Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

Akuisisi Dan Processing Data Seismik

Di PT. ELNUSA Tbk.

Disusun oleh :

HERNANI INDAH LESTARI


12/331392/PA/14649

YOGYAKARTA
2015

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pencarian minyak bumi, gas alam, dan mineral menjadi hal yang tidak asing lagi
dalam bidang kebumian. Perlu dilakukan pemetaan bawah permukaan bumi sehingga
dapat diketahui keberadaan jebakan-jebakan sumber daya alam tersebut. Sampai saat ini
metode seismik masih menjadi metode yang paling sering digunakan karena tingkat
akurasi, resolusi, dan penetrasinya yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode
geofisika yang lain. Kegiatan eksplorasi seismik secara umum dapat dibagi menjadi tiga
tahap:
1. Pengambilan data (acquisition data)
Proses pengambilan data meliputi persiapan, pengukuran di lapangan dengan berbagai
teknik hingga diperoleh data yang biasanya

disimpan atau direkam dalam pita

magnetik (tape).
Prinsip utama tahapan akuisisi seismik adalah mengirimkan gelombang seismik ke
bawah permukaan bumi yang diasumsikan elastik. Dalam perut bumi gelombang
merambat ke segala arah, kemudian dipantulkan dan dibiaskan. Gelombang yang
mencapai permukaan bumi direkam menggunakan geophone. Besaran yang diukur
dalam metode seismik adalah two-way travel time energi seismik dari sumber seismik
buatan hingga ke penerima.
2. Pengolahan data (processing data)
Pengolahan data meliputi membaca pita magnetik, mengatur pita magnetik sesuai
aturan yang telah ditentukan, melakukan koreksi, pengolahan sinyal, hingga
pengeplotan.
Tujuan pengolahan data seismik adalah agar dihasilkan penampang seismik dengan
sinyal baik tanpa mengubah kenampakan refleksi, sehingga dapat diinterpretasikan
keadaan dan bentuk dari perlapisan di bawah permukaan bumi seperti apa adanya.
Dengan demikian mengolah data seismik merupakan pekerjaan untuk meredam noise
dan atau memperkuat sinyal. (Sismanto, 2006)
3. Interpretasi (interpretation)
Dalam intepretasi dilakukan penentuan dan perkiraan arti logis data seismik.
Kebenaran hasil intepretasi bersifat relatif dan dapat diuji mengenai konsistensinya
dari suatu data, event, atau pernyataan ke data, event, atau pernyataan berikutnya.
(Sismanto, 2006)
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari kerja praktik ini adalah :

1. Mempelajari lebih lanjut dan mempraktikan hal-hal berkaitan dengan pengolahan data
seismik yang telah diterima selama kuliah.
2. Memperoleh pengalaman kerja sebagai sebagai bekal dalam dunia kerja.
3. Memenuhi mata kuliah wajib di Program Studi Geofisika, Jurusan Fisika, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada.

II.

DASAR TEORI
Sifat utama dari gelombang adalah merambat ke segala arah dengan kecepatan rambat

yang berbeda sesuai dengan medium yang dilewatinya. Dalam metode seismik, bumi
diasumsikan sebagai medium berlapis yang elastik. Gelombang yang melewati batas medium
dipantulkan atau dibiaskan dengan mengikuti hukum Snellius :

sin(i )
p kons tan
v

dengan i adalah sudut datang, sudut pantul, atau sudut bias gelombang, v adalah kecepatan
gelombang dalam medium, dan p adalah konstanta yang biasa disebut parameter gelombang.
Parameter gelombang ini besarnya tertentu dan tetap untuk semua gelombang yang berasal
dari satu berkas gelombang. Sebagai contoh, gelombang P yang datang pada bidang batas
antara dua medium akan dapat dipantulkan atau dibiaskan sebagai gelombang P dan
gelombang SV, dan harus mengikuti hubungan :
sin(i1 ) sin( r1 ) sin(r2 ) sin(i1 ) sin(i 2 )

v pl
v pl
v sl
v p2
vs 2

dengan i adalah sudut datang gelombang P, r1 adalah sudut pantul gelombang P, r2 adalah
sudut pantul gelombang SV, i1 adalah sudut bias gelombang P,dan i2 adalah sudut bias
gelombang SV.
Apabila kecepatan gelombang dalam medium 2 lebih besar dari pada dalam medium 1,
maka akan ada sudut datang tertentu dalam mana gelombang dibiaskan dengan sudut bias 90 0
. Sudut datang ini disebut sudut kritis, ic . Sudut datang yang lebih besar dari itu akan
mengakibatkan gelombang terpantul secara sempurna. Berdasarkan hukum Snell besarnya
sudut kritis ini adalah :

ic=sin

v1

-1 v 2

Selama pengolahan data seismik, sedapat mungkin sinyal diredam dan informasi
refleksi dipertahankan, bahkan diperkaya spektrum amplitudonya dan dikoreksi spektrum
phasenya sehingga diperoleh penampang seismik yang tidak dibuat-buat dan wajar.
(Sismanto, 2006)

Gambar 2.1. Diagram alir lengkap tahapan pengolahan data.


http://asyafe.wordpress.com

A. Pengaturan Rutinitas Data


Program rutin ini menjelaskan reformatting (meliputi demultiplexing, pelabelan, dan
trace gathering), sorting, dan editing.

Demultiplexing
Merupakan tahap pencuplikan gelombang analog (gelombang yang terekam
dalam geophone) menjadi gelombang digital. Data yang sebelumnya diurutkan
berdasarkan urutan waktu (time sequential) diurutkan kembali berdasarkan trace
(trace sequential).

Gambar 2.2. Proses demultiplexing


Apabila digambarkan dalam matriks, diperoleh data :
a11
a
21

Aij a 31

...
a m1

a12
a 22

a13
a 23

a 32
...
am2

a 33
...
a m3

... a1n
... a 2 n
... a 3 n

... ...
... a mn

Dengan : i = 1 sampai m, menyatakan nomor sampel,


j = 1 sampai n, menyatakan nomor trace,
Demultiplexing merupakan transpose yang mengubah Aijmenjadi Aji (Demultiplexing
= (Aij)T), sehingga diperoleh matriks :
a11
a
12
A ji a13

...
a1n

a 21
a22
a23
...
a2 n

a31
a32
a33
...
a3 n

... am1
... a2 n
... a3n

... ...
... amn

Pelabelan
Setelah sampel diatur berdasarkan kanal, maka masing-masing trace diberi
label pada pita magnetik tersebut yang letaknya di depan masing-masing trace. Label
ini berisi informasi, nomer lokasi/shoot, elevasi sumber dan geophone, nomer record,
nomer trace, nomer CDP, offset, dll. Label reel tape-pun ditempelkan pada tape yang
telah berisi trace-trace lengkap dengan labelnya, seperti nomer lintasan, nomer tape,
format penulisan (SEG-B, SEG-A, SEG-Y, dll), laju pencuplikan dan nomer proyek.

Trace Gathering
Merupakan penggabungan atau pengelompokan menurut beberapa kesamaan
dari masing-masing trace, yang dapat berupa Common Source Point (CSP), Common
Depth Point (CDP), Common Offset, Common Receiver, dll. Pengelompokan ini
memudahkan analisis dan atau mempercepat pemrosesan sesuai dengan keperluan.
Gain Recovery
Pada tahap ini, gain yang terekam dalam pita magnetik dihilangkan dengan
cara mengalikan harga-harga trace seismik dengan kebalikan fungsi gain, kemudian
dihitung harga rata-rata amplitudo trace seismik tersebut menurut fungsi waktu.
Kemudian ditentukan parameter-parameter fungsi gain yang baru sedemikian rupa
sehingga fungsi
gain yang dipergunakan menjadi smooth.
Fungsi gain yang benar akan menghasilkan trace seismik dengan
perbandingan amplitudo-amplitudo sesuai dengan perbandingan dari masing-masing
koefisien refleksinya.
Secara umum fungsi gain g (t) berupa
Gain (dB) = A.t + B.20 log (t) + C (1.1)
dengan t adalah waktu, A faktor atenuasi, B faktor spherical divergensi dan C
tetapangain. Terdapat beberapa jenis gain :
1. PGC (Programmed Gain Control)
Fungsi gain yang sederhana, bekerja berdasarkan interpolasi antara harga skalar
amplitudo sampel pada laju pencuplikan dengan satu jendela tertentu
2. AGC (Automatic Gain Control)
Gain yang bekerja dengan menggunakan metode rms (root mean square).
Amplitudo masing-masing sampel dikuadratkan, lalu dihitung rms-nya pada satu
jendela tertentu.

(a)

(b)

(c)

(d)
Gambar 2.3 (a) Penghitungan gain dnegan PGC. (b) Penghitungan gain dengan AGC.
(c) Data sebelum gain recovery. (d) Data setelah gain recovery.
Editing atau Muting
Merupakan proses mematikan sebagian atau seluruh trace dari noise tidak
koheren. Jenis noise yang biasanya diedit adalah :
1. Trace mati, karena geophonenya sengaja tidak dipasang, sehingga kanalnya akan
berisi noise instrumen atau karena kerusakan kanal
2. Trace yang mengandung noise elektro statik, biasanya frekuensi tinggi
3. Trace yang merekam getaran langkah orang yang berjalan dekat geophone pada
saat perekaman berlangsung
4. Cross feed

5. Polaritas terbalik (hal ini tidak perlu dimatikan, karena bisa dikoreksi pada
komputer)
6. Daerah first arrival (gelombang bias, menggunakaninitial muting)
7. Noise di dalam trace yang mengelompok (pakai surgical muting)

Gambar 2.4 Muting untuk mematikan sebagian noise amplitudo yang sangat tinggi
B. Koreksi Akibat Geometri
Merupakan proses menyesuaikan hasil pengukuran di lapangan menjadi lebih
sederhana sehingga memenuhi persamaan-persamaan geometri.
Koreksi Statik
Faktor geometri yang perlu dikoreksi secara statik adalahbeda ketinggian
antara sumber seismik (SP) ke SP lain dan geohphone (koreksi elevasi), tebal dan
kemampuan lapisan lapuk merambatkan gelombang yang berbeda-beda (koreksi
lapisan lapuk). Ketiga hal ini menyebabkan perbedaan waktu tempuh, sehingga travel
time yang terukur bukan waktu yang sebenarnya. Kompensasi ini diperlukan agar
bentuk refleksi kurang lebih sesuai dengan bentuk sesungguhnya dan agar pada proses
stacking sinyal dapat saling memperkuat (sephase).
Koreksi NMO
Koreksi dilakukan jika satu titik di subsurface akan terekam oleh sejumlah
geophone sebagai garis lengkung (hiperbola). Di dalam CDP gather, koreksi NMO
diperlukan untuk mengoreksi masing-masing CDPnya agar garis lengkung tersebut
menjadi lurus, sehingga pada saat stack diperoleh sinyal yang maksimal.Koreksi
NMO dapat dirumuskan sebagai berikut

Tx2 T02

x2
V NMO

Dengan
Tx

= waktu rekam pada offset x, dalam detik

T0

= waktu rekam pada zero-offset, dalam detik

= jarak atau offset antara sumber dan penerima, dalam meter atau feet

VNMO

= kecepatan NMO, dalam meter/detik atau feet/detik

Gambar 2.5 Visualisasi analisa kecepatan di koreksi NMO


Koreksi Migrasi
Migrasi diperlukan karena rumusan pemantulan pada CMP yang diturunkan
berasumsi pada model lapisan datar, apabila lapisannya miring, maka letak titik-titik
CMP/reflektornya akan bergeser. Untuk mengembalikan titik-titik reflektor tersebut
ke posisi sebenarnya disebut koreksi migrasi atau dikenal dengan migrasi saja.

Gambar 2.5 Berbagai macam teknik migrasi untuk tujuan berbeda


Dekonvolusi
Tujuan dekonvolusi adalah meningkatkan resolusi temporal
dengan cara mengkompres wavelet seismik dan juga untuk
mengurangi

efek

'ringing'

atau

multiple

yang

mengganggu

interpretasi data seismik. Hal ini disebabkan gelombang seismik yang


mengalami proses konvolusi (filtering) oleh bumi sehingga bentuk gelombang
seismik (wavelet) yang semula tajam dan tinggi amplitudonya (dalam kawasan
waktu), menjadi lebih lebar dan menurun amplitudonya (melar/streching).
Dekonvolusi dilakukan dengan melakukan konvolusi antara
data seismik dengan sebuahfilter yang dikenal dengan Wiener
Filter yang apabila dituliskan dalam matriks menjadi :

dengan a adalah hasil autokorelasi wavelet input (wavelet input diperoleh


dengan mengekstrak dari data seismik), b Filter Wiener dan c adalah kros korelasi
antara wavelet input dengan output yang dikehendaki.

Diagram alir dekonvolusi

Usaha yang dilakukan selama dekonvolusi agar adalah :


1. Rekaman signature, adalah wavelet yang direkam oleh detektor khusus pada saat
penembakan guna mengkoreksi pergeseran phase yang ada menjadi zero phase.
Kemudian ditentukan operatornya untuk dekonvolusi semua trace.
2. Merekam impuls respon (wavelet) dari sistem instrumen.
3. Ekstraksi wavelet dari gelombang refleksi
C. Diagnosis Sifat-Sifat dan Masalah
Diagnosis dilakukan untuk menentukan langkah selanjutnya demi perbaikan
S/N dan mengatasi masalah yang ada. Analisis yang umum biasanya berupa analisa
kecepatan, analisa frekuensi dan autokorelasi serta analisis lainnya yang bersifat
khusus.
1. Analisis kecepatan dilakukan dalam CDP gather. Didalam CDP gather titik
reflektor pada offset yang berbeda akan berupa garis lurus (setelah koreksi NMO).
Dalam CDP gather dapat juga dilakukan koreksi statik untuk sumber (SP) maupun
receiver.
2. Analisis frekuensi digunakan untuk mengetahui kandungan frekuensi sinyal yang
harus dipertahankan dan frekuensi noise yang harus diredam.

3. Analisis autokorelasi digunakan untuk mendeteksi adanya gejala-gejala periodic


dengan periodisitas yang panjang serta membantu dalam membuat filter-filter
prediktif (untuk noise multiple) dan penonjolan (enhancement) data.
D. Penonjolan (Enhancement Data)
Enhancement bertujuan meningkatkan kualitas data (S/N ratio tinggi). Proses
yang termasuk enhancement :
Koreksi Statik Residual
Faktor-faktor yang menyebabkan koreksi statik yang dilakukan sebelum
analisa kecepataan tidaklah sempurna adalah :
1. Kesalahan pengukuran elevasi
2. Ketidaktelitian membaca up hole time
3. Ketidaktepatan mengukur kecepatan replacement
4. Adanya manipulasi kedalaman lubang bor oleh regu bor
5. Adanya problem surface unconsistent static
Stacking
Setelah semua trace dikoreksi statik dan dinamik, maka di dalam format CDP
gather setiap refleksi menjadi horizontal dan noise-noisenya tidak horizontal, seperti
ground roll dan multiple. Hal tersebut dikarenakan koreksi dinamik hanya untuk
reflektor-reflektornya saja. Dengan demikian, apabila trace-trace refleksis yang datar
tersebut disuperposisikan (di-stack) dalam setiap CDP-nya maka diperoleh sinyal
refleksi yang saling memperkuat dan noise akan saling meredam, sehingga S/N ratio
naik.
Filtering
Filter digunakan untuk meredam noise dan menjaga sinyal. Ada dua jenis filter :
1. Filter frekuensi (satu dimensi)
Hanya meredam frekuensi tertentu yang tidak diinginkan. Tipe filter ini berupalow
pass filter, high pass filter, band pass filter, dan notch filter. Filter di dalam
pengolahan data pada umumnya bersifat zero phase, sehingga tidak menggeser
phase data.
2. Filter F-K (dua dimensi)

Digunakan untuk meredam noise yang memiliki frekuensi sama dengan frekuensi
sinyal tetapi bilangan gelombangnya berbeda. Ada dua jenis filter F-K, yaitu notch
dan band pass filter.
Equalization
Merupakan proses untuk menaikkan atau menurunkan harga amplitudo tanpa
mengubah perbandingan amplitudo refleksi-refleksinya. Dalam hal ini digunakan
window yang panjang, setelah harga rata-rata diperoleh dalam window tersebut lalu
dicari faktor skalanya atau faktor pengali sedemikian rupa sehingga harga rata-rata itu
menjadi suatu harga yang dikehendaki (2). Faktor skala yang diperoleh,
dipergunakan untuk mengalikan semua amplitudo trade tersebut. Bila digunakan
banyak window (overlap/baku tindih 50 %) maka faktor skala setiap window
dikalikan pada amplitude trace di windownya masing-masing. Pada daerah baku
tindih dilakukan interpolasi.
Plotting
Data yang telah selesai diolah diplot dalam film. Hal-hal yang perlu
diperhatikan pada plot film adalah :
Skala horizontal (trace/mm atau trace/inch) dan skala vertikal (detik/cm)
Bias, dinyatakan dalam % yaitu tebal garis trace terhadap jarak antara dua trace
Display mode, bisa wiggle saja, wiggle variable area atau wiggle variable saja
Polaritas (normal/reverse) dan garis waktu (timing line)
Informasi pada film (titik perpotongan lintasan, sumur, dll)
Arah plot, harus sesuai dengan arah penembakan lintasan
Gain, fokus, sambungan film (bila perlu penyambungan) harus sama densitasnya.

III.

REFERENSI
Agus Abdullah, Phd. 2008. Ensiklopedi Seismik.
Sismanto. 1996. Modul pembelajaran Seismik Eksplorasi, Akuisisi danPengolahan
Data

Seismik. Yogyakarta : Lab. Geofisika, FMIPA UGM.

Telford. W. M., L. P. Geldart., R. E. Sheriff. 1990. Applied Geophysics Second


Edition. Cambridge : Cambridge University Press

IV.

RENCANA KERJA PRAKTEK


A. Bidang Studi
Bidang studi yang dipelajari dalam kerja praktik kali ini adalah pengolahan data
seismik dengan menggunakan fasilitas serta pendamping yang disediakan dari
PT. ELNUSA Tbk.
B. Waktu dan tempat pelaksanaan
Waktu dan tempat kerja praktik diharapkan terlaksana pada :
Tanggal : 1 Februari 2016 s.d. selesai
Tempat :

PT. ELNUSA Tbk Graha Elnusa, 16th FloorJl. TB

Simatupang Kav. 1 B Jakarta 12560 Indonesia


V.

SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN KERJA PRAKTIK


Hasil pengolahan data selama kerja praktik akan dipertanggungjawabkan
dalam bentuk laporan tertulis yang akan dilaporkan kepada PT. ELNUSA Tbk.,
selanjutnya disahkan sebagai bukti akan telah menempuhmata kuliah wajib kerja
praktek sebanyak 1 sks. Sedangkan jadwal kegiatan pengolahan data disesuaikan
dengan kesepakatan dan ketentuan dari PT. ELNUSA Tbk.

VI.

PENUTUP
Demikian proposal yang telah penulis susun, dengan harapan permohonan
kerja praktik di PT. ELNUSA Tbk. dapat diterima. Semoga kerja sama ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak.

VII.

DATA DIRI PEMOHON


Pemohon :
Nama

: Hernani Indah Lestari

NIM

: 12/331392/PA/14649

Universitas

: Universitas Gadjah Mada

Fakultas /Jurusan

: MIPA / Fisika

Program Studi

: Geofisika

Tempat, tgl lahir

: Jakarta, 29 Januari 1994

Agama

: Islam

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat kampus

: Laboratorium Geofisika, Sekip Utara Unit III,


PO BOX 21 BLS, Yogyakarta 55281
Telp. (0274)-522214 Faks. (0274)-545185

Alamat tinggal

: Pogung Baru Blok.A2 No.24. Sleman. Yogyakarta

Alamat Asal

: Citra Raya Blok f6/17 RT.02 RW.04 Cikupa. Tangerang

E-mail

: Hernani.Indah.L@mail.ugm.ac.id

No. HP

: (+62)81310258605

LEMBAR PENGESAHAN

Pemohon

Hernani Indah Lestari


NIM : 12/331392/PA/14649

Ketua Program Studi Geofisika


FMIPA UGM

Dosen Pembimbing Kerja Praktik

Prof. Dr. Sismanto


NIP : 196002051988031002

Prof. Dr. Sismanto


NIP : 196002051988031002