Anda di halaman 1dari 147

Kumpulan Cerita dan Prosa Sa tu Dekade 1995 ~L~_J' 2005

TIdak ruwet, bahkan terang benderang; lak berarti tarpa isi yang menjentikkHa .

. untuk ~kir. Ada sebuah kala bahasa lnggris, wit, yang mungkin bisa CHterjemahkan dengan ungkapan 'oE!fkas: Kumpulan prosa ill mengl1dupkan yang cerkas dalam sastra Indonesia.

II

[ Goenawan Mohamad J

Pe:maknaan kernbali kembali kop~', Buddha, Herman, surat tak terleirimkan, cinta sejems yang manis, arau apa pun" mernbuktikan Dee tetap mernescna. Kalau kernarin paniria Nobel Sasrra masih rnaju mundur dengan nama Pramoedya, sekarang bisa mernaknai kern ba ll'., melalui karya-karya !OJ.

[ Arswendo Atmowiloro ]

Ruang cerpen yang sernpir dijadikannya wahana yang intens narnun eidak sesak unruk rnengungkapkan apa yang rak setal u rnampu d ikatakan, Lewar refleksi dan monolog Interior yang digarap dengan cakap dan jernih, pernbaca diajakn.ya menjelajahi halaman-halaman kecil dalam cerpen yang kini dijadikannya sernesca kehidupan,

[ Manneke Budiman ]

".to

Cerpen-cerpen Dee itu petsis racikan kopi dari rangan seorang ahli perarnu kepi: harurn, menyegarl(an, dan nikrnat. Pahir, rapi sekaligus mengandung rnanis.

[ FX Rody Gunawan ]

Dee adalah salah Sam penulis yang perlu diperharikan saa t In L Ek sp res i n ya u ni k, v isi n ya ser i n g rnengagerka Fl.

r Richard Oh ]

U" cl~ng-" n~ 1~ g' Il.~P" bl i ~ 1'~d<)M~;' No",,,, I? T, hu" 20112 Tt<lq"g Hak C:p\~

U-"Sku P H ak Col''''

1' .. ,,11,

I, H.k' Cip", merupxkan hal< .~~4J,,!if b,W I"'w"rl~ ~'",( J'oni"&""& t-I~~ CTjm, """,k rncngumurnkan "'~nU mernpcrb .. n.y~k Ctl)l;i~nI1'i;l} y~llg tlmbul ~rn, cnomil~i,$." ~\:(~'I'(!,h $lmHI crprnan dtijh.'rk~o Lr.n~. mcngu":lJ1Qi pc!mb:r.liJ53rl Intn-LIru( pemruran perund .. ngcn-uudangan )''''g llerlnku,

Pasal ri

I, &i~::'(lgs,i~p:E dC:II~,n Si;ngai<l Jnr.:l'j;I,!1,gg,:ir d::J;'I1 ~, a n.p~ blOi!k melakukan perb •• ~c::tn ·s.tb~g.i'rn"n ..

di""k",d <I.I,m r_1 2 1\)"11 ('I) ... au I~,~,I ~~ Ay,,, (I) d." Ay" (2) <lipid,,,,;, dJ.·"go~ p;d'~" 1"""1'" ........ 1"g,·m"."\$ ,p,li,,& .I"g~~! I (," ,,) butao (II "A,,~u d'''<41 p.,liuK ""o;iikj. Rp 1.000, 000'.00, bOl'" J"'" 'upi,h), • ,to " p.d,"" poo,r;" p:l,l;ng I.,,,, 7 (wj"h) rahun d",1 ,"""' d""d, p"li,,&, b,ny,k II.pS .. OOQ,uQO,OOO'.OO (lim,' ",iii" rL,pi.hjo.

1.. .B,~r.nng.i1;1.J.!<l dC'tLVn :iC::1\g."~,,, 1'11l..'11't1:;lt..k~II\. "l;~m~'rml~P'k=1'r'l1 fru::n~¢-dJ..r:i~:n. arau fnll..·Tloju.l'1 ~l.:"pJ.da urnum ;'!u~nl ciP,:'.1(' :It:IU ~'iI'r .. ns h:l,~il' '~l;:l1'i&.~n~!l fLilk ,dpl;;j, :U~IJ hak U;:~k;lit ~b~g~i <;liln.luud poda Ay" (11 dip;~."., d'ng-,,~ ,*I~,'" 1'0"1,,, fI01t"'-g I.",~ 5 (I'i"1o, <.'hun d.II' 'I'" dcnda paling b,oy,~ Rp~OO,O()O,OOO',OO (1;",0 "'''' jura "upi.hl.

FI LOSO FI KOPI

Kumpulan Cerita & Prosa Satu Dekade

Dee

RIUUII

1!"'l:.,F~L.. iII!HIIll

P1LOSOFI KOPI

Kumpulan Vr'!~ &; Pr osa Saru Deko,de e 2006 Dee

'I'llJ Lerak lr~~ir"I'i O"lain Sarnpul 9Ny~wa G!"ph;~ Lab (~w~y:n6@ya.hoo,oonl) Foro

Jerry Aurum

l'tnt"lbi,

Truedee Books & r-""p$M~cli" h trp:/ I"",,,,,,. [I'U edee, II er WW\v,g.\ga5medi~, nee

Ho;>diflC C~llr"r""r Service: 62·S [·n t4\0 \ S

C~t;\bn I: F~bru3ri 2006

DcI'

Filesof K:opi/l\;;nulis, Dee - CN. I - lahl't"~ Truedec Boob & C~g'l~M~dia. 2Q06

(xli) '+ (134) h Ion , w.s t;J"!1

ISBN 979·'96257·}·4

I JuJu]

Dee adalah sebuah Tangkisan [ Goenawan Moharnad ]

Dee adalah sebuah tangkisan: ia rnembukcikan tak ada '535[t3 w:;tngi". Isrilah ini bagi saya sebuah cemooh orang laki-laki rerhadap karya-karya sasrra Indonesia rnutakhir, yang menarik perharian khalayak dan dirulis sejurnlah perempuan. Dee adalah sebuah tangklsan, bukri bahwa cerncoh ita tak add. Tullsannya, seperri tulisan sejumlah penulis perempuan lain, takada hubu ngannya dengan parfu m, bedak, lulu r, da n daya tari keroris.

Jika ada yang mernikar pads Dee adalah cara dia berrutur: ia peka pada rirrne kalirnar, Ka.limatnya berhenti arau rerus bukan hanya karena isinya selesai atau belurn, rapi karena pada momen yang tepat ia rnenyenruh, rnengejurkan, rnembuar kiea senyum, arau memesona. Kepekaan pada ritrne irulah yang menyebabkan sebuah rulisan berarri-e-bukan sederer pesan dibuogkus rokok Dji Sam Soe, bukan pula sepotong resis dokrorar.

Tak kalah penring: rirrne I[Li rak rnendayu-dayu. Juga ridak ruwet, bahkan rapi, Dee peduli ejaan dan mernatuhi gramar (ia rak akan pernah salah unruk rnernbedakan mana 'di' yang awalan dan mana pula 'd!'

yang preposisi), kerika pada saar yang sarna dengan luwes, ranpa rerasa dibikin-bikin, mernasukkan kala asing ke d ala m kali rna to ya, b a ik mel alui asirn ilas i (* mengkondens') arau tidak (' breach of contract), juga ketika ia mernasukkan kara 'pipis' arau 'curhat' atau dialog bahasa Jawa.

Tidak ruwer, bahkan rerang benderang, rak berarri [<lnpa isi yang rnenjentik kits unruk berpikir, Aforismenya yang orisinal menunjukkan kernarnpuan unruk [anpa bersusah psyah rnenggabungkan konseprualisasi dengan rnerafor, yang absrrak dengan yang. konkret."Sejarah seperti awan yang rampak padar berisi rapL kerika disentu h menjadi ernbun yang rapuh", begiru salah saw kalimar dalarn Surat Yang Yak Pernah Sa,rnpai.

Pada Dee ada seorang eseis unggul yang bersernbunyi, menunggu, di balik seor:,lng pencerira, Ada sebuah kara bahasa Inggris, wit, yang mungkin bisa direrjernahkan dengan ungkapan 'cerkas'. Kumpulan prosa 101 menghidupkan yang cerkas dalam SaS[fJ Indonesia.

Goenawan Mohamad

1111In~1

"'''LF!f;L,li'IIliUIiI

Daftar lsi

I. Filosofi Kopi [ 1996 1 2. Mencari Herman [2004 J 3. Surat Yang Tak Pernah Sarnpai l 2001 J 4. Salju Gurun l 1998 ] 5. Kunci Hari 1 1998 J 6. Selagi Kau Lelap I 2000 J 7. Sikar Gigi [, 1999 1 8. jernbaran Zaman [ 1998 J 9. Kuda Liar [ 1998 1 10. Seporong Kue Kuni ng l 1999 J II. Diam [2000 J 12. Cuaca [ 1998 J .13. Lara Lana [ 2005 J 14 .. Lilin Merah [ 1998 ] 15. Spasi [ 1998 J J 6. Cerak Biro [ 1998 J 17.. Buddha Bar [ 2005 ] 18. Rico de Coro [ 1995 J

Cuap-Cuap Penults

Dalam seriap wawancara dan diskusi buku yang saya jalani, salah saru pertanyaan yang paling sering diajukan adalah: 'keriapa ti ba- tiba rnenul is?'. Konsep 'ciba-riba', Seakan-akan kernarnpuan/rnirrat/bakar itu runruh dari Jangir begiru saja, pada saw malam yang rak terduga, dan esok paginya saya rnenyalakan kornputer lalu seperti orang kesurupan menu lis novel pertama saya, Supernova.

Menulis. sesungguhnya merupakan karier panjang ya.ng berjalan paralel dengan karier saya yang lain, yakru musik, YaI1,g kedua lebih dulu rnenernukan larnpu sorornya, sernenrara yang penama berjalan diam-diarn, di bawah ranah, seperti wombat yang keasyikan rnenggali.

Tidak pernah ada yang tahu kehidupan si wombat cadi kecuali orang-orang dekat, keluarga, dan pam sahabat. Banyaknya cerira yang rak selesai, cerpen yang rerlalu panjang hingga tak bisa dikirirn ke majalah, novel terlalu pendek hingga talc. bisa diikutkaa dalam lomba, puisi setengah prosa atau prosa kepuisi-puisian, dan aneka beruuk lain yang sulit diberi nama hingga akhirnya didiarnkan,

Dati delapan belas karya dalarn kurnpulari jni, dua di ancaranya (Rico de Cam dan Sikar. GiglJ sudah pernah

.llpublikasikan, dan pads sebagian besar lainnya dilakukan proses penyuntingan ulang sehingga bagi yang sudah pernah membacanya akan menemukan sedikir perbedaan.

Tidak pernah saya mengompilasi karya sebelurnnya, dan itu rnembuar saya rnenyadari beberapa hal uruuk penama kali: cinra, rcrap rnenjadi ropik, favorit (dan rentunya favorir 99J90/0 pa('a kreator di muka bumi ini). (;inta yang berrransforrnasi, menjadi pilihan saya secara IdlUSUS. Baik iru cinra antarinsan, cinra pada kopi, atau cincanya kecoak, kisah-kisah dalam kurnpulan ini mengI',ambarkan proses rransforrnasi cinra dari sekadar kurnpulan ernosi menuju sebuah eksisrensi Sebuah pilihan. I:ltid iri.

Absan lain? Ventilasi. Sebagairnana saya percaya bahwa karya adalah anak jiwa, dan ia sepaturnya hidup di dam rerbuka, Ia akan lebih sehar dan kuat di sana, ularipada dibekarn dalam format bahasa biner. Mernbiarkannya berbicara dalam hahasa yang kira rnengerti ber-

sarna.

Wombat. .. rerus menggali.

Untu.k _Mama, Pembaca pertama yang selah: percaya baka: itu ada.

IIII1

Filosofi Kopl [ I 9 9 6 I

1.

K· OP!··· k-a-p-i,

Sudah ribuan kali aku mengeja sembari mernandangi srrbuk hicarn itu. Mernikirkan kira-kira sihir apa yang dimilikinya hingga ada satu rnanusia yang begitu tergilagila: Ben .. , B-e-n.

l~en pergi berkeliling dunia, mencari koresponsden di rnana-rnana clemi rneridapatkan kopi-leopi rerbaik dari S1.·IHl'Uh negeri. Dia berkcnsultasi dengan pakar-pakar pl"l'i!mU kepi dad Rorna, Paris, Amsterdam, London, Nrw York, bahkan Moskow.

B~n, dengan kernarnpuan berbahasa pas-pasan, me- 1I1-t1'III,is-ngemis agar bisa menyelusup rnasuk dapur, me-

flLO}OPI KOPI

nyelinap ke bar saji, rnengorek-ngorek rahasia ramuan kopi dari barista-barista kaliber kakap derni rnengerahui takaran paling pas unruk membuat cafe laue; cappucino, espresso, russiancoffie, irish coffee, macch ia to, dan lamJain. Sampai ribalah saatnya Ben siap mernbuka kedai kopinya sendiri, Kedai kopi idealis,

Serahun lalu aku resrni rrrenjadi parmer kerjanya.

Berdasarkan asas saling percaya anrarsahabat dirarnbah kenekaran berspekulasi, kuserahkan seluruh rabunganku rnenjadi saharn di kedainya, Selain modal dalarn bentuk Liang dan ilrnu adrninisrrasi, aku tak rahu apa-apa remang kepi. Iru rnenjadi modal Ben seuruhnya,

Sekarang, boleh dibilang Ben rerrnasuk salah saw peramu kopi atau harista rerandal di ]akana. Dan ia rnenikmari seriap derik kariernya. Di kedai karol ini, Ben tidak mengarnbi] rempar d.i pojok, rnelainkan dalarrt sebuah bar yang terletak di rengah-rengah sehingga pengur:jung bisa rnenontoni aksinya rnernbuar kopi, Dengan seleksi kopi yang karni miliki, kebanyakan pelanggan kedai memang penggernar kOPI sejari yang tak he n n-hen [in ya mengagu rni dafrar men u karni. Benarbenar mengagurni, karena mereka mengerri.

Lanrai dan sebagian dindillg kedai rerbuat dari kayu rnerbau yang· berurar kasar, poster-poster kepi berbagai rnacam pose di sepanjang dinding rerbingkai rapi dalarn pigura berlapis kaca, Puncaknya, sebuah jendela kaca besar, berruliskan nama kedai kepi karni dalam huruf-

2

KUMPULilN C'E~rril & PROSA

huruf dicar yang rnengingarkanrnu pada rempa[ pangkas rambut zarnan Belanda:

Kedai Koffie BEN&jODY

Jody ... j-o-d-y, Kau dapac menernulnya di ternpar yang kurang rnenarik, yakni di belakang rnesin kasir arau di pojokan bersarna kalkularor, Sernenrara di pusar orbit sana, Ben mengoceh (anpa henri, kedua rangannya rnenari bersarna rnesin, d.ereran kaleng besar, kocokan, cangkir, gelas, dan segaJa rnacam perkakas di meja panjang itu.

Tempar karni tidak besar dan sederhana dibandingkan kafe-kafe Jain di Jakarta. Namun di sini, setiap inci di persiapkan dengan inrensi [as. Ben rnernilih seriap kursi dan meja-yang semuanya berbeda-dengan rnengeresnya satu-saru, paling ridak seperempar jam per barang, Ia rnencobanya sambil rnenghirup kopi, dan merasa-rasa dengan instingnya, apakah furnitur itu cukup 'sejiwa' dengan pengalarnan rninurn kopi. Begiru juga dengan gelas, cangkir, bush kettle, poci, dan lain-lain. Tidak ada yang cidak rnelalui res kornpatibiliras Ben rerlebih dulu. Dengan ia menjadi pusat, dikelilingi rnereka yang duduk di sunman rapar rneja-kursi beraneka model, aku seolah rnenyaksikan sebuah perhelatan pribadi, Pesta min urn kopi. kcci] dan akrab, dengan Ben sebagai wan rurnah.

3

Tapi, yang benar-beriar rnernbuat rempat JO.J isnrnewa ada!ah pengalaman ngopi-ngopi yang diciptakan Ben. Ia ridak sekadar rnerarnu, mengecap rasa, rapi juga merenungkan kopi yang ia buar, Ben rnenarik arri, rnernbuat analogi, hingga rerciptalah saw filosof unruk sertap jenis rarnuan kepi.

'Iru yang rnernbuar saya mencmtat rrunurnan rru.

Kopi iru sangar berkarakter.' Kudengar sayup-sayup Ben berkaca pada salah saru penguoJung perempuan yant:, duduk di bar.

'Seperri pilihan Anda ini, cappuccino. Ini u nruk orang yang menyukai kelemburan sekaligus keindahan.' Ben rersenyurn seraya menyorongkan cangkir. 'Anda rahu, cappuccino ini kopi paling genir?'

Perernpuan iru rertawa kecil.

'Berbeda dengan cafe lane, rneski penarnpilannya cukup mirip. Unruk cappuccino diburuhkan srandar penarnpilan yang (inggi. Mereka ridak boleh keliharan sernbarangan, kalau bisa rerlihar seindah mungki 0.'

'Oh )'

, ya.

'Seorang penikrnat cappuccino sejari, pasri akan mernandangi penarnpilan yang rerlihat di cangkirnya sebelurn mendcip. Kalau dad pectama sudah kelihatan acakacakan dan rak terkonsep, bi a-bisa rnereka nggak mall rninurn.' Sambil rnerijelaskan, dengan rerarnpil Ben rnernbentnk buih Cflppuccino yang mengapung di cangkir itu menjadi benruk had yang apik.

4

'Bagairnana dengan kopi rubruk?' Seseorang bertarrya Iscng.

'Lcgu, sederhana, rapi sangar rnernikar kalau kira rnengenalnya lebih dalarn.' Ben menjawab cepat. 'Kopi tubruk ridak peduli penarnpilan, kassr, rnernbuatnya pun sangar cepat. Seolah-olah ridak membutuhkan skill khusus. Tapi, runggu sarnpai Anda menciurn arornanya,' hak pernain sirkus Ben menghjdangkan secangkir kopi rubruk, 'silakan, komplimen untuk Anda.'

Dengan wajah rerpukau, orang iru rnenerirna cangkir yang disorongkan Ben, siap menyerupu.t.

'Tunggu dulu!' tahan Ben. 'Kedahsyatarr kopi rubruk rerlerak pada remperatur, rekanan, dan ururan langkah ]1H.:mbuaran yang tepar, Semua i tu akan sia-sia kalau Anda .kehilangan rujuan sebenarnya: aroma. Coba hirup dul u aro rnanya. In i kopi spesial yangd j ranarn di kaki gllDung Kilirnanjaro.'

Orang iru mengernbangkan cuping hidung, menghirup dalarn-dalam kepulan asap yang membubung dari cangkitnya, Mara iru rarnpak berbinar puas ..

Melihar reaksi tersebut, Ben mengangguk sarna puas, ckejap kernudian dia sudah berpindah rernpar, berhincang-bincang dengan pengunjung lain, dengan ser:rlrlngar dan arensi yang sarna.

Kerika kedai tu tu p dan sern ua pu lang, ri nggalJ ah kami berdua berbincang-blncang di salah SaW sudut. SaruSa!llllya kesernparan kami unruk akhirnya rrunurn kopi.

5

'Tidak terasa, kira sudah pUhy:a kedai ini serahun lebih.' Mataku berpurar bersarna pUIa.ran kayu rnanis, larnunanku remap pusaran kopi dalarn cangkirku sendiri. , Seki an ba n yak rna 11 usia vsuda h dara n g dan pergi .. .' nada bicara Ben tiba-riba rnelonjak, seolah seSUaIU menyengarnya, 'dan karnu rahu apa kesirnpulanku?'

'Kita akan kaya raya?'

'Belum renru. Tapi sernua karakcer dan ani. kehidupan ada di sini.'

'Of dalarn daFrar rrunurnan ini?' Aku rnenunjuk buku rlptS yang tergelerak di meja.

Manrap, Ben mengangguk.

'Bagaimana. kamu bisa mengkondens jurnlah yang tak rerhingga itu ke dalarn sebuah dafrar minurnan?' aku menatapnya geli, 'Ben." Ben ... '

'jody .. lady ... ) ia malah ikuran geJeng-geJeng, 'Buku ini adalah buku yang hid up, daftar yang akan terus berkernbang. Selama rnasih ada yang namanya biji kopi, orang-orang akan menemukan dirinya di sini.' Ben mengacungkan dafrar rarnuan kopinya repat di depart hidungku.

Ail' rnuka itu rnelerup-lerup seperri didihan air. Ben beroleh ide baru. Aku beraadai-andai kapan ia terpikir unruk akhirnya rnernbangurr berhala dari biji kepi, karena seperrinya hanya rnasalah wakru.

6

Sesudah pernbicaraan kami rnalarn itu, Ben melakulean berbagai rerobosan baru,

Dalam dafrar rninurnan, kini dirambahkan deskripsi singkar mengenai fllosof seriap rarnuan, Puncaknya, dia rnengganri aarna kedai kepi karni menjadi:

FILOSOFl x o r r

Temukan Diri Aneta di Sin;

Nama kedai karni berikur slogan nra rernyaca menjadi sanga<~ populer, Kuamari sernakin banyak orang yang berhenri, mernbaca, kernudian dengan wajah ingin tahu rncreka rnasuk ke dalam, waswas sekaligus harap-harap wmas, seperti memasukirenda perarnal. Dan ranpa perl u b 0 I a kris (a I, 0 mset keda i ka m i men i ngka [ pesa t.

Kini, bukan para kepi mania saja yang datang, bahkan rnereka yang ridak suka kopi sama sekali pun ada yang bcrkunjung. Colongan rerakhir ini adalah orang-orang pcnasal'an danakhirnY3 reia rnencicipi kopi demi rasa mgin tahu. Ada juga grup gila filsafar, yang lebih menikmati diskusi rnereka dengan Ben daripada kopi yang rnereka pesan, rapi ujung-ujungnya menjadi langf{.IIJ~m terap juga.

Tak sampai zii situ, Ben juga rnernbuar karru kecil yang dibagikan kepada seriap orang sehabis berkunjung, Karru itu berruliskan: 'KOPl YANG ANDA MINUM II A RI INI: .00.' dan kerera ngan filosofisnya. Mereka

7

FjL0~OFI K01'1

sisipka n iru ke d alarn saku, ras, do m pet,. bagai rands keberuntungan yang menyurnbangkan harap unruk menjalani hari. Kadang-kadang aku mendengar rnereka mulai rnenyebur kedai kopi kami dengan panggilan sayang versi rnasing-rnasing seperri Fit-Kop, So-Pil filo, FK, dan Iai n-lai n.

Semua terobosan yang dilakukan Ben menjadikan kedai kopi ini rnerniliki magnet bam. yakni kehadirannya sebagai filsuf keei I, reman eu rha t, Keda i karn i bukan sekadar persinggahan, terapi juga menjad i bagian dari kehldupan personal rnereka, layaknya seorang reman.

Da!1 yang kupikir sudan luar biasa rernyara belurn ap.a-apa. Malam iru Ben menguogkapkannya padaku, saar kami menghu up kopi panas pertarna ksrni, larut rnalarn di kursi bar.

'JOdYI hari ini aku mendapar tan rangan besar.'

Aku, yang sedang sibu k berhiru ng denga n rnesin h irungl hanya rergerak unruk mengangkar alis. 'Oh, ya? Tanrangan apa?'

Ben rnenggeser rnesin hi tu ng i tu jauh ke uj u ng meja. <Den gar du I u bai k-baik.;."

OJ a. m u la i be rceri [a. So re: rad i dia ked ax a n ga n sea ran g pengu n ju ng, pria perlenre berusia 30 rahu n-an, Mebngkah rnantap rnasuk ke kedai dengan rnirnik yang hanya bisa ditandingi pemenang undian saru m iliar, Wajah penuh kerneriangan. Mungkin saja benar dia baru dapar

8

J{I)MPULAN CEfllTA & PROS,,"

saru rniliar, karena tanpa uJung pangkal dia rnenraktir sernua arang yang duduk di bar.

OJ hadapan mcreka, ia bertanya pada Ben-s-repamya, rnengumumkan keras-keras: 'Oi kedai ini, ada, ridak kopi yang punya ani: kesuksesan adalah wujud kesernpurnaan hidupl Ada tidak? Kalau ada, saya pesan saw cangkir besar.'

Ben menjawab sapan, 'Silakan lihar saja di dafrar, barangkali ada yang cocok.'

Pria iru menggeleng. 'Barusan sudah saya baca. Tidak ada yang atrinya iru.'

'Yang rnendekati, mungkin?'

Ucapan Ben jusrru rnernancingnya tertawa. 'Maaf, rapi dalarn hidup saya ridak ada isrilah mendekari. Saya ingin kopi yang rasanya sempu rna, ridak bercacar.'

Ben mu!ai menggaruk kepalanya yang tak garaJ.

'Berarti Anda belurn bisa pasang slogan seperri iru di depan,' pria iru menunjuk kaca jendela, 'Saya ke mad karcna ingin rnenernukan gambaran diri .. .'. Selanjumya dia bercerira panjang lebar mengenal kesuksesan hidupnya sebagai pemilik perusahaan imporrir mobil, istrinya seoraog arris canrik yang sedang di puncak karier, dan di usianya yang rnasih di bawah 40 dis udah rnenjadi salah satu pebisnis paling berpengaruh versi beberapa maialah ekonorni terkenal.

I": L'!Jalaku terasa pen i ng. En tah karena ronjo kan kafei n atau ccrita sukses itu.

9

Fu.oson KOPI

Ben lanjur bercerira, Ia diranrang pria J[U unruk mernbuar kopr dengan rasa sese01pu~na mungkin.'Kopi yang apabila d'iminum akan rnernbuar kira menahan napas saking rakjubnya, dan curna bisa berkata: hidup ini sernpurna.' Pria iru menjelaskan dengan ekspresi kagum yang rnendalarn, kernungkinan besar sedang mernbayangkan dirinya sendiri, Dan, gongnya,. ia rnenawarkan irnbalan sebesar 50 jura.

Sekerika rnataku eerbeliak. lni bani rnenarik, '50 jU(a?!' 'Dan aku menerima ranrangannya.'

'Sebenrar, i ni b ukan raruhan, kart?'

'Bukan. Kalau aku ternyara rnarnpu, aku dapat uangnya. Kalau ridak, ya sudah. Tanpa risiko.'

'Kalau begiru, buar apa pikir-pikir lag], sikaaatl' seruku berkobar-kobar. Terbayang pengembangan apa saja yang bisa dibuat dengan 50 juta di rangan,

Ben hanya mengangguk kecil, keningnya berkerur, Aku tahu pasri, bukan uang 50 jura yang rneriarik mrnarnya.

'Berarti, aku hams kerja keras. Mula; sekarang!' Sekonyong-konyong Ben berdiri, meninggalkanku dan kopi.nya yang bam dirninurn seteguk. Entah ap-a yang dimaksudnya dengan 'kerja keras'.

Bdakangan aku rahu maksudnya. Tak ada lagi biocang-

10

Ki.l,MPULI\N CERll'A & P~OSA

bincang rnalarn hari seperri yang biasa karni Iakukan, Ketika ked a! sudah tutup, Ben tetap tak beranjak dari dalam bar, Pemandanganku setiap rnalarn kini bergaml menjadi Ben dikeJi!ingi gelas-gdas ukur, rabung-tabung reaksi, timbangan, sendok takar, dan aneka benda yang rasanya lebih cocok ada di laboratorium kirnia daripada di kedai kepi.

Rambur Ben gondrong beranrakan, pipinya kasar karena kelupaan bercukur, jingkaran hiram mernbundari rnatanya akibat rerlalu banyak begadang, rubuhnya menipis karena sering lupa rnakan. Sahabatku berrnutasi rnenjadi verst lain dari dokrer Frankenstein, The Mad }'ttl ris ta.

Mi[lggu-minggu berlalu sudah, Sekitarrengah rnalam, lien rahu-tahu meneleponku, rnernaksaku darang ke kedai,

Aku riba sarnbil bersungur-sungut, 'Urusan apa yang sehegiru pentingnya sarnpai ridak bisa rnenurrggu besok?' Ben tidak menjawab. Namun kutangkap kilau mara yang. menyala rerang, [erpancar dari wajahnya yang ku sur berantakan.

Kc depan barang hidungku, ia menyodorkan sebuah gelas ukur, Ada kopi hangar di dalarnnya. 'Coba ciurn. .. ' Aku mengendus. Wangi. Sangat wangi.

11

FII.DSOfl K("wl

'Coba minurn ... '

Dengao sedikir ragu aku menyeruput. Sebuah kornbinasi rasa rnerarnbari lidahku, Hmm ... Ini.. 'Ben, kopi ini ... ' aku mengangkat wajahku, ISEMPURNA!'

Kujabar taogan Ben keras-keras sarnpai badannya terguncang-guncang. Kami berdua rertawa-rawa. Lama .sekali, Seakan-akan ada beban berar yang rahu-rahu rerangkat. Seolah-olah sudsh tahunan kami tidak tertawa.

'Ini kopi yang paling enak!' seruku lagi; rakjub.

'... di dunia,' sambung Ben. "Alu sudah l<eliling dunia dan rnencoba sernua kepi rerenak, rapi belum ada yang rasanya seperri ini. Akhirnya aku bisa berkara bahwa ada ramuan kopi yang rasanya SEMPURNA.'

Aku mengangguk seruju. "Mau diberi nama apa rarnuan ini?'

Ben memarung, sarnpai akhirnya sebuah senyurn mengernbarrg, senyum bangga seorang ayah yang menyaksikan bayiriya lahir ke dunia. 'BEN's PERFECTO,' tandasnya man rap.

2.

Pagi-pagi sekali Ben menelepon penamangnya. Tepar pukul emp-a( sore, orangitu darang lengkap bersarna pacarnya_

12

I{UMI'VLAN CEI\ITil S. PROS/\

~iapa_ pun akan mau berrukar nasib dengannya, Dar! langkah perrama ia rnasnk kedai, auranya menyiarkan kesuksesan, kekayaan, dan pacarnya iru, ridak buruh lagi foro aura unruk rnenangkap kecantikannya.

Disaksikan sernua pelanggan yang sengaja karni undang, Ben menyuguhkan secangkir Ben's Perfecto perramanya dengan raur regang.

Pria itu menyerLl pur, menahan napas, kern udian rnengembuskannya lagi sambil berkara perlahan, 'Hidup

, • j

101 sernpurna.

Kedai mungil karni gegap gempira. Semua orang bersorak.

Pria iru mengeluarkan selembar cek. 'Selarnar. Kopi ini perfect. Sernpurna.'

Sebagai ganci, Ben memberikan kartu Filosof Kopi.

Kartu iru bertuliskan:

Attinya.:

Sukses adalah

Wujud Kesempurnaan Hidup

KOPI YANG ANDA .MINUM, ,HARI lNI:

BEN's PERFECTO

Pria itu rerrawa Jebar membacanya, 'Seruju' Abo selalu saya sirnpan karru ini,' ujarnya, la]u memasukkan kartu iru ke balik kantong jasnya yang rampak rnahal.

!3

Sore iru berlalu dengan sempuma. Karni rnembagikan sarnpel Ben's Perfecto pada semua pengunjung, dan minurnan itu rnendapat sambutan yangluar biasa, Demikjan pula dengan hari-hari selanjumya. Sejak diciprakannya Ben's Perfecto, keunrungan kami meningkar, bahkan berlipar ganda,

Minuman iru rnenjadi menu [avoIiE sernua Ia,ngganan sekaligus rrrenjadi daya pikar yang rnenarik orang-orang baru untuk datang. Walau harganya Iebih rnahal dibandingkan minuman lain, kepuasan yang didapar dan Ben's Perfecto memang rak bisa didapat di mana pun. Kesohoran min urnan i ru juga rnenari k per hac Jan banyak orang asing, dan mereka semua tercengang-cengang keeika rnencobanya,

Tak ada yang menyangka akan menernukan rarnuan kopi sedahsyat iru di kota Jakarta, di kedai keeil bernarna Filosof Kopi.

3.

Hari ini, aku iseng mendampingi B~n di bar. lngin sekali-kali kunikrnati kepuasan bercakap-cakap dengau para pe!anggan setia, atau sekadar rnenonroni ekspresi orang-orang baru saar rnencicip rarnuan kopi spekrakulcr Ben.

14

'First timer, , Ben yang hafal sernua muka peJanggannya berbisik ketika seorang pria setengah baya rnasuk.

Dengan eksrra ramah aku langsung rnenyarnbur. 'Selamar pagi, Pak,' sapaku seraya rnernbungkukkan bad an. 'Selamat pagi.' Tampak rerkesan dengan samburanku, ia kernudian duduk di salah saw bangku bar. 'Bisa pesan kopinya saw, Dik?'

'[elas bisa, Pak. Namanya juga kedai kopi.'

Dia ikut rersenyurn. Agak canggung dia rnernbenarkan posisi duduknya, celingak-celinguk mempelajari rempat karni, lalu perlahan mernbuka koran yang ia kernpit, Dari gelagamya, aku menduga bapak saru iru ridak biasa ruinurn kapi di kafe,

'Silakan, Pak. Mau pesan yang mana?' Aku rnenyodorkan dafrar minurnan.

lsapak iru hanya rnemandang sekilas, rnernbaca pun tidak,

'I\h. yang mana saja terserah Adik. Pilihkan saja yang enak,' jawabnya kalern.

Dengan cepat aku berseru pad a Ben, 'Ben! Perfecto saw!'

Dalarn wakru singkar, Ben sudah rnenyuguhkan secangkir Ben's Perfecto .

. Nah yang ini bukan sekadar enak, Pak, Tapi ini yang pualiiing ... enak! Nornor satu di dunia,' aku berprornosi. 'I\ap'lk memang hobl minum kopi?' ranya Ben ramah.

Perianyaan rurinnya pada seriap peogunjung baru.

15

FIU:)s6FI KOPI

'Kopi iru ibarar jamu seharku swap hari. Aku tahu bener, mana kopi yang enak dan mana yang tidak. Kara ternenku, kepi di sini enak sekali,' tururnya bersemang:ll dalam Iogar Jawa kental.

Serelah merninurn sereguk, bapak iru rnelerakkan cang-

kir dan kernbali mernbuka halarnan korannya.

Ben segera berranya anrusias, 'Bagaimana, Pak?' Bapak iru mendongak. 'Apanya?'

'Ya, kopinya.'

Dengan ekspresi sopan, bapak iru mengangguk-angguk. 'Lurnayan,' jawabnya singkar lalu terus membaca. 'Lurnayan bagairnana?' Ben rnulai rerusik,

'Ya, maksudnya lumayan enak toh, Dik,' ia rnembalas.

'Pak, yang barusan Bapak minurn iru kapi yang paling enak di dunia.' Aku ridak rahan untuk ridak rnenjelaskan.

'Yang bener roh? Masa iya?' Seperti meridengar lelucon bapak itu rnalah rerrawa kecil.

Wajah Ben langsung mengeras. Tarnu karni iru pun tersadar akan keregangan yang ia ciptakan.v'Aku bercanda kok, Dik. Kapinya uenak, uenakl Sunggl.lh!1 'Mernangnya Bapak pernah coba yang lebih enak dari ini?' Ben berranya dengan oror-otor rnuka dirarik.

Tambah panik, bapak iru rerkekeh-kekeh, 'Tapi ndft/.jauhlah dengan yang Adik bikin.'

"Iapi tecap lebih enak, kan?' Suara Ben rerus rneninggi,

16

J:\kun bapak itu bergerak gugup, ia rnelirikku, rnelirik Ben •. dan akhirnya mengangguk.

'Dr mana Bapak coba kopi iru?'

Tapt... [api... rtdak jauh kok enaknya' Bedanya sedikiiit ... sekali!'

l Jsahanya unruk menghibur rnalah mernperparah keadaan. Beberapa pengunjung memanggili Ben, rapi ridalc digubris sarna 5OO1i. Kaki Ben rerranarn dl lanrai, Seluruh keberadsan n ya re r p usa [ pads ba pa k i [I). Dan b uka n dalam konteks yang rnenyenangkan,

;Dl mana?'

·Wah. Jauh rernparnya, Dik.' . DL-MA-NA?'

Belum pernah kl..lliha[ Ben seperti itu. Seolah tidak satu hal pun di dunia ini yang bisa mengalihkan energinya, fokusnya, Aku memilih beringsut menjauh, mernenuhi panggUan orang-orang yang sudah resah karena ridsk dilayani,

Tak lama kernudian, Ben menghampiriku.'Jo, tengah hari kita Cutup. Ternan! aku pergi ke suaru rempac Bawa pcrlengkapan unruk beberapa hari.'

. I(e mana?'

Ben ridak menjawab. Dan mulur leu terus rerkarup rapar 'Iuk sarnpai sejarn, kedai karni dirurnp.

17

Siapa yang menyangka kalau SlS~ hariku akan dihabiskan dengan mengemudi, rnenyusuri jalan rnenuju pedesaan di jawaTengah,

Mara Ben seperri sudah mau capO( rnernpelajari pena minirnalis yang digarnbar olen bapak malang itu-yan~ tenrunya dibuat dalarn keadaan tertekan.

'Ben, sudah rarnbah gelap. Sepertinya kira rersasar Cari penginapan saja dulu, besok pagi baru kita keluar lagi.'

Ben bersandar keJelahan. 'OLe. Kim kembali ke Klaten.' Aku Iangsung, banting haluan, sesuatu yang sudah ingin kulakukan sejak tadi, sejak punggungku rasa n y'\ merernuk digllDGang-guncang jalan berbaru.

Karni menginap di Klaren sernalarn. Keesokan paginya Ben mengambil alih kernudi. 'Aim sudah rahu kenapa kim nyasarkernarin. Ada saru belokan yang tidalc kulihar!' serunya berapi-api,

Aku rnengiyakan saja, Bagiku perjalanan ini hanys kekonyolan belaka, pernenuhan "0 bses i Ben rerhadap kopi yang karanya lebih enak rnenurur pendapar subjektif seorang bapak yang ridak berpengalarnan ke kafe-yang kernungkinannya 99% rak akan rerbukti apabila melihar lokasi karni sekarang ..

Di belokan yang dirnaksud Ben, kami- berhenri UfHUk berra n ya pada seo ran g peremp u a n yang mel i n ras.

'os. barangkali yang sampean rnaksud iru warungnya Pak Seno?'

t8

'Poko knya d i sana 'ada kopi yang enak sekali,' jelas Ben

'Oh, iyo, iyo!' perempuan iru menjawab semangar. 'I'()ko«e waning Pak Sene mlakune serus reno", rapt jalanannya jelelc Jho Mas, alan-alan Waf? .'

Ben buru-buru rnengucapkan terirna kasih, slap [ancap gas.

'}enengc! kepi tiwus, Mas,' perempuan iru rnenambahkan.

Ben rnenginjak rem sekaligus. 'Apa?'

'Kepi tiwusl 1/~i lho ... aku juga bani bawa dari sana.' 1.1 rnenunjukkan lsi bakul yang dipanggulnya. Biji-biji kopi yang sudan kerlog terpangg;mg.

Ben langsung mengambil seraup. 'Maaf Mbak, saya arnbil sedikir, ya,' karanya seraya mernberikan selernbar lima ribuan.

Perernpuan itu tampak rerlongo. Dari kejauhan karni rnendengar ia berreriak, 'Maaas ... Limting euru iki entuh .I·,.k bakuuu/.1'4

Ben seperri kerasukan seran. Jalanan becek dan berItt bang j [U dilewarinya dengan keceparan jala n [0.1. Ti nggaJlah aku yang sekuar tenaga rnenahan mual.

1 pokoknya warung POlk Sene jalannya terus ke sana • pelnn-pelan saj~

s Il~JO<lfJ'y:'

4 lima ribu loi untuk S<l{U baku!

19

F!L05!)FI KO~I

Tepar di penghujung jalan! sebuah warung reor dari gubuk berdiri di aras bukit kedl, ternaungi pepohonan besar. Oi halamannya terdapat tampi-rarnpi berisi biji kepi yang bam dipetik, Oi sekitar gubuk itu rerdapar ranaman-tanaman perdu dengan bunga-bunga purih yang sernarak bermunculan di sana-sini, Aku baru rersadar, seluruh bukir kecil iru diranarni [amman kapi.

ITidak mungkin ... ' desis Ben rak percaya. 'Tempar dengan ketinggian seperri ini bukan tempar yang ideal d iranarni kopi. Dan, lihat, mana ada perani kepi yang menanam dengan kuanritas sekecil ini,'

DI dalam warung, seorang bapak rua menyarnbur

karni dengan senyuman ramah. 'Dari kora ya, Mas?' Aim mengang.guk, 'Dari [akarra, Pale'

'_lauh sekali" Hapak itu geleng-geleng rakjub.

Ben langsung duduk di bangku panjang yang rersedia mukanya masih rower, 'Kopi tiwusnya dua.'

'Jarang-jarang ada orang Jakarta yang ke mario Palingpaling dari kora-kora ked debt sini,' rtlmrnya sarnbil rnersih dua gelas belirnbing yang rerrangkup di hadapan karni.

'Bapak i ni Pak Sena, ya?' ranyaku. 'Iya. Kale bisa [aha, toh?'

'Bapak terkenal sampai ke Jakarta,' jawabku sarnbil nyengir, berusaha rnenyindir Ben yang sarna sekali tidak rnerasa rersindir, Maranya cidak lepas mengamari seluruh gerak-gerik Pak Seno rnernbuar kopi.

20

Pak Sene rerrawa lepas, <\XI'alaaah, ya mana mungkin!' Di hadapan kami kini rersaji dua gelas berisikan kepi kenral yang mengepul.

'Corengannya sekalian dicoba, Mas. Mnnggo.'

Aku rnenyornor sam pisang goreng, Masih ada beberapa lagi piri ng-piring berisi gorengan beraneka rnaL"am.

Ben rak banyak bicara Ia curna rnemandangi gelas di hadapannya, seolah menungg.u benda Iru bicara padanya, 'Saw gelas harganya berapa, Pak?'

'Kalau gorengannya SO perale sam. Tap; kalau kopinya, sih, ya berapa saja rerserah situ.'

'Kenapa begiru, Pak?' riba-riba Ben bersuara.

'Habis Bapak punya buanyaaak, .. sekali, Kalau memang mau dijual biasanya langsung saru bakul, Kalau dibikin minurnan begini, curna-curna juga nda/? apa-apa. Tapi, orang-orang yang ke rnari biasanya terap sa]a rnau bayar. Ada yang kasih 150 perak, 100, 200 ... ya, berapa sajslah.'

'Mari, diminum, Pak,' aku bersiap me:nyerupur. 'Oh, numggn, monggo.'

Ternyara Ben sudah duluan rneneguk, Sejenak aku rerpaku, menunggu reaksi yang rnuncul. Ben curna mernbisu, Hanya rnaranya diliputi rnisreri. Perlahan, aku ikur menenggak. Dan ...

Kami berdua rak bersuara, Teguk derni reguk berlalu ,blam keheningan,

21

'Tambah lagi, (oh?' Suara lembur Pak Seno meng-

. .

mterupsi.

Baik aku maupun Ben tidak berkara apa-apa, hanya rnernbiarkan saja gelas-gelas kami dilsi .Iagi.

'Banyak sekali orang yang doyan kopr tiwus ini, Bapak sendiri ndak ngerci kenapa, Ada yang bilang biki n seger, bikin renrrern, bikin sabar, bikin renang, bikin kangen ... hahaha! Macem-macem! Padahal bra Bapak sih biasa-biasa aja rasanya. Barangkali memang kopinya yang ajaib. Bapak ndak pernah ngurak-ngurik, eapi berbuah rerus. Dari pertarna kali [inggal di sini, kopi itu sudah ada. Kalau 'ciwus' itu dari nama alrnarhurnah anak gadi Bapak. Wakru keeil dulu, riap dia Jihar bunga kepi di sini, dis suka ngomong 'riwus-riwus' gi(lI~' dengan asyik Pak Seno mendongeng.

Tiba-tiba Ben rnengharnbur keluar.

Aku tak menahannya. Kubiarkan dia duduk sendirian di bawah pohen besar di luar sana.

Matahari sudah rnenyala jingga. Aku menghampiri Ben. 'Apa lagi yang karnu cari? Kita pulang saialah.'

'Aku kalah,' d sisn a Iesu,

'Kalah dart apa? Tidal ada kornpetisi di sini.'

'Berikan ini pada Pak Seno,' Ben menyodorkan selembar kerras,

22

Maraku siap meloncat keluar ke!ika rahu apa yang ia sodcrkan. 'Kamu sudah gila. Tidak bisa!'

'[o, karnu sendiri sudan rnencoba rasa kepi radi, Apa itu ridak cukup rnenjelaskan?'

Setengah rnari aku berusaha rnernaharninya. 'Oke, kopi itu memang unik, Lalu?'

'Kamu rnasih eidak sadar?' Ben menatapku priharin, 'Aku sudah diperalar oleh seseorang yang merasa punya segala-ga.lanya,. menjebakku dalarn rancangflfl bodoh yang curna Jadi pemuasegonya saja, dan aku sendiri rerperangkap dalam kesempurnaan palsu, arcifisisl!' serunya gernas, 'Aku rnalu pada diriku sendiri, pada sernua orang yang sudah kujejali derigan kegombalan Ben's Perfecto.'

Cornball' Aku posirif ridak rnengerti.

'Dan kam u tah u apa kehebaran kopi riwus ito?' katanya dengan tatapan kosong,'Pak Seno bilang, kopi itu mampu rnenghasilkan reaksi rnacam-rnacam. Dan dia benar, Kopi tiwus relah rnernbuatku sadar, bahwa uku in! barista rerburuk, Bukan curna sok rahu, rnencoba mernbuar Tilosof dad kepi la]u mernperdagangkannya rapi yang paling parah, aku sudan rnerasa rnernbuar kopi paling sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!'

'Coba diingar-ingar, rencana pengembangan Filosof Kopi yang sudah kususun. Dan sernuanya iru rnernburuhkan kerras in i sebagai modal: bujukku.

'.11. ku nensi k .,

.n pensrun merarnu 'OpL

Ka:ii ini keridakpaharnanku rneledak, 'Kenapa kamu

23

hams rnernbuat urusan kopi ini jadi kompleks? Rom-antis overdo-sis? Okelah, karnu cinta kopi, cap' ridak usah jadj berlebihan. Pakai rasio ... '

Ben bangkir berdiri, 'Memang curna duir yang karnu pikir! Profit, Iaba, omset.i. karnu mernang tidak pernah rnengerri arri kopi buarku. Ambil saja Pilosof Kopi. Kamu sarna dengan laki-laki goblok sok sukses iru ... '

Tinjuku sudah iogin rnarnpir ke rnukarrya, tap; kurahan kuar-kuar, 'Ben, karnu rnasih kalur, Jangan asal ngoolOog. Kira pulang ke Jakarta sekarang.'

'Berikan dulu itu ke Pak Sene . .'

']angan colol! Sarnpai kapan pun aku ridak akan kasih. Iru jelas bukan haknya, uang ini karnu dapat karena kerja kerasrnu rnenciprakan Ben's Perfecto.' Narnun nama iru seperri penghinaan sarnpai ke ku-

pingnya, rnernbuar Ben rnaiah bergidik jijilc 'Jo, ingar,' ancarnnya, 'uang leu hakku sepenuhnya.'

'Tidal .lagi, kerika kira vsepakar mernasukkannya ke dalam kapital yang akan digunakan unruk pengembangan kedai,' banrahku cepar.

KU;1.t-kuat Ben mengge1eng. Ambil saja bagianku di kedai. AJ<u seri us.'

'Bukan begiru.,;'

'Kalau kamu mem,ang sahabarku, Jangan paksa aku apa-apa.' Ia berkara Jirih.

Mendengarnya, orakku sepern macer berargurnenrasi, Namun sarnpai langkah gontal karni berdua akhirnya

24

menggiring kami masuk ke mobil. sarnpai lambaian Pak Seno mengantar kepergian kami kernbali ke Jak l. secarik kerras iru tetap kugenggam rat-erar.

4.

Ben benar. Aku rak bisa rnemak anya. Tak ada yang bisa. Sernangar hidupnya pupus s P rri Jilin t rriup angin, sama nasibnya seperri kedai kami yang padarn. Turup.

Tinggal aku yang kereporan rnelayani relepon, surarsurar yang rnenanyakan kabar Filo oft Kopi, bahkan beberapa orang menawarkan banru n uang kalau mernang karni kesu liran Finansi~L Ada juga yang mengirimkan bunga dan parse! buah-buahan karen:'! dikiranya Ben jaruh sakir.

Ben sehar-sehar saja, i3 hanya r. k mau berurusan clengan kopi, sekalipun setiap malam iada di sana) di dalarn bar yang dibekukan oleh kc unyian.

KlJUfUf kedua pelipi ku pelan. ejujurnya, sku pun kalur, dan lama-lama meragukan sikapku sendiri. Mung. kin Ben benar, Yang kupikirkan hanyalah uang, profit, dan nasib yang enrah apa jadinya ranpa Fil ofi Kopi. Be:nJah sesungguhnya rungku r mpat inl, dan aku malah memadamkan nya dengan keridakrnengerrianku.

Tiba-riba perharianku rerusik. Sebuah kanrong plastik

25

FII.o;;on KOtl

yang rnasih rerlkat di pojok rneja rertangkap ekor maraku, Kopi riwus.

Tiba-riba saja tanganku bergerak 'cep,l[ rneraih kantong iru, rnernbuka sirnpulnya .• mer3,up secukupnya, lalu mernasukkannya ke dalarn mesin pe:nggjl,ing. Tak lama kcrnudian, siap sudah seca'ngkir kopi tiwus panas, Untuk penama kalinya aku rnembuar kopi sendiri,

Kuhirup regukan tiwusku yang penama ... di benakku membayang wajah Ben. Saar ia datang padaku bersarna seturnpuk ide cernerlang rnengenai kedai ini. Dua tahun yang lalu,

Kuhirup tegu,kanku yang kedua ... mernbayanglah poeongan-potongan gambar, kerja keras karni berdua, Modal pas-pasan. Uang nyaris tak rersisa. Sernuanya dikorbankan habis-habisan unruk rem pat ini. Membayang wajab Ben yang seperei gelandangan kerika pulang dari rur xopinya ke Eropa, Aku tersenyum, dia memang manusia gigih,

Tegukan yang keriga .. , senyurnku kian rnelebar, Kenangan suka-duka rneliruas: sam hari [anpa pengunjung hingga karni deng.an frusrrasinya rnerninurn bercangkir-cangkir kopi sarnpai pusing .. , rnesin penggiling bekas yang sering ngadat... tarnu yang [upa bawa uang dan akhirnya meninggaJkan sepaw sebagai jarninan.. aku tertawa.

Teguk demi teguk berlal Ll .. Sernaki n padat kenangan yang rerkilas balik. Dan kerikaringgal teres-teres: terakhir yang tersisa, arnpas di dasar cangkirkl,l ternyara sebuah perasaan kehilangan. AJ(U kehilangan sahabatku.

26

Dua hsri sudah aku meninggalkan Jakarta. Begiru riba. aku singgah di kedai unruk mengarnbil kunei rurnahku yang terringga],

Tidak kuduga akan berrernu Ben ada di sana, padahal wakru sudah harnpir tengah malam. Ia duduk sendi rian, rak bereaksi apa-apa sekalipun telah mendengarku rnasuk dari radio

Dar.i dapur, aku keluar dan menyuguhkannya secangkir kepi.

"Tidale, rerirna kasih,' gurnarnnya,

'Jangan begitu. Kapan lagi aku yang curna tahu menyeduh kopi sachet ini nekar mernbikinkan lcopi segar unruk seorang bo:rista?' kelakarku,

Ben menyunggingkan senyum lsecil, lalu rnencicipi sedikir kepi buatanku. Seketika air rnukanya berubah. 'Apa maksudnya ini?' Ben serengah menghardik.

Aku eak menjawab, harrya member.inya sebuah karru.

KOPI YANG AN.DA MINUMHARJ I'NI: 'KOPI TIWVS'

Arti'nya:

Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.

27

'Pak Seno tirip salarn. Dia juga drip pesan, kit-a tidak bisa menyarnakan kopi dengan air rebu, Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kepi rerap kepi, punya sisi pahit yang rak rnungkiri kama sernbunyikan, Dan di sanalah kehebaran kop l ri wus ... memberi kan sisi pah j r yang mernbuarrnu rnelangkah mundur, dan berpikir. Bahkan aku JUg13 telah diberinya pelajaran,' napasku hams dihela agar lega dada ini, 'bahwa uang puluhan jura sekaiipun ridak akan rnernbeli semua y:;tng sudah kira lewaci. Kesernpurnaan iru mernang palsu. Ben's Perfecto ridak lebih dari sekadar ramuan kopi enak.'

'Benar, kan.' Ben menyunggingkansenyum gerir, 'kira memang cuma tukang gombaL'

'Tapi rnasih banyak yang hams karnu pikirkan. Seperri ini .. ' kunirnpah kan karru ucapan dan surat-surat ke rneja, 'orang-orang ini ridak rnenuntur kesernpurnaan seperti Ben's Perfecto. Mereka rnencinrairnu dan Filosof Kopi, apa adan ya.'

Ben rnenarapi beranrak kerras di hadapannya. Kurunggu hingga [angan iru bergerak pelan, rneraih satu per saw kartu, surat. Sedikit derni sedikit kehidupan Filosof Kepi mengembus lewac rulisan rnereka. Ben kenai .semuanya.Wajah~wajah hangar oleh kepuian uap kepi yang meruap dari cangkir-cangkir yang ia suguhkan seriap harinya dengan cinta.

Aku masih diarn, menunggu Ben yang rneraupkan kedua cangannya menurupJ muka. Lama selcali, Dan

28

kerika kusangka penanrianku tak bakal usai riba-riba Ben berdiri, rangannya rnencengkerarn bahuku, 'Uang i ru?' desisnya.

'Ada di rangan yang eepar.'

Kulihar Ben mengangguk samar. Dan di bal ik punggungnya, aku yaki n ia akan rerrawa lebar.

Pada kaca besar kedai, rarnpak siluer [angan yang kernbali rnenari di dalam bar, rnenyiapkan peralaran unruk esolc hari, rnernbangunkan Filosof Kopi yang lama diam bagai bubuk kepi ranpa risk air. Seduhan secangkir kepi tiwus rnalarn tnt rnengawinkan lagi keduanya.

Ratusan kilometer dan Jakarta ...

'Mbok, mau ana sing njupuk kopi tuous, aku dzjoLi iki .. ,'5 Pak Seno berkara pada istrinya dan rnenunjukkan sel em ba r ke rtas be r [U li ska n an gka -a ngka.

• [lei opd", Mas?' istrinya garuk-garuk kepala tak rnengerri. ~ku ya ora ngerti ... '7 Pak Serio pun rnengangkar bahu.

,5 ladl ada Yllng rncm be! i kepi riwus, aku diberi inl s rni apa;

7 ak II ridak III engell i

29

'Ya wis, Mas, distmpen uiae: DienggfJ kenang-kenangan tI;.'s

Pak eno manggur-manggur, lalu rnenyimpan kerras icu di bawah tu mpu kan baju dalam lemari pakaiannya,

~ y.a sudahlah, disirnpJn saja, Un~uk kenang-kenangan kan

30

Mencari Herman r2004j

S eharusnya ada pepatah bijak yang berbunyi:' Bila engkau ingin saw, rnaka jangan arnbil dua. Karena saru menggenapkan, tapi dua rnelenyapkan'. Sekalipun ganjil terdengar, rapi iru penring, Peparah bukan sekadar kernhang gu!.a susasrra, Diburuhkan pengalaman pahir unruk rnemforrnulasikannya. Dibutuhkan orang yang serengah mati berakir-rakir ke hulu agar tahu nikrnarnya berenang sanrai ke repian. Oiburuh kan orang yang tersungkwr jaruh dan harus lagi rertimpa tangga. Dibu~uhkan sebelanga SLISU hanya untuk dirusak seririk nila. Diburuhkan seorang Hera yang rnencari Herman.

(;adis berurnur tiga belas rahun itu favor'ir sernua orang, rerrnas LJ k aku, seka lipu n dis bukanadikku kandung rnelainkan adik sahabsrku .. Hera yang rnarus

31

dan manus. Tak ada pergolakan berarr] dalam hidup rernaja belasan cahun yang raar pada orang rua, negam. dan a,gama.

Sarnpai satu sore karni bicara-bicara tentang Herman Felany di reras rumahnya: filmnya 'yang baru kami ronron: kurnisnya yang mengagumkan;. yang rnengilhamiku beserca seluruh ternan abangnya rnernbuar lcornpetisi untuk dulu-duluan menumbuhkan kurnis rnenyerupai Herman. Hera, yang cuma rncnonroni karni bicara, dengan polos rahu-rahu berujar, dia belurn pernah punya ternan bernama Herman, Teman-ce an abangnya yang lain ridak mengindahkan, kecuali sku, Kusernparkan berbisik di kupingnya: Pasri ada di sekelah, karnu cad saJa.

Seminggu kemudian Hera kembali padaku dan meIaporkan bahwa rernyata ridak ada yang bernama Herman di sekolahnya, bahkan guru-guru sekalipun. Aku cukup rersenrak. Rarusan siswa, puluhan guru, ridak ada yang bcrnarna Herman? Budi banyak, Ahmad banyak, bahkan Ludwig juga ada) tapi ridak Herman. Aku jadi rersadar, aku juga ridak punya kenalan bernama Herman.

Hera melebarkan sayap, rnencari Herman di lingkungan rurnah. Ia rncndatangi Pak RT dan Pak Lurah. Terap ridak ada Herman arau Pak Herman arau Dik Herman, Aku rnenawarkan RT dan kelurahanku, kami berdua mencari, dan retap cidak kami remukan Herman. Hera rnulai mencari rahu ke sanak saudaranya, ternan-reman-

32

K!lMPULAN CEIHTII & PROSI\

oya, adakah yang kenai seseorang bernama Herman? Ajaibnya, ridak ada. Beberapa orang rnemiliki:unsur Herman atau ke-'11erman-.herman'-an dalarn namanya:

Feri Herrnansyah, Dudi Hermanro, Indra Herrnadi, Herrnawan Adi, tapi Hera rak terpuaskan. Ia rnenginginkan seorang Herman sejari,

Teritu tak seriap hari karni disibukkan oleh pencarian Herman. Wakw berlalu, dan Hera sudah siap lulus S1'v1A. Hera, yang ingin jadi dokter anak, berpamitan aksn kuliah eli Jakarta. Semoga berremu Herman! Dernikian ucapan rerakhirku sebelurn Hera naik ke gerbong kereta.

Beberapa tahun kemudian anak pertamaku lahir, Baru saja kukhsyalkan kunjungan karni ke Daher Hera yang cakap, riba-tiba kudengar kabar Hera drop (Jut. Ternyara si anak .sempuJl'la itu sudah berubah jadi manusia biasa, Katanya, Hera rerkenal suka gonta-ganri pasangan. Sam kali, ia kena barunya. Hera harnil dj luar nikah, Ironisnya, pengerahuannya sebagai calon dokrer gagal rnenunrunnya unruk berbuat rnasuk akal, Karena rakut diamuk, Hera ke dukun .. Perurnya digilas dan digerus. Tak ada janin yang keluar, hanya darah dan kerusakan permanen di rahirn. Hera sakir keras lalu rerpaksa pulang,

Lama Hera rnendekarn seperti rahanan rurnah. Wajah manisnya berubah pahir sekian lama. 13 lamas dikirim ke beberapa pesanuen. Baru serelah ia dinilai sernbuh [uar-dalam-lahir-barin, Hera diizinkan untuk punya cita-

33

MP.NCilRI H~RM!lN

cira. Dan Hera memilih rerbang, Aku menernuinya saar 13 pama rnau pendidikan prarnugari. Supaya kerernu Herman di angkasa? Aku be rcanda. Hera rerrawa, email itu berarri iya,arau tidak, arau rnenerrawakanku. Seakanakan perranyaan radio langsung mengklasifikasikanku ke dalam kamong sarnpah bernama Jmasa lalu' yang ingin ditinggalkannya secepa[ rnungkin.

Pada perremuan kami beriku~, Hera sudah berseragarn prarnugari sungguhan. Canrik sekali. Mau terbang sarnpai kapan, kapan ada niat rnenikah, ranyaku. Hera rersenyurn serengah rnendengus sarnbil menggeleng kenes, seolah merespOnS penanyaan sekonyol 'adakah. garan.1 yang eak asin?'. Aku rnengarrikannya sebagai 'udak'. Hera relah bermetamorforsis jnenjadi perempuan modern yang rak rerjangkau uku ran sosialku,

'Sudah kerernu Herman?' ranyaku Jagi. Kernbali Hera rertawa le pas. Ia lalu hercerira, sejak rahunan Jalu ia sudah srop mencari, apalagi rnenyusuri dafear nama, karen a bukan iru yang ia mau. Hera ingin langsung berrernu dengan seseorang, rnenjabar rangannya, laJu orang iru berkara: Herman. Karnu rnernbuar pencarian ini tarnbah susah, karaku. Lebih alami lebih seru, jawabnya manta p. Dan tetap ia men inggalkan nornor relepon, kslau-kalau alarn menenrukan akulah yang rnenemukan Herman uruuknya.

Tenru tidalc kupikirkan Herman seriap saar. lebih seong aku berpi lei r [en rang Hera. Sahabatku berceri ta

34

KUMPI)lAN CERITII &, P~OSIl

kalau adik perempuannya icu rnenjalin hubungan dengan 11;1k pilot yang sudah beranak lima. Namanya Herman? Aku bertanya, karena kalau iya, rasanya aku bisa sedikir uuklurn. Bukan, namanya Bajuri. Pak pilot Bajuri ini sebenrar lagi akan rnencerai kan isrrinya derni hidup u-nreram dengan Hera. Tak ada yang memberi resrunrrnasuk aku, karena nama orang iru Bajuri, bukan Herman.

Semakin sering aku berpikir rentang Hera. Kabarnya, ia keguguran kandungan dua kali, dan akhirnya mogok harnil Sarna sekali, Tak lama, pak pilot dan Hera belcerai-arau puws cinra saja, ridak kutahu pasu, Hera, yang sudah berkorban pindah ke rnaskapai lain, rahurahu kehilangan pekerjaan karena perusahaannya gulung rikar, Lalu Hera sekarang di mana? Aku bertanya pada sahabarku. Di Jakarta, ridak pulang-pulang, mungkin malu, dia sudah ridak pernah sou/an dengan bapak-ibu sejak kurnpul kebo sarna pilar gaek iru, dernikian sahabarku rnerrjawab, Biarkan saja, karanya, nasib sialnya i tu gara-gara ridak diberi resru.

Tak kusangka, jusrru akulah yang haws rnenernui Hera duluan. Sebenarnya keluarga Hera rahu dis di mana, tapi pura-pura tidak rahu. Hera berdagang kain batik dari pinru ke pinru, sesekali rnenyarnbi rnenjadi sales barang elekr ro nik, Mukanya lelah dan cahaya maranya Icnyap diisap kecewa. Saar kuremui, Hera rnenghabiskaru satu jam hanya untuk rnenangis, dan berjarn-jarn

35

untuk berkesah dan berkela h. Lama tak ada ya ng mendengarkannya, Hera b dang, ia kecewa dengan b i du p. Hidup tidak adil. Hidup itu kejarn. Hidup itu ini, hidup itu itu ... sampai kosa katanya habis. Barulah aku berlcesernparan bicara, bahwa relah kurernukan Herman unruknya,

Bat'angkaJi itu kabar baik pertarna yang pernah i;l ter irna selarna bertahun-rahun .. Tanpa berpikir, Hera ikut rnenernui ternan rnerruaku yang bernama Ny, Herman. Suaminyalah yang bernarna Herman. Tulen, ranp:.'! earnpuran 'ro', "syah', arau yang lainnya. Ditemukan secara alarni, sesuai pesanan. Bukan lihar buku relepon, atau dahar kelurahan,

Namun Ny. Herman. yang kuremui sebulanan lalu sudah berubah, Tak lagi ceriwis dan murah senyum. Pak Herman baru saja meninggal seminggu [alu, Pergi meninggalkan istr i yang rak punya siapa-siapa lagi. di du nia, pergi meninggalkan Hera ranpa sempa[ berjabar [angan dan berkara: Herman, Ny. Herman menangis, Hera menangis, dan aku ik u r mu rung. Seolah ada d ua janda yang diringga.l mario

Sepulang dari sana, aku rak banyak bicara, hanya sekali sebelurn karni berpisah: Bahkan untuk menemukan seorang Herman buarrnu, saya gagaL

Hera menunduk, dan hampir berbisik kudengar t.J berkara: Abang, dari aku kecil dulu, cuma Abaog yang selalu peduIi padaku. Dan aku selalu sayang sarna Abang,

rap; Abang seperti bum. Tolong jangan lagi rnencarikan Herman. Jangan lagi berranya soal Herman. Karena sebetulnya aku ridak buruh Herman. Aku buruh orang seperti Abang.

Aku ridak langsung paharn arti ucapannya) rapi tanganku refleks rnenjauh kerika Hera rneraih jernariku, Seperrinyaada yang salah. Ia selalu kukenang sebagai Hera yang rnencari Herman. Bubo rnencari aku. Segala:nya salah hari iru, Kakiku berjalan cepat meninggalkan nya, yang lamar-lamar kudengar memanggil narnaku.

Sejal; han iru, aku berusaha berhenri memikirkao Hera. Tidak gampang, sungguh. Aku begiru rerbiasa mernikirkannya. Saar Herman Felany sesekali rnuncul di relcvisi, arau kubaca nama Herman di surar kabar, lHau bersentuhan dengan segala yang berhubungan dengan Hera, maka kudengar lagi .suaranya sore jtu, memanggil narnaku. Dan betapa pun punggung ini LOgin berbalik, aku tahu lebih baik uncuk terus berjalan. Terus berjalan.

Kin\, sering aku bertanya, akankah segalanya berbeda, jib hari iru aku rnemilih menghadapi Hera dan lsi' harinya? Bila aku terus berusaha rnencarikan Herman sekalipun bukan itu sesungguhnya yang ia carl? Bila aku beran i mengaku i bahwa penearian Herman adalah alasanku unruk sekadar rnenemu inya?

ScratU$ hart. Kuselipkan cetakan surat Yasin iru ke dalam (as. Bersalaman dengan sahabarku dan keluarganya seolali untuk yang rerakhir kali, Karena rasa-rasanya aku

37

1111 C.'<JCNR I .HERMAN

tidak aksn kuat kemhalilagi. Setiap rnalarn selarna serarus hariterakh ir rnaraku basah, sejak mender: ga r kabar d uka dari sahabatku ten tang Hera yan g saru han pergi dan rak kernbali.

Ternan Hera yang bersamanya terakhir kali bercerita bahwa dia dan Hera didarangi seorang pria yang rertarik pada wajah Hera dan rneriawarkanrtya jadi model iklan, Hera sama sekali ridak eerrarik, ia rerima karru nama yang diberikan pria itu dengan sebelah rnata. Narnun serelah beberapa lama, Hera seperti rersadar akan sesuaru Teparnya, ketika benar-benar mernbaca karru nama tacit. 1a berlari rnengejar pna. itu, dan rak perriah kernbali. jasad Hera diternukan dua hari kemudian, ters<l.ngkm di rengah jurang. Dibuang dari mobil bernornor pclisi Surabaya, demikian kererangan seorang saksi mara. Kubaca berita itu di pojok halarnan depan sebuah koran merah.

Sahabatku bahkan sempal menunjukkan karru nama yang rnenjadi perunjuk lenyapnya 'Hera. Saar kubaca nama yang rerrera di sana, sekerika aku dapac merasakan kaki Hera yang berlari, sekuar renaga, mengejar satusarunya irnpian yang terwujud dalarn hidupnya yang bergeli~nang kecewa, mengajak pernilik kartu nama iru be rk en al an seka Ii lagi. Oem j menden gar se po to n g na m a disebut: Herman.

Kubayangkan wajah canrik itu berseri, Herman Suherman.

38

Kebahagiaan Hera paso berlipar dengan dirernukannya seorang Herman kuadrat ranpa tahu bahwa saru Herman menggenapinya, retapi dua dapat membunuhnya.

Aku juga talc tahu iru, Tidak ada yang rshu. Tak ada pepatah yang bisa jadi pernandu. Karena seridaknya, bila kudaparkan seorang Herman rerlebih dahulu, Hera masih bernyawa. la mungkin ada di rurnah ini, menernaniku rnelewati hari tua. Hingga rak perlu lagi aku berandai-andai temang apa jadinya hidup rnerniliki dua cinra. Saw menggenapi, rerapi adakah dua akan mernbunuhku? Aku tak akan pernah cahu.

Untl,lk .Fa n ny, ytlng I1'/f.!11ClJ,rt Herman

39

Surat yang tak Pernah Sampai 1 2 0 0 I 1

S urarrnu iru tidak abo pernah rerkirirn, karena sebenarnya karnu hanya ingin berbicara pada dirirnu sendiri. Karnu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap mslarn yang karnu beli dari rukang bunga berwajah rnernelas, dengan nyarnuk-nyamuk yang cari rnakan, dengan rnalarn, dengan derik jam ... tentang dia.

Dia, yang ridak pernah karnu rnengern. Dia, racun yang membunuhrnu perlahan. Dis, yang karnu reb. dan karnu cipra,

Sebelah darirnu m.enginginkan agar dia darang, rnernbencirnu hingga muak dia rrrendekari gila, menerrawakan segala kebodohannya, kekhilafannya unruk sarnpai jaruh hari padarnu, rnenyesalkan magis yang hadir naluriah

40

seriap kali kalian berjurnpa. Akan karnu kirimkan lagi riker bioskop, bon resroran, semua tulisannya-c-dari rnulai nora sebaris sarnpai doa berbair-bair. Dan beceklah pipinya karenagdi,karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan-bukri-bukri bahwa kalian pernah saling (e{gila-gaa~·· =berrerbangan rnasuk ke rnatanya, Setl10ga ia pergi dan rak perriah rnenoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasri alcan lebih rnudah,

Tapi, sebelah dari kamu rnenginginkan agar dia datang, menjernpurmu, mengamini Italian, dan unruk kesekian kali, j;'l.ruh hari lagi, segHa-gilanya, sampai barns gila dan waras pupu.s. dalarn kesadaran murni akan Cinra, Kernudian mendarnparkan dirilah kalian dl sebuah alarn rak dikenal unruk membaca ulang .sernua kallrnat, mengenang ser iap i nci pcrjalan an, perj uangan, dan kerabahan hari. Betapa sebelah darirnu percaya bshwa sereres air mara pun akan tech irung, tak ada yang rnengalir rnubazir, segala nya pasri berrnuara d i Saw sam udra rak terbaras, lau ran rnerdeka yang bersand i ng sejajar dengan cakrawala ... dan irulah rujuan kalian ..

Kalau saja hidup ridak ber-evolusi, kalau saja sebuah rnornen dapac selarnanya menjadi fosil [anpa. terganggu, kalau saja kekuaran kosmik rnarnpu s[agnan di saw ririk, maka ... [anpa ragu kamu akan rnernilih satu derik bersarnanya unruk d iabadikan. Cnkup saru.

Satu derik yang segenap keberadaannya dipersernbahkan unruk bersarnarnu, dan bukao dengan ribuan hal lain

41

yang menanri unruk dilirik pada decik berikutnya. Berapa kamu rela rnernbatu untuk itu,

Tapi, hidu pini cairo Sernesra ini bergerak, Realiras berubah. Seluruh sirnpui dart kesadaran kita berkemhang rnekar, Hidup abo rnengikis apa saja yang rnemilih dram, rnemaksa kim unruk mengikuri arus agungny« yang JUJUf rerap! penuh rahasia. Karnu, ridak rerkecuali.

Kamu rakur.

Kamu raku r karena ingi n ) ujur, Dan kej u j uran menyudurkanrnu unruk rnengakui kamu mulai ragu.

Dialah bagian terbesar dalarn hiduprnu, rapi karnu cernas. Kata 'sejarah' mulai menggamung hari-hati di aras sana. Sejarah ka] ian. Konsep iru rnenakurkan sekali.

Sejarah merniliki rampuk istirnewa dalam hidup rna nusia, tapi ridak lagi rnelekar uruh pada realitas, Sejarah seperri awan yang tarnpak padar berisi rapi kerika di senruh menjadi embun yang rapuh.

Skenario perjalanan kalian rnengharuskanrnu unruk sering rnenyejarahkannya, rnerekarn nya, la I u merna) nkan nya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang rerrnunrahkan ke dunia, Semenrara dalam seriap detik yang berjalan, kalian seperri musafir yang tersesar di padang, Berjalan dengan kornpas rnasing-rnasing, ranpa ada usaha saling rnencocokkan. Sesekali kalian berrernu be r u saba sal i ng (Q leransi a ras na rna. Ci ora da n Pe rj ua ngru 1

42

yang Tidak Boleh Sia-sia. Karnu sudah membayar rnahal unruk perjalanan ini. Karow pertaruhkan segalanya derni apa yang karnu rasa benar, Dan mencinrainya rnenjadi kcbenaran rertinggirnu.

Lama baru karnu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian rak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seuras perasaan mutual.

Lama bagi karnu unruk berani menoleh ke belakang, nienghicung, berapa banyakkah pengalaman nyara yang kalian alami bersarna?

Sebuah hubungan yang dibiarkan rumbuh ranpa kereraruran akan rnenjadi hantu yang ridak rnenjejak burni. dan alasan cines yang ra.dinya diagungkan bisa berubah menjad i u rang moral, i nvesrasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkularif anrara dua pihak.

Cinra buruh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba rnengejutkan, cinta ternyara masih buruh mekanisrne agar mampu berrahan.

Cinra jangart selalu diternparkan sebagai iming-iming bexar, atau seperri ranjau yang rahu-rahu meledakkanrnu-s-entah kapan dan kenapa. Cinra yallg sudah. dipilih sehaiknya diikurkan di setiap Jangkah kaki, merekarkan jemuri, dan berjalanlah kalian bergandengan... karena cinra adalah meogalami.

.inra ridak hanya pikira n dan kenangan. Lebih besar, cinra adalah dia dan kamu. Inreraksi. Perkembangan

43

dua manusia yang rerpamau agar cec,l'p harmonis. Karena cinra pun hidup dan bukan cuma masker uruuk disernbah sujud.

Karnu ingin berhenri mernencer rombol runda. Karnu ingin berhenri menyurnbat denyur alarni hidup dan membiarkannya bergulir ranpa beban.

Dan kamu rahu, irulah yang tidak bisa dia berikan kini, Hingga akhirnya .. ,

Di rneja iru, kamu dikelilingi rulisan rangannya yang rersisa (kamu baru sadar berapa ridak adilnya ini sernua. Kenapa harus karnu yang kebagian rugas xlokumenrasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang rersiksar).

Jangan heran kalau karnu rnenangis sejadi-jadinya. Dia, yang ridak pernah menyimpan gambar ruparnu, pasti ridak tahu apa ras:mya rnenarap lekar-lekat saru sosok, mernbayangkan rasa senruh dad helai rambur yang palos ranpa busa pengerasl rasa hangac lI<lp rubuh yang karnu hafal berulternperaturnya.

Dan karnu hanya bisa berbagi kesedihan iru, keridakrelaan itu, kelemahan icu, dengan wangi bunga yang rnelangu, dengan nyarnuk-nyamuk yang purus asa, dengan rnalarn yang pasrah digusur pagi, dengan derik jam dinding yang gagu karena habis d.aya.

Sarnpai pada halarnan kedua suratmu. kamu yakin dia akan paharn, arau seridaknya setengah rnernaharni, berapn sullmya perpisahan yang dilalcukan sendi ria n.

44

Tidakada sepasang mara lain yang marnpu rneyakinkarunu bahwa i ni memang sudah usai, Tidak ada kata, peluk, ciurn, arau langkah kaki beranjak pergi, yang mamptt rnenjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir relah dipuruskan bersarna.

Arau sebaliknya, tidak ada sergahan yang rriembuarrnu berubah pikiran, tidak ada kara 'jarigan' yang mungkin, apabils diueapkan dan dicindakkan dengan [epar, akan mernbuarmu menghambur kernbali dan rak maw pergi laJ,:i.

KaJ11 u pun rersadar, i culah perpisa ha n paling sepi yang perna h learn u a lam i.

Keuka surat icu riba di d(iknya yang terakhir, rnasih akan ada sejurnpur karnu yang benengger cak mau pergl dari perbarasan usai dan rrdak usai, Bagian dari d.irimu yang rnerasa paling bertanggung jawab atas sernua yang sudah kalian baysrkan bersarna derni mengalami perjal.man hari sedahsyat iru. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, mernilih unruk ridak ikur pergi bersama yang lai n, men eta pun ru k re rUS men em a:n i sejara h. Da n ka rena wakru sernakin larur, renagam.u pun sudah rnenyurur, rnaka karnu akan rnernbiarkan si keci] itu berrahan

semuun ya,

M ungkin, suaru saar, apabila sekelurni t di r irrru iru rnulai kesepian dan bosan, ia akan berreriak-teriak ingin pU!;illg. Dan karnu akan menjernputnya, lalu membiarkan

45

sejarah mernbenrengi diri nya dengan rernbok rebal yang tak lagi bisa ditembus, Arau rnungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini.,.jadilah ia -sernacarn mercusuar, kornpas, Bimang Selatan ... yang rnenunjukkan jalan puJang bagi hatirnu untuk, akhirnya.

rnenernuiku.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. AJw, yang telah menuliskan surar-surat cinta padarnu. Surar-surar yang tak pernah sampat ..

46

Sal]u Gurun l I 9 9 8 J

D ~ h~mpa~an gUru~l yang s~ragam, jangan Jagi men~ [adi buriran pas! r, Sekalipun nyaman errgkau d. {ellgah irnpiran sesamamu, rak akan ada yang rahu jika kau melayang hilang.

I)j lingkungan gurun yang serba secupa, unruk apa lagi rnenjadi kakrus. Sekalipun hijau warnarnu, engkau cersebar di mana-mana. Talc ada yang menangis rindu jika kau mari layu.

I)i lansekap gUflln yang mahaluas, lebih baik ridalc rnenjadi oase, Sekalipun rasanya kau sendiri, burung yang ungg. akan melihat kernbaranrnu di sana-sin].

47

Oi tengah gurun yang. rerrebak, [sdilah salju yang abadl. £mbun pagi rak akan kalahkan dinginmu,ang.n malarn akan menggigU keeika melewatirnu, oase akan jengah, dan kakrus terperangah, Sernua burir pasir akan rahu jika kau pergi, arau sekadar bergerak dua incl.

Dan seriap seniti guruQ akan terinspirasi karena kau bersnl beku dalarn neraka, kau berani purih rneski sendiri, karena kau.. .. berbeda.

48

Kunci Hati

I I 9 9 8 I

O alam raga ada hat), dan dalam hari, ada saw !'uang tak bernarna. Oi tanganmu terge.nggam kunci pintunya.

Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat surera, Berkara-ksra dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nuraru.

Begitu lerriahnya ia berbisik, sarnpai kadang-kadang engkau rak terusik. Hanya kehadirannya yang rerus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya d u niam u ru nruh bagai pelangi rneluruh usai gerimis.

Tah ukah engkau bah wa ci nra yang rersesa [ adalah "em-

49

bura dunia? Sinarnya menyilaukan hing~a kau terperangkap, dan harirnu rnenjadi sasaran sekalinya engkau tersekap, Banyak garis batas mernuai begiru engkau rerbual, dan dalarn puja kau sedia serah.kan segalanya. Kunci kecil iru kau anggap pernberian paling berharga,

Saw garis jangan sarnpai kau repis: membuka diri ridak sarna dengan rnenyerahkannya.

Oi ruang kecil ItU, ada teras unruk rarnu, Hanya engkau yang berhak ada di dalarn inti hatirnu sendiri.

50

Selagi Kau Lelap 12000]

5 ekarang pukul 01.30 pagi di ternpatrnu.

Kulit wajahmu pasri sedang rerlipat di anrara keruran arung bantal, Rambutrnu yang rebal menurnpuk di stsi kanan, karena engkau ridur terlungkup dengan rnuka menghadap ke sisi kiri, Tanganmu selalu rarnpak rnenggnp'li, apakah iru yang sel III kau cari di bawah banral?

Aku selalu ingin rnencuri w kturnu, Menyita perharianrnu. ernata-rnara supaya aku bisa rerpilin masuk ke dalarn liparan seprai rempar rubuhrnu sekarang rerbring .

. "iwJah harnpir riga rahun aku begini. Dua puluh del.rpan bulan. Kal ikan riga puluh. Kal i ka n dua pll I uh ernpar. Kalikan enarn puluh. Kalikan lagi enarn puluh,

51

Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau daparkan angka ini: 4.354.560.000

ltulah barryaknya rnilisekon sejak perrarna aku jatuh cinta kepadarnu. Angka tru bisa lebih tanrastis kalau dirarik sarnpai skala llano. Silakan cdc Daoaku berani [arnin engkau rnasih ada di situ, Di riap inti detik, dan di dalarnnya Jagi! dan lagi, dan lagi ...

Penunjuk waktuku tak perlu rnahal-rnahal, Mernan dangmu rriernberikanku sensasi keabadian sekaligus marraliras, Rolex rak mampu berikan iru,

Mengerrilah, rulisan ini bukan hertujuan unruk 01\:'rayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang rnenor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah Fal{(a rnarernatis. Ernpiris. Siapa bilang cinta ridak bisa logis. Cinra r11;'lmpu merarnbah dirnensi angka dan rasa sekaligus,

Sekarang pukul 02.30 di ccmpa[mu. Tak rerasa sudah saru jam aku di sini, Menyumbangkan lagi 216.000 rnilisekon ke dalam rekening wakruku, Terirna kasih. Aku sernakin kaya saja, Andaiksn bisa kutarnb .. hkan satuan rupiah, atau Iebih baik lagi. dolar, di belakangnya, Tapi eugkau rak rernilai, Engkau adalah pangkal, ujung. dan segalanya yang di rengah-rengah. Sensasi ilahi, Tidak dolar. tak juga yen) mampu rnenyajikannya.

Aku rak pernah rerlalu rahu keadaan rempar ridurmu.

Bukan aku yang sering ada di situ. Entah siapa. Mungkin

52

KUMPIJI.AN CEHI r" 8( P~O~II

curna guJing arau banral-banral ekstra. Terkadang bertdahcnda marl jusrru rnendaparkan apa yang paling kita i nginka: n , dan rsk sanggup kira bersaing dengannya, i\kuici pada baju ti'durmu, handukmu, apalagi pada glliing... sudah, Stop. Aim rak sanggup rnelanjurkan. Membayangkannya saja ngeri, Apa rasanya d ipeluk dan didekap ranpa pretensi? Itulah surga. Dan rnanusia perlu beribadah j ungki r-balik UI1 ru k mendapatkannya? Hidu p memang bagai.kan mengl(arl Gunung Sinai. Tak diizinkannya kim unruk berjalan lurus-lurus saja derni menl;lpai, Tanah Perjanjian,

Kini, izinkan aku ridur, Menyusulrnu ke alam absrrak di mana segalanya bisa berrernu. Paseikan kau ada di sana, tidak rerbangun karena ingin pipis, arau mlmpl buruk. Tunggu aku,

Begim banyak yang mgli1 kubicarakan, Mari kim pi knik, rna nd i susu, porollg [Urn peng, rna in pasir, ad u jangkrik, balap karung, melipar kertas, naik gecek, rarik ram bang ... rak ada yang rak bisa kira lakukan, bukan? Tapi kalau boleh rnernilih saw: aku ingin mirnpi tidur di sebelahrnu. Ada (anganku di bawah banral, rernpat [ernarirnu menggapai-ga.pai.

Tidurku meringkuk ke sebelah kanan sehingga wajah kira berhadapan. Dan kerika rnatarnu rerbuka nann, ada aku di sana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahrnu ya ng rercetak keru t sepra I.

Tiada yang lebih indah dari cmta dua orang eli pagl

53

hari. Oengan rnuka berkilap, bau keringar, glgl bermemega, dan rnulur asarn ... rnereka rnasih beranl tersenyurn dan saling menyapa 'selarnar pagi'.

54

Sikat Gigi

[ I 9 9 9 I

P ujangga iru rnelongokkan kepala dari jendcla mobil [aopa takur kepalanya tersarnbar kendaraan nakal yang kadang rnenyalip dari kiri, [crap menarap Jangit yang beranrakan cleh blnrang lalu ribut sendiri, Ia selalu hisrcris akan hal-hal yang tak kumerigerri.

Serelah bmi berdua duduk di atas rurnput, dengan rahah ia menjelaskan. 'Coba lihar. Langit begitu hiram sarnpai barasnya dengan Bumi hilang. Akibarnya, bimang dan larnpu kota bersatu , sC01 ah-a lah berada di saw bidang. Indah, !<an?'

la pun dianugerahi kernarnpuan unruk rnenjelaskan segalanya dengan [Cpal, rasional, dan masih kedengaran cautik. Irulah saru-sarunya cara agar aku rnampLl mengerti keiudahan yang dirangkap maranya. Aku bukan pujangga

55

dan rak pernah bisa bermecafora. Monokrom dan kurang dirnensi, karanya selalu cenmng d iriku, Pralcris dan realisris, begi tu a ku menerjernahka nnya.

Dengan segenap rasio dan akal, aku rnencintai perempuan di samp ingku i ru. Egi. yang relah lama ku kenai, ternan baikku, sosok yang kubanggakan dan kukagurni. Ia mampu berpanjang lebar rnenjelaskan cinra dan.aclieksisrensinya pada aku yang rak pernah mau [epm menganalisis. Yang kutahu, aku peduli padanya, ridak pernah bosan seharian bersarnanya, dan yakin bahwa karni dapat bekerja sarna membina ~pa. pun, terrnasuk rumah cangga. Itulah aplikasi SUbmlOS( berjudul 'cinta' bagiku. Cukup sekian. Egl juga tahu iru.

'Karnu kedinginan?' tanyaku sarnbil siap-siap mernbuka jaket,

Mendengarnya, Eg) yang hanya rnernakai cardigan cipis menjadi sadar akan dinginnya cuaca, Ia pasti relah hanyur jauh dalarn dunianyasendiri. Di sana jiwanya barangkali dihangarkan, lalu rnerernbet hlogga ke kulir.

Dalam baluran jaketku Egi meringkuk. Soror matanya mas:ih rnelayang-layang, AJ<u tahu apa yang ia larnunkan, apalagi serelah rnendengar helaan napasnya, rapi enggan aku berranya, Buac apa .mengu ngki [ sesuatu yang hanya rnernbuar piki fa nku cefganggu.

Tak lama kernudian karni kernbali Ice [akarra.

56

'Sudah lama kira ridak ke Puncak !agi,'ujar Egi yang melenggaJlg dengan sikar gigi di (<logan. "Ierakhir kapan, ya?'

'Enarn minggu yang lalu? WakXLJ Jangir dan Bumi jadi saw iru.'

Egi rnenarapku lucu, 'Kamu punya ingaxan hebat, eapi karol! mengucapkannya sama darar dengan bilang 1+C=2,.,'

Suara sikar beradu dengan gigi menggerna dad karnar rnandi. Aku pun kembali mernbaca denga:n kaki berselon- 101" di sofa panjang. Egi selalu lama bila menyikar gigi.

Tiba-riba suara gosokan icu berhenti. Malam yang hening rnembuatku rnenjadi awas akan perubahan yang terjadi. Dari panrulan kaca, kulihat pintu karnar mandi terbuka dan Egi cengah rnernarung dengan mulur penuh buss.

'ggi, kenapa?'

Terdengar suara berkumur, Keran dirnarikan.

"Tio, saya pulang, ya.' Lunglai ia rnengharnpiriku. 'Kamu di sini saja, Besok pagi saya an tar pulang.

Saya rnalas keluar lagi: kataku sarnbil meoguap. Tak perlu berbasa-basi dengan Egi. Kami sudah cukup dewasa dan cukup dekar unwk[idak lagj canggung kalau Egi rerpaksa menginap di Iempac ridurku, bangun pagi dan s:lrapan be rsarn a, lamas aku menganrar dia pulang arau ke ternpar kerjanya. Egi bahkan menginvenearis sebuah sikat glgi di sini,

Mara itu bersaput alc'Saya rnerasa ridak karuan,' gumamnya pelan.

Rasa bersalah menggigitku. Sikap rerlarnpau kriris pada Egi dan air mata.nya seringkali rnendorongku unruk rnenginjeksikan logika yang kupikir perlu, yang malah rnembuarnya rarnbah sedih dan menganggap aku rak bisa arau rak suka rnenolongnya. Panras jika ia rnernilih pu!ang daripada meledak.kan tangisnya di depanku.

'Silakan karnu menangissehma mungkin. Saya janjl akan diarn.' Aku rersenyurn dan rnenariknya ducluk di sarnpingku, kembali membaca.

"Tio .... ' panggilnya serelah lama memarung. 'Saya sub sekali rnenyikar gigi. Mau tahu kenapa?'

lngin kulcnrarkan jawaban spoman seperti 'supay;1 gigi tidak bolong', arau 'afeksi berlebihan pada rasa odor, tap; kuputuskan un ruk diarn,

'Wakru saya rnenyikar gjgi, saya tidak rnendengar ap<lapa selain bunyi sikat. Dunia saya, rnendadak sernpir.. cuma gigi, busa, dansikat. Tidak ada wang untuk yant'. lain. Hirungan menir, Tio, rapi berarri banyak.'

Aku rahu apa yang kau rnaksud, wahai Egi, pujanggaku sayang_ Cukup lama aku rerlarih membaca rnakna-makna rersirar dalarn kal irnatnya, walaupun belurn cukup lam» unruk mengerti alasan di balik itu sernua, rnisalnya, buar apa ia pelihara tub hari yang cuma bikin rnatanya berair?

Aim rnenarapnya iba .. Egi dengan pipi basa.h, tangisanoya yang rak pernah bersuara, dan linangan iru menders»

58

keuka aku menurup bukuku, memilih u.nruk merangkuluya.

'Kamu.; pasri sebenarnya...sudal"l ingin ngomel~ ngarnet.' ia berbisik susah payah,

Kurepuk-nepuk bahunya, '53Y3 recap ridak mengetti. '(apt semuanya rerserah karnu.'

Saar seperri ini selalu rnernbuarku berpikir, janganjangan aku yang rerlahir cacar, Ada saru bahasa di sernesra ini ya,ngridak terikut ke dalarn paker generi.kku, rnakanya aku selalu gaga1 rnengerci, Padahal searang ahlinya ada sangar dekar di sini, E_g]., guru besar bahasa aneh itu, Bahasa dari planer cempar cinra punya logika serra hukurn sendiri.

Aku dikutu], selarnanya menjadi rnakhlukeksrra-terestrial.

Ulang rahunnya yang ke~27. Serelah bersenang-senang bcrsama serombongan reman, kini karni kernbali berdua. Mara yang menerawang jauh, kaki yang meringkuk, napas ya.ng rnulai ditarik-ulur; Dernikianlah Egi, bahkan pada hari seisrirnewa ini,

Kehenioganse!alu rnernbawanya ke perbarasan yang SOl rna" baras anta ra dun i a (ell) PiU: kam iada dan dun ia yang tak rnengikuekanku serra. Talc pula ada yang bisa rnenahannya rnenyeberang pergi.

59

'Ini-.. hadiah unruk karnu.' Aku menjegal langkah rerakhirnya sebelurn rnenginjak amah beranrah iru.

Egi terkejur rnelihat korak di depan mukanya. 'Sej;.].k

kapan kamu kasih kado segala?'

'Usia 27 i tu usia pen ring,' jawabku seke nanya. Tawanya semringah kerika rahu apa j'5i korak iru.

A..ku sibuk rnenjelaskan, 'Sikar gigi elekrronik. Ber garansi, wan Icecil, antiplak, sikatnya banyak dan masini' masi n_g beda fungsi. Seri in i punys kernasan kh usus buar travelling, cuku p keel I unruk kam u ba wa-bawa d I dalam ras. Ini buku panduannya .. .'

'Tio,' pocongnya geli seraya menahan ranganku, 'saY:1 rahu kamu iru rnanusia prakt is yang pasti rnemil.h hadiah seperti ini, tapl ... kenapa sikar gigi?'

Kutarap kedua mara iru, hanya u nruk rnenjernpui kegugupan yang rnernbuatku gelagapan, 'Soalnya ... ehrn. soalnya ... ' kubersihkan renggofokan, menglJsir jauh-jauli keparar yang menghambar lidah, rnelirik dan mendap:11 kan Egi rengah tersenyurn menunggu jawabanku, Se· nyuman yang rnelonjakkan lisrrik di jaringan orale Se nyuman yang rneyakinkanku bahwa dunia ini wkUI\ indah r4np.a perlu lagi smga. Senyuman yang rnembuarku berkecukupan.

'Saya ridak pernah rnengerri dunia da.lam lamunun karnu,' kara-kara iru akhirnya rneluncur keluar, 'pen~ harapan yang kamu punya, dan kekuaran rnacarn ap.1 yang sanggup rnenahan karnu begiru lama di sana. Tap'

60

KI)~'I'ULM'; CF.RIT" 8; I !lOS"

kulau memang sikar gLg.1 I(U tik r yang bisa mernbawa karnu pulang, saya ingin karnu semakin lama menyikar y,igi. sernakin asyik, sarnpai moga~moga lupa berhenri, Karena be ra rri kamu lebih lama lagi di sini, di dunia }r;Ulg saya mengerti. Saru-satunya rempac saya eksis buat kamu.'

la rerperangah. Bahunya bergerak. Menjauh. 'E.gi ... jangan ... bisikku waswas.

'Karnu rahu perasaan saya, dan aya ridak pernah mau rnernbahas soal ini lagi.'

t rapi beginilah kenyaraannya, saya ridak pernah berubah dari berrahun-tahun yang lalu ... kamu rahuiru .. : 'Karnu sahsbac saya... sahabar rerbaik.,;' 1a rnakin menjauh. Bersiap menllcup dirt .

• arnpai kapan karnu rerus menharapkan dia?!' Tal r.rh '0 aku berserll.' rang yang ridak pernahada saar kamu paling mernbutul kan dukungan, orar)g yang mungkin rnemikirkan kamu hanya seperseribu dari seluruh wukru yang karnu habiskan buar rnelarnunkan dia, orang yang ridak rahu kalau kamu bahkan harus rnenyikar gigi d\'mi rnelepaskan dia barang rigs rnenir dart piki ran kamu?'

Dia ingin darang. Biar iru curna dalam hari, Dan dia akan menjemput saya, pada kesernparan perrama yang dia punya. Saya bisa rnerasakan kalau dia selalu rnernikirk.111 saya.'

'Kapan kamu akan banguni' keluhku lerih.

61

Tegas kepalanya menggeleng. 'Ini narnanya cinra sejati.

Saru hal yang eidak pernah kamu rahu.'

Aku bali k menggeleng. • J [U kebu raan sejati, Kam u mernilih rnenjadi tuna nerra padahal rnaea karnu sehat. Kamu (Ucup mara karnu sendiri. Dan kesedihan karnu pelihara s petri orang rnengobari luka dengan cuka, bukan obar merah.'

Lama Egi rerdiarn, rnenarapku kasihan. Wajahku di enruhnya sekilas, 'Sernoga aru saar kamu rnengerri.' Habissudah persediaan kara-kara, Keyakinannya berada di luar akalku, Aku in; ET. Jadi, mana rnungkin aku bisa 'ngerti',

Aku rnencinrai Egi. Egi mencintai pria lain, yang menahun sudah membiarkannya rerkatung-karung. Derni kianlah fakra ederhana yang karni ketahui bersarna, Kernal ngan iru diperparah lagi karena keinginanku yang logis unruk rnernilikinya bukanlah cinra bagi Egi, semen tara cin tanya Egi yang masokis juga aLien bagiku.

[ernbatan kornunikasi karni runruh, Dua rnanusia yang relah bersahabat bertahun-rahun larnanya berubah asing dalam sernalarn. Mungkin sudah saamya.

Hampir genap serahun rak ada Egi dalam hari-hariku, Tidak ada Jagi yang rnenerjernahkan keindahan alam Tidak ada lagi yang men unjukkan signifikansi di balik

62

hal-hal rerneh, Tidak ada Jagi yang duduk di sofa panjaJlgku unruk rnelalap rulisan para filsuf yang mendedah rnakna hidup. Dan yang paling aku kehilangan adalah rnendengarkannya rnenyikar gigi,

Seriap kali aku berusaha merasionalisasikan semua ini, kesirrtpulanku selalu sarna: aku harus rnenernui nya lagi.

Bukan hal sulir umuk rnenernukannya, Ia masih Egi yang dulu, yang dapar kurernui sore-sore sedang rnembaca huku d i bangku raman yang berbuki r-buki t di kompleks rurnahnya. Yang sulit jusrru mengungkapkan apa yang cak pernah kusadarj, dan lebih sulir lagi unruk tidak punya harapan apa-apa sesudahnya.

''£gl. .. I

Punggung iru berbalik, maranya eerbeiiak cak percaya rnendaparkanku rnuncul kembali dalarn hidupnya begiru saja. Lebih kagee lagi saar aku berlutut dan rneraih jemarinya dengan tanganku yang dingin. 'Sebenrar saja. Sara ('idakakan lama,' ucapku cepat dengan kepala rerrunduk.

fa ridak berkara apa-apa, jemarinya saja ikur dingin. 'Saya ridak akan pernah jadi pujangga dan recap ngantuk kalau baca buku filsafar. Saya tecap Tio, si monokrom-whatever yang rnelihar segalanya derigan riga dimensi, dan bukannya empat seperti kamu. Tapi sekarang saya rnengerri kondisi aneh itu .. .' aku 'menanrang maranya, menelanjangi diri sendiri, 'karena saya sudah rnengalarninya. Keburaan iru, Saya rahu sekarang, saya

63

SIK,\'r GIGI

rnencintai kamu bukan hanya dengah logika dan raSIO. Bukan sekadar karnu rnernenuhi standar ideal saya. Tapi ... karena saya Juga rriencintai karnu di luar akal. San! tahun sara rnenernukan cukup banyak alternarif yang rnasuk aka], tapi saya mernang ridak ingin yang lain. Hanya karnu. Apa .adanya, Terrnasuk alarn larnunan yang tidak pernah melibarkan saya.

'Dan saya n:;tap Tio, ya ng kalkula rif dan tidak mau rugi, tapi kali ini saya benar-benar tidak mengharap apa-apa. Saya hanya ingin rnengarakan ini sernua, dan .. , sudsh.' Aku rnenutup pernyaraanku dengan senyum se rnampunya. Berusaha bangkir berdiri, walau berar rasanya menopang tubuh dengan lutur yang bergerar,

Tangan Egi yang sesejuk es rnenahanku. 'Kamu rnau ke mana?' [anyanya lirih, 'Jalan-jaian ... ' jawabku ridak yakin,

'1I<.u[,' u jarnya pendek seraya berd i ri me Ii 'par baku. Karni berdua berjalan meninggalkan taman, seolah

olah tidak pernah terjadi 'apa-apa. Tak ada jejak sposi kosorig dari satu tahun yang sepi jru.

'Saya sendiri sudah ban yak berpikir, murni deng,all sel-sel otak seperti yang selalu karnu anjurkan rnencr jernahkan .apa yang karnu anggap absurdiras, Dan kesini pulannya ... ' ia berkars mcngeja, genggaman tangannya rerasa hangat,'alam hati saya, ridak mungkin dirnengerti siapa-siapa. Tap! ke mana pun saya pergi, karol! [crap orang yang paling 0yar<l, paling berarti. Saya tidak me. ... ri

64

menyikat gigi unruk bisa pulang, Karnulah eiker sekali j;llan.'

Egi rahu aku buruh jeda unruk mernaharni ucapannya, karenai ru Jan gkah kakinya berhent i dan, lewar some maranya, ia ki ri mkan pernyaraan yang rak perlu direrjcrnahkan, Bahasa mutual karni yang perrarna ..

'Karnu hidup nya[a .~aya, Tio. Dan .~aya ridak mao ke mana-mana lagi. Iru juga kalau karno ridak keberarsn kim rnenjalaninya pelan-pelan .. : setengah berbisik ia III enegaska n.

Perjalanaa singkar rnenuju mobilku sore iru menjadi gerbang sebuah perjalanan baru yang panjang,

Egi benar. Banyak hal yang rak bisa dipaksakan, tapi layak diberi kesernparan. Dan kesemparan itu harus dirawarkan seriap harioleh kedua belah pihak. Aku pun benar, «ami berdua mampu membangunapa ss]a, baik persahabaran belasan rabun maupun keberssrnaan seumur hi dup,

Seriap kal i a ku d II d uk d j sofa da n merna nda n gi Egi yan gasyik meny j kat gigi, ketak u ran iru kada ng-kadang darang, Kerakutan kalau suatu hari aku rerpaksa harus rnenariknya pulang dengan paksa, dan sikar gigi rak marnpu lagi rnenjadi rikernya. Ketakutan kalau aku harus kehilangan dunia absurd ternpar perasaanku kepada-

65

SIMTCICI

nya bersernayarn, dunia yang rernyara arnar kusukai, Kerakuran yang jusrru rirnbul serdahaku benar-benar rnengerri perasaan Egi dan semuaalasannya dulu,

Perlahan nku bangkit, mernandangi sam s050k di belakang Egi yang terpantul dalam kaca: Tio. lrasional dan bum. l\.ku ridak mau kehilangan dia.

IIIIIII~I

t'!ItLFf( L,IIII !i!Ji\I

66

l embatan Zaman I .1 9 9 8 I

B ertarnbahnya usra bukan berarri kira paham segalanya.

Pohon besar rumbuh rnendekari langit dan rnenjauhi ranah, J3 merasa relah melihar segala dari ketinggiannya. Namun rnasih ingarkah ia dengan seperak ranah rnungil wakru rnasih kerdil dulu? Masih paharnkah ia akan sernesta kecil kerika sernut serdadu bagaiJean kerera raksasa dan seretes ernbun seolah bola kaca dari surga, tatkala ia rak peduli akan pola awan di langir dan rak kenai dang I ixU"ik?

W\lkm kecil dulu, kupu-ku pu rnasih sermg hinggap di pucuknya.K1ni burung besar bahkan bersangkar di

67

keriaknya, kswanan kelelawar mengganrungi buahnya. Namun jangan sekali-kali ia rnerendahkan kupu-kupu yang ha n ya m enggel ia rd i ra paknya, karena menden gar bahasanya pun ia rak mampu lagi.

Seriap jenjang merniliki dunia sendir i, yang selalu dilupn kan kerika umur bertarnbah ringgi. Tak bisa kembali ke kacarnara yang sarna bukan berarri kira lebih rnengerri dari yang sernula. Rarnbur purih tak rnenjadikan kim rnanusia yang segala rahu,

Oaparkah kira kernbali mengerri apa yang dirertawakan bocah kecil arau yang digejolakkan anak belasan tahun seiring dengan keceparan zarnan y;;mg rnelesar meninggal kan? Karena kit a rumbuh ke aras tapi masih dalarn pe-ra k ya n g sam a. Aka r It! [a ru rnbu h ke da la 111 dan tak bisa rerlalu jauh ke sarnping, Selalu rercipta kutubkutub pemaharnan y.ang rak akan berrernu kalau tidal, dijernbarani.

Jembatan yang rendah hari, bukan kesombongan dlri.

RIUUII

tt,lll:.,F ~ L.j iliI!iElIll

68

Kuda Liar [ I 9 9 8 )

Tanyakanlah ani kebebasan pada kawanan kuda liar.

( Hot rnereka kokoh akibat kecintaan rnereka pada berlari, bukan karena mengantar seseorang ke sana ke mario Kandang rnereka adalah alarn, bukan papan yang d ipasangkan. Di punggungnya terdapar cinta, bukan pelana y:mg disandangkan dengan paksa.

Hidup mereka indah dalam keinginan bebas. Had ini ke padang, esok lusa ke gunung, rak ada yang biogung. Kebimbangan rak pernah hadir kareria rnereka tahu apa yang dimau. Yakin apa yang diingini, Lari mereka ri ligan karena rak ada yang menu nggangi.

69

Kelelahan akan berganda apabi [a ki ta dihela. Wak ru akan mengirnpir apabila kira dikepit. Dan suara h.1 ri akan mati jika dikebiri.

Larilah dalarn kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begieu, kita mampu rnernperbudak wakcu. Me lambungkan rnutu dalarn hidup yang cuma saw.

70

Sepotong Kue Kunlng I I 9 9 9 1

Kuli~ puti~ iru rarnpak k~mras deng.an langi.t hiram. Senng lei mengeluh, kulitnya terlampau purih unruk seorang pria, Na.:tn.un Indi ridak menernukart alasan umuk rnengeluh, Dengan ra(apan kagum dan elora, Iodi rneraba kulir Lei perlahan-lahan, sarna takzirnnya dengan meoghayari kehalusan surera yang direnun ular. Dan di ujung perjalanan jernarinya, Indl menemukan apa yang ia cari, Seporong kue kuoing rnanis. Ada di sehelah wajah Lei.

Mereka berdua berbaring, berrindlhan, Dada bidang iru masih berotot sekalipun karanya sudah lebih dari dua rahun tidak pernah fitness. Ada daya pejal yang mernbuat dada Lei nyarnan seperti banta], dan lndi bisa ridur selarnanya di sana.

71

Gelap sekali di ruangan au. Tangan Lei mencari-can [angan lndi, rerapi yang rergenggam selalu harinya. Kadang kadang dlgenggam terlalu erar hingg;I'igilu. Ngilu yang dibangun oleh rasa rakut kehilangan, rakur diringgalkan, dan cernburu pada pihak-pihak lain. Pihak lam ...

Mendadak Indi terrawa kecil.

'Kenapa karnu ketaws?' bisik Lei halus. Seolah-olah ada orang lain d ~ ruanga,n iru ya ng rak di izin kann ya ikur mendengar,

1 ndi rak menjawab ka rena rnerasa Lei rah u. Keheningan bagai lagu merdu.

'Kapan, ya, kira berrernu lagi ... ' bisik Jodi serengah

men geluh.

'Paling lama sebulan. Nanri saya atur alasannya.' Tangan Lei menemukan (angan Indi. Akhirnya, 'Berdoa saja semoga lebih cepur. Kica tidak pernab

rahu apa yang terjadi besok, arau lusa ... siapa rahu keadaan berubah;' ujar Lei lagi .. bijak

Indi pun berdoa. Doa yang .sarna seriap malamnya:

Indi yakin Tuhan ridak akan bosan, malah sernakin paham akan keinginannya, impiannya. Sernuanya rulus Dan kerulusan akan rnernbuahkan hasil serirnpal,

Saru lag.i kue kuning randas eerrela n , Pahit rasanya.

Kal j ini rnereka ridak beru nru ng. Lei tidak b isa dar:lDg

72

menemuinya. Anaknya sakit dan tidal< bisa diringgaL Indi rnengerri, Sudah seharusnya dernikian. Lei puny-a dunia sendiri, begitu pula dirinya.

Indi lalu duduk bersandar rnenghadap jeridela, rnenakar dunianya. Dunia yang normal dan wajar, rempat dirinya eksis sebagai manusia yang seirnbang. Orang-orang rnemang tidak tabu berapa lim bung ia kala rnalarn tiba. ~ laJam hari rnernbawanya ke dalarn penjara. Penjara yang dimasuki dengan suka fda. Oi sana ia kenakan

bola besi yang rnernbuar langkahnya terserer dan reranruk. Nam un J nd j yakin bi sa bahagia, rnengubah pen,ra.ra I ru menjadi nirwana. Ia rnulai berdea,

'Tidak lagi tl'iingamya berapa porongan kue kuning yang sudah rnereka lewari. Pores hidup memang sedang bergulif berar, Indi memilih unruk rnenjadikannya sarir. Menertawakan sesuatu yang sesungguhnya ridak lucu.

'Karanya, kalau dia kerernu karnu, dia rnau rnencakar rnata kamu sarnpai keluar,'

lndi cerbahak, 'Kenapa ridak dia sewa sniper arau langsung menernbak saya pakai pisrol berulan di tengah orang banyak? Bukannya kalau begiru lebib monumental! Lebih sophisticated?'

Lei ikur rertawa. 'Karnu sudah kirirn surar palsu iru, kan? Ke kanror saya?'

73

SErOTONG KUE KUNIf'lC

Mereka terpaksa rnernbuar skenaric 'bubaran', langkah praktis unruk rnenenangkan istri Lei yang m.engamuk Sebuah surar paIsu yang rnernbuat Indi tersiksa. 13 sadar itu cuma pura-pura, rapi sekadar rnenuliskannya pun pekerjaan yang rnenyakirkan,

Mereka lalu rneneruskan percakapan, Ssru jam yang indah, dan langka. Kesernparan bercerira hal-hal remeh, tertawa, dan saling mengungkapkan kangen,

Tiba-riba terdengar sayup telepon genggam berdering. 'Sebemar,' ujar Lei, lalu dengan taogkasmenekan rornbel hold.

Indi sudah hafal 'apa arrinya, yakni: sabarlah rnenunggu ditemani hanru Beethoven yang rerperangkap dalam korak musik Fur ELise. Memprihatin.kan, pikirnya selalu Sebagai guru biola klasik, bunyi korak musik yang tak bernyawa adalah siksa,

'Halo,' suara Lei kembali terdengar, Lebih berar, 'Semua baik-baik?'

'Dia ku ra ng enak bad an. Tapi, ya sudah, tidak -r= apa,'

Namun Indi rnerasakan kege!isahan yaog rak pergl pergi lagi darisuara Lei. Tak sarnpai riga rnenir, Lei menyudahi releponnya.

'Maaf! tapi saya harus pulang.'

Indi merrgerri, rnaka ia mete-pas Lei dengan sanrar.

Bukankah dernikian seharusnya? rod! berranya pada ba yangan di cerrnin. Kondisinya dan Lei merupakan konse

74

kuensi dari pilihan-pilihan rnereka dahulu sebeinrn berrernu, Sudah sepanrasnya karnu berbangga, Indi berkara lagi pada bayangan di cerrnin. Lei ridak mernilih kabul sekalipun rnau dan mampu, Ia bertahan karena ranggung jawab.

Sesuaru mulai disadari Indi. Bayangan iru kelarnaan rnernbaru, menggenggam teleport yang rak lagi rersarnbung Dadanya terasa sesak, rarnbah lama tam ban mendesak. Cepat-cepat ia mengarur pernapasan, Indi tahu apa akibarnya kalau salah bernapas sedikir saja. Itulah kenapa ia ikut kUfSLlS medirasi kilat, agar d iajarkan rnenurnpangkan derita dan kepenaran dalam gelembungge1embul1g karbondioksida yang dibanjirkan keluar, serra berharap keberunrungan akan darang bersarna gdembung oksigen yang masuk,

Embus,.. ra,rik." embus... tarik.; impitan itu terlalu kuat, dan ia.; salah. Ada beban tak seimbang yang rnenyelip keluar, menghancurkan konsenrrasinya.

Bagai luapan sungai saar penghujan, .air maca rnernbanjir. Tersengal-sengal Indi rnencoba rnernbendung, bcrrahan unruk re[ap kuat walau tak ada orang lain yang melihar-e-selain bayangan di cerrnin, Tapi bukankan jus tru dia yang paling Indi hi ndari? Samba rnenahan sen~guk 1;'1 menduga-duga, adakah rnanusia lain yang seperri nya, mensa berdosa pada bayaoganr'lya sendiri,

Ernpat kali da1am dua tahun terakhir lndi sakit, Diagnosa sernua dokrer selalu sarna: 'Anda stres',

75

Tidak sam kali pun dari ernpar momen itu Indi pu nya kesernparan luks untuk ringan rnengangkat telepon dan mengadu sakir, untuk kemudian rnendapatkan Lei pulang, rnengantarnya ke dokrer, atau sekadar mengarnbilkan obar dan air putih.

lndi selalu rnerasa yang paling berunrung karena hanya kepadanyalah Lei rnernberikan cinra dengan seperiuh jiwa ranpa sisa, Jangan-jangan alw selarna in i salah dan kamulah yang benar, ruding Indi pada bayangan di cerrnin. Sebenarnya ia orang yang paling sial. Cinra hanya retorika ka!au cidak ada tindakan nyara, yang arrinya selama !ni ia dikenyangkan denga:n bualan.

Merasa ridak sanggup rnenjalani sisa rnalarn dengan rasa sesal, Indi menelepon banruan gawat darurat: Ari, sahabar rerdekatnya,

Ari laogsung darang dan duduk di pil,1ggir jendela.

Seporong kue kun iog ada di sebelah wajah sahabatnya, belurn sempar Indi cicipi karena sudah duluan disernproc 'Apa kubilang? Dia ridak datang lagi, kan? Dan karnu masih bertahan? Sinring!' seru Ari gemas. 'Coba berkaca, nilai diri karnu. Karnu percmpuan baik-baik, pinrar, dan cidak layak rnenjalani sernua ini.'

Aku justru keseringan berkaca, dan berul, aku mernang cidak layak, balas Indi dalarn hari. Sattt kehormatan yan.~ terlalu. besar untu]: bisa mmcintai seperti ini.

'Saya ridak mernbenci Lei, karnu rahu iru, rapi di Iuar sana pasri ada orang yang bisa memberi karnu

76

lebih ,' Ari lalu merernas bahu Indi, rnenatapnya cernas sekaligus iba seperti rnenasihati anak kecil nakal, 'Kalian berdua sarna-sarna muda, tapi kamulah yang punya banyak kesernpatan. Jangan curna jadi alas kakiyang dipakai sernbunyi-sern bunyi.'

Secepat aliran [isrrik di jaringan saraf, secepat iru Indi mernvisuaiisasikan sepasang seraw rua yang disernbunyikan di bawah tangga. Sepatu nyaman yang .selalu dipakai

\ ~

kerika kaki pemililmya letih. Narnun kerika sang pernilik

ingin menghadapi dunia, ia tak mungkin memilih sepaw itu. Akan dipakainya separu menrereng yang mernang diperuntulckan sebagai pendarnpingnya, Dunia menuntur demikian, Sekalipun ridak nyaman, eapi iru kewajiban, Dan Lei, lagi-lagi, adalah orang yang berranggung jawab.

'Mungkin ... ' Indi bergumam, 'memang lebih baik bersarna seseorang yang tidak punya pilihan lain. Dia curna punya aku, mau susah atau senang. Aku bukan al ternatif" Ari rersenyum Iega, Indi rnulai banguri. dari tidur panjangnya,

Ad, dan sahabat-sahabatnya yang lain, rerpaksa kernbali gi.gir jari, Indi baral rnenyerah. Ia dan Lei rnalah sernakin ahIi bergeri!ya. Sepotong kue kuninglah yang menjadi pengatur rnekanis pasang surut kisahnya, Ari rahu persis

77

S.~~O'TONG Kuf. l;(UNIN~

flukruasi leu, juga 'rernpat sampan' -nya Indi yang lain, yang rerrawa lebih lebar ketika Indi bahagia, dan menangis lebih kents jib. ia sedih.

Kadang-kadang semua leu rnernbuar Indi geli sekaligus bing-ung saar rnelaksanakan doa rutinnya, Apakah [a rnenghadap sebagai seorang penjahat..; perusak.. atau pihak yang paWl dikasihani dan dicolong? Irnpitan rak diundang itu juga temp ada, tapi Indi sudah rerlalu kebal, Matanya seperri kehsbisan srok air mara. Sekarang, tak perlu repoe Jagi ia mengatur oapas.

Tidak ada yang berubah dalarn dunianya. Indi recap lndi, deogan murid-rnurid kursus biolanya yang luculucu, dan para orang tua yang menganggapn.ya teladan sempurna. Dengan lapang dada pula ia rnenerirna keberadaan dunia lain yang mencapksn aneka stigma keji unruk ia pikul. lndi tak menerrrukan ada yang salah juga di sana. Penjara yang ia pilih mernberikan konsekuensi repurasi buruk, Dan jangan rnirnpi ada program perbaikan citra.

Seciap malam Indi duduk di pinggir jendela unruk berbicara pada seporong kue kuningnya. Berusaha mengingarkan berulang-ulang, bahwa yang ia In.ginkan sunggwhlah sederhana: serengah jiwanya yang selalu ikur pergi dengan Lei. Itu saja, Indi ingin jiwanya 1.1(l..1h.

78

Hujan darang rnernbadai, rnemporak-porandakan malam. Indi terbangun oleh suara guntur dan dering relepon. 'Ha!o ... ' suara serak lodi mengandung curiga.

Perasaannya ridak enak,

'Dia mencoba bunuh diri.'

Indi tercekat. Benaknya gamang rneraba-raba sekuel dari kalirnar Lei.

'Saya udak rahu siapa yang dia sewa, yang jelas dia rahu semuanya, pertemuan-pertemuan kita, kenyataan bahwa kira cidak pernah berhemi berhubungan selarna lima tahun ini ... '

"Iapi, ini bukan yang percama: kali, kan? Bunuh did selalu jadi ancarnan favoritnya dart dulu,' pomng Indi rerbara.

'Kali mi dia betulan nekar, Indi. Harnpir sebotol valiurn dia tenggak. Uncung cidak terlarnbat. Kondisinya bisa diselamackan.'

Perasaan Jodi membisikkan rnasih ada sekuel yang perlu ditunggu.

'Kacaunya, dia sempar rnenulis satu surar yang bercerita ten tang kira berdua, nama kamu disebut-sebur, dan dia anggap kamulah penyebab tindakannya .. .'

Masih ada Iagi, batin Indi. Pastz" masih.

'Siapa pun ada pihak dia sekarang, Siapa yang rnau membela kita?'

Ini dial lndi mernejarnkan mara. Pasti info 'Maafkan saya.'

79

SEI'O'I'ONC. KUE KUNIN(';

Cukup.

"Tapi karnu merrgerri situasinya, lean?' Cukup. Cukup.

'Saya tidak mungkin rneninggalkan dia. Bayangkan, hidup mar.inya ditenrukan kepurusan saya! 1 alau saya pergi, apa lagi yang nand dia bikin ... j

Cukup. Culmp. Cukup.

'Saya janji saya akan rnengusahakan yang rerbaik

buar karnu, buat kita ... ' Tolong diam. Talong.

'Tapi ridak sekarang, ridak .rnungkin sekarang ... ' Diam.

'Indi, maa£.:

Telepon iru ia [lIrup hati-hati seolah mengunci jin di dalarn bowl, Ialu Indi rnencabur kabelnya seolah rnenarik PUfUS benang waktu. Langir keruh oleh awan rnendung. Di mana engkau? Ke1'ld:pa tidak datang supaJla bisa kucitipz rasamu yang tergetir! Kerangkongannya tersedak, Inikah balasan sebuah ketulusan ... sebutth keyakinan ...

Seperri si bora yang rnendadak rnelihar, Jodi sonrak rersadar bahwa penjara iru sudah rnenjadi hidupnya. Total, Dan sungguh ia tak siap. Rasa sesak yang akrab m ngl m pir dadarrya, terus rnendesak hi ngga rak lagi rertahan, Kelenjar air mara yang sudah lama dinonakrifkan memompa deras butir-butir air asin yang rnernbuat ludic pipinya seperti rneleleh. Doa-doa yang ia layangkan setiap rnalarn selama lima tahun di romokkan dari aras

80

KUMI'UI""N CERITA & PrH;'!5/\

sana, berubah menjadi celaan dan penyesalan, menghujaninya bertubi-tubi. Indi xidak tabu apa saja yang sudah ia doakan, pastinya rerlalu banyak, karena hujan itu rasanya rak rnau berhenti. Tiap rinrik rnenusuk bagai pisau. Indi menyesal dulu rerlalu banyak bicars.

Akhirnya, rerjerernbaplah La rnencium tanah kesiasiaaa. Entah bagaimana caranya bangun. Indi terlalu rnual, rnuak, dan hanya kepingin rnunrah.

Lei ridak pernah lagi rnenemaninya di p1nggir jendela, Narnun sepotong kue kuning iru selalu ada, selalu tepae wakru, hadir tanpa dosa,

Berbulan-bulan, lndi menlltUp tirai tapat-rapat, menyangkal kehadiran kue kuningnya, melawan rasa rindu dan sesal, menggantinya dengan rasa harnbar yang dipabrikasi sendiri .. Sampai akhirnya ia lelah dan rnenyerah.

Pada .satu malarn cerah di penghujung rahun, Indi membuka tirai, rnenemui langir yang penuh binrang, Dan, di sanalah ilia". bulan pada awal dan aknir bulan) yang bertengger separuh di l:mgir dengan warna menguning. Mentor bisu pelajaran terbesar dalam hidupnya, Seporong kue kuning di tengah loyang hiram,

Puluhan kue kuning relah rersaji dalam piringnya, dan selalu Indi merrebak-nebak cernas apakah rasanya manis arau pahir, Sekarang ia berherrti menebak, Ke-

8l

beraniannya rnalarn iru: unruk berhadapan kernbali denga.n perasa<l;nnya sendiri: untuk rnengakui bahwa cinranya ridak padam rapi berrnurasi, mernberi makna baru. Bulankuniognya tak lebih dari pantulan Bumi yang rerus berputar tanpa kornpromi, hidup yang bergerak maju ranpa pernah bisa rnundur,

Lama Indi mematung, rnerangkai pengercian sederhana yang mengubah pola harinya perlahan-lahan. Terbayanglah sebuah bola besi yang .iakenaJ. Terbayanglah kepalan tangannya yang sudah mernbaru . Perlahan, jernari iru rnernbuka, Indy dapar mernbayangkan dirinya berjongleak, rnenanggalkan pernberar yaug bertahun-tahun terikar, Anak kunci iru selama joi ada di tangannya. Tak rahan ia untuk tidak rersenyurn. Separuh jiwa yang ia pikir hilang rernyata ridak pernah ke mana-mana, hanya berganri sisi, permainan geJap terangnya rnacahari dan bulan.

Malam iur Indi rnenyeberang, Ia (dab mampu mencinta tanpa rakut kehilangan cinra,

Umuk Indiana, y4ng menemu/um kembaLi independensinye.

82

Diam

Malam memuram.·. Diaml11u rnengiofeks:i u.dara dan rnernbuar duma sungkan bersuara, Duma 4 x 6 meter ceropar kira duduk berdua,

Lenganrnu jcautarik menjauh untuk rnerengkuh dirimu sendiri. Tidak apa~apa. Aku rnengerti. Duka rnembuarrnu dernarn, dibuka kedinginan rapi dibungkus dua pasang lengan bikin karnu keringatan. Bukan berarri saya cidak buruh karnu, dulu sekali kamu rnernperingatkan,

AIm mengerri, Kesedihan selalu rnernbawamu pulang ke rahirn . ibu ternpat engka.u rnerjngkuk nyaman sendirian ["adahal ridak. Ada dunia di sekelilingrnu. Ada aku di sampingrnu. Tapi kamu mendamba rasa, sendiri leu.

Diarnrnu rnemapahku Ice. ujung pertahanan, Dan akhir-

'83

OI"'M

nya kurersedak oleh harnpa .. Tak sam pun boleh rnenodai diamrnu, Telan 1'1apas iru, Bungkus dan sirnpan di kanrong untuk nanri dilarurkan di sungai.

Lamar-lamar, suara rarnai rnernbubung, merubung dunia 4 X 6 meter ternpat kim duduk berduka, Kudengar gerLlndel,kudengar geruru, terkadang baruk, decak lidah, hingga reriakan yang mernbuatku gemetar. Terakhir, terdengar [sale pelan, Namun siluetrnu masih diarn sernpuma.

Bagairnana mungkin karnu jadikan rubuhrnu sangkar bagi perasaan? Bukankah perasaanlah kandang dari jasad ini? Dalarn diammuj aku men den gar banyak suara, Diamrnu berkata-kara.

Tangisanmu yang eak rerlihar merobek wang waktu dan rnengharnpi riku dengan caranya sendiri.Mal'i, kususutkan air mara itu, kukecup keningmu hal us, dan kutidurkan kepalarnu di aras perutku yang hangar. Mari ...

Kau dan aku mengembuskan napas. Tak lagi peng,ap.

Tidak ada yang bergerak. Namun diam iru relah runtuh oleh diam.

84

Cuaca

t I 9 9 8 I

M embicarakan cuaca,

Cuaca bagi karni adalah rnerafora, 'Menanyai<an cuaca rnenjadi ungkapan yang digunakan saat masing-masing pihak menyirnpan hal lain yang genrar diurarakan ,

'Bagaimana cvacamu?' :.4.ku biru.'

M.ku keLabtl. '

Keangkuhan mernecah jalan karni, kcndati cuaca rnenalikarrnya. Kebisuan menjebak karni dalarn perrnainan dugaan, Ungkaran rebak-rnenebak, agar yang tersirar Lerap [11k [C(SUraL

85

CIJAC/I

'Eag4imana CUaCa1?~u?'

.I:1ku cerah, sama sekali tidak berauian. Kamu?' 'Bersih dan terang. Yak ada a wan. ,

Batinku rneringis karena berbohong. Barinnya tergugu karena relah dibohoogi. Narnun kesatuan diri karni relah rnernutuskan demikian: rnenampilkan cerah yang rak sejati karen a awan men dung tak pamas jadi pajangan.

Cuaca derni cuaca rnelalui karni, dan kebenaran akan sernakin dipoiokkan, Sampai akhirnya nann, badai melerus dan menyisakan kejujuran yang bersinar, Entah rnenghangatkan atau rnenghanguskan.

RIUUII

tt,llUllLjilHiDIll

86

Lara Lana

f2005]

S ederer angka rnencuat dari [cams purih, . rnenusuk mara Lana. Ada sebersit takjub juga ngeri. Seberanrak angka yang susah dihafaJ mampu membongkar kenangan Llsang dan memberinya makna baru. Dia .yang baru. Aku yang usang.

Ruang runggu selalu rnernancing dilerna dalam ha.rinya, capi ridak pernah seperti ini. Lana berul-berul rergerak untuk rnenelepon, Mungkin karena Lana sudah tale yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali,

Lana rnernencer empat angka perrama dari sepuluh digit yang rertera, Dadanya berdegup kencang sarnpai sakir rasanya. Bibirnya bergetar resah, rnengantisipasi. Begiru terdengar nada sambung nanti, Lana siap bereksp resi la yakn ya pose un tu k berfa (0 ya ng terakh i r kal i .

87