Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN


KETUBAN PECAH DINI

DISUSUN OLEH :
1.
2.
3.
4.

ANANDA RATNA YUNITA


EKA SINDI MIFTAHUL JANNAH
LULUK HANDAYANI
RIZKI FAJRI EXA WIDIANINGSIH

AKADEMI KEPERAWATAN HANG TUAH JAKARTA


T.A 2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kelompok panjatkan kehadirat Allah SWT, sehingga kelompok dapat
menyelesaikan penyusunan makalah keperawatan dengan judul Asuhan
Keperawatan Ibu

Hamil

dengan Ketuban Pecah Dini.

Dalam penyusunan makalah ini, kelompok mendapat bantuan dari berbagai pihak,
maka pada kesempatan ini, kelompok mengucapkan terima kasih yang sebesar
besarnya terutama kepada :
1. Rita Wismajuwani, SKM, M.AP selaku Direktur Akademi Keperawatan Hang
Tuah Jakarta.
2. Elvi Olberty , S.Kp., M.Kepselaku Pudir I Akademi Keperawatan Hang Tuah
Jakarta dan Koordinator mata ajar Keperawatan Maternitas.
3. Soeroso, AMKG selaku Pudir II Akademi Keperawatan Hang Tuah Jakarta.
4. Ns. Sugeng Haryono, S.Kep, M.Kep selaku Pudir III Akademi Keperawatan
Hang Tuah Jakarta.
5. Ns. Eny Susyanti, S.Kep, M.Kep selaku wali kelas.
6. Saptiah Hasnawati, S.Kp sebagai Dosen Pembimbing dalam pembuatan
makalah ini
7. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan dan bimbingan kepada kami
Dalam penyusunan makalah ini, kelompok masih merasa banyak kekurangan baik
pada penulisan, maupun materi. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat
kelompok harapkan demi penyempurnaan penyusunan makalah ini. Kelompok
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa/i.
Jakarta, Maret 2016
Penyusun
Kelompok

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................
DAFTAR ISI...............................................................................................................
BAB I

: PENDAHULUAN......................................................................................

A Latar Belakang..................................................................................................1
B Tujuan Penulisan...............................................................................................2
1 Tujuan Umum...............................................................2
2 Tujuan Khusus..............................................................2
C Ruang Lingkup..................................................................................................2
D Metode Penulisan..............................................................................................2
E Sistematikapenulisan.........................................................................................3
BAB II : TINJAUAN TEORI
A
B
C
D
E
F
G
H

Pengertian.........................................................................................................4
Etiologi..............................................................................................................4
Tanda dan Gejala...............................................................................................5
Patofisiologi......................................................................................................6
Komplikasi.......................................................................................................6
Pemeriksaan penunjang....................................................................................7
Penatalaksanaan Medis.....................................................................................8
Asuhan Keperawatan........................................................................................9

BAB III : PENUTUP


A. Kesimpulan.....................................................................................................17
B. Saran...............................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita,
yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian diakhiri dengan
proses persalian. Kehamilan merupakan suatu keadaan fisiologis, akan tetapi
pentingnya diagnosis kehamilan tidak diabaikan. Namun dalam kehamilan kadang
kala terjadi pecah ketuban seblum waktunya atau yang sering disebut dengan ketuban
pecah dini ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan
dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi sampai sepsis yang
meningkatkan morbiditas dan mortalitas periantal dan menyebabkan infeksi pada
ibu. (Wikipedia , 2016)
Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obsteri berkaitan
dengan penyulit kelahiran premature terjadinya infeksi koriaminiotis sampai spesies,
yang meningkatkan morbditas dan moralitas perinatal dan menyebabkan infeksi pada
ibu. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran
atau meningkatnya tekanan intrauteri atau oleh karena kedua faktor tersebut.
Bekurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal
dari vagina dan serviks. (Abdul Bari Saifuddin, 2009)
Insiden dari PROM ( prelobour rupture of membrane ) 6-19 % kehmilan dan
PPROM (preterm prelobour rupture of membrane ) 2% kehamilan. Menurut
organisasi kesehatan (WHO)angka kejadia Ketuban Pecah Dini pada tahun 2013
sebanyak 50-60%. Sedangkan di indonesia pada tahun 2013 sebanyak 35 % (Depkes
RI 2013)
Peranan perawat melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative. Secara
promotif perawat dapat memberikan penjelasan pada klien tentang penyebab
ketuban dapat pecah sebelum waktunya dan dapat menyebabkan komplikasi yang
akan terjadi apabila tidak segera ditangani. Kemudian pada aspek preventif perawat

emberikan penjelasan bagaimana cara mencegah agar ketuban tidak pecah sebelum
waktunya, misalnya dengan cara mengatur pola hidup yang sehat, rajinberolahraga,
dan lain-lain. Secara kuratif perawat berperan memberikan obat-obatan sebagai
tindakan kolaborasi dengan tim dokter. Aspek rehabilitatif melipiuti peran perawat
dalam memperkenalkan pada anggota keluarga. Para perawat diharapkan bisa ikut
menekan angka kejadian ketuban pecah dini. Sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidup bangsa Indonesia agar lebih produktif dalam kegiatan social dan ekonomi
produktif. Melalui makalah ini, kelompok tertarik untuk membahas tentang asuhan
keperawatan pada ibu hamil dengan ketuban pecah dini menjadi masalah kesehatan
utama di Indonesia.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa/I mampu dan dapat mengetahui tentang ketuban pecah dini
yakni pecah sebelum waktunya pada masa kehamilan.
2. Tujuan Khusus
Adapaun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini, diharapkan mahasiswa
mampu memahami :
a. Memahami dan menjelaskan pengertian ketuban pecah dini
b. Mengetahui etiologi ibu hamil ketuban pecah dini
c. Mengetahui tanda dan gejala ketuban pecah dini
d. Mengetahui patofisiologi ketuban pecah dini
e. Mengetahui komplikasi ketuban pecah dini
f. Mengetahui pemeriksaan penunjang ketuban pecah dini
g. Mengetahui penatalaksanaan medis ketuban pecah dini
h. Memahami dan mempraktikan ketuban pecah dini
C. Ruang Lingkup
Dalam penyusunan makalah ini, kelompok hanya membahas mengenai asuhan
keperawatan ibu hamil dengan ketuban pecah dini

D. Metode Penulisan
Penulisan makalah ini, diperoleh dengan studi kepustakaan dan media internet
untuk jurnal e-book untuk mempelajari lieratur yang sesuai dengan judul.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika dari penyusunan makalah ini, terdiri dari tiga bab yaitu : BAB I :
Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup,

metode penulisan, dan sistematika penulisan, BAB II : Tinjauan Teori yang


terdiri dari pengertian, penyebab, tanda dan gejala, patofisiologi, komplikasi,
pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis, dan asuhan keperawatan, BAB
III : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan
setelah ditunggu satu jam, belum ada tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban
sampai terjadi kontraksi rahim disebut Kejadian ketuban pecah dini (periode
latern). Kondisi ini merupakan penyebab terbesar persalinan premature dengan segala
akibatnya. Early rupture of membrane adalah ketuban pecah pada fase latern
persalinan (Lily Yukaikhah, 2009).
Pecah ketuban sebelum persalinan adalah pecahnya ketuban sebelum persalinan
dimulai. Pecah ketuban sebelum persalinan dapat terjadi pada janin immature
(premature atau gestasi kurang dari 37 minggu) maupun janin matur (term) (Devi
Yulianti, 2006).
Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obsteri berkaitan
dengan penyulit kelahiran premature terjadinya infeksi koriaminiotis sampai spesies,
yang meningkatkan morbditas dan moralitas perinatal dan menyebabkan infeksi pada
ibu. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran
atau meningkatnya tekanan intrauteri atau oleh karena kedua faktor tersebut.
Bekurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal
dari vagina dan serviks. (Abdul Bari Saifuddin, 2009)
B. Etiologi
Penyebab ketuban pecah dini, yakni :
1. Infeksi : Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun
asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebankan
terjadinya KPD.

2. Serviks inkompetensia : Kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena


kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).
3. Tekanan intra uteri yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(Overdistensi utris) misalnya trauma, hidramination, gemili. Trauma oleh
beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisiatau penyebab terjadinya KPD.
Trauma yang dapat misalnya berhubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun
amnosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi.
4. Kelainan letak misalnya sungsang sehigga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
5. Keadaan sosial ekonomi
6. Faktor lain :
a. Faktor golongan darah akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai
dapat menimbulkan kelemahan jaringan kulit ketuban.
b. Faktor disporporsiantar kepala janin dan panggul ibu
c. Faktor multi gravidas, merokok dan pendarahan antepartum
d. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).
7. (Anik Maryunani, 2013)
8.
C. Tanda dan Gejala
1. Keluarnya cairan yang merembes melalui vagina.
2. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak mungkin cairan
tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna
darah.
3. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai
kelahiran.
4. Demam, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda
tanda infeksi yang terjadi.
9. (Anik Maryunani, 2013)
10.
D. Patofisiologi
11. Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus
dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi
perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena
seluruh selaput ketuban rapuh.

12. Terdapat keseimbangan antara sntesis dan degradasi ekstraseluler matriks.


Perubahan struktur, jumlah sel dan katabolisme kolagen menyebabkan aktivitas
kolagen berubah dan menyebabkan selaput ketuban pecah.
13. Faktor resiko untuk terjadinya ketubban pecah dini adalah :
1. Berkurangnya asam askorbik sebagai komponen kolagen
2. Kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat pertumbuhan
struktur abnormal karena antara lain merokok
14. Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metaloproteinase (MMP) yang
dihambat oleh inhibitor jaringan spesifik dan inhibitor protase. Mendekati waktu
persalinan, keseimbangan antara MMP dan TIMP 1 mengarah pada degradasi
proteolitik dari matriks ekstraselular dan membrane janin. Aktivitas degradasi
proteolitik ini meningkat menjelang persalinan. Pada penyakit periodontitis dimana
terdapat peningkatan MMP, cenderung terjadi ketuban pecah dini.
15. Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester ketiga selaput
mudah pecah. Melemahnya kekuatan selaput ketuban ada hubungannya dengan
pembesaran uterus, kontraksi rahim, dan gerakan janin.
16. Pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia pada selaput ketuban.
Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm merupakan hal fisiologis. Ketuban pecah
dini pada kehamilan prematur disebabkan oleh adanya faktor faktor eksternal,
misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. Ketuban pecah dini prematur sering
terjadi pada polihidramnion, inkompeten serviks, solusio plasenta. (Sarwono
Prawihardjo, 2011)
17.
E. Komplikasi
18. Komplikasi yang mungkin terjadi menurut Abdul Bari Saifuddin, 2008 yaitu :
1. Bagi Ibu :
a. Infeksi maternal ataupun neonatal
b. Seksio sesarea
c. Gagalnya persalinan normal
d. Kematian
2. Bagi Janin :
a. Persalinan premature
b. Hipoksia karena kompresi tali pusat
c. Deformitas janin
19.
F. Pemeriksaan Penunjang
20. Untuk menegakan diagnosis dapat diambil pemeriksaan :

a. Inspekulo untuk pengambilan cairan pada forniks posterior:


1. Pemeriksaan lakmus yang akan berubah menjadi biru (sifat basa)
2. Fern tes cairan amnion
3. Kemungkinan infeksi dengan memeriksa :
a) Beta sterepcocus
b) Clamydia trachomatis
c) Neisseria gonorrheae
b. Pemeriksaan USG untuk mencari
1. Amniotic fluid index (AFI)
2. Pengukuran BB janin
3. Detak Jantung janin
4. Kelainan kongenital atau deformitas
c. Membuktikan kebeneran ketuban pecah dengan jelas
1. Aspirasi air ketuban untuk dilakaukan :
a) Kultur cairan amnion
b) Pemeriksaan Interleukin 6
c) Alfa fetoprotein
21.Seluruhnya digunakan untuk memungkinkan adanya kemungkinan
infeksi intrauteri
2. Penyutikan indigo karmin ke dalam amnion serta melihat dikeluarkannya
pervaginal.
22. (Ida Bagus Gde Manuaba, 2007)
23.
G. Penatalaksanaan Medis
a. Konservatif
1. Rawat inap rumah sakit
2. Tidak ada tanda- tanda infeksi dan gawat janin
3. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
4. Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama5 hari
5. Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan
kortikosteroid untuk memetangkan fungsi paru janian
6. Jangan melakukan pemeriksaan dalam vagina kecuali ada tanda-tanta
persalinan
7. Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat
janian
8. Bila dalam 3x24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus
maka lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung terus
lakukan terminasi kehamilan.
b. Aktif

1. Bila di dapatkan infeksi berat makan berikan antibiotik dosisi tinggi. Bila di
temukan tanda-tanda inpartu, infesi dan gawat janian maka lakukan terminasi
kehamilan
2. Induksi atau akselerasi persalinan
3. Lakukan seksio sesaria bila induksi atau aselerasi persalinan mengalami
kegagalan
4. Lakukan seksio histerektomibila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan.
24. (Anik Maryunani et.al , 2013)
25.
H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
1) Nama Ibu
2) Umur
3) Pekerjaan
4) Agama
5) Alamat
6) Nama Suami
b. Riwayat penyakit.
1) Riwayat kesehatan sekarang : ibu datang dengan pecahnya ketuban
sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

komplikasi.
2) Riwayat kesehatan dahulu :
Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion.
Sintesis, pemeriksaan pelvis, dan hubungan seksual.
Kehamilan ganda, polihidramnion.
Infeksi vagina/serviks oleh kuman streptokokus.
Selaput amnion yang lemah atau tipis.
Posisi fetus tidak normal.
Kelainan pada otot serviks atau genital seperti pendeknya serviks.
Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.
3) Riwayat kesehatan keluarga : ada tidaknya keluhan ibu yang lain yang
pernah hamil kembar atau turunan kembar.
c. Keluhan utama, sejak kapan keluhan tersebut dirasakan
d. Riwayat haid
e. Riwayat perkawinan :
26.Menikah atau tidak, berapa kali menikah, berapa lama menikah.
f. Riwayat kehamilan : Persalinan Premature
g. Riwayat psikososial
h. Riwayat hubungan seksual baru-baru ini
27.Pola Hubungan Seksualitas Pada Kehamilan
i. Anamnesa Keluarga
j. Kebiasaan Sehari-hari.
k. Pemeriksaan Fisik Umum

1) Kesadaran
2) Tanda-tanda vital meliputi tensi, nadi, suhu, respirasi.
3) Berat badan sebelum hamil dan sesudah hamil
4) Inspeksi
a) Muka
i.
Kelopak mata
: cekung atau tidak
ii. Konjungtiva
: anemis atau tidak
iii.
Sklera
: ikterik atau tidak
b) Mulut dan gigi : apakah ada stoma, mulut kering, warna mukosa gigi,
karies pada gigi, lidah, graham gigi, dan gusi.
c) Leher : Pembendungan vena, pembesaran kelenjar thyroid dan
kelenjar limfa.
d) Dada : Bentuk buah dada, pigmentasi puting dan areola, keadaan
puting menonjol atau tidak.
e) Perut : Pembesaran, keadaan pusat, gerakan janin, kontraksi rahim,
striae, linea, dan bekas luka.
f) Genitalia : adanya edema varices, luka keadaan perineum elastis atau
tidak, apa ada benjolan, kemerahan, kebersihan.
28.
5) Palpasi
a) Besarnya rahim, dengan ini dapat menentukan tuanya kehamilan
(TFU).
b) Menentukan letaknya anak dalam rahim (leopald I-IV), serta
diraba apakah ada kelainan seperti tumor, cysta, pembesaran
limfa, dll.
c) Kandung kemih penuh atau tidak.
d) Pembukaan serviks (0-4 cm).
29.
6)
a)
b)
c)

Auskultasi
Denyut Jantung Janin
Bising tali pusat
Gerakan Janin

30.
7) Vagina Taucher
a) Portio: masih tebal atau sudah mengalami penipisan
b) Pembukaan beberapa cm
c) Selaput ketuban masih ada atau tidak
d) Air ketuban (jumlah, warna, dan bau)
e) Lendir darah
f) Anus ada hemoroid apa tidak
2. Diagnosa Keperawatan

10

a. Risiko tinggi infeksi maternal yang berhubungan dengan prosedur invasif,


pemeriksaan vagina berulang, dan ruptur membran amniotik.
b. Kerusakan pada pertukaran gas pada janin yang berhubungan dengan adanya
penyakit.
c. Resiko tinggi cedera pada janin yang berhubungan dengan melahirkan bayi
prematur/tidak matur
d. Ansietas yang berhubungan dengan situasi kritis, ancaman pada diri
sendiri/janin.
e. Resiko tinggi penyebaran infeksi/sepsis yang berhubungan dengan adanya
infeksi, prosedur invasif, dan peningkatan pemahaman lingkungan
f. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadinya ketegangan otot
rahim
g. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan atau konfirmasi tentang
penyakit.
h. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri ,
peningkatan HIS.
i. Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik.
31.
3. Intervensi Keperawatan
a. Diagnosa : risiko tinggi infeksi maternal yang berhubungan dengan prosedur
invasif, pemeriksaan vagina berulang, atau ruptur membran amniotik.
1) Tujuan : infeksi maternal tidak terjadi.
2) Kriteria hasil : dalam waktu 3 x 24 jam ibu bebas dari tanda-tanda infeksi
(tidak demam, cairan amnion jernih hampir tidak berwarna, dan tidak
berbau).
32.
Intervensi
34.
Mandiri
35. 36.
Lakukan pemeriksaan
1 vagina awal, ulangi bila pola
kontraksi atau perilaku ibu
menandakan kemajuan.
38. 39.
Gunakan teknik aseptik
2 selama pemeriksaan vagina.
41. 42.
Anjurkan perawatan
3 perineum setelah eliminasi setiap
4 jam dan sesuai indikasi.
44. 45.
Pantau dan gambarkan

33.

Rasional

37.
Pengulangan
pemerikasaan vagina berperan
dalam insiden infeksi saluran
asenden.
40.
Mencegah pertumbuhan
bakteri dari kontaminasi pada
vagina.
43.
Menurunkan risiko
infeksi saluran asenden.
46.

Pada infeksi, cairan

11

karakter cairan amniotik.

47. 48.
Pantau suhu, nadi,
5 pernapasan, dan sel darah putih
sesuai indikasi.

50. 51.
6

Tekankan pentingnya

amnion menjadi lebih kental dan


kuning oekat serta dapat
terdeteksi adanya bau yang kuat.
49.
Setelah 4 jam setelah
membran ruptur, insiden
korioamnionitis meningkat
secara progresif sesuai dengan
waktu yang ditunjukan melalui
TTV
52.
Mengurangi

mencuci tangan yang baik dengan perkembangan mikroorganisme.


benar.

53.

Kolaborasi

54. 56.

Berikan cairan oral dan

7 parenteral sesuai indikasi. Berikan


55.
enema pembersih bula sesuai
indikasi.
58. 59.
8

Berikan antibiotik

profilaktik bila diindikasikan.

57.

Meski sering tidak boleh

dilakukan, namun evaluasi usus


dapat meningkatkan kemajuan
persalinan dan menurunkan
risiko infeksi.
60.
Antibiotik dapat
melindungi perkembangan
korioamnionitis pada ibu

61. 62.
9

Dapatkan kultur darah bila

gejala sepsis ada.

berisiko.
63.
Mendeteksi dan
mengindentifikasi organisme
penyebab terjadinya infeksi.

64.
b. Diagnosa : Gangguan kerusakan pertukaran gas pada janin yang berhubungan
dengan proses penyakit.
1) Tujuan : pertukaran gas pada janin kembali normal.
2) Kriteria hasil : diharapkan dalam waktu 1 x 24 jam :
a) Klien menunjukkan DJJ dan variabilitas denyut per denyut dalam batas
normal.
b) Bebas dari efek-efek merugikan dan hipoksia selama persalinan.
65.
66.
68.

Intervensi
Mandiri

67.

Rasional

12

69. 70.
1

Pantau DJJ setiap 15-30

menit

71.

Takikardi atau brdikardi

janin adalah indikasi dari


kemungkinan penurunan yang

72. 73.
2

Periksa DJJ dengan

segera bila terjadi pecah ketuban

mungkin perlu intervensi


74.
Mendeteksi distres janin
karena kolaps alveoli.

dan periksa 5 menit kemudian,


observasi perineum ibu untuk
mendeteksin prolaps tali pusat.
75. 76.
Perhatikan dan catat

77.

warna serta jumlah cairan

hipoksia yang lama

amnion dan waktu pecahnya

mengakibatkan cairan amnion

ketuban.

berwarna seperti mekonium

Pada presentasi verteks,

karena rangsangan vagal yang


merelaksasikan sfingter anus
78. 79.
4

Catat perubahan DJJ

janin.
80.
Mendeteksi beratnya

selama kontraksi. Pantau

hioksia dan kemungkinan

aktivitas uterus secara manual

penyebab janin rentan terhadap

atau elektronik. Bicara pada

potensi cedera selama persalinan

ibu/pasangan dan berikan

karena menurunnya kadar

informasi tentang situasi

oksigen.

tersebut.
81.
Kolaborasi
82. 83.
Siapkan untuk

84.

melahirkan dengan cara yang

viabilitas mungkin memerlukan

paling baik atau dengan

kelahiran secsio caesaria untuk

intervensi bedah bila tidak

mrncegah cidera janin dan

terjadi perbaikan.

kematian karena hipoksia.

Dengan penurunan

85.
c. Diagnosa : Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan ketegangan
otot rahim
1) Tujuan : mengurangi nyeri
2) Kriteria hasil : diharapkan dalam waktu 1 x 24 jam:

13

a) Menggurangi rasa nyeri dan memberikan rasa nyaman


b) Mengurangi tinggkat stress pasien dan pasien dapat beristirahat
86.
Intervensi
88.
Mandiri
89. 90.
Kaji tanda-tanda vital
1
92. 93.

Kaji skala nyeri 0 s.d 10

2
95. 96.
Ajarkan Klien teknik
3 relaksasi
98. 99.

Atur posisi klien

4
101.102. Berikan lingkungan yang
5 nyaman dan batasi pengunjung
104.

Rasional

91.
mengetahui keadaan
umum pasien.
94.
Menentukan derajat nyeri
pasien dan menentukan tindakan
yang akan dilakukan.
97.
Dapat mengurangi nyeri
yang dirasakan pasien.
100. Dapat mengurangi rasa
nyeri dan memberikan rasa
nyaman
103. Dapat mengurangi tingkat
stress pasien dan pasien dapat
beristirahat.

Kolaborasi

105.106.
6

87.

Kolaborasi dengan dokter

untuk pemberian obat analgetik


108.
109.

107.

Dapat Mengurangi rasa

nyeri pada ibu

110. Pada panggul yang normal, pada waktu pembukaan lengkap, janin harus
segera dilahirkan. Pada letak sungsang janin harus dilahirkan dengan ekstraksi
kaki, pada letak lintang dilakukan versi ekstraksi. Sedangkan pada presentasi
belakang kepala dilakukan dengan tekanan yang cukup pada fundus uteri
ketika his. Agar kepala janin masuk dalam rongga panggul dan segera dapat
dilahirkan, bila perlu tindakan ini dapat dibantu dengan melakukan ekstraksi
cunam.
111. Pada keadaan dimana janin sudah meninggal, tidak ada alasan untuk
menyelesaikan persalinan dengan segera. Persalinan di awasi, sehingga
berlangsung spontan dan tindakan hanya dilakukan jika diperlukan demi
kepentingan ibu. Ibu ditidurkan dengan posisi Trendelenburg dengan harapan
bahwa ketuban tidak pecah terlalu dini dan tali pusat masuk kembali kedalam

14

cavum uterus. Selama menunggu, denyut jantung janin diawasi dengan


seksama, sedangkan kemajuan persalinan hendaknya selalu dinilai dengan
pemeriksaan dalam untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan
selanjutnya.
112.
4. Implementasi Keperawatan
113. Implementasi keperawatan merupakan tindakan yang sesuai dengan yang
telah direncanakan, mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi.
114. Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan berdasarkan analisis dan
kesimpulan perwat dan bukan atas petunjuk tenaga kesehatan lain
115. Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang didasarkan oleh
hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain.
116.
117.
5. Evaluasi Keperawatan
118. Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan
tujuan yang hendak dicapai.
119.
(Mitayani, 2009)

120.
121.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN


122.

A. Kesimpulan
123. Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan, dan setelah ditunggu satu jam, belum ada tanda persalinan. Waktu
sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut Kejadian ketuban
pecah dini (periode latern). Kondisi ini merupakan penyebab terbesar persalinan
premature dengan segala akibatnya. Early rupture of membrane adalah ketuban
pecah pada fase latern persalinan (Lily Yukaikhah, 2009). Penyebab ketuban
pecah dini diantaranya ialah Infeksi, Serviks inkompetensia, Tekanan intra uteri
yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdosis uteri), kelainan letak
misalnya sungsang dan lain-lain. Tanda dan gejala ketuban pecah sebelum
waktunya yakni Keluarnya cairan yang merembes melalui vagina, Aroma air
ketuban baerbau manis dan seperti bau amoniak mungkin cairan tersebut masih
merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergris warna merah, Cairan ini
tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran dan
Demam, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda

tanda infeksi yang terjadi. (Anik Maryunani, 2013).


124.
B. Saran
Mahasiswa
125.

Sebagai mahasiswa/i calon tenaga kesehatan, diharapkan

lebih memperdalam tentang berbagai tanda dan gejala yang ada tentang
ketuban pecah dini dan bagaimana cara mendeteksi tanda dan
gejalanya sampai dengan asuhan keperawatannya.
2

Perawat
126.

Peranan perawat melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan

rehabilitative. Secara promotif perawat dapat memberikan penjelasan pada


klien tentang penyebab ketuban dapat pecah sebelum waktunya dan dapat
menyebabkan
15

16

127.

komplikasi yang akan terjadi apabila tidak segera ditangani.

Kemudian pada aspek preventif perawat memberikan penjelasan bagaimana


cara mencegah agar ketuban tidak pecah sebelum waktunya, misalnya
dengan cara mengatur pola hidup yang sehat, rajin berolahraga, dan lain-lain.
Secara kuratif perawat berperan memberikan obat-obatan sebagai tindakan
kolaborasi dengan tim dokter. Aspek rehabilitatif melipiuti peran perawat
dalam memperkenalkan pada anggota keluarga.
3

Bagi Masyarakat
128.
Ibu hamil yang mengalami ketuban pecah dini agar istirahat total,
tidak bersetubuh dan mencatat suhu rektal setiap 6 jam dan datang ke rumah
sakit bila terdapat tanda-tanda amnionitis.

129.

DAFTAR PUSTAKA
130.
131. Chandranita , Ida Ayu et.al . 2008. Buku Ajar Patologi Obsteri. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC
132.
133. Maryunani, Anik . 2013 . Asuhan Keperawatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :
Tras Info Media
134.
135. Manuaba, Ida Bagus et.al. 2007. Pengantar Kuliah Obsteri. Jakarta : EGC
136.
137. Mitayani . 2009 . Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
138.
139. Prawihardjo, Sarwono . 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawihardjo
140.
141. Saifuddin, Abdul Bari et.al . 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal.
142.
143. Yulianti, Devi . 2005. Buku Saku Manajemen Komplikasi Kehamilan dan
Persalinan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
144.
145. Yulailah, Lily . 2008 . Seri Asuhan Kebidanan : Kehamilan. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC

LAMPIRAN

146.

Anda mungkin juga menyukai