Anda di halaman 1dari 11

PERKAWINAN DI BAWAH UMUR MENURUT HUKUM ISLAM dan UU No.

1
TAHUN 1974

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak sebagai generasi muda, merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa.
Anak merupakan modal pembangunan yang akan mempertahankan, memelihara dan
mengembangkan hasil pembangunan yang ada. Oleh karena itu, anak memerlukan
perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan
sosial secara utuh, serasi dan seimbang. Kedudukan anak dalam hukum adalah sebagai
subyek hukum ditentukan dari bentuk dan sistem terhadap anak sebagai kelompok
masyarakat dan tergolong tidak mampu atau di bawah umur (UU No. 23 Tahun 2002).
Dalam Hukum Positif Indonesia, mengatur tentang perkawinan yang tertuang di dalam UU
No.1 Tahun 1974 menyatakan bahwa Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang
pria dengan sesorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (Rumah
Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Bagi perkawinan tersebut tentu harus dapat diperbolehkan bagi mereka yang telah memenuhi
batasan usia untuk melangsungkan perkawinan seperti dalam Pasal 7 ayat 1 UU No.1 Tahun
1974 yang tertera bahwa, batasan usia untuk melangsungkan perkawinan itu pria sudah
berusia 19 (Sembilan belas) Tahun dan wanita sudah mencapai usia 16 (Enam belas) Tahun.
Secara eksplisit ketentuan tersebut dijelaskan bahwa setiap perkawinan yang dilakukan oleh
calon pengantin prianya yang belum berusia 19 tahun atau wanitanya belum berusia 16 tahun
disebut sebagai Perkawinan di bawah umur. Bagi perkawinan di bawah umur ini yang
belum memenuhi batas usia perkawinan, pada hakikatnya di sebut masih berusia muda (anakanak) yang ditegaskan dalam Pasal 81 ayat 2 UU No.23 Tahun 2002, Bahwa anak adalah
seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun dikategorikan masih anak-anak, juga
termasuk anak yang masih dalam kandungan, apabila melangsungkan perkawinan tegas
dikatakan adalah perkawinan di bawah umur.
Dan itu merupakan pemangkasan kebebasan hak anak dalam memperoleh Hak hidup sebagai
remaja yang berpotensi untuk tumbuh, berkembang dan berpotensi secara positif sesuai apa
yang digaris bawahi agama. Jika anak masih berusia muda bisa dikatakan kekerasan dan
diskriminasi terhadap anak-anak seperti yang telah dijelaskan Pasal 81 ayat 2 UU No.23
Tahun 2002. Dimana jelas bagi orang tua berkewajiban untuk mencegah adanya perkawinan
pada usia muda.
Tetapi perkawinan di bawah umur merupakan peristiwa yang dianggap wajar dalam suatu
masyarakat Indonesia, namun perkawinan di bawah umur bisa menjadi isu yang menarik
perhatian publik dan berlanjut menjadi kasus hukum seperti terlihat dalam kasus perkawinan
Syekh Puji dengan Lutviana ulfa (yang berusia 12 tahun), di mana muncul kontroversi
terhadap kasus perkawinan di bawah umur ini.

B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana hukum perkawinan di bawah umur berdasarkan peraturan perundang-undangan


yang berlaku di Indonesia?
Bagaimana hukum perkawinan anak di bawah umur menurut pandangan Islam?
Bagaimana hukum perkawinan di bawah umur menurut pandangan Hukum Adat?
Apa sajakah dampak yang ditimbulkan dari perkawinan di bawah umur?
Bagaimana upaya mencegah terjadinya perkawinan di bawah umur?

BAB II
PEMBAHASAN

Indonesia merupakan Negara Hukum, dimana warga Indonesia harus mematuhi aturanaturan yang telah dibuat oleh yang berwenang. Di sinilah terdapat beberapa penilaian dari
faktor hukum, adat, adanya dampak terjadinya perkawinan di bawah umur dan upaya
mencegah terjadinya Perkawinan di bawah umur.

1. Hukum Perkawinan Di Bawah Umur Menurut Peraturan Perundang-undangan yang


Berlaku Di Indonesia
Berdasarkan UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. UU ini menjelaskan syaratsyarat yang wajib dipenuhi calon mempelai sebelum melangsungkan pernikahan, menurut
Pasal 6 ayat 1 UU no.1 tahun 1974 : perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua
calon mempelai, Pasal 6 ayat 2 UU No.1 Tahun 1974 : untuk melangsungkan perkawinan
seseorang yang belum mencapai umur 21 (duapuluh satu) tahun harus mendapat ijin kedua
orang tua, Pasal 7 UU No.1 Tahun 1974 : perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah
mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
Sedangkan menurut negara pembatasan umur minimal untuk kawin bagi warga negara pada
prinsipnya dimaksudkan agar orang yang akan menikah diharapkan sudah memiliki
kematangan berpikir, kematangan jiwa dan kekuatan fisik yang memadai. Keuntungan
lainnya yang diperoleh adalah kemungkinan keretakan rumah tangga yang berakhir dengan
perceraian dapat dihindari, karena pasangan tersebut memiliki kesadaran dan pengertian yang
lebih matang mengenai tujuan perkawinan yang menekankan pada aspek kebahagiaan lahir
dan batin.
Selain itu juga Berdasarkan UU No. 23 tahun 2002 mencegah adanya perkawinan pasa usia
anak-anak yaitu dimana dalam Pasal 1 tentang perlindungan anak, definisi anak adalah
seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Setiap
anak mempunyai hak dan kewajiban seperti yang tertuang dalam Pasal 4 UU No. 23 tahun
2002 : setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara
wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi, Pasal 9 ayat 1 UU No.23 Tahun 2002 : Setiap anak berhak
memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya, Pasal 11 UU No.23 Tahun 2002: setiap
anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang
sebaya, bermain, berekreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi
pengembangan diri, Pasal 13 ayat 1 UU No.23 Tahun 2002 : setiap anak selama dalam
pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas
pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan :

(a) diskriminasi
(b) eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual
(c) penelantaran
(d) kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan
(e) ketidakadilan
(f) perlakuan salah lainnya.
Selain itu orang tua dan keluarganya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap
anak seperti yang tertulis di Pasal 26 ayat 1 UU no. 23 tahun 2002 : orang tua berkewajiban
dan bertanggung jawab untuk :
(a) mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak
(b) menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya
(d) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

2. Hukum Perkawinan Di Bawah Umur Menurut Pandangan Hukum Islam


Sebagai muslim, merupakan kewajiban untuk merujuk sumber utama dari ajaran Islam,
yakni Al-Quran. Apakah Al-Quran mengizinkan atau melarang perkawinan di bawah umur?
Perkawinan adalah suatu aqad yang sangat kuat (misaqan ghalizan) untuk menaati perintah
Allah swt dan melaksanakannya merupakan suatu ibadah. Yang bertujuan untuk mewujudkan
rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Dan hukumnya dapat berubah sesuai
berubahnya illah, ayaitu dapat sunnah, makruh, haram dan wajib.
Sebagaimana terlihat dalam Hadist berikut sedangkan aku menikah, maka
barangsiapa tidak suka sunnah (petunjukku), maka bukan dari golonganku. Perintah dan
anjuran melakukan pernikahan, tidak memberikan batasan umur, namun ditekankan perlunya
kedewasaan seseorang melakukan pernikahan untuk mencegah kemudharatan (hal-hal
buruk). Sehingga kedewasaan secara psikologis dan biologis secara implicit di anjurkan
melalui beberapa Hadist dan yang tertera dalam ayat Al-Quran. Namun, muncul kontroversi
menyangkut batasan kedewasaan seseorang untuk boleh menikah, yang berimplikasi terhadap
tidak ada keberatan atas pernikahan di bawah umur dari pandangan Islam.

3. Hukum Perkawinan Di Bawah Umur Menurut Pandangan Hukum Adat


Hukum adat tidak menentukan batasan umur tertentu bagi orang untuk melaksanakan
perkawinan. Bahkan hukum adat membolehkan perkawinan anak-anak yang dilaksanakan
ketika anak masih berusia kanak-kanak. Hal ini dapat terjadi karena di dalam Hukum Adat
perkawinan bukan saja merupakan persatuan kedua belah mempelai tetapi juga merupakan
persatuan dua buah keluarga kerabat. Adanya perkawinan di bawah umur atau perkawinan
kanan-kanak tidak menjadi masalah di dalam Hukum Adat karena kedua suami isteri itu akan
tetap dibimbing oleh keluarganya, yang dalam hal ini telah menjadi dua keluarga, sehingga
Hukum Adat tidak melarang perkawinan kanak-kanak.

4. Dampak Terjadinya Perkawinan Di Bawah Umur


Apapun alasannya, perkawinan tersebut dari tinjauan berbagai aspek sangat merugikan
kepentingan anak dan sangat membahayakan kesehatan anak akibat dampak perkawinan dini
atau perkawinan di bawah umur. Berbagai dampak pernikahan dini atau perkawinan dibawah
umur dapat dikemukakan sbb.
Dampak terhadap hukum
Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu:
a. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
Pasal 7 (1) UU No.1 Tahun 1974 : Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria
sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
Pasal 6 (2) UU No.1 Tahun 1974 : Untuk melangsungkan perkawinan seorang
yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
b. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 26 (1) Orang tua
berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya
mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

Dampak biologis
Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan
sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika
sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan
yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan
jiwa anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan
dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan
(penggagahan) terhadap seorang anak.

Dampak Psikologis
Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan
menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak
akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak

mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak
untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya
serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.
Dampak Sosial
Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki
yang bias gender, yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya
dianggap pelengkap seks laki-laki saja. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama
apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin).
Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan
kekerasan terhadap perempuan.

Dampak perilaku seksual menyimpang


Adanya prilaku seksual yang menyimpang yaitu prilaku yang gemar berhubungan seks
dengan anak-anak yang dikenal dengan istilah pedofilia. Perbuatan ini jelas merupakan
tindakan ilegal (menggunakan seks anak), namun dikemas dengan perkawinan se-akan2
menjadi legal. Hal ini bertentangan dengan UU.No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
khususnya pasal 81, ancamannya pidana penjara maksimum 15 tahun, minimum 3 tahun dan
pidana denda maksimum 300 juta dan minimum 60 juta rupiah. Apabila tidak diambil
tindakan hukum terhadap orang yang menggunakan seksualitas anak secara ilegal akan
menyebabkan tidak ada efek jera dari pelaku bahkan akan menjadi contoh bagi yang lain.
Para sarjana/ahli hukum berpendapat faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya
perkawinan dalam usia muda :
a. Keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga
b. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda, baik bagi
mempelai itu sendiri maupun keturunannya.
c. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat. Kebanyakan
orang desa mengatakan bahwa mereka itu mengawinkan anaknya begitu muda hanya
karena mengikuti adat kebiasaan saja.
Terjadinya perkawinan usia muda disebabkan oleh:
a. Masalah ekonomi keluarga.
b. Orang tua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki apabila mau
mengawinkan anak gadisnya.
c. Bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga gadis akan
berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab (makanan, pakaian,
pendidikan, dan sebagainya).

Selain menurut para sarjana/ahli hukum di atas, ada beberapa faktor yang mendorong
terjadinya perkawinan usia muda yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat kita yaitu :
a . Ekonomi
Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan,
untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang
dianggap mampu.

b.

Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masyarakat,
menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang masih dibawah umur.
c. Faktor orang tua
Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-laki yang
sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.
d.

Media massa
Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian Permisif
terhadap seks.
e.

Faktor adat
Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan perawan tua
sehingga segera dikawinkan.

5. Upaya Mencegah Terjadinya Perkawinan Di Bawah Umur


Pernikahan anak di bawah umur merupakan suatu fenomena sosial yang kerap terjadi
khususnya di Indonesia. Fenomena pernikahan anak di bawah umur bila diibaratkan seperti
fenomena gunung es, sedikit di permukaan atau yang terekspos dan sangat marak di dasar
atau di tengah masyarakat luas. Dalih utama yang digunakan untuk memuluskan jalan
melakukan pernikahan dengan anak di bawah umur adalah mengikuti sunnah Nabi SAW.
Namun, dalih seperti ini bisa jadi bermasalah karena masih terdapat banyak pertentangan di
kalangan umat muslim tentang kesahihan informasi mengenai pernikahan di bawah umur
yang dilakukan Nabi SAW dengan 'Aisyah r.a. . Selain itu peraturan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia dengan sangat jelas menentang keberadaan pernikahan anak di
bawah umur. Jadi tidak ada alasan lagi bagi pihak-pihak tertentu untuk melegalkan tindakan
mereka yang berkaitan dengan pernikahan anak di bawah umur.
Pemerintah harus berkomitmen serius dalam menegakkan hukum yang berlaku terkait
pernikahan anak di bawah umur sehingga pihak-pihak yang ingin melakukan pernikahan
dengan anak di bawah umur berpikir dua kali terlebih dahulu sebelum melakukannya. Selain
itu, pemerintah harus semakin giat mensosialisasikan UU terkait pernikahan anak di bawah
umur beserta sanksi-sanksinya bila melakukan pelanggaran dan menjelaskan resiko-resiko

terburuk yang bisa terjadi akibat pernikahan anak di bawah umur kepada masyarakat,
diharapkan dengan upaya tersebut, masyarakat tahu dan sadar bahwa pernikahan anak di
bawah umur adalah sesuatu yang salah dan harus dihindari. Upaya pencegahan pernikahan
anak di bawah umur dirasa akan semakin maksimal bila anggota masyarakat turut serta
berperan aktif dalam pencegahan pernikahan anak di bawah umur yang ada di sekitar mereka.
Sinergi antara pemerintah dan masyarakat merupakan jurus terampuh sementara ini untuk
mencegah terjadinya pernikahan anak di bawah umur sehingga kedepannya diharapkan tidak
akan ada lagi anak yang menjadi korban akibat pernikahan tersebut dan anak-anak Indonesia
bisa lebih optimis dalam menatap masa depannya kelak.
Dari uraian tersebut jelas bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur (anak)
lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Oleh karena itu patut ditentang. Orang tua harus
disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau
anak dan harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak.
Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dapat mengajukan class-action kepada
pelaku, melaporkan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesai (KPAI), LSM peduli anak
lainnya dan para penegak hukum harus melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk
melihak adanya pelanggaran terhadap perundangan yang ada dan bertindak terhadap pelaku
untuk dikenai pasal pidana dari peraturan perundangan yang ada. (UU No.23 tahun 2002
tentang Perlindungan Anak).

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Pernikahan merupakan suatu perbuatan yang sangat sakral. Untuk menjaga kesakralan
tersebut hendaknya pernikahan dilakukan dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan
peraturan yang berlaku baik peraturan agama maupun peraturan negara tempat
berlangsungnya pernikahan tersebut.
Pernikahan anak di bawah umur masih menjadi kontroversi di tengah masyarakat. Hal ini
dapat terjadi karena adanya perbedaan pandangan diantara pihak-pihak terkait dalam hal
menyikapi pernikahan anak di bawah umur. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan
tertinggi di negara Indonesia diharapkan bisa menjadi penengah diantara pihak-pihak yang
berselisih dan mampu menegakkan regulasi terkait pernikahan anak di bawah umur. Sinergi
antara dua belah pihak yaitu pemerintah dan masyarakat merupakan jalan keluar terbaik yang
bisa diambil sementara ini agar pernikahan anak di bawah umur bisa dicegah dan ditekan
seminimal mungkin keberadaannya di tengah masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Soedharyo Soimin, SH, Hukum Orang dan Keluarga, Sinar Grafika, Jakarta, 1992
Drs. M. Thahir Hi. Salim, MH, Bahan Ajar Hukum Perdata, 2009
http://sosiologihuku.blogspot.com
http://www.kikil.org
Kitab Undang-undang Hukum Perdata