meskipun demikian
kepadatan relatif, yang merupakan rasio massa volume tertentu substansi pada
t1 suhu, dengan massa volume yang sama air murni pada suhu t 1. Karena 1m3
air murni pada suhu 4oC memiliki massa 1000kg, kepadatan zat di t1oC setara
dengan kepadatan relatif di t1/4oC.
b. API Gravity
Berat jenis oAPI Gravity menyatakan densitas atau berat per satuan volume
suatu zat. oAPI dapat diukur dengan Hidrometer (ASTM D-287), sedangkan
berat jenis dapat ditentukan dengan piknometer (ASTM D-941 dan D-1217).
Pengukuran oAPI Gravity dengan hidrometer dinyatakan dengan angka 0 s/d
100. Hubungan oAPI Gravity dengan berat jenis adalah sebagai berikut:
API Gravity=

141,5
131,5
60
SG F
60

Satuan berat jenis dapat dinyatakan dengan lb/gal atau lb/barrel atau
m3/ton.
Tujuan dilaksanakan pemeriksaan terhadap oAPI Gravity dan berat jenis adalah
untuk indikasi mutu minyak. Makin tinggi oAPI atau makin rendah berat jenis
maka minyak tersebut makin berharga, karena banyak mengandung bensin.
Sebaliknya makin rendah oAPI maka mutu minyak makin rendah, karena lebih
banyak mengandung lilin.
Minyak yang mempunyai berat jenis tinggi berarti minyak tersebut
mempunyai kandungan panas (heating value) yang rendah dan sebaliknya bila
minyak mempunyai berat jenis rendah berarti memiliki kandungan panas yang
tinggi.
c. Hidrometer
Hidrometer adalah suatu alat terbuat dari kaca yang berguna untuk mengukur
densitas. Yang berarti fungsi hidrometer adalah untuk mengukur densitas.
Terdapat banyak jenis hidrometer. seperti untuk mengukur berat jenis air, berat

jenis minyak dan berat jenis larutan lainnya. Tetapi ada juga hidrometer yang
digunakan untuk mengukur kadar suatu zat.
IV. BAHAN DAN PERALATAN
a. Bahan
1.
Minyak Solar
2.
Crude Oil Ledok
b. Peralatan
1.
Hidrometer skala densitas
2.
Termometer ASTM 12C dan 12F
3.
Gelas silinder
4.
Constant Temperature Bath

V. LANGKAH KERJA

Atur suhu contoh sesuai


dengan jenis contoh yang
akan diuji

Tuangkan contoh uji ke dalam


gelas silinder, hilnagkan
adanya gelembung udara
dengan diaduk menggunakan
thermometer secara perlahan

Tempatkan gelas silinder yang


telah berisi contoh uji pada
tempat yang datar, bebas
pengaruh goncangan dan
pengaruh suhu luar

Lakukaan pengukuran
temperatur menggunakakn
termometer skala oC, baca
dan catat suhu contoh uji.

Masukkan dengan perlahan


hidrometer densitas yang
sesuai ke dalam contoh uji.

Apabila hidrometer sudah


terapung dengan bebas baca
skala hidrometer, dicatat
sebagai Densitas
Pengamatan

Keluarkan hidrometer,
kemudian lakukan
pengukuran temperatur, baca
dan catat suhu contoh uji.
Apabila perbedaan suhu dari
kedua pengamatan tidak
melampaui 0,5 ooC hasil rerata
dicatat sebagai Suhu
Pengamatan

Untuk merubah Densitas


Pengamatan ke Densitas 15ooC
dikoreksi menggunakan Tabel
53A atau 53 B dari Petroleum
Measurement Tables ASTM D
1250-80

VI. KETELITIAN

VII.HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

Variabel kontrol (Solar)


Suhu awal
Observed Densitas
Observed Temperature

Percobaan 1
29 C
0,8420 g/l
29,2 C

Percobaan 2
29,2 C
0,8420 g/l
29,2 C

a. Densitas
Ratarata Temperature=

T 1 +T 2 29+29,2
=
=29,1 C
2
2

RatarataObserved Density=

1 + 2
gr
=0,8420
2
l

Ratarata Observed Temperature=

T 1+ T 2 29,2+ 29,2
=
=29,2 C
2
2

Konversi Densitas ke Densitas15 C dengan tabel ASTM 53

T 2T 1 21
=
T ? T 1 ? 1
29,2529.00 852,00851,90
=
29,2029,00
?851,90
0,25
0,1
=
0,2 ? 851,90

0,25 ?212,975=0,02

0,25 ?=212,995

? =851,98

kg
L

Konversi Densitas ke Densitas15 C dengan tabel ASTM 53 B

Obs Temp/Densitas 841,0

842,0

843,0

at 15C
29,00 C

850,6

...

852,6

29,2 C

X1

X3

X2

29,25 C

850,8

...

852,8

29,2529.00 850,8850,6
=
29,2029,00
X 1850,6
0,25
0,2
=
0,2 X 1851,90

0,25 X 1212,65=0,04

0,25 X 1=212,69

X 1=850,76

kg
L

(..1)

29,2529.00 852,80852,60
=
29,2029,00
X 2852,60
0,25
0,2
=
0,2 X 2852,60

0,25 X 2213,15=0,04

0,25 X 2=213,19

X 2=852,98

kg
L (..2)

852,76850,76 843,0841,0
=
X 3 850,76
842,0841,0
2
2
=
X 3850,76 1

2=2 X 3 1701,52

1703,52=2 X 3

X 3=851,76

kg
L

b. API Gravity

Ratarata Temperature=

T 1 +T 2 81,5+ 83
=
=82,25 F
2
2

RatarataObserved API =

API 1 + API 2 36,3+ 36,4


=
=36,35
2
2

Variabel kontrol (Crude Percobaan 1

Percobaan 2

Ledok)
Suhu awal
Observed API-Gravity
Observed Temperature

83 F
36,4
83,5 F

81,5 F
36,3
82,25 F

Ratarata Observed Temperature=

T 1+ T 2 82,25+83,5
=
=82,875 F
2
2

API Gravity ke API Gravity at Observed Temp . dengan tabel ASTM 5 A

Obs Temp/API-Gravity

36,0

36,35

36,5

82,5 F

34,3

...

34,8

82,875 F

X1

X3

X2

83,0 F

34,2

...

34,7

T 2T 1 API 2API 1
=
T ? T 1
X 1 API 1

83,O82,5 34,234,3
=
82,87582,5
X 134,3
0,5
0,1
=
0,375 X 134,3

0,5 X 117,5=O , O 375

0,5 X 1=17,4625
X 1=34,925

(..1)

83,O82,5 34,734,8
=
82,87582,5
X 234,8
0,5
0,1
=
0,2 X 234,8

0,5 X 217,4=0,0375

0,5 X 2=17,3625
X 2=34,725 (..2)

34,72534,925 36,536
=
X 334,925
36,3536
0,2
0,5
=
X 334,925 0,35

0,07=0,5 X 317,4625

17,3925=0,5 X 3

X 3=34,785

VIII. ANALISIS
Pada praktikum kali ini, praktikan melaksanakan penentuan Densitas dan
API-Gravity dari beberapa produk yakni minyak solar dan crude oil Ledok.
Mekanisme praktikum yang dilakukan cukup sederhana dengan menggunakan
beberapa alat seperti hidrometer skala densitas dan skala API-Gravity,
Termometer ASTM 12F dan 12C, gelas silinder. Untuk penentuan densitas,
setelah melakukan dua kali percobaan dengan variabel yang sama, praktikan
mendapatkan

hasil

yakni,

suhu

rata-rata

pembacaan

awal

sebelum

menggunakan hidrometer sebesar 29,1C. Kemudian untuk densitas rata-rata


sebesar 0,8420 kg/L, sementara suhu pengamatan rata-rata sebesar 29,2C.
Dari data-data tersebut kemudian dikonversi dengan tabel 53 dan tabel 53 B
akan menunjukan hasil yang relatif sama dengan sedikit perbedaan dua angka
dibelakang koma. Untuk tabel 53 densitas pada suhu 15C sebesar 851,98 kg/L
sementara tabel 53 B menunjukkan densitas pada suhu 15C sebesar 851,76
kg/L.
Untuk penentuan API-Gravity, setelah melakukan dua kali percobaan dengan
variabel yang sama, praktikan mendapatkan hasil yakni, suhu rata-rata
pembacaan awal sebelum menggunakan hidrometer sebesar 82,25F.
10

Kemudian untuk API-Gravity rata-rata sebesar 36,35. Sementara suhu


pengamatan rata-rata sebesar 82,875F. Dari data-data tersebut kemudian
dikonversi dengan tabel 5 A akan menunjukan hasil sebesar 34,785.
IX. KESIMPULAN
Dalam praktikum yang telah dilakukan, praktikan mengamati bagaimana
penentuan harga densitas maupun API-Gravity dapat dilakukan. Penentuan
harga densitas maupun API-Gravity dapat dilakukan dengan menggunakan
hidrometer, dan penghitungan teoritis(interpolarsi tabel ataupun konversi
secara langsung). Setelah data hasil pengamatan dianalisa, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Penentuan harga densitas pada suhu 15 C dilakukan dengan menggunakan alat
hidrometer standar skala densitas serta dengan menggunakan Tabel standar
ASTM 53 dan Tabel standar ASTM 53 B
2. Penentuan harga API-Gravity pada suhu pengamatan

dilakukan dengan

menggunakan alat hidrometer standar skala API-Gravity serta dengan


menggunakan Tabel standar ASTM 5 A.
X. SARAN
Kepada praktikan selanjutnya dianjurkan untuk lebih memahami prosedur
kerja praktikum agar dapat diperoleh interpretasi yang lebih akurat pada setiap
praktikum mendatang.
XI. DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/216931666/API-Gravity
https://www.bunkering.co.kr/bunker_spec/density_1.htm

11

DISTILASI ASTM D 86
I.

TUJUAN
Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan :
1. Mahasiswa dapat menentukan secara kuantitatif karakteristik trayek titik
didihh menggunakan unit distilasi secara laboratories, meliputi distilasi
atmosferik produk minyak bumi (Mogas, Avgas, Avtur, Kerosine, Gas Oil
dan produk lain sejenis)
2. Mahasiswa dapat menentukan Initial Boiling Point (IBP), adalah
pembacaan termometer pada waktu tetesan pertama kondensat jatuh dari
ujung tabung kondensor
3. Mahasiswa dapat menentukan End Point (EP) atau Final Boiling Point
(FBP), adalah pembacaan thermometer yang paling tingg (maksimal) yang
diperoleh selama pemmeriksaan

II. KESELAMATAN KERJA


1. Hati- hati bekerja menggunakan peralatan yang mudah pecah.
2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu
tegangan jaringan listrik yang ada.
III.

TEORI DASAR
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas)
bahan. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan
uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang
memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini
termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan
proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing
komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan
pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

Distilasi ASTM (American Society for Testing and Materials)

12

Distilasi ASTM dilaksanakan dalam suatu labu Engler. Pada distilasi ini, tidak
dipergunakan struktur tray maupun packing serta refluks yang ada merupakan
efek kehilangan panas (heat loss) pada struktur leher labu engler. Metode distilasi
ini paling banyak digunakan karena biayanya murah, lebih sederhana,
membutuhkan jumlah sample yang sedikit, serta waktu pengujian yang lebih
singkat dibandingkan distilasi TBP (kurang lebih 1/10 kali waktu pengujian TBP).
Distilasi ASTM dilakukan guna mengetahui kualitas produk (product quality
control). Beberapa metode distilasi ASTM adalah sebagai berikut.
ASTM Method D86
Metode distilasi ini digunakan untuk menguji motor gasoline, aviation gasoline,
aviation turbine, naphta, kerosine, diesel, distillate fuel oil dan produk-produk
yang serupa. Pengujiannya dilakukan pada tekanan atmosferis. Digunakan
termometer yang dipaparkan langsung dalam labu engler dan hasil pembacaannya
tidak ada koreksi stem.
ASTM method D216
Metode distilasi ini digunakan untuk menguji natural gasoline. Dilakukan pada
tekanan atmosferis.
ASTM method D1160
Metode distilasi ini digunakan untuk menguji produk migas fraksi berat yang
dapat diuapkan secara parsial maupun keseluruhan pada suhu maksimal 750 F
pada tekanan absolut hingga 1 mmHg dan dikondensasikan menjadi fase liquid
pada tekanan pengujian. Tekanan operasi pengujian berkisar antara 1-760 mmHg
absolut. Temperatur diukur dengan perangkat thermocouple.
ASTM method D2887
Metode ini merupakan metode simulasi distilasi yang dilakukan dengan gas
chromatography (GC). Metode ini merupakan metode yang paling sederhana yang
dapat melakukan analisis cut point dan boiling range fraksi hidrokarbon dengan
ketelitian tinggi.

Distilasi TBP (True Boiling Point)

Distilasi TBP dilakukan dalam sebuah kolom distilasi dengan 15 - 100 plates
(trays) teoritis dengan reflux ratio yang tinggi (5 : 1 atau lebih). Tingkat fraksinasi

13

yang tinggi pada pengujian ini memberikan distribusi komponen campuran yang
akurat. Kekurangan distilasi TBP adalah tidak adanya standadisasi alat dan
prosedur pengujian. Meskipun demikian, variasi antara laboratorium pengujian
yang ada hanya sedikit karena pemisahan komponen campuran dapat tercapai
dengan baik dengan pengujian yang dilakukan. Distilasi TBP ini dilakukan untuk
mengetahui % volume produk yang diperoleh dari cutting kurva berdasarkan cut
point produk yang dihaapkan.
Labu distilasi 125 mL bila
labu

kotor

(ada

karbon

PENYIAPAN
Distilasi EFV (Equilibrium
residu), Flash
bagian
Vaporization)
dasar labu
dibersihkan dengan cara
PERALATAN

Termometer (ASTM 7o
C atau ASTM 8o C)
dibakar
dengan
nyala
api
Distilasi EFV sangat identik dengan distilasi pada unit distilasi yang sebenarnya.
burner

Oleh karenanya hasil pengujian distilasi EFV ini dijadikan dasar penentuan
kondisi operasi. Pada pengujian distilasi EFV ini, terjadi kesetimbangan
vaporBak kondensor
disisi
Penyangga
labu.
Gelas ukur bersih dan
air, suhunya diatur
prosesskala
pengujian
Pasang liquid.
padaNamun
alatdemikian,
kering
0 s/d yang
100 menargetkan terjadinya
sesuai jenis contoh
pemanas
mL.
kesetimbangan vapor-liquid
tersebut memakan waktu yang yang
relatif akan
lebih lama
diuji.
dibandingkan metode pengujian yang lainnya. Metode ini juga bersesuaian
Bersihkan/dengan hilangkan
perhitungan secara flash (flash calculation method). Pasang
Distilasithermometer
EFV ini serapat
cairan
pada
tabung
mungkin
kedalam
labu
PEMASANGAN
kondensorberfungsi
dengan
cara
distilasi yang berisi contoh.
untuk
menentukan kondisi
operasi unit distilasi.
Ujung
bulb
thermometer
mengelap/
menyerap
PERALATAN
sejajar
dengan
lubang
dengan kolok
yang
diberi
Data hasil pengujian distilasi terdiri atas temperatur dan persen
recovery.
keluarnya
uap. Dari
kain

data tersebut dapat dibuat kurva distilasi yang mana kurva tersebutlah yang
Pasang labu
distiasidalam
berisi perancangan dan penentuan kondisi operasi proses distilasi.
digunakan
contoh dengan Ujung labu
Naikkan
atur
kedalam tabung
kondensor
Kurva distilasi
terbentuk oleh
kombinasi dan
data persen
volume terekoveri yang ada
penyangga
labu
serapat mungkin. Posisi
PENGUJIAN
labu tegak
sehingga
hingga
pas grafik
dengan
di absis
grafik,ppa
dan temperatur
pada ordinat
uap abu masuk kedalam
dasar labu diitilasi
tabung kondensor dalam
jarak 1 - 2 inchi

IV.

BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
Ukur contoh 1.
100Minyak
mL Tanah Pasang
gelas ukur
menggunakan gelas ukur
100
mL
pada ujung
b. Peralatan
100 mL, tuangkan
ke
kondensor
sebagai
1. Labu
Distilasi 125 mL
dalam labu distilasi
dan
penampung
pasang
thermometer
2. Gelas Ukur 100 mL & 10 mL
kondensat
yang sesuai
3. Thermometer 7o C atau 8o C
Condensor
Atur pemanasan 4.dari
IBP
Pemanas (Burner atau Elektrik)
samppai 5 % 5. volume
dalam waktu 60 70 detik
atau dengan kecepatan
KERJA
tetesanV.4LANGKAH
5 mL/menit.
Setelah IBP terbaca, gelas
ukur
digeser
sehingga
ujung
kondensor
menempel dinding gelas

Setelah FBP tercapai,


matikan pemanas an
labu dibiarkan dingin
kemudian
ukur
volume residu

Baca dan catat suhu


setiap kenaikan 10 %
volume

Hitung
%
volume
Losses
dengan
formula : Losses, % =
100
mL

(total
recovery + residu )
mL

Nyalakan
pemanas
dan
atur
kecepatannya
sehingga
mencapai
IBP
Atur pemanasan sehingga
95 % volume sampai FBP
(Final
Boiling
Point)
waktnya 3 5 menit. FBP
adalah suhu tertinggi yang
terbaca saat uji distilasi.

14

VI. HASIL PENGAMATAN


Sampel
: Solar
IBP (Initial Boiling Point)
: 155 oC
End point
: 370 oC
Total recovery
: 96 mL
Residu
: 3,5 mL
Losses = 100 mL (Total Recovery +
Residu)
(1)
= 100 mL (96 + 3,5) mL
= 0,5 mL

Kondensa
t (mL)
10
20
30
40
50
60
70
80
90
95

Suhu (
o

C)
221
251
268
280
295
308
321
335
355
369

VII.ANALISIS
Setelah dilakukan distilasi pada sampel minyak solar, pada suhu 155 oC
tetesean pertama hasil distilasi didapatkan. Data ini kemudian dicatat sebagai
IBP. Panas dari pemanas harus diatur agar kenaikan temperatur yang terbaca di
termometer tidak meningkat terlalu cepat namun perlahan. Hal ini untuk
mempermudah pengamatan dan pencatatan terhadap peningkatan tiap 10%
volume kondensat yang didapatkan.
Volume kondensat akan terus meningkat seiring berkurangnya fraksi
ringan yang terkandung dalam minyak solar yang sedang didistilasi. Saat
kondensat telah mencapai 80% volume, suplai panas dari pemanas mulai
sedikit ditingkatkan agar mampu menguapkan sampel yang mulai didominasi
oleh fraksi-fraksi yang lebih berat dan juga residu.
Saat kondensat mencapai 90-95% volume, peningkatan suhu mulai yang
terbaca pada termometer mulai melambat. Saat mencapai 96% volume
kondensat, suhu pada thermometer mulai menurun dan merupakan tetesan
terakhir kondensat. Residu yang tersisa tidak dapat didistilasi lagi. Tetesan
terakhir kondensat tersebut didapat pada suhu 370 oC dan merupakan End Point
dari minyak solar tersebut. Mengacu pada Spesifikasi BBM jenis minyak solar
48 dari Dirjen Migas bahwa 90% volume penguapan dengan metode ASTM D

15

86 maksimal pada suhu 370 oC sehingga pada percobaan ini sampel yang diuji
memenuhi spesifikasi tersebut.
Total Recovery yaitu kondensat hasil distilasi yang didapat sebanyak 96
mL sedangkan Residu yang tersisa adalah 3,5 mL. Hasil penjumlahan antara
Total Recovery dan Residu (99,5 mL) tidak melebihi volume awal sampel.
Hasil dapat menjadi indikasi apakah terjadi kebocoran dalam Kondensor. Jika
hasil penjumlahan Total Recovery dan Residu lebih dari volume awal sampel
dicurigai terdapat air pendingin dalam kondensor yang terikut. Berdasarkan
perhitungan losses (1) terdapat losses 0,5 mL. Losses ini dapat disebabkan
tertinggalnya kondensat dalam kondensor maupun kondisi peralatan dalam
kondensor.
VIII. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum, kesimpulan yang dapat diambil ialah
sampel yang diuji dengan metode ASTM D86 ini yaitu minyak solar memiliki
trayek didih dari 155 oC sebagai IBP hingga 370 oC sebagai End Point atau
FBP.

IX. SARAN

16

Dalam praktikum yang telah praktikan laksanakan tentunya tidak jauh dari
kesalahan-kesalahan yang dikarenakan kurang memahaminya prosedur serta
kemampuan analisa data yang jauh dari sempurna dalam melakukan praktikum
kali ini. Selain itu, kurang jelinya praktikan dalam memahami rangkaian peralatan
yang sangat berpengaruh terhadap data yang didapatkan maka dari itu diharapkan
bagi praktikan untuk dapat memehami prosedur praktikum mendatang sehingga
bisa mendapatkan data yang akurat serta meningkatkan kemampuan analisis untuk
mendapatkan kesimpulan yang benar.

X.

DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/doc/73113989/Distilasi-Astm-Fix
https://www.academia.edu/8816926/DISTILASI_ASTM_D-86

17

ASTM COLOUR, ASTM D 1500


I.

TUJUAN
Setelah melakukan praktikum ini diharapkan :
1. Mahasiswa dapat mencakup penetapan secar visual dari warna produk
minyak seperti minyak pelumas, heating oil, diesel fuel oil dan petroleum
wax

II. KESELAMATAN KERJA


1. Hati- hati bekerja menggunakan peralatan yang mudah pecah.
2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu
tegangan jaringan listrik yang ada.
III. TEORI DASAR
ASTM D1500 adalah nomor tunggal, dimensi, skala satu di enam belas
langkah (0,5-8,0 unit dengan penambahan sebesar 0,5 unit). Pembanding
Visual dapat mencapai resolusi 0,5 unit, otomatis Lovibond PFX dan PFXi
instrumen mencapai resolusi 0,1.
Untuk memenuhi spesifikasi, panjang jalan 33mm harus digunakan.
ASTM D1500 menggantikan 12-langkah D155 NPA (National Petroleum
Association) skala pada tahun 1960.
Produk minyak bumi lainnya yang tidak termasuk dalam ruang lingkup dari
ASTM D1500 seperti bensin undyed, white spirit, lilin minyak dan gas dapat
dinilai dengan menggunakan Saybolt uji ASTM D156 atau IP (Institute of
Petroleum) 17. Untuk bensin penerbangan, lihat cakram warna Lovibond
4/78 dan 4/79.
ASTM D1500 cakram Warna 4/81 dan 4/82 juga tersedia untuk memeriksa
warna F16 solar sebelum loading. Cakram sangat penting dimana bahan bakar
diambil onboard, di lokasi yang terpencil di mana tidak ada fasilitas
laboratorium. Cakram digunakan dengan Lovibond 2000 + komparator dan
W680 / OG sel / 33mm dan menutupi rentang 1-5 (4/81) & 4/82 (0,5-4,5).
IV. BAHAN DAN PERALATAN
18

a. Bahan
1. Solar
b. Peralatan
1. Colorimeter, terdiri dari sumber cahaya, gelas warna standard,
housing wadah contoh tertutup.
2. Wadah contoh, silinder gelas bening, ID 32,5 33,4 mm; tinggi dalam
120 130 mm; tebal dinding 1,2 2,0 mm.\
V. LANGKAH KERJA
Hubungkan stop kontak pada 220 volt, switch pada alat
diubah ke posisi On
Isikan contoh uji ke dalam tabung tengah sampai tanda
batas
Hubungkan stop kontak pada 220 volt, switch pada alat
diubah ke posisi On
Bandingkan warna contoh terhadap warna standar dengan
memutar regulator warna, sehingga diperoleh warna yang
sama dan catat hasilnya
Switch pada alat diubah ke posisi Of

VI. HASIL PENGAMATAN


Sampel
: Solar
Aquades 1
: 2 (warna lebih gelap)
Aquades 2
: 1,5
Warna solar: L2 warna ASTM
VII.ANALISIS
Laporan hasil pengujian sebagai warna ASTM, misalnya 7,5 warna ASTM
Bila warna contoh terletak diantara dua warna, lporan hasil diambil warna yang
lebih gelap dengan menggunakan letter L, misalnya L 7,5 warna ASTM
Bila diperoleh yang gelap yaitu diatas 8, laporkan D8 warna ASTM.
VIII. KESIMPULAN
19

Dari praktikum ini dapat disimpulkan :


Warna solar yang diuji L2 warna ASTM

IX. SARAN
Dalam praktikum yang telah praktikan laksanakan tentunya tidak jauh dari
kesalahan-kesalahan yang dikarenakan kurang memahaminya prosedur serta
kemampuan analisa data yang jauh dari sempurna dalam melakukan praktikum
kali ini, maka dari itu diharapkan bagi praktikan untuk dapat memehami
prosedur praktikum mendatang sehingga bisa mendapatkan data yang akurat
serta meningkatkan kemampuan analisis untuk mendapatkan kesimpulan yang
benar.

X. DAFTAR PUSTAKA
http://lovibondcolour.com/colour-scale/astm-colour-astm-d-1500-astmd-6045-iso-2049-ip196
Laporan Praktik Kerja Lapangan.2012.Instrumentasi Optis Berbasis
Komputer untuk Pengujian Mutu Solar di Laboratorium Unit Produksi

Pelumas, PT.Pertamina (Persero) Surabaya


Subardjo.1985. Melacak Mutu Minyak Pelumas. Lembaran Publikasi
Lemigas. PPTMGB Lemigas P-73:Jakarta

SAYBOLT COLOR
I.

TUJUAN
Setelah melaksanakan praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat menentukan
warna dari refined oil seperti undyed motor dan aviation gasoline, jet fuel,
naptha, petroleum wax.

II. KESELAMATAN KERJA


a. Hati-hati bekerja menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.
b. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.
20

III. TEORI DASAR


Saybolt Color atau warna saybolt adalah angka yang menyatakan kedalaman
kolom dimana warnanya dibandingkan dengan gelas standard dan skala angka
adalah +30 (warna paling terang) dan -16 (warna paling gelap).
Tes Saybolt Warna digunakan untuk pengendalian kualitas dan identifikasi
produk tujuan pada produk olahan memiliki warna ASTM 0, 5 atau kurang.
Produk dalam kisaran ini mencakup undyed bermotor dan penerbangan bensin,
bahan bakar jet, nafta, minyak tanah dan lilin minyak bumi. Warna merupakan
karakteristik kualitas penting bagi banyak produk, dan juga dapat digunakan
untuk mendeteksi kontaminasi produk. Saybolt Chromometer mengukur warna
dengan membandingkan kolom sampel terhadap cakram warna standar.
IV. BAHAN DAN PERALATAN
a. Bahan
Pertasol CC 100 mL
b. Peralatan
Saybolt Chrometer terdiri dari tabung contoh dan standar.
Light Source (lampu standar)
Standar warna
Optical System
V. LANGKAH KERJA

Tutup kerangan pada


tabung contoh(kanan)
jika akan mengisi contoh
uji.

Isi contoh uji ke dalam


tabung contoh sampai
penuh (tanda angka 20).

Hugungkan lampu
penerang dengan Power
Supply Connection stop
kontak 220 Volt

Bandingkan warna
contoh dengan
mengurangi perlahanlahan contoh dari
kerangan di tabung
contoh.

Ada
ukuran standar
Ada tiga
tiga ukuran
standar
warna yaitu: 0,5 ; 1,0;
dan 1,5
Pilih standar warna yang
dipergunakan mendekati
warna contoh uji.

Baca dan catat angka


pada tabung uji dan
ukuran standar warna
dimana diperoleh warna
yang sama

Konversikan hasil yang


diperoleh pada butir (7)
pada tabel yang
menempel di alat.

Setelah selesai switch


diubah ke posissi Of
pada Power Supply
Connection
Lepaskan
kabel listrik
listrik
Lepaskan kabel
dari stop kontak 220 Volt

Keluarkan contoh dari


tabung contoh dan
bersihkan.

21

VI. HASIL PENGAMATAN


Bahan (mL)
Pertasol

Depth of Oil Standar warna


(in)
CC 8,25 in

One

Saybolt Color
+18

100 mL
VII.ANALISIS
Pada praktikum kali ini praktikan menggunakan contoh Pertasol CC
sebanyak 100 mL. Pertasol CC sebanyak 100 mL dimasukkan pada salah satu
vertical glass tube(tabung) contoh pada Saybolt Chromometer kemudian sinar
lampu standard ditembuskan melalui dua vertikal glass tube tersebut. Warna
dari Pertasol ditentukan dengan membuka kran tabung contoh sembari kita
cocokkan dengan standar warna yakni 0,5 ; 1,0 dan 1,5 dengan metode warna
sinar yang keluar dari kedua vertikal glass tube dibandingkan dengan cara
mengatur tinggi kolom Pertasol sampai level yang sesuai pada angka warna
yang ditembuskan melalui vertikal tube standard. Warna yang hampir sama
diperoleh pada kedalaman 8,25 in dengan standar warna One(1). Kemudian
data yang diperoleh dicocokkan pada tabel Saybolt Colors Corresponding to
Depths of Oil diperoleh nomor warna +18.
VIII. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, praktikan mendapatkan data hasil
perolehan praktikum. Setelah data dianalisis praktikan menyimpulkan bahwa,
pengujian Color Saybolt ASTM D 156 merupakan salah satu metode uji untuk
memenuhi syarat kebersihan dari suatu produk migas yang pada dasarnya
bertujuan untuk menentukan warna minyak sebelum minyak diberi warna.
IX. SARAN
Dalam praktikum yang telah praktikan laksanakan tentunya tidak jauh dari
kesalahan-kesalahan yang dikarenakan kurang memahaminya prosedur serta

22

kemampuan analisa data yang jauh dari sempurna dalam melakukan praktikum
kali ini, maka dari itu diharapkan bagi praktikan untuk dapat memehami
prosedur praktikum mendatang sehingga bisa mendapatkan data yang akurat
serta meningkatkan kemampuan analisis untuk mendapatkan kesimpulan yang
benar.
X. DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/222135523/Ke-Rosine
https://www.google.com

23

SMOKE POINT ASTM D 1322


I.

TUJUAN
Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:
1. Mahasiswa dapat menetapkan titik asap dari kerosene dan avtur.

Langkah Persiapan
Sumbu Lampu

Langkah Kerja

II. KESELAMATAN KERJA


1. Hati hati bekerja menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.
2. Hati hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.
1. Lakukan ekstrasi terhadap sumbu
Smoke Point dengan campuran
methanol dan Toluene 1 : 1 (+- 25
kali ekstrasi).
III. TEORI DASAR

1. Pasang sumbu bersih (panjang


tidak kurang dari 125 mm) ke dalam
lubang sumbu.

Smoke point adalah indikasi kualitas bahan bakar untuk penerbangan


(Avtur) dan Kerosin. Pengujiannya merefer ke ASTM D1322 dan atau ISO
2. Potong dengan rapi ujung sumbu
3014 dengan alat yang namanya Smoke Lamp
Jika
bahan
bakar
tersebut
+-Test.
6 mm
dari
lubang
sumbu.
dibakar, maka pada tinggi api tertentu akan mengeluarkan asap.
2. Keringkan sumbu dalam oven
Maka
point
yang sebenarnya
menunjukkan sebagai tinggi nyala api
pada suhu
100 smoke
110oC,
selama
30
maksimummenit.
dalam millimeter dimana kerosin3.atau
avtur sumbu
terbakardan
tanpa
timbul
Rendam
tabung
asap apabila
sumbu ke dalam contoh uji sampai
seluruh sumbu basah.

ditentukan dalam alat uji baku pada kondisi tertentu.

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
1. Kerosin
b. Peralatan
1. Lampu smoke point.
2. Sumbu lampu
3. Pipet atau buret

4. Masukkan 20ml contoh uji


kedalam wadah contoh uji (candle),
kemudian pasang tabung sumbu ke
candle dan pasangkan pada alat
smoke point.
5. Nyalakan dan atur tinggi nyala api
+- 10 mm, biarkan menyala +- 5
menit. Kemudian naikkan dengan
memutar candle sedemikian
sehingga nyala api
berjelaga/berasap.
6. Turunkan dengan memutar candle
sedemikian sehingga jelaga/asap
tepat hilang.

V. LANGKAH KERJA

7. Baca dan catat ketinggian nyala


api tepat saat tidak mengeluarkan
jelaga/asap sebagai titik asap
(smoke point), sampai ketelitian
0,5mm.

24
8. Untuk mencegah kesalahan
pembacaan pada skala, maka ulangi
pekerjaan ini sampai tiga kali bila
perbedaannya lebih dari 1,0 mm.

VI. HASIL PENGAMATAN

25

Sample: Avtur

Percobaa
n
I
II
III

Tinggi Smoke Point


(mm)
23
22
26

Rata-rata

23+ 22+ 26
=23,33 mm
3

VII.ANALISIS
Berdasarkan hasil pengamatan diatas telah ditetapkan tinggi smoke point
dari sample avtur saat asap sudah tidak terlihat atau hilang. Hasil percobaan
tinggi smoke point tidaklah konstan. Percobaan I, percobaan II, percobaan III
secara berurut mempunyai tinggi smoke point 23, 22, 26 dan kemudian diratarata kan semua percobaan tinggi smoke point yang mempunyai nilai 23.33 mm.
VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan, untuk menetapkan smoke
point avtur yang mempunyai kualitas baik maka harus mempunyai titik asap
yang tinggi, sehingga nyala api bahan bakar avtur ini dapat dibesarkan dengan
kecenderungan untuk memberikan asap yang kecil atau sampai asap tidak
terlihat dan kemudian ditentukan ketinggian smoke point avtur sesuai atau
mendekati nilai smoke point sesungguhnya.
IX. SARAN
1. Diperlukan konstrasi tinggi pada saat menentukan tinggi smoke point agar
menghasilkan data yang valid.
2. Berhati-hati pada saat menggunakan peralatan lampu smoke point dan
sumbu lampu
X. DAFTAR PUSTAKA
https://www.herirustamaji.files.wordpress.com/2011/12/lec5_uji-minyak-bumidan-produknya.pdf

COPPER STRIP CORROSION TEST


I.

TUJUAN
Metode pengujian ini mencakup penentuan korosif pada tembaga bensin
penerbangan, penerbangan bahan bakar turbin, bensin otomotif, pembersih

26

pelarut, kerosine, bahan bakar diesel, bahan bakar minyak destilat, lubricationg
minyak, dan bensin naturan atau hidrokarbon ther memiliki tekanan uap tidak
lebih besar dari 124 kPa (18 psi) pada 37,8 oC
II. KESELAMATAN KERJA
a. Hati-hati dalam menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.
b. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.
III. TEORI DASAR
Copper Strip Corrosion adalah metode kualitatif yang digunakan untuk
menentukan tingkat korosi produk minyak bumi. Dalam tes ini, strip tembaga
dipoles ditangguhkan dalam produk dan efeknya diamati.
Metode ini cocok untuk pengaturan spesifikasi, alat kontrol kualitas internal
dan pengembangan dan penelitian tentang hidrokarbon aromatik industri. Hal
ini juga mendeteksi adanya zat korosif yang berbahaya, seperti senyawa asam
atau sulfur, yang dapat menimbulkan korosi peralatan. Nilai tes ini dilaporkan
dalam satuan SI.
Korosi tembaga strip juga dikenal sebagai strip uji tembaga.
Tes ini dapat digunakan untuk pengujian bensin, pelarut, bensin alam, minyak
tanah, solar, bahan bakar minyak suling dan minyak pelumas, antara produkproduk lainnya, dengan menggunakan uji mandi. Pada suhu tinggi, strip
tembaga yang telah dipoles direndam dalam sampel, biasanya 30 ml. Strip
kemudian dihapus dan diuji untuk korosi dan sejumlah klasifikasi diberikan.
Jumlah tersebut berkisar dari 1 sampai 4 setelah dibandingkan dengan standar
korosi tembaga strip ASTM dilakukan.
Ada beberapa metode dan tes yang tersedia. Salah satunya adalah mandi bom tes,
7151K59. Dalam tes ini bak air termostatik dikendalikan digunakan untuk
membenamkan tembaga strip bom uji korosi. Hal ini harus dilakukan pada
kedalaman yang tepat sesuai persyaratan ASTM. Tes ini memiliki beberapa
spesifikasi yang diidentifikasi dengan itu:

Pengujian hingga empat strip tembaga pada suatu waktu


Suhu maksimum 221 F ( 1 F) / 105 C ( 0,5 C)
Menggunakan mandi lima galon

27

Sesuai dengan ASTM D 130; IP 154; FSPT DT-28-65; ISO 2160; FTM
791-5325 dan 51.759 DIN

Metode lain adalah dengan menggunakan mandi tabung reaksi, 7151K89 dan
K92. Fitur dari tes ini adalah:

Pengujian hingga 16 sampel pada suatu waktu


Mikroprosesor kontrol
Suhu maksimum 374 F ( 2 F) / 190 C ( 1 C)
Menggunakan mandi lima galon dan penggunaan cairan air atau
mentransfer pemanas

Hal ini dapat digunakan untuk menguji sampel yang tidak memerlukan bom
tes. Ini termasuk bahan bakar diesel, bensin otomotif, bahan bakar minyak,
pelarut Stoddard, minyak tanah, dan minyak pelumas

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
Pertasol
b. Peralatan
Tabung reaksi(Test tube)
Bath, dengan suhu 50C 1C (122 2F)
Copper strip corrosion test bomb, dari stainless steel, mampu menahan
tekanan uji 100 psi (689 kPa)
Termometer, jenis ASTM 12C (12F) atau IP 64C (64F)
Polishing vise, sebagai penjepit copper strip
V. Langkah Kerja

28

a. Persiapan Copper strip


Bersihkan dengan cara
menggosol ke enam sisi
lempeng tembaga
(Copper Strip)
menggunakan silikon
carbide grid

Cuci dengan iso-oktana

Gosok lagi dengan serbuk


silikon carbide (150
mesh) di atas permukaan
pelat yang bersih dengan
alas kain cotton yang
telah dibasahi dengan
beberapa tetes isooktana.

b. Langkah kerja

29

Laporkan nomor warna


Copper Strip setelah
dibandingkan warnanya
terhadap Copper Strip Color
Standard.

Masukkan 30 mL contoh ke
dalam test tube.

Kosongkan test tube dari


contoh uji, kemudian dengan
menggunakan penjepit,
angkat Lempeng Tembaga
dan cuci dengan iso-oktana,
lalu keringkan.

Masukkan lempengan
tembaga yang telah
dibersihkan ke dalam test
tube yang telah berisi contoh.

Rendam test tube berisi


contoh dan lempengan
tembaga pada water bath
yang telah diatur suhunya
sesuai jenis contoh yang
diuji. Lamanya perendaman
sesuai dengan contoh yang
diuji. (50 C selama tiga jam)

Setelah waktunya tercapai,


angkat test tube dari water
bath.

VI. Hasil Pengamatan


Sample Uji

Warna

Copper

Pertasol(3/4 dari test tube)

Sebelum dipanaskan
Warna Dasar

Strip Warna

Copper

Sebelum dipanaskan
1A

VII.Analisis
Pengujian Copper Strip Corrosion pada awalnya dilakukan dengan
pembersihan Copper Strip dengan silikon carbide 150 mesh. Setelah dilakukan
pembersihan warna dari copper strip menunjukan warna dasarnya kemudian
copper strip dimasukkan ke dalam sample uji dan dipanaskan pada bath dengan
suhu (50 C 1C) konstan selama tiga jam. Hasil menunjukkan bahwa warna
Copper Strip berubah dari warna dasr menjadi 1a.
VIII. Kesimpulan
Dari praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan korosi lempengan
tembaga terhadap Pertasol. Dari data yang telah didapat danditelaah, praktikan

30

Str

menyimpulkan bahwa tingkat korosivitas dari pertasol masih menunjukkan


dalam kategori nomor 1A yang berarti regular tidak korosif.
IX. Saran
Kepada praktikan selanjutnya dianjurkan untuk lebih memahami prosedur
kerja praktikum agar dapat diperoleh interpretasi yang lebih akurat pada setiap
praktikum mendatang.
X. Daftar Pustaka
http://www.koehlerinstrument.com/products/K25200.html
http://corrosionjournal.org/doi/abs/10.5006/1.3294376

31

POUR POINT, ASTM D 97


I.

TUJUAN
Metode uji ini digunakan untuk produk minyak bumi (minyak solar, pelumas,
minyak diesel dan minyak bakar). Metode ini sesuai untuk black specimens,
cylinder stock dan fuel oil yang tidak didistilasi

II. KESELAMATAN KERJA


1. Hati- hati bekerja menggunakan peralatan yang mudah pecah.
2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.
III. TEORI DASAR
Titik tuang adalah titik temperatur dimana mulai terbentuk kristalisasi
paraffin yang dapat menyumbat saluran pelumas. Titik tuang ini dipengaruhi
oleh derajat ketidak jenuhan (angka iodim), semakin tinggi ketidak jenuhan
maka titik tuang semakin rendah. Selain itu juga dipengaruhi oleh panjang
rantai karbon, semakin panjang rantai karbon semakin tinggi titik tuang.
Pengujian untuk mengetaui titik tuang ini dapat dilakukan dengan
menggunakan alat Automatic Pour Point Comparator ASTM D 97.

IV. BAHAN DAN PERALATAN


c. Bahan
2. Pelumas
3. Minyak solar
d. Peralatan
1. Test jar, bentuk silinder gelas bening, dasar flat, diameter luar 33,2
34,8 mm; tinggi 11,5 12,5 mm; diameter 30,0 32,4 mm; tebal
dinding tidak lebih besar dari 1,6 mm. Tabung dapat menampung
contoh dengan ketinggian 54 3 mm dari dasar bagian dalam
2. Termometer, spesifikasi E1
Temperature

Thermometer Number

Thermometer
High cloud and our

Range
-38 to +50 OC

ASTM
5C

IP
1C

Low cloud and pour

-80 to +20 OC

6C

2C

Melting point

+32 to +127 OC

61C

63C

32

3. Bak Pendingin
Bath

Bath Temperature

Sample Temperature

1
2
3
4
5

Setting, oC
0 1,5
-18 1,5
-33 1,5
-51 1,5
-69 1.5

Range, oC
Start to 9
9 to -6
-6 to -24
-24 to -42
-42 to -60

V. LANGKAH KERJA

Tuangkan contoh
ke test jar sampai
tanda batas.

Pasangkan
thermometer
tercelup pada
contoh uji

Tambahkan sebesar 3
oo
C pada hasil
pengamatan diatas
laporkan sebagai
point
VI. HASILpour
PENGAMATAN
Sampel
Pour Point ( +3 oC)

Lanjutkan sampai
minyak tidak
menunjukan gerakan
ketika test jar
dipegang pada posisi
horizontal selama 5
detik, amati
:termometer
Base Oil HVIdan
95 catat
o
o
: -11 C + 3 C
: -8 oC

Lakukan
pendinginan secara
bertahap dimulai
dari suhu paling
hangat

Setiap penurunan suhu


3 ooC, lakukan
pengamatan apakah
masih bisa
mengalir/bergerak
ketika test jar sedikit
dimiringkan

VII.ANALISIS
Pour point atau titik tuang merupakan suhu terendah dimana minyak
masih dapat mengalir. Pada praktikum ini, sampel Base Oil HVI 95 mula-mula
ditaruh pada test jar pertama dengan temperatur awal yaitu temperatur ruangan.
Tiap bath pendingin memilik range suhu pendinginan yang berbeda. Pada saat
melakukan pendinginan, suhu yang terbaca pada termometer tidak boleh

33

mencapai batas bawah range suhu tiap-tiap bath. Sebelum mencapai batas
suhunya, test jar dipindahkan ke bath pendingin berikutnya.
Setelah melakukan pengamatan, sample berhenti mengalir saat
dimiringkan pada bath ke 3 tepatnya pada suhu -11 oC. Dalam pelaporan pour
point, suhu hasil pengamatan ditambah 3 oC untuk keperluan konsumen. Dalam
pemakaiannya, lube base oil dapat berada pada kondisi temperatur yang sangat
rendah. Penambahan 3 oC sebagai batas agar penggunaan lube base oil tidak
sampai membeku pada pour point hasil pengamatan di laboraorium.
VIII. KESIMPULAN
Dari praktikum ini dapat disimpulkan :
Pour point sebagai salah satu parameter mutu yang penting dalam
minyak pelumas.
Suhu yang dilaporkan dalam pembacaan termometer sebagai pour point
harus ditambah 3 oC
Base oil HVI 95 berhenti mengalir saat dimiringkan pada suhu -11 oC
Suhu yang dilaporkan sebagai pour point Base Oil HVI 95 adalah -8 oC

IX. SARAN
Dalam praktikum yang telah praktikan laksanakan tentunya tidak jauh dari
kesalahan-kesalahan yang dikarenakan kurang memahaminya prosedur serta
kemampuan analisa data yang jauh dari sempurna dalam melakukan praktikum
kali ini, maka dari itu diharapkan bagi praktikan untuk dapat memehami
prosedur praktikum mendatang sehingga bisa mendapatkan data yang akurat
serta meningkatkan kemampuan analisis untuk mendapatkan kesimpulan yang
benar.

X. DAFTAR PUSTAKA
http://faisalnasution7612.blogspot.com/2013/04/penentuan-titik

bekutitik-tuang-dan.html
http://www.subsea.org/products/specification.asp?prod=4846

34

35

FLASH POINT ABEL, IP 170


I.

TUJUAN
Setelah melakukan praktikum ini diharapkan:
1. Mahasiswa dapat menentukan flash point close up dari produk-produk
minyak bumi yang mempunyai flash point antara 0oF (-18oC) dan 160oF
(71oC).

II. KESELAMATAN KERJA


1. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.
2. Hati-hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.
III. TEORI DASAR
Titik nyala (flash point) adalah suhu terendah di mana uap minyak bumi
dan produknya dalam camprannya dengan udara akan menyala jika dikenai
nyala uji (test flame) pada kondisi tertentu.
Contoh uji ditempatkan dalam mangkuk pengujian dan ditutup, kemudian
dipanaskan perlahan dengan kecepatan kenaikan suhu yang tetap. Suatu
sumber nyala dimasukkan kedalam mangkuk uji pada interval waktu tetap.
Flash point diambil sebagai suhu terendah dimana penggunaan sumber nyala
mengakibatkan uap diatas contoh uji menyala.
IV. BAHAN DAN PERALATAN
a. Bahan
1. Minyak Tanah
b. Peralatan
1. Flash Point Abel apparatus
2. Termometer
3. Bath Pemanas

36

V. LANGKAH KERJA
VI. KETELITIAN

Metode A:
Untuk minyak yang
mempunyai flash
point 0 65oF (-30
18,5oC):

Metode B:
Untuk minyak yang
mempunyai flash
point 66 160oF:

1. Isi water bath setinggi 1,5 inch


dengan campuran etyene glycol
dan air (50:50).

1. Isi water bath dengan air dan


panaskan dengan kecepatan
kenaikkan temperatur tetap 2
2.5oF per menit.

Dinginkan bath sampai -16oF atau


paling sedikit 16oF dibawah FP-nya.

2. Atur temperatur water bath


permulaan test 130oF.

3. Dinginkan contoh sampai 40oF


teruskan pendinginan sampai -30oF
atau paling tidak 30oF dibawah
perkiraan flash pointnya.

3. Atur temperatur contoh antara


32 50 oF

2.

4. Sambil diaduk dengan kecepatan


kira-kira 30rpm, panasi alat bagian
luarnya sehingga kenaikkan
temperatur 1.5 3oF per menit.

4. Bila temperature contoh


mencapai 66oF mulailah
dilakukan test dengan
penyalaan api secara pelanpelan dan teruskan penyalaan
tiap kenaikan 1oF.

5. Apabila temperature contoh


mencapai -16oF atau 16oF dibawah
perkiraan flash pointnya, maka
mulailah lakukan uji. Penyalaan api
secara pelan-pelan dan teruskan
untuk tiap-tiap kenaikan 1oF.

5. Catat temperatur contoh


pada saat api menyambar uap
minyak sebagai Flash Pointnya.

6. Catat temperatur pada saat api


menyambar uap minyak sebagai
Flash Point.

37

1. Repeability
2. Reproducibility

: 2oF (1.0 oC)


: 3oF (1.5 oC)

VII.HASIL PENGAMATAN
Sampel : Minyak Tanah 30mL
Pengamatan dimulai dari suhu 28oC sampai terbentuk Flash Point:
Suhu

Keterangan (Flash

(oC)
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
39.5

Point)
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Belum Terbentuk
Terbentuk

VIII. ANALISIS
Berdasarkan data pengamatan diatas, diamati suhu yang dimulai dari 28 oC
sampai terbentuknya Flash Point pada contoh uji Minyak Tanah 30mL. Selama
diamati, setiap kenaikan 1oC dilakukan pengecekkan apakah terjadi Flash Point
atau tidak pada alat Flash Point Abel apparatus. Sehingga tepat pada suhu
terendah minyak tanah (30mL) yaitu 39.5oC flash point terbentuk.
IX. KESIMPULAN
Produk-produk minyak bumi mempunyai flash pointnya masing-masing
yang berkisar antara -18oC dan 71oC. Flash point akan terbentuk ketika
dipanaskan contoh uji oleh sumber nyala api dengan kecepatan kenaikan suhu
yang tetap, sehingga selama diamati pada suhu terendah flash point diatas
contoh uji akan terbentuk atau menyala.
X. SARAN

38

1. Diperlukan konsentrasi tinggi pada saat mengamati kenaikan suhu untuk


menentukan Flash Point.
2. Mengatur sumber nyala api dengan tepat sampai warna biru.
3. Hati-hati pada saat menggunakan peralatan Flash Point Abel apparatus.
XI. DAFTAR PUSTAKA
https://www.herirustamaji.files.wordpress.com/2011/12/lec5_uji-minyak-bumidan-produknya.pdf

39

REID VAPOUR PRESSURE (RVP), ASTM D 323


I.

TUJUAN
Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:
1. Mahasiswa dapat menetapkan vapor pressure dari gasoline, crude oil
yang mudah menguap dan produk-produk lain yang mudah menguap.

II. KESELAMATAN KERJA


1. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.
2. Hati hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.
III. TEORI DASAR
Uji tekanan uap reid (Reid Vapor Pressure-RVP, ASTM D 323-90)
dikenakan kepada bensin, minyak mentah yang volatil dan produk minyak
bumi lainnya yang volatil. RVP adalah tekanan mutlak pada suhu 37,8oC
(100oF) dalam psi atau kPa.
Vapor pressure merupakan sifat fisika yang sangat penting dari cairan yang
mudah menguap. Vapor pressure secara kritis sangat penting baik mogas
maupun avgas, karena mempengaruhi starting, warm-up dan kecenderungan
terjadinya vapor lock karena temperature operasi yang tinggi atau pada daerah
ketinggian. Maksimum vapor pressure dibatasi untuk gasoline karena secara
legal dianjurkan dalam beberapa daerah sebagai ukuran untuk control polusi.
Liquid chamber diisi dengan contoh yang telah didinginkan, kemudian
dipasangkan pada Vapour Chamber. Rangkaian peralatan tersebut kemudian
direndam dalam penangas pada temperature 37,8 oC (100 oF), dan setiap
interval waktu tertentu dilakukan pengocokan, sampai teramati tekanan yang
tetap. Hasil pembacaan pada pressure gage setelah dikoreksi dilaporkan
sebagai RVP.
IV. BAHAN DAN PERALATAN
a. Bahan
1. Mogas (Bensin)
b. Peralatan
40

1. Vapor chamber, Liquid chamber dan Pressure gauge


2. Tempat pendingin (almari pendingin)
3. Penangas Air (Water Bath)
V. LANGKAH KERJA

1. Bersihkan Air
Chamber dan
Gasoline Chamber
8. Apabila penunjuk
manometer sudah
konstan laporkan
sebagai RVP contoh.

2. Panaskan
water bath
sampai suhu
100oF constant

7. Rendam ke dalam
water bath pada suhu
100oF selama 20 30
menit, kemudian setiap
5 menit diangkat lalu
dikocok selama 2
menit.

3. Rendam Air
Chamber pada water
bath suhu 100oF
paling sedikit 10
30 menit awal.

4. Dinginkan
contoh dan
gasoline chamber
dalam keadaan
tertutup hingga
suhu 32 40oF

6. Pasangkaran
gasoline chamber
pada air chamber
dan pressure
gauge
5. Isikan contoh
kedalam gasoline
chamber hingga
penuh.

Range

Repeatability
kPa
psi

Procedure
A

kPa

Psi

Gasoline
B

35 - 100

5 15

3.2

0.46

Gasoline
A
A
C
D

35 - 100
0 35
110 - 180
>180

5 15
05
16 26
>26

1.2
0.7
2.1
2.8

0.17
0.1
0.3
0.4

50

0.7

0.1

Aviation
Gasoline

VI.

KETELI
TIAN

41

Range

Repeatability
kPa
psi

Procedure
A

kPa

Psi

Gasoline
B

35 - 100

5 15

5.2

0.75

Gasoline
A
A
C
D

35 - 100
0 35
110 - 180
>180

5 15
05
16 26
>26

4.5
2.4
2.8
4.9

0.66
0.35
0.4
0.7

50

1.0

0.15

Aviation
Gasoline

VII.HASIL PENGAMATAN

VIII.

ANALISIS
Berdasarkan
data pengamatan diatas, untuk percobaan pertama air chamber dan gasoline
chamber dikocok 2 menit dan direndam 30 menit yang mempunyai tekanan
awal yaitu 7,6 psi. Kemudian untuk langkah selanjutnya air chamber dan
gasoline chamber dikocok 2 menit dan direndam dalam water bath diangkat
dari water bath setiap 3 menit. Pada percobaan kedua tekanan tetap sama
(stabil) yaitu 7,6 psi. Setelah dilakukan percobaan ke tiga sampai lima, tekanan
berubah dan menjadi konstan atau stabil yaitu dengan nilai RVP 8 psi. Maka
nilai 8 psi ini lah yang ditentukan sebagai Reid Vapor Pressure.

42

IX. KESIMPULAN
Terdapat beberapa produk-produk minyak mempunyai vapor pressure
yang mudah menguap. Gasoline mempunyai nilai RVP yang mudah menguap.
Berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan, gasoline atau bensin
mempunyai nilai RVP yang stabil atau konstan yaitu 8 psi. Akan tetapi RVP
tidak sama dengan tekanan uap sampel yang sesungguhnya karena terjadinya
sedikit penguapan pada sampel dan karena adanya uap air dan udara dalam
ruangan.
X. SARAN
1. Hati-hati pada saat melakukan pengocokkan air chamber dan gasoline
chamber.
2. Lakukan praktikum sesuai prosedur dan berhati-hati.
XI. DAFTAR PUSTAKA
https://www.herirustamaji.files.wordpress.com/2011/12/lec5_uji-minyak-bumidan-produknya.pdf

43

FREEZING POINT, ASTM D 2386


I. TUJUAN
Setelah melakukan praktikum ini diharapkan Mahasiswa dapat menetapkan
suhu terendah pada saat Kristal hidrokarbon padat terbentuk dalam bahan bakar
Avtur.
II. KESELAMATAN KERJA
1. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.
2. Hati-hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.
III. TEORI DASAR
Titik Beku (Freezing Point) adalah suhu terendah dimana fuel tetap bebas dari
kristal HC, Freezing point dari fuel harus lebih rendah dari minimum suhu
operasional tangki atau juga temperature dimana Kristal hidrokarbon terbentuk
pada pendinginan dan akan segera hilang jika bahan bakar tersebut dipanaskan
pelan-pelan
Untuk mendapatkan freezing point bahan/contoh harus didinginkan perlahanlahan sambil diaduk ke atas ke bawah (posisi vertical) dengan hati-hati dan
terus-menerus sambil diamati sampai terjadi pembentukan kristal, kemudian
catat suhunya. Kemudian panaskan di udara terbuka sambil diaduk, catat
suhunya pada saat Kristal mulai menghilang sebagai titik beku.
IV. BAHAN DAN PERALATAN
a. Bahan
1. Avtur
b. Peralatan
1. Cyrogenic System
2. Termometer IP 14C atau ASTM 114C mempunyai range (-80 s/d +20C)
3. Jacketed Sample Tube, Vacuum Flask, Collars, dan Pengaduk

V. LANGKAH KERJA

44

45

7.

Keluarkan jaket contoh dari media pendingin, kemudian contoh dipanaskan di


udara terbuka sambil diaduk perlahan-lahan. Baca dan catat suhu pada saat
Kristal hidrokarbon mulai menghilang semua.

8.

Jika perbedaan suhu Antara keduanya lebih besar drai 3C ulangi proses
pendinginan dan pemanasan sehingga diperoleh perbedaan yang lebih
kecil dari 3C

Baca dan catat suhu pada saat Kristal hidrokarbon mulai


terbentuk.
Terbentuknya kabut pada suhu sekitar -10C tidak perlu diperhatikan
dan tidak adanya perubahan suhu uji, karena hal ini disebabkan oleh
pembekuan air.
Biarkan lingkar pengaduk terletak di bawah permukaan contoh selama
pengujian.

Jepitlah jaket contoh tersebut.

Tutuplah dengan rapat, dengan menggunakan gabus yang telah


diberi lubang untuk thermometer dan batang pengaduk. Atur
thermometer tepat berada di tengah-tengah contoh dan berjarak
10-15 mm dari dasar tabung.

Masukkan 251 ml contoh ke dalam jaket yang benarbenar bersih dan kering.

Tempat contoh uji dan alat-alat uji harus bersih dan


kering (bebas air).
Contoh disaring terlebih dahulu sebelum dilakukan
pengujian untuk menghilangkan partikel, sedimen
dan kotoran lainnya

6.
5.
4.
3.
2.

1.

2.
1.

b. Cara Kerja
a. Persiapan Contoh

VI. KETELITIAN
Repitibilitas
Perbedaan hasil uji yang diperoleh operator yang sama dengan alat yang
sama pada kondisi dan contoh yang sama adalah 1,5C.

Reprodusibilitas
Perbedaan hasil uji yang diperoleh operator yang berbeda, untuk contoh
yang sama adalah 2,5C.

VI. HASIL PENGAMATAN


Hasil pengamatan freezing point dengan menggunakan metode ASTM D
2386 dengan sampel Kerosine (Avtur) yang diuji sebanyak 25 ml pada tanggal
30 Januari 2014 di dapat data sebagai berikut :
Produk
Avtur

Freezing Point
-15 C

Kristal avtur menghilang


-12

VII. ANALISIS
Avtur adalah bahan bakar pesawat turbin yang digunakan di udara pada
suhu lingkungan yang jauh dibawah minus. Jika Avtur Freezing Pointnya -15 C
maka belum ditempat ketinggian yang diinginkan avtur akan membentuk kristal
yang menyebabkan tidak mencapainya ketempat ruang pembakaran dikarenakan
terbentuknya Kristal. Ini juga dapat menyebabkan mesin dari pesawat mati.
VIII. KESIMPULAN
Dari praktikum yang praktikan laksanankan mendapatkan kesimpulan
bahwa avtur yang diuji tidak memenuhi spesifikasi dari avtur pada umumnya
atau dapat dikatakan off spec karena terkontaminasi oleh bahan-bahan lain.
Spesifikasi freezing point avtur maks. -47 C.
IX. SARAN
Saran dari kelompok kami dalam praktikum ini yaitu :

46

1. Bersihkanlah alat-alat baik sebelum maupun sesudah digunakan agar


contoh yang akan diuji tidak terkontaminasi
2. Hindari hal-hal yang dapat merusak alat-alat penunjang.
3. Lihat dengan teliti pada sampel yang berada pada jaket yang diuji apakah
sudah ada kristal-kristal kecil yang terbentuk lalu catat suhu terbentuknya
kristal dari sampel tersebut.

47

BS & W, ASTM D 4007


I.

Ruang Lingkup
Water and Sediment in Crude Oil by the Centrifuge Method (Laboratory
Procedure) mencakup penetapan air dan sedimen dalam crude oil dengan
prosedur centrifuge (kurang memuaskan). Jumlah air terdeteksi selalu lebih
rendah dari kandungan air sebenarnya. Bila diperlukan hasil dengan akurasi
tinggi, prosedur untuk kadar air dengan distilasi (ASTM D 4006) dan prosedur
untuk kandungan sedimen dengan ekstraksi (ASTMD 473)

II. Prinsip
Sejumlah volume yang sama dari crude oil dan toluena jenuh air, ditempatkan
dalam centrifuge tube. Setelah centifugation, volume lapisan air dan sedmen di
dasar tube dibaca dengan teliti
III. TEORI DASAR
Dalam proses pengolahan, adanya air dan sedimen memicu kesulitan yang
lebih besar seperti pengkaratan (corrosion), pemanasan dan penyumbatan yang
seharusnya tidak terjadi dalam dapur dan penukar panas yang berpengaruh
pada mutu produk. Keberadaan sedimen dalam minyak bumi biasanya
berbentuk padatan yang sangat halus. Padatan yang berasal dari cekungan
darimana minyak bumi berasal atau dalam cairan pengeboran, dapat berupa
pasir, tanah liat, serpihan atau butiran batu. Air dapat tampak dalam minyak
bumi dalam bentuk butiran atau sebagai emulsi dan dapat mengandung garam
kimia atau substansi yang berbahaya lainnya.
Minyak yang kita produksi ke permukaan sering kali tercampur dengan
sedimen-sedimen yang dapat mempengaruhi proses/laju produksi, untuk itu
endapan tersebut harus dipisahkan dengan cara:

Di Laboratorium
Dengan menggunakan metode centrifuge yaitu dengan menggunakan gaya
centrifugal sehingga air, minyak dan endapan dapat terpisahkan.

Di Lapangan

48

Kalau pemboran dilakukan di daratan maka dibuatkan kolam-kolam


pengendapan, sedangkan jika pemboran di lepas pantai maka disamping
dilakukan diseparator juga dilakukan pemisahan dengan zat-zat kimia tertentu.
Sedimen-sedimen yang ikut terbawa bersama air biasa dikenal dengan istilah
scale ( endapan ). Scale merupakan endapan kristal yang menempel pada
matrik batuan maupun pada dinding-dinding pipa dan peralatan dipermukaan,
seperti halnya endapan yang sering kita jumpai pada panci ataupun ketel untuk
memasak air. Adanya endapan scale akan berpengaruh terhadap penurunan laju
produksi produksi.
Terbentuknya endapan scale pada lapangan minyak berkaitan erat dengan
air formasi, dimana scale mulai terbentuk setelah air formasi ikut terproduksi
ke permukaan. Selain itu jenis scale yang terbentuk juga tergantung dari
komposisi komponen-komponen penyusun air formasi.
Mekanisme terbentuknya kristal-kristal pembentuk scale berhubungan dengan
kelarutan masing-masing komponen dalam air formasi. Sedangkan kecepatan
pembentukan scale dipengaruhi oleh kondisi sistem formasi, terutama tekanan
dan temperatur. Perubahan kondisi sistem juga akan berpengaruh terhadap
kelarutan komponen.
Dalam pembahasan ini lebih dominan pada uji coba suatu sampel minyak,
untuk memisahkan kandungan terikut-sertakan. Dal hal ini, yang dimaksud
kandungan tersebut adalah air dan sedimen. Untuk pengujiannya, dengan
menggunakan

metode

Centrifuge,

dimana

prinsip

dasarnya

adalah

memanfaatkan suatu gaya putar ( gaya centrifugal ). Suatu suspensi atau


campuran yang berada pada suatu tabung ( baik itu tabung besar atau pun
tabung kecil ) apabila diputar dengan kecepatan tertentu, dengan gaya
centrifugal dan berat jenis yang berbeda akan saling pisah, dimana zat dengan
berat jenis yang lebih besar akan berada di bawah dan zat dengan berat jenis
rendah berada di atas. Sebai contoh minyak dengan air. Minyak mempunyai
berat jenis ( ) sebesar 0,8 gr/cc sedangkan air mempunyai berat jenis ( )
sebesar 1 gr/cc sehingga minyak akan berada di atas air.

49

Suatu suspensi atau campuran yang berada pada suatu tempat (tabung)
apabila diputar dengan kecepatan tertentu, dengan gaya centrifugal dan berat
jenis yang berbeda akan saling pisah, dimana zat dengan berat jenis yang lebih
besar akan berada di bawah dan zat dengan berat jenis rendah berada di atas.
Metode Centrifuge ini mempunyai kelebihan antara lain :
1. Waktu yang diperlukan untuk memisahkan air dan minyak serta endapan lain
lebih singkat daripada Dean & Stark Method.
2. Pemindahan alat yang sangat mudah dilakukan.

IV. Peralatan
Centrifuge
o Mampu berputar dengan minimum 600 rcf (relative centrifugal force)
o Rpm minimum dihitung dengan formula :
r/min = 1335 rcf /d
d (mm)
r/min = 265

rcf / d

d (inch)
o mampu mempertahankan pada temperatur 60 3 oC (140 5 oF).
Tabung centrifuge
Pipet, klas A 50 Ml
V. Pereaksi
Toluene, jenuh air
Demulsifier
Isi masing-masing

Tempatkan

Setelah selesai

dari

tabung

kedua tabung ke

centrifuge dengan

putaran,

baca

Tanpa

dalam centrifuge

dan

catat

pengadukan

sampel

sebanyak

tepat

50

mL,

tambahkan 50
0,05 Cara
mL Kerja
toluena
VI.
jenuh

air,

secara
berseberangan,
kencangkan dan
putar selama 10

volume air dan

sediment yang

sekali

da pada bagian

pemutaran

bawah masing-

tambahkan 0,2 mL

600 (minimum).

masing tabung

larutan

Suhu centrifuge

sampai

demulsifier.

harus

ketelitian 0,05

Rapatkan penutup

dipertahankan

mL

bercampur.

agar

pada 60 3 oC
(140 5 oF).

10x

selama

lagi
10

menit pada
kecepatan
yang sama
50

dan bolak-balikkan

menit pada rcf

kemudian

lakukan

VII.Hasil Pengamatan
Sampel : Crude Oil Ledok 2 x 50 mL
Volume BS & W = Sedimen + Air + Emulsi + Minyak
Percobaan 1
A (mL)

B (mL)

Sedimen

0,1

0,1

Air

0,4

1,2

Emulsi

0,1

0,3

minyak

99,4

98,4

Volume BS&W A
Volume BS&W B
vol . BSW A +vol . BSW B
x 100
v total

= 0,6 mL
= 1,6 mL
= 2,2%

Percobaan 2
A (mL)

B (mL)

Sedimen

0,07

0,2

Air

0,38

1,1

Emulsi

0,1

0,3

Minyak

99,45

98,4

51

Volume BS&W A
Volume BS&W B
vol . BSW A +vol . BSW B
x 100
v total

= 0,55 mL
= 1,6 mL
= 2,15%

VIII. ANALISIS
Campuran yang berada pada suatu tempat (tabung) apabila diputar
dengan kecepatan tertentu, dengan gaya centrifugal dan berat jenis yang
berbeda akan saling pisah dan terlempar menjauhi titik pusat perputarannya.
Pada intinya zat dengan berat jenis yang lebih besar akan berada di bawah dan
zat dengan berat jenis rendah berada di atas.Pada percobaan penentuan
kandungan air dan endapan dilakukan dengan menggunakan metode centrifuge
setelah dilakukan dua kali percobaan pada 2 sampel 50 ml Crude Oil ledok,
terbentuk 4 layer pada sampel yaitu sedimen, air, emulsi, dan minyak di
bagian paling atas. Jumlah volume antara sedimen, air, dan emulsi diambil
sebagai BS&W untuk dhitung persentase volumenya terhadap Crude Oil.

IX. Kesimpulan
Setelah dilakukan prktikum ini dapat disimpulkan :
Keberadaan Base Sediment & Water (BS&W) dalam minyak bumi
biasanya berbentuk padatan yang sangat halus. Padatan yang berasal
dari cekungan darimana minyak bumi berasal atau dalam cairan
pengeboran, dapat berupa pasir, tanah liat, serpihan atau butiran batu.
Air dapat tampak dalam minyak bumi dalam bentuk butiran atau
sebagai emulsi dan dapat mengandung garam kimia atau substansi yang

berbahaya lainnya.
BS&W dapat menggangu proses pengolahan dan mutu produk
Persentase volume BS%W yang terkandung dalam Crude Oil ledok
sebanyak 2,2% volume pada percobaan 1 dan sebesar 2,15% pada
percobaan 2.

X. SARAN
52

Dalam praktikum yang telah praktikan laksanakan tentunya tidak jauh dari
kesalahan-kesalahan yang dikarenakan kurang memahaminya prosedur serta
kemampuan analisa data yang jauh dari sempurna dalam melakukan praktikum
kali ini, maka dari itu diharapkan bagi praktikan untuk dapat memehami
prosedur praktikum mendatang sehingga bisa mendapatkan data yang akurat
serta meningkatkan kemampuan analisis untuk mendapatkan kesimpulan yang
benar.

XI. DAFTAR PUSTAKA


https://pertaminablog.wordpress.com/category/uncategorized/
http://en.wikipedia.org/wiki/Basic_sediment_and_water

53

PANAS PEMBAKARAN BAHAN BAKAR CAIR


DENGAN KALORIMETER BOMB, ASTM D 240
I.

TUJUAN
Praktikum bertujuan untuk menentukan panas pembakaran bahan bakar
hidrokarbon cair dari distilat ringan sampai minyak residu: meliputi bensin,
minyak tanah, solar, bahan bakar turbin gas dan minyak bakar

II. KESELAMATAN KERJA


1 Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
2

jaringan listrik yang ada.


Hati hati bekerja menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.

III. TEORI DASAR


Kalorimeter Bom merupakan kalorimeter yang khusus digunakan untuk
menentukan kalor dari reaksi-reaksi pembakaran. Panas pembakaran kotor
(gross heat of combustion), Qg (MJ/Kg), adalah jumlah energi yang
dibebaskan bila sejumlah berat bahan dibakar dalam kondisi volume tetap dan
gas hasil pembakaran semuanya berbentuk gas, kecuali air yang terkondensasi
dalam bentuk cair.
Panas pembakaran bersih (net heat of combustion), Qn (MJ/Kg) adalah
jumlah energi yang dibebaskan bila sejumlah berat bahan bakar yang dibakar
dalam kondisi tekanan tetap dan semua hasil pembakaran, termasuk air,
berwujud gas.
Kalorimeter bom ini digunakan untuk mengukur jumlah kalor/nilai kalori
yang dibebaskan pada pembakaran sempurna (dalam O2 berlebih) pada suatu
senyawa, bahan makanan, maupun bahan bakar.
Ekuivalen Energi (Kapasitas Panas Efektif dan Ekuivalen Air) dari
calorimeter adalah energy yang dibutuhkan untuk menaikkan temperature 1 o
dan dinyatakan sebagai MJ/oC (1 MJ/Kg = 1000J/g)
1 cal (International Table calorie)= 4.1868 J, dan
Btu (British thermal unit) = 1055,06 J
Cal (I.T.)/g = 0.0041868 MJ/kg, dan
54

Btu/lb = 0.002326 MJ/Kg

IV. PRINSIP

Dapat digunakan jaket calorimeter jenis adiabatic atau isothermal


untuk pekerjaan ini.

V. BAHAN DAN PERALATAN


Unit Kalorimeter Bom Oksigen terkalibrasi
Buret, kapasitas 50mL
Uji sampel IFO
Gelas Beaker
Pipet berskala kapasitas 5mL
Stop Watch
Regulatorr dan selang oksigen

55

VI. CARA KERJA


1. Penetapan Energi Ekuivalen Kalorimeter
Gunakan asam benzoate standar dengan berat tidak boleh kurang dari 0,9

g dan tidak boleh lebih dari 1,1 g.


Setiap pengujian dilakukan seperti yang diuraikan dalam Pengujian

Contoh Uji
Nilai energy ekuivalen dihitung dengan persamaan dibawah ini:

Keterangan:

Timbang contoh
W =cawan,
Energi
uji dalam
Q dari
= Panas
kurang
1,0 g
dengan ketelitian
0,1MJ/g
mg

G
T
e1
e2

Potong kawat-fuse /

ekuivalen calorimeter,
MJ/oC
benang sepanjang 10
Tempatkan
cm danpada
atur dalam
pembakaran cawan
asam dalam
benzoate standar (dilihat
labelnya),
elektroda

= Berat asam benzoate standar, g


= Kenaikan Temperatur terkoreksi, oC
= Koreksi panas pembakaran asam nitrat, MJ
= Koreksi panas pembakaran kawat-fuse, MJ

Isikan air suling 2000


0,5 g ke dalam
calorimeter vessel yang
kering dan bersih.

elektroda sehingga
bagian tengah
lengkungan menyentuh
contoh uji dalam cawan.

Isikan oksigen kedalam


bom sampai regulator
menunjukkan tekanan
3,0 MPa (30 atm)

Tambahkan 1,0 mL air


suling kedalam bom,
kemudian pasangkan
elektroda dalam bom
dan tutup sampai
kencang dengan
kekuatan tangan.

2. Prosedur Pengujian

Masukkan bomb
kedalam calorimeter
vessel, kemudian
masukkan vessel
kedalam jaket
calorimeter
menggunakan bantuan
pengait khusus, pasang
2 buah kabel elektroda
dalam bomb. Tutup
calorimeter. Hubungkan
motor pemutar dan
pengaduk dengan
serbuk karet.

Hidupkan
pengaduk dan
biarkan selama 5
menit supaya
tercapai
kesetimbangan
temperature,
kemudian tekan
tombol pengapian,
catat waktu dan
temperature, t1.

Sesudah pembacaan selesai,


matikan motor, lepaskan sabuk
karet, angkat tutup kalorimeter dari
jaket. Lepaskan kabel elektroda,
keluarkan bomb. Keluarkan sisa
oksigen dalam bomb dengan
kecepatan yang tetap. Periksa
bagian dalam bomb, bila ada jelaga
atau pembakaran tidak sempurna,
pengujian harus diulangi. Kemudian
lakukan koreksi thermokimia.

Tambahkan pada
temperature ini 60%
dari kenaikan
temperature yang
diperkirakan dan catat
waktu saat titik 60%
dari kenaikan
temperature yang
diperkirakan dan catat
waktu saat titik 60%
dicapai. Bila kenaikan
temperatur yang
diperkirakan tidak
diketahui, catat
temperature pada 45,
60, 75, 90, dan 105
detik sesudah penekan
tombol pengapian.

Sesudah periode kenaikan temperature


yang cepat (sekitar 4-5 menit sesudah
penekanan tombol pengapian), catat
temperature pada setiap interval 1
56 pembacaan
menit sampai perbedaan
berturut-turut tetap selama 5 menit.
Biasanya temperature akan mencapai
maksimal dan kemudian turun perlahanlahan.

3. Perhitungan.
Kenaikan Temperatur Kalorimeter Isotermal.
t = tc ta r1 (b a) + r2 (c b)
Keterangan:
t
a
b

ta

= Kenaikan temperature terkoreksi


= Waktu pengapian
= Waktu (ketelitian 0,1 menit) saat temperature mencapai 60% dari
total kenaikan.
= Waktu pada permulaan periode, setelah temperature naik
dimana kecepatan perubahan temperatur menjadi tetap.
= Temperatur pada waktu pengapian, dikoreksi terhadap kesalahan

skala thermometer.
r1 = Kecepatan (unit temperatur/menit) pada saat temperatur naik
selama periode 5 menit sebelum pengapian.
r2 = Kecepatan (unit temperature/menit) pada saat temperature turun
selama waktu c.
Bila temperature justru naik sesudah waktu c, perhitungan menjadi :
t = tc ta r1 (b a) + r2 (c b)

57

4. Koreksi Termokimia
e1
= Koreksi untuk panas pembentukan asam nitrat (HNO3), MJ
= mL larutan Na2CO3 0,0725 N untuk titrasi x 5/106

e2

e3

= Koreksi untuk panas pembentukan asam sulfat (H2SO4), MJ


= 58,6 x % S dalam contoh x berat contoh / 106
= Koreksi untuk panas pembakaran kawat fuse, MJ
= 1,13 x mm kawat terbakar untuk jenis kawat nikel krom / 106
0,96 x mm kawat terbakar untuk jenis kawat besi / 106

5. Panas Pembakaran Kotor


Hitung panas pembakaran kotor sebagai berikut:
t x W (e 1e 2e 3)
Q g=
1000 g

Keterangan:
Qg

= Panas pembakaran kotor pada volume tetap,

= Kenaikan temperatur terkoreksi, oC

= Energi ekuivalen calorimeter, MJ/ oC

= Berat contoh, gram

e1, e2, e3

= Koreksi seperti yang diuraikan dalam 5.8.2

MJ/kg

VII.KETELITIAN
Repeatability
0.13 MJ/kg
Reproducibility 0.40 MJ/kg
VIII. HASIL PENGAMATAN
Diketahui :
Uji sampel = IFO 1.0052 gram
t1
= 28.38 oC
t2
= 32.2792 oC
t
= 3.8992 oC
W
= Q x g + e1 + e2
= 6143.177 Cal/ oC

58

Ditanya :

Q (Panas Pembakaran Kotor) ?

Jwb:

Qg=

Q g=

t x W (e 1e 2e 3)
1000 g

6143.177Cal /o C x (32.279228.38) o C
1000( 1.0052)

IX. ANALISIS
Pengukuran kalorimeter bom dilakukan pada kondisi volume konstan
tanpa aliran, atau dapat dikatakan reaksi pembakaran dilakukan tanpa
menggunakan nyala api melainka n menggunakan gas oksigen sebagai
pembakar dengan volume konstan atau tekanan tinggi. Bom itu ditempatkan
didalam bejana berisi air dan bahan bakar itu dinyalakan dengan sambungan
listriks dari luar. Suhu itu diukur sebagai fungsi waktu setelah penyalaan. Pada
saat pembakaran, suhu bom tinggi oleh karena itu keseragaman suhu air
disekeliling bom harus dijaga dengan suatu pengaduk. Selain itu dalam
beberapa hal tertentu diberikan pemanasan dari luar melalui selubung air untuk
menjaga supaya suhu seragam agar kondisi bejana air adiabatic.
Berdasarkan hasil pengamatan diatas, diketahui 2 tahap kenaikan
temperatur terkoreksi dalam pengukuran kalorimeter bom. Selang kenaikan
temperatur antara 2 tahap tersebut 3.8992 oC. Untuk menentukan panas
pembakaran kotor pada uji sampel IFO 1.0052 gram maka dihitung dengan
hasil perkalian Energi ekuivalen kalorimeter yang sudah diketahui sebesar
6143.177 Cal/ oC kemudian dikalikan selang temperature terkoreksi dan dibagi
dengan berat uji sample senilai 1.0052 gram. Sehingga dihasilkan Panas
pembakaran kotor (Q) sebesar 23.829 MJ/Kg. .
X. KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini mengenai menentukan panas pembakaran bahan
bakar hidrokarbon dengan kalorimeter bom maka dapat disimpulkan panas
pembakaran kotor pada uji sampel IFO menggunakan kalorimeter bom
59

mempunyai nilai sebesar 23.829 MJ/kg selama kenaikan suhu dari 28.38 oC
sampai 32.2792 oC.
XI. SARAN
1. Timbang dengan hati-hati dan cermat uji sampel IFO dengan ketelitian 0,1
gram.
2. Amati dengan teliti kenaikan suhu yang ditunjukkan pada saat terjadi reaksi
kalorimeter bom.
3. Tutup dengan rapat kalorimeter bom, jangan sampai ada celah.
4. Berhati-hati menggunakan peralatan di laboratorium.
XII.DAFTAR PUSTAKA
http://dhiniauliaphasa.blogspot.com/2013/03/kalorimeter-bom.html

60

DOCTOR TEST, ASTM D 4952


I.

Ruang Lingkup
Metode uji ini untuk identifikasi merkaptan (RSH) dalam bensin, kerosine dan
produk minyak yang setara

II. Prinsip
Contoh uji dikocok dengan larutan plumbit, kemudian sejumlah kecil serbuk
belerang ditambahkan dan dikocok kembali. adanya RSH atau H 2S atau
kduanya di indikaksikan oleh lunturnya warna dari belerang yang mengambang
pada permukaan antara minyak dan air
III. Pereaksi
Air murni, didefinisikan oleh Tipe II atau III Spesifikasi D 1193
Doctor Solution ( Sodium Plumbite )
Larutkan sekitar 125 g Natrium Hidroksida ( NaOH ) dalam 1 L air.
Tambahkan 60 g timbal Monoksida ( PbO ) dan kocok kuat selama 15
menit , atau biarkan dengan guncangan sesekali untuk setidaknya satu
hari. Diamkan hingga menjadi cairan bening. Jika solusi tidak tampak
buram , dapat dilakukan filter melalui kertas saring. Tempatkan solusi
dalam botol tertutup rapat dan refilter sebelum digunakan jika belum

bening.
Sulfur

IV. CARA KERJA


m e m b u at
N a 2 Pb O 2
d ari N a O H
d an P b O

Ta m b a h ka n
Ko co k
Tu n g g u
seju m la h kecil
se cara ku at
m e n g e n d ap
serbu k
ca m p u ra n
d an a m ati
b e le ra n g ,
10 m L
se lam a 2
ya
ng
seca
ra
co n to h u ji
m e n it.
p ra ktis
d an 5 m L
m e ng a m ba n g
laru tan
d ia n ta ra
N a 2 PbO 2
co nto h uji d a n
se lam a 15
la ruta n
61
N a 2P b O 2,
d e tik.
ke m u d ia n
ko co k ke m b a li
sela m a 1 5
d e tik.

Interpretation of Results
Jika sampel tersebut berubah warna atau jika terbentuk film warna
kuning dari sulfur seperti menutupi, maka hasil yang dilaporkan positif.

Merupakan sour sample


Jika sampel tetap tidak berubah warna hanya sedikit berubah warna
abu-abu atau bebercak dengan hitam terang , hasil yang dilaporkan
adalah tes negatif dan dapat dikatakan sebagai sweet sample

V. TEORI DASAR
Analisa Doctor Test adalah analisa kualitatif untuk mengetahui keberadaan
mercaptan di kerosin dan produk petroleum yang sejenis (contohnya : bensin).
Selain itu juga untuk mendeteksi kehadiran H2S dan sulfur yang ada di sampel.
Metode yang digunakan adalah ASTM D 4952. Doctor solution ialah larutan
Na2PbO2, yang dibuat dari NaOH dan PbO.
Reaksi yang terjadi :
Na2PbO2 + H2S
2NaOH + PbO

VI. HASIL PENGAMATAN


Sampel
: Pertasol CB
Doctor Test
: Merkaptan (-)
VII.ANALISIS
Sampel kemudian ditambah doctor solution (Na2PbO2) kemudian ditutup
rapat dan di kocok kuat selama 15 detik agar terjadi larutan yang homogen.
Setelah didiamkan selama 2 menit kemudian diamati, bila sampel tampak

62

warna coklat berarti sampel sampel positif mengandung hidrogen sulfida


(H2S). Test dilanjutkan dengan penambahan sedikit free sulfur ke dalam
campuran tersebut kemudian dikocok kuat selama 15 detik. Setelah didiamkan
selama 2 menit kemudian diamati perubahan yang terjadi, apabila tampak
endapan warna coklat berarti sampel positif mengandung merkaptan.
Reaksi yang terjadi:
H2S + Na2PbO2

PbS + 2NaOH__________(coklat)

Bila contoh mengandun RSH, reaksi yang terjadi :


RSH + Na2PbO2 Pb(RS)2 + 2NaOH
PbS + RSSR_______(coklat)
Pb(RS)2 + S
Dalam percobaan ini, Pertasol CB yag diuji tidak berubah warna menjadi
coklat
VIII. KESIMPULAN
Dalam praktikum ini dapat disimpulkan :
Doctor test merupakan analisa kualittif untuk mengetahui keberadaan H 2S

dan merkaptan
Jika terkandung H2S dalam sample, akan terbentuk warna coklat karena

bereaksi dengan Doctor Solution (Sodium Plumbit)


Untuk mengetahui kandungan merkaptan, ditambahkan sulfur.
Sample Pertasol CB yang diuji tidak berubah warna sehingga hasi doctor
testnya Merkapan (-)

IX. SARAN
Dalam praktikum yang telah praktikan laksanakan tentunya tidak jauh dari
kesalahan-kesalahan yang dikarenakan kurang memahaminya prosedur serta
kemampuan analisa data yang jauh dari sempurna dalam melakukan praktikum
kali ini, maka dari itu diharapkan bagi praktikan untuk dapat memehami
prosedur praktikum mendatang sehingga bisa mendapatkan data yang akurat

63

serta meningkatkan kemampuan analisis untuk mendapatkan kesimpulan yang


benar.

X. DAFTA PUSTAKA
https://www,environmentalchemistry.wordpress.com/tag/sulfur/
http://en.wikipedia.org/wiki/Doctor_sweetening_process

Wendt, G, L,. and Driggs, S. H., Ind. Eng. Chem., 16, 1113 (1924)

2. Vogels Textbook Of Macro And SemiMicro Qualitative Inorganic


Analysis 5th ed G.Svehla

64