Anda di halaman 1dari 3

Prognosis

Prognosis : baik, terutama jika tidak terdapat komplikasi dan cepat diberikan pengobatan
Pada umumnya askariasis mempunyai prognosis baik. Tanpa pengobatan,penyakit dapat

sembuh sendiri dalam waktu 1,5 tahun. Dengan pengobatan ,angka kesembuhan 70-90%.
Prognosis sangat baik untuk pengobatan ascariasis tanpa gejala. Dalam beberapa kasus,
pengobatan kedua mungkin perlu untuk sepenuhnya menghapus cacing. Prognosis baik
untuk pasien dengan obstruksi usus parsial yang tidak memiliki toksisitas dan yang
nonseptic, asalkan pasien diperlakukan secara awal dengan manajemen konservatif.

Komplikasi
1. Alergi. Terutama disebabkan larva yang dalam siklusnya masuk kedalam darah, sehingga
sesudah siklus pertama timbul alergi terhadap protein askaris. Karenanya pada siklus
berikut dapat timbul manifestasi alergi berupa asma bronkiale, ultikaria, hipereosinofilia,
dan sindrom loffler. Simdrom loffler merupakan kelainan dimana terdapat infiltrat
(eosinofil) dalam paru yang menyerupai bronkopneumonia atipik. Infiltrat cepat
menghilang sendiri dan cepat timbul lagi dibagian paru lain. Gambaran radiologisnya
menyerupai tuberkulosis miliaris.disamping itu terdapat hiperesinofilia (40-70%).
Sindrom ini diduga disebabkan oleh larva yang masuk ke dalam lumen alveolus, diikuti
oleh sel eosinofil. Tetapi masih diragukan, karena misalnya di indonesia dengan infeksi
askaris yang sangat banyak, sindrom ini sangat jarang terdapat, sedangkan di daerah
denagn jumlah penderita askariasis yang rendah, kadang-kadang juga ditemukan sindrom
ini.
2. Traumatik action. Askaris dapat menyebabkan abses di dinding usus, perforasi dan
kemudian peritonitis. Yang lebih sering terjadi cacing-cacing askaris ini berkumpul dalam
usus, menyebabkan obstuksi usus dengan segala akibatnya. Anak dengan gejala demikian
segera dikirim ke bagian radiologi untuk dilakukan pemeriksaan dengan barium enema
guna mengetahui letak obstruksi. Biasanya dengan tindakan ini cacing-cacing juga dapat
terlepas dari gumpalannya sehingga obstruksi dapat dihilangkan. Jika cara ini tidak

menolong, maka dilakukan tindakan operatif. Pada foto rontgen akan tampak gambaran
garis-garis panjang dan gelap (filling defect).
3. Errantic action. Askaris dapat berada dalam lambung sehingga menimbulkan gejala
mual, muntah, nyeri perut terutama di daerah epigastrium, kolik. Gejala hilang bila
cacing dapat keluar bersama muntah. Dari nasofaring cacing dapat ke tuba eustachii
sehingga dapat timbul otitis media akut (oma) kemudian bila terjadi perforasi, cacing
akan keluar. Selain melalui jalan tersebut cacing dari nasofaring dapat menuju laring,
kemudian trakea dan bronkus sehingga terjadi afiksia. Askaris dapat menetap di dalam
duktus koledopus dan bila menyumbat saluran tersebut, dapat terjadi ikterus obstruktif.
Cacing dapat juga menyebabkan iritasi dan infeksi sekunder hati jika terdapat dalam
jumlah banyak dalam kolon maka dapat merangsang dan menyebabkan diare yang berat
sehingga dapat timbul apendisitis akut.
4. Irritative action. Terutama terjadi jika terdapat banyak cacing dalam usus halus maupun
kolon. Akibat hal ini dapat terjadi diare dan muntah sehingga dapat terjadi dehidrasi dan
asidosis dan bila berlangsung menahun dapat terjadi malnutrisi.
5. Komplikasi lain. Dalam siklusnya larva dapat masuk ke otak sehingga timbul abses-abses
kecil; ke ginjal menyebabkan nefritis; ke hati menyebabkan abses-abses kecil dan
hepatitis. Di indonesia komplikasi ini jarang terjadi tetapi di srilangka dan filipina banyak
menyebabkan kematian.
@
-

Komplikasi

serius akibat migrasi cacing dewasa ke pencernaan

lebih atas akan

menyebabkan muntah (cacing keluar lewat mulut atau hidung) atau keluar lewat rectum.
-

Migrasi larva dapat terjadi sebagai akibat rangsangan panas (38,90C).


Sejumlah cacing dapat membentuk bolus (massa) yang dapat menyebabkan obstruksi
intestinal secara parsial atau komplet dan menimbulkan rasa sakit pada abdomen, muntah

dan kadang-kadang massa dapat di raba.


Migrasi cacing ke kandung empedu, menyebabkan kolik biliare dan kolangitis.
Migrasi pada saluran pankreas menyebabkan pankreatitis.
Apendisitis dapat disebabkan askaris yang bermigrasi ke dalam saluran apendiks.

@
Kelainan-kelainan yang terjadi pada tubuh penderita terjadi akibatpengaruh
migrasi larva dan adanya cacing dewasa. Pada umumnya orang yangkena infeksi tidak
menunjukkan gejala, tetapi dengan jumlah cacing yang cukupbesar (hyperinfeksi)
terutama pada anak-anak akan menimbulkan kekurangan gizi,selain itu cacing itu sendiri
dapat mengeluarkan cairan tubuh yang menimbulkanreaksi toksik sehingga terjadi gejala
seperti demam typhoid yang disertai dengantanda alergi seperti urtikaria, odema diwajah,
konjungtivitis dan iritasi pernapasanbagian atas.
Cacing dewasa dapat pula menimbulkan berbagai akibat mekanik sepertiobstruksi
usus, perforasi ulkus diusus. Oleh karena adanya migrasi cacing keorgan-organ misalnya
ke lambung, oesophagus, mulut, hidung dan bronkus dapatmenyumbat pernapasan
penderita. Ada kalanya askariasis menimbulkanmanifestasi berat dan gawat dalam
beberapa keadaan sebagai berikut:
1. bila sejumlah besar cacing menggumpal menjadi suatu bolus yangmenyumbat rongga
2.

usus dan menyebabkan gejala abdomen akut.


pada migrasi ektopik dapat menyebabkan masuknya cacing kedalamapendiks,
saluran empedu (duktus choledocus) dan ductus pankreatikus.
bila cacing masuk ke dalam saluran empedu, terjadi kolik yang beratdisusul

kolangitis supuratif dan abses multiple. Untuk menegakkan diagnosis pastiharus


ditemukan cacing dewasa dalam tinja atau muntahan penderita dan telurcacing dengan
bentuk yang khas dapat dijumpai dalam tinja atau didalam cairanempedu penderita
melalui pemeriksaan mikroskopik
@
Pada infeksi yang berat, terutama paada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga memperberat
keadaan malnutrisi dan penurunan satatus kognitif pada anak sekolah dasar. Efek yang serius
terjadi bila cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus(ileus). Pada keadaan
tertentu cacing dewasa mengembara ke saluran empedu,apendiks, atau ke bronkusdan
menimbulkan keadaan gawat darurat sehingga kadang-kadang perlu tindakan operatif.