Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

SISTEM URINARI

Disusun oleh:
Nama : Irma Nur Pahalawati
NIM : 1508010040

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO


FAKULTAS FARMASI
2016
0

SISTEM URINARI
A. ORGAN SISTEM URINARI
Sistem urinaria terdiri dari:
Ginjal
Ginjal merupakan

organ

terpenting

dalam

mempertahankan

homeostatis cairan tubuh secara baik. Ginjal terletak pada dinding


posterior abdomen terutama daerah lumbal di belakang peritoneum di
sebelah kanan dan kiri tulang belakang yang dikelilingi oleh lemak dan
jaringan ikat. Tiap-tiap ginjal memiliki panjang 11,25 cm dengan lebar 57 cm dan tebal 2,5 cm. bentuk ginjal menyerupai kacang dengan sisi
dalam yang menghadap ke vertebra torakalis dan sisi luarnya yang
cembung serta di atas setiap ginjal terdapat sebuah kelenjar suprarenal.
Ginjal ditutupi oleh kapsul tunika fibrosa yang kuat. Ginjal terdiri dari
bagian dalam (internal) medulla dan bagian luar (eksternal) korteks.
Lapisan bagian dalam dimana substansia medularis berbentuk kerucut
yang terdiri dari pyramid renalis jumlahnya antara 8-6 buah yang
mempunyai basis sepanjang ginjal, sedangkan apeksnya menghadap ke
sinus renalis. Ginjal sebelah luar (eksternal) terdapat subtansia kortekalis
berwarna coklat merah dengan konsistensi lunak dan bergranula.
Substansia ini tepat di bawah tunika fibrosa yang melengkung sepanjang
basis pyramid yang berdekatan dengan sinus renalis dimana bagian
dalam di antara pyramid dinamakan kolumna renalis.
Ginjal dibungkus oleh suatu massa jaringan lemak yang disebut
dengan kapsula adiposa. Ginjal dan kapsula adiposa tertutup oleh suatu
lamina khusus dari fasia subserosa yang disebut fasia renalis yang
terdapat di antara lapisan dalam dari fasia profundal dan stratum fasia
subserosa internus. Fasia subserosa terpecah menjadi dua bagian yaitu
lamella anterior (fasia prerenalis) dan lamella posterior (fasia
retrorenalis).
Ginjal memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis
atau

racun,

mempertahankan

suasana

keseimbangan

cairan,

mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh,


mempertahankan keseimbanagan garam-garam dan zat-zat lain dalam

tubuh dan mengeluarkan sisa metabolism hasil akhir dari protein ureum,
kreatinin dan amoniak.
Ureter
Ureter terdiri dari dua buah saluran yang masing-masing bersambung
dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) yang panjangnya 25-30
cm dengan penampang 0,5 cm. ureter sebagian terletak pada rongga
abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Piala ginjal
berhubungan dengan ureter, menjadi kaku ketika melewati tepi pelvis dan
ureter menembus kandung kemih.
Lapisan ureter terdiri atas dinding luar dari jaringan ikat (jaringan
fibrosa), lapisan tengah dari otot polos, dan lapisan sebelah dalam dari
mukosa.
Kandung kemih (vesika urinaria)
Kandung kemih (vesika urinaria) terletak tepat di belakang simfisis
pubis di dalam rongga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut
yang dikelilingi oleh otot yang kuat yang berhubungan dengan
ligamentum vesika umbilikalis medius. Kandung kemih bekerja sebagai
penampung urin.
Bagian kandung kemih (vesika urinaria) terdiri dari:
1. Fundus yaitu bagianbagian yang menghadap ke arah belakang dan
bawah. Bagian ini terpisah dari rectum oleh spatium rectovesikale
yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferen, vesika seminalis, dan
prostat.
2. Korpus, yaitu bagian antara vertex dan fundus
3. Vertex, yaitu bagian yang menonjol ke arah muka dan
berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan sebelah luar (peritoneum),
tunika muskularis (lapisan otot), tunika submukosa, dan lapisan mukosa
(lapisan bagian dalam). Pembuluh limfe vesika urinaria mengalirkan
cairan limfe ke dalam nodi limfatik iliaka interna dan eksterna. Lapisan
otot vesika urinaria terdiri dari otot polos yang tersusun dan saling
berkaitan dan disebut muskulus detrusor vesikae.
Tiga saluran bersambung dengan kandung kemih, yaitu dua ureter
yang bermuara secara oblik di sebelah basis, letak oblik ini
menghindarkan urin mengalir kembali ke dalam ureter, dan satu saluran

uretra yang keluar dari kandung kemih sebelah depan. Pada wanita
kandung kemih terletak di antara simfisis pubis, uterus, dan vagina.
Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung
kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Uretra dilapisi
membrane mukosa yang bersambung dengan membrane yang melapisi
kandung kemih.
Uretra pada pria mulai dari orifisium uretra interna di dalam vesika
urinaria sampai orifisium uretra eksterna pada penis. Uretranya memiliki
panjang 17,5-20 cm yang terdiri dari uretra prostatika, uretra pars
membranasea, uretra pars kavanosus, dan orifisium uretra eksterna.
Uretra pada wanita terletak di belakang simfisis yang berjalan sedikit
miring kea rah atas.salurannya dangkal dengan panjang kira-kira 4 cm
mulai dari orifisium uretra interna sampai ke orifisium uretra eksterna.
Uretra ini menembus fasia oris. Glandula uretra bermuara ke uretra, yang
terbesar diantaranya adalah glandula para uretralis (skene) yang
bermuara ke dalam orifisium uretra dan nya berfungsi sebagai saluran
ekskresi. Lapisan uretra wanita terdiri atas tunika muskularis, lapisan
spongeosa, dan lapisan mukosa sebelah dalam.
B. PEMBENTUKAN URIN
Darah di dalam ginjal akan mengalami penyaringan atau filtrasi yang terjadi
dalam glomerolus. Darah yang terdapat di dalam glomerolus mengandung air,
garam, gula, urea, dan zat-zat lain yang akan disaring. Selain penyaringan, di
glomerolus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan
sebagian besar protein plasma. Hasil penyaringan di glomerulus disebut dengan
urin primer. Di dalam tubulus kontortus proksimal terjadi penyerapan kembali
(reabsorbsi) zat-zat yang masih berguna bagi tubuh, misalnya asam amino.
Urin yang terbentuk disebut dengan urine sekunder yang memiliki kadar urea
yang tinggi. Di dalam tubulus kontortus distal terjadi pensekresian terhadap
materi lain, seperti sampah, obat dan ion-ion yang berlebihan yang kemudian
disalurkan ke kantung kemih di ureter.
Tahapan dalam pembentukan urin:
1. Proses filtrasi
Pembentukan urine dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang
bebas protein dari kapiler glomeolus ke kapsula bowman. Proses filtrasi
3

(ultrafiltrasi)terjadi pada glomerolus.proses ini terjadi karena permukaan


aferen lebih besar dari permukaan eferen sehingga terjadi penyerapan
darah. Setiap menit 1200 ml darah yang terdiri dari 450ml sel darah
dan 660 ml plasma masuk ke dalam kapiler glomerolus.
Susunan cairan filtrasi sama seperti susunan plasma darah tetapi tidak
ada proteinnya. Membrane glomerolus bekerja sebagai suatu saringan
biasa dan tidak memerlukan energy untuk proses ini. Kebanyakan zat
dalam plasma difiltrasi secara bebas kecuali protein, sehingga filtrate
glomerolus dalam kapsula browman hampir sama dengan dalam plasma.
Cairan diubah oleh reabsorpsi air dan zat tertentu spesifik kembali ke
dalam darah atau oleh sekresi zat lain dari kapiler peritubulus ke dalam
tubulus.
2. Proses reabsorpsi
Proses ini berupa penyerapan kembali sebagian besar terhadap
glukosa, natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Proses ini terjadi
secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi dan terjadi dalam
tubulus atas (proksimal). Dalam tubulus ginjal cairan filtrasi dipekatkan
dan zat yang penting bagi tubuh direabsorpsi.kegiatan ini banyak
dipengaruhi oleh hormone dan zat-zat yang direabsorpsi berubah sesuai
dengan keperluan tubuh setiap saat.
Air diserap dalam jumlah yang banyak. Zat esensial yang mutlak
diperlukan (misal glukosa, NaCl dan garam) direabsorpsi dengan
sempurna ke dalam kapiler peritubular, kecuali kadarnya melebihi
ambang ginjal. Batas kadar tertinggi suatu zat dalam darah yang apabila
dilampaui menyebabkan ekskresi zat tersebut masuk ke dalam urine. Zat
yang sebagian diabsorpsi oleh sel-sel tubulus bila diperlukan, misal
kalium. Zat yang hanya diabsorpsi dalam jumlah kecil dari hasil
metabolism, misal ureum, fosfat, dan asam urat. Dan zat yang sama
sekali tidak diabsorpsi, tidak dapat disekresi oleh sel tubulus , misalnya
kreatinin.
3. Proses sekresi
Tubulus ginjal dapat mensekresi atau menambah zat-zat ke dalam
cairan filtrasi selama metabolism sel-sel membentuk asam dalam jumlah
besar. Namun pH darah dan cairan tubuh dapat dipertahankan sekitar 7,4
4

(alkalis). Sel tubuh membentuk amoniak yang bersenyawa dengan asam


kemudian disekresi sebagai ammonium supaya pH darah dan cairan
tubuh tetap alkalis.
C. KESEIMBANGAN CAIRAN TUBUH DAN TEKANAN DARAH
Pembuangan bahan-bahan sampah yang tidak diperlukan oleh tubuh disertai
dengan kehilangan air yang tidak dapat dihindarkan. Ginjal dapat menjamin
bahwa cairan yang hilang tidak mengandung substrat organic yang sangat
bermanfaat yang terdapat dalam plasma darah, seperti gula dan asam amino.
Ginjal dapat mengatur volume air (cauran) dalam tubuh. Kelebihan air
dalam tubuh akan diekskresikan oleh ginjal sebagai urine yang encer dalam
jumlah besar. Kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang
diekskresi berkurang dan konsentrasinya lebih pekat, sehingga susunan dan
volume cairan tubuh dapat dipertahankan relative normal.
Ginjal dapat mengatur tekanan darah dan memproduksi enzim-enzim seperi
renin, engiostensin, dan aldosteron yang berfungsi meningkatkan tekanan
darah.
Pada proses filtrasi, glomerolus mengalami kenaikan tekanan darah
90mmHg. Kenaikan ini terjadi karena arteriola aferen yang mengarah ke
glomerolus mempunyai diameter yang lebih besar dan memberikan sedikit
tekanan dari kapiler yang lain. Tekanan darah terhadap dinding pembuluh ini
disebut tekanan hidrostatik.
Ginjal mensekresi hormone rennin yang mempunyai peranan penting
mengatur tekanan darah (system rennin-angiostensin-aldosteron), membentuk
eritropoiesis untuk memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis).
Disamping itu ginjal juga membentuk hormone dihidroksikolekalsiferol
(vitamin D aktif) yang diperlukan untuk absorpsi ion kalsium di usus.
D. PEMBUANGAN ASAM DAN SUBSTANSI LAIN DALAM URIN
Ginjal mengontrol keseimbangan asam-basa dengan mengeluarkan urine
yang asam atau yang basa. Pengeluaran urine asam akan mengurangi jumlah
asam dalam cairan ekstraseluler sedangkan pengeluaran urine basa yang bererti
menghilangkan basa dari cairan ekstraseluler. Mekanisme ekskresi urine asam
atau basa oleh ginjal adalah sejumlah besar ion bikarbonat disaring secara terus
menerus ke dalam tubulus dan bila ion bikarbonat diekskresi ke dalam urine,
maka keadaan tersebut dapat menghilangkan basa dalam darah. Sebaliknya,
5

sejumlah ion hydrogen juga disekresi ke dalam lumen tubulus oleh sel-sel
epitel tubulus sehingga menghilangkan asam dalam darah.
Bila lebih banyak ion hydrogen yang disekresikan daripada ion bikarbonat
yang disaring, akan terdapat kehilangan asam dari cairan ekstraseluler.
Sebaliknya bila lebih banyak ion bikarbonat disaring daripada hydrogen yang
disekresikan, akan terdapat kehilangan basa.
Sekresi ion hydrogen oleh epitel tubulus diperlukan untuk reabsorpsi
bikarbonat dan pembentukan bikarbonat baru yang berhubungan dengan
pembentukan asam terfiltrasi. Kecepatan sekresi ion hydrogen harus diatur
dengan benar agar ginjal dapat melakukan fungsinya secara aktif dalam
homeostatisasam-basa.
Pada keadaan normal, tubulus ginjal harus mensekresi sejumlah ion
hydrogen yang cukup untuk mengabsorpsi hampir semua bikarbonat yang
disaring, harus terdapat sisa ion hydrogen yang cukup untuk diekskresi sebagai
asam terfiltrasi atau NH4 untuk membersihkan tubuh dari asam-asam yang
tidak menguap dan diproduksi setiap hari dari metabolism.
Pada proses reabsorpsi yang merupakan aliran balik dari sebagian besar air
dan cairan yang terfiltrasi ke pembuluh darah. Normalnya sekitar 99% air yang
terfiltrasi akan direabsorpsi. Substansi yang direabsorpsi baik melalui transport
akti maupun pasif adalah glukosa, asam amino, urea, dan ion-ion seperti Na+,
K+,Ca2+, Cl-, HCO3- dan HPO4+.

DAFTAR PUSTAKA
Pearce, Evelyn C. 2013. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT
Gamedia Pustaka Utama. (Halaman 299-304).
Prawirohartono, Slamet dan Sri Hidayati. Sains Biologi SMA kelas 2. Jakarta: PT
Bumi Aksara. (Halaman 239-242).
Saktiyono. 2007. IPA Biologi SMP kelas 3. Jakarta: Erlangga. (Halaman 3-4).
Syaifuddin. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3.
Jakarta: EGC. (Halaman 235-248).
----------2011. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk
Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC. (Halaman 446-470).