Anda di halaman 1dari 2

MENJADIKAN SEKTOR PERIKANAN DAN KELAUTAN SEPERTI BATIK

Oleh: Panca Dias Purnomo*)

Batik saat ini telah menjadi warisan budaya dan busana kebanggan warga negara Indonesia.
Demam memakai batik dalam acara sehari-hari mewabah di semua kalangan masyarakat, tidak
mengenal batas profesi, usia, sosial, dan status pendidikan. Bahkan instansi – instansi pemerintah
dan swasta di republik ini telah mewajibkan karyawannya untuk memakai batik pada hari
tertentu. Batik tidak lagi hanya menjadi milik para orang tua yang akan pergi kondangan, resepsi,
atau arisan, namun batik pun menjadi trend di kalangan anak muda yang gaul dan fungky. Geliat
bisnis batik pun mulai bangkit kembali.

Semua itu mucul karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat indonesia untuk
melindungi dan melestarikan budaya batik, saat Malaysia mulai merongrong keberadaan batik
sebagai warisan budaya mereka. Dari situ masyarakat Indonesia berbondong-bondong menolak
klaim Malaysia dan mulai sadar untuk melestarikan budaya batik. Kemudian dengan sendirinya,
batik menjalar kesemua lapisan masyarakat, daaan, byaaaar, batik ada dimana mana.

Apa hubungannya dengan kelautan dan perikanan?

Ya, sektor kelautan dan perikanan adalah sektor sangat menjanjikan sebagai penggerak utama
ekonomi bangsa ini. Bayangkan, Indonesia adalah negara dengan luas lautan terbesar di dunia
ini, yaitu sekitar 5,8 juta km2, 75% dari total wilayah Indonesia. Indonesia mempunyai garis
pantai terpanjang ke dua di dunia setelah Kanada, yakni sejauh 81.000 km, jumlah pulau
terbanyak didunia dengan pulau besar dan kecilnya mencapai 17.508 buah. Dari luas lautan itu
dapat ditangkap ikan setiap tahun sejumlah 6,4 juta ton, dan potensi laut untuk kegiatan budidaya
seluas 24,53 juta Ha. Luas lautan yang begitu besar meyimpan berbagai macam kekayaan laut
lainnya seperti pengembangan bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, pertambangan dan
energi, industri dan jasa maritim, benda berharga muatan kapal tenggelam, energi pasang surut,
OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion), dan masih banyak lagi (Rokhmin Dahuri, 2009,
Cetak Biru Pembangunan Kelautan Dan Perikanan Menuju Indonesia Yang Maju, Adik
Makmur, Dan Mandiri).

Potensi sangat besar itu justru ibarat meninabobokan masyarakat Indonesia sehingga banyak
masyarakat Indonesia yang lupa, tertidur nyeyak dengan gunungan emas didalam lautannya.
Pembangunan Indonesia sejak masa orde baru memang mengarah kepada pembangunan bangsa
berbasis kedaratan, seperti sektor pertanian dan industri darat. Sejauh ini sektor kelautan dan
perikanan baru menyumbang 20% PDB Indonesia, namun negara dengan lautan lebih sedikit
dibanding Indonesia mampu menyumbang lebih dari 40% PDB, contohnya Jepang, Cina, Korea
Utara dan Norwegia. Pembangunan selama bertahun-tahun itu membuat sektor kelautan dan
perikanan terabaikan. Ketidakseimbangan pembangunan tersebut berimbas pada tidak
diperhatikannya nelayan dan pembudidaya ikan di wilayah pesisir, sehingga nelayan dan
pembudidaya ikan menjadi bagian masyarakat yang terkenal miskin, terbelakang, tidak
berpendidikan, dan penuh dengan penderitaan. Image/persepsi buruk nelayan dan pembudidaya
ikan ini terbentuk bertahun-tahun ditengah-tengah masyarakat dan merasuk jauh kedalam otak
manusia, padahal sekali lagi Indonesia adalah negara dengan potensi kelautan dan perikanan
terbesar di dunia, bahkan sejak dahulu banyak bukti bahwa nenek moyang negara ini adalah
pelaut, Indonesia adalah negara maritim, dan negara kepulauan.

Eronis memang, pemimpin negara ini belum juga tersadar untuk mengelola potensi kelautan dan
perikanan ini seluas-luasnya untuk kemakmuran rakyat, lihat saja banyak program pemerintah
untuk membangunkan raksasa kelautan namun belum juga membuahkan hasil, seperti
GERBANG MINA BAHARI-nya Megawati, Revitalisasi Perikanan-nya SBY, hingga Produsen
perikanan terbesar 2015-nya Fadel Muhammad. Ironis memang, ditengah-tengah besarnya
potensi itu, justru masyarakatnya menganggap rendah dan memalukan profesi yang berhubungan
dengan kelautan dan perikanan. Mahasiswa yang belajar kelautan dan perikanan pun belum
sepenuhnya bangga pada bidang yang mereka tekuni.

Haruskah laut dan ikan serta kekayaan alam didalamnya dicaplok dan diklaim oleh bangsa lain
terlebih dulu agar sektor kelautan dan perikanan mewabah dimasyarakat seperti batik?Haruskah
laut dan seisinya dihabiskan oleh negara lain lebih dulu agar pemimpin negara ini bergerak nyata
menjadikan sektor kelautan menjadi penggerak utama pembangunan bangsa?

Pemimpin bangsa ini harusnya mempunyai visi seorang Ocean Leadhership--meminjam istilah
Dr Arief Satria--yaitu pemimpin yang mampu membawa arah pembangunan bangsa ini berbasis
kelautan. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya kekayaan laut Indonesia sebagai sumber
kesejahteraan bangsa. Mengubah mindstream dan cara berpikir masyarakat untuk menghormati
lautan dan menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai sektor terhormat, kebanggaan,
unggulan. Dengan demikian, kelautan dan perikanan akan mewabah seperti mewabahnya batik
di kalangan masyarakat.

Kemudian, masyarakat pun--termasuk mahasiswa--akan berkata bangga bahwa Indonesia adalah


negara maritim, negara kelautan dan perikanan, yang besar, maju, dan terhormat karena lautan
dan seisinya.

*) Ketua BEM FPIK UNDIP 2010


Mahasiswa Budidaya Perairan angkatan 2007