Anda di halaman 1dari 18

GANGGUAN CEMAS

1. Definisi
Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (1994), kecemasan adalah respons terhadap
situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai
perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta
dalam menemukan identitas diri dan arti hidup.
Kecemasan memiliki karakteristik berupa munculnya perasaan takut dan kehatihatian atau kewaspadaan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan (Davison & Neale,
2001). Kecemasan seringkali disertai dengan gejala fisik seperti sakit kepala, jantung
berdebar cepat, ada terasa sesak, sakit perut, atau tidak tenang dan tidak dapat duduk
diam, dll. Gejala-gejala kecemasan yang muncul dapat berbeda pada masing-masing
orang. Kaplan, Sadock, & Grebb (1994) menyebutkan bahwa takut dan cemas
merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda akan adanya suatu bahaya. Rasa
takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari lingkungan, dan
tidak menimbulkan konflik bagi individu. Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya
berasal dari dalam diri, tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu.
Gangguan cemas berbeda dengan kecemasan normal dalam hal intensitas, durasi,
serta dampaknya bagi individu (Davison & Neale, 2001). Sampai pada DSM III, gangguan
cemas digolongkan dalam gangguan neurosis bersama gangguan somatoform,
gangguandisosiatif, gangguan seksual, dan gangguan distimik. Adapun pengertian
neurosis menurut DSM III (dalam Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994) adalah gangguan
mental dimana bentuk gangguan utamanya muncul dalam simtom atau sekumpulan
simtom yang mengganggu individu dan dianggapnya sebagai sesuatu yang asing dan
tidak dapat diterima (ego dystonic).
2. Gejala
Berbagai gejala yang muncul pada penderita gangguan cemas seringkali memenuhi
kriteria diagnostik untuk gangguan mental lainnya. Komorbiditas (adanya diagnosis
tambahan pada seseorang yang sudah memiliki suatu diagnostik tertentu) ini banyak
timbul karena dua hal (Davison & Neale, 2001).
a. Simtom-simtom dari berbagai gangguan cemas tidak sepenuhnya spesifik untuk
gangguan ini. Misalnya jantung berdebar disertai dengan keringat dingin dan
rasa mual juga terdapat pada kriteria diagnostik untuk fobia, gangguan panik, dll.
b. Faktor etiologi yang menyebabkan gangguan cemas dapat diaplikasikan pada
lebih dari satu gangguan.
3. Macam- macam gangguan cemas
Beberapa gangguan cemas, antara lain fobia, gangguan panik, Generalized Anxiety
Disorders, obsesif-kompulsif, gangguan stres paska trauma, dan gangguan stres akut.

A. FOBIA
Fobia berasal dari bahasa Yunani phobos', yang berarti obyek atau situasi yang
ditakuti (dari nama dewa Yunani yang menakutkan musuh-musuhnya). Definisi fobia (Kaplan,
Sadock & Grebb, 1994) adalah ketakutan irasional yang menimbulkan upaya menghindar
(secara sadar) dari obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti. Keberadaan dan antisipasi
terhadap hal yang ditakuti ini menimbulkan stres pada individu, karena dianggap sebagai hal
yang berlebihan. Selain itu reaksi fobia juga menggangu kemampuan individu tersebut untuk
berfungsi dalam kehidupan.
Menurut DSM IV, fobia dapat digolongkan dalam 2 jenis, yaitu fobia spesifik (dalam
DSM Il disebut simple phobia) dan fobia sosial.
Fobia Spesifik
Fobia yang spesifik berarti ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau
antisipasi terhadap obyek atau situasi yang spesifik (Davison & Neale, 2001). Prevalensi
fobia spesifik pada populasi normal di Amerika Serikat diperkirakan 5-10 orang pada setiap
100 orang, dan lebih umum terjadi pada perempuan (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994;
Kessler dalam Davison & Neale, 2001). Jenis fobia menurut DSM IV dapat digolongkan
dalam 5 hal, yaitu:
1. Tipe fobia terhadap binatang (misal: fobia tikus, anjing, atau binatang berbulu lebat)
2. Tipe lingkungan alam (misalnya ketinggian, kilat, atau air)
3. Tipe fobia terhadap darah, suntikan, atau luka
4. Tipe situasional (contohnya berada dalam pesawat terbang, lift, atau tempat tertutup)
5. Tipe lainnya (misalnya ketakutan terhadap kostum karakter tertentu pada anak-anak)
Fobia Sosial
Merupakan ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan
dengan kehadiran orang lain; individu menghindari situasi dimana ia mungkin dievaluasi atau
dikritik, yang membuatnya merasa terhina atau dipermalukan, dan menunjukkan tandatanda kecemasan atau menampilkan perilaku lain yang memalukan (Kaplan, Sadock, &
Grebb, 1994; Davison & Neale, 2001). Prevalensinya di Amerika Serikat kurang umum
dibandingkan fobia spesifik; diperkirakan 2-3 orang per 100 penduduk. Fobia sosial juga
lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Kemunculan pertama (onset)
umumnya terjadi pada masa remaja, dimana kesadaran sosial dan interaksi dengan orang
lain dianggap lebih penting dalam kehidupan seseorang. (Davison & Neale, 2001).
Fobia sosial mungkin bersifat spesifik atau umum (general), tergantung situasi yang
ditakuti atau dihindari. Dalam DSM IV, disebutkan bahwa pada tipe fobia sosial yang
generalized ketakutan terjadi pada sebagian besar situasi sosial. Tipe ini agak sulit
dibedakan dengan gangguan kepribadian menghindar (avoidant personality disorder)

(Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994).

Etiologi
Teori Psikoanalisa. Teori psikoanalisa menekankan pada ketidaksadaran, sehingga
penjelasan tentang fobia pun berawal dari konsep ini. Freud sebagaimana dikutip oleh
Kaplan, Sadock, & Grebb (1994), mengemukakan hipotesa bahwa fungsi utama dari
kecemasan adalah memberi tanda kepada ego bahwa dorongan terlarang yang berasal dari
ketidaksadaran akan muncul ke kesadaran. Reaksi fobia adalah defens untuk melawan
kecemasan yang ditimbulkan oleh impuls-impuls id yang direpres (Davison & Neale, 2001).
Sebagai upaya untuk menghindar dari konflik yang direpres tersebut, kecemasan dialihkan
dari impuls tersebut dan dipindahkan pada obyek atau situasi yang memiliki hubungan
simbolik dengannya (yaitu stimulus yang ditakuti).
Sedangkan menurut Arieti (1979) sebagaimana dikutip oleh Davison & Neale (2001),
fobia timbul karena adanya represi terhadap konflik interpersonal yang terjadi pada masa
kanak-kanak. Pada masa awal kehidupannya anak percaya bahwa orang tua dan orang
dewasa lain akan melindungi mereka dari bahaya. Namun selanjutnya mereka mulai takut
orang-orang dewasa tersebut tidak dapat diandalkan. Karena anak tidak dapat hidup dalam
ketidakpercayaan atau ketakutan pada orang lain, mereka mengalihkannya pada obyek atau
situasi yang lebih impersonal. Fobia ini dapat muncul jika pada masa dewasa mereka
menghadapi stres.
Teori Tingkah Laku (Behavioral). Menurut pandangan teori behavioral, reaksi fobia
adalah reaksi yang dipelajari dan dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip belajar, antara lain:
1. Avoidance-Conditioning. John B. Watson & Rayner (dalam Davison & Neale,
2001),

mengemukakan

hipotesa

bahwa

fobia

dapat

dipelajari

melalui

kondisioning menghindar, yang prosesnya adalah sebagai berikut:


a. Menurut teori kondisioning klasik, seseorang dapat belajar untuk takut pada
stimulus netral (CS) yang dipasangkan dengan sesuatu yang secara instrinsik
menakutkan atau menyakitkan (UCS).
b. Orang tersebut belajar mengurangi ketakutannya terhadap stimulus terkondisi
(CS) dengan menghindarinya. Selanjutnya, berdasarkan prinsip operant
conditioning,

respons

semacam

ini

dipertahankan

dengan

adanya

konsekuensi berupa berkurangnya rasa takut.


2. Modeling. Ketakutan dapat dipelajari dengan cara mengobservasi dan menirukan
reaksi orang lain (vicarious learning), tidak hanya melalui pengalaman tidak
menyenangkan dengan hal yang ditakuti. Bahkan fobia juga dapat dipelajari
melalui instruksi verbal atau deskripsi dari orang lain.

3. Defisit dalam keterampilan sosial. Berdasarkan teori behavioral, tingkah laku


yang tidak sesuai atau kurangnya keterampilan sosial merupakan penyebab
kecemasan sosial. Menurut pandangan ini individu tidak belajar bagaimana
seharusnya berperilaku agar dapat merasa nyaman dengan orang lain, atau
orang tersebut berulang-ulang menampilkan perilaku ceroboh, canggung, atau
janggal, dan sering dikritik oleh teman-temannya.

Terdapat dua isu yang cukup menarik dalam membicarakan teori belajar berkaitan
dengan fobia (Davison & Neale, 2001). Pertama, ada beberapa jenis stimulus yang
cenderung lebih mudah menjadi stimulus terkondisi (CS) dibandingkan stimulus lain.
Misalnya orang lebih cenderung takut pada ular dibandingkan dengan kelinci. Sedangkan
isu kedua adalah berkaitan dengan kenyataan adanya orang-orang yang juga mengalami
peristiwa traumatik, namun tidak mengalami ketakutan yang berkelanjutan (DiNardo, dkk
dalam Davison & Neale, 2001). Diatesis yang muncul pada kasus semacam ini adalah
bahwa faktor kognitif, dalam hal ini kepercayaan bahwa pengalaman traumatik akan
terulang kembali pada masa yang akan datang diperkirakan merupakan hal penting dalam
pembentukan fobia. Sedangkan kemungkinan diatesis psikologis lainnya menurut Mineka &
Zinbarg (dalam Davison & Neale, 2001) adalah riwayat ketidakmampuan untuk mengontrol
lingkungan.

Teori Kognitif. Teori kognitif memfokuskan pada bagaimana proses berpikir seseorang
dapat menjadi penyebab serta bagaimana pikiran-pikiran tersebut dapat mempertahankan
reaksi fobia. Menurut pandangan ini, kecemasan berhubungan dengan kecenderungan
untuk lebih memperhatikan stimulus negatif, menginterpretasikan informasi yang ambigu
sebagai ancaman, dan percaya bahwa peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan akan
terjadi lagi di masa mendatang (Matthew & McLeod dalam Davison & Neale, 2001).
Sebagaimana dikutip oleh Davison & Neale (2001), orang yang memiliki kecemasan
sosial lebih memperhatikan evaluasi dari orang lain (Goldfried, Padawer, & Robins, 1984),
Iebih sadar terhadap citra yang ditampilkan pada orang lain (Bates, 1990), dan cenderung
menilai diri sendiri secara negatif bahkan ketika sebenarnya mereka tampil baik dalam
interaksi sosial (Wallace & Alden, 1997).

Faktor Biologis. Menurut asumsi Lacey (dalam Davison & Neale, 2001), kelabilan individu,
dimana sistem otonomnya lebih mudah dibangkitkan oleh berbagai macam stimulus,
menjadi faktor yang penting dalam terbentuknya perilaku fobia. Karena labilitas otonom
antara lain ditentukan secara genetik, maka Gabbav (dalam Davison & Neale, 2001)
ngemukakan dugaannya bahwa faktor keturunan juga memiliki pengaruh signifikan dalam
pembentukan fobia.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik turut berperan dalam


terbentuknya fobia. Misalnya saja Ost (dalam Davison & Neale, 2001) mengemukakan
bahwa sekitar 64% orang yang fobia darah dan injeksi ternyata memiliki keluarga yang
mengalami fobia yang sama. Hasil penelitian Fyer, et. al. (1995) dan Stein, et. al (1998)
sebagaimana dimuat dalam Davison & Neale (2001) menunjukkan orang-orang yang
mengalami fobia memiliki prevalensi rata-rata yang lebih tinggi apabila mereka memiliki
keluarga dengan fobia. Meskipun demikian, genetik bukanlah penyebab utama fobia, dan
sejauh ini belum ada bukti yang jelas tentang sejauh mana keterlibatan faktor genetik
terhadap terbentuknya fobia.
Penanganan (Treatment)
Pendekatan psikoanalisis. Tujuan terapi psikoanalisa adalah untuk mengungkapkan
konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang ekstrem dan reaksi
menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini. Beberapa kombinasi teknik dapat
digunakan, misalnya asosiasi bebas dan analisis mimpi. Namun beberapa analis ego
kontemporer melakukan penanganan terhadap fobia dengan meminta orang tersebut
menghadapai (mengkonfrontir) fobianya. Hal ini penting untuk mengobati simtom, meskipun
tidak dapat menyelesaikan konflik yang diasumsikan menyebabkan fobia (Davison & Neale,
2001).

Pendekatan behavioral. Menurut Davison & Neale (2001), pendekatan ini menggunakan
desensitisasi sistematis sebagai metode utama. Individu yang mengalami fobia
membayangkan gambaran sesuatu (stimulus fobia) yang makin lama makin
menakutkannya, sementara mereka dalam keadaan tenang (ada proses relaksasi). Namun
metode relaksasi tidak dapat diterapkan pada individu yang memiliki fobia darah dan
suntikan, karena meningkatkan kecenderungan pingsan, serta meningkatkan ketakutan.
Bagi mereka justru disarankan untuk mengencangkan otot-otot saat mengalami ketakutan.
Untuk membantu individu yang mengalami fobia sosial dapat dilakukan dengan
mengajarkan keterampilan sosial melalui bermain peran dan pengulangan interaksi sosial di
dalam ruang terapi.
Teknik lain yang dapat digunakan untuk menangani fobia spesifik adalah modeling,
flooding, dan successive approximation. Melalui modeling Individu menyaksikan orang lain
berinteraksi dengan sesuatu yang menjadi obyek fobia tanpa rasa takut. Pada teknik flooding
klien dihadapkan secara langsung pada sumber fobianya dengan intensitas penuh. Namun
cara ini sebaiknya digunakan sebagai alternatif terakhir, karena dapat menimbulkan
ketidaknyamanan yang besar. Sedangkan dalam successive approximation, sumber fobia
yang sebenarnya ditampilkan sedikit demi sedikit, dan individu mendapat imbalan setiap kali
berhasil mendekati obyek. Teknik ini merupakan bentuk dari metode shaping ( Davison &

Neale, 2001). .

Pendekatan Kognitif. Davison & Neale (2001) mengemukakan bahwa untuk menangani
fobia spesifik, pandangan kognitif cukup skeptis. Sebab menurut para ahlinya, individu telah
menyadari bahwa ketakutan pada fobia merupakan suatu hal yang berlebihan, dan mereka
pun dianggap telah mengetahui bahwa obyek fobia sesungguhnya merupakan sesuatu yang
tidak berbahaya. Sedangkan untuk menangani fobia sosial, individu dipersuasi untuk
mempersepsi reaksi orang lain secara lebih akurat dan mulai mengurangi ketergantungan
terhadap persetujuan dari orang lain, agar dapat timbul perasaan berharga dalam dirinya.
Metode yang diperkenalkan oleh Beck & Ellis (dalam Davison & Neale, 2001) ini dapat pula
dikombinasikan dengan pelatihan keterampilan sosial.

Pendekatan Biologis. Penanganan secara biologis untuk fobia adalah pemberian obatobatan sedatif, tranquilizer, atau anxiolytics yang dapat mengurangi kecemasan. Untuk saat
ini obat yang banyak digunakan adalah obat-obatan anti depresi.

Contoh Kasus :
Toni, 28 tahun, datang ke sebuah lembaga konsultasi untuk mencari bantuan atas
masalahnya. Keluhan utama yang disampaikannya adalah gugup berlebihan. Toni
adalah seorang lulusan S1 ekonomi, yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan
kemagisteran. Menurut Toni, ia sering merasa gugup jika terus berbicara di depan
banyak orang. Ia mencontohkan, jika harus presentasi, tidak peduli sebaik apapun
persiapan yang dilakukannya, saat tiba waktunya berada di depan, tiba-tiba ia
berkeringat dingin, jantungnya berdebar, dan bahkan mual. Hal ini juga terjadi apabila
ia harus menghadap dosen untuk pembicaraan tugas atau diskusi kelompok. Yang
membuatnya heran, ia tidak mengalami hal tersebut jika sedang berbincang santai
dengan teman-temannya. Toni beranggapan gejala tersebut muncul jika ia dalam
suasana resmi atau menegangkan, kecuali saat ia mengerjakan ujian. Saat mengerjakan
ujian Toni tidak pernah merasakan gejala seperti itu. Toni ingin meminta bantuan
profesional, karena ia merasa sangat terganggu dengan masalahnya. Apalagi saat ini ia
dituntut untuk sering melakukan presentasi didepan teman-teman lainnya.
(Sumber : kasus pribadi)

B. GANGGUAN PANIK
Kaplan, Sadock, & Grebb (1994) mengemukakan bahwa gangguan panik memiliki
karakteristik terjadinya serangan panik (panic attack) yang spontan dan tidak terduga.

Sedangkan pengertian serangan panik sendiri adalah kecemasan atau ketakutan yang
sangat intens dalam waktu yang relatif singkat (biasanya kurang dari 1 jam), dan disertai
dengan simtom somatik seperti berkeringat dingin. Terjadinya serangan panik dapat
bervariasi, misalnya beberapa kali dalam satu hari, beberapa hari sekali. Jika terdapat
hubungan yang erat antara pemicu situasionaI dengan serangan panik, maka keadaan ini
disebut cued panic attack. Namun jika asosiasi tersebut tidak terlalu kuat, istilahnya adalah
stuationally predisposed attack. Adapun serangan panik yang terjadi dalam keadaan yang
tidak berbahaya seperti saat tidur atau sedang melakukan relaksasi, disebut dengan uncued
panic attack (Davison & Neale, 2001).
Davison & Neale (2001) menjelaskan beberapa simtom yang dapat muncul pada
gangguan panik antara lain sulit bernapas, jantung berdebar keras, mual, rasa sakit di dada,
pening, berkeringat dingin, gemetar, kekhawatiran yang intens, terror, dsb. Bahkan mungkin
juga muncul depersonalisasi (perasaan subyektif bahwa dirinya tidak nyata, aneh, atau tidak
dikenal; misalnya tangan menjadi lebih panjang, wajah menjadi aneh bentuknya sehingga
tidak dikenali, dll) dan derealisasi (perasaan subyektif bahwa lingkungan menjadi aneh dan
tidak nyata; perasaan adanya perubahan realitas, misalnya melihat lingkungan rumah
berwarna kehitaman seperti habis terbakar) (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994).
Menurut Davison & Neale (2001), prevalensi penderita gangguan panik pada
populasi di Amerika Serikat lebih banyak pada perempuan, jumlahnya sekitar 2 hingga 3 kali
lebih banyak daripada pria. Timbulnya gangguan dapat terjadi pada masa remaja, dan
onsetnya (kemunculannya) diasosiasikan dengan pengalaman hidup yang penuh stres.
Gangguan panik seringkali disertai dengan agoraphobia, sebuah istilah yang berasal
dari bahasa Yunani Agora yang berarti tempat berbelanja. Pengertian agoraphobia sendiri
adalah ketakutan untuk berada di tengah-tengah tempat umum dan tidak dapat keluar atau

menemukan bantuan pada saat ia mendapat serangan panik (Davison & Neale, 2001).
Dengan keadaan ini individu cenderung menghindari situasi dimana akan sulit untuk
memperoleh bantuan. Mereka lebih suka pergi dengan orang lain pada tempat-tempat
seperti jalan raya, toko yang penuh sesak, atau tempat yang tertutup seperti terowongan, lift,
dll (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994). Agoraphobia biasanya terjadi menyertai gangguan
panik. Namun ada juga agoraphobia yang terjadi tanpa ada riwayat gangguan panik. Seperti
halnya gangguan panik, agoraphobia juga lebih banyak terjadi pada perempuan
dibandingkan laki-laki.

Etiologi (disarikan dari Davison & Neale, 2001)


Teori Biologis. Salah satu teori biologi menyatakan bahwa pada beberapa kasus,
sensasi fisik yang disebabkan penyakit membuat beberapa orang mengalami gangguan

panik (Asmundson, Larsen, & Stein, 1998; Hamada, et.al 1998). Menurut Goldstein, et.al
(1997), gangguan panik ini menurun dalam keluarga. Sedangkan teori lainnya menyatakan
bahwa gangguan panik disebabkan aktivitas yang berlebihan dari sistem noradrenergik.
Teori Psikologis. Prinsip utama dari teori psikologis untuk menjelaskan agoraphobia adalah
hipotesis takut pada rasa takut (fear-to-fear), yang mengasumsikan bahwa agoraphobia
bukanlah ketakutan untuk berada di tempat umum, namun ketakutan akan mendapat
serangan panik di tempat umum. Sedangkan dasar dari terjadinya serangan panik
diperkirakan adalah sistem saraf otonom yang terlalu aktif (Barlow, 1988), yang disertai
kecenderungan psikologis untuk menjadi sangat terganggu dengan sensasi yang terlalu aktif
tersebut. Sehingga pada individu yang pernah mengalami serangan panik timbul siklus
sebagai berikut : adanya ketakutan akan mengalami kembali serangan panik yang
meningkatkan aktivitas syaraf otonom, akan diinterpretasikan sebagai sesuatu yang besar
dan membahayakan, dan selanjutnya justru meningkatkan derajat kecemasan, sehingga
kemudian justru memunculkan serangan panik (Craske & Barlow, 1993).
Konsep kontrol juga turut berperan dalam menjelaskan serangan panik. Individu
yang mengalami gangguan ini memiliki ketakutan yang berlebihan akan kehilangan kontrol,
dan ini akan terjadi jika mereka mendapat serangan panik di muka umum.

Penanganan (Treatment)

Penanganan biologis. Beberapa obat dapat diberikan pada penderita gangguan panik,
seperti antidepresan dan anxiolytics. Pada sisi positifnya, obat ini dapat membantu
menghilangkan simtom yang muncul pada penderita. Namun sisi negatifnya adalah bahwa
obat harus diberikan terus menerus, mengingat simtom akan muncul kembali setelah
berhenti (Flyer, Sandberg, & Klein, dalam Davison & Neale, 2001). Selain itu penderita juga
mungkin mengalami beberapa gejala yang merupakan efek samping dari obat.

Penanganan psikologis. Penanganan dengan dasar exposure (pengenalan) banyak


digunakan dalam penanganan gangguan panik. Namun ternyata cara ini tidak selalu dapat
menghilangkan gangguan. Oleh karenanya Barlow (dalam Davison & Neale, 2001)
mengemukakan terapi yang menggabungkan 3 komponen terapi:
1. Pelatihan relaksasi
2. Kombinasi intervensi kognitif-behavioral dari Beck dan Ellis
3. Pengenalan terhadap tanda-tanda internal yang memicu panic

Contoh kasus:
Lia, 23 tahun, datang berkonsultasi ditemani oleh ibunya, dengan keluhan takut mati.
Berdasarkan hasil wawancara diperoleh keterangan bahwa sejak sekitar 1 tahun
terakhir, Lia beberapa kali mengalami kejadian aneh (yang menurut ibunya adalah
karena pancer-nya, atau saudara kembarnya dari alam lain), yaitu tiba-tiba lemas.
pusing, keluar keringat dingin, tubuh menggigil, jantung berdetak cepat, dan terkadang
seperti hendak pingsan. Jika serangan datang, Lia tidak dapat melakukan aktivitas
apapun kecuali hanya berbaring di tempat tidur. Lia tidak dapat menjelaskan kapan
serangan terjadi, karena begitu tiba-tiba dan tidak dapat diperkirakan. Terkadang
beberapa kali dalam sehari, namun terkadang 2 minggu ia tidak mendapat serangan
sama sekali. Lia juga tidak dapat menjelaskan ketakutan atau kekhawatiran yang
dirasakannya saat serangan, karena ia sendiri bingung apa yang dikhawatirkannya. Lia
mengatakan mungkin ia takut mati. Ketika ditanyakan kembali apa yang ditakutkannya
dari kematian, Lia kebingungan dan tidak dapat menjelaskannva secara detail.
Gangguan itu mengganggu Lia, karena seringkali kegiatannya jadi terhambat jika
serangan terjadi. Ibunya sering memarahi Lia, karena jika serangan terjadi ia seperti
orang ketakutan, padahal tidak ada yang perlu ditakutkan. Jika sudah demikian, Lia
jadi tidak dapat membantu ibunya melakukan kegiatan kerumahtanggaan. Lia sendiri
juga kesal karena tiba-tiba ia menjadi pengecut karena tidak berani pergi sendirian

tanpa ditemani. Ia khawatir jika serangan muncul tiba-tiba, orang-orang akan


keheranan dan hanya menontonnya, sementara tidak ada yang akan membantunya
jika tiba-tiba Iemas. (Sumber: kasus pribadi)

C. GENERALIZED ANXIETY DISORDER


Generalized Anxiety Disorder (GAD) menurut DSM IV (dalam Kaplan, Sadock, &
Grebb, 1994) adalah kekhawatiran yang berlebihan dan bersifat pervatif, disertai dengan
berbagai simtom somatik, yang menyebabkan gangguan signifikan dalam kehidupan sosial
atau pekerjaan pada penderita, atau menimbulkan stres yang nyata padanya. Menurut
Davison & Neale (2001), individu yang mengalami GAD mengalami kecemasan yang terus
menerus, bahkan seringkali tentang hal-hal kecil.
Prevalensi GAD pada populasi normal di Amerika Serikat diperkirakan sebesar 5%
(Wittchen, et.al dalam Davison & Neale, 2001). Selanjutnya dijelaskan pula bahwa GAD
lebih banyak terjadi pada perempuan, sekitar 2 kali lebih banyak daripada pada laki-laki.
Gangguan ini biasanya timbul pada pertengahan usia remaja, meskipun dapat pula muncul
pada usia yang lebih tua atau bahkan lebih muda (Barlow, et.al dalam Davison & Neale,
2001). Hal yang dianggap turut berperan dalam pembentukan gangguan ini adalah stress
dalam hidup. GAD agak sulit untuk disembuhkan dan dalam penelitian selama 5 tahun

Woodman dkk (dalam Davison & Neale, 2001) menemukan hanya sekitar 18 % penderita
GAD yang dapat sembuh total.

Etiologi (dari Davison & Neale, 2001)


Pandangan psikoanalisa. Menurut pandangan ini, sumber GAD adalah konflik tidak sadar
antara ego dan impuls dari id; dorongan agresivitas dan seksual berusaha untuk keluar,
namun ego menahannya karena khawatir akan hukuman yang mungkin diterima dengan
memenuhi dorongan id. Karena sumber cemas yang berada pada ketidaksadaran inilah
penderita GAD acapkali merasa cemas tanpa mengetahui sebabnya. Konflik antara id dan
ego ini berlangsung terus-menerus, dan penderita tidak mampu memindahkannya pada
obyek tertentu (seperti dalam fobia), sehingga kecemasan muncul hampir setiap saat.

Pandangan kognitif-behavioral. Salah satu teori perilaku mengemukakan bahwa


terbentuknya GAD sama dengan pada fobia, bahwa kecemasan dipandang sebagai sesuatu
yang dipelajari berdasarkan prinsip kondisioning. Fokus teori lainnya adalah pada kontrol
dan ketidakberdayaan. Beberapa kejadian menimbulkan stres akan menimbulkan cemas
jika individu tidakk memiliki kontrol (baik yang dipersepikan maupun yang nyata)
terhadapnya. Penderita GAD menurut Bow (1988), mempersepsi peristiwa-peristiwa yang
mengancam sebagai sesuatu yang berada di luar kontrol mereka. Mineka (1992)
menjelaskan bahwa peristiwa yang tidak dapat di rediksi lebih menimbulkan kecemasan
daripada peristiwa yang dapat diperkirakan sebelumnya.
Pandangan kognitif yang lain (Borkovec, et.al, 1995, 1998) mengemukakan bahwa
kekhawatiran simtom utama GAD adalah perasaan yang membantu penderita
mengatasi emosi negatif. Kekhawatiran ini sebenarnya tidak terlalu membangkitkan emosi,
dan dengan merasa khawatir penderita GAD dapat menghindari gambaran-gambaran yang
menyakitkan (misalnya kematian keluarga, penyakit, dll) sehingga kecemasan akan hal
tersebut berkurang.

Pandangan biologis. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa GAD mungkin memiliki


komponen genetik, namun hingga kini belum dapat dibuktikan secara tepat peranan faktor
genetik terhadap munculnya GAD. Pandangan biologis lainnya tentang GAD berhubungan
dengan adanya hambatan atau gangguan pada neurotransmiter GABA, sehingga
kecemasan tidak dapat dikontrol.

Penanganan (Treatment)
Pandangan psikoanalisa. Penanganan GAD menurut pandangan ini adalah dengan
membantu penderita menghadapi konflik mereka yang sebenarnya. Secara umum caranya
sama dengan penanganan fobia.

Pandangan kognitif-behavioral. Beberapa cara dapat dilakukan untuk menangani


penderita GAD. Pertama adalah meminta penderita menjelaskan kecemasan mereka dalam
bentuk respons terhadap situasi yang lebih teridentifikasi. Kemudian kecemasan (free
floating anxiety) penderita direformulasi menjadi satu atau beberapa fobia atau kecemasan
yang bertanda, sehingga lebih mudah ditangani. Namun karena cara ini dianggap cukup
sulit, beberapa ahli menganjurkan penanganan yang lebih umum, misalnya pemberian
pelatihan relaksasi yang lebih intensif.

Jika yang mendasari kecemasan adalah perasaan tidak berdaya, maka terapis
membantu klien memperoleh keterampilan yang mungkin dibutuhkan sehingga mereka
merasa kompeten. Pendekatan lain adalah dengan menampilkan (dengan meminta pasien
untuk membayangkan) apa yang menjadi sumber kecemasan berlebihan pada penderita.
Atau dengan kata lain pasien diminta membayangkan alasan atau penjelasan yang tidak
terlalu mengganggu pada peristiwa yang sebelumnya menjadi sumber kecemasan.

Penanganan biologis. Melalui pemberian obat-obatan anxiolytics pada terapi untuk fobia
maupun gangguan panik. Namun yang harus diperhatikan, kebanyakan obat tersebut
memiliki efek samping yang tidak menyenangkan, misalnya mengantuk, hilangnya ingatan,
depresi, ataupun ketergantungan fisik, dll (Davison & Neale, 2001).

D. GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF
Gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang
dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk
melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stres dan mengganggu
fungsinya dalam kehidupan sehari-hari (Davison & Neale, 2001). Prevalensi penderita
gangguan ini adalah sekitar 1-2 %, dengan jumlah penderita perempuan lebih banyak
daripada laki-laki. Umumnya gangguan terjadi pada masa dewasa muda, dan seringkali
mengikuti serangkaian peristiwa yang menimbulkan stres besar (Kringlen dalam Davison &

Neale, 2001). Onset yang lebih awal banyak terjadi pada laki-laki dan diasosiasikan dengan
kompulsi untuk memeriksa, sedangkan pada perempuan onset lebih akhir, dan
berhubungan dengan kompulsi membersihkan (Norshivani, et.al dalam Davison & Neale,
2001).
Pengertian obsesi menurut Kaplan, Sadock, & Grebb (1994) adalah pemikiran, ide,
atau sensasi yang muncul secara berulang-ulang. Menurut Davison Neale (2001), hal-hal
tersebut muncul tanpa dapat dicegah, dan individu merasakannya sebagai hal yang tidak
rasional dan tidak dapat dikontrol. Sedangkan kompulsi menurut Davison & Neale (2001)
adalah perilaku atau tindakan mental yang berulang, dimana individu merasa didorong untuk
menampilkannya untuk mengurangi stres. Obsesi meningkatkan kecemasan individu,
sedangkan menampilkan atau melakukan kompulsi dapat menguranginya (Kaplan, Sadock,

& Grebb (1994). Beberapa kompulsi yang umum menurut Davison & Neale (2001) antara
lain :

Mengikuti kebersihan dan keteraturan, terkadang dengan ritual tertentu yang dapat
memakan waktu berjam-jam

Menghindari obyek tertentu

Menampilkan

kegiatan-kegiatan

praktis

yang

repetitif,

aneh,

dan

bersifat

pencegahan, misalnya menghitung

Memeriksa, berkali-kali memeriksa untuk memastikan bahwa perilaku yang sudah


ditampilkan benar-benar telah dikerjakan

Menampilkan perilaku tertentu seperti makan dengan sangat perlahan-lahan

Etiologi
Pandangan Psikoanalisa. Menurut pandangan psikoanalisa, obsesi kompulsi timbul dari
daya-daya instinktif seperti seks dan agresivitas, yang tidak berada dibawah kontrol individu
karena toilet-training yang kasar. Sehingga individu terfiksasi pada masa anal (Davison &
Neale, 2001). Freud (dalam Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994) mengemukakan beberapa
mekanisme defensif utama yang menentukan kualitas simtom, yaitu isolasi, undoing, dan
reaksi formasi. Sedangkan Adler (dalam Kaplan, Sadock, & Greob, 1994) memandang
obsesif kompulsif sebagai hasil dari perasaan tidak kompeten.

Pandangan kognitif dan behavioral. Para ahli tingkah laku mengemukakan bahwa
obsesif-kompulsif adalah perilaku yang dipelajari, dan diperkuat dengan berkurangnya rasa
takut (Davison & Neale, 2001). Ide lain yang muncul adalah kompulsi memeriksa terjadi
karena defisit ingatan. Ketidakmampuan untuk mengingat beberapa tindakan dengan akurat,
atau untuk membedakan antara perilaku yang benar-benar dilakukan dan yang imajinasi

membuat seseorang memeriksa berkali-kali. Sedangkan pemikiran obsesif muncul karena


ketidakmampuan atau kesulitan untuk mengabaikan stimulus (Davison & Neale, 2001).

Pandangan biologis. Davison & Neale menjelaskan bahwa salah satu penjelasan yang
mungkin tentang gangguan obsesif-kompulsif adalah keterlibatan neurotransmiter di otak,
khususnya serotonin. Selain itu terdapat pula beberapa bukti tentang keterlibatan faktor
genetik dalam pembentukan gangguan.

Terapi (dari Davison, & Neale, 2001)


Terapi psikoanalisa. Terapi yang dilakukan adalah mengurangi represi dan memungkinkan
pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutinya. Namun karena pikiran-pikiran
yang mengganggu dan perilaku kompulsif bersifat melindungi ego dari konflik yang direpres,
maka hal ini menjadi sulit untuk dijadikan target terapi, dan terapi psikoanalisa tidak terlalu
efektif untuk menangani gangguan obsesif-kompulsif.

Exposure and Response Prevention. Terapi ini (dikenal pula dengan sebutan flooding)
diciptakan oleh Victor Meyer (1966), dimana pasien menghadapkan dirinya sendiri pada
situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif (seperti memegang sepatu yang kotor) dan
kemudian menahan diri agar tidak menampilkan ritual yang biasa dilakukan (yaitu mencuci
tangan). Mencegah individu menampilkan perilaku yang menjadi ritualnya membuatnya
menghadapi stimulus yang membangkitkan kecemasan, sehingga memungkinkan
kecemasan menjadi hilang.

Rational-Emotive Behavior Therapy. Terapi ini digunakan dengan pikiran untuk membantu
pasien menghapuskan keyakinan bahwa segala sesuatu harus terjadi menurut yang mereka
inginkan, atau bahwa hasil pekerjaan harus selalu sempurna. Terapi kognitif dari Beck juga
dapat digunakan untuk menangani pasien gangguan obsesif-kompulsif. Pada pendekatan ini
pasien didorong untuk menguji ketakutan mereka bahwa hal yang buruk akan terjadi jika
mereka tidak menampilkan perilaku kompulsi.

Penanganan biologis. Pengobatan secara biologis banyak menggunakan obat-obatan


yang meningkatkan serotonin.

Contoh Kasus:
Ny. Ita, 34 tahun ibu dari 2 anak, datang menemui psikolog dengan keluhan perilaku
yang mengganggu. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan bahwa Ny.
lta disarankan ke psikolog oleh suaminya, karena beberapa perilakunya yang
cenderung berlebihan. Menurut Ny. Ita, ia adalah pecinta kebersihan dan takut akan

kuman yang ada di mana-mana. Ny. Ita menceritakan, bahwa setiap hari ia mandi
hingga 6 kali, dan mencuci tangan lebih sering lagi. Setiap kali mandi, Ny. lta
mensabuni badannya sebanyak 5 kali, jika tidak, ia merasa belum bersih. Demikian
juga jika sedang cuci tangan, ia berkala-kali membersihkan tangan dengan sabun.
Sebelum mandi Ny. Ita selalu berusaha membersihkan dan menyikat lantai kamar
mandi dan kloset terlebih dahulu. Akibatnya waktu Ny. Ita banyak terbuang dalam
kegiatan mandi dan mencuci tangan. Ny. Ita memperkirakan kebiasaan itu berlangsung
saat ia SMA, dan semakin lama makin parah, Ny. Ita merasa terganggu dengan
kebiasaan ini, karena membuang waktunya dan membuatnya tidak dapat melakukan
aktivitas lainnya. Namun demikian Ny. Ita tidak berdaya untuk menghentikannya, dan
ingin mencari pertolongan untuk dapat mengontrol perilakunya tersebut. (Sumber:
kasus pribadi)

E. GANGGUAN STRES PASCATRAUMA (POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER)


Diasnosis PTSD mulai diperkenalkan pada DSM III, untuk menjelaskan respons yang
ekstrem terhadap stresor yang berat seperti peristiwa traumatik. Setiap individu yang
mengalami peristiwa traumatik akan mengalami stres, dan hal ini merupakan reaksi yang
wajar. Namun terdapat beberapa individu diperkirakan prevalensinya sekitar 1-3 % dari
populasi umum (Kaplan, Sadock, & Crebb, 1994) yang menampilkan respons yang ekstrem
dan mengalami gangguan serius dalam berbagai fungsi kehidupannya akibat peristiwa
tersebut. Mereka inilah yang mungkin mengalami gangguan PTSD. PTSD didefinisikan
sebagai sekelompok simtom yang muncul setelah individu mengalami atau menyaksikan
peristiwa traumatic (peristiwa yang berada di luar batas pengalaman individu) yang
melibatkan kematian atau ancaman kematian atau yang sangat parah atau ancaman
terhadap integritas diri maupun orang lain. Peristiwa tersebut haruslah menimbulkan
ketakutan atau kengerian yang intens, atau menimbulkan perasaan tidak berdaya (Davison
& Neale, 2001). Contoh peristiwa traumatik adalah bencana banjir besar seperti yang
pernah terjadi di Jakarta tahun 2002 lalu, menyaksikan terbunuhnya orang tua dalam konflik
bersenjata, perkosaan, dll.
Menurut DSM IV (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994) simtom utama PTSD dapat
dikelompokkan dalam 3 kelompok:

1. Mengalami kembali peristiwa traumatik secara persisten melalui beberapa cara.


Antara lain mengingat kembali peristiwa secara berulang dan mengganggu (pada
anak mungkin muncul dalam bentuk permainan repetitif), mimpi buruk yang
berulang-ulang, berperilaku atau merasa bahwa peristiwa tersebut sedang terjadi
dan bukan sesuatu yang telah berlalu, dll.
2.

Upaya menghindar yang menetap terhadap hal-hal yang mengingatkan pada


peristiwa traumatik dan penumpulan respons terhadap stimulus tersebut

3. Meningkatnya aktivitas secara persisten, antara lain tidak dapat tidur atau sulit
tidur nyenyak, mudah tersinggung atau meledak (marah), sulit konsentrasi,
berjaga-jaga (hypervigilance), respons terkejut yang berlebihan.

Untuk dapat menegakkan diagnosis PTSD, simtom-simtom tersebut harus muncul


setidaknya selama 1 bulan setelah terjadinya peristiwa traumatik. Sedangkan apabila
munculnya kurang dari 1 bulan (2 hari hingga 4 minggu), gangguan didiagnosa sebagai
gangguan stres akut (A cute Stress Disorder).
Beberapa simtom penyerta yang umum : dari PTSD menurut Kaplan, Sadock, &
Grebb (1994) adalah depresi, kecemasan, dan gangguan pikiran (misalnya sulit
konsentrasi). Menurut Davison & Neale (2001), terdapat beberapa masalah yang dapat
menyertai PTSD antara lain adalah kecemasan, depresi, kemarahan, rasa bersalah,
penyalahgunaan zat, masalah perkawinan, kesehatan yang buruk, dan gangguan dalam
pekerjaan. Demikian juga pemikiran untuk bunuh diri, serta masalah kesehatan seperti sakit
punggung, sakit kepala, dan gangguan pencernaan.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Davison & Neale (2001) bahwa simtom PTSD yang
muncul pada anak agak berbeda dengan yang dialami orang dewasa. Anak-anak lebih
sering menampilkan gangguan tidur dengan mimpi buruk (misalnya berupa monster), serta
menampilkan perubahan perilaku seperti menjadi lebih cengeng, kembali mengompol
padahal sebelumnya sudah berhenti, sulit mengungkapkan perasaan yang dialami, perilaku
menjadi agresif, dll.

Etiologi
Secara definitif, penyebab utama PTSD adalah stresor. Namun harus disadari bahwa tidak
setiap orang yang mengalami peristiwa traumatik akan menampilkan PTSD. Para ahli
haruslah juga mempertimbangkan berbagai faktor untuk mengetahui penyebab PTSD,
misalnya faktor biologis, psikososial, dan kejadian yang terjadi setelah trauma. Selain itu,
yang juga dianggap turut berperan adalah penilaian subyektif individu tentang tingkat
keparahan peristiwa traumatik dan respons subyektif individu terhadap peristiwa tersebut.
(Kaplan, Sadock, & Grebb 1994).

Faktor resiko. Beberapa hal dapat menjadi prediktor munculnya PTSD (Davison & Neale,
2001), antara lain persepsi tentang adanya ancaman terhadap kehidupan, keberadaan
sebagai wanita, perpisahan dini dengan orang tua, sejarah gangguan PTSD dalam keluarga,
pengalaman sebelumnya dalam menghadapi trauma, serta gangguan sebelumnya
(misalnya depresi dan kecemasan). Prevalensi PTSD juga dapat meningkat seiring dengan
keparahan peristiwa traumatik. Demikian juga munculnya simtom disosiatif dapat
meningkatkan kemungkinan munculnya PTSD. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah
kecenderungan untuk menganggap kegagalan sebagai kesalahan diri sendiri dan
menyesuaikan diri terhadap stres dengan memfokus pada emosi, bukan pada masalah.

Teori Psikologis (Davison & Neale, 2001). Ahli psikologi behavioristik berpendapat bahwa
PTSD muncul karena adanya proses belajar melalui kondisioning klasik terhadap rasa takut.
Sedangkan teori psikodinamika yang dikemukakan oleh Horowitz (1986) menyebutkan
ingatan tentang peristiwa traumatik muncul secara konstan pada pemikiran seseorang dan
sangat menyakitkan sehingga mereka secara sadar menekannya (supresi), atau
merepresnya.

Teori biologis. Menjelaskan bahwa trauma mengaktifkan sistem noradrenergik, yang


kemudian meningkatkan tingkat norepinephrine, sehingga membuat individu menjadi mudah
terkejut dan lebih cepat menampilkan emosi dibandingkan keadaan normal (Davison &
Neale, 2001).

Penanganan (Davison & Neale, 2001)


Penanganan terhadap trauma sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah
terjadinya peristiwa traumatik, sehingga dapat mencegah munculnya PTSD (melalui
intervesi krisis). Hal lain yang dapat dilakukan adalah memberi pendidikan atau
pengetahuan tentang PTSD pada orang yang mengalami trauma, terutama simtom-simtom
apa yang mungkin muncul. Selain itu, dapat dilakukan pendekatan terapi kelompok, dimana
masing-masing anggota kelompok dapat saling berbagi (saling mendukung.

Terapi tingkah laku yang berdasarkan exposure juga mungkin dilakukan, yaitu
dengan mengkonfrontasi pasien dengan cara tertentu yang sebenarnya ingin dihindari
pasien. Cara lain yang dilakukan adalah dengan EMDR (Eye Movement Desensitization and
Reprocessing). Sedangkan terapi biologia dapat dilakukan dengan memberikan obat
psikoaktif, termasuk antidepresan dan transquilizer.
Apapun pendekatan atau penanganan yang dipilih untuk membantu penderita PTSD,
hal lain yang juga cukup penting menurut para ahli adalah dukungan sosial. Menjadi bagian
dari kelompok, memiliki keluarga, teman, sesama penderita PTSD, atau individu yang
pernah mengalami trauma, dapat sangat membantu bagi individu untuk mengurangi
kemungkinan mengalami PTSD.

Contoh Kasus
Sri, 19 tahun, adalah seorang korban perkosaan yang dibawa ke psikolog oleh orang
tuanya. Menurut orang tuanya, sejak kejadian perkosaan hingga hari pemeriksaan
(sekitar 4 bulan kemudian). Sri menampakkan perilaku aneh. Setiap malam ia hampir
tidak pernah tidur, dan hampir selalu ketakutan. Ia baru bisa tidur jika minum obat tidur
dari dokter. Sri berkali-kali mengigau bukan hanya malam hari, namun juga siang
saat ia tidak sedang tidur, berteriak-teriak dan memaki pelaku. Sri juga sering tiba-tiba
menangis

ketakutan,

katanya

ia

tiba-tiba

melihat

lagi

pelaku

datang

dan

memperkosanya. Jika melihat laki-laki selain ayah dan adiknya, Sri tampak ketakutan,
kemudian berteriak-teriak sambil memukul. Ayahnya menduga Sri mengangggap
mereka adalah orang yang memperkosanya. Oleh karenanya, setiap hari Sri hanya
mengurung diri di kamar (ditemani salah seorang anggota keluarganya) dan tidak bisa
mengerjakan pekerjaan rumah tangga (Sumber kasus pribadi).

RANGKUMAN BEBERAPA JENIS GANGGUAN CEMAS, PENGERTIAN DAN CONTOH :


Fobia Spesifik
Ketakukan
berlebihan

dan

Fobia Sosial

Gangguan Panik

yang Ketakutan

yang

Ketakukan

tidak berlebihan

yang

mengalami

rasional, atau antisipasi berhubungan

dengan

panik.

Bisa

GAD

akan Ketakukan

serangan kecemasan yang terjadi


muncul hampi setiap saat dalam

terhadap suatu stimulus keberadaan orang lain,

mengikuti

peristiwa kehidupan

spesifik

penetus,

misalnya bahkan

takut

akan

penilaian

atau

untuk

individu,
hal-hal

orang lain yang akan

individu merasa tegang, yang kecil sekalipun.

membuatnya

stres,

dipermalukan

kapan

dll;

meskipun
tepatnya

serangan akan terjadi


belum dapat dipastikan.
Agoraphobia

ketakukan

mengalami

serangan

panik

di

tempat umum dan tidak


dapat
atau

mengatasinya
tidak

mendpat

bantuan dari orang lain


Tidak mau naik lift, fobia Tidak
tempat tertutup (karena karena
pernah

mau
takut

naik

lift Tidak

mau

berada karena

memiliki bersama dengan orang mendapat

pengalaman terkunci di yang

tidak

dalam lemari

waktu

dalam

dikenal

cukup tidak

lift Takut dan cemas bukan

tiba-tiba hanya pada saat naik


serangan lift,

Agoraphobia
mau

naik

namun

bahkan

: sebelum

dan

lift sesudahnya,

termasuk

yang karena takut mendapat dalam soal yang sepele

lama,
memungkinkan
lain

panik.

naik

takut

orang serangan panik di dalam

memberikan lift

penilaian terhadapnya

dan

tidak

dapat

menyelamatkan

diri

karena

tidak

ada

bantuan dari orang lain.

BEBERAPA JENIS FOBIA SPESIFIK :


Acrophobia

Algophobia

Rasa Sakit

Claustrophobia

Pathophobia

Tempat
Tinggi
Penyakit

Nyctophobia

Kegelapan

Myosophobia

Syphilophobia

Sifilis

Ergasiophobia

Menulis

Tapnephobia

Musophobia
Hematophobia
Pyorophobia

Tikur
Darah
Api

Aliruphobia
Monophobia
Zoophobia

Kucing
Sendirian
Binatang

Astraphobia
Ocholophobia
Pnigophobia

Anglophobia
Dromophobia

Inggris
Menyebrang
jalan
Metal / besi
Bekerja

Antlophobia
Erythrophobia

Banjir
Warna
merah
Bau badan
Tuhan

Chronophobia
Harpaxophobia

Tempat
Tertutup
Kontaminasi
atau kuman
Dikubur hiduphidup
Kilat / petir
Keramaian
Tercekik
/
tersedak
Salju
Perampok

Phasmophobia
Triskaidekaphobia

Hantu
Angka 13

Metallophobia
Phonophobia

Osphreisiphobia
Theophobia