Anda di halaman 1dari 26

UJIAN

SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun oleh:
Ramano Untoro Putro
1410221033

Dosen Penguji:
dr. Altin Walujati, SpKJ

DEPARTEMEN KESEHATAN JIWA RSPAD GATOT SOEBROTO


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
PERIODE 09 FEBRUARI 11 MARET 2016

STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Usia
Tempat & Tanggal Lahir
Jenis Kelamin
Agama
Pekerjaan
Suku Bangsa
Pendidikan
Terakhir
Status Perkawinan
Alamat
Tanggal Masuk
No. RM

: Tn. DS
: 44 tahun
: Purwakarta, 03 April 1971
: Laki-laki
: Islam
: TNI AD - Kopka
: Sunda
: SMA
: Menikah
: Jl. Jiwantaka 1, Gang Cendana RT 005/001
: 18 Februari 2016
: 344056

RIWAYAT PSIKIATRI
a. Keluhan Utama
Pasien sering marah-marah sejak 2 minggu SMRS.
b. Riwayat Gangguan Sekarang
Alloanamnesis bersama istri pasien tanggal 4 Maret 2016:
Pasien datang ke pavilion Amino RSPAD Gatot Soebroto pada tanggal 18
Februari 2016 dibawa oleh rekan kerja atas pengaduan dari istrinya karena pasien
dirumah marah-marah, membanting barang dan memukul istri serta anaknya.
Menurut keterangan istrinya, sejak tanggal 5 Februari 2016 pasien sudah
menunjukkan gejala seperti sering marah-marah dan mengatakan bahwa banyak
laki-laki yang menyukai istrinya dan pasien sering cemburu terutama saat istrinya
melayani pembeli di warung.
Pada tanggal 10 Februari 2016, pasien membeli batu cincin serta keris,
kemudian keris tersebut dipatahkan dan ditusukkan ke kasur sehingga membuat
keluarga pasien ketakutan. Satu minggu SMRS, setiap hari pasien marah-marah
pada istri dan anaknya tanpa sebab yang jelas.
Pasien sering dirawat di bangsal jiwa sejak tahun 1993, terakhir pasien
dirawat yaitu pada bulan November 2015. Selama rawat jalan pasien sering
kontrol namun pasien tidak minum obat secara teratur. Menurut keterangan
istrinya, pasien tidak minum obat dengan teratur yaitu hanya minum satu kali
sehari sebelum tidur karena setelah minum obat pasien merasa mengantuk

sehingga mengganggu pasien bekerja. Ketika keadaan pasien sedang dalam


keadaan terkontrol, pasien sering membantu istrinya berjualan di warung.
Pada tanggal 17 Februari 2016 pasien tiba-tiba marah dan memukul istri serta
kedua anaknya kemudian istri pasien mengadukan perbuatan pasien pada teman
kerjanya lalu pasien dibawa ke RSPAD.
Autoanamnesis tanggal 6 Maret 2016
Pasien mengatakan bahwa dirinya dibawa ke RSPAD karena merasa
gelisah dan merasa stres sehingga pasien marah-marah kepada orang disekitarnya.
Pasien mengakui kalau dia memukul istrinya beberapa hari SMRS karena istrinya
tidak menuruti kata-kata pasien untuk tidak berbicara dengan laki-laki lain
terutama di warung karena pasien yakin bahwa laki-laki yang belanja
diwarungnya hanya karena ingin mendekati istrinya. Selain itu pasien merasa
istrinya tidak melayani secara batin dengan baik sehingga pasien kesal dan marahmarah.
Kemudian tiba-tiba pasien bercerita pada tahun 1993 pasien dikirim ke
Timor Timur untuk perang. Disana pasien menembak banyak orang kemudian
pasien tidak sengaja menembak temannya hingga tewas dan membuat pasien
merasa bersalah sampai sekarang. Selain membicarakan tentang pengalamannya
saat bertugas, pasien juga sering membicarakan tentang kerajaan-kerajaan pada
zaman dahulu. Pasien juga bercerita mengenai batu cincin yang dipakainya
memiliki kekuatan, seperti untuk membuat mental lawannya dan memikat wanita.
Lalu pasien mengaku ada suara yang terdengar di telinga pasien yang
memerintahkan pasien untuk mengumpulkan kekuatan supranatural karena pasien
juga diincar oleh orang lain, suara tersebut juga bilang bahwa pasien bodoh dan
miskin, kadang-kadang suara tersebut juga menyalahkan pasien atas kematian
temannya. Suara tersebut lebih sering terdengar terutama jika pasien tidak minum
obat, karena mendengar suara tersebut pasien merasa sangat terganggu sehingga
membuat pasien kesal dan marah. Namun setelah dirawat pasien sudah tidak
pernah mendengar suara-suara tersebut sehingga pasien merasa tenang dan tidak
terganggu lagi dan bisa tidur dengan nyenyak.
3

Pasien juga bercerita bahwa saat ini pasien merasa tidak nyaman karena
memikirkan pekerjaannya, yang tidak naik pangkat dan pasien tidak ingin pensiun
karena takut tidak dapat membiayai kehidupan keluarga dan pendidikan anaknya.
Pasien ingin anaknya sukses walaupun dia hanya seorang tentara yang berpangkat
Kopka. Pasien mengaku tidak pernah mencari pekerjaan ditempat lain karena
pasien bingung mau bekerja apa dan dimana.
c. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatrik
Pasien pertama kali dirawat karena gangguan psikiatri pada tahun
1993 saat pasien pulang bertugas dari Timor Timur. Pada saat ikut bertugas
dalam perang di Tumor Timur pasien tidak sengaja menembak temannya
hingga meninggal, kemudian pasien merasa bersalah dan bertanggung jawab
atas kematian temannya. Keluarga pasien mendapat kabar bahwa pasien
dirawat di bangsal jiwa karena pasien marah-marah pada dirinya dan orang
lain. Pasien kemudian menjadi pendiam, sering menangis dan selalu
menyalahkan dirinya sendiri, namun tiba-tiba marah dan tertawa sendiri tanpa
sebab yang jelas. Setelah kejadian itu pasien juga diketahui sering berbicara
sendiri namun saat ditanya sedang berbicara dengan siapa oleh keluarga
pasien, pasien tidak memberitahu. Pasien juga selalu merasa bahwa temanteman ditempat kerjanya sedang membicarakan dan menyalahkan pasien
sehingga pasien sering marah-marah, namun setelah dikonfirmasi oleh
keluarganya ternyata teman ditempat kerjanya tidak pernah menyalahkan
pasien atas kejadian tersebut.
Sejak tahun 1993-2016, pasien sering kontrol dan setiap tahun
sedikitnya 3 kali dirawat karena pasien tidak rutin minum obat dan selalu
datang dengan keadaan marah-marah.
2. Riwayat Gangguan Medik
Riwayat trauma kepala (-), riwayat kejang/ epilepsi (-), tumor otak (-), riwayat
nyeri kepala (-).
3. Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol
Riwayat penggunaan rokok (+), alkohol maupun obat-obatan terlarang
disangkal oleh pasien dan keluarganya.
4. Riwayat Pengobatan
4

Haloperidol, Depakote, Seroquel


d. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal dan perinatal
Tidak ada data mengenai riwayat prenatal dan perinatal pasien.
2. Riwayat masa kanak awal (0-3 tahun)
Tidak ada data mengenai riwayat masa kanak awal pasien.
3. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Ayah pasien meninggal saat pasien berusia 5 tahun. Pasien akrab
dengan pamannya yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri dan tinggal
bersamanya oleh karena itu pasien lebih banyak diasuh dan diajari ilmu agama
oleh pamannya karena ibu pasien mengasuh adik tiri pasien yang masih kecil.
Pasien merupakan anak yang senang bermain dan memiliki banyak teman,
pasien juga sering bermain dan menggendong adik tirinya.
4. Riwayat masa kanak akhir dan remaja (12-18 tahun)
Pasien merupakan remaja yang aktif dan senang bermain bola. Pasien
tidak pernah berkelahi ataupun memiliki musuh disekitarnya. Pasien juga
sering membantu pamannya bertani. Karena pasien sangat dekat dengan
pamannya, pasien lebih sering bercerita pada pamannya dibandingkan dengan
ibu atau saudaranya yang lain.
5. Masa dewasa
i. Riwayat pendidikan
Pasien lulus SD dan MTS tepat waktu dan tidak ada kendala
selama sekolah. Namun pasien tidak berhasil masuk SMA negeri sehingga
pasien lebih memilih menjadi tentara daripada sekolah di SMA swasta.
ii. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai TNI AD sejak tahun 1991 atas keinginan
sendiri dengan harapan dapat membanggakan dan membantu ibunya
dengan mendapatkan banyak uang. Saat menerima gaji, pasien membagi
bersama ibunya dan memberi uang jajan pada ketiga adiknya. Saat ini
pasien berpangkat Kopka dan masih aktif bekerja dikantor sebagai tukang
bersih-bersih.
iii. Riwayat Pernikahan
Pasien menikah satu kali pada tahun 1997 dengan wanita
pilihannya sendiri dan sudah memiliki 2 orang anak yaitu laki-laki berusia
17 tahun dan perempuan berusia 5 tahun. Sampai saat ini pernikahannya
5

masih dipertahankan. Hubungan dengan istri dan anaknya kurang baik


karena keluarganya takut dianiaya oleh pasien.
iv. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam, dulunya pasien adalah orang yang rajin
beribadah, namun setelah mengalami gangguan pasien melaksanakan
ibadah sesuka hati pasien. Serta pasien sekarang lebih percaya kepada
ilmu gaib.
v. Riwayat hukum
Pasien tidak pernah melakukan tindakan pelanggaran hukum
maupun berurusan dengan pihak berwajib.
vi. Riwayat psikoseksual
Pasien memiliki orientasi seksual heteroseksual.

e. Riwayat Keluarga
1. Riwayat penyakit keluarga
Menurut adik pasien, di keluarga tidak ada yang memiliki gangguan
yang serupa.
2. Genogram
Pasien memiliki kakak tiri laki-laki dari pernikahan ibu sebelumnya.
Ibu pasien menikah lagi dengan ayah pasien dan mempunyai 2 orang adik
laki-laki namun keduanya meninggal. Pada saat pasien berusia 5 tahun, ayah
pasien meninggal kemudian ibu pasien menikah lagi untuk yang ketiga
kalinya dan memiliki 3 orang anak perempuan.

Keterangan:
: laki-laki

: Cerai

: Perempuan
: Meninggal
: Pasien
f. Riwayat Kehidupan Sekarang
Saat ini pasien tinggal di Jl. Jiwantaka 1, Gg. Cendana RT 005/001 Serang
bersama dengan istri dan anaknya. Karena pasien sering marah-marah pada
tetangga, akhirnya istri pasien sering mengurung pasien dirumah dan
diperbolehkan keluar hanya ketika berangkat bekerja sehingga pasien jarang
bersosialisasi dengan warga disekitar tempat tinggal.
g. Persepsi
1. Persepsi pasien tentang diri dan lingkungan

Pasien menganggap bahwa dirinya adalah tentara dan pernah ditugaskan ke


Aceh dan Timor Timur.
2. Persepsi keluarga terhadap pasien
Istri pasien menggambarkan pasien sebagai seorang yang pendiam, namun
jika pasien tidak minum obat pasien sering marah-marah dan membuat takut
istri serta anak-anaknya.
3. Mimpi, fantasi dan nilai-nilai
Pasien sering bercerita tentang kekuatan-kekuatan seperti khodam, dimana
kekuatan tersebut dapat membuat orang terpental. Pasien juga seringkali
berbicara tentang kerajaan-kerajaan.
III. STATUS MENTAL (Tanggal 6 Maret 2016)
a. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien berjenis kelamin laki-laki, penampilan sesuai dengan usia, kulit
berwarna sawo matang, berambut hitam, pendek beruban. Pada saat
wawancara pasien menggunakan kaos berkerah warna abu-abu bergaris-garis
dengan memakai celana tentara dan menggunakan sandal jepit. Pasien
menggunakan beberapa cincin batu ditangannya. Perawatan diri kurang baik.

2. Perilaku dan aktivitas psikomotor


Secara umum perilaku pasien aktif dan suka berbicara namun sulit
dipotong. Selama wawancara pasien duduk tenang. Kontak mata dengan
pemeriksa baik. Komunikasi antara pasien dengan pasien lain berjalan baik.
3. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif dalam bercerita dan menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh pemeriksa walaupun terkadang cerita pasien cenderung
melompat-lompat dari satu subyek ke subyek lain yang tidak berhubungan.
b. Mood dan Afek
1. Mood
: Disforik
2. Afek
: Tidak sesuai (inappropriate)
c. Bicara
Pasien banyak sekali bicara (logorrhea) dan sulit dipotong, volume
sedang, artikulasi jelas.
8

d. Gangguan Persepsi
Gangguan Persepsi
Halusinasi Visual
Halusinasi Auditorik
Halusinasi Olfaktorik
Halusinasi Gustatorik
Halusinasi Taktil
Ilusi

Ada / tidak
Tidak Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

e. Pikiran
1. Arus pikir : inkoheren
2. Isi pikir :
a) Ditemukan waham cemburu : Pasien yakin bahwa banyak laki-laki yang
menyukai dan ingin mendekati istrinya.
b) Ditemukan wahaw bizzare : Pasien yakin bahwa batu cincin yang ia pakai
mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian wanita.
c) Banyak ide
f. Sensorium dan Kognisi
1. Kesiagaan dan taraf kesadaran
Kesiagaan baik dan kesadaran compos mentis
2. Orientasi
i. Waktu
: Baik. Pasien dapat membedakan waktu baik pagi, siang
maupun malam. Pasien juga dapat mengetahui tanggal,
ii.
iii.

hari dan jam.


Tempat: Baik. Pasien tahu bahwa saat ini ia sedang dirawat di
bangsal jiwa RSPAD.
Orang
: Baik. Pasien dapat mengetahui nama pemeriksa, pasien
juga dapat mengingat identitas dirinya serta nama
keluarga pasien.

3. Ingatan
i. Jangka panjang : Baik. Pasien dapat mengingat tanggal lahir.
ii. Jangka sedang : Baik, pasien dapat mengingat aktivitas yang dilakukan
dalam seminggu terakhir dan mampu mengingat siapa
nama dokter pernah memeriksa pasien.
iii.

Jangka pendek

iv.

Jangka segera

: Baik, pasien dapat mengingat menu makan pagi


sebelum wawancara.
: Baik, pasien bisa mengingat dan mengulangi kata-kata
dari pemeriksa
9

4. Konsentrasi dan perhatian


Pasien tidak mampu mempertahankan konsentrasi dan perhatian, serta
mudah terdistraksi dari luar. Pasien juga kesulitan melakukan pengurangan
kelipatan 7 dari 100 pada perhitungan kedua yaitu 97 dikurangi 7.
5. Kemampuan membaca dan menulis
Pasien dapat membaca tulisan yang diberikan oleh pemeriksa
6. Kemampuan visuospasial
Pasien dapat menyebutkan jam berapa dengan tepat dan dapat
menggambarkan arah jam panjang dan pendek dengan baik.
7. Pikiran abstrak
Pasien mampu mengartikan peribahasa Besar pasak daripada tiang
8. Intelegensi dan daya informasi
Pasien ingat nama presiden yang sedang menjabat saat ini.
g. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, pasien dapat mengendalikan diri dengan
berperilaku baik dan sopan terhadap lawan bicara.
h. Daya Nilai dan Tilikan
1. Daya nilai sosial : Baik. Pasien bersikap sopan terhadap dokter, perawat,
koas dan teman di bangsal Paviliun Amino.
2. Penilaian realita : RTA terganggu
3. Tilikan
: Derajat 2
i. Taraf Dapat Dipercaya (Reliabilitas)
Dapat dipercaya.
IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Interna
Keadaan umum
: baik
Kesadaran
: kompos mentis
Status gizi
: BB = 65 kg, TB = 170 cm
Tanda-tanda vital
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 86 x/menit
Pernapasan
: 20 x/menit
Suhu
: afebris
Mata
: konjungtiva tidak anemis, sklera ikterik, tidak ditemukan kelainan
THT
: sekret (-), palpasi pada daerah sinus maksilaris tidak nyeri
Mulut
: stomatitis (-), gigi rapi, terlihat agak kekuningan
Leher
: tidak terdapat pembesaran KGB dan pembesaran tiroid.
Paru
: vesikuler (+/+), ronkhi (-), whezzing (-)
Jantung
: BJ 1- BJII reguler, gallop (-), murmur (-)
10

Abdomen

: Cembung, supel, tidak ada nyeri tekan, bising usus normal

Ekstremitas

: Akral hangat, capillary refill time <2, tidak ada edema

Kulit

: dalam batas normal

b. Status Neurologis
GCS : 15
Tanda Rangsangan Meningeal

: Negatif

Tanda efek ekstrapiramidal

: Tidak ditemukan

Motorik

: 5/5/5/5

Sensorik

: dalam batas normal

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Telah diperiksa seorang laki-laki berusia 44 tahun, agam Islam, suku Sunda,
pekerjaan sebagai TNI AD dengan status menikah. Pemeriksaan dilakukan di Bangsal
Paviliun Amino pada tanggal 4 Maret 2016. Pasien dirawat pada tanggal 18 Februari
dengan keluhan marah-marah sejak 2 minggu SMRS. Berdasarkan alloanamnesis
bersama dengan istri pasien, pasien sering marah-marah terutama jika tidak minum
obat. Selain itu pasien juga sering mengatakan bahwa banyak laki-laki yang
menyukai istrinya. Kemudian pasien juga membeli keris yang dipatahkan dan
ditusukan ke kasur dan membuat istri dan anaknya takut.
Pasien pertama kali dirawat pada tahun 1993 setelah pulang bertugas dari
Timor Timur, pada saat perang pasien tidak sengaja menembak temannya hingga
meninggal sejak saat itu pasien menjadi pendiam, sering menangis dan marah-marah.
Sejak saat itu pasien sering bolak-balik masuk bangsal jiwa, sedikitnya 3 kali dalam
setahun.
Pasien terakhir kali dirawat pada bulan November 2015 dan pasien menjalani
rawat jalan. Ketika pasien dalam keadaan terkontrol, pasien sering membantu istrinya
berjualan di warung. Namun pasien malas minum obat karena pasien merasa
mengantuk dan mengganggu pekerjaan pasien sehingga pasien hanya minum obat
sekali sehari sebelum tidur.
Satu hari sebelum masuk rumah sakit tiba-tiba pasien marah dan memukul
istri serta anaknya kemudian istrinya mengadukan perbuatan pasien pada teman
dikesatuannya dan membawa pasien ke RSPAD.
11

Pasien mengatakan merasa gelisah dan merasa stres sehingga pasien marahmarah pada orang disekitarnya. Pasien juga kesal pada istrinya yang tidak menuruti
perkataannya untuk tidak berbicara dengan laki-laki lain karena pasien yakin bahwa
laki-laki yang belanja diwarungnya hanya ingin mendekati istrinya dan pasien juga
marasa istrinya tidak melayani secara batin. Kemudian tiba-tiba pasien bercerita pada
tahun 1993 pasien dikirim ke Timor Timur untuk perang. Disana pasien menembak
banyak orang kemudian pasien tidak sengaja menembak temannya hingga tewas dan
membuat pasien merasa bersalah sampai sekarang. Pasien juga bercerita mengenai
batu cincin yang dipakainya memiliki kekuatan, seperti untuk membuat mental
lawannya dan memikat wanita. Lalu pasien mengaku ada suara yang terdengar di
telinga pasien yang memerintahkan pasien untuk mengumpulkan kekuatan
supranatural karena pasien juga diincar oleh orang lain, suara tersebut juga bilang
bahwa pasien bodoh dan miskin, kadang-kadang suara tersebut juga menyalahkan
pasien atas kematian temannya. Karena pasien merasa terganggu dan tidak bisa tidur
nyenyak sehingga akhirnya pasien marah-marah. Kemudian pasien bercerita bahwa ia
memikirkan pekerjaannya yang tidak naik pangkat dan tidak mau pensiun karena
takut tidak bisa membiayai istri dan anaknya yang masih sekolah.
Pada pemeriksaan status mental tanggal 4 Maret 2016 tampak pasien
berpakaian rapi menggunakan baju berwarna abu-abu bergaris dan memakai celana
tentara, penampilan sesuai dengan usia, perawatan diri kurang. Perilaku dan aktivitas
psikomotorik pasien baik, terlihat pasien dapat bergaul dengan pasien bangsal
lainnya. Selama wawancara pasien duduk dengan tenang di kursi, kontak mata pasien
dengan pemeriksa baik. Sikap pasien dengan pemeriksa kooperatif dalam menjawab
pertanyaan, dan jawaban sesuai dengan pertanyaan namun jawaban sering tidak
rasional dan melompat-lompat. Pembicaraan spontan dalam menjawab, volume
sedang, artikulasi jelas. Mood disforik, afek tidak sesuai. Pada gangguan persepsi
ditemukan halusinasi auditorik. Proses pikir inkoheren dengan isi pikir waham
bizzare, waham cemburu, dan banyak ide. RTA terganggu dengan tilikan derajat dua.
Pada pemeriksaan fisik status interna dan neurologis dalam batas normal dan
tidak ditemukan kelainan.
VI. FORMULASI DIAGNOSTIK
Aksis I
12

Berdasarkan anamnesis, riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan, pada


pasien ini ditemukan adanya pola perilaku, pikiran, dan perasaan yang secara klinis
bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability)
dalam fungsi pekerjaan dan sosial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III dapat
disimpulkan bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa.
Anamnesis, riwayat penyakit medis, pasien tidak pernah mengalami trauma
kepala atau penyakit lainnya yang secara fisiologis dapat menimbulkan disfungsi otak
sebelum menunjukkan gejala gangguan jiwa. Oleh karenanya, gangguan mental
organik dapat disingkirkan (F00-09). Pada pasien tidak didapatkan riwayat
penggunaan alkohol atau zat psikoaktif sebelum timbul gejala penyakit yang
menyebabkan perubahan fisiologis otak, sehingga kemungkinan adanya gangguan
mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif dapat disingkirkan (F10-19).
Pada pasien terdapat adanya gangguan dalam penilaian realita karena adanya
psikopatologi gangguan persepsi yaitu halusinasi auditorik. Gangguan isi pikir yaitu
waham bizzare, waham cemburu. Gejala tersebut dialami pasien selama kurang lebih
21 tahun, sehingga dapat digolongkan kedalam gangguan Skizofrenia (F20). Maka
dari itu, berdasarkan PPDGJ III ditegakkan diagnosis untuk aksis I adalah Skizofrenia
Paranoid (F20.0).

Aksis II
Belum ada diagnosis untuk aksis II. Pada pasien terdapat ketergantungan
terhadap pamanya, setiap keputusan selalu dikonfirmasi ke pamanya dan keengganan
untuk meminta sesuatu. Gambaran kepribadian dependen.
Aksis III
Belum ada diagnosis untuk aksis III karena tidak ditemukan kelainan organik
yang berhubungan dengan kondisi medis umum pasien.
Aksis IV

13

Pada aksis IV ditemukan adanya masalah yang berkaitan dengan hubungan


antara keluarga dengan pasien yang kurang dekat karena semenjak usia muda sampai
berkerja pasien dirawat oleh pamannya. Selain itu perasaan bersalah pasien karena
merasa bertanggung jawab atas kejadian dimasa lalu, serta kekhawatiran pasien akan
masa depan keluarganya.
Aksis V
Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assessment
Of Functioning (GAF) menurut PPDGJ III, didapatkan GAF tertinggi dalam satu
tahun terakhir (HLPY) didapatkan 40-31 yakni beberapa disabilitas dalam hubungan
dengan realita & komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi. Untuk saat ini
nilai GAF adalah 40-31 yakni beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita &
komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi.

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I
: Skizofrenia Paranoid (F20.0)
Aksis II : Belum dapat didiagnosis. Gambaran kepribadian dependen
Aksis III : Belum ditemukan diagnosis
Aksis IV : Masalah dalam keluarga dan masa lalu
Aksis V : GAF saat ini 40-31, HLYP 40-31
VIII. DAFTAR MASALAH
a. Organobiologik : Tidak ditemukan kelainan
b. Psikologik
1.
Gangguan Persepsi : Halusinasi auditorik
2.
Proses pikir
: Inkoheren
3.
Isi pikir
: Waham cemburu, waham bizzare, banyak ide
4.
RTA
: Terganggu
5.
Tilikan
: Derajat 2
c. Lingkungan dan Sosioekonomi
Hubungan pasien dengan keluarga, tetangga dan rekan kerja baik ketika
pasien terkontrol dengan obat. Namun dikarenakan pasien tidak minum obat
dengan teratur membuat pasien sering marah-marah sehingga membuat keluarga,
tetangga dan rekan kerjanya takut dan cenderung menjauhi pasien.

IX. DIAGNOSIS
14

Diagnosis Kerja

: F20.0 Skizofrenia Paranoid

Diagnosis Banding : F20.1 Skizofrenia Hebefrenik


F25.0 Skizoafektif tipe Manik
X.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad sanationam
Quo ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad malam
: dubia ad malam

XI. RENCANA TERAPI


a. Farmakologi
1) Seroquel XR 2 x 400 mg
2) Trihexyphenydil 2 x 2 mg
b. Non-Farmakologi
1) Terhadap pasien Psikoterapi suportif:
Memberikan penjelasaan pada pasien yang bersifat komunikatif, edukatif
dan informatif tentang keadaan pasien sehingga pasien dapat menjaga
kepatuhan minum obat, mengerti tentang gangguan yang dideritanya dan
juga menyadari bahwa ada kemungkinan bahwa keluhan-keluhan yang
dideritanya disadari oleh faktor psikologis
Mengembalikan pasien pada fungsi optimal terutama dalam kehidupan
sosioekonomi, minimal pasien bisa menjalani aktivitas sehari-hari dan
merawat kebersihan diri dengan baik.
2) Kepada keluarga
Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif, informatif dan edukatif
mengenai penyebab penyakit pasien, gejala-gejalanya, faktor-faktor yang
memberatkan. Sehingga keluarga bisa menerima dan mengerti keadaan
pasien serta mendukung proses terapi dan mencegah kekambuhan.
Keluarga diharapkan mampu mengawasi kepatuhan pasien untuk kontrol
minum obat maupun kontrol berobat jika obat habis untuk memantau
perjalanan penyakit pasien dan tindak lanjut dari pengobatan yang didapat
pasien.
XII.

DISKUSI

15

Pada pasien dapat ditemukan adanya kriteria diagnostik Skizofrenia,


berdasarkan PPDGJ-III untuk kriteria Skizofrenia Paranoid, didapatkan kriteria
skizofrenia yaitu halusinasi auditorik, waham cemburu dan waham bizzare.
Berdasarkan PPDGJ III yang merujuk ke DSM IV, seseorang dikatakan
gangguan jiwa atau gangguan mental jika ditemukan adanya perubahan terhadap pola
perilaku atau psikologik seseorang, yang secara klinik menimbulkan distress
(penderitaan) dan disabilitas dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari serta
perawatan diri. Pada pasien didapatkan adanya gangguan pada pikiran, perasaan,
serta perilaku pasien yang menimbulkan hendaya dan disfungsi dalam keseharian.
Maka, pasien dapat dikatakan mengalami gangguan jiwa.
Pada pasien ini terdapat waham cemburu, waham bizzare, dan halusinasi
auditorik yang menonjol. Gejala gejala tersebut berlangsung bertahun-tahun, dan
juga mengakibatkan pasien mengalami perubahan mutu kehidupan, tidak bisa
mengurus diri, hilangnya minat, dan hidup tidak bertujuan. Semua hal ini sesuai
dengan gejala skizofenia.
Untuk menegakkan sebuah diagnosis, hierarki diagnosis psikiatri harus
digunakan. Pada pasien ini, tidak ada riwayat trauma pada kepala, nyeri kepala,
pusing, mual, demam tinggi ataupun kejang. Pada pemeriksaan fisik juga tidak
ditemukan kelainan. Sehingga kecurigaan ke arah diagnosis gangguan mental
organik dapat disingkirkan. Selain itu, perlu diperhatikan diagnosis ke arah gangguan
mental akibat zat psikoaktif. Pasien merokok sejak lama sampai sekarang, tetapi
selain itu pasien tidak menggunakan zat psikoaktif lainnya dan tidak juga
mengkonsumsi alkohol. Dengan data tersebut diagnosis gangguan psikotik akibat
penggunaan zat psikoaktif dapat disingkirkan juga. Maka dapat disimpulkan bahwa
gangguan pasien adalah murni akibat gangguan psikotik primer bukan sekunder
karena kondisi medis lainnya.
Pasien ini didiagnosis dengan skizofrenia paranoid (F20.0). Skizofrenia
ditunjukkan dengan adanya gejala berupa waham dan halusinasi pada pasien. Untuk
menegakkan diagnosis skizofrenia paranoid, pasien harus memenuhi kriteria
skizofrenia terlebih dahulu.
Diagnosis umum skizofrenia (F20.-) berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ-III :
16

A. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) : (memenuhi 2 dari 4

kriteria dengan jelas)


Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun

kualitasnya berbeda .
Thought insertion = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
(insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesatu dari luar dirinya

(withdrawal) .
Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar ke luar sehingga orang lain atau umum

mengetahuinya. Tidak ada


Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan

tertentu dari luar.


Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan

tertentu dari luar .


Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar (tentang dirinya = secara jelas merujuk ke pergerakan

tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan atau penginderaan khusus) .


Delusional perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat

khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.


Halusinasi auditorik :
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilaku pasien
dan terkadang memerintah pasien untuk melakukan suatu tindakan, contohnya suarasuara yang menyalahkan kematian temannya dan memerintah pasien untuk

mengumpulkan kekuatan supranatural.


Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang

berbicara) .
Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. Pada pasien

tidak didapatkan gejala ini.


Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap

tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalya
mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dari dunia
lain) . pada pasien ini didapatkan adanya waham bizzare yang menetap.
17

B. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

(memenuhi 2 dari 4 kriteria)


Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulanbulan terus menerus , halusinasi auditorik (mendengar suara yang menganggu dan

memerintah pasien melakukan tindakan)


Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation), yang
berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme, seperti

yang didapatkan pada pasien.


Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mustisme, dan stupor, pada pasien

tidak dipapatkan gejala seperti ini.


Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan
diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

C. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal). gejala yang
dialami pasien berlangsung kurang lebih 21 tahun, episode terakhir berawal dari
bulan februari sampai sekarang.
D. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara
sosial. Saat rutin dalam pengobatan pasien dapat berfungsi dengan lebih baik dalam
hal sosial maupun pekerjaan, namun saat kambuh pasien tidak dapat melakukan
fungsi sosial maupun pekerjaannya.
Pasien sesuai dengan kriteria diagnostik skizofrenia (F20).

18

Diagnosis skizofrenia dilanjutkan dengan menegaskan sub-tipe gangguan yang


dialami pasien, dengan kecurigaan ke arah tipe paranoid, pasien lebih menunjukkan
gejala waham dan halusinasi. Diagnosis skizofrenia paranoid (F20.0) berdasarkan
a.
b.

a.

kriteria diagnostik PPDGJ-III :


Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
Sebagai tambahan :
Halusinasi dan/atau waham harus menonjol.
Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung
(humming) atau bunyi tawa (laughing) pasien mendengar suara yang memberi
perintah pada pasien untuk mengumpulkan kekuatan supranatural dan menyalahkan

pasien atas kematian temannya.


b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain
perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol pasien.
c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of
control), atau passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang
beraneka ragam, adalah yang paling khas pada pasien didapatkan waham bizzare
dimana pasien merasa memiliki banyak kekuatan supranatural.
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara
relatif tidak nyata / tidak menonjol memenuhi kriteria ini.
Pasien memenuhi seluruh kriteria diagnostik yang dipaparkan sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa diagnosis pasien adalah skizofrenia paranoid (F20.0).
Pada pasien ini juga bisa dibuat diferensial diagnosis skizofrenia hebefrenik
(F20.1). Karena sudah memenuhi kriteria skizofrenia dan terdapat gejala seperti afek
tidak serasi dan proses pikir inkoheren. Diagnosis skizofrenia hebefrenik berdasarkan
kriteria diagnostik PPDGJ III :

Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia


Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau
dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).

19

Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary),


namun tidak harus demikian untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut
ini
Untuk meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan
lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar
bertahan :perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta
manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan perilaku
menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan. Afek pasien yang dangkal
(shallow) tidak wajar (inaproriate), sering disertai oleh cekikikan (gigling) atau
perasaan puas diri (self-satisfied), senyum-senyum sendiri (self absorbed smiling)
atau sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyerigai, (grimaces), manneriwme,
mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakal dan ungkapan
dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases), dan proses pikir yang
mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang tak menentu (rambling) dan
inkoheren. Pada pasien terdapat afek tidak wajar (inapropiate) dan proses pikir yang
inkoheren.
Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir biasanya
menonjol, halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol ) fleeting and
fragmentaty delusion and hallucinations, dorongan kehendak (drive) dan yang
bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga prilaku tanpa
tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan tampa
maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan
bersifat dibuat-buar terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin
mempersukar orang memahami jalan pikirannya.
Diagnosis skizofrenia hebefrenik tidak dapat ditegakkan karena tidak sesuai
dengan kriteria diagnostiknya. Pada pasien ini waham atau halusinasi sangat
menonjol. Gejala lainya yang memperkuat diagnosis seperti afek yang tumpul dan
gerakan disorganisasi (seperti mannesrisme) tidak ada pada pasien.

20

Pada pasien ini juga di pertimbangkan diagnosis skizoafektif tipe manik.


Karena terdapat gejala seperti waham, halusinasi, percepatan dan jumlah bicara.
Diagnosis skizoafektif (F25) berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ III :

Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif


adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama
menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari
yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan
bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi

kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.


Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan

gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.


Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami
suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-skizofrenia).
Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis
manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau campuran dari keduanya (F25.2).

Pasien lain mengalami satu atau dua episode manik atau depresif (F30-F33).
Kriteria diagnostik skizoafektif tipe manik (F25.0) menurut PPDGJ-III :
Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik tunggal
maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe

manik.
Gangguan
meningkat

skizoafektif
secara

begitu menonjol

tipe

menonjol

dikombinasi

manik
atau

dengan

didiagnosis

ada

apabila

peningkatan

iritabilitas

atau

gejala

afek

yang

tidak

kegelisahan

yang

afek

memuncak.
Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik dua
gejala skizofrenia yang khas
Pada pasien ini tidak dapat dibuat diagnosis skizoafektif tipe manik karena

hanya terdapat gejala-gejala definitif skizofrenia yang menonjol tanpa gejala-gejala


gangguan afektif yang tidak menonjol.
Pada pasien ini belum dapat didiagnosis adanya gangguan kepribadian. Pada
pasien terdapat ketergantungan terhadap pamanya, setiap keputusan selalu
dikonfirmasi ke pamanya dan keengganan untuk meminta sesuatu. Pasien memiliki

21

ciri kepribadian dependen. Pada PPDGJ-III kriteria gangguan kepribadian dependen


dengan ciri-ciri :
Mendorong atau membiarkan orang lain untuk mengambil sebagian besar

keputusan penting untuk dirinya;


Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia

bergantung, dan kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka;


Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang dimana

tempat ia bergantung;
Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena ketakutan yang

dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus dirinya sendiri.


Preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya,

dan dibiarkan mengurus dirinya sendiri.


Terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat

nasehat yang berlebihan dan dukungan dariorang lain


Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
Pasien dapat diterapi dengan psikofarmaka. Karena pasien didiagnosis

Skizofrenia

Paranoid,

maka

pasien

diberikan

obat

yaitu

Seroquel

dan

Trihexyphenidyl. Seroquel adalah nama dagang dari Quotiapine dan termasuk


golongan antipsikotik atipikal, yang merupakan derivate dibenzotiazepin yang
bekerja sebagai antagonis 5-HT1A dan 5HT2A, dopamine D1,D2, histamine H1 serta
reseptor adrenergik 1 dan 2. Memiliki afinitas yang rendah terhadap kolinergik
menyebabkan kurangnya resiko efek samping antikolinergik. Quetiapin merupakan
antipsikotika yang efektif dengan kisaran antara 300-800mg/hari. Ada bukti yang
menunjukkan efektivitasnya lebih tinggi pada dosis yang lebih besar (>800mg/hari).
Quetiapin tersedia dalam bentuk IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100mg,
200mg, dan 300mg. Selain itu juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300mg dan
400mg, satu kali per hari. Secara umum, quetiapin ditoleransi dengan baik. Resiko
efek samping ekstrapiramidal, abnormalitas konduksi kardiak, efek antikolinergik,
peningkatan prolactin dan efek samping seksual sangat rendah sedangkan resiko
sedasi cukup tinggi. Resiko hipotensi ortostatik, takikardi, peningkatan berat badan
dan abnormalitas metabolik derajatnya sedang. Resiko terjadinya akatisia sangat
rendah. Selama fase titrasi dan awal pengobatan, adanya sedasi, hipotensi ortostatik,
dan takikardi harus dipantau. Quetiapin dapat diberikan dua kali perhari karena paruh
22

waktu eliminasinya enam jam. Pemberian dosis besar lebih baik diberikan pada
malam hari, terutama pada awal pengobatan, karena dapat memperbaiki toleransi
terhadap sedasi.
Trihexyphenydil

adalah

obat

yang

digunakan

untuk

mengatasi

gejala

parkinsonisme, pada pasien ini diberikan karena obat antipsikotik dosis tinggi
memiliki efek samping berupa gejala Parkinson, sehingga gejala Parkinson ini
dicegah dengan pemberian Trihexyphenydil. Target efek samping dari pengobatan ini
seperti akathisia, dystonia, dan parkinsonism. Triheksifenidil adalah antikolinergik
yang mempunyai efek sentral lebih kuat daripada perifer, sehingga banyak digunakan
untuk terapi penyakit parkinson. Senyawa ini bekerja dengan menghambat pelepasan
asetil kolin endogen dan eksogen. Efek sentral terhadap susunan saraf pusat akan
merangsang pada dosis rendah dan mendepresi pada dosis toksik. Trihexyphenidyl
tersedia dalam sediaan tablet 2 mg. Indikasi pemberian obat ini adalah gangguan
ekstrapiramidal yang disebabkan oleh obat-obatan SSP dan Parkinson. Kontraindikas
pemberian obat ini adalah hipersensitifas terhadap triheksifenidil atau komponen lain
dalam sediaan, glaukoma sudut tertutup, obstrusksi duodenal atau pyloric, peptik
ulcer, obstruksi saluran urin, achalasia; myastenia gravis. Adapun dosis pemberiannya
adalah :

Parkinson idiopatik : Dosis awal 1 mg (hari pertama), kemudian ditingkatkan

menjadi 2 mg, 2-3 x sehari selama 3-5 hari atau sampai tercapai dosis terapi;
Pasca ensefalitis: 12-15 mg/hari
Parkinson karena obat (gangguan ekstrapiramidal): Dosis harian total 5-15mg/hr,

pada awal terapi dianjurkan 1 mg/dosis.


Pasien > 65 thn perlu dosis lebih kecil.
Efek samping yang dapat ditimbulkan berupa mulut kering, penglihatan kabur,
pusing, cemas, konstipasi, retensi urin, takikardi, dilatasi pupil, TIO meningkat, sakit
kepala.
Pengaturan dosis dalam pemberian terapi biasanya dimulai dengan dosis awal,
dinaikkan secara cepat sampai mencapai dosis efektif, dinaikkan secara gradual
sampai mencapai dosis optimal dan dipertahankan untuk jangka waktu tertentu
sambil disediakan terapi yang lain, kemudian diturunkan secara gradual sampai
23

mencapai dosis pemeliharaan, yaitu dosis terkecil yang masih mampu mencegah
kambuhnya gejala.
Perlu diperhatikan bahwa selain psikofarmaka, juga dibutuhkan psikoterapi
berupa penjelasan yang komunikatif, edukatif, dan informatif tentang penyakit pasien
kepada pasien dan keluarga, sehingga meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga
tentang perjalanan penyakit, pengenalan gejala, pengobatan (tujuan pengobatan,
manfaat dan efek samping). Peran keluarga diharapkan dapat mendukung usaha
pengobatan pasien, terutama dalam hal kepatuhan minum obat dan keluarga lebih
supportif mengenai masalah kehidupan pribadi pasien (membantu mengatasi atau
memberi nasehat), sehingga pasien sebagai individu dapat berfungsi secara optimal.
Psikoterapi adalah suatu cara pengobata terhadap emosional seorang pasien
yang dilakukan oleh seorang yang terlatih dalam hubungan professional secara
sukarela, dengan maksud hendak menghilangkan, mengubah atau menghambat
gejala-gejala yang ada, mengoreksi perilaku yang terganggu dan mengembangkan
pertumbuhan kebribadian secara positif. Pada pasien ini terdapat kesulitan
menyesuaikan diri sehingga menyulitkan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.
Sesuai

dengan

tujuan

psikoterapi

yaitu

menguatkan

daya

tahan

mental,

mengembangkan mekanismeyang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan


kontrol diri,dan mengembalikan keseimbangan adaptif. Karena itu perlu dilakukan
psikoterapi pada pasien ini. Bisa dilakukan secara persuasi yaitu dengan menerangkan
yang masuk akal tentang timbulnya gejala-gejala serta baik buruknya atau fungsi
gejala-gejala itu. Kritik sendiri tentang diri pasien penting untuk dilakukan.
Selanjutnya bimbingan, yaitu memberi nasihat-nasihat yang praktis dan khusus yang
berhubungan dengan masalah kesehatan jiwa paseien agar lebih sanggup
mengatasinya, misalnya tentang cara mengadakan hubungan antar-manusia, cara
berkomunikasi, bekerja, belajar, dan sebagainya. Selanjutnya konseling, yaitu bentuk
wawancara untuk membantu pasien mngerti dirinya sendiri lebih baik, agar ia dapat
mengatasi suatu masalh lingkungan atau dapat menyesuaikan diri. Bisa juga terapi
kerja, dapat berupa sekadar memberi kesibukan kepada pasien, ataupun berupa
latihan kerja tertentu agar ia terampil dalam hal itu dan berguna baginya untuk
mencari nafkah kelak.

24

XIII. SKEMA PERJALANAN PENYAKIT

25

DAFTAR PUSTAKA
Maslim, Rusdi. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III dan DSM V), Cetakan
kedua. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
Maslim, Rusdi. (2007). Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik, edisi
ketiga. : Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya
Sadock BJ, Sadock VA. (2013). Kaplan & Saddock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2.
Jakarta: EGC,
Agus, Dharmady. Psikopatologi. (2003). Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa dan
Perilaku Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

26