Anda di halaman 1dari 3

RAD Journal 2015:07:021

Menyusun Indikator Mutu Rumah Sakit



Pendahuluan
Indikator, standar, dan mutu adalah tiga hal yang berbeda. Suatu pelayanan dikatakan bermutu
dalam dimensi tertentu apabila indikator pelayanan mencapai atau melampaui suatu standar
tertentu. Mutu, dengan demikian tidak akan tercapai tanpa suatu perencanaan dan wawasan yang
terkait dengan mutu tersebut. Dengan kata lain, bila kita menginginkan pelayanan tertentu bermutu
di rumah sakit, maka manajemen rumah sakit perlu memperluas wawasan mengenai mutu
pelayanan tersebut dan merencanakan serangkaian aksi untuk mencapai suatu tingkat/standar
tertentu. Pencapaian atas aksi-aksi tersebut diukur dengan indikator.
Indikator, dengan demikian, perlu dirancang bersama dengan serangkaian proses yang akan diambil
dalam upaya peningkatan mutu. Memimpin serangkaian proses ini, termasuk menyusun indikator,
menjadi sangat penting. Memimpin sistem mikro klinik dalam meningkatkan mutu sudah pernah
saya bahas dalam tulisan ini. Maksud tulisan ini adalah membahas beberapa hal yang sering
ditanyakan para pimpinan sistem mikro klinis dalam menyusun indikator mutu pelayanan. Sebagai
tambahan adalah gagasan untuk melakukan analisis lebih lanjut dengan bantuan ilmu statistika.

Indikator Mutu
Indikator mutu klinis adalah pengukuran manajemen klinis dan/atau luaran pelayanan (Collopy
2000) dan diwujudkan dalam angka (Takaki et al. 2013). Indikator mutu, dengan demikian, selalu
merupakan pengukuran kuantitatif atau semikuantitatif yang memiliki numerator (pembilang) dan
denominator (penyebut / pembagi). Umumnya, denominator adalah populasi tertentu dan
numerator adalah kelompok dalam populasi yang memiliki karakteristik tertentu.
Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) di Amerika Serikat mempublikasikan empat
kelompok indikator mutu, yaitu prevention quality indicator, inpatient quality indicator, patient
safety indicator, dan pediatric quality indicator (dapat diakses di sini). Sementara itu, Joint
Commission International juga menerbitkan International Hospital Inpatient Quality Measures yang
terdiri dari sepuluh kelompok indikator klinis (dapat diunduh di sini). Contoh dari kedua sumber
tersebut sering dipakai bergantian dalam ceramah mengenai akreditasi rumah sakit di Indonesia.

Tabel 1. Dimensi mutu (World Health Organization 2006).
Dimensi Mutu

Maksud Dimensi Mutu

Efektif / Effective

Pelayanan kesehatan yang erat pada basis bukti dan berhasil


dalam meningkatkan luaran kesehatan individu atau
komunitas berdasarkan kebutuhan.

Efisienc / Efficient

Pelayanan kesehatan yang memaksimalkan sumber daya dan


menghindari pemborosan.

Mudah diakses /
Accessible

Pelayanan kesehatan yang tepat waktu, wajar secara geografis,


dan disediakan dalam kerangka yang tepat dari sisi
keterampilan dan sumber daya untuk memeuhi kebutuhan.

Diterima / Accepted
(Patient-centred)

Pelayanan kesehatan yang mempertimbangkan pilihan dan


aspirasi individu pengguna layanan dan budaya komunitasnya.

Tidak berpihak /
Equity

Pelayanan kesehatan yang tidak berbeda dalam kualitas karena


karakteristik personal seperti gender, ras, etnis, lokasi
geografis, dan status sosioekonomi.

Aman / Safe

Pelayanan kesehatan yang meminimalisasi risiko dan harm.


Di Indonesia, penetapan indikator dipandu Peraturan Menteri Kesehatan no. 129 tahun 2008 tentang
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit. Dalam lampiran permenkes tersebut, diatur 21 jenis
pelayanan dan 107 indikator yang telah ditetapkan standar minimalnya dengan nilai tertentu.
Menyusun Indikator Mutu Rumah Sakit, Robertus Arian Datusanantyo |

RAD Journal 2015:07:021

Kementrian Kesehatan menetapkan standar ini menjadi tolok ukur pelayanan rumah sakit badan
layanan umum daerah.
Terlepas dari beberapa nilai standar dalam SPM tersebut yang tidak dapat dilampaui, acuan tersebut
memberikan sistematika yang baik dalam membuat indikator. Setiap indikator dijelaskan dengan
beberapa aspek seperti judul indikator, definisi operasional, tujuan, dimensi mutu, numerator,
denominator, frekuensi pengukuran, sumber data, dan penanggung jawab pengumpulan data.
Pengukuran dapat dilakukan bila tahu apa yang diukur. Dengan demikian, judul dan definisi
operasional indikator telah jelas. Definisi operasional yang dimaksud di sini termasuk definisi
operasional numerator dan denominator. Dimensi mutu sesuai permenkes mengacu pada dimensi
mutu World Health Organization (WHO), yaitu efektif, efisien, mudah diakses, diterima / berpusat
pada pasien, tidak berpihak, dan aman (World Health Organization 2006). Maksud masing-masing
dimensi mutu disajikan dalam tabel 1.

Merancang Pengumpulan Data Indikator
Mengumpulkan data adalah proses yang mungkin paling melelahkan dalam petualangan menguak
mutu pelayanan lewat indikator mutu pelayanan. Salah satu penyebabnya adalah pengumpulan data
kurang dipertimbangkan secara matang ketika indikator mutu disusun. Cara pengumpulan data
berkaitan erat dengan tujuan indikator dan aspek-aspek lain dalam indikator. Mari kita ambil contoh
indikator kejadian infeksi pascaoperasi pada standar pelayanan minimal rawat inap dalam
permenkes di atas.
Dalam permenkes disebut bahwa numerator adalah jumlah pasien yang mengalami infeksi dalam
satu bulan. Selanjutnya, denominator dalam lampiran tersebut tidak jelas disebutkan namun
kemungkinan adalah jumlah pasien yang dioperasi dalam satu bulan. Di sini jelas, bahwa angka yang
dimaksud dalam permenkes ini adalah angka insidensi. Menilik keterangannya, muncul beberapa
pertanyaan misalnya: Apakah ini dihitung untuk seluruh rumah sakit atau untuk satu bangsal
tertentu? Data ini menunjukkan mutu pelayanan rawat inap atau menunjukkan mutu layanan
sterilisasi atau menunjukkan mutu layanan pembedahan?
Infeksi pascaoperasi saat ini lebih sering disebut sebagai infeksi daerah operasi (IDO) atau surgical
site infection (SSI). Infeksi ini lebih sering didiagnosis setelah pasien pulang dan merupakan hasil
kontaminasi pada daerah luka operasi pada akhir pembedahan (National Collaborating Centre for
Womens and Childrens Health 2008). Bila mengikuti panduan permenkes tersebut, rumah sakit
perlu menyediakan dua sarana pengumpulan data, satu untuk mengumpulkan IDO yang baru
ditemukan dan satu untuk mengumpulkan jumlah pasien yang menjalani operasi pada bulan
tersebut.
Dalam kerangka berpikir indikator mutu pelayanan rawat inap, pimpinan ruang rawat inap bedah
dapat memodifikasi indikator ini untuk mendapatkan manfaat lebih. Mari kita simak tabel berikut.

Tabel 2. Contoh modifikasi indikator SPM.

Sesuai Permenkes

Modifikasi

Numerator

Jumlah pasien yang mengalami infeksi Jumlah hari rawat dengan IDO.
dalam satu bulan.

Denominator

Jumlah pasien yang dioperasi dalam Jumlah hari rawat pasien pascaoperasi.
satu bulan.


Dengan modifikasi ini, pimpinan ruang rawat inap bedah memudahkan tim untuk mengumpulkan
data karena setiap hari cukup mendata ada berapa pasien pascaoperasi yang dirawat dan ada berapa
pasien yang mengalami IDO. Jumlah tersebut ditambahkan mulai tanggal satu sampai akhir bulan
dan dimasukkan ke dalam rumus. Sekarang, rumah sakit tahu prevalensi IDO bulan tersebut dan
sebagai bonus, pimpinan ruang rawat inap bedah bisa menghitung berapa banyak sumber daya yang
dipakai untuk mengurus IDO dan apakah prevalensi ini menurun atau tidak dari bulan ke bulan
(menunjukkan mutu layanan luka pascaoperasi di ruang rawat inap bedah).
Menyusun Indikator Mutu Rumah Sakit, Robertus Arian Datusanantyo |

RAD Journal 2015:07:021


Merancang Analisis Data Indikator
Analisis yang diminta dalam akreditasi versi lama maupun baru seringkali terbatas pada pembuatan
grafik indikator berbanding waktu dan penjelasan mengenai analisis penyebab. Dengan kerangka
berpikir seperti audit medis dan audit klinis, sebenarnya pimpinan sistem mikro klinis di rumah
sakit dapat memanfaatkan uji beda dalam statistika untuk melihat peningkatan mutu di unitnya.
Statistika dapat membantu pimpinan rumah sakit untuk melihat apakah ada beda bermakna pada
ruang perawatan satu dengan yang lain pada indikator yang sesuai. Selain itu, pimpinan rumah sakit
dapat mengevaluasi juga apakah benar ada perubahan yang bermakna setelah intervensi perbaikan
mutu dilakukan di suatu unit kerja. Pengujian dengan statistika lebih lanjut dapat juga mengungkap
apakah benar suatu perlakukan meningkatkan mutu pelayanan tertentu.
Namun sebelum melakukan analisis tersebut, perlu dilakukan pemilihan uji statistik yang sesuai.
Untuk itu pada saat merancang indikator mutu perlu dipikirkan mengenai uji statistik tersebut.
Mulai dari apakah data yang dikumpulkan menggunakan sampel atau populasi. Populasi berarti
semua dihitung. Contoh IDO di atas memanfaatkan data populasi. Semua pasien yang menjalani
operasi dihitung sebagai denominator. Ada keuntungan dan kerugian masing-masing dalam
memakai populasi atau sampel. Bila populasinya tidak banyak, menggunakan sampel tentu tidak
bijaksana.
Persiapan lainnya adalah menentukan tipe data. Apakah data tersebut merupakan data nominal,
ordinal, interval, atau rasio. Tipe data tertentu dapat memerlukan uji statistik yang berbeda dengan
tipe data lainnya untuk melihat hal yang sama.
Dengan penghitungan indikator yang telah dirancang dengan hati-hati ditambah dengan uji statistik
yang sesuai, pimpinan rumah sakit maupun pimpinan unit kerja dapat menarik kesimpulan
mengenai mutu pelayanan. Tentu penarikan kesimpulan ini perlu kehati-hatian. Penurunan secara
signifikan waktu respon triase merah di instalasi gawat darurat tidak lantas disimpulkan bahwa ada
perbaikan pelayanan gawat darurat. Hasil ini dapat saja murni merupakan hasil modifikasi akses
masuk pasien saja dan tidak berhubungan sama sekali dengan mutu pelayanan instalasi gawat
darurat secara umum.

Penutup
Indikator mutu rumah sakit adalah ukuran kuantitatif yang diukur untuk lebih memahami mutu
pelayanan di rumah sakit. Indikator perlu dirancang dengan seksama dengan mempertimbangkan
dimensi mutu yang ingin diukur, cara pengumpulan data, dan strategi analisisnya. Dengan hati-hati
merancang indikator mutu pelayanan, sumber daya bisa dihemat, hasil lebih akurat, dan
pengambilan keputusan di tingkat sistem mikro maupun sistem makro bisa lebih strategis.

Bahan Bacaan
Collopy, BT 2000, 'Clinical indicators in accreditation: an effective stimulus to improve patient care',
International Journal for Quality in Health Care, vol 12, no. 3, pp. 211-216.
National Collaborating Centre for Womens and Childrens Health 2008, Surgical site infection: prevention and
treatment of surgical site infection, RCOG Press at the Royal College of Obstetricians and
Gynaecologists, London.
Takaki, O, Takeuki, I, Takahashi, K, Izumi, N, Murata, K, Ikeda, M & Hasida, K 2013, 'Graphical representation
of quality indicators based on medical service ontology', Springer Plus, vol 2, no. 274, pp. 1-20.
World Health Organization 2006, Quality of care : a process for making strategic choices in health systems ,
World Health Organization, Geneve, Switzerland.


Penulis
Artikel ini ditulis dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H., alumni pascasarjana Ilmu Kesehatan
Masyarakat dengan minat Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Saat ini penulis sedang melanjutkan pendidikan dokter spesialis di Universitas Airlangga. Tulisan ini
merupakan opini pribadi dan pernah diterbitkan di sini.
Menyusun Indikator Mutu Rumah Sakit, Robertus Arian Datusanantyo |