Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PEMDAHULUAN

A. KASUS (MASALAH UTAMA) : PRILAKU KEKERASAN


B. PROSES TERJADINYA MASALAH
1. Pengertian masalah utama
Prilaku kekerasan adalah suatu keadaan emosi yang merupakan
campuan perasaan frustasi dan benci atau marah. Hal ini didasarkan
keadaan emosi secara mendalam dari setiap orang sebagan penting dari
keadaan emosional kita yang dapat di proyeksikan ke lingkungan ke
lingkungan, ke dalam diri atau secara secara deduktif. (Yosep, 2011)
Perilaku kekerasan adalah reaksi yang ditampakan / ditampilkan oleh
individu dalam menghadapi masalah dengan melakukan tindakan
penyerangan terhadap stessor, dapat juga merusak dirinya sendiri, orang
lain maupun lingkungan dan setiap bermusuhan (Rasmun, 2001).
Prilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada
dirinya sendiri maupun orang lain, disertai marah dan gaduh gelisah yang
tidak terkontrol (Hartono, 2010)
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik pada dirinya sendiri
maupun orang lain disertai dengan amuk dan gaduh gelisah yang tak
terkontrol (Kusumawati, 2010)
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang, baik secara fisik maupun psikologis. Perilaku
kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri,
orang lain, dan lingkungan (Keliat, 2012).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,
orang lain maupun lingkungan (Stuart, 2009)

2. Rentang respon
Respon Adaptif

Asertif

Frustasi

Respon Maladaptif

Pasif

Agresif

Kekerasan

Perasaan marah adalah perasaan normal tiap individu, namum


perilaku yang dimanifestasikan dapat berfungsi sepanjang rentang adaptif
dan maladaptif.
Keterangan:
a. Asertif
Kemarahan yang diungkapkan tanpa mneyakiti orang laindan tidak
menimbulakan masalah
b. Frustasi
Kegagalan mencapai tujuan karena tidak realistik atau terhambat dan
individu tidak menemukan alternatif lain
c. Pasif
Respin lanjut, dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan
d. Agresif
Perilaku destruktif (memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut,
mendekati

oarang

lain

dengan

ancaman,

memberikan

kata

ancaman)tapi masih terkontrol


e. Kekerasan dapat juga disebut amuk
Yaitu perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan
kontrol individu dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan
atau dapat disebut perilaku destruktif tidak terkontrol
3. Manifestasi klinik
Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku
kekerasan adalah sebagai berikut:
a. Fisik
1) Muka merah dan tegang
2) Mata melotot/ pandangan tajam
3) Tangan mengepal
4) Rahang mengatup
5) Postur tubuh kaku
6) Jalan mondar-mandir

b. Verbal
1) Bicara kasar
2) Suara tinggi, membentak atau berteriak
3) Mengancam secara verbal atau fisik
4) Mengumpat dengan kata-kata kotor
5) Suara keras
6) Ketus
c. Perilaku
1) Melempar atau memukul benda/orang lain
2) Menyerang orang lain
3) Melukai diri sendiri/orang lain
4) Merusak lingkungan
5) Amuk/agresif

d. Emosi
Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan
jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi,
menyalahkan dan menuntut.
e.

Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.
f. Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang
lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar.
g. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.
h. Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.
Tanda dan gejala, perilaku kekerasan yaitu suka marah,
pandanganmata tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat, sering pula
memaksakankehendak, merampas makanan dan memukul bila tidak
sengaja. (Stuart & Sundeen,1995)
a. Emosi : Jengkel, marah (dendam), rasa terganggu, merasa takut, tidak
aman, cemas.
b. Fisik : Muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat, sakit
fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat.
c. Intelektual : Mendominasi, bawel, berdebat, meremehkan.
d. Spiritual : Keraguan, kebijakan / keberanian diri, tidak bermoral,
kreativitas terhambat.
e. Sosial : Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan,
humor
4. Kemungkinan penyebab
a. Faktor Predisposisi
Menurut Riyadi dan Purwanto ( 2009 ) faktor-faktor yang mendukung
terjadinya perilaku kekerasan adalah
1) Faktor biologis
- Intinctual drive theory (teori dorongan naluri) : Teori ini
menyatakan bahwa perilaku kekerasan disebabkan oleh suatu
-

dorongan kebutuhan dasar yang kuat.


Psycomatic theory (teori psikomatik) : Pengalaman marah
adalah akibat dari respon psikologis terhadap stimulus eksternal,
internal maupun lingkungan. Dalam hal ini sistem limbik
berperan sebagai pusat untuk mengekspresikan maupun

menghambat rasa marah.


2) Faktor psikologis
Frustasion aggresion theory ( teori argesif frustasi) : Menurut
teori ini perilaku kekerasan terjadi sebagai hasil akumulasi
frustasi yang terjadi apabila keinginan individu untuk mencapai
sesuatu

gagal

atau

terhambat.

Keadaan

tersebut

dapat

mendorong individu berperilaku agresif karena perasaan frustasi


-

akan berkurang melalui perilaku kekerasan.


Behavioral theory (teori perilaku) Kemarahan adalah proses
belajar, hal ini dapat dicapai apabila tersedia fasilitas atau situasi
yang mendukung reinforcement yang 8 diterima pada saat
melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan di
rumah atau di luar rumah. Semua aspek ini menstimulai

individu mengadopsi perilaku kekerasan.


Existential theory (teori eksistensi) Bertindak sesuai perilaku
adalah kebutuhan yaitu kebutuhan dasar manusia apabila
kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi melalui perilaku
konstruktif maka individu akan memenuhi kebutuhannya

melalui perilaku destruktif


3) Faktor sosio kultural
- Social enviroment theory ( teori lingkungan ) Lingkungan sosial
akan mempengaruhi sikap individu dalam mengekspresikan
marah. Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif
agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku
kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan
-

diterima.
Social learning theory ( teori belajar sosial ) Perilaku kekerasan
dapat dipelajari secara langsung maupun melalui proses

sosialisasi
b. Faktor Presipitasi
Stressor yang mencetuskan perilaku kekerasan bagi setiap
individu bersifat buruk. Stressor tersebut dapat disebabkan dari
luar maupun dalam. Contoh stressor yang berasal dari luar antara
lain serangan fisik, kehilangan, kematian, krisis dan lain-lain.
Sedangkan dari dalam adalah 9 putus hubungan dengan seseorang
yang berarti, kehilangan rasa cinta, ketakutan terhadap penyakit
fisik, hilang kontrol, menurunnya percaya diri dan lain-lain.Selain
itu lingkungan yang terlalu ribut, padat, kritikan yang mengarah
pada penghinaan, tindakan kekerasan dapat memicu perilaku
kekerasan.
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga
diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri
dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri.
Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif
terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai
keinginan.
Tanda dan gejala :

Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri


sendiri)

Gangguan hubungan sosial (menarik diri)

Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)

Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai


harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.

5. Proses marah
Stress, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang
harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat menyebabkan kecemasan
yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam.
Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan. Berikut ini digambarkan
proses kemarahan :(Beck, Rawlins, Williams, 1986, dalam Keliat, 1996)
Melihat gambar di atas bahwa respon terhadap marah dapat
diungkapkan melalui 3 cara yaitu : Mengungkapkan secara verbal,
menekan, dan menantang. Dari ketiga cara ini cara yang pertama adalah
konstruktif sedang dua cara yang lain adalah destruktif.
Dengan melarikan diri atau menantang akan menimbulkan rasa
bermusuhan, dan bila cara ini dipakai terus menerus, maka kemarahan
dapat diekspresikan pada diri sendiri dan lingkungan dan akan tampak
sebagai depresi dan psikomatik atau agresif dan ngamuk.
6. Perilaku
Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
a. Menyerang atau menghindar (fight of flight)
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf
otonom beraksi terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan
tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar,
sekresi HCl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urine
dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga meningkat diserta
ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh
menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.
b. Menyatakan secara asertif (assertiveness)
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan
kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku
asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah karena
individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang
lain secara fisik maupun psikolgis. Di samping itu perilaku ini dapat
juga untuk pengembangan diri klien.
c. Memberontak (acting out)
Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik perilaku acting
out untuk menarik perhatian orang lain.
d. Perilaku kekerasan

Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri,


orang lain maupun lingkungan
7. Mekanisme koping
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada
penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung
dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart
dan Sundeen, 2009).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena
adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien
marah untuk melindungi diri antara lain : (Maramis, 1998)
a. Sublimasi
Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata
masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan
penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah
melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan
kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk
mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
b. Proyeksi
Menyalahkan orang lain mengenai

kesukarannya

atau

keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang


menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan
sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba
merayu, mencumbunya.
c. Represi
Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan
masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada
orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau
didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua
merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga
perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.
d. Reaksi formasi
Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan,
dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan
menggunakannya sebagai

rintangan.

Misalnya

seorang

yang

tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut


dengan kasar.
e. Displacement
Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan,
pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya
yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun
marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena

menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perangperangan dengan temannya.


8. Kemungkinan akibat bila masalah utama tidak teratasi
Klien dengan perilaku kekerasan dapat melakukan tindakan-tindakan
berbahaya bagi dirinya, orang lain maupun lingkungannya, seperti
menyerang orang lain, memecahkan perabot, membakar rumah dll.
Sehingga klien dengan perilaku kekerasan beresiko untuk mencederai diri
orang lain dan lingkungan.
C. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan
proses

keperawatan yang meliputi 4 tahapan yaitu :

Pengkajian,

perencanaan/intervensi, pelaksanaan/implementasi dan evaluasi, yang masingmasing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan keterampilan
professional tenaga keperawatan.
Proses keperawatan adalah cara pendekatan sistimatis yang diterapkan
dalam pelaksanaan fungsi keperawatan, ide pendekatan yang dimiliki,
karakteristik sistimatis, bertujuan, interaksi, dinamis dan ilmiah. Proses
keperawatan klien marah adalah sebagai berikut : (Keliat, dkk, 2012)
1.
Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dan dasar utama dari proses
keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data, klasifikasi
data, analisa data, dan perumusan masalah atau kebutuhan klien atau
diagnosa keperawatan.
2.

Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan
spiritual.
a.
Aspek biologis
Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom
bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat,
tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat.
Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya
kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal,
tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang
dikeluarkan saat marah bertambah.
b. Aspek emosional
Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya,
jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk,
bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.
c. Aspek intelektual
Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses
intelektual, peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan
lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai
suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah,
mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses,
diklarifikasi, dan diintegrasikan.

d. Aspek social
Meliputi interaksi

sosial,

budaya,

konsep

rasa

percaya

dan

ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang


lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik
tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan
mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras.
Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri
dari orang lain, menolak mengikuti aturan.
e. Aspek spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu
dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki
dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral
dan rasa tidak berdosa.
Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji
individu secara komprehensif meliputi aspek fisik, emosi, intelektual, sosial
dan spiritual yang secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut :
a. Aspek fisik: terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek
dan cepat, berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah
meningkat.
b. Aspek emosi : tidak adekuat, tidak aman, dendam, jengkel.
c. Aspek intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat,
meremehkan.
d. Aspek sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan, ejekan, humor.
3. Klasifiaksi data
Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2 macam
yaitu data subyektif dan data obyektif. Data subyektif adalah data yang
disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini didapatkan melalui
wawancara perawat dengan klien dan keluarga. Sedangkan data obyektif yang
ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui obsevasi atau
pemeriksaan langsung oleh perawat.
4. Analisa data
Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat menentukan
permasalahan yang dihadapi klien dan dengan memperhatikan pohon masalah
dapat diketahui penyebab sampai pada efek dari masalah tersebut. Dari hasil
analisa data inilah dapat ditentukan diagnosa keperawatan.
Pohon Masalah
Resiko mencedrai diri sendiri,orang lain dan lingkungan

Prilaku kekerasan

Gangguan harga diri : konsep diri rendah

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN (NANDA)


1. Resiko prilaku kekerasan terhadap diri sendiri , orang lain/ lingkungan
berhubungan dengan riwayat prilaku kekerasan
2. Kerusakan interaksi social berhubungan dengan perubahan proses fikir
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tingkat kontrol emosi
tidak adekuat
4. Isolasi social berhubungan dengan perubahan proses fikir
5. Ngangguan presepsi sensori : halusinasi perubahan proses fikir
6. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses fikir
Dx

Kriteria Hasil (NOC)

Keperawatan
Resiko

Setelah dilakukan tindakan kepereawatan selama 3x.. Bantuan Kontr

mencerdai diri

pertemuan diharapkan pasien dapat menurunkan prilaku assistance)

sendiri dan

kekerasan pada diri sendiri dan orang lain dengan kriteria

orang lain

hasil :

berhubungan
dengan
riwayat

1. Bina hubung
- prinsip k
Menunjukan pengendalian implus (1405) : kemampuan
- pertahan
untuk menahan prilaku komplusif atau implusif. Ditandai

janji, sik

dengan indicator sebagai berikut :

non verb

prilaku
kekerasan

Intervensi (NIC

1 = tidak pernah, 2 = jarang, 3 = kadang-kadang, 4 = sering,


5 = dilakukan secara konsisten
1. Klien mampu menyebutkan tanda-tanda akan melakukan
kekerasan, seperti perasaan ingin marah, jengkel, ingin
merusak, memukul, dll
2. Klien mampu mengidentifikasi perasaan atau prilaku
tindakan implus untuk diri sendiri atau orang lain
3. Klien bersedia melaporkan saat muncul tanda-tanda

negatif.
2. Observasi ta

klien.
3. Bantu klien m
kekerasan :
- Emosi :
-

merusak
Fisik : m

mata me

tertutup,
- Sosial : k
- Intelektu
beresiko tinggi
- Spiritual
Klien mampu mengungkapkan secara verbal tentang 4. Jelaskan pad
5. Dukung dan
pengendalian terhadap implus
bantuan saat

kekerasan
4. Klien mampu untuk menghindari lingkungan dan situasi

Menunjukan pengendalian agresi : kemampuan menahan

untuk melakuakan serangan, melawan atau prilaku yang Latihan Mengo


Training)
membahayakan orang lain

1. Jelaskan pa
1. Menahan diri dari emosi secara verbal
2. Menahan diri dari membahayakan diri sendiri
3. Menyalurkan energi/ perasaan negatif dengan cara

marah
2. bantu klien
adaptif

4.
5.
6.
7.

yang tepat
Mengkomunikasikan kebutuhan dengan tepat
Mengidentifikasi kapan saat marah
Mengidentifikasi situasi yang memicu permusuhan
Menahan diri dari menghancurkan benda

3. bantu klien

mengeluark

yang adapt
4. beri kesem

mendiskusi
5. anjurkan kl

dipilihnya
6. beri kesem

mendiskusi
7. dipraktikan
8. evaluasi pe

dan telah d

Behaviour man

1. Kaji motiva
2. Administer
3. Ikat pasien

Manajemen Li
Manajemen)

1. Jauhkan ba

dan dimanf
2. Lakukan p
kekerasan

non verbal

orang lain.
3. Tempatkan

restrictive
4. Diskusikan

tindakan se

Gangguan
konsep diri:
harga diri
rendah b/d
koping
individu tidak
efektif

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x 24 jam


1. Bina hubu
diharapkan klien mampu mengontrol diri dan perilaku
menggunaka
kekerasan tidak terjadi dengan kriteria hasil:
Sapa klie
1. klien dapat membina hubungan saling percaya dengan
non verba
perawat
- Perkenalk
2. Klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan
- Tanyakan
kemampuan yang dimiliki
yang disu
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk
- jelaskan t
dilaksanakan.
- Jujur dan
4. klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan
- Tunjukan
kemampuan yang dimiliki
adanya.-B
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai rencana yang
kebutuhan
dibuat.
2.
Diskusikan
d
6. Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang
Aspek
po
ada.
lingkunga

3.

4.

5.

6.

Kemampu
Bersama
Aspek po
Kemampu
Beri Puji
penilaian
Diskusikan
dilaksanakan
Diskusikan k
Rencanakan
dilakukan se
- kegiatan m
- kegiatan d
- Tingkatka
- Beri cont
klien laku
Anjurkan kli
direncanakan
- Pantau ke
- Beri pujia
klien .
- Diskusika
setelah pu
Beri pendidi
cara merawa
- Bantu kel
klien di ra
- Bantu ke
rumah

DAFTAR PUSTAKA
Internasional, NANDA, Herman, T, Heather. (2012). Diagnosis Keperawatan
dan Klasifikasi. (2012-2014). Jakarta : EGC
Keliat, B.A dan Akemat. 2012. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.
Jakarta : EGC.
Kusumawati, F. (2010). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba
Medika Rasmun. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi
Dengan Keluarga. Edisi I. CV. Sagung Seto. Jakarta. 2001
Riyadi dan Purwanto, S. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta :
Graha Ilmu.
Sundeen and stuart. 2009. Buku Saku Keprawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta :
EGC
Yosep, I. (2009). Keperawatan Jiwa, Edisi 2. Jakarta : Refika Aditama.
Yosep, I. (2011). Keperawatan Jiwa, Edisi 4. Jakarta : Refika Aditama.