Anda di halaman 1dari 3

PERSALINAN DENGAN DISTENSI UTERUS

Pembesaran uterus yang lebih besar pada saat kehamilan bisa disebabkan oleh
unsure uterus, air ketuban, plasenta, ataupun janinnya sendiri. Pembesaran uterus
sendiri paling sering disebabkan oleh tumor jinak uterus seperti mioma uteri dan
adenomiosis. Faktor air ketuban yang merenggang uterus lebih dari biasanya
disebabkan
oleh
polihidroamnion.
Polihidroamnion
ditegakkan
diagnosis
berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi yang memberikan nilai pengukuran satu
kantong air ketuban yang terdalam secara vertical melebihi angka 80 mm.
berdasarkan kedalaman angka tersebut digolongkan polihidroamnion ringan (80mm
- 99mm), sedang (100mm - 120mm), dan berat (>120 mm).
Dari unsure janin pembesaran uterus dapat disebabkan jumlah janin ataupun
ukuran janin sendiri. Pada kehamilan dengan janin tunggal, regangan uterus akan
terjadi kalau janinnya sendiri besar. Ukuran besarnya janin perlu dibandingkan
dengan ukuran tinggi dan berat ibu. Dari segi jumlah janin,untuk kehamilan ganda
tidaklah bermasalah kalau letak janin memenuhi untuk dilahirkan pervaginam.
Eiring dengan regangan uterus cukup sering terjadi persalinan sebelum waktunya.
Karena regangan uterus selama kehamilannya, penanganan proses persalinan dan
sesudahnya memerlukan perhatian.
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan pada saat meakukan
persalinan dengan regangan uterus sebagai berikut :

pertolongan

1. Mengantisipasi terjadinya pelepasan plasenta sebelum waktu (solution


placentae)
2. Prolaps tali pusat saat ketuban pecahan
3. Kelainan letak janin seperti letak miring, lintang
4. Gawat janin
5. Retensio plasenta
6. Perdarahan pascapersalinan
Adanya mioma uteri intramural yang besar serta berlokasi di daerah korpus bawah
akan menggangu timbulnya kontraksi uterus yang terkoordinasi, teratur dan
progresif. Ini disebabkansifat jaringan miom yang berbeda dengan jaringan
miometrium normal yang mempunyai sifat kontraktil. Sifat miom yang demikian
menggangu
kontraksi
sehingga
menghambat
jalannya
kontraksi
yan
berkesinambungan, dan member dampak baik pada prose saat persalinan maupun
pasca persalinan. Perlu diantisipasi terjadinya perdarahan dan involusi uterus.
Penyulit pada kehamilan dengan mioma uteri biasanya adalah persalinan sebelum
waktu, angka persainan dengan pembedahan meningkat, perdarahan persalinan,
dan proses nifas yang bermasalah.
Adenomiosis merupakan faktor yang empengaruhi kesuburan. Dengan adanya
adenomiosis uteri dan berhasilnya janin mencapai usia cukup buan, keputusan cara
pengakhiran kehamilan perlu dipertimbanga baik. Adenomiosis sendiri terutama

mempengaruhi persalinan kala I dan kala III. Sering diperlukan bantuan oksitosin
intravena agar memacu dan memperkuat kontraksi.
Plasenta dengan tumor berupa choringoangioma biasanya diikuti kegagalan jantung
janin dan plihidroamnion. Regangan uterus disebabkan oleh air ketuban yang
berlebihan.
Persalinan dengan air ketuban yang banyak perlu diperhatikan saat ketuban pecah.
Jangan sampai saat ketuban pecah, air ketuban mendadak keluar dalam jumlah
banyak karena ditakutkan tali pusat menumbung ke luar. Selain itu saat ketuban
pecah, bagian terbawah janin perlu diperhatikan, jangan sampai terjadi kelainan
presentasi. Setelah air ketuban keluar, pengawasan denyut jantung janin harus
dicermati. Keluarnya air ketuban yang tiba-tiba juga ditakutkan akan terjadinya
pelepasan plasenta sebelum waktunya. Setelah melahirkan un, kasus dengan
polihidroamnion perlu diantisipasi terjadinya perdarahan kala III. Infuse dengan
oksitoin haru selalu terpasang.
Pada makrosomia uterus yang membesar sudah teregang terus pada waktu usia
kehamilan menjelang melahirkan. Kelelahan miometrium perlu diperhitungkan.
Terlebih lahi kasus multipara dan kala I yang lama,kemungkinan terjadi perdarhan
kala III harus diantisipasi. Begtu bayi lahir, infuse oksitosin sudah harus jalan.
Kecepatan tetesan dan dosis disesuaikan dengan kontraksi rahim di kala III.
Karena kemungkinan terjadi perdarahan pascapercalinan pada kasus ditensi uterus,
maka penatalaksanaan kala III sangat diperlukan. Tahap penanganan kala III diawali
dengan menyingkirkan ada-tidaknya hipotoni/atonia uteri. Kalau tidak ada, robekan
jalan lair harus di eksplorasi. Kalau ada sisa kotiledon yang tertinggal, lakukan
kuretase.
Untuk atonia uteri, pertama-tama tindakan bimanual, pemasangan dextrose 5%
500ml dengan oksitosin 20 IU, injeki metergin I.V 1 ampul dan tablet misoprostol 3
tablet per rectal. Jika tindakan diatas belum memadai, dilanjutkan ligasi arteria
uterine. Jika belum juga teratasi maka histerktomi merupakan tindakan teakhir.
Penyebab HPP :
1. Atonia uteri
2. Pengaruh obat bius umum
3. Jaringan miometrium yang kurang mendapatkan darah (hypoperfusion)
4. Uterus terdistensi
5. Partus lama
6. Partus cepat
7. Kasus induksi atau akselerasi dengan oksitosin
8. Multiparitas
9. Riwayat atonia uteri pada partus sebelumnya
10.Korioamnionitis
11.Retensio plasenta atau sisa plasenta

12.Plasenta adhesiva