Anda di halaman 1dari 6

RESUME

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Oleh:
SOFIA PILOSUSAN (15029121)
Dosen pembimbing:
Dr.Yeni Karneli M.Pd.Kons

JURUSAN MATEMATIKA
PRODI S1 PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015

PEMROSESAN INFORMASI DALAM BELAJAR

1.

Konsep Sensasi, Atensi, Persepsi dan Memori

Sensasi

Sensasi merupakan tahap pertama stimulus mengenai indera. Sensasi merupakan


pengalaman elementer yang tidak memerlukan penguraian verbal. Sensasi adalah proses
manusia dalam dalam menerima informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui
penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal neural
yang bermakna. Fungsi alat indera dalam menerima informasi sangat penting, melalui
alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya, memperoleh
pengetahuan dan kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Ketajaman sensasi
dipengaruhi oleh faktor personal, perbedaan sensasi dapat disebabkan perbedaan
pengalaman atau lingkungan budaya disamping kapasitas alat indera yang berbeda
Atensi

Menurut Hilgard, atensi adalah pusat pengamatan yang menyebabkan meningkatnya


kesadaran terhadap lingkungan yang terbatas. Sedangakan Morgan berpendapat atensi
merupakan pemusatan pada aspek tertentu dari pengamatan yang sering terjadi dan tidak
menghiraukan orang lain.
Persepsi

Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi & menafsirkan
pesan. Persepsi memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Menafsirkan
makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, persepsi tetapi juga atensi,
ekspektasi, motivasi dan memori ( Desiderato, 1976).
Contoh : Anda melihat kawan anda melihat buku di toko. Anda menyergapnya dari
belakang, udah lupa sama aku ya.., orang tersebut memablik dan anda terkejut ternyata
ia bukan kawan anda tetapi orang yang tidak anda kenal.
Menurut kamus lengkap psikologi, persepsi merupakan proses mengetahui atau
mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera. Menurut Leavit (Sobur,
2003: 445) persepsi merupakan pandangan atau pengertian yaitu bagaimana seseorang
memandang atau mengartikan sesuatu.

Memori

Dalam komunikasi intrapersonal ,memori memegang peranan penting dalam


mempengaruhi persepsi maupun berfikir.Memori adalah sistem sangat berstruktur yang

menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan


pengetahuannya untuk membimbing perilakunya (Schlessinger dan Groves,1976).Setiap
stimuli mengenai indra kita,setiap saat pula stimuli itu direkam secara sadar atau tidak
sadar.
Memori melewati tiga proses , yaitu :
a. Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit
syaraf internal.
b. Penyimpanan (strorage) adalah menentukan berapa lama informasi itu berada beserta
kita, dalam bentuk apa dan dimana, penyimpanan bisa aktif atau pasif. Secara aktif bila
kita menambahkan informasi tambahan, kita mengisi informasi yang tidak lengkap
dengan kesimpulan kita sendiri (inilah desas-desus menyebar lebih banyak dari volume
asal). Secara pasif terjadi tanpa penambahan.
c. Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi adalah
menggunakan informasi yang disimpan.
.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemrosesan


Informasi
Berikut

ini

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

pemrosesan

informasi

diantaranya adalah :
1. Faktor Internal (psikologi dan fisiologis) dan faktor eksternal (media atau saluran
komunikasi)
2. Memori yang kurang maksimal, hal ini disebabkan oleh individu yang kurang melatih
memori secara maksimal.
3. Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
4. Tingkat kesulitan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan
dalam ingatan
5. Kemampuan otak individu yang tak sama.

3. Pemanfaatan Pemrosesan Informasi dalam Belajar


Berikut ini pemanfaatan pemrosesan informasi dalam belajar adalah sebagai
berikut :
1. Membantu terjadinya proses pembelajaran sehingga individu mampu beradaptasi
pada lingkungan yang selalu berubah
2. Menjadi strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berfikir yang berorientasi
pada proses lebih menonjol
3. Kapasitas belajar dapat disajikan secara lengkap.
4. Prinsip perbedaan individual terlayani dan mempertimbangkan solusi dari siswa

4. Lupa Dalam Belajar


A.Proses terjadinya kelupaan dalam belajar
Daya ingatan kita tidak sempurna. Banyak hal-hal yang pernah diketahui, tidak
dapat diingat kembali atau dilupakan.
Dewasa ini ada empat cara untuk menerangkan proses lupa keempatnya tidak
saling bertentangan, melainkan saling mengisi.
1.

Apa yang telah kita ingat, disimpan dalam bagian tertentu diotak kalau materi yang
harus diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena proses metabolisme otak,
lambat laun jejak materi itu terhapus dari otak sehingga kita tidak dapat
mengingatnya kembali. Jadi, karena tidak digunakan, materi itu lenyap sendiri.

2.

Mungkin pula materi itu tidak lenyap begitu saja, melainkan mengalami perubahanperubahan secara sistematis, mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Penghalusan: materi berubah bentuk ke arah bentuk yang lebih simatris, lebih
halus dan kurang tajam, sehingga bentuk yang asli tidak diingat lagi.
b.

Penegasan: bagian-bagian yang paling mencolok dari suatu hal adalah yang
paling mengesankan. Karena itu, dalam ingatan bagian-bagian ini dipertegas,
sehingga yang diingat hanyalah bagian-bagian yang mencolok, sedangkan bentuk
keseluruhan tidak begitu diingat.

c. Asimilasi: bentuk yang mirip botol misalnya, akan kita ingat sebagai botol,
sekalipun bentuk itu bukan botol. Dengan demikian, kita hanya ingat sebuah
botol, tetapi tidak ingat bentuk yang asli. Perubahan materi di sini disebabkan
bagaimana wajah orang itu tidak kita ingat lagi.
3.

Kalau mempelajari hal yang baru, kemungkinan hal-hal yang sudah kita ingat, tidak
dapat kita ingat lagi. Dengan kata lain, materi kedua menghambat diingatnya kembali
materi pertama. Hambatan seperti ini disebut hambatan retroaktif. Sebaliknya,
mungkin pula materi yang baru kita pelajari tidak dapat masuk dalam ingatan, karena
terhambat oleh adanya materi lain yang terlebih dahulu dipelajari, hambatan seperti
ini disebut hambatan proaktif.
4. Ada kalanya kita melakukan sesuatu. Hal ini disebut represi. Peristiwa-peristiwa
mengerikan, menakutkan, penuh dosa, menjijikan dan sebagainya, atau semua hal
yang tidak dapat diterima oleh hati nurani akan kita lupakan dengan sengaja

(sekalipun proses lupa yang sengaja ini terkadang tidak kita sadari, terjadi diluar alam
kesadaran kita). Pada bentuknya yang ekstrim, represi dapat menyebabkan amnesia,
yaitu lupa nama sendiri, orang tua, anak dan istri dan semua hal yang bersangkut paut
dirinya sendiri. Amnesia ini dapatditolong atau disembuhkan melalui psikoterapi atau
melalui suatu peristiwa yang sangat dramatis sehingga menimbulkan kejutan kejiwaan
pada penderita. (Ahmad Fauzi, 1997: 52-54)

b.Faktor-faktor penyebab lupa


Lupa yang dialami seseorang dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Lupa dapat terjadi jika terjadi konflik-konflik antara item-item informasi atau materi
pelajar yang ada di sistem memori seseorang.
Gangguan gangguan yang terjadi dalam memori seseorang ada 2 :
a. Proactive Interference
Gangguan ini terjadi jika item-item atau materi pelajaran yang lama telah tersimpan
dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Dalam
hal ini gangguan seperti ini terjadi jika seorang siswa mempelajari sebuah materi
pelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam waktu
yang relatif pendek.dalam keadaan demikian materi pelajaran yang baru sulit untuk
diingat dan dengan sangat mudah untuk dilupakan.
b. Retroactive Interference
Gangguan ini terjadi jika materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan
terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran yang telah lebih dahulu tersimpan dalam
subsistem akal permanennya siswa tersebut.
Dalam hal ini materi pelajaran lama akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali
(siswa tersebut lupa akan materi pelajaran lama itu).
2. Lupa dapat terjadi ketika terjadi tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja
atau tidak. Penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan:
i.
Karena siswa kurang menyenangi item/materi yang ia terima sehingga ia dengan
sengaja menekannya hingga ke alam ketidak sadaran.
ii.
Karena item informasi yang baru secara otomatis menekan item. Informasi yang lama
yang telah ada.
iii.
Item informasi yang ada tertekan ke alam bawah sadar karena lama tidak digunakan.

3. Lupa dapat terjadi karena perbedaan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu
mengingat kembali item tersebut.
4. Lupa dapat terjadi karena adanya perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan
situasi belajar tertentu. Jadi meskipun seorang siswa telah mengikuti proses mengajar belajar
dengan tekun dan serius, tetapi karena sesuatu hal sikap dan minat siswa tersebut menjadi
sebaliknya (seperti karena ketidak senangan kepada guru) maka materi pelajaran itu akan
mudah terlupakan.
5. Menurut law of disuse (Hilgard dan Bower 1975), lupa dapat terjadi karena materi
pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi
sebagian ahli, materi yang diperlakukan demikian dengan sendirinya akan masuk ke alam
bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.
6.Cue-dependent forgetting adalah kegagalan dalam mengambil kembali informasi karena
kurangnya petunjuk pengambilan yang efektif (Nairne, 2000).
7. Teori Interferensi adalah teori yang menyatakan bahwa kita lupa bukan karena kira
kehilangan memori dari tempat penyimpanan, tetapi karena ada informasi lain yang
menghambat upaya kita untuk mengingat informasi yang kita inginkan.
8. Decay Theory adalah teori ini menyatakan bahwa berlalunya waktu bisa membuat orang
menjadi lupa.
9. Lupa dapat terjadi karena perubahan urat syaraf otak. Seorang siswa yang terserang
penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkohol dan gagar otak akan kehilangan
ingatan atas item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.