Anda di halaman 1dari 10

1.

4 Endometrisis
1.4.1 Definisi
Endometritis adalah peradangan yang terjadi pada endometrium, yaitu lapisan sebelah
dalam pada dinding rahim, yang terjadi akibat infeksi bakteri patogen yang naik dari serviks
ke endometrium.1
1.4.2 Etiologi
Bakteri patogen yang turut berperan dalam penyakit ini yaitu Chlamidia trachomatis,
Neisseria gonorrhoeae, Streptococcus agalactiae, HSV Cytomegalovirus, Mycoplasma
hominis. Organisme yang menyebabkan vaginosis bakterial dapat jga menyebabkan
endometritis histologik meskipun pada perempuan tanpa keluhan.1
1.4.3 Keluhan dan Gejala
a. Endometritis kronik
Banyak perempuan dengan endometritis kronik tidak mempunyai keluhan. Keluhan
klasik endometritis kronik adalah pendarahan vaginal intermenstrual. Dapat juga terjadi
pendarahan pascasanggama dan menoragia. Perempuan lain mungkin mengeluh nyeri tumpul
di perut bagian bawah terus menerus. Endometritis menjadi penyebab infertilitas yang jarang.
b. Endometritis akut
Jika endometritis terjadi bersama PID akut maka biasa terjadi nyeri tekan uterus. Sulit
untuk menentukan apakah radang tuba atau endometrium yang menyebabkan rasa tidak enak
di panggul.
1.4.4 Diagnosis
Diagnosis endometritis kronik ditegakkan dengan biopsi dan biakan endometrium.
Gambaran histologik klasik endometritis kronik berupa reaksi radang monosit dan sel-sel
plasma di dalam stroma endometrium (lima sel plasma per lapangan pandangan kuat). Tidak
ada korelasi antara adanya sejumlah kecil sel leukosit polimorfonuklear dengan endometritis
kronik. Pola infiltrat radang limfosit dan sel-sel plasma yang tersebar di seluruh stroma
endometrium terdapat pada kasus endometritis berat. Kadang-kadang bahkan terjadi stroma.
1.4.5 Terapi

Terapi pilihan untuk endometritis kronik adalah doksisiklin 100 mg po 2x1 selama 10
hari. Dapat pula dipertimbangkan cakupan yang lebih luas untuk organisme anerobik
terutama kalau ada vaginosis bakterial. Jika terkait dengan PID akut terapi harus fokus pada
organisme penyebab utama termasuk N.gonorrhoeae dan C.trachomatis, demikian pula
cakupan polimikrobial yang luas.
1.5 Penyakit Radang Panggul
1.5.1 Definisi
Penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease) adalah infeksi pada alat
genital atas yang dapat meliputi endometrium, tuba fallopi, ovarium, miometrium,
parametrium, dan peritoneum. Penyakit ini merupakan komplikasi infeksi bakteri pada
serviks yang menyebar secara ascending menuju ke organ gentalia bagian atas
1.5.2 Epidemiologi
Secara epidemiologik di Indonesia insidennya diekstrapolasikan sebesar lebih dari
850.000 kasus baru setiap tahun. PID merupakan kasus infeksi serius yang paling biasa pada
perempuan umur 16-25 tahun. Terdapat kenaikan insiden PID dalam 2-3 dekade yang lalu
yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adat istiadat, sosial yang lebih liberal,
insidensi patogen menular seksual seperti C.trachomatis dan pemakaian metode kontrasepsi
seperti AKDR. Kurang lebih 15%

kasus PID terjadi setelah tindakan seperti biopsi

endometrium, kuretase, histeroskopi dan inserti AKDR. 85% kasus terjadi secara spontan
pada perempuan usia reproduksi yang secara seksual aktif.
1.5.3 Faktor risiko
Riwayat PID sebelumnya
-

Banyak pasangan seks didefinisikan sebagai lebih dari dua pasangan dalam waktu 30
hari, sedangkan pada pasangan monogami serial tidak didapatkan risiko yang

meningkat.
Infeksi oleh orgaisme menular seksual, dan sekitar 15% pasien dengan gonorea
anogenital tanpa komplikasi akan berkembang menjadi PID pada akhir atau segera

sesudah menstruasi.
Pemakaian AKDR dapat meningkatkan risiko PID 3-5 kali lipat. Risiko PID terbesar
terjadi pada waktu pemasangan AKDR dan dalam 3 minggu pertama setelah
pemasangan.

1.5.4 Patofisiologi
Seperti endometriosis PID disebabkan penyebaran infeksi melalui serviks. Meskipun
PID terkait dengan infeksi menular seksual alat genital bawah tetapi prosesnya polimikrobial.
Salah satu teori patofisiologi adalah bahwa organisme menular seksual seperti N.gonorrhoeae
atau C.trachomatis memulai proses inflamasi akut yang menyebabkan kerusakan jaringan
sehingga memungkinkan akses oleh organisme lain dari vagina atau serviks ke alat genital
atas. Aliran darah menstruasi dapat mempermudah infeksi pada alat genital atas dengan
menghilangkan sumbat lendir serviks, menyebabkan hilangnya lapisan endometrium dan efek
protektifnya serta menyediakan medium biakan yang baik untuk bakteri yaitu darah
menstruasi.
1.5.5 Gejala
Gejala yang paling sering dikemukakan adalah nyeri abdominopelvik. Keluhan lain
bervariasi, antara lain keluarnya cairan vagina atau pendarahan, demam dan menggigil, serta
mual dan disuria. Demam terlihat pada 60-80% kasus.
1.5.6 Diagnosis
Diagnosis PID sulit karena keluhan dan gejala-gejala yang dikemukakan sangat
bervariasi. Pada pasien dengan nyeri tekan serviks, uterus, dan adneksa, PID didiagnosis
dengan akurat hanya 65%. Karena akibat buruk PID terutama infertilitas dan nyeri panggul
kronik maka PID harus dicurigai pada perempuan berisiko dan diterapi secara agresif.
Kriteria minimum untuk diagnosis klinis adalah sebagai berikut:
-

Nyeri gerak serviks


Nyeri tekan uterus
Nyeri tekan adneksa
Kriteria tambahan seperti berikut dapat dipakai untuk menambah spesifitas kriteria

minimum dan mendukung diagnosis PID


-

Suhu oral > 38,3C


Cairan serviks atau vagina tidak normal mukopurulen
Leukosit dalam jumlah banyak pada pemeriksaan mikroskop sekret vagina dengan

salin
Kenaikan LED
Protein reaktif-C meningkat
Dokumentasi laboratorium infeksi serviks oleh N.gonorrhoeae

Kriteria diagnosis PID paling spesifik meliputi:


-

Biopsi endometrium disertai bukti histopatologis endometritis


USG Transvaginal atau MRI memperlihatakan tuba menebal penuh berisi cairan
dengan atau tanpa cairan bebas di panggul atau kompleks tubo-ovarial atau

pemeriksaan Doppler menyarankan infeksi panggul (misal hiperemi tuba)


Hasil pemeriksaan laparaskopi yang konsisten dengan PID.

1.5.7 Terapi
Pada pasien PID ringan atau sedang terapi oral dan parenteral mempunyai daya guna
klinis yang sama. Sebagian besar klinisi menganjurkan terapi parenteral paling tidak selama
48 jam kemudian dianjurkan dengan terapi oral 24 jam setelah ada perbaikan klilnis.
Rekomendasi terapi dari CDC adalah sebagai berikut:
Terapi parenteral
-

Rekomendasi terapi parenteral A


o Sefotetan 2g iv setiap 12 jam atau
o Sefoksitin 2g iv setiap 6 jam ditambah
o Doksisiklin 100 mg oral atau iv setiap 12 jam
Rekomendasi terapi parenterap B
o Klindamisin 900 mg setiap 8 jam ditambah
o Gentamisin dosis muatan iv atau im (2mg/kgBB) diikuti dengan dosis
pemeliharaan (1,5 mg/kgBB) setiap 8 jam. Dapat diganti dengan dosis tunggal

harian.
Terapi parenteral alternatif
Tiga terapi alternatif telah dicoba dan mereka mempunyai cakupan spektrum yang
luas
o Levofloksasin 500 mg iv 1x1 dengan atau tanpa metronidazol 500 mg iv setiap
8 jam atau
o Ofloksasin 400 mg iv setiap 12 jam dengan atau tanpa metronidazol 500 mg iv
setiap 8 jam atau
o Ampisilin / Sulbaktam 3g iv setiap 6 jam ditambah doksisiklin 100 mg oral
atau iv setiap 12 jam.

Terapi Oral
Terapi oral dapat dipertimbangkan untuk penderita PID ringan atau sedang karena
kesudahan klinisnya sama dengan terapi parenteral. Pasien yang mendapat terapi oral dan
tidak menunjukkan perbaikan setelah 72 jam harus dire-evaluasi untuk memastikan
diagnosisnya dan diberikan terapi parenteral baik dengan rawat jalan maupun inap.

Rekomendasi terapi A
o Levofloksasin 500 mg po 1x1 selama 14 hari atau ofloksasin 400 mg 2x1
selama 14 hari dengan atau tanpa
o Metronidazol 500 mg po 2x1 selama 14 hari.
Rekomendasi terapi B
o Seftriakson 250 mg im dosis tunggal ditambah doksisiklin 2x1 po selama 14
hari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg 2x1 po selama 14 hari atau
o Sefoksitin 2g im dosis tunggal dan probenesid ditambah doksisiklin oral 2x1
selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg 2x1 selama 14 hari
atau
o Sefalopsorin generasi ketiga (misal seftizoksim atau sefotaksim) ditambah
doksisiklin 2x1 po selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg 2x1
po selama 14 hari.

1.6 Herpes Genitalis


1.6.1 Defenisi
Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh Herpes Simplex
Virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan
bersifat rekurens 1.
1.6.2 Epidemiologi
Data- data di beberapa RS di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi herpes genital rendah
sekali pada tahun 1992 di RSUP dr.Moewardi yaitu hanya 10 kasus dari 9983 penderita IMS.
Namun, prevalensi di RSUD Dr.Soetomo agak tinggi yaitu sebesar 64 dari 653 kasus IMS
dan lebih tinggi lagi di RSUP Denpasar yaitu 22 kasus dari 126 kasus IMS 2.
1.6.3 Etiologi dan morfologi
Herpes Simplex Virus (HSV) dibedakan menjadi 2 tipe oleh SHARLITT tahun 1940
menjadi HSV tipe 1 dan HSV tipe 2. Secara serologik, biologik dan fisikokimia, keduanya
hampir tidak dapat dibedakan. Namun menurut hasil penelitian, HSV tipe 2 merupakan tipe
dominan yang ditularkan melalui hubungan seksual genito-genital. HSV tipe 1 justru banyak
ditularkan melalui aktivitas seksual oro-genital atau melalui tangan 3.
1.6.4 Gejala klinis
Gejala awalnya mulai timbul pada hari ke 4-7 setelah terinfeksi. Gejala awal biasanya
berupa gatal, kesemutan dan sakit. Lalu akan muncul bercak kemerahan yang kecil, yang

diikuti oleh sekumpulan lepuhan kecil yang terasa nyeri. Lepuhan ini pecah dan bergabung
membentuk luka yang melingkar. Luka yang terbentuk biasanya menimbulkan nyeri dan
membentuk keropeng. Penderita bisa mengalami nyeri saat berkemih atau disuria dan ketika
berjalan akan timbul nyeri. Luka akan membaik dalam waktu 10 hari tetapi bisa
meninggalkan jaringan parut. Kelenjar getah bening selangkangan biasanya agak membesar.
Gejala awal ini sifatnya lebih nyeri, lebih lama dan lebih meluas dibandingkan gejala
berikutnya dan mungkin disertai dengan demam dan tidak enak badan 3.
Pada pria, lepuhan dan luka bisa terbentuk di setiap bagian penis, termasuk kulit
depan pada penis yang tidak disunat. Pada wanita, lepuhan dan luka bisa terbentuk di vulva
dan leher rahim. Jika penderita melakukan hubungan seksual melalui anus, maka lepuhan dan
luka bisa terbentuk di sekitar anus atau di dalam rektum. Pada penderita gangguan sistem
kekebalan (misalnya penderita infeksi HIV), luka herpes bisa sangat berat, menyebar ke
bagian tubuh lainnya, menetap selama beberapa minggu atau lebih dan resisten terhadap
pengobatan dengan asiklovir. Gejala-gejalanya cenderung kambuh kembali di daerah yang
sama atau di sekitarnya, karena virus menetap di saraf panggul terdekat dan kembali aktif
untuk kembali menginfeksi kulit. HSV-2 mengalami pengaktivan kembali di dalam saraf
panggul. HSV-1 mengalami pengaktivan kembali di dalam saraf wajah dan menyebabkan
fever blister atau herpes labialis. Tetapi kedua virus bisa menimbulkan penyakit di kedua
daerah tersebut. Infeksi awal oleh salah satu virus akan memberikan kekebalan parsial
terhadap virus lainnya, sehingga gejala dari virus kedua tidak terlalu berat.
1.6.5 Diagnosis
Diagnosis secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel
berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren. Pemeriksaan laboratorium yang
paling sederhana adalah tes Tzank yang diwarnai dengan pengecatan Giemsa atau Wright
dimana akan tampak sel raksasa berinti banyak. Cara terbaik dalam menegakkan diagnosa
adalah dengan melakukan kultur jaringan karena paling sensitif dan spesifik. Namun cara ini
membutuhkan waktu yang banyak dan mahal. Dapat pula dilakukan tes-tes serologis terhadap
antigen HSV baik dengan cara imunoflouresensi, imunoperoksidase maupun ELISA 4.
1.6.6 Terapi
Pada kasus berat atau pasien-pasien dengan imunosupresan diberikan asiklovir
intervensi 5 mg/kg setiap 8 jam selama 5 hari. Untuk pasien rawat jalan yang sakit pertama
kali diberikan asiklovir 200 mg per 5x1 selama 5 hari. Terapi mengurangi lama keluhan tetapi

tidak mempengaruhi latensi virus. Asiklovir topikal yang diberikan pada daerah yang terkena
3-4x sehari dapat mempercepat penyembuhan dan mengurangi keluhan. Cara ini kurang
efelktif dibanding pemberian oral. Untuk kekambuhan diberikan asiklovir 200 mg per oral 5x
sehari selama 5 hari. Untuk profilaksis diberikan asiklovir 200 mg po 2-5x sehari atau 400
mg po 2x sehari. Konseling pasien dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seks sejak
mulai timbul keluhan sampai epitelisasi kembali lesi dengan lengkap1.
1.6.7 Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah akibat dari penyakit ini pada bayi yang
baru lahir. Herpes genitalis pada trimester awal kehamilan dapat menyebabkan abortus atau
malformasi kongenital berupa mikroensefali. Pada bayi yang lahir dari ibu pengidap herpes
ditemukan berbagai kelainan seperti hepatitis, ensefalitis, keratokonjungtifitis bahkan
stillbirth.4
Sifilis
1.6.1 Definisi
Sifilis adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum,
menular melalui hubungan seksual atau secara transmisi vertikal. Sifilis bersifat kronik,
sistemik, menyerang hampir semua alat tubuh dan dianggap sebagai peniru akbar (the great
imitator) dalam bidang kedokteran (terutama sebelum ada AIDS) karena banyaknya
manifestasi klinis. Merupakan penyakit menular sedang dengan angka infektifitas 10% untuk
setiap kali hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi. Individu dapat menularkan
penyakit pada stadium primer dan sekunder sampai tahun pertama stadium laten1.
1.6.2 Gejala dan Tanda
Lesi primer (Chancre=ulcus durum) biasanya muncul 3 minggu setelah terpajan. Lesi
biasanya keras (indurasi), tidak sakit, terbentuk ulkus dengan mengeluarkan eksudat serosa di
tempat masuknya mikroorganisme. Masuknya mikroorganisme ke dalam darah terjadi
sebelum lesi primer muncul, biasanya ditandai dengan terjadinya pembesaran kelenjar limfe
(bubo) regional, tidak sakit, keras non fluktuan. Infeksi juga dapat terjadi tanpa ditemukannya
ulkus durum yang jelas, misalnya infeksi terjadi di rectum atau cervik. Walaupun tidak diberi
pengobatan ulcus akan hilang sendiri setelah 4-6 minggu. Sepertiga dari kasus yang tidak
diobati akan mengalami stadium generalisata, stadium dua, di mana muncul erupsi kulit yang
kadangkala disertai dengan gejala kontitusional tubuh. Timbul makolo popular biasanya pada

telapak tangan dan telapak kaki diikuti dengan limfadenopati. Erupsi sekunder ini merupakan
gejala klasik dari Sifilis yang akan hilang spontan dalam beberapa minggu atau sampai 12
bulan kemudian. Penderita stadium erupsi sekunder ini, sepertiga dari mereka yang tidak
diobati akan masuk ke dalam fase laten selama berminggu-minggu bahkan selama bertahuntahun.
Pada awal fase laten sering muncul lesi infeksius yang berulang pada selaput lendir.
Terserangnya Susunan Syaraf Pusat (SSP) ditandai dengan gejala meningitis sifilitik akut dan
berlanjut menjadi sifilis meningovaskuler dan akhirnya timbul paresis dan tabes dorsalis.
Periode laten ini kadangkala berlangsung seumur hidup. Pada kejadian lain yang tidak dapat
diramalkan, 5-20 tahun setelah infeksi terjadi lesi aorta yang sangat berbahaya (sifilis
kardiovaskuler) atau guma dapat muncul di kulit, saluran pencernaan tulang atau pada
permukaan selaput lendir.
Stadium awal sifilis jarang sekali menimbulkan kematian atau disabilitas yang serius,
sedangkan stadium lanjut sifilis memperpendek umur, menurunkan kesehatan dan
menurunkan produktivitas dan efisiensi kerja. Mereka yang terinfeksi sifilis dan pada saat
yang sama juga terkena infeksi HIV cenderung akan menderita sifilis SSP.
Infeksi pada janin terjadi pada ibu yang menderita sifilis stadium awal pada saat
mengandung bayinya dan ini sering sekali terjadi sedangkan frekuensinya makin jarang pada
ibu yang menderita stadium lanjut sifilis pada saat mengandung bayinya. Infeksi pada janin
dapat berakibat aborsi, stillbirth, atau kematian bayi karena lahir prematur atau lahir dengan
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau mati karena menderita penyakit sistemik. Infeksi
congenital dapat berakibat munculnya manifestasi klinis yang muncul kemudian berupa
gejala neurologis terserangnya SSP.
Dan kadangkala infeksi konginital dapat mengakibatkan berbagai kelainan fisik yang dapat
menimbulkan stigmasasi di masyarakat seperti gigi Hutchinson, saddlenose (hidung pelana
kuda), saber shins (tulang kering berbentuk pedang), keratitis interstitialis dan tuli. Sifilis
congenital kadangkala asimtomatik, terutama pada minggu-minggu setelah lahir6.
1.6.3 Cara Penularan
Cara penularan sifilis adalah dengan cara kontak langsung. Sifilis infeksius dari lesi
awal kulit dan selaput lendir pada saat melakukan hubungan seksual dengan penderita sifilis.
Lesi bisa terlihat jelas ataupun tidak terlihat jelas. Pemajanan hampir seluruhnya terjadi

karena hubungan seksual. Penularan karena mencium atau pada saat menimang bayi dengan
sifilis konginetal jarang sekali terjadi. Infeksi transplasental terjadi pada saat janin berada
dalam kandungan ibu menderita sifilis.
Transfusi melalui darah donor bisa terjadi jika donor menderita sifilis pada stadium
awal. Penularan melalui barang-barang yang tercemar secara teoritis bisa terjadi namun
kenyataannya boleh dikatakan tidak pernah terjadi. Petugas kesehatan pernah dilaporkan
mengalami lesi primer pada tangan mereka setelah melakukan pemeriksaan penderita sifilis
dengan lesi infeksius 6.
1.6.4 Terapi
Rekomendasi terapi sifilis oleh CDC adalah sebagai berikut1:

Sifilis Primer dan Sekunder


Benzatin penisilin G 24 juta unit im dalam dosis tunggal. Alergi penisilin (tidak
hamil) diberikan doksisiklin 10 mg po 2x1 selama 2 minggu atau tetrasiklin 500 mg

po 4x1 selama 2 minggu.


Sifilis Laten
Sifilis laten awal (<1 tahun) : Benzatin penisilin G 2,4 juta unit im dalam dosis
tunggal.
Sifilis laten akhir (>1 tahun) atau tidak diketahui lamanya: Benzatin penisilin G total
7,2 unit diberikan dalam 3 dosis masing-masing 2,4 juta unit im dengan interval 1

minggu.
Sifilis Tersier
Benzatin penisilin G total 7,2 juta unit diberikan dalam 3 dosis masing-masing 2,4
juta unit im dengan interval 1 minggu. Alergi penisilin diberikan sama seperti untuk
sifilis laten akhir.

Neurosifilis
Penisilin G kristalin aqua 18-24 juta unit setiap hari diberikan dalam 3x4 juta unit iv
tiap 4 jam atau infus berkelanjutan selama 10-14 hari.
Sifilis dalam kehamilan
Terapi penisilin sesuai dengan stadium sifilis perempuan hamil. Beberapa pakar
merekomendasikan terapi tambahan (misal dosis kedua benzatin penisilin 2,4 juta unit
im) 1 minggu setelah dosis inisial, terutama untuk perempuan pada trisemester ketiga,
dan untuk mereka yang menderita sifilis sekunder selama kehamilan. Alergi penisilin:

seorang perempuan hamil dengan riwayat alergi penisilin harus diterapi dengan
penisilin setelah desensitisasi.
Sifilis pada pasien yang terinfeksi virus HIV
H Sifilis primer dan sekunder: Benzatin penisilin 2,4 juta unit im. Pasien yang alergi
dengan penisilin harus didesensitisasi dan diberi terapi dengan penisilin. Sifilis laten
(pemeriksaan cairan serebrospinal normal): benzatin penisilin G 7,2 juta unit dibagi
dalam 3 dosis mingguan masing-masing 2,4 juta unit.
Tindak lanjut setelah terapi sifilis awal maka perlu diperiksa VDRL atau titer reagen
plasma cepat setiap 3 bulan selama 1 tahun (uji sebaiknya dikerjakan oleh laboratorium yang
sala). Titer harus turun empat kali dalam setahun. Jika tidak maka diperlukan pengobatan
kembali. Bila pasien telah terinfeksi lebih dari satu tahun maka titer harus diikuti selama 2
tahun. Uij FTA-ABS yang spesifik akan tetap positif selamanya1.
1.6.5 Cara Pencegahan
Adapun

cara

pencegahan

penyakit

sifilis

yaitu

selalu

menjaga

higienis

(kebersihan/kesehatan) organ ginetalia, menggunakan kondom bila melakukan hubungan


seks, pemakaian jarum suntik baru setiap kali menerima pelayanan medis yang menggunakan
jarum suntik.
1. Endometritis, PID buku biru
2. Centers for Disease Control and Prevention, 2007. CDC Fact Sheet
Genital Herpes. Available from:
http://www.cdc.gov/std/healthcomm/factsheets .htm. [accessed 13
April 2010].
3. Hakim, L., 2009. Epidemiologi Infeksi Menular Seksual. In: Daili, S.F., et
al., Infeksi Menular Seksual. 4th ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI, 3-16.
4. Salvaggio, M.R. & Lutwick, L.I., 2009. Herpes Simplex, University of
Oklahoma College of Medicine. Available from:
http://emedicine.medscape.com /article/218580-overview [accessed 13
April 2010].
5. Daili, S.F., 2009. Herpes Genitalis. In: Daili, S.F., et al., Infeksi Menular
Seksual. 4th ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI, 125-139
6. James Chin. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta: Penerbit
Infomedika. 2006.