Anda di halaman 1dari 464

Pembahasan MODUL 2

TIM UKMPPD
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS
MALAHAYATI

IPD

1. C. Insulin
Keyword:
Kesemutan + nyeri pada kedua kaki neuropati perifer,
komplikasi DM
Penyakit DM sudah sejak 10 tahun, obat rutin: glibenklamid
15 mg, metformin 3500 mg sudah minum 2 OHO
Gula darah puasa: 220mg/dl, gula darah 2 jam post prandial:
298 mg/dl, HbA1c: 11 kontrol gula darah tidak tercapai.

Terapi yang tepat: insulin


Terapi nutrisi medis, olahraga teratur semua pasien DM
selalu dimulai dengan ini
Lanjutkan terapi oral tidak mungkin
Naikan dosis obat oral H

Sumber: Konsensus DM Indonesia 2011 (Perkeni)

Sumber: Konsensus DM Indonesia 2011 (Perkeni)

2. B. TSH rendah, FT4 tinggi


BB menurun drastic,
peningkatan nafsu
makan, sering
berkeringat, berdebardebar Gejala
Tirotoksikosis
+
Nodul difus pada leher
yang mengikuti
pergerakan menelan
Graves Disease
Graves disease dikenal
sebagai penyebab
terbanyak 60-80% dari
tirotoksikosis
Sumber: Harrison 17th

Pada Graves
Disease terdapat
antibodi terhadap
reseptor TSH
Memacu produksi
T4 di tiroid
Kadar T4
tinggi Negative
Feedback ke
Piutari TSH
turun
Jadi T4
meningkat, TSH
rendah

3. A. Kekurangan zat
yodium
Keyword:
Laki, 19 tahun, benjolan pada lehernya.
Tinggal di lereng gunungan jauh dari laut yodium
tanah rendah
Masyarakat setempat memiliki keluhan serupa faktor
lingkungan
Kurus dan terlihat benjolan di leher tanpa harus
menengadah.

Etiologi penyakit di atas adalah kekurangan zat


yodium
Kekurangan
Kekurangan
Kekurangan
goiter
Kekurangan

energi protein bukan kearah malnutrisi


zat kalium tidak berhubungan
zat goitrogenik goitrogenik penyebab
zat kalsium tidak berhubungan

Hipotiroidisme ini sering ditemukan di


daerah pegunungan.
Pegunungan dataran yang tinggi dan
jauh dari laut kandungan yodium dalam
tanahnya sangat rendah
Iodine bahan penting dalam sintesis
hormon tiroid
Kurangnya kadar hormon tiroid dalam darah
TSH yang dikeluarkan meningkat tidak
bisa memproduksi pembesaran tiroid

Tingkat pembesaran tiroid

Zat goitrogenik
Zat yang dapat menghambat
pengambilan iodium oleh tiroid,
sehingga konsentrasi iodium dalam
kelenjar menjadi rendah.
Contoh: kubis, umbi singkong, daun
singkong dan kacang-kacangan

4. D. Obesitas 2
Keyword:
BB 85 kg, TB 165 cm

IMT= 85 / (1.65)2 = 31,2


IMT= 85 / (1.65)2 = 31,2

5. A
Keyword:
Pasien, rutin konsumsi sulfonilurea dan
metformin

Waktu yang tepat untuk minum obat?


Sulfonilurea diminum 15 menit sebelum
makan, metformin diminum setelah makan
Sulfonilurea sebelum makan (tidak boleh >15
menit)
Metformin bersama makanan atau sesudah
makan

6. B. Memberikan obat golongan


statin
Keyword:
Riwayat infark miokard
Kolesterol total 250 mg/dl, trigliserida 160
mg/dl, HDL 50 mg/dl, LDL 130 mg/dl
hiperkolesterol dan trigliserida naik sedikit

Terapi yang tepat adalah memberikan


obat golongan statin
Gemfibrozil dan niasin hanya untuk
hipertrigliserida

The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 2012; 97(9): 2969-2989

7. C. Mengganti obat dengan


kolkisin
Keyword:
Nyeri pada pangkal ibu jari kaki kanan lokasi khas untuk
arthritis gout
Setelah konsumsi obat penurun asam urat nyeri
bertambah diperkirakan obat yg daoat menurunkan kadar
asam urat dadakan seperti alopurinol

Tindakan selanjutnya: mengganti obat dengan kolkisin


Obat penurun asam urat diberikan 2-4 minggu pasca
serangan karena perubahan kadar asam urat secara cepat
yang akan memicu rasa nyeri.
Konsumsi obat penurun asam urat boleh dilanjutkan pada
pasien yang memang sudah mengkonsumsi lama obat
tersebut.

Acute Treatment for


Gout
Drug
Mechanism

Comments

NSAIDs

inflammation

Gastritis; dose in renal


insufficiency

Colchicine

Inhibit
polymerization of
microtubules
prevention of
chemotaxis and
phagocytosis

Nausea, vomiting,
diarrhea
IV and high PO doses
bone marrow suppresion,
myopathy, neuropathy
dose in renal
insufficiency

Corticosteroi inflammation
ds

Highly effective for


recalcitrant cases
Rule out joint infection
first

Chronic Treatment for Gout


urate production
intake of meat and seafood
intake of lowfat dairy products
alcohol
Weight control

Avoid dehydration and hyperuricemic drugs


(eg, diuretics)
Antihyperuricemic therapy (start 2-4 weeks
after acute attack) allopurinol,
probenecid, sulfinpyrazone

8. A. HIV stadium AIDS


Keyword:
Penurunan berat badan, mencret, demam 1
bulan HIV wasting syndrome (pada HIV
stadium IV atau AIDS)
Aktif hubungan seksual, tanpa kondom.
CD4: 50 Infeksi Oportunistik berat, sesuai
dengan HIV wasting syndrome

Diagnosis pada pasien adalah HIV stadium


AIDS
HIV Stadium III Bila BB turun, diare kronis,
demam kronis hanya terjadi salah satu

Fase perjalanan HIV


Window period hasil pemeriksaan
antibodi masih negatif
Fase akut flu-like symptom
Fase laten tidak ada gejala dan pasien
merasa sehat
Infeksi oportunistik
AIDS HIV dengan CD4 <200

Rangkuman dari Guideline WHO HIV Management 2010

Rangkuman dari Guideline WHO HIV 2010

9. C. IgM
Keyword:
Demam 5 hari, pusing, nyeri otot dan
kadang mual.
Lab: Hb: 13,2 gr/dl, trombosit: 90.000,
hematokrit: 41%.

Diagnosis: suspek dengue,


pemeriksaan penunjang adalah IgM
anti dengue.

IgM dengue positif mulai


hari ke-5 demam.
Sedangkan NS1 dapat
positif sejak hari pertama
demam, kemudian
menurun perlahan sdh
hari ke 9.

Sumber: CDC

10. C. Hepatitis B fase


jendela
Keyword:
Kuning sejak 4 hari yang lalu, demam 1
minggu, mual dan muntah gejala akut
dd/ Hepatitis A
HBsAg dan anti HBs (-) pasien pasti
sudah terinfeksi namun HBsAg dan
antiHBs belum muncul periode jendela

Diagnosis yang mungkin adalah


hepatitis B fase jendela

Infeksi hepatitis B akut atau recent


dengan periode jendela
Pada window
period ini kita
sebaiknya
periksa IgM
anti HBc
Bila pada
hepatitis
kronik aktif
HbsAg(+) dan
HbeAg (+)
Sumber: Harisson 17th

Infeksi hepatitis B kronik

Sumber: Harisson

Hepatitis B serologic
markers
After infected with HBV, the first virologic marker detected
between 812 weeks HBsAg
Circulating HBsAg precedes elevations of serum
aminotransferase activity and clinical symptoms by 26
weeks and remains detectable during the entire icteric or
symptomatic phase of acute hepatitis B and beyond.
In typical cases, HBsAg becomes undetectable 12 months
after onset of jaundice
After HBsAg disappears, antibody to HBsAg (anti-HBs)
becomes detectable in serum and remains detectable
indefinitely thereafter.
Anti-HBc is demonstrable within the first 12 weeks after
the appearance of HBsAg and preceding detectable
levels of anti-HBs by weeks to months.
Occasionally a gap of several weeks or longer may
separate the disappearance of HBsAg and the
appearance of anti-HBs. During this "gap" or
"window" period, anti-HBc may represent the only

Sumber: Harisson

11. A. Pemberian 1 dosis HAV


imunoglobulin intramuskular
Keyword:
Demam sejak 2 minggu yang lalu, kuning, nyeri perut
kanan atas, muntah-muntah menguningnya kulit
dan air kencing berwarna coklat gelap.
Pembesaran hepar dan nyeri hipokondrium kanan.
Peningkatan SGPT dan SGOT.

Diagnosis: hepatitis A.
Biasanya hepatitis B akut tidak bergejala (atau gejala
ringan)

Profilaksis untuk yang serumah (kontok fekal oral)


dengan pasien adalah pemberian 1 dosis HAV
imunoglobulin intramuskular.

12. E. Cek Anti HBs


Keyword:
Tertusuk jarum hepatitis B dan
divaksinasi hepatitis B 1 tahun yang
lalu.

Tindakan selanjutnya adalah cek Anti


HBs.

Dalam menangani paparan darah terhadap hepatitis B perlu


diperhatikan:

1. Status hepatitis SUMBER


2. Status Vaksinasi YANG TERPAPAR
3. Respons Imun YANG TERPAPAR (Kadar anti HBs)
Pada kasus ini:
1. Tertusuk jarum pasien dengan hepatitis B Status sumber
HbsAg (+)
2. Koas sudah divaksin 1 tahun lalu Pihak terpapar sudah
vaksinasi (+)
3. Titer anti HBs yang terpapar Belum diketahui Periksa!
Bila diperiksa anti HBs ternyata:
Titer antiHBs10mIU/ml : Tidak perlu profilaksis
Titer antiHBs<10mIU/ml : Berikan Imunoglobulin HepB + ReVaksinasi
Atau 2x Imunoglobulin HepB

Sumber: CDC

13. D. Hiperamonia
Keyword:
Penurunan kesadaran, dan pernah seperti ini
sebelumnya
Asites, sklera mata kuning, edema tungkai, vena
kolateral di abdomen sirosis hepatis

Diagnosis: ensefalopati hepatikum.


Koma reversibel pada penderita gangguan hati yang
berat dan kronik, yang mengkonsumsi protein
berlebihan
Penyerapan hasil metabolisme protein yang
mengandung nitrogen dari usus kenaikan
amonia gangguan sistem saraf pusat

Gejala Uremia

14. A. Hepatitis A
Keyword:
Sklera ikterik, hepatomegali 3 jari di bawah
arcus costa hepatitis
Senang makan di pinggir jalan, riwayat
teman-teman mengalami hal yang sama
kemungkinan penularan fekal oral

Diagnosis: Hepatitis A
Hepatitis B, Hepatitis C, Kolesistitis
penularan non oral
Leptospirosis biasanya pajanan urin hewan

Selanjutnya pasien perlu diperiksa


ALT dan AST, serta dengan IgM anti
HAV

15. D. Katup mitral tidak membuka


secara maksimal
Keyword:
Bising diastolik, kemungkinan: stenosis mitral, stenosis
trikuspidal, regurgitasi aorta, atau regurgitasi pulmonal
Lokasi bising berpusat di apex Katup mitral
EKG didapat sumbu ke kanan (RAD) dan LAA (left atrium
abnormality) Tanda adanya hipertensi pulmonal

Diagnosis: mitral stenosis (katup mitral tidak dapat


membuka maksimal)
Katup mitral tidak menutup adekuat mitral regurgitasi
Katup trikuspid tidak membuka secara maksimal
trikuspid regurgitasi

Penyebab tersering stenosis mitral:Rheumatic


fever
Penyebab lain:
congenital mitral valve stenosis, cor triatriatum,
mitral annular calcification, systemic lupus
erythematosus, rheumatoid arthritis, left atrial
myxoma, dan infective endocarditis with large
vegetations.

Komplikasi:
Cardiac Output menurun pada MS berat
Hipertensi pulmonal, akibat:
Tekanan backward akibat tingginya tekanan di atrium kiri
Edema pada dinding pembuluh darah jaringan paru

Hipertensi pulmonal lalu menyebabkan:


Pembesaran Ventrikel Kanan
Regurgitasi pulmonal dan tricuspid sekunder
Gagal jantung kanan
Sumber: Harisson
17th

16. A. Losartan
Batuk tidak berdahak, tidak ada demam, tidak
ada penurunan berat badan, tidak ada sesak
napas Penyebab batuk non-infeksi
Penyebab batuk diduga obat HT ACE inhibitor
Pasien memiliki riwayat DM dan gagal jantung
(+) Obat anti HT pilihan adalah ACE inhibitor
dan Angiotensin Receptor Blocker
Karena pasien batuk kering, maka pilihan jatuh
pada Angiotensin Reseptor Blocker (Losartan)

Sumber: JNC 7

17. E. Regurgitasi Mitral


Keyword:
Lokasi: ICS IV linea midclavicularis
sinistra, menjalar ke lateral kiri katup
mitral
murmur sistolik di katup mitral
regurgitasi

Diagnosis: mitral regurgitasi

Murmur Sistolik
Systolic ejection murmur
Stenosis aorta: Terdengar paling baik di
area aorta (ICS 2-3) menjalar ke arah
leher
Stenosis pulmonal: Paling baik di ICS 2-3
kiri, penjalaran bisa ke arah leher atau
bahu kiri, tidak seluas stenosis aorta

Murmur Sistolik
Holosistolik murmur
Regurgitasi mitral: Terdengar paling baik
di apex menjalar ke axilla kiri
Regurgitasi trikuspid: Terdengar paling balik
di linea sternalis kiri bawah, menjalar ke
kanan sternum
VSD: Paling baik di ICS 4-6, tidak ada
penjalaran ke axilla

Late systolic murmur


Regurgitasi oleh prolaps mitral

Murmur Diastolik
Early diastolik
Regurgitasi aorta: Di linea sternal kiri
ICS 3-4
Regurgitasi pulmonal: Di area pulmonal

Mid to late diastolik


Stenosis mitral: Di apex
Stenosis trikuspid: Di bawah sternum,
dekat prosesus xifoideus

Murmur Kontinu
Pada Patent Ductus Arteriosus

18. B. Stable angina


pectoris
Keyword:
Nyeri ulu hati, semakin sering bila pasien
beraktivitas ringan dan berkurang saat
istirahat nyeri khas jantung (angina
pectoris), berkurang saat istirahat (stabil)

Diagnosis: Stable angina pectoris


Unstable angina pectoris, ACS nyeri tidak
hilang dengan istirahat
Gastritis akut, ulkus duodenum keluhan
berhubungan dengan makanan

Angina Nyeri dada akibat iskemia otot


jantung
Stable angina: nyeri saat aktivitas dan stress,
membaik dengan istirahat dan nitrogliserin
Unstable angina

Sindrom Koroner Akut (Unstable angina,


NSTEMI, STEMI)
Angina timbul > 20 menit
Timbul saat aktivitas ringan
Meningkat dalam intensitas, frekuensi, durasi

Ada 3 kriteria nyeri tipikal angina pada


angina stabil/Stable angina: Nyeri dada
substernal, semakin nyeri saat aktivitas,
hilang dengan istirahat/nitrogliserin
Sumber: ESC guideline
2006

19. C. Omeprazole
Keyword:
Nyeri dan rasa panas di dada, tidak
menjalar ke bahu dan lengan, pahit dan
asam di mulutnya, sering tertidur segera
setelah makan berhubungan dengan
lambung.

Diagnosis: GERD (Gastroesofageal


Reflux Disease)
Pengobatan lini 1: omeprazole

Gejala khas GERD:


Typical esophageal symptoms include the following:
Heartburn
Regurgitation
Dysphagia

Abnormal reflux can cause atypical (extraesophageal)


symptoms, such as the following:

Coughing and/or wheezing


Hoarseness, sore throat
Otitis media
Noncardiac chest pain
Enamel erosion or other dental manifestations

Komplikasi yang ditakuti Esofagitis Barrett


berpotensi maligna
Obat pilihan pada GERD PPI (lihat guideline berikut)

Sumber: American College of Gastroenterology GERD Guideline


2013

Sumber: American College of Gastroenterology GERD Guideline


2013

20. B. Ulkus duodenum


Keyword:
Nyeri timbul terlambat makan dan
berkurang setelah makan.

Diagnosis: ulkus duodenum

Ulkus lambung
Nyeri ulu hati/di sebelah kiri perut, rasa tidak
nyaman, muntah
Timbul setelah makan

Ulkus duodenum
Nyeri di tengah-kanan membaik setelah makan
Nyeri bermula di satu titik (pointing sign),
akhirnya difus, menjalar ke punggung
Nyeri timbul saat merasa lapar, bisa
membangunkan pasien tengah malam (HPFR
Hunger Pain Food Relief)

21. C. Pengobatan Sisipan


Berdasarkan
pedoman
Depkes TB 2011,
pada akhir fase
intensif 2 bulan
bila sputum
masih (+),
diberikan OAT
sisipan selama 1
bulan.
Sumber: Pedoman Nasional
Penanggulangan TB Depkes 2011

Sumber: WHO TB Guideline 2010

For your info:


Pada Guideline TB dari WHO terbaru 2010, sebetulnya
Fase Sisipan sudah tidak direkomendasikan lagi, jadi
dari Fase intensif apabila sputum masih (+) lanjut ke
Fase Sisipan langsung dengan memperhatikan kualitas
dan evaluasi kepatuhan minum obatnya
Namun pedoman dalam menjawab UKDI kita sesuaikan
dengan pedoman dari Depkes, sehingga Fase sisipan
OAT 1 bulan masih kita lakukan apabila sputum (+)

22. C. Pirazinamid
Keyword:
Nyeri pada perut kanan atas disertai mual
muntah. Sedang minum OAT Drug-induced
hepatitis

Penyebab OAT utama: ADA 3 yaitu:


PIRAZINAMID, INH, RIFAMPISIN
Namun diantara ketiga OAT tersebut yang
menimbulkan hepatotoksik tersering dan
terparah adalah Pirazinamid

23. A. Hentikan semua OAT


Keyword:
Terapi OAT mulai sejak 1 minggu yang lalu,
ES: sklera ikterik dan hepatomegaly
Ikterus dan hepatitis imbas obat Termasuk
Efek samping OAT Mayor

Efek samping MAYOR STOP OAT!


Sambil satu persatu dicari OAT penyebab
3 obat penyebab icterus dan hepatitis imbas
obat tersering Pirazinamid > INH >
Rifampisin

Sumber: Rangkuman Guideline TB WHO 2010

Langkah Reintroduksi OAT sambil


mencari tahu OAT penyebab
Bila tanda dan gejala sudah mereda maka OAT diberikan
kembali secara bertahap satu persatu sambil mencari OAT
penyebab:
OAT yang pertamakali diberikan adalah rifampisin
Setelah 3-7 hari pemberian rifampisin ditoleransi, diberikan isoniazid
Bila pasien mampu mentoleransi pemberian ulang rifampisin dan
isoniazid, tidak dianjurkan diberikan ulang pirazinamid

Bila OAT penyebab adalah rifampisin, maka regimen OAT yang


dianjurkan menjadi 2HES/10HE
Bila OAT penyebab adalah isoniazid, maka regimen OAT yang
dianjurkan menjadi RZE selama 6-9 bulan
Bila pirazinamid dihentikan sebelum selesai fase intensif maka
regimen OAT yang dianjurkan menjadi RH selama 9 bulan
Bila salah satu rifampisin maupun isoniazid tidak bisa ditoleransi,
maka menggunakan terapi OAT non-hepatotoksik yaitu
streptomisin, ethambutol, dan fluorokuinolon dimulai
atau dilanjutkan hingga total 18-24 bulan

Sumber: Rangkuman Guideline TB WHO 2010

24. A. AB
Keyword:
Menggumpalkan anti-A dan anti-B
mempunyai antigen A dan B.

Golongan darah pasien ini AB

36. A. AB

25. C. Anemia aplastik


Keyword:
Keluhan lemas sejak + Hb 7.2 Anemia
Memar-memar di kakinya + trombosit
120.000 Trombositopenia
Sering flu + leukosit 3700 Leukopenia
Anemia + Leukopenia + Tromositopenia
Pansitopenia

Diagnosis: Anemia Aplastik


Penyebab pansitopenia paling utama:

Puncak kejadian kasus ada


2, yakni umumnya muncul
pada usia 15-25 tahun dan
setelah usia 60 tahun

Sumber: Harrison 17th

26. B. Ferritin, SI, TIBC


Keyword:
Hb 9,8; MCV 72 anemia mikrositik
hipokrom

Rencana pemeriksaan selanjutnya:


ferritin, SI, TIBC

Ferritin: Cadangan besi dalam tubuh


Male 20-250 g/L
Female 15-150 g/L

Serum iron: Penghitungan jumlah yang


berikatan ke transferin
Male 65177 g/dL (11.631.7 mol/L)
Female 50170 g/dL (9.030.4 mol/L)

TIBC: Kapasitas transferin serum mengikat


besi
250370 g/dL (45-66 mol/L)

27. B. Nalokson
Keyword:
Pingsan/tidak sadar dengan jarum dan botol
suntikan susp. IV drug user
Pupil miosis, kemungkinan besar:
Intoksikasi morphin atau intoksikasi organofosfat

Kalau midriasis, biasanya:


Overdosis kokain atau amfetamin (shabu/ecstasy)

Tanda miosis + jarum suntik kuat


mengarahkan ke penyebabnya keracunan
Morphin
Terapi: Nalokson

Sumber: Current Diagnosis and Treatment 6th 2008 Emergency


Medicine

Intoksikasi opioid (morphin/heroin)


Maintain adequate airway and ventilation
Give naloxone (a specific narcotic antagonist) to all patients with
suspected opiate overdose. Start with 0.4-2 mg intravenously.
Repeat 2 mg every 2-3 minutes 3 or 4 times if no response occurs
and narcotic overdose is suspected. No more than 10 mg.
Naloxone has a half-life of 1 hour and effects lasting only 2-3
hours (shorter than many opiates), permitting the patient to lapse
into coma again.
If relapse occurs, a naloxone continuous infusion may be
started, : approximately two-thirds of the dose required to initially
awaken the patient given over each hour.
Nalmefene (2 mg) : long-acting opioid antagonist last for as long
as 8 hours, thereby reducing the need for any drips or repeated
doses of naloxone
Naloxone is still the preferred initial antidote for comatose
patients when the cause is uncertain because it will produce a
shorter period of withdrawal in the chronically opioid-dependent
patient

Sumber: Current Diagnosis and Treatment 6th 2008 Emergency


Medicine

Organofosfat poisoning
MNEMONIC signs:
SLUDGE (salivation, lacrimation, urination,
diarrhea, GI upset, emesis)
DUMBELS (diaphoresis and diarrhea;
urination; miosis; bradycardia,
bronchospasm, bronchorrhea; emesis;
excess lacrimation; and salivation).

Give: Atropine IV (adult 2mg, child


0.02mg/kg), repeated every 10 mins
until there is improvement or obvious
signs of atropinization (dry mouth,
tachycardia, dilated pupils):
Sumber: Oxford Handbook Accident and Emergency 2nd ed

28. C. Asma bronkial persisten


sedang
Keyword:
Sesak nafas yang hilang timbul, sesak nafas di
malam hari > 2 kali dalam seminggu, episode
sesak dirasakan sering mengarahkan ke
asma persisten sedang
Spirometri: arus puncak ekspirasi 70% dan
variabilitas arus puncak ekspirasi > 30%
untuk pembagian yang lebih pasti, lihat selalu
nilai spirometri

Diagnosis pada pasien ini adalah? asma


bronkial persisten sedang

Anamnesis Asma:
Gejalaepisodik
Reversibel,denganatautanpapengobatan
Timbul/memburukpadamalam/dinihari
Responterhadapbronkodilator
Terdapatfaktorrisikoyangbersifatindividual

Pemeriksaanfisis:
PF dapat normal
Wheezing
Ekspirasimemanjang

Pemeriksaan Penunjang
Spirometri
Obstruksi:VEP1 <80%nilaiprediksi
Reversibilitas:perbaikanVEP115%secaraspontan,
atau setelah inhalasi bronkodilator, atau bronkodilator
oral 10-14 hari, atau steroid oral/inhalasi 2 minggu

APE
Dinilaidenganspirometriataupeakexpiratoryflow
meter(PEF meter)
Reversibilitas:perbaikanVEP115%secaraspontan,
atau setelah inhalasi bronkodilator, atau bronkodilator
oral 10-14 hari, atau steroid oral/inhalasi 2 minggu
Variabilitasharian(dinilai1-2minggu):>20%

Pemeriksaan lain: uji provokasi bronkus, status


alergi

29. A. Inhalasi short acting beta


agonist
Keyword:
Sesak berulang, terutama menjelang pagi, wheezing
(+) Serangan asma

Pilihan terapi awal pada serangan Asma ringan,


sedang, berat Inhalasi Short acting Beta-2
Agonis, setelah itu dilihat dengan respons
perbaikan. Bisa diulang 3x/20 menit.
Bila serangan asma mengancam jiwa
Langsung inhalasi Beta-2 agonis +
antikolinergik + O2 + Kortikosteroid IV +/aminofilin

Sumber: Konsensus Penatalaksanaan Asma PDPI

Sumber:
Konsensus
Penatalaksanaa
n Asma PDPI

30.D. Gangguan Fungsi Trombosit


Keyword:
Perdarahan sejak cabut gigi 1 jam yang lalu.
Rutin mengkonsumsi aspirin selama beberapa
tahun.

Kemungkinan penyebab perdarahan pada


pasien adalah konsumsi aspirin.
Aspirin dapat menghambat agregasi trombosit.
Aspirin mengurangi aktivasi trombosit dengan
menghambat kerja siklooksigenase, sehingga
sintesa prostaglandin dan tromboksan A2
menjadi terhambat.

FARMAKOLOGI

31. D. salep
Keywords: wanita 35 th, gatal &
penebalan pd leher & pergelangan
kaki; st dermato: hiperpigmentasi
dan likenifikasi

Basah ketemu basah, kering


ketemu kering
3 vehikulum dasar: cairan, bedak,
salep
4 vehikulum campuran: bedak
kocok (cairan + bedak), krim
(cairan + salap), pasta (salap +
bedak), dan linimen/pasta
pendingin (cairan + bedak + salap)

Cairan (kompres)
Membersihkan debris (pus, krusta)
Melunakkan vesikel, bula, pustul
Meringankan eritema yang mencolok (mis.
erisipelas)
Bedak
Bersifat mendinginkan, mengurangi gesekan
Supaya vesikel tdk pecah (: varisela, herpes zoster)
U/ dermatosis yang kering dan superfisial, tidak
boleh pd yg basah
Salep
U/ dermatosis yang kering & dalam, bersisik &
berkrusta
Jangan di daerah berambut

Bedak kocok
U/ dermatosis kering dan superfisial yg
luas
Jangan di daerah berambut
Krim
Indikasi kosmetik
U/ dermatosis lebih dalam yg luas
Boleh pd daerah berambut
Pasta
U/ dermatosis yg agak basah
Linimen
U/ dermatosis subakut

32. D. Syr. Pirantel pamoat 125


mg/5ml Fl No. I S 1 dd I Cth p.d.sing
Keywords: bayi 10 bln, gatal anus pd
malam hari, rewel, tdk mau menyusu
Dx: Enterobiasis
Pruritus ani/vulva, terutama malam hr,
enuresis
Penemuan cacing di tinja/perineum,
ekskoriasi/eritema perineum/vulva
Tx: pirantel pamoat single dose,
minum bersama makanan; 2 mg
kemudian minum 1x lagi

S 3 dd I Cth pc = 3x sehari setelah makan


Sue 2 dd applic part dol = utk pemakaian
luar, aplikasi pd area yg sakit 2x sehari
Suc = cara pemakaian sudah diketahui
pasien
S 3 dd gtt I ODS = 3x sehari 1 tetes pd
mata kanan & kiri
S 1 dd I Cth p.d.sing: 1x sehari , single dose
pro dosis singularis (p.d.sing)

33. C. Beta Blocker


Keywords: riw nyeri dada, HT, asma
Beta blockers
Memblok reseptor Beta-1 (primarily
located in cardiac tissue) me HR &
kontraktilitas jantung
Kontraindikasi: hipersensitivitas, syok
kardiogenik/gagal jantung, sinus
bradikardia parah, 2nd and 3rd degree
heart block, asma bronkial, PPOK

34. D. Pirazinamid
Pengobatan OAT aktif, nyeri dan bengkak
pada sendi, peningkatan asam urat
hiperurisemi adalah salah satu efek
samping pirazinamid

35. E. Streptomisin
Ibu hamil, pengobatan TB, obat TB yang
menyebabkan gangguan pendengaran
streptomisin

RADIOLOGI

36. B. Top lordotik Susp. TB


Paru
Keywords
S: batuk 3 bulan
O: LED 40 mm/jam, foto thorax PA: infiltrat di apex
dengan hiperselularitas costae dan klavikula

Kemungkinan diagnosis kerja pada pasien ini


adalah susp. TB paru.
Untuk melihat apex paru lebih jelas perlu
dilakukan foto thorax top lordotik untuk
menghilangkan superposisi costae dan
klavikula
Jawaban: B. Top lordotik

37. A. Foto polos kepala posisi


waters
Keywords:
S: sakit kepala di daerah pipi, hidung tersumbat, batuk, pilek,
demam
O: nyeri tekan sinus maksilaris

Dipikirkan diagnosis kerja berupa sinusitis maksilaris.


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah
foto polos kepala posisi waters atau CT scan kepala
(gold standard)
Dilihat apakah ada perselubungan atau gambaran air fluid
level pada foto

Karena ketersediaan CT scan yang jarang, maka


disarankan dilakukan foto polos posisi waters
Jawaban: A. Foto polos kepala posisi waters

38.B. Foto Thorax PA


Keywords: arah sinar dari posterior ke anterior
Foto thorax PA
Arah sinar dari posterior ke anterior
Kaset di depan dada pasien
Dilakukan pada pasien yang dapat berdiri
Kelebihan: tidak terjadi magnifikasi (pembesaran) jantung

Foto thorax AP
Arah sinar dari anterior ke posterior
Kaset di belakang punggung pasien
Dilakukan pada pasien yang hanya dapat tidur
Kekurangan: ada magnifikasi jantung (kesan jantung
membesar, padahal tidak)

Jawaban: B. PA (Posterior Anterior)

39. D. USG
Keywords:
S: anuria, mual, muntah, riwayat nyeri pinggang sejak 1 tahun yang lalu
O: nyeri ketok CVA kiri (+)

Dipikirkan diagnosis kerja nefrolitiasis sehingga perlu dilakukan


pemeriksaan penunjang radiologis
Modalitas pemeriksaan batu saluran kemih
Foto polos abdomen (BNO): hanya (+) jika batu radioopaque
BNO+IVP: dilakukan bila pada BNO tidak ditemukan gambaran batu DAN
bila fungsi ginjal pasien baik
USG: dilakukan bila pada BNO tidak diteukan gambaran batu DAN terjadi
penurunan fungsi ginjal; dapat mendeteksi batu radioopaque dan
radiolusens

Pada pasien ini terjadi penurunan fungsi ginjal yang ditandai


dengan anuria. Sehingga modalitas yang dipilih adalah USG
ginjal.

40. A. Ileus
Keywords:
S: perut semakin membesar
O: riwayat tumor ovarium

Foto polos abdomen menunjukkan


adanya gambaran udara usus yang
menyebar sepanjang usus yang
mengarah pada kemungkinan ileus
obstruktif

THT

41. E. Cavum cranii


Petinju mendapat pukulan di hidung,
lalu keluar cairan dari hidung secara
terus menerus
Cairan kemungkinan berasal dari: E.
Cavum cranii

Sinus paranasal berisi udara


Dari soal yang keluar adalah cairan, jadi
tidak mungkin dari sinus paranasal

Pada trauma wajah, fraktur os nasal


sering disertai fraktur bagian
kranium lainnya
Cairan yang mengalir dari hidung
mungkin menunjukkan kebocoran
CSF karena fraktur basis kranii

42. B. Antibiotik, antipiretik,


dekongestan, dan ear toilet H 2O2 3%
Keywords:
S: Keluar cairan dari telinga kanan,
riwayat batuk pilek
O: demam, telinga kanan: sekret
mukopurulen (+), perforasi sentral (+)

Dipikirkan diagnosis kerja OMA


stadium perforasi th/ Antibiotik,
antipiretik, dekongestan, dan ear
toilet H2O2 3%

OMA Patogenesis

OMA Manifestasi Klinis dan


Tatalaksana
OTITIS MEDIA AKUT
Manifestasi klinis, tergantung
stadium
Oklusi: retraksi membran timpani
Hiperemis: MT hiperemis dan
edema
Supurasi: Telinga bulging, sangat
nyeri, nadi dan suhu meningkat
Perforasi: Ruptur MT, nadi dan
suhu menurun, nyeri reda
Resolusi: MT menutup, sekret
hilang. Kegagalan stadium
resolusi menyebabkan OMSK.
Seluruh gejala sering disertai
riwayat ISPA dan gangguan
pendengaran.

Tata laksana
Oklusi: obat tetes hidung (Efredin
HCl 0,5%) + antibiotik
Hiperemis: antibiotik + obat tetes
hidung + analgetik + miringotomi
Supurasi: antibiotik + miringotomi
Perforasi: antibiotik + obat cuci
telinga
Resolusi: antibiotik
Setelah miringotomi atau perforasi
lakukan cuci telinga dengan H 2O2 3%
selama 3-5 hari.
Antibiotik lini-1: Amoxicillin 80-90
mg/kg/hari PO dibagi 2x/hari selama
10 hari

43. D Laringoskop
Keyword:
Sesak nafas, berkurang bila tidur miring
atau memakai bantal sejak 2 bulan yg lalu,
sembuh dengan sendirinya
Stridor inspirasi dan retraksi ringan
suprasternal (+).
Radiologis: Penyempitan di daerah laring.

Diagnosis: Laringomalasia
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan
untuk menilai laring: Laringoskop

Laringomalasia
Merupakan kelainan kongenital
kartilago laring
Gejala mulai bulan ke-2:
Stridor, retraksi daerah suprasternal,
epigastrium, interkostal dan
supraklavikular
Tidak ada gangguan makan dan minum

Laringomalasia akan resolusi saat


sekitar 2 tahun
Pencegahan: dengan mencegah
inflamasi di saluran nafas, seperti
rhinofaringitis akut

44. C. Dix-Hallpike manuver


Keyword:
Pusing berputar sejak 1 minggu yang
lalu.
Mual (+), muntah (+), keluhan tidak
berkurang bila istirahat. Riwayat
kecelakaan lalu lintas (+)
Pada pasien dipikirakan terjadi vertigo
akibat post trauma BPPV
Cara pemeriksaan : Dix- Hallpike manuver

Vertigo Perifer vs. Sentral


Vertigo Perifer
(Vestibuler)

Vertigo Sentral (NonVestibuler)

Sifat vertigo

Rasa berputar

Rasa melayang, hilang


keseimbangan

Gangguan di

Kanalis semisirkularis

Batang otak atau serebelum

Serangan

Episodik

Kontinyu

Mual/muntah

Gangguan
pendengaran

Gerakan pencetus

Gerakan kepala

Gerakan objek visual

Situasi pencetus

Keramaian lalu lintas

Penyebab

Neuritis vestibuler
BPPV
Meniere disease
Trauma
Fisiologis (mabuk)
Obat-obatan
Neuroma akustik

Stroke batang otak


TIA vertebrobasiler
Migren basiler
Trauma
Perdarahan serebelum
Infark batang otak/serebelum
Degenerasi spinoserebral

45. B. Toxoplasmosis
Keyword:
Kebiasaan makan daging sate
setengah matang
Pembesaran kelenjar di leher, tidak
nyeri, berdiameter 1x1 cm, kenyal.
Lab: leukositosis.

Diagnosis paling mungkin:


Toksoplasmosis

Toksoplasmosis pada pasien


imunokompeten:
80-90% asimptomatik
Memberikan gambaran pembesaran
limfonodus servikal yang tidak nyeri, diameter
kurang dari 3 cm
Demam, malaise, keringat malam, mialgia

Tanda infeksi:
Leukositosis
Makan daging setengah matang dapat
mengandung kista jaringan yang terdapat
pada feses kucing

46. B. Allergic crease


Perempuan, bersin pada pagi hari.
Sering menggosok-gosok hidung
hingga terbentuk garis di sekitar
dorsum nasi allergic crease

Tanda Alergi
Allergic shiners
Dark circles under
the eyes are due to
swelling and
discoloration from
congestion

Allergic salute
The way that many
children use the
palm of their hand
to rub and raise the
tip of their nose to
relieve nasal itching
and congestion

Allergic crease
A line across the
bridge of the nose
usually the result of
allergic salute

Dennie morgan
lines
Crease-like wrinkles
that form under the
lower eyelid folds
(double skin folds)

Mouth breathing
Akibat kongesti
nasal disertai
dengan
development of a
high, arched palate,
an elevated upper
lip, and an overbite

Allergic (adenoidal)
face (long face
syndrome)
Akibat pembesaran
adenoid
menyebabkan tired
and droopy
appearance

Postnasal drip
From allergic mucus
building up and
being discharged
into the throat
Serious nasal
allergies also
reduce the sense of
taste and smell.

47. C. Matikan kecoa lalu


dikeluarkan
Serangga dalam liang telinga
Prinsip : binatang dimatikan dengan
meneteskan pantokain, silokain,
minyak atau alkohol sebelum
dikeluarkan

48. E. Telinga kiri normal, telinga


kanan tuli sensorineural
Keywords
O: Swabach
memendek telinga
kanan, Rinne (+)
kedua telinga, Weber
lateralisasi ke kiri

Jadi pada pasien ini


terjadi tuli
sensorineural
telinga kanan dan
telinga kiri normal

49. E. Korpus Alienum


Keyword:
Anak berusia 5 tahun
Hidung berbau busuk sejak 1 minggu
yang lalu.
Hanya pada hidung sebelah kanan dan
disertai dengan pilek.
Demam (-), mimisan (-), telinga dan
tenggorok normal

Diagnosis: Korpus alienum

50. C. Kesulitan tidur selama 1


bulan
Keyword:
Sering terbangun saat tidur, mengorok
Tonsil T3/T4, tidak hiperemis, terdapat
pelebaran kripta dan detritus (+).

Diagnosis: tonsilitis kronis dengan


obstruksi saluran napas.
Indikasi pengangkatan tonsil: kesulitan
tidur selama 1 bulan

Indikasi Absolut
a) Pembengkakan tonsil
yang menyebabkan
obstruksi saluran napas,
disfagia berat, gangguan
tidur dan komplikasi
kardiopulmoner
b) Abses peritonsil yang
tidak membaik dengan
pengobatan medis dan
drainase
c) Tonsilitis yang
menimbulkan kejang
demam
d) Tonsilitis yang
membutuhkan biopsi

Indikasi Relatif
a) Terjadi 3 episode atau lebih
infeksi tonsil per tahun dengan
terapi antibiotik adekuat
b) Halitosis akibat tonsilitis kronik
yang tidak membaik dengan
pemberian terapi medis
c) Tonsilitis kronik atau berulang
pada karier streptokokus yang
tidak membaik dengan
pemberian antibiotik laktamase resisten
) Jawaban: A. Kesulitan tidur
selama 1 bulan

BEDAH

51. B. Fraktur Galeazzi


Keywords: jatuh dengan
tangan menyangga,
fraktur radius distal +
dislokasi processus
styloideus ulna
Fraktur radius +
dislokasi sendi
radioulnar distal =
Fraktur Galleazi
Akibat beban pd
hyperpronated forearm

Fr Montegia = dislokasi sendi


radioulnar proksimal yang
menyertai fraktur forearm
Fr Barton = Distal Radius Fractures
= fraktur pada area artikuler distal
& metafisis

Fraktur Galeazzi:
Fraktur radius dengan
dislokasi sendi
radioulnar

Fr Colles = fraktur radius distal


dengan/tanpa ulna, fragmen fraktur
distal ke dorsal
Fr Smith = fraktur radius distal
dengan/tanpa ulna, fragmen fraktur
distal ke volar

52. C. FAM
Keywords: wanita 18 tahun, massa
payudara kiri sejak 2 tahun, nyeri (-),
kenyal, batas jelas, mobile
FAM
Massa payudara paling umum pd wanita
<25 th
Massa tunggal (10-15% multipel), padat,
kenyal, licin, mobil, nyeri (-), 1-5 cm (bs
bertambah besar)

Ca mammae = curiga bila massa


keras, ireguler, terfiksasi
Disertai perubahan ukuran/bentuk
payudara (asimetri payudara),
perubahan kulit (bengkak, penebalan,
radang, edema/peau d orange),
abnormalitas puting (retraksi, inversi,
bloody discharge, ulserasi), massa aksila

Payudara fibrokistik = massa jinak


payudara, periodic swelling (bisa nyeri)
berkaitan dengan siklus menstruasi
Phyllodes tumor = nodul besar (rata-rata
5 cm), soliter, padat; terutama pada wanita
40-50 tahun
10% ganas

Papiloma duktus = tumor jinak duktus


payudara, biasanya dekat puting,
discharge jernih/berdarah
Papiloma multipel = risiko ca payudara >

53. B. Hipospadia
Keywords: bayi laki-laki 1
tahun, rewel, tidak bisa
BAK, lubang kencing di
bawah batang penis
Hipospadia
OUE di ventral penis
proksimal dari ujung glans
(bisa di skrotum/perineum)
Chordee pemendekan &
kurvatura penis abnormal
Dorsal hood (prepusium
berlebih di dorsal), kulit
ventral defisien

Epispadia = OUE di dorsal penis


Fimosis = prepusium tidak bisa ditarik
melewati glans
Fisiologis (bayi baru lahir), patologis
(sebelumnya bisa diretraksi, sekarang tidak
bisa)
Risiko jd parafimosis klo diretraksi paksa lalu
lupa dikembalikan posisinya nekrosis glans

Parafimosis = prepusium yang diretraksi


tidak bisa kembali ke posisi semula

54. B. Fimosis
Keywords: anak laki-laki 3 tahun,
nyeri BAK sejak 3 bulan yang lalu,
penis kadang menggembung;
prepusium sulit ditarik ke belakang
Dx: fimosis

55. C. Kuning
Keywords: laki-laki 28 tahun KLL, CM,
TTV stabil, akral hangat, luka lecet,
fraktur femur tertutup kaki kanan
Triase: kuning

Triase
Merah (segera) = tidak akan bertahan tanpa
terapi segera, punya kemungkinan selamat
Kuning (observasi) = perlu observasi (& mungkin
triase ulang). Sekarang stabil, tidak dalam bahaya
maut. Butuh perawatan. Dalam kondisi normal
akan segera ditangani.
Hijau (tunggu) = walking wounded; butuh terapi
setelah pasien kritis ditangani
Putih (dismiss) = luka minor, tidak perlu
penanganan dokter
Hitam (expectant) = meninggal/luka sangat
ekstensif sehingga tidak bisa selamat dengan
terapi yang tersedia

56. B. Adenokarsinoma
prostat
Keywords: laki-laki 65 tahun, tidak dapat
BAK sejak 1 hari yang lalu, nyeri bokong,
nyeri & bulging suprapubik; RT prostat
membesar, keras, permukaan tidak rata
Ca prostat
LUTS, retensi urin, hematuria, nyeri punggung
Dapat disertai: penurunan BB, anemia, nyeri
tulang, fraktur patologis, defisit neuro (kompresi
medula spinalis), nyeri & edema ekstremitas
bawah (metastasis vena & limfe), adenopati,
overdistensi vesika, tonus sfingter anal

RT: nodul, asimetri, perbedaan tekstur


Marker: PSA
Biopsi!

BPH
Gejala LUTS
RT: ukuran, nodul, tonus sfingter ani,
fluktuasi (abses), nyeri (prostatitis)
Transrectal USG

Prostatitis: demam, nyeri


perineal/punggung/perut bawah,
disuria, LUTS, discharge uretra,
retensi urin; RT nyeri
Tumor buli: hematuria tanpa
disertai nyeri, gejala iritatif LUTS
Ca rekti: BAB berdarah/berlendir,
perubahan pola BAB, nyeri
perut/punggung, gejala BAK; RT;
marker CEA, CA 19-9; kolonoskopi

57. C. Cystotomi
Keywords: Trauma perineum, tidak
bisa BAK, meatal bleeding cedera
uretra
Pada defek/ruptur urtera baik anterior
dan posterior, kontraindikasi
pemasangan kateter
Tindakan awal yang perlu dilakukan
adalah untuk dekompresi urine yaitu
tindakan sistosomi

58. B. Sindrom
Kompartemen

Keywords: laki-laki 20 tahun, trauma, cruris


dekstra 1/3 tengah edema, nyeri angulasi,
pulsasi a. dorsalis pedis melemah
Diagnosis: sindroma kompartemen
Terutama high-velocity injuries, fraktur tulang
panjang, crush injuries, luka penetrasi (trauma
arteri), trauma vena
5P (pd stadium lanjut): Pain, Parestesia, Pallor,
Pulselessness, Poikilothermia
Tanda awal yg paling konsisten: pe
diskriminasi 2-titik
Palpasi: teraba keras

59. A. Luka bakar grade I


Keywords: wanita 24 tahun, kemerahan
pada kulit, perih, riwayat berjemur
Luka bakar superfisial (grade I):
eritema, nyeri
Grade II dangkal: merah muda-merah,
bulla (+)/(-), basah, nyeri (++), CRT (+)
Grade II dalam: merah-keputihan, bulla
(+)/(-), lembab, nyeri (+), CRT (-)
Grade III (full-thickness): kering,
eschar, nyeri (-), khaki/abu/hitam

60. E. PAD
Keywords: laki-laki 46 tahun, ibu jari
kaki hitam & nyeri, merokok (+), DM (-)
Dx: acute limb ischemia akibat PAD
Peripheral arterial disease (PAD)
= perfusi inadekuat akibat aterosklerosis
FR: merokok, hiperlipidemia, DM,
hiperviskositas
Etio lain: flebitis, trauma, operasi,
autoimun (vaskulitis, arthritis), koagulopati

Progresi kronik (trombosis)/ akut


(emboli)
Pemicu akut: AF, penyakit katup, infark
miokard
Kronik: klaudikasio (nyeri otot dengan
aktivitas, membaik dengan istirahat),
ischemic rest pain (: cardiac output
jelek), ulkus
5P: pulselessness paralysis parestesia
pain pallor

61. D. Kalium sitrat


Keywords: Nyeri pinggang, BAK
tersendat-sendat, nyeri ketok di regio
lumbal, urinalisis ditemukan kristal
Obat untuk menghancurkan kristal asam
urat dan sistin: alkalisasi urin dengan
natrium bikarbonat dan kalium sitrat
Kalium sitrat lebih menjadi pilihan karena
tersedia dalam bentuk tablet slow release
sehingga tidak terjadi overload natrium

62. C. Biopsi PA
Keywords: wanita 36 tahun, nipple
discharge, payudara tidak simetris,
retraksi puting kemungkinan ca
mammae
Baku emas pemeriksaan adalah
biopsi PA / Pemeriksaan histopatologi
(untuk hampir semua tumor padat)

63. A Hidrocele
Hidrokel:
Kumpulan dari cairan serosa akibat defek atau iritasi di
tunika vaginalis skrotum
Gejala dan tanda:
Pembesaran skrotum Biasanya tidak nyeri
Pemeriksaan trasluminasi positif

Orchitisnyeri (karena ada inflamasi), transiluminasi (-)


Varikokel dilatasi pleksus venosus pampiniformis dan
vena spermatik internal tampak gambaran cacing
pada skrotum; ps datang dengan keluhan infertilitas
Elephantiasistissue swelling+skin and tissue
thickening

Hidrocele

64. A. Greenstick fracture

65. C. Raynauds disease


Keywords: nyeri, pucat, sianosis bila terpapar
suhu dingin
Raynauds disease
Vasospasme rekuren akibat kelainan fungsional
pembuluh darah, biasanya dipicu stres emosional
dan suhu dingin
Bentuk serangan: pemicu (dingin) vasospasme
(pucat, biru, nyeri) reflow (hiperemia)
Muncul simetris di ujung jari kaki dan tangan, tidak
ada nekrosis, CRP normal
PF umumnya normal, boleh di-challenge dengan
suhu dingin

66. B. USG Mamae


Keywords: wanita 25 tahun, massa
payudara kanan progresif sejak 3 tahun
yang lalu, nyeri jika menstruasi, kenyal,
mobil, tidak terfiksasi
Payudara fibrokistik = massa jinak
payudara, periodic swelling (bisa nyeri)
berkaitan dengan siklus menstruasi
Pemeriksaan penunjang:
USG bisa membedakan massa solid/kistik
Mammogram pada wanita <35 th kurang
jelas karena jaringan payudara lebih padat

67. B. Clostridium Perfingens


Keywords: Keluhan kaki berbau busuk,
riw tertusuk beling, keluar nanah dan
kehitaman gangren (nekrosis/kerusakan
jaringan karena bakteri anaerob)
Clostridial gas gangrene akibat Clostridium
perfingens
Dapat disebabkan trauma, post operasi,
ataupun spontan
Dalam prosesnya harus terjadi inokulasi
jaringan dan oksigen yang rendah

Clostridium dificile
Bakteri gram positif anaerobic,sporeforming rods (bacilli), penyebab diare,
biasanya muncul akibat penggunaan
antibiotik spektrum luas

Clostridium botulinum
Anaerobik gram positif batang
Menyebabkan botulism kelainan
neurologik akut yang menyebabkan
neuroparalisis
Dapat melalui makanan (makanan
kaleng/pengawet) atau luka

Clostridium
perfringens:
Anaerob, gram +,
rod-shaped, spore

Clostridium tetani:
Anaerob, gram +,
rod-shaped,
endospore
Tennis
racket/drumstick
appearance

Staphylococcus:
Facultative anaerob,
gram +, round
Grape-like clusters

Streptococcus
pyogenes:
Aerob, gram +,
round

68. C. Beri O2, jaga jalan nafas,


rujuk ke RS
Keywords: luka bakar 40%, sesak progresif,
dahak jelaga
Diagnosis: luka bakar dengan trauma
inhalasi
Riwayat terperangkap dalam ruang tertutup
Batuk, sputum berjelaga, serak, sesak progresif,
luka bakar pada wajah, rambut wajah/hidung
terbakar
Terapi: ingat ABCDE. Untuk trauma inhalasi
sebaiknya segera intubasi. Selain itu: aggressive
pulmonary toilet, bronkodilator, membersihakn
sekresi

Terapi luka bakar akut


Jauhkan dari sumber panas, irigasi
dengan air mengalir
Airway: intubasi bila curiga trauma
inhalasi, stabilisasi leher
Breathing: O2 100% dengan NRM
Circulation: IV line, mulai resusitasi
cairan bila luka bakar >15% pd
dewasa/10% pada anak

Disability: GCS
Exposure: lepaskan pakaian & perhiasan,
selimuti, nilai luas & dalam luka bakar
menyeluruh
Fluid: perhitungkan kebutuhan cairan,
kateter urin untuk memantau
Analgesik
Secondary surgery
Rujuk bila ada indikasi, termasuk trauma
inhalasi

69. B. Eksisi
Keywords: Wanita benjolan di
payudara, konsistensi kenyal,
permukaan licin, batas tegas, mobile
kemungkinan FAM
Teknik biopsi yang tepat untuk FAM:
biopsi eksisi

70. B. Nekrosis glan penis


Keywords: anak laki-laki 8 tahun,
sering menarik kuncup penis hingga
prepusium tertarik ke dorsal
Diagnosis kerja: mengarah pada
parafimosis akibat prepusium
sering diretraksi
Komplikasi: rekurensi, posthitis
(inflamasi prepusium), nekrosis glans
penis, autoamputasi

OBSGYN

71. B. Resusitasi cairan


Keywords: Nyeri perut hebat, perdarahan
dari jalan lahir, terlambat haid, abdomen
teraba massa, cavum douglasi menonjol,
tes kehamilan positif KET
Tampak lemas, TD 80/60 syok
hipovolemik akibat perdarahan
Tindakan pertama tangani
kegawatdaruratan resusitasi cairan
Tindakan definitif laparotomi

72. A. Beta HCG


Keywords: Wanita hamil 2 bulan,
perdarahan dari jalan lahir, mual dan
muntah, uterus lebih besar dari
usia kehamilan
Kemungkinan diagnosis: Mola
hidatidosa

Diagnosis banding untuk uterus yang lebih


besar dari usia kehamilan di trimester 1:
Tumor uterus, misalnya fibroid
Penyakit trofoblastik gestasional, paling sering
mola hidatidosa
Dapat mengalami hiperemesis, perdarahan
dari jalan lahir, atau hipertiroidisme

Tumor ovarium
Gestasi multiple biasanya 3 atau lebih untuk
terdeteksi di trimester 1
Usia kehamilan salah

Mola hidatidosa dicurigai bila beta-hCG >


100.000 mIU/mL

73. D. Karena preeklampsia


mengganggu perfusi janin
CTG (cardiotocograph) digunakan untuk memeriksa
heart rate janin
NST (nonstress test) dilakukan menggunakan CTG
Prinsip: janin yang mendapat cukup oksigen secara
spontan akan mengalami peningkatan Heart rate
temporer
Disebut reaktif/normal 2 akselerasi HR dalam
periode 20 menit, dengan atau tanpa gerakan janin yang
dirasakan ibu. Akselerasi: 15 bpm di atas baseline
selama minimal 15 detik jika hamil > 32 minggu, atau
10 bpm selama minimal 10 detik jika 32 minggu
Nonreaktif < 2 akselerasi HR dalam periode 20 menit
selama periode uji 40 menit. Jika nonreaktif, dapat
dilanjutkan dengan stimulasi vibroakustik yang dapat
membangunkan janin

74. D. Atonia uteri


Keywords: Wanita dengan perdarahan jalan lahir
setelah melahirkan 2 jam yang lalu. Kontraksi
uterus kurang baik.
Kontraksi uterus kurang baik atonia uteri
penyebab > 90% perdarahan dalam 24 jam
pasca persalinan
Sisa plasenta tidak mungkin karena plasenta
lahir lengkap
Gangguan pembekuan tidak ada riwayat
Robekan jalan lahir dan inversion uteri tidak
ada tanda-tandanya

75. C. Pil progesteron


Keywords: Hamil 3 bulan, perdarahan
bercak dari jalan lahir, serviks menutup
Abortus iminens
Bila perdarahan bercak berwarna
kecoklatan, bercampur lendir, hanya
berupa noda pada pakaian dalam, tanpa
nyeri, berlangsung beberapa hari dan
makin lama makin berkurang embrio
masih baik umumnya perbaikan terjadi
tanpa pengobatan istirahat total

Pertimbangkan adanya AKDR atau infeksi


Gangguan hormon merupakan salah satu
faktor terjadinya abortus preparat
progesteron akan memberikan hasil
yang baik apabila memang terjadi
defisiensi hormon. Preparat yang sering
digunakan: didrogesteron,
hidroksiprogesteron kaproat, dan
alilesterenol

Abortus (Berdasarkan Tingkatan)


Abortus iminens: portio tertutup,
jaringan (-)
Abortus insipiens: portio terbuka,
jaringan (-)
Abortus inkomplit: portio terbuka,
jaringan (+)
Abortus komplit: portio tertutup,
jaringan (+)
Abortus habitualis: telah terjadi
abortus selama min 3 kali berturut-

76. D. Terminasi kehamilan


Keywords: Wanita hamil, nyeri kepala,
TD 190/120, proteinuria +3
preeklampsia berat
Kelahiran atau terminasi kehamilan
adalah satu-satunya tindakan yang
dapat menyembuhkan preeklampsia
Usia kehamilan > 34 minggu dapat
langsung terminasi (lihat algoritme
preeklampsia berat)

Perbedaan Preeklampsia Ringan dan


Berat
Abnormalitas
Ringan
Berat
Tekanan darah diastolik

<100 mmHg

110 mmHg atau lebih

Proteinuria

Terdeteksi hingga 1+

Persisten 2+ atau lebih

Sakit kepala

Tidak ada

Ada

Gangguan visual

Tidak ada

Ada

Nyeri abdomen atas

Tidak ada

Ada

Oliguria

Tidak ada

Ada

Kejang (eklampsia)

Tidak ada

Ada

Kreatinin serum

Normal

Meningkat

Trombositopenia

Tidak ada

Ada

Peningkatan enzim hati

Minimal

Nyata

Restriksi pertumbuhan janin

Tidak ada

Jelas

Edema paru

Tidak ada

Ada

77. D. 16-18 minggu


Keywords: PF fundus setinggi
simfisis-pusat DJJ terdengar dengan
Doppler
DJJ terdengar doppler 12 minggu
DJJ terdengar leneck 18-20 minggu

78. B. Kala 1 fase aktif


Tanda dan gejala inpartu:
Penipisan dan pembukaan serviks
Kontraksi uterus yang menyebabkan
perubahan serviks (frekuensi minimal 2 kali
dalam 10 menit)
Cairan lendir bercampur darah (bloody show)
dari vagina

Pembukaan 5 cm kala 1 fase aktif


(4-10 cm)

Persalinan Normal
Kala I : proses membukanya serviks
Fase laten : bukaan < 4 cm (selama 8 jam)
Fase aktif : bukaan 4-10 cm (lengkap) selama kira-kira 6 jam
(1 cm/jam)

Kala II: proses melahirkan bayi


Dimulai sejak bukaan serviks lengkap hingga lahirnya bayi
Batas waktu 60 menit pada nullipara dan 30 menit pada
multipara

Kala III: proses melahirkan plasenta


Dimulai sejak lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta
Batas waktu 30 menit

Kala IV: pemantauan keadaan ibu (tanda-tanda vital)


Dimulai sejak lahirnya plasenta sampai 2 jam setelahnya

79. E. Abortus septik


Keywords: Keguguran, dimasukkan
sesuatu ke dalam vagina oleh dukun.
Suhu 38,50C. PF didapatkan sekret
vagina berwarna hijau dan berbau
Abortus septik

Tanda-tanda abortus septik:


Demam (suhu > 38), menggigil atau berkeringat
Sekret pervaginam yang berbau/keluar cairan
mukopurulen melalaui ostium serviks
Tegang/kaku dinding perut bawah (dengan atau tanpa
nyeri ulang-lepas)
Nyeri goyang serviks (pada pemeriksaan bimanual)

Gejala abortus septik:


Riwayat abortus provokatus (disengaja) Pada
pasien tidak jelas apakah abortus disengaja,
tetapi ada riwayat sesuatu dimasukkan ke
dalam vagina oleh dukun
Nyeri perut bawah
Perdarahan pervaginam yang lama (> 8 hari)
Kelemahan umum (gejala seperti flu)

80. A. Solusio plasenta


Keywords: Perdarahan merah kehitaman +
nyeri perut, usia kehamilan 28 minggu
bukan abortus
Perdarahan merah kehitaman, nyeri hebat
pada perut, uterus terasa tegang dan kaku,
kontraksi uterus (+) Solusio plasenta
Merokok salah satu faktor risiko solusio
plasenta

Hemmoragic Antepartum
(HAP)

Solutio plasenta : perdarahan pervaginam,


warnanya akan kehitam-hitaman dan sedikit
sakit, perut terasa agak sakit, atau terasa agak
tegang yang sifatnya terus menerus
Plasenta previa : perdarahan tanpa nyeri, tibatiba, tanpa penyebab, biasanya darah berwarna
merah segar, VT teraba plasenta atau presentasi
janin
Varises vagina : terlihat pelebaran pembuluh
darah di vagina
Vasa previa : pembuluh darah janin melintasi atau
berada di dekat ostium uteri internum, perdarahan
terjadi apabila ketuban pecah.

Ruptur uteri
Robeknya uterus
Komplit: isi uterus masuk ke rongga abdomen, biasa
disertai syok hipovolemik
Inkomplit: dinding peritoneum tetap intak, jd tidak ada yg
ke abdomen

Penyebab
Kelemahan pd dinding uterus, mis. riw. SC dan
myomektomi, grande multipara, makrosomia, gemeli
Intervensi saat persalinan: induksi, mendorong fundus
terlalu kuat, ekstraksi forceps

Gejala: nyeri abdomen, pendarahan pervaginam,


tanda syok, fetal bradikardia, bagian janin teraba dari
kulit

81. D. Kontap (Kontrasepsi Mantap)


Keywords: Wanita, 36 tahun, ingin
KB, anak 3, riw TIA, TD 150/100
Riwayat TIA, hipertensi
kontraindikasi KB hormonal (pil KB,
implant)
Usia > 35 tahun, sudah memiliki 3
anak disarankan untuk tidak hamil
lagi Kontap

Pasien dengan faktor risiko kardiovaskular /


cerebrovascular merupakan kontraindikasi
penggunaan kontrasepsi hormonal.
Tubektomi merupakan kontrasepsi mantap dan
akan sulit lagi dilakukan reanastomosis tuba
kembali apabila masih ingin memiliki anak
Kondom dapat terjadi kegagalan seperti karet
yang bocor dan pemakaian yang tidak tepat
sehingga pencegahan kehamilan tidak dapat
diprediksi
IUD atau AKDR dapat bertahan 5-8 tahun dan
mudah untuk kembali ingin mempunyai anak
(hanya dengan mengeluarkan AKDR dari rahim)
sehingga perencanaan kehamilan dapat diprediksi

Kontrasepsi
Alamiah: koitus interuptus & pantang senggama
(metode kalender tengah siklus haid, lendir servix
lebih kental, dan peningkatan suhu basal)
Mekanik: kondom (wanita, pria), IUD (5-8 tahun).
IUD Cu-T dengan reaksi peradangan menghambat
fertilisasi dan implantasi ke endometrium
Hormonal: pil, suntik, implan, patch: bisa
progresteron saja, bisa kombinasi dengan
estrogen
Kontap (KB mantap): tubektomi, vasektomi (untuk
usia wanita >35 tahun)

PENGGUNAAN KONTRASEPSI BERDASARKAN


TUJUAN

199

82. E. Infus cairan


Plasenta tidak lahir dalam 15 menit 10 U
oksitosin IM dosis kedua Jika kandung kemih
penuh, pasang kateter ulangi penegangan
tali pusat terkendali jika plasenta belum
lahir 30 menit setelah bayi lahir rujuk
Plasenta tidak lahir + perdarahan plasenta
manual masih berdarah kompresi
bimanual + oksitosin + misoprostol
Pada pasien, terdapat tanda-tanda syok (TD
90/50, HR 120, pucat, lemas, berkeringat, air
kencing sedikit dan pekat) tindakan pertama
adalah resusitasi cairan

83. A. Konsumsi KB oral 1


siklus
Keywords: Wanita, keluar bercak
darah dari kemaluan selama lebih
dari 8 hari. Sebelumnya pasien
memiliki riwayat suntik KB
progesteron.
Perdarahan akibat suntik KB
progesteron diterapi dengan pil
KB kombinasi 1 siklus

84. E. peningkatan FSH


Hanya ditemukan sel sertoli di tubulus
seminiferous sertoli cell-only syndrome/Del
Castillo syndrome/germ cell aplasia
Ciri-ciri:
Laki-laki steril
Tidak ada abnormalitas seksual

Tanda-tanda:
Biopsi testis: tidak ada spermatozoa
Kadar testosterone dan LH normal
FSH meningkat

85. B. 27 Maret 2012


Keywords: HPHT 20 Juni 2011, siklus
haid 28 hari, positif hamil TP 27
Maret 2012
Rumus Naegel : Tanggal + 7, bulan
3, tahun + 1, dengan catatan siklus
menstruasi 28 hari
Contoh lain: Pasien HPHT 28 Maret
2013, siklus haid 28 hari, taksiran
partus?

86. B. Pap smear


Keywords: Wanita 45 tahun keputihan, terdapat
bercak darah. Suami pasien supir truk antar kota
suspek kanker serviks
Gejala kanker serviks:
Perdarahan vagina abnormal
Ketidaknyamanan vagina
Duh berbau
Disuria

Evaluasi yang lengkap dimulai dengan Pap smear


Pilihan pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh
dokter umum: IVA dan pap smear Tetapi pap
smear lebih akurat

87. E. KET
Keywords: nyeri perut bawah akut,
perdarahan dari OUE, nyeri goyang portio
(+), tanda gagal sirkulasi (syok/presyok),
anemia karengan perdarahan (8 gr%)
kehamilan ektopik terganggu
Jika terdapat palpasi abdomen tegang, defans
muscular (+) ruptur kehamilan ektopik
Mola hidatidosa perdarahan bergumpal
seperti anggur < 20 minggu, uterus lebih
besar dari usia kehamilan, ballotement (-), DJJ
(-), b-HCG urine sangat tinggi

Kehamilan Ektopik

A pregnancy that occurs outside the womb (uterus)


Life-threatening condition to the mother
The baby (fetus) cannot survive
Symptoms:
Early pregnancy symptoms, such as breast tenderness or
nausea
Abnormal vaginal bleeding
Low back pain
Mild cramping on one side of the pelvis
No periods
Pain in the lower belly or pelvic area

Rupture shock emergency

Radang Panggul (PID)


Radang panggul adalah penyakit yang
diakibatkan infeksi ascending dari vagina atau
serviks ke endometrium, tuba falopii dan/atau
struktur di sekitarnya.
Pada penyakit radang panggul pemberian
antibiotik spektrum luas menjadi penting
walaupun patogen belum dapat teridentifikasi
secara objektif.
Kombinasi cephalosporin generasi ke-3 atau
amoxicillin ditambah dengan tetracycline dan
metronidazol dapat menjadi pilihan utama.

Mola Hidatidosa
Kadar bHCG yang tinggi serta ukuran
uterus yang lebih besar dari masa
kehamilan menunjukan diagnosis
mola hidatidosa.
Mual serta muntah berlebihan yang
dialami pasien adalah akibat kadar
beta-HCG yang sangat tinggi.
Terapi: kuretase

88. B. Derajat 2
Keywords: Wanita pendarahan post
partum 2 jam yang lalu, berat janin
4200 gram, plasenta lahir lengkap 5
menit setelah bayi lahir. Tampak
robekan hingga otot perineum HPP
akibat trauma/laserasi jalan lahir
Robekan hingga otot perineum
Ruptur perineum derajat 2

Penyebab HPP tersering (4T): Tone, Tissue,


Trauma/Tear, Thrombine
Tone: Atonia uteri kontraksi uterus lemah.
Tatalaksana: uterotonika (oxytocin, metergin)
Tissue: Sisa plasenta jaringan plasenta
tidak lengkap. Th/ kuret
Trauma: Laserasi jalan lahir darahnya
merah segar (ruptur perineum grade I-IV
atau ruptur uteri)
Thrombine: Gangguan koagulasi HELLP
syndrome, DIC

Derajat Ruptur Perineum


Derajat I: robekan pada mukosa & kulit vagina saja
Derajat II: derajat I + robekan kulit perineum
hingga otot dan fasia perineum (belum mengenai
sfingter ani)
Derajat III: derajat II + robekan seluruh perineum
sampai m. sfingter ani:
- IIIa: robekan < 50% ketebalan m. sfingter ani
- IIIb: robekan > 50% ketebalan m. sfingter ani
- IIIc: hingga m. sfingter interna
Derajat 4: sudah melibatkan mukosa rektum dan
epitel anus (sudah bolong)

89. B. Nifedipine
Keywords: G3P1A1, hamil 7 bulan, TD
160/110, proteinuria +3 preeklamsia berat
Obat pilihan untuk menurunkan tekanan
darah pada preeklamsia:
Hidralazine (drug of choice)
Labetalol (lebih bagus dari hydralazine karena
efek samping hipotensi lebih rendah)
Nifedipine (secara internasional kurang disukai
karena short acting, sedangkan diperlukan obat
yang long acting)

Obat pilihan pada hipertensi dalam kehamilan


Lini 1: metildopa
Lini 2 (bila tidak responsif atau HT berat):
Labetalol: dpt menyebabkan IUGR
Nifedipin: penurunan TD terlalu drastis
Hidralazin: dapat menyebabkan trombositopenia
neonatus
HCT: dapat menyebabkan hipovolemia dan gangguan
elektrolit

ACE-I (kaptopril) dan ARB (losartan, valsartan)


dikontraindikasikan karena bersifat teratogen
(defek pada jantung, agenesis ginjal)

90. C. Vaginosis bakterial


Keywords: wanita, keluar cairan dari vagina. Gatal
hebat (-), faktor risiko infeksi menular seksual (-)
Gonorea, klamidia, trikomonas umumnya
didapatkan dari hubungan seksual
Vaginosis bacterial bisa ada gatal tetapi lebih
ringan daripada infeksi trikomonas atau candida
Faktor risiko vaginosis bacterial:
Penggunaan antibiotik
Penurunan produksi estrogen
Pemakaian IUD
Cuci vagina
Aktivitas seksual

MATA

91. B. Glaukoma sudut tertutup akut


Keywords: mata kanan nyeri tibatiba, penglihatan kabur, melihat
gambaran pelangi, mual dan
muntah. PF konjungtiva hiperemis,
oedem kornea, COA dangkal, TIO
N+3, VOD 2/60 glaukoma sudut
tertutup akut

Glaukoma primer ada 2 bisa jadi akut


Sudut tertutup: aliran aqueous humour
terhalang medial iris.
Sudut terbuka: insersi tepi iris lebih
tinggi dan menyumbat aliran aqueous humour
(iris plateau).

Gejala:
Tekanan intraokuler (IOP) meningkat (6080 mmHg).
Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,
mual muntah, pandangan ber-halo).


Pemeriksaan
ditemukan:
o Gonioskopi:
dangkal
o Kornea edem

bilik

segmen
mata

depan

anterior
sangat

o Konjungtiva injeksi siliar


o Iris bombe
o Pupil fixed mid-dilatasi akibat sinekia
posterior pupil tetap berdilatasi sewaktu
disinari lampu terang.

92. E. Asetazolamid
Glaukoma akut kegawatdaruratan oftalmologi
Segera turunkan tekanan intraokular dengan
azetazolamid IV atau oral bersama dengan obat
topikal (siklopegik pilokarpin 2-4% 6gtt/hari, @1gtt).
Dapat diganti dengan latanoprost, apraklonidin,
timolol 0.25-0.5%)
Pilokarpin untuk kontraksi siliar dan mengkonstriksi
pupil agar tidak terjadi iskemia iris. Sudah jarang dipakai
dan banyak digantikan oleh latanoprost.
Timolol dan apraklonidin mengurangi produksi aqueous
humour.
Steroid topikal kadang dipakai untuk mengurangi
inflamasi
intraokuler sekunder.
Zat hiperosmolar (manitol, gliserin) kadang dipakai
untuk mengurangi volume vitreous.

Setelah tekanan intraokuler turun iridotomi


perifer. Tujuan operasi adalah untuk membuat
hubungan permanen antara bilik mata depan dan
belakang agar iris bombe terlepas.
Tindakan yang juga dapat dilakukan:
trabekulektomi. Syarat = belum ada sinekia
anterior perifer.
Jika gagal lakukan:
a.ALPI (argon laser peripheral iridoplasty).
b.IRIDEKTOMI PERIFER (operasi biasa).
. Jika unilateral, mata kontralateral perlu di iridotomi perifer
laser untuk tujuan profilaksis.

93. A. Presbiopia
Keywords: Tidak bisa melihat jauh + dekat,
usia 45 tahun Presbiopia
Terjadi mulai umur 40 tahun
Gangan akomodasi:
Kelemahan otot akomodasi
Kurangnya elastisitas lensa

Koreksi dgn SP (+) :

40 tahun : Sp +
45 tahun : Sp +
50 tahun : Sp +
55 tahun : Sp +
> 60 tahun : Sp

1,00 D
1,50 D
2,00 D
2,50 D
+ 3,00 D

94. A. Diabetic retinopathya


Keywords:
57 tahun, mata kanan kabur sejak 2
bulan yang lalu
Funduskopi: mikroaneurisma retina
TD 130/80 mmHg, IMT 33 (obese grade
2)
Lab: Proteinuria (+3), glukosuria (+3),
kolesterol 350 mg/dl

Diagnosis: A. Diabetic retinopathy

Retinopati DM penyebab kebutaan


tersering di Barat.
Penyakit mikroangiopati profesif,
ditandai dengan kerusakkan dan
oklusi pembuluh darah kecil
hiperpermeabilitas dan kerapuhan
pembuluh darah yang trelibat.

Keluhan pasien (sama antara retinopati


hipertensif) umumnya adalah skotoma sentralis
yang didahului buta senja karena gangguan fungsi
makula
Retinopati diabetik dapat diklasifikasikan
Non- proliferatif
Proliferatif
Makulopati

Beda tipe proliferatif dan nonproliferatif


neovaskularisasi pada retina atau adanya
perdarahan vitreous

Klasifikasi selain non proliferatif rujuk


Non-proliferatif: mikroaneurisma (+), perdarahan
retina (+), cottow wool spots (+), neovaskular (-)
Preproliferatif: multiple perdarahan di semua
kuadran (+), venous beading (+), intraretinal new
vessels (+)
Proliferatif: neovaskularisasi di diskus (+),
perdarahan retina (+)
Advanced proliferatif: vitreous haemorrhage (+),
tractional retinal detachment (+), neovascular
glaucoma (+)
Makulopati (pada late onset DM): makula edema
atau makula iskemik

Tatalaksana:
Kontrol TD, lipid, dan gula darah
Foto koagulasi
Panretinal proliferatif DR
Makular laser menghancurkan mikroaneurisma
di makula
Grid laser non-iskemik difus makular edema

Vitrektomi perdarahan retinal,


menghilangkan traksi retina dan repair retinal
detachment, makula edema akibat traksi
vitreous

95. B. 1/300
Keywords: Mata kanan hanya bisa melihat
lambaian jari 1 m
Visus 6/6 : dapat melihat huruf pada jarak 6
meter, yang orang normal dapat melihat huruf
tersebut dari jarak 6 meter.
Visus 6/30 : dapat melihat huruf pada jarak 6
meter, yang orang normal dapat melihat huruf
tersebut dari jarak 30 meter
Visus 1/60 : hanya dapat menghitung jari dari
jarak 1 m.
Visus 3/60 : hanya dapat menghitung jari dari
jarak 3 m.

Visus 1/300 : hanya dapat melihat


lambaian tangan.
Visus 1/ ~ : hanya mengetahui ada /
tdknya cahaya
Visus membaik dengan uji pinhole
kelainan refraksi dapat dikoreksi
dengan kacamata

96. B. Hipermetropia
Keywords: wanita 18 tahun, kabur melihat
dekat. VOD S+2.00, VOS S+1.50
Hipermetropi: Keadaan mata yang tidak
berakomodasi memfokuskan bayangan di
belakang retina

Tanda subjektif:
Mata lelah.
Sakit kepala : frontal / fronto temporal headache.
Silau.
Astenophia akomodatif.

Tanda objektif:
Ukuran bola mata tampak lebih kecil
Diameter cornea lebih kecil dari normal
Pupil mengecil ( miosis)
COA dangkal

Terapi: koreksi dengan lensa spheris positif yang


terkuat yang memberikan visus terbaik sehingga
sinar difokuskan di retina

Komplikasi:
Strabismus konvergen
Amblyopia
Primary narrow angle glaucoma

97. B. Bayangan jatuh di belakang


retina
Mekanisme pada hipermetropi:
bayangan jatuh di belakang retina.

98. D. Tidak perlu pemeriksaan


khusus
Mata merah dan gatal, penurunan
penglihatan, riwayat sering terkena
angin mata menjadi sangat gatal dan
merah, jaringan di depan kornea.
Diagnosis: pterigium kharakteristik
khas, dari pemeriksaan mata harus nya
bisa.
Jawaban lain yang mungkin biopsi
eksisi, tapi ini tidak dipilih karena pada
soal ditulis biopsi kornea.

Pterigium
Pterigiummerupakanpertumbuhanfibrova
skularkonjungtivayangbersifatdegenerati
f dan invasif.
Seperti daging berbentuk segitiga, tumbuh
menjalar ke kornea dengan puncak di
sentral atw di kornea.
Umumnya asimptomatik, keluhan: mata
berair, merah, astigmat (akibat penarikan
kornea oleh pterigium/pendataran median
horizontal kornea.

Pterigium
Diagnosis:
Corneal topography mengetahui
derajat astigmatism
Karakteristik tampilan pada sebagian
besar pterigium mudah didiagnosis
secara klinis. Jika terdapat keraguan,
dapat dilakukan biopsi eksisional pada
lesi

Pterigium
4 stadium:
1: belum sampai
limbus
2: sudah melewati
limbus, belum
sampai pupil
3: melebihi stadium
2 tapi tidak melebihi
pinggiran pupil
4: melewati pupil

Sinar UVB, mikrotrauma kronik


(pasir, debu, anging), kekeringan
okular, dan sering terpajan angin
pencetus.
Temuan patologik pada konjungtiva
lapisan bowman kornea digantikan
olehjaringan hialin dan elastik.

Tatalaksana:
Kacamata anti UV
Air mata buatan/topical lubricating drops.
Hindari daerah yang berasap atau berdebu.
Kombinasi dekongestan/antihistamin (seperti
Naphcon-A) dan/atau kortikosteroid topikal
potensi sedang (seperti FML, Vexol) 4 kali
sehari pada mata yang terkena jika ada
inflamasi
Conjunctival autografts combined with surgical
excision mencegah rekurensi
Indikasi: kosmetik dan atau adanya gangguan
penglihatan, gerakan bola mata yang terganggu.

99. C. Konjungtivitis viral


Keywords:
Mata merah, visus normal
Gatal , pasir, panas, gatal dan demam.
Teman sekantor keluhan yang sama.
Pembesaran kelenjar retroaurikuler dekstra
Folikel + di konjungtiva tarsalis superior, sekret
serosa, kornea jernih

Diagnosis konjungtivitis viral ec adenovirus. DD/:


Keratitis bakteri sekret purulen, penurunan visus
Keratitis viral terjadi penurunan visus
Konjungtivitis alergi tidak ada demam

Viruses are a common cause of conjunctivitis


in patients of all ages.
Adenovirus is by far the most common cause,
Herpes simplex virus (HSV) is the most problematic.

Viral conjunctivitis, although usually benign


and self-limited, lasting for approximately 2-4
weeks, highly contagious.
Viral infection is characterized commonly by
an acute follicular conjunctival reaction and
preauricular adenopathy.

100. E. Rujuk dengan kemungkinan


bedah
Keywords: Mata tenang, visus turun
perlahan, seperti melihat asap,
kekeruhan di tengah pupil kedua
mata, Shadow test kanan +.
Diagnosis: katarak dengan visus 2/60
dan 1/300 rujuk untuk operasi

Penyebab katarak:
Old age (commonest)
Associated with other ocular and systemic diseases
(diabetes, uveitis, previous ocular surgery)
Associated with systemic medication (steroids,
phenothiazines)
Trauma and intraocular foreign bodies
Ionizing radiation (X-ray, UV)
Congenital (dominant, sporadic or part of a
syndrome)
Associated with inherited abnormality (myotonic
dystrophy,
Marfan's syndrome, Lowe's syndrome, rubella, high
myopia)

Treatment
Cataract alters the refractive power of the
natural lens glasses prescription may allow
good vision to be maintained.
If visual acuity cannot be improved with glasses
surgical removal of the cataractous lens.
Removal of the lens fibres, which form the nucleus
and cortex of the cataract, leaving the posterior
epithelial capsule to hold the new artificial lens and
keep the vitreous humour away from the anterior
chamber.

Preparation for cataract surgery


Biometry: ultrasound measurement of the length of the
eye and keratometry to measure the curvature of the
cornea and hence calculate the power of the implant to
be inserted in the eye during surgery.
General health problems are stable, particularly
hypertension, respiratory disease and diabetes.
Some medication increases the incidence of
haemorrhage
Warfarin does not need to be stopped but the INR should be
less than 3.
Aspirin may be stopped 1 week before surgery.

Informed consent

NEUROLOGI (15)

101. Neurologi Perdarahan


Epidural
Keywords: KLL, trauma
kepala temporal, penurunan
kesadaran progresif, nyeri
kepala, muntah, pupil
anisokor 2 mm/5 mm, RCL
& RCTL kiri melemah
Dx: pe TIK ec
perdarahan epidural
Trauma os temporal a.
meningea media
perdarahan epidural
Lucid interval

Jawaban: A. Perdarahan
epidural

EDH vs. SDH


EDH

SDH

Robeknya a.meningia
media (75% berhubungan
dengan trauma kranial)
Interval lusid: tidak sadar
sadar tidak sadar
CT scan: hiperdens konveks
Komplikasi: herniasi

Robeknya vena (bridging vein)


(sering pada alkoholik dan orang
tua)
Penurunan kesadaran berjalan
lambat
CT scan: hiperdens konkaf (bulan
sabit)
Prognosis EDH lebih baik daripada
SDH, karena pada EDH jaringan
otak umumnya tidak terganggu

Tata laksana: intubasi, elevasi


kepala, manitol (jika MAP > 90
mmHg + TIK meningkat),
hiperventilasi (bila TIK tidak
terkontrol), fenitoin (mencegah
kejang) setelah itu rujuk bedah

Tata laksana: oksigenasi adekuat, sedatif


(kalau TIK meningkat), manitol (kalau
ada herniasi), hiperventilasi ringan,
antikonvulsan (mencegah kejang)
rujuk bedah

Perdarahan subdural
sumber: bridging
veins (progresi lbh
lambat, bs berminggu2)
Perdarahan
subaraknoid nyeri
parah dg progresi cepat
(thunderclap
headache), gejala iritasi
meninges (kaku kuduk)

Perdarahan
intraventrikel
energi penyebab
trauma >>>
Perdarahan
intraserebral
defisit neuro sesuai
area yg terkena

102. Neurologi UMN


Disorders
Cedera pada medula spinalis akan
menyebabkan lesi upper motor neuron
pada saraf di bawah tingkat lesi
Upper motor neuron: spastisitas,
hiperrefleks, hipertonia
Lower motor neuron: flasiditas,
hiporefleks, hipotoni, fasikulasi
Jawaban: C. Hiperrefleks

Motor Systems Disorders

103. Neurologi Migrain


Migrain adalah sakit
kepala berdenyut,
biasanya unilateral, dapat
disertai dengan aura,
mual, muntah, fonofobia
dan fotofobia
Lebih sering ditemukan
pada wanita karena
dipengaruhi faktor
hormonal
Faktor presipitasi:
Makanan mengandung
tyramine (keju), daging
(hot dog, bacon), cokelat
mengandung
phenylthylamine)
Puasa, Emosi, Menstruasi,
Obat
Pajanan cahaya terang

Tata laksana spesifik


untuk migren adalah
triptan dan ergot
Untuk migren ringan,
paracetamol dan
NSAID bisa digunakan
Untuk migren sedang
sampai berat,
analegesik opiat bisa
digunakan
Metoclopramide IV juga
efektif untuk migren,
tapi dosis optimalnya
belum dipastikan

Jawaban: E.
Sumatriptan dosis
awal 50 m

Migrain Patogenesis, Klasifikasi


Patogenesis
Teori spreading depresion pada
aliran darah otak dimana pada
awalnya terjadi vasokontriksi
(dimulai dari daerah oksipital
muncul aura) dan berakhir
dengan vasodilatasi (di seluruh
bagian otak nyeri kepala)

Klasifikasi
Classic Migraine (with aura)
Common Migraine (without
aura)
Aura biasanya muncul 30 menit
sebelum serangan, dapat
berupa kilatan cahaya, kerlapkerlip atau skotoma sentral

Migrain Tatalaksana

104. Neurologi Herniasi


Otak
Pupil anisokor menandakan adanya lesi
struktural berupa herniasi otak yang
mengganggu jaras normal refleks pupil.
Keempat pilihan yang lain dapat juga
muncul pada keadaan hanya ada lesi
fungsional
Maksudnya, keempat tanda neurologis tersebut
bisa saja muncul pada kondisi-kondisi di mana
tidak bisa ditemukan lesi anatomis yang jelas

Jawaban: B. Pupil anisokor kanan > kiri

Jaras Refleks Pupil

105. Neurologi Stroke


Iskemik
Keywords:
keluhan menjadi pelo dan muka
mencong ke kanan sejak 10 jam
SMRS
Terdapat riwayat DM sebelumnya
TD 130/80 mmHg

Kemungkinan penyebab defisit


neurologis pada pasien ini
adalah stroke iskemik. Temuan
gambaran hipodens pada CT
scan menunjang diagnosis
Pada stroke hemoragik
ditemukan gambaran
hiperdens pada CT scan.

Tata laksana yang paling


baik adalah trombolisis,
tapi hanya bermanfaat
jika strok iskemik terjadi
< 4,5 jam smrs. Setelah
itu, guna trombolisis tidak
sebanding dengan
risikonya.
Bila sudah lewat golden
period, maka tata
laksananya adalah
antiplatelet (aspirin)
Jawaban: C. Antiplatelet

Stroke Iskemik Imaging

Stroke Iskemik - Tatalaksana

106. Neurologi Bells Palsy

Keywords:
keluhan mulut mencong ke kanan dan mata kiri tidak dapat ditutup
diketahui naik motor dari Jakarta-Bandung menggunakan helm non full face
Status neurologis: plika nasolabialis kiri (-), lagolftalmus kiri

Pada kasus ini ditemukan paresis NVII perifer. Kemungkinan penyebab adalah Bells
Palsy. Bells palsy sering dikaitkan dengan pajanan angin berlebih pada wajah. Pada
NVII terjadi inflamasi. Penyebab lainnya adalah reaktivasi virus herpes.
Bells Palsy dapat sembuh sendiri tetapi memerlukan waktu berbulan-bulan. Bila
etiologi akibat virus herpes maka diterapi dengan asiklovir. Tata laksana Bells Palsy
idiopatik adalah kortikosteroid.
Jawaban: A. Kortikosteroid, vitamin B6, fisioterapi

107. Neurologi Parkinson


Keywords
keluhan sering lupa sejak 2 minggu
SMRS
Pada pemeriksaan fisis didapatkan
masked face, pill rolling tremor
Pada sediaan histopatologi dtemukan
Lewys Body

Pasien mengalami gejala Parkinson.


Gejala klinis Parkinson adalah
Tremor, Rigidity,
Akinesia/Bradikinesia & Postural
instability (disingkat TRAP). Hal ini
terjadi karena degenerasi neuron
dopaminergik di substansia nigra
sehingga pada orang dengan
Parkinson terjadi defisiensi
dopamin
Jawaban: C. Substansia nigra

108. Neurologi Status


Epileptikus
Keywords:
keluhan kejang berulang
sejak satu jam yang
lalu

Kejang berulang >30


menit dan tidak
sadarkan diri secara
penuh di antara episode
kejang disebut sebagai
status epileptikus.
Jawaban: C. Status
epileptikus

109. Neurologi Stroke


Hemoragik
Keywords:
keluhan tidak sadarkan diri sejak 2 jam SMRS
TIK
TD 230/110 mmHg

Pasien kemungkinan mengalami stroke


hemoragik tidak boleh diberikan
antikoagulan, karena nanti akan
memperberat perdarahan
Jawaban: D. Antikoagulan

110. Neurologi Amnesia


Anterograd
Kesulitan mengingat kejadian setelah
kecelakaan, tapi kejadian masa lalu
diingat jelas amnesia
anterograd
Kesulitan mengingat kejadian
sebelum kecelakaan, tapi dapat
membuat memori baru dengan baik
amnesia retrograd
Jawaban: C. Amnesia anterograd

111. Neurologi Cedera


Kepala
Keywords:
S: kesadaran setelah jatuh dari motor sejak 3 jam yang lalu.
O: tekanan darah 90/50 mmHg, nadi 110 x/menit, pernafasan
24x/menit, respon membuka mata dengan rangsangan nyeri,
dekortikasi, hemiparesis sinistra, mengerang, pupil anisokor ( kiri
5 mm & kanan 3 mm)

Pada pasien telah terjadi cedera otak primer, harus


diupayakan agar tidak terjadi cedera otak sekunder
Cedera kepala primer proses biomekanik yang dapat
terjadi secara langsung saat kepala terbentur dan memberi
dampak cedera jaringan otak
Cedera kepala sekunder terjadi akibat cedera kepala
primer akibat hipoksemia, iskemia dan perdarahan
Jawaban: C. Cegah cedera otak sekunder

112. Neurologi Guillain Barre


Syndrome (GBS)
Keywords
keluhan sesak napas sejak empat hari yang lalu
Dua minggu yang lalu pasien mengeluh demam
dan infeksi saluran pernapasan atas
Satu minggu terakhir ini pasien merasa kebas
pada kedua tangan dan kaki
Pada pemeriksaan cairan serebrospinal
ditemukan protein 600 mg/dl

Pada pasien ini terdapat defisit neurologis


berupa paresis simetris yang menjalar dari
ekstremitas bawah menuju ke atas yang
khas pada pada GBS. Riwayat ISPA
memperkuat diagnosis.
Patogenesis GBS dikaitkan dengan infeksi
virus yang pada akhirnya menyebabkan
reaksi otoimun terhadap myelin. Pada GBS
terjadi penghancuran myelin oleh sel imun.
Myelin yang hancur akan menyebabkan
ditemukannya protein di LCS.
Jawaban: D. Guillain Barre Syndrome

Ada riwayat ISPA. Keluhan dimulai dari


ujung tangan dan kaki, kemudian naik
ke atas. sindrom Guillain-Barre
Pada GBS, protein CSF bisa meningkat
sebagai hasil degradasi mielin

Multiple sclerosis Gejala dan


tanda gangguan SSP yang muncul tiap
beberapa bulan atau tahun.
MS adalah demielinisasi pada SSP, semtara
GBS adalah demielinisasi pada saraf
perifer. Dua-duanya bersifat autoimun.

Mielitis transversa Peradangan


pada sebuah potongan transversus
medula spinalis. Klinisnya berupa
paralisis dan parastesia bilateral di
bawah segmen yang terkena.
Poliradikuloneuropati definisi
umum untuk penyakit-penyakit yang
menyerang saraf

Guillain Barre Syndrome


(GBS)
SINDROM GUILLAIN BARRE
Penyakit akibat reaksi-silang
antibodi terhadap agen
penginfeksi, biasanya C jejuni,
dengan mielin
Gejala dan tanda
Kelemahan otot ekstremitas
bawah yang menjalar ke atas,
secara simetrik
Didahului 2-4 minggu
sebelumnya dengan ISPA atau
GE
Disestesia jari
Hati-hati gagal napas

Pemeriksaan fisis
Gangguan sensoris minimal
Refleks menurun, refleks
patologis (-), hipotonia
Pemeriksaan penunjang
Umumnya tidak perlu
Tata laksana
Imunoglobulin intravena,
ATAU
Plasma exchange

113. Neurologi Mielomeningocele


Bila terdapat lesi
pada L2-L4, maka
persarafan di bagian
bawah bilateral akan
terkena gangguan
paraplegi
Beda plegi dengan
paresis? plegi lebih
berat (total)
Jawaban: B. Paraplegi

114. Neurologi Fraktur Basis Cranii


Keywords
Riwayat trauma (+)
kesadaran
Otorea

Otorea ditemukan
pada fraktur basis
cranii fossa media.
Jawaban: C. Fraktur
basis kranii media

Fraktur Basis Cranii


Fraktur
Basis Cranii

Lokasi
Fraktur

Fosa Anterior os.frontal,


os.etmoidalis
, os.sfenoid
(lesser
wings)
Fosa Media

Fosa
Posterior

Gejala Klinis
Ekimosis periorbita/racoon eyes
Anosmia
Rhinorea LCS bocor uji Halo Sign
(+)

os.sfenoid,
Battle sign
os.temporalis Otorea LCS bocor uji Halo Sign (+)
Hemotimpanum
Paresis N.VII dan N.VIII
Karotid-carvernous fistula
os.oksipital,
os.parietal

Hematoma
Battle sign

115. Neurologi Spondilolistesis


Paraparesis ekstremitas bawah lebih mungkin
disebabkan spondilolistesis. Pada spondilolistesis,
sebuah segmen vertebra selip ke arah anterior.
Akibatnya, terjadi penekanan radiks saraf, baik kiri
maupun kanan
Jawaban: E. Spondilolistesis
Spondilitis? Umumny mengacu pada ankylosing
spondylitis, yaitu sebuah penyakit inflamasi pada
vertebra dan sendi-sendinya. Gejalanya berupa LBP
kronik, berat di pagi hari, membaik dengan aktivitas.
(Seperti artritis rematoid, tapi pada vertebra)
AS yang berat akan menyebabkan fusi vertebra, dengan
gambaran radiologis khas yaitu bamboo spine

Tumor Medspin, HNP,


Trauma
Tumor medula spinalis? Gejalanya kronik, ada tandatanda keganasan lain
Hernia nukleus pulposus? Gejalanya berupa sciatica
(LBP yang menjalar ke ekstremitas bawah) unilateral,
disertai kelemahan otot, perubahan refleks, dan
hipestesia. Nyeri dipicu aktivitas.
Trauma? Harusnya ada riwayat trauma
Selain itu, ada juga yang namanya:
Spondilosis: Degenerasi pada vertebra, bisa menyebabkan
penyempitan foramen neural. Ditandai dengan pembentukan
osteofit. (Seperti osteoartritis, tapi pada vertebra)
Spondilolisis: Defek/fraktur pada pars interartikularis

PSIKIATRI (10)

116. Psikiatri OCD


Pada pasien OCD terjadi defisiensi
serotonin
Jawbaan: D. Serotonin

117. Psikiatri Subtance Abuse


Disorder
Urutan tata laksana pecandu narkoba:
Diagnosis
Detoksifikasi (mengeluarkan racun dari
dalam tubuh)
Rehabilitasi (membiasakan hidup tanpa
narkoba)
Resosialisasi (adaptasi kembali ke dalam
kehidupan bermasyarakat)

Jawaban: C. Diagnosis, detoksifikasi,


rehabilitasi, resosialisasi

118. Psikiatri Antipsikotik


Pasien ini kemungkinan mengalami gangguan
skizoafektif
Masalah psikosis pada gangguan skizoafektif
ditangani dengan antipsikotik, diutamakan yang
generasi 2 (risperidon), karena efek
sampingnya lebih sedikit
Masalah moodnya ditata laksana sesuai jenis,
bila depresi diberi SSRI, bila manik diberi lithium
Prochlorperazine lebih sering dipakai sebagai
antiemetik
Jawaban: B. Risperidone

119. Psikiatri Depresi pasca


Menopause
Untuk sulit tidur dan cemas,
kombinasi estrogen dan progesteron
dosis rendah cukup sebagai tata
laksana
Depresi berat memerlukan SSRI
Depresi ringan cukup dengan
hormone replacement therapy
Jawaban: B. Estrogen + Progesteron

120. Psikiatri
Transvestisme
Mendapatkan kepuasan seksual dengan menggunakan
pakaian jenis kelamin lawannya transvestisme
Gangguan identitas kelamin bila seorang laki-laki
ingin menjadi perempuan atau sebaliknya
Gangguan preferensi seksual istilah umum untuk
ketertarikan seksual terhadap hal-hal yang
sesungguhnya tidak memiliki nilai seksual
Fetishisme gairah seksual dipicu oleh benda tertentu
Autoginefilia kepuasan seksual didapat saat
membayangkan diri menjadi lawan jenis
Jawaban: C. Transvestisme

121. Psikiatri Body dysmorphic


disorder
Merasa salah satu bagian tubuhnya
berbentuk tidak normal body
dysmorphic disorder
Body integrity identity disorder
merasa ingin diamputasi
Jawaban: D. Body dysmorphic
disorder

122. Psikiatri Gangguan


Disosiatif
Menghilang, lalu muncul di tempat lain dengan
identitas yang berbeda fugue
Amnesia hilang ingatan, tapi tidak ada
identitas baru
Kepribadian ganda (dissosiasi identitas) dua
identitas di saat bersamaan
Derealisasi/depersonalisasi merasa
lingkungan sekitar berubah bentuk, atau merasa
manusia di sekitarnya bukan manusia tapi robot
Jawaban: B. Gangguan fugue disosiatif

123. Psikiatri Distonia Akut


Pasien mengalami distonia.
Apa penyebabnya?
Dua hari lalu, pasien
datang dengan gaduh
gelisah. Umumnya, pasien
gaduh gelisah akan diterapi
dengan lorazepam IM atau
haloperidol IM.
Bila penyebabnya withdrawal
alkohol atau benzodiazepine,
lorazepam lebih baik. Hatihati depresi napas.
Bila penyebabnya psikosis,
haloperidol atau CPZ lebih
baik. Hati-hati akathisia,
distonia, atau kejang.

Dari kedua obat tersebut,


haloperidol-lah yang
memiliki efek samping
berupa reaksi distonia
akut
Tata laksana reaksi
distonia akut akibat obat
adalah antikolinergik.
Bisa diberikan
benztropine IV/IM atau
difenhidramin IV/IM
(lebih cepat IV).
Jawaban: E. Sulfas
atropine IM

124. Psikiatri Ekopraksia


Katalepsi: fiksasi tubuh pada postur tertentu
yang tidak dapat diubah dengan stimulus
eksternal (contohnya pada skizofrenia katatonik)
Katapleksi: hilangnya tonus otot secara
mendadak dan sesaat, biasanya akibat emosi.
Sering ditemukan pada penderita narkolepsi.
Ekolalia: mengulang kata yang didengarkan
Ekopraksia: mengulang gerakan yang dilihat
Jawaban: E. Ekopraksia

125. Psikiatri Sindroma


Ekstrapiramidal
Sindrom Ekstrapiramidal
sering dihubungkan
dengan sindrom
neuroleptic maligna,
keduanya disebabkan
oleh penggunaan obat
neuroleptic (haloperidol)
Jawaban: A. Sindrom
Ekstrapiramidal

4 gejala ekstrapiramidal
utama
Pseudoparkinsonisme:
tremor, rigiditas, bradikinesia,
akinesia, hipersalivasi, muka
topeng, jalan diseret
Akathisia: perasaan gelisah
yang menyebabkan pasien
tidak bisa diam
Distonia: kontraksi spastis
otot (bisa terjadi di mata,
leher, punggung, dan lain-lain)
Diskinesia tardif: gangguan
gerakan involunter (mioklonus,
tik, korea, dll.)

Sindroma Neuroleptik
Maligna
Manifestasi klinis
sindrom neuroleptik
maligna adalah:
Tubuh kaku
Hipertermia
Instabilitas otonom
(hipertensi, takipnea,
takikardia, diaforesis)
Penurunan kesadaran

Pada pasien ini, memang


ada gejala mendelikkan
mata (distonia) dan sering
mengeluarkan air liur
(pseudoparkinsonisme) yang
mengarah ke sindrom
ekstrapiramidal, pernyataan
kejang dari keluarga pasien
tidak jelas apakah seperti
gerakan kedutan wajah atau
kaku badan. Tapi, sindrom
neuroleptic maligna HARUS
ada hipertermia dan
kekakuan tubuh

KULIT (15)

126. Dermatologi Dermatitis


Seboroik
Keywords:
keluhan gatal di kepala
makula eritema dengan skuama
kekuningan dan berminyak

Skuama kekuningan berminyak


merupakan tanda khas dermatitis
seboroik
Tatalaksana DS pada kepala
adalah menggunakan shampoo
yang mengandung selenium
sulfat, ketokonazole shampoo atau
glukokortikoid topikal
Pada soal tidak sebutkan secara
spesifik AB yang digunakan
sehingga terapi yang lebih dipilih
adalah glukokortikoid lotion
Jawaban: B. Kortikosteroid topikal

Dermatitis Seboroik Definisi,


Etiologi, Faktor Predisposisi
Dermatitis seboroik (DS)
merupakan dermatosis kronik
yang sering dijumpai yang
ditandai oleh kemerahan dan
skuamasi yang muncul di
regio kulit dimana kerja
kelenjar sebasea paling aktif
seperti wajah, kulit rambut
(scalp), area presterna dan
lipatan kulit
Sinonim: Cradle cap (bayi),
pityriasis sicca/dandruff
Lebih sering dijumpai pada
pria usia 20-50 tahun dan bayi
laki-laki

Etiologi: Malassezia
furfur
Faktor predisposisi
Hereditary diathesis
keturunan
Berhubungan dengan
para-/psoriasis
Parkinson disease
Paresis N.VII
Emotional stress
HIV?

Dermatitis Seboroik Terapi


Topikal (bergantung
lokasi)
Dewasa: shampoo OTC
(mengandung selenium
sulfide atau zinc pyrithione).
2% ketoconazole (shampoo),
glucocorticoid
(solution/lotion/gels),
pimecrolimus 1% (krim)
Anak: oil olive compress,
baby shampoo, 2%
ketoconazole
(shampoo/cream),
hydrocortisone (krim),
pimecrolimus 1% (krim)

Sistemik
Ringan:
itraconazole
100 mg bid selama 2
minggu
Berat: 13-cis retinoic
acid orally 1mg/kg
karena bersifat
teratogenik, maka
pasien dewasa
perempuan perlu
diberikan penggunaan
kontrasepsi atau
dilarang hamil

127. Dermatologi Moluskum


Kontagiosum
Keywords
keluhan bintik-bintik putih di seluruh
tubuh
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
papul putih multipel dengan umbilikasi
di tengahnya

Massa putih yang seperti nasi


tersebut adalah delle yang khas
ditemukan pada moluskum
kontagiosum. Penyakit ini sering
pada anak dan disebabkan oleh
virus Pox.
Pewarnaan pada moluscum
contagiosum adalah bertujuan
untuk mencari moluscum bodies
dapat menggunakan pewarnaan H
&E
Jawaban: E. Hematoxylin-Eosin

Moluskum kontagiosum
Disebabkan oleh virus poks
Terutama menyerang anakanak. Transmisi melalui kontak
kulit langsung dan
otoinokulasi
Gejala klinis:
Inkubasi 1 sampai beberapa
minggu
Papul milier, kadang lentikular,
berwarna putih seperti lilin,
berbentuk kubah yang di
tengahnya terdapat lekukan
(delle). Jika dipijat keluar massa
berwarna putih seperti nasi
Lokalisasi: muka, badan,
ekstremitas, genitalia eksterna

Diagnosis: Histopatologi
daerah epidermis
ditemukan badan moluskum
yang mengandung partikel
virus, dengan pewarnaan
Hematoxylin-Eosin
Pengobatan:
Tingtur kantaridin 0,7% pada
tiap lesi, dibiarkan 3-4 jam
Enukleasi menggunakan
ekstraktor komedo, jarum
suntik, kuret
Elektrokauterisasi atau bedah
beku dengan CO2 dan N2

Moluscum Contagiosum
Dermatopatologi

128. Dermatologi Pitiriasis Rosea


Keluhan bercak
merah di perut,
dada, punggung,
dan lengan, herald
patch, berbentuk
pohon cemara
terbalik
Jawaban: D.
Pitiriasis rosea

Pitiriasis Rosea
Erupsi kulit dengan gambaran spesifik
herald patch (lesi awal diikuti lesi
sekunder generalisata setelah 1-2
minggu), gambaran seperti pohon
cemara terbalik. Menyembuh dalam 3-8
minggu
Tatalaksana bersifat simptomatik:
Antipruritus oral ataupun topikal (bedak
asam salisilat yang dibubuhi mentol -1%)

129. Dermatologi Bakterial


Vaginosis
Wanita keluhan keluar
cairan dari kemaluan
berwarna abu-abu,
berbau amis dan gatal.
Sering berganti
pasangan. Pada
pemeriksaan sekret
vagina: sel epitel vagina
dikelilingi oleh kuman
berbentuk basil (clue
cell) Bacterial
vaginosis
Jawaban: A. Clue cells

Diagnosis Deferensial Duh Tubuh


Vagina

Bacterial Vaginosis
Gejala:
Duh tubuh berbau amis, warna putih homogen,
melekat pada dinding vagina dan vestibulum
pH cairan vagina > 4,5
Tercium bau amis seperti ikan pada duh tubuh vagina
yang ditetesi larutan KOH 10% (tes amin/Whiff test)

Pemeriksaan penunjang:
Ditemukan clue cell dari spesimen duh tubuh vagina

Tatalaksana:
Metronidazole 2x500mg/hari selama 5-7 hari atau
metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal

130. Dermatologi Kondiloma


Akuminata
Wanita, benjolan di
vagina, serupa pada
penis suami. Benjolan
multipel berukuran 210 mm di introitus
vagina, permukaan
tidak rata.
Diagnosis: Kondiloma
akuminata
Penyebab: A. Virus
human papilloma

Kondiloma Akuminata
Vegetasi oleh HPV biasanya tipe 6
dan 11
Biasanya terdapat pada daerah
lipatan yang lembab genitalia
eksterna dan
Kelainan: vegetasi bertangkai dan
berwarna kemerahan/agak
kehitaman, permukaan berjonjot
(papilomatosa)

131. Dermatologi Morbus Hansen


Laki-laki, dalam terapi MH 2 bulan,
muncul nodul-nodul merah yang
nyeri di seluruh tubuh
Jawaban: B. Eritema nodusum
leprosum

Reaksi Leprosy
Terjadi akibat perubahan respon imun
tubuh menghadapi M. Lepra
Dapat terjadi kapan saja sebelum,
selama, ataupun sesudah pengobatan
2 jenis reaksi leprosy:
Reaksi tipe 1 / Reversal
Reaksi tipe 2 / ENL (Erythrema Nodusum
Leprosum)

Reaksi Reversal
Akibat peningkatan
sistem imun
melawan basil
lepra
Gejala klinik:
Kondisi cukup baik
Sebagian/semua
lesi bertambah aktif
atau muncul lesi
baru
Bisa terjadi neuritis
akut

Reaksi ENL
Terjadi pada pasien
dengan jumlah basil
banyak. Muncul pada tipe
lepromatosa
Akibat jumlah basil yang
banyak terbunuh
melepaskan antigen
reaksi alergi gejala
dapat general
Lesi seperti eritema
nodusum merah,
keras, nyeri, nodul kutan
dan subkutan

Fenomena Lucio
Reaksi sangat berat pada tipe
lepromatosa non nodular difus
Nekrosis epidermal iskemik dengan
nekrosis pembuluh darah superfisial,
edema, dan proliferasi endotel
pembuluh darah dalam

132. Dermatologi Alergi


Keywords:
keluhan gatal-gatal di tubuh
Membaik dengan pemberian
antihistamin

Untuk mengetahui penyebab alergi


dilakukan perlu dilakukan uji tusuk.
Jawaban: B. Uji tusuk

Pemeriksaan Alergi
Uji gores: kurang akurat, sudah
banyak ditinggalkan
Uji tusuk
Lokasi: volar lengan bawah
dengan jarak minimal 2 cm dari
lipat siku dan pergelangan
tangan
Setetes ekstrak alergen dalam
gliserin diletakkan pada
permukaan kulit lapisan
superfisial kulit ditusuk dan
dicungkit ke atas dengan jarum
khusus.
(+) >2 mm
Antihistamin, steroid harus
dihentikan
Usia > 3 tahun

Uji provokasi
Uji provokasi bronkial
Uji provokasi makanan

Uji tempel
Bila dicurigai
dermatitis kontak
alergi
Alergen diletakkan
pada kulit (+) kalo
eksantema dalam 4872 jam

Uji Tempel

133. Dermatologi Impetigo


Krustosa
Keywords
S: anak, gatal dan keropeng di
wajahnya
O: ditemukan adanya makula eritema
di pipi kanan, pustula, dan krusta
kuning kekuningan yang mudah
diangkat

Diagnosis pada kasus ini adalah


impetigo krustosa yaitu suatu
penyakit infeksi kulit yang
disebabkan oleh infeksi S.hemolitikus
Terapi
Sistemik: bila berat, luas, ada demam;
gol.penisilin
Topikal: lesi terbatas, penderita
sehat;gol basitrasin/mupirosin/asam
fusidat

Jawaban: B. Mupirosin krim

Impetigo
Impetigo Krustosa
Streptococcus B
hemolyticus
Eritema dan vesikel
yang cepat memecah,
tampak krusta tebal
berwarna kuning
seperti madu, dengan
erosi di bawahnya.
Predileksi di muka
Tatalaksana: Antibiotik
topikal (bila lesi
sedikit) atau antibiotik
oral (bila lesi banyak)

Impetigo Bulosa
Staphylococcus aureus
Eritema, bula, bula
hipopion di ketiak,
dada, punggung
Tatalaksana:
Vesikel/bula
dipecahakn dan diberi
antibiotik topikal (bila
lesi sedikit), atau
antibiotik sistemik (bila
lesi banyak)

134. Dermatologi Alergi


Keywords:
Wanita, gatal dan kemerahan
pada hampir seluruh badan
setelah mengkonsumsi
udang

Pada kasus ini terjadi


reaksi alergi tipe cepat.
Kemungkinan alergen
berupa protein udang.
Reaksi alergi tipe cepat
disebut juga sebagai reaksi
hipersensitivitas tipe I.
Jawaban: B. Reaksi
hipersensitivitas tipe I

Reaksi Hipersensitivitas

Tipe I: immediate, anafilaktik, IgE mediated


Alergi, asma, rhinitis
Tipe II: sitotoksik, antigen endogen, bisa juga eksogen, IgM/IgG mediated,
minutes hours
Anemia hemolitik, ITP
Tipe III: immune complex hypersensitivity, within hours
SLE, RA
Tipe IV: delayed type, cell mediated
Mantoux test, dermatitis kontak

135. Dermatologi PV
Anak dengan bercak yang
gatal pada daerah leher,
makula hiperpigmentasi
dengan skuama halus.
KOH: hifa pendek dengan
spora bergerombol
Pitiriasis versicolor
Pemeriksaan dengan
lampu wood tampak
fluoresensi kuning
keemasan
Jawaban: D. Fluoresensi
kuning keemasan

Mikosis Superfisialis
Rangkuman
Dermatofitosis

Pitiriasis
Versikolor

Kandidiasis

Patogen

Trychophyton sp.
Mycrosporum sp.
Epidermophyton
sp.

Malassezia
furfur

C.albicans

Lesi klinis

Kulit: central
healing & tepi
aktif,
Kepala: grey patch,
black dot, kerion

Bercak
hipopigmentasi
+ skuama
halus; batas
tegas

Korimbiformis,
basah, hen &
chicken
appearance,
batas difus

Hifa & spora

Hifa panjang
bersekat dan
bercabang
Spora berderet
(artrospora)

Hifa pendek
Spora bulat
berkelompok
(spaghetti and
meatballs)

Hifa semu
Blastospora

Lain

berpendar
kuning

Sel Ragi (+)

Lampu Wood
Merupakan sumber sinar ultraviolet
yang difilter dengan nikel oksida.
Hasil:
Fluoresensi hijau: ringworm
Fluoresensi merah terang: eritrasma
Fluoresensi kuning keemasan: pitiriasis
versikolor

136. Dermatologi Karsinoma Sel


Basal
Laki-laki 50 tahun,
benjolan di hidung, tidak
terasa nyeri dan gatal.
Tampak nodul ulseratif
dengan tampilan
mengkilat seperti mutiara,
tampak telangiektasia.
Diagnosis pada pasien ini
adalah karsinoma sel basal
Faktor risiko berupa
pajanan UV berlebihan
Jawaban: D. Karsinoma sel
Basal

Karsinoma Sel Basal


Disebut juga basalioma, epitelioma sel basal, ulkus
rodens
Jenis kanker kulit yang paling sering ditemukan
Bersifat invasif, merusak jaringan sekitar, dapat
sampai ke tulang, namun jarang metastasis
Gambaran klinis bermacam-macam:
KSB nodular: Papul/nodus berkilat seperti lilin dengan
telangiektasis di atasnya. Sering berkembang menjadi
ulkus dengan tepi papul/nodus berkilat (pearly border)
KSB morfea: Bercak indurasi, hipotrofi, seperti jaringan parut
KSB superfisial: Bercak eritematosa, erosif, disertai skuama
dan krusta

Karsinoma Sel Skuamosa


Disebut juga karsinoma sel prickle,
karsinoma epidermoid
Neoplasma sel keratinosit, tumbuh cepat
dan mudah bermetastasis
Gambaran klinis:
Benjolan atau luka yang tidak sembuh-sembuh
Papul keras-kenyal, sewarna kulit atau
eritematosa
Dapat berbentuk ulkus, nodus atau papul
keratotik yang tebal

Melanoma Maligna
Kanker dari sel melanosit
Faktor: Iritasi yang berulang pada tahi
lalat
Gambaran klinis:
Bercak, benjolan, luka berwarna merah, abuabu, kehitaman, atau kebiruan
Tidak nyeri dan makin membesar
Perubahan warna, ukuran, bentuk pada tahi
lalat. Kadang terasa gatal dan berdarah bila
digaruk

Keratosis Aktinik
Disebut juga solar keratosis
Lesi prekanker, dapat berkembang
menjadi karsinoma sel skuamosa
Tampak seperti bagian kering, terasa
kasar, kadang bersisik
Muncul di tempat yang terekspos
matahari, seperti leher, tangan,
kepala

137. Dermatologi Kusta


Keywords
keluhan terdapat beberapa bercak pada kulitnya yang sebagian menebal
dan baal
Status dermatologis: lesi infiltrat difus, beberapa papul dan nodul,
distribusi simetris, anestesi tidak jelas
Pemeriksaan BTA (+) dan globus

Diagnosis pada pasien ini adalah kusta. Penyakit ini disebabkan


oleh infeksi oleh M.leprae.
M.leprae merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraseluler,
menyerang saraf perifer, kulit dan organ lain seperti mukosa saluran
napas bagian atas, hati dan sumsum tulang kecuali SSP.

Lesi infiltrat difus, ada nodul, distribusi simetris dan anestesi


tidak jelas. Pemeriksaan BTA (+) dan globus
LEPROMATOSA (LL)
Jawaban: D. LL

Kusta Diagnosis, PF
Diagnosis kusta ditegakkan
bila ditemukan 1 tanda
kardinal berikut:
1. Adanya lesi kulit yang
khas dan kehilangan
sensibilitas
Lesi tunggal/multi,
hipopigmentasi/merah/tem
baga, makula/papul/nodul

2. BTA positif
Diambil di tempat paling
aktif
Cuping telinga kanan/kiri +
2-4 lesi aktif.

PF
lesi hipopigmentasi,
anestesi, pembesaran
saraf yang terlibat
Rasa nyeri jarum
Rasa raba kapas
Rasa suhu 2 tabung
reaksi
Uji fungsi otonom
tes Gunawan

Lepromin test
Ziehl-Neelsen stain

Kusta - Klasifikasi

3/9/16

322

138. Dermatologi Miliaria


Rubra
Bayi 10 bulan, gatal, banyak berkeringat, demam,
papul eritema miliaria rubra
Jawaban: A. Miliaria rubra
Miliaria disebabkan oleh retensi keringat akibat
sumbatan pada kelenjar keringat, biasa terjadi
bila ada peningkatan suhu atau kelembapan
Pada miliaria rubra, sumbatan terjadi di antara
stratum korneum dengan batas dermal-epidermal,
menyebabkan papul eritema yang sangat gatal
Tata laksana: bedak salisil 2% dengan mentol
0,25-2%

Miliaria Kristalina dan


Profunda
MILIARIA
KRISTALINA
Sumbatan di
stratum korneum
Bentuk berupa
vesikel bergerombol
tanpa tanda radang,
tidak ada keluhan
Tidak perlu
pengobatan

MILIARIA PROFUNDA
Sumbatan di batas
dermis-epidermis
Papul warna kulit, tidak
gatal
Tata laksana: Losio
calamin dengan atau
tanpa mentol 0,25%
Istilah miliaria superfisialis
dan intermediat tidak ada

139. Dermatologi LSK


NEURODERMATITIS SIRKUMSKRIPTA (LIKEN
SIMPLEKS KRONIK, LIKEN VIDAL)
Peradangan kulit kronis, sirkumskripta, terdapat
penebalan kulit dan likenifikasi
Terjadi karena kulit digaruk terus karena gatal sekali
(ingat, gatal muncul sebelum lesi, bukan karena lesi)
Gatal paling terasa saat pasien tidak ada kegiatan,
berhubungan dengan stres
Tata laksana: kortikosteroid topikal potensi kuat
(betametason, triamsinolon), kalau perlu bisa
diberikan antihistamin oral, umumnya yang sedatif
Jawaban: E. Liken Simpleks Kronis

140. Dermatologi Herpes


Zoster
VARICELLA (CACAR AIR)
Infeksi primer varisela-zoster
Demam diikuti vesikel bentuk
tetesan embun (tear drops)
multipel yang menyebar dari
badan ke muka dan
ekstremitas. Lesi polimorfik.
Penunjang: tes Tzanck sel
datia berinti banyak
Tata laksana:
<12 tahun: simptomatik
>12 tahun: Asiklovir 5x800 mg
(7 hari)
Risiko tinggi, imunosupresi: +
VZIG (varicella-zoster
immunoglobulin) dalam 96 jam
setelah gejala muncul

HERPES ZOSTER (DAMPA,


CACAR ULAR)
Reaktivasi virus variselazoster
Vesikel berkelompok
dengan dasar eritema dan
edema, nyeri (+)
Penunjang: tes Tzanck
Tata laksana:
Asiklovir 5x800 mg (7 hari)
atau valacsiklovir 3 x 1000
mg (1 hari), harus diberikan
dalam 3 hari setelah gejala
muncul

Jawaban: B. Herpes zoster

Herpes Zoster Patogenesis, Bentuk


Klinis, Tatalaksana
Patogenesis
Terjadi pada pasien dengan
riwayat infeksi varicella
Disebabkan oleh VZV
(Varicella-Zoster Virus)
Pada pasien varicella yang
telah sembuh, virus akan
dorman dan tinggal di
ganglion posterior susunan
saraf tepi dan ganglion
kranialis. Pada keadaan
sistem kekebalan tubuh
yang turun, virus akan
mengalami reaktivasi dan
menyebabkan herpes zoster

Bentuk-bentuk klinis Herpes


Zoster
1. Herpes zoster oftlamikus th/
asiklovir (5x800 mg 7 hari),
valasiklovir (3x1000 mg)
2. Sindrom Ramsay-Hunt (Ggn
N.V & VII) th/ prednison
(3x20 mg 7 hari)
3. Herpes zoster abortif th/
asiklovir (5x800 mg 7 hari),
bedak, kompres terbuka (jika
erosif), AB (jika ulkus)
4. Herpes zoster generalisata
idem atas
5. Neuralgia pasca-herpetik
th/ gabapentin

FORENSIK (10)

141. Forensik Keracunan


CO
Mati, ditemukan dalam mobil dalam keadaan
menyala kemungkinan keracunan CO.
Afinitas CO terhadap Hb 208-245x O 2
Terjadi gangguan pengikatan O 2 dan
hemoglobin oleh gas CO.
Jika orang keracunan CO dipindahkan ke
udara bersih dan berada dalam keadaan
istirahat, maka kadar COHb menurun, dan
dapat mengikat O2 lagi.
Jawaban: D. Inhibisi pengikatan O2 oleh CO

142. Forensik Tersengat


Listrik
Kabel yang terkelupas + tangan mengalami luka
bakar luka listrik.
Luka listrik luka bakar dengan tepi yang menonjol,
disekitarnya terdapat daerah pucat dikelilingi kulit
yang hiperemis.
Bentuknya sering sesuai dengan benda penyebab.
Jejas listrik bukanlah tanda intravital karena dapat
ditimbulkan pasca mati
Kematian terjadi akibat fibrilasi ventrikel,
kelumpuhanan, otot napas dan kelumpuhan pusat
napas.
Jawaban: A. Gangguan konduksi jantung

143. Forensik Empati


Hak dasar kesehatan pasien adalah
mendapat informasi.
Option A dan B sebetulnya benar, hanya
tinggal timing-nya kapan, perlu
diperhatikan mengenai empati terhadap
pasien juga.
Option A akan lebih benar jika ditambahkan
keterangan sampai dengan kondisi pasien
stabil dan memungkinkan.
Jawaban: B. Tetap memberitahu pasien

Hak dasar kesehatan


The right to health care mendapat
pelayanan medis
The right to self determination
Hak
Hak
Hak
Hak
Hak

atas informasi
pilih/tolak dokter
tolak pengobatan ttt
stop pengobatan
euthanasia

144. Forensik VeR


Idealnya, laporan visum yang dibuat adalah pada saat kapan surat
permintaan visum datang. Jadi, dalam kasus ini option yang paling
tepat adalah D, korban harus dihadirkan kembali ke RS untuk
diperiksa sesuai dengan tanggal surat permintaan visum datang.
Namun demikian, terkadang hal ini sulit diterima oleh penyidik, tugas
kita adalah memberikan pemahaman kepada penyidik. Pilihannya
ada 2, hadirkan korban kembali saat SPV datang ATAU ubah tanggal
SPV-nya sesuai tanggal pemeriksaan/tambahkan permintaan pada
SPV-nya untuk membuka hasil pemeriksaan 2 hari yang lalu
Pembuatan visum dilakukan sesuai dengan hari pemeriksaan dan
diperlukan adanya surat permintaan visum dari penyidik. Sehingga
pasien harus diperiksa ulang sesuai tanggal SPV.
Bila tidak terdapat SPV, maka surat keterangan yang dibuat bukan
VeR tetapi surat keterangan medis.
Jawaban: D. Meminta polisi membawa korban dan diperiksa lagi

VeR
Umumnya korban dengan
luka ringan datang ke
dokter setelah melapor ke
polisi, sehingga mereka
datang dengan membawa
serta surat permintaan
visum. Sedangkan korban
luka sedang/berat akan
datang ke dokter sebelum
melapor ke penyidik
surat permintaan akan
terlambat.

Terhadap surat permintaan


visum yang datang
bersamaan dengan korban,
maupun yang datang
terlambat harus dibuatkan
visum et repertum. Visum
ini dibuat setelah
perawatan/pengobatan
selesai, kecuali pada visum
et repertum semetara dan
perlu pemeriksaan ulang
pada korban bila surat
permintaan datang
terlambat.

145. Forensik Kesimpulan


VeR
BB: 2200 gram viabel
Panjang 49 cm, lingkar kepala 35 cm,
lanugo sudah mulai sedikit, kuku tangan
sudah melebihi jari. cukup bulan
Luka memar di frontooccipital kekerasan
tumpul di kepala.
Jawaban: C. Ditemukan jenazah bayi layak
hidup, cukup bulan, ditemukan memar
tanda-tanda kekerasan tumpul di bagian
kepala

Viabel & Cukup Bulan


Viabel (dapat hidup
di luar kandungan)
Kehamilan>28
minggu
Panjang badan
(kepala-tumit) >35cm
Berat badan > 1000
gram
Lingkar lepala>32 cm
Cacat bawaan fatal (-)

Cukup bulan (matur)


Hamil>36 minggu
Panjang badan (kepalatumit) > 48 cm
BB 2500-3000 gram
Lingkar kepala . 33 cm
Ciri lain: lanugo sedikit,
tulang rawan telah
sempurna (daun telinga
dilipat akan kembali ke
semula), diameter
tonjolan susu>7mm, kuku
jari telah melewati ujung
jari.

146. Forensik Informed


Consent
Usia pasien masih di bawah umur
informed consent dari orang tua.
Peraturan Menteri Kesehatan tentang
informed consent, batas umur yang dapat
memberi informed consent: 18 tahun.
Jawaban: D. Dokter tidak bisa meminta
persetujuan operasi kepada pasien karena
pasien masih dibawah umur dan
menyatakan harus tetap meminta
persetujuan orang tua pasien

147. Forensik Kasus


Perkosaan
Hymen robek tanda ada sesuatu
masuk ke vagina, belum tentu penis
Bekuan semen di liang vagina
tanda pasti persetubuhan
Kemerahan dan lecet tanda
kekerasan
Jawaban: D. bekuan semen

148. KDM Beneficence


Setiap dokter dalam prakteknya dihadapakan kondisi yang
terkadang membinggungkan dalam mengambil keputusan.
Prima facie dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan
keputusan tersebut
Justice
Non-Malaficence
Beneficence
Autonomy

Pada kasus ini, Dokter semetinya mengedukasikan pasien agar


mau menginformasikan penyakitnya ke istrinya terkait penyakit
yang diderita (AIDS dan TBC), mengingat penyakit tersebut
memiliki potensi penularan ke istri atau anggota keluarga yang
lain Beneficence
Jawaban: B. Mengedukasi pasien agar memberi tahu istri demi
kesehatan

Beneficence
Beneficence lebih ke melindungi
pasien
General beneficence:
mencegah terjadi kerugian pada yang lain,
menghilangkan kondisi penyebab kerugian
pada yang lain,

Specific beneficence:
menolong orang cacat,
menyelamatkan orang dari bahaya.

149. Forensik Penjeratan


Bila autopsi yang diinginkan, maka penyidik wajib
memberitahu kepada keluarga korban dan menerangkan
maksud dan tujuan pemeriksaan
Pasal 134 KUHAP autopsi dilakukan setelah keluarga
korban tidak keberatan, atau bila dalam dua hari tidak
ada tanggapan apapun dari keluarga keluarga korban,
atau keluarga korban tidak ditemukan
Tetapi dari jejas luka yang ditemukan pada pasien,
kemungkinan akibat penjeratan (tindakan pidana), oleh
karena itu kasus tersebut harus dilakukan penyidikan,
dan dokter dapat melakukan otopsi setelah diberikan
mandat berupa surat dari penyidik, jaksa/hakim
(lembaga peradilan)
Pasal 222 KUHP --> mereka yang menghalangi
pemeriksaan jenazah untuk kepentingan peradilan

Pembunuhan vs. Bunuh Diri


Alat penjerat
Simpul
Jumlah lilitan
Arah
Jarat titik tumpu-simpul
Korban
Jejas jerat
Luka perlawanan
Luka-luka lain
Jarak dari lantai
TKP
Lokasi
Kondisi
Pakaian
Alat
Surat peninggalan
Ruangan

Pembunuhan

Bunuh Diri

Simpul mati
Satu
Datar
Dekat

Hidup
Satu/lebih
Serong ke atas
Jauh

Datar
+
Ada
Jauh

Meninggi ke arah simpul


Dekat

Variasi
Tidak teratur
Robek/tidak teratur

Sembunyi
Teratur
Rapi dan baik

Dari si pembunuh

Berasal dari TKP

+
Tak teratur, terkunci dari luar

150. Forensik Luka Tembak Dekat


Luka tembak
LT tempel terdapat jejas laras
LT sangat dekat (maksimal 15
cm) terbentuk akibat anak
peluru, mesiu, jelaga dan
panas/api kelim api
LT dekat terbentuk akibat anak
peluru dan mesiu kelim
jelaga (maksimal 30 cm),
kelim tato (maksimal 60 cm)
LT jauh (> 60 cm) terbentuk
akibat komponen anak peluru
kelim kesat dan kelim lecet

Jawaban: B. 25-30 cm

Kelim lecet: bagian yang


kehilangan kulit ari yang
mengelilingi lubang akibat anak
peluru yang menembus kulit
Kelim kesat: usapan zat yang
melekat pada anak peluru
(pelumas, jelaga, dan elemen
mesiu) pada tepi lubang
Kelim tato: butir-butir mesiu yang
tidak habis terbakar yang tertanam
pada kulit di sekitar kelim lecet.
Kelim jelaga: penampilan
jelaga/asap pada permukaan kulit
di sekitar lubang luka tidak masuk
Kelim api: daerah hiperemi atau
jaringan yang terbakar yang
terletak tepat di tepi lubang luka

IKK & RISET

151. IKK Five Star Doctor


Keywords:
Dokter memberitahukan informasi kepada ketua RT agar membantu
menangani masalah tersebut dengan cara melakukan fogging dan PSN
Dokter meminta ketua RT agar memberitahukan hal ini kepada
masyarakat setempat

Five Star Doctor:


Penyedia Pelayanan Kesehatan & Perawatan(Care provider)
Pengambil Keputusan(Decision-maker)
Komunikator yang baik(Communicator)
Pemimpin Masyarakat(Community leader)
Pengelola Manajemen (Manager)

Dokter diharapkan mampu bekerja sama secara harmonis


dengan individu dan kelompok lain (dalam hal ini, pak RT)
Jawaban: D. Manager

1. Care Provider.

Memperlakukan pasien secara holistik

memandang Individu sebagai bagian


integral dari keluarga dan komunitas.

Memberikan pelayanan yang bermutu,


menyeluruh, berkelanjutan dan
manusiawi.

Dilandasi hubungan jangka panjang dan


saling percaya.
2. Decision Maker.

Kemampuan memilih teknologi

Penerapan teknologi penunjang secara


etik.

Cost Effectiveness

3. Communicator.

Mampu mempromosikan Gaya Hidup


Sehat.

Mampu memberikan penjelasan dan


edukasi yang efektif.

Mampu memberdayakan individu dan


kelompok untuk dapat tetap sehat.
4. Community Leader.

Dapat menempatkan dirinya sehingga


mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Mampu menemukan kebutuhan


kesehatan bersama individu serta
masyarakat.

Mampu melaksanakan program sesuai


dengan kebutuhan masyarakat.

5. Manajer.
Mampu bekerja sama secara
harmonis dengan individu dan
organisasi di luar dan di dalam
lingkup pelayanan kesehatan,
sehingga dapat memenuhi
kebutuhan pasien dan komunitas.
Mampu memanfaatkan data-data
kesehatan secara tepat dan berhasil
guna.

152. IKK Standar Pelayanan


Kedokteran Keluarga
Keywords:
DM tipe 2 tidak terkontrol
DM sudah 7 tahun

Dokter harus mencari tahu mengapa penyakit


pasien tidak terkontrol, kemudian mencari solusi
yang tepat bagi pasien
Dokter tidak hanya mengobati fisik tetapi juga
harus menyadari bahwa pasien terdiri dari mental,
sosial, spiritual, dan pasien dipengaruhi oleh
lingkungannya harus menangani secara holistik
Jawaban: B. Holistik

5 Standar Pelayanan Kedokteran Keluarga

153. IKK Family Genogram


Keywords:
Pasien curiga DM
Ibu pasien menderita DM
Ayah pasien menderita hipertensi, meninggal
mendadak
Pasien punya anak laki-laki dan perempuan

Pada kasus ini kemungkinan pasien


menderita penyakit yang diturunkan
sehingga diperlukan family genogram
Jawaban: E. Family genogram

Family genogram dan


APGAR

154. IKK Jenis Rujukan


Keywords:
Pasien diresusitasi oleh
dokter IGD, lalu dioperasi
oleh dokter bedah, kemudian
dirawat kembali oleh dokter
IGD

Antar Instansi
Horizontal: setingkat, misalnya
dari dokter A ke dokter B tetapi
masih dalama 1 strata
Vertikal: naik atau turun tingkat,
misalnya dari puskesmas ke
rumah sakit.
Jawaban: A. Interval referral

Antar Dokter
Interval referral: pelimpahan wewenang
dan tanggung jawab pasien sepenuhnya
kepada 1 dokter konsultan untuk jangka
waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut, dokter tersebut tidak ikut
menanganinya
Split referral: pelimpahan wewenang dan
tanggung jawab pasien sepenuhnya kepada
beberapa dokter konsultan untuk jangka
waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut, dokter tersebut tidak ikut
menanganinya
Collateral referral: menyerahkan
wewenang dan tanggung jawab
penanganangan penderita hanya untuk satu
masalah penanganan spesialistik saja
Cross referral: menyerahkan wewenang
dan tanggung jawab pasien kepada dokter
lain untuk selamanya

155. IKK
Keywords:
Tiga puluh lima orang dari lansia tersbut adalah pasien penyakit
jantung, DM tipe 2, asam urat, dll.
Semua pasien tersebut juga mengalami obesitas dan hipertensi

DM + HT + obesitas mengarah ke sindrom metabolic,


dengan komplikasi berupa penyakit jantung, dll
Salah satu metode terapi pasien dengan sindrom metabolik
adalah dengan meningkatkan aktivitas fisik dan mencegah
sedentary lifestyle
Menurut kerucut Edgar Dale, pasien akan lebih ingat dan lebih
bisa mengubah kebiasaan mereka apabila mereka
melakukannya
Jawaban: A. Membuat kegiatan olahraga bersama

Edgar Dales cone of


learning

156. IKK Diagnosis


Komunitas
Keywords:
Anda akan melakukan evaluasi pada program pemberantasan
penyakit menular yang tidak sesuai dengan target pencapaian
Anda telah menemukan prioritas masalah yang akan dievalusai

Metode diagnosis komunitas


Mengidentifikasi masalah
Menetapkan prioritas masalah
Menganalisis penyebab masalah
Menentukan alternatif pemecahan masalah
Mengevaluasi alternatif pemecahan masalah
Memilih alternatif pemecahan masalah
Implementasi
Follow up

Jawaban: C. Menentukan penyebab masalah yang mungkin

157. IKK Penyakit Akibat


Kerja
Keywords:
Pasien berobat dengan keluhan saluran nafas
Pasien bekerja sebagai pekerja pabrik semen dan tinggal di rumah
kontrakan sekitar pabrik
Beberapa teman kerjanya juga mengalami keluhan yang sama

Teman kerja mengalami keluhan yang sama (tetangga tidak


disebutkan mengalami keluhan yang sama) menandakan
keluhan tersebut akibat bekerja di pabrik semen
Pabrik seharusnya menyediakan APD
Timbulnya penyakit akibat kerja menandakan bahwa
pekerja tidak patuh memakai APD atau pabrik tidak
menyediakan APD
Jawaban: C. Penggunaan APD yang tidak baik

158. IKK Jenis Rujukan


Keywords:
Pasien memiliki ulkus DM
sehingga ingin dikonsulkan
kepada spesialis penyakit
dalam sedangkan masalah
kesehatan lainnya tetapi
ditangani oleh dokter
Antar
Instansi
Puskesmas
tersebut
Horizontal: setingkat, misalnya
dari dokter A ke dokter B tetapi
masih dalama 1 strata
Vertikal: naik atau turun tingkat,
misalnya dari puskesmas ke rumah
sakit.
Jawaban: D. Collateral referral

Antar Dokter
Interval referral: pelimpahan wewenang
dan tanggung jawab pasien sepenuhnya
kepada 1 dokter konsultan untuk jangka
waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut, dokter tersebut tidak ikut
menanganinya
Split referral: pelimpahan wewenang dan
tanggung jawab pasien sepenuhnya kepada
beberapa dokter konsultan untuk jangka
waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut, dokter tersebut tidak ikut
menanganinya
Collateral referral: menyerahkan
wewenang dan tanggung jawab
penanganangan penderita hanya untuk satu
masalah penanganan spesialistik saja
Cross referral: menyerahkan wewenang
dan tanggung jawab pasien kepada dokter
lain untuk selamanya

159. IKK Kerucut Edgar


Dale
Keywords:
Tingginya jumlah balita yang mengalami defisiensi vit A
Banyak bahan pangan yang mengandung vit A
Sebagian besar masyarakat buta huruf dan hanya mengerti
bahasa daerah

Alasan: keterbatasan bahasa, agak sulit menggunakan


media tertentu: flip chart, poster, video
Di sana tersedia banyak bahan pangan, tidak sulit
melakukan penyuluhan dengan benda asli (exhibition
penyuluhan dengan model)
Keterbatasan bahasa bisa diatasi dengan bantuan kader
Jawaban: B. Benda asli

Edgar Dales cone of


learning

160. IKK Disease Attack


Rate
Keywords:

Ayah, ibu, 5 anakusia 2-10 tahun, kakek, nenek


3 anakterkenacampak
Ayah, ibu, kakek, danneneksudahpernahterkenacampak

Attack rate adalah jumlah penderita baru suatu penyakit yang


ditemukan pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah
penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat
yang sama
Pada kasus ini penduduk yang mungkin terkena adalah 5 orang anak yang
berusia 2-10 tahun

Rumus
Attack Rate =

Jadi attack rate pada kasus ini adalah 3/5atau 60%


Jawaban: D. 60%

161. Riset Desain


Penelitian
Keywords:
Pasien bebas memilih metode kontrasepsi yang diinginkan
Subjek penelitian adalah perempuan yang mulai menggunakan metode
kontrasepsi sepanjang tahun 2011 dan dilihat hasilnya pada akhir tahun
2012

Pasien bebas memlilih tidak ada intervensi dari peneliti


bukan uji klinis, melainkan tergolong ke dalam quasi-experiment
design
Tidak ada intervensi + ada periode follow up kohort (termasuk
quasi-experiment design)
Desain kohort tidak hanya digunakan pada studi etiologi (sebabakibat, faktor risiko-penyakit), tetapi juga bisa digunakan untuk
menilai efek pengobatan/tindakan
Jawaban: B. Cohort

162. Riset Desain


Penelitian
Keywords:
Dokter ingin melakukan penelitian tentang
jumlah kasus difteri yang ada di wilayah kerjanya

Penelitian mengenai jumlah kasus


(prevalensi/insidens) merupakan penelitian
deskriptif. Yang paling cocok digunakan
untuk penelitian tersebut adalah metode
survey (tergolong ke dalam cross sectional)
Jawaban: C. Cross sectional

163. Riset Uji Diagnostik


Penyakit

Sk
rin
in
g

Total

(+)

(-)

(+
)

132
(a)

1014
(b)

1146

(-)

79 (c)

62266
(d)

62345

211

63280

63491

Total

Gold standar (+) dengan test diagnostik


baru (+) kolom (a)
Gold standard (-) dengan test diagnostik
baru (+) kolom (b)
Gold standard (+) dengan test
diagnostik baru (-) kolom (c)
Gold standard (-) dengan test diagnostik
baru (-)

kolom (d)

Se: a/
(a+c)
Sp: d/
(b+d)
PPV: a/
(a+b)
NPV: d/
(c+d)

Sensitivitas: Formulasi:
a/(a+c) = 132/211
Jawaban: A. 132/211

164. Riset Uji Hipotesis


Keywords:
Hubungan antara bukan perokok, perokok ringan, sedang, dan
berat dengan prevalensi penyakit ISPA

Variabel bebas (kategorik: ordinal, >2)


Bukan perokok
Perokok ringan
Perokok sedang
Perokok berat

Variabel tergantung (kategorik: nominal)


Prevalensi penyakit ISPA (yes/no)

Uji hipotesis yang tepat digunakan adalah uji Chi Square


Jawaban: A. Chi square

Memilih uji statistik untuk 2 kelompok (variabel


independen berskala kategorik)
Skala pengukuran
(variabel dependen)

Tidak berkaitan

Berkaitan

Nominal

X2 (2x2)
Uji exact Fisher

Uji McNemar

Ordinal

Uji KolmogorovSmirnov
Uji Mann-Whitney

- Uji Sign
- Uji Wilcoxon
matched-paired

Uji t unpaired

Uji t paired

paralel 2 kelompok

Before and after


Cross over 2-way

Numerik
Desain penelitian

Tulisan merah HAFALKAN!


Panah biru jika syarat tidak terpenuhi, maka berubah
menjadi

Memilih uji statistik untuk >2 kelompok (variabel


independen berskala kategorik)
Skala pengukuran
(variabel dependen)

Tidak berkaitan

Berkaitan

Nominal

X2 (rxc)

Uji Cochran Q

Ordinal

Uji Kruskal-Wallis

Uji Friedman

Uji Anova

Uji Anova related

Numerik
Desain penelitian

paralel >2 kelompok

Before and after


Cross over 2-way
Matched paired

Korelasi dan Regresi


Skala
pengukuran
(variabel
dependen)

Korelasi

Nominal

Ordinal

Regresi

Regresi
logistik
Uji Spearman

Numerik

- Uji Pearson

- Regresi linier
- Regresi
multipel

Korelasi
1 variabel independen
berskala numerik
Regresi linier
1 variabel independen,
biasanya numerik
Regresi multiple
>1 variabel
independen, biasanya
numerik, tapi kategorik
juga boleh
Regresi logistik
1 atau lebih variabel
independen, biasanya
numerik, tapi kategorik

Uji Hipotesis
Catatan tambahan:
- Uji Fischer digunakan apabila syarat uji Chi-square tidak
terpenuhi dimana:
(a) Jumlah subyek total n<20, atau
(b) Jumlah subyek antara 20-40 dengan nilai
expected (E) <5
untuk tabel 2x2
- Korelasi digunakan untuk mengetahui adanya
hubungan yang berbanding lurus (korelasi positif) atau
berbanding terbalik (korelasi negatif) antara 2 variabel
numerik, dan seberapa kuat korelasi yang didapatkan.
Contoh: hubungan antara berat badan dan tinggi badan

Regresi Logistik
Regresi logistik digunakan untuk menghasilkan formula
yang dapat memprediksi probabilitas terjadinya
suatu outcome (1 variabel dependen/VD nominal)
menggunakan 1 atau lebih variabel independen/VI
(numerik atau kategorik).
Dari formula tsb juga dapat diketahui berapa besar
kontribusi tiap variabel independen terhadap terjadinya
outcome (kontribusi maksimal sebesar 100% atau 1).
Odds Ratio suatu VI yang berskala kategorik juga bisa
diketahui menggunakan regresi logistik.
Contoh kasus: penelitian yang ingin mencari hubungan
antara adanya faktor keturunan (ya/tidak, skala nominal)
dan kadar trigliserida serum (skala numerik) dengan
terjadinya penyakit DM tipe 2 (ya/tidak, skala nominal)

Regresi Linier dan Multipel


Regresi linier dan regresi multiple digunakan untuk
menghasilkan formula yang dapat memprediksi nilai sebuah
VD (numerik) menggunakan 1 (untuk linier) atau lebih (untuk
multiple) VI (numerik atau kategorik).
Kontribusi tiap VI dapat diketahui, berupa koefisien VI tersebut,
sehingga peningkatan 1 poin VI (jika numerik) akan mengubah
nilai VD sebesar koefisien tsb. Koefisien dapat bernilai positif
atau negatif.
Contoh kasus regresi linier: penelitian yang ingin mencari
hubungan antara total asupan energy per hari (numerik) dengan
IMT (numerik). Peneliti juga ingin mengetahui seberapa besar
peningkatan asupan energy dapat meningkatkan/menurunkan IMT
Contoh kasus regresi multiple: penelitian yang ingin mencari
hubungan antara total asupa energy per hari (numerik) dan skor
aktivitas fisik (numerik) dengan IMT (numerik).

165. Riset Risiko Relatif


Studi
ini merupakan studi etiologi

dengan desain prospektif (kohort)


untuk
menyatakanadanyapengaruhmakanes
krimterhadapterjadinyasakitkepala
Pada kohort digunakan rumus RR
(Relative Risk)
RR = = 2,2

Jawaban: A. 2,2

Studi Kohort Konsep

166. Riset Desain


Penelitian
Keywords:
Hubungan kanker hati dengan konsumsi alcohol selama 5
tahun
Penelitian yang paling mudah digunakan

Jenis studi yang mungkin digunakan untuk mencari


hubungan etiologi: kohort, case control, cross
sectional
Kasus kanker hati jarang
Untuk penyakit yang jarang ditemukan desain
paling cocok adalah case control
Jawaban: D. Case control

167. Riset Sampling


Mengelompokan sampel berdasarkan
strata pendidikan berupa rendah,
menengah dan tinggi
Jawaban: D. Stratified random
sampling

Metode Sampling

Simple random sampling: mengacak


sederhana dengan bantuan tabel/komputer

Probabili
ty
sampling

Systematic random sampling: mengacak


teratur dan sistematis, 1/n dari n
Stratified random sampling: mengacak
berdasarkan strata
Cluster random sampling: mengacak
berdasarkan daerah/wialayah

Metode
Sampli
ng

Consecutive sampling: mengambil subjek


sesuai kriteria inklusi/eksklusi

Nonprobability
sampling

Convenient/Accidental/Captive
sampling: mengambil subjek sesuai
kenyamanan peneliti
Purposive/Judgement/Quota sampling:
mengambil subjek sesuai dengan
pertimbangan subyektif peneliti
Snowball sampling: peneliti meminta
subjek pertama untuk menunjukkan orang
yang dapat dijadikan subjek
Probability sampling: setiap subjek dalam penelitian memiliki peluang yang sama untuk dipilih
Non-probablity sampling: peluang subjek untuk dipilih tidak sama

168. Riset Risiko Relatif


Lihatpertanyaannya:

Berapakahrisiko relative
bayi yang
tidakmendapatvaksinc
ampakterhadapkejadianti
mbulnyapenyakitcampak?
Tanpa vaksin
dianggap sebagai faktor
risiko campak (+)
Rumus RR (Relative Risk)
RR = = 5

Jawaban: B. 5

Campak
(+)
(
100
Tan +
(a)
pa )
Vak
sin (-) 20 (c)
Total

120

(-)

Total

900(b)

1000

980 (d)

1000

1880

2000

Studi Kohort Konsep

169. IKK Incidence Rate


Incidence Rate =

= 0,07%
Pendudukberisiko artinyatidakmenderitapenyakit
yang dimaksud di
awalperiodedanmasihbisaterkenapenyakittsb
Bilajumlah orang yang menderitapenyakitygdimaksud
di awalperiodekecil biasanyadiabaikan yang
digunakantetap total jumlahpendudukberisiko
Jumlahpendudukberisiko yang
digunakanadalahjumlahpenduduk di akhirtahun
Jawaban: C. 0,07%

170. Riset Uji Statistik


Pada kasus ini digunakan metode
penelitian multivariat dengan variabel
bebas x dan y serta variabel tergantung z.
Variabel bebas x (skala rasio) dan y (skala
rasio)
Variabel tergantung z (skala nominal)
Uji hipotesis multivariat yang tepat
digunakan adalah regresi logistik
Jawaban: C. Regresi logistik

Memilih uji statistik untuk 2 kelompok (variabel


independen berskala kategorik)
Skala pengukuran
(variabel dependen)

Tidak berkaitan

Berkaitan

Nominal

X2 (2x2)
Uji exact Fisher

Uji McNemar

Ordinal

Uji KolmogorovSmirnov
Uji Mann-Whitney

- Uji Sign
- Uji Wilcoxon
matched-paired

Uji t unpaired

Uji t paired

paralel 2 kelompok

Before and after


Cross over 2-way

Numerik
Desain penelitian

Tulisan merah HAFALKAN!


Panah biru jika syarat tidak terpenuhi, maka berubah
menjadi

Memilih uji statistik untuk >2 kelompok (variabel


independen berskala kategorik)
Skala pengukuran
(variabel dependen)

Tidak berkaitan

Berkaitan

Nominal

X2 (rxc)

Uji Cochran Q

Ordinal

Uji Kruskal-Wallis

Uji Friedman

Uji Anova

Uji Anova related

Numerik
Desain penelitian

paralel >2 kelompok

Before and after


Cross over 2-way
Matched paired

Korelasi dan Regresi


Skala
pengukuran
(variabel
dependen)

Korelasi

Nominal

Ordinal

Regresi

Regresi
logistik
Uji Spearman

Numerik

- Uji Pearson

- Regresi linier
- Regresi
multipel

Korelasi
1 variabel independen
berskala numerik
Regresi linier
1 variabel independen,
biasanya numerik
Regresi multiple
>1 variabel
independen, biasanya
numerik, tapi kategorik
juga boleh
Regresi logistik
1 atau lebih variabel
independen, biasanya
numerik, tapi kategorik

Uji Hipotesis
Catatan tambahan:
- Uji Fischer digunakan apabila syarat uji Chi-square tidak
terpenuhi dimana:
(a) Jumlah subyek total n<20, atau
(b) Jumlah subyek antara 20-40 dengan nilai
expected (E) <5
untuk tabel 2x2
- Korelasi digunakan untuk mengetahui adanya
hubungan yang berbanding lurus (korelasi positif) atau
berbanding terbalik (korelasi negatif) antara 2 variabel
numerik, dan seberapa kuat korelasi yang didapatkan.
Contoh: hubungan antara berat badan dan tinggi badan

Regresi Logistik
Regresi logistik digunakan untuk menghasilkan formula
yang dapat memprediksi probabilitas terjadinya
suatu outcome (1 variabel dependen/VD nominal)
menggunakan 1 atau lebih variabel independen/VI
(numerik atau kategorik).
Dari formula tsb juga dapat diketahui berapa besar
kontribusi tiap variabel independen terhadap terjadinya
outcome (kontribusi maksimal sebesar 100% atau 1).
Odds Ratio suatu VI yang berskala kategorik juga bisa
diketahui menggunakan regresi logistik.
Contoh kasus: penelitian yang ingin mencari hubungan
antara adanya faktor keturunan (ya/tidak, skala nominal)
dan kadar trigliserida serum (skala numerik) dengan
terjadinya penyakit DM tipe 2 (ya/tidak, skala nominal)

Regresi Linier dan Multipel


Regresi linier dan regresi multiple digunakan untuk
menghasilkan formula yang dapat memprediksi nilai sebuah
VD (numerik) menggunakan 1 (untuk linier) atau lebih (untuk
multiple) VI (numerik atau kategorik).
Kontribusi tiap VI dapat diketahui, berupa koefisien VI tersebut,
sehingga peningkatan 1 poin VI (jika numerik) akan mengubah
nilai VD sebesar koefisien tsb. Koefisien dapat bernilai positif
atau negatif.
Contoh kasus regresi linier: penelitian yang ingin mencari
hubungan antara total asupan energy per hari (numerik) dengan
IMT (numerik). Peneliti juga ingin mengetahui seberapa besar
peningkatan asupan energy dapat meningkatkan/menurunkan IMT
Contoh kasus regresi multiple: penelitian yang ingin mencari
hubungan antara total asupa energy per hari (numerik) dan skor
aktivitas fisik (numerik) dengan IMT (numerik).

ANAK

171. A

Keywords:
S: demam dan muncul bercak
kemerahan; bercak kemerahan
dikatakan muncul dari wajah ke
badan dan punggung; batuk pilek
sejak 3 hari yang lalu
O: lesi makulopapular eritematosa;
limfadenopati coli
Infeksi virus Morbili (a.k.a. Campak,
Measles, Rubeola)
Stadium kataral: gejala influenza
dan bercak Koplik
Stadium erupsi: erupsi
makulopapular eritematosa (dari
belakang telinga menuju ke
bawah/badan), pembesaran KGB
mandibula dan leher belakang,
splenomegali dan black measles
Stadium konvalensensi:
hiperpigmentasi dan kulit bersisik

Rubeola/morbili/campak
Demam, batuk, pilek, mata merah
diikuti dengan erupsi eritema
makulopapular yang gatal. Penyebaran
dari telinga, wajah, lalu seluruh tubuh
Patognomonik: Kopliks spot (titik-titik
putih pada mukosa pipi)
Komplikasi: diare, pneumonia, otitis
media, ensefalitis, ulkus kornea
Tx: simptomatik + vitamin A

Rubella/campak jerman
Tanda dan gejala mirip morbili,
tapi lebih ringan dan
berlangsung dalam waktu lebih
pendek (tiga hari)
Yang bahaya: rubella kongenital

172. A
Keywords:
S: sariawan
O: bercak putih di mukosa mulut, Candida albicans
(+)

Diagnosis diferensial sariawan pada anak:


Stomatitis bakterial: nyeri, demam (+), th/ AB
Oral candidiasis/moniliasis: biasanya tidak nyeri,
demam jarang ditemukan, th/ Antifungi

Terapi yang tepat pada kasus ini adalah


nistatin drops.
Jawaban: A. Nistatin

173. B
Keywords:
S: rewel, sering menangis dan tidak
dapat BAK
O: lubang kencing berada di bawah
batang penis

Kelainan letak OUE


Hipospadia: OUE terletak di ventral
penis
Epispadia: OUE terletak di dorsal
penis

Koreksi hipospadia dilakukan


oleh bedah urologi dengan
menggunakan preputium
sebagai bahan dasar uretra
buatan. tidak boleh
disirkumsisi
Jawaban: B. Hipospadia

174. B
Keywords:
S: keluhan BAB cair >8 kali perhari, BAB cairan >
ampas, warna kuning, darah(-) dan lendir (-)
O: tampak lemas, rewel, mata cekung (+) dan
turgor kembali lambat

Diagnosis pada kasus ini adalah diare akut


dehidrasi ringan sedang. Diare merupakan
penyebab kematian anak dan balita nomor 2.
Penyebaba kematian nomor 1 adalah
pneumonia.
Jawaban: B. 2

Diare Sekretorik dan


Osmotik
Diare Sekretorik

Diare Osmotik

Diare Akut Klasifikasi


Derajat
Dehidra
si

Keadaan
Umum

Rasa
Haus

Kelopak
/ Air
Mata

Mulut

Kulit

Urin

Tanpa
dehidrasi
(<5%
BB)

Baik, CM

Minum
normal

Normal

Basah

Normal

Normal

Dehidrasi
ringansedang
(5-10%
BB)

Rewel,
gelisah

Minum
seperti
kehausan

Cekung,
produksi
kurang

Kering

Pucat,
CRT<2s,
turgor
lambat

Berkuran
g

Letargis,
lemah,
penuruna
n
kesadara
n, nadi &
napas
cepat

Dehidrasi
berat
(>10%
BB)

Malas
minum,
tidak
mau
minum

Sangat
kering

Pucat,
CRT>2s,
turgor
sangat
lambat

Tidak ada

Sangat
cekung,
tidak ada

175. D
Keywords:
S: telinga kiri mengeluarkan cairan sejak 1 hari yang lalu,
sebelumnya pasien dikatakan demam dan rewel karena
merasakan telinga kiri sakit
O: MT perforasi sentral dan sektret purulent (+)

Keluarnya cairan dari telinga perlu dipikirkan diagnosis


otitis media akut (OMA). Pada anak sering terjadi OMA
karena posisi tuba eustachius lebih datar sehingga lebih
mudah terinfeksi.
Stadium supurasi biasanya ditandai dengan MT bulging, anak
demam dan rewel
Stadium perforasi ditandai dengan keluarnya cairan dan
perforasi MT

Jawaban: D. OMA

OMA Patogenesis

Otitis Media Akut (OMA)


Manifestasi klinis, tergantung
stadium
Oklusi: retraksi membran
timpani
Hiperemis: MT hiperemis dan
edema
Supurasi: Telinga bulging, sangat
nyeri, nadi dan suhu meningkat
Perforasi: Ruptur MT, nadi dan
suhu menurun, nyeri reda
Resolusi: MT menutup, sekret
hilang. Kegagalan stadium
resolusi menyebabkan OMSK.
Seluruh gejala sering disertai
riwayat ISPA dan gangguan
pendengaran.

Tata laksana
Oklusi: obat tetes hidung (Efredin
HCl 0,5%) + antibiotik
Hiperemis: antibiotik + obat tetes
hidung + analgetik + miringotomi
Supurasi: antibiotik + miringotomi
Perforasi: antibiotik + obat cuci
telinga
Resolusi: antibiotik
Setelah miringotomi atau perforasi
lakukan cuci telinga dengan H 2O2 3%
selama 3-5 hari.
Antibiotik lini-1: Amoxicillin 80-90
mg/kg/hari PO dibagi 2x/hari selama
10 hari

Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)


Definisi
Otorhea kronik (>6
minggu) pada MT yang
perforasi
Manifestasi klinis
gangguan pendengaran,
tidak nyeri
Penunjang CT-Scan atau
MRI jika curiga komplikasi

Tata laksana
Antibiotik: neomycin +
polymixin B drops
Ear toilet
Kauter kimia (nitrat perak)
untuk jaringan granulasi
Bedah jika ada kolesteatoma
(maligna)
MIRINGITIS BULOSA
Peradangan pada membran
timpani
Ditemukan vesikel-vesikel
berisi nanah di MT

OMSK Klasifikasi
OMSK Tipe
Aman/Benigna/Mukosa
Peradangan hanya di
mukosa
Perforasi sentral
Kolesteatoma (-)
komplikasi jarang terjadi

OMSK Tipe
Bahaya/Maligna/Tulang
Peradangan meluas hingga
ke tulang
Perforasi marginal atau atik
Kolesteatoma (+) sering
terjadi komplikasi

Mastoiditis
Disebabkan infeksi yang meluas ke
prosesus mastoid
Gejala dan tanda:
Nyeri, bengkak, kemerahan di daerah
mastoid
Nyeri telinga (otalgia), demam, atau
sakit kepala juga bisa ada
Pada bayi gejala nonspesifik:
anoreksia, diare, rewel

176. B
Keywords:
S: sakit saat BAK, Ujung
penis terkadang tampak
mengembung bila BAK
O: preputium sulit
ditarik ke belakang

Diagnosis pada kasus


ini adalah fimosis.
Fimosis merupakan
indikasi dilakukannya
sirkumsisi.
Jawaban: B. Fimosis

177. A
Keywords:
S: bayi 2 hari, seluruh badan kuning sejak 1 hari yang lalu
O: golongan darah bayi B Rh (-), golongan darah ibu O Rh (-), Hb 10 g/dl

Kuning seluruh badan kira-kira 20 mg/dl (wajah saja 5 mg/dl,


tengah perut 15 mg/dl)
Hb normal neonates 14-27 g/dl
Ikterus yang muncul pada 24 jam pertama kehidupan dapat disebabkan
oleh inkompatibilitas darah (ABO, Rh, golongan lain), Infeksi intrauterin
(bakteri, virus, TORCH) dan defisiensi G6PD.
Pada kasus ini diketahui pasien mengalami anemia hemolitik sehingga
dipikirkan berupa inkompatibilitas darah
Inkompalibilitas darah yang sesuai adalah inkompatibilitas ABO. (ibu
golongan O punya antibodi A dan B; anak golongan A punya antigen A)
Jawaban: A. Inkompatibilitas ABO

Ikterus Neonatorum Klasifikasi,


Etiologi
Ikterus Fisiologis
Terjadi pada bayi aterm (5-6
mg/dl)
Onset ikterus setelah 24 jam
pertama
Puncak ikterus pada hari ke 3-5
Ikterus membaik dalam 1
minggu

Ikterus Patologis

Dapat terjadi pada semua bayi


Onset ikterus <24 jam
Puncak ikterus lebih lambat
Ikterus membaik dalam 2
minggu

Etiologi
Produksi (hemolisis):
hematoma, ABO/Rh
inkompatibilitas, G6PD def,
sferositosis, polisitemia
sekresi bil: prematur,
hipotiroid, bayi ibu DM, def
enzim konjugasi
sirkulasi enterohepatik:
asupan enteral (breastfeeding
jaundice), stenosis pilorus,
atresia usus, MH
Gangguan obstruktif:
kolestasis, atresia bilier, kista
koledokus
Mekanisme campuran: sepsis

Ikterus Neonatorum Warning Sign!


Ikterus yang timbul pada saat lahir
atau sejak hari pertama kehidupan
Kenaikan bilirubin berlangsung cepat
(>5mg/dL)
Kadar bilirubin serum >12 mg/dL
Ikterus menetap pada usia 2 minggu
atau lebih
Peningkatan bilirubin direk >2mg/dL

Ikterus Neonatorum DDx/


Ikterik pada 24 jam pertama
Dapat disebabkan
erythroblastosis fetalis,
perdarahan tersembunyi, sepsis,
atau infeksi intrauterine,
termasuk sifilis, rubella,
sitomegalo, rubella, dan
toxoplasmosis kongenital

Ikterik yang muncul pada hari


ke-2 atau ke-3
Umumnya fisiologis, Crigler-Najjar
syndrome dan breast feeding
ikterik, sepsis bakteri atau infeksi
saluran kemih, maupun infeksi
lainnya seperti sifilis,
toksoplasmosis, sitomegalovirus,
atau enterovirus.

Ikterik yang muncul sesudah satu


minggu
breast milk ikterik, septicemia,
atresia congenital, hepatitis,
galaktosemi, hipotiroidisme, anemia
hemolitik kongenital (spherocytosis),
anemia hemolitik akibat obat.

Ikterik yang persisten selama


satu bulan
kondisi hyperalimentationassociated cholestasis, hepatitis,
cytomegalic inclusion disease,
syphilis, toxoplasmosis, familial
nonhemolytic icterus, atresia bilier,
atau galaktosemia. Ikterik fisiologis
dapat berlangsung beberapa minggu
pada kondisi hipotiroid atau stenosis
pilori

Ikterus Neonatorum Tatalaksana


Tatalaksana
Fototerapi
NCB-SMK: bil tot
12 mg/dl
NKB sehat: bil tot >
10 mg/dl

Transfusi tukar
Bil indirek 20
mg/dl
Digunakan bil indirek
karena ditakutkan
kernikterus

Usia

Fototerapi
(Bil tot)

Transfusi
Tukar
(Bil indir)

<24 jam

10-12 mg/dl

20 mg/dl

24-48 jam

12-15 mg/dl

20-25 mg/dl

48-72 jam

15-18 mg/dl

25-30 mg/dl

>72 jam

18-20 mg/dl

25-30 mg/dl

Inkompatibilitas ABO dan Rh

178. B
Keywords:
S: bayi, terdapat benjolan di kepala
O: Bayi berwarna kuning (Kramer
3), Benjolan berada pada bagian
oksipital namun ukuran tidak
sampai sutura sagitalis

Trauma jalan lahir, dibagi 2:


Sefal hematom: tidak melalui garis
tengah
Caput succedanum: melalui garis
tengah

Darah pada sefal hematom akan


mengalami hemolisis sehingga
akan menyebabkan bayi tampak
kuning.
Jawaban: B. Cephal hematome +
ikterik neonatorum

179. E
Keywords:
S: mengeluh gatal di sela jari hingga punggung tangan serta di
bagian penis, Keempat saudaranya di rumah mengalami keluhan
yang sama

Diagnosis skabies ditegakkan bila ditemukan 2 dari 4 tanda


kardinal, sbb
Pruritus nokturna
Penyakit menyerang manusia secara berkelompok
Ditemukan terowongan (kunikulus)
Ditemukan tungau

Pada kasus ini ditemukan 2 tanda kardinal, sehingga


diagnosis skabies dapat ditegakkan. Terapi pilihan skabies
adalah permetrin
Jawaban: E. Krim permetrin

Skabies - Tatalaksana

Sulfur presipitatum 10%: dioleskan 3x24 jam, aman untuk ibu hamil dan
anak kurang dari 2 tahun; tidak efektif untuk stadium telur sehingga harus
digunakan >3 hari
Emulsi benzil benzoas 20%: efektif untuk semua stadium, diberikan malam
hari selama 3 hari; sulit ditemukan
Gameksan 5%: efektif untuk semua stadium, dihindari untuk anak <6 tahun
dan wanita hamil, efek neurotoksik dan teratogenik
Crotamiton krim atau losion kurang efektik, tapi aman digunakan pada wanita
hamil, bayi dan anak kecil
Permetrin 5% (dapat membunuh seluruh stadium tungau), dioleskan ditempat
lesi lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih. Bila belum sembuh, diulang 1
minggu kemudian

180. A
Keywords:
S: diare sejak 3 jam yang lalu
O: Bau feses khas dan mikroskopik
menunjukkan gambaran berbentuk
koma, flagel (+)

Diare pada kasus ini bersifat


profuse dan merupakan diare
sekretorik. Diare sekretorik
disebabkan oleh adanya toxin yang
meningkatkan aktivitas cAMP di
dalam mukosa usus.
Gambaran koma (vibrio) merupakan
khas pada V.cholera.
Feses pada kolera berbau amis.

Jawaban: A. V.cholera

181. A
Keywords:
S: anak 13 bulan, belum bisa
tengkurap, tampak pucat,
sulit BAB
O: BB 6,1 kg, PB 60 cm, lidah
tampak besar

Klinis pasien ini


mengarahkan diagnosis
kerja berupa hipotiroidisme
sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan fungsi tiroid
berupa T3, T4 dan TSH.
Jawaban: A. T3, T4 dan TSH

182. E
Keywords:
S: keluhan nyeri perut, mual,
muntah dan perut tampak
membuncit
O: benjolan seperti sosis
(sausage appeareance) dan pada
auskultasi terdengar metallic
sound

Bunyi metallic sound dapat


terdengar pada ileus obstruksi.
Klinis pasien menunjang ke
diagnosis ileus obstruksi.
Sausage appearance
merupakan temuan khas pada
intususepsi.
Jawaban: E. Intususepsi

183. E
Keywords:
S: ayah pasien menderita TB dan
sedang dalam pengobatan TB
selama 6 bulan
O: bayi tampak sehat

Menurut ATS/CDC, pasien ini


dikategorikan dalam kelas I
dimana hanya terdapat kontak.
Pasien anak mendapatkan basil
TB dari pasien dewasa.
Tatalaksana menurut ATS/CDC
maka perlu diberikan
profilaksis primer berupa INH.
Jawaban: E. Memberikan INH 5
mg/kgBB/hari selama 6 bulan

TB Anak Klasifikasi
(ATS/CDC)
Cla
ss

Conta Infecti
ct
on

Disea
se

Management

1st proph.

II

2nd proph.

III

OAT thera.

Kontak dinilai dengan adanya kontak dengan


pasien TB di sekitar lingkungan
Infeksi dinilai dengan uji Mantoux
Disease dinilai dengan TB scoring menurut
WHO

TB Anak
Pencegahan/Kemoprofilaksis
Kemoprofilaksis
primer
Diberikan untuk
mencegah infeksi
Diberikan pada
anak dengan
kontak TB (+) tetapi
uji tuberkulin (-)
Obat: INH 5-10
mg/kgBB/hari
selama 6 bulan

Kemoprofilaksis
sekunder
Diberikan untuk
mencegah sakit TB
Diberikan pada
kontak TB (+), uji
mantoux (+), tetapi
klinis (-), Ro (-)
Obat: INH 5-10
mg/kgBB/hari
selama 6 bulan

184. B
Keywords:
S: bayi 4 bulan, demam sejak 2 hari yang lalu,
O: pernapasan 64 x/menit, nadi 144x/menit dan suhu 37,5
oC, wheezing +/+ dan ronkhi basah kasar +/+; Ro thorax:
gambaran hiperinflasi paru dengan diameter
anteroposterior membesar pada foto lateral

Pada anak usia <2 tahun bila ditemukan bunyi


wheezing perlu dipikirkan diagnosis banding berupa
bronkiolitis. Pada rontgen thorax pasien bronkiolitis
dapat ditemukan gambaran hiperinflasi paru dengan
pembesaran diameter AP pada foto lateral
Jawaban: B. Bronkiolitis

Konsep Dyspnea pada Anak


Flow
disorders
Dyspn
ea

Intrathor
ax

Obstruksi sal napas distal

Extratho
rax

Obstruksi sal napas proksimal

Intrathor
ax
Volume
disorders
Extratho
rax

Gangguan parenkim paru


Gangguan extrapulmoner
Gangguan compliance paru
Gangguan pusat napas

Pada bronkiolitis terjadi gangguan flow karena bronkokonstriksi

Bronkiolitis - Pathogenesis
Invasi virus inflamasi akumulasi
mukus, debris dan edema
obstruksi bronkiolus pada fase
inspirasi dan ekspirasi ada
mekanisme klep yang
menyebabkan air trapping
overinflasi dada ventilasi turun
dan hipoksemia frekuensi napas
naik; pada keadaan berat dapat
terjadi hiperkapnia, obstruksi todal

Bronkiolitis Definisi, Gejala Klinis,


Diagnosis, Tatalaksana
Definisi
Inflamasi bronkiolus akut
akibat infeksi virus
(umumnya RSV,
parainfluenza, adenovirus)
Umumnya pada anak usia
<2 tahun, paling sering
anak usia 6 bulan

Gejala Klinis
Diawali dengan demam
subfebris dan AURI
Kemudian terjadi batuk,
sesak, dan mengi
Jarang menjadi berat

Diagnosis
PF: demam, dyspnea
(expiratory effort), ekspirasi
memanjang, mengi,
hipersonor (air trapping)
PP: foto dada AP-lateral (air
trapping), AGD: hiperkarbia,
asidosis
metabolik/respiratorik

Tata laksana:
Oksigen
Bronkodilator (hanya kalau
menghasilkan perbaikan)
Antibiotik (hanya kalau ada
bukti infeksi bakterial)

dd/ Pneumonia
DIAGNOSIS
Gambaran klinis
Anamnesis
Demam, menggigil, >380C
Batuk dengan dahak mukoid
atau purulen
Sesak napas
Nyeri dada
Pemeriksaan fisik
Inspeksi : bagian yang sakit
tertinggal waktu bernapas
Palpasi : fremitus mengeras
Perkusi redup
Auskultasi : Bronkovesikulerbronkial, ronki basah halus-kasar

Pemeriksaan penunjang
Gambaran radiologis
Foto toraks (PA/lateral) untuk
menegakkan diagnosis infiltrat sampai
konsolidasi.
Pemeriksaan laboratorium
Leukosit >10.000/ul atau <4500/ul
Hitung jenis leukosit terdapat pergeseran
ke kiri
Peningkatan LED
Kultur sputum
Analisis gas darah: hipoksemia,
hiperkarbia, asidosis respiratorik.
TATA LAKSANA
Antibiotik tergantung etiologi. Empiris
biasanya digunakan beta-lactamase,
cephalosporin generasi 2/3, atau
fluorokuinolon respirai

185. A
Keywords:
O: berat badan per tinggi badan
berdasarkan z-score didapatkan
nilai < -3 SD

Interpretasi BB/TB z-score


WHO (untuk menentukan
status gizi anak < 5 tahun):

> +3SD = obese


+2SD < x < +3SD = overweight
+2SD < x < -2SD = normal
-2SD < x < -3SD = moderate
malnutrition (gizi kurang)
< -3SD = severe malnutrition
(gizi buruk)

Jawaban: A. Gizi buruk

186. B

Keywords:
S: anak laki-laki, keluhan perdarahan muncul setelah
beberapa menit suntikan diberikan
O: trombosit 350.000 /mm3, BT normal, CT meningkat, PT
normal, APTT meningkat, kadar aktivitas FVIII 2%, kadar
aktivitas FIX normal
Adanya delayed bleeding merupakan tanda khas gangguan
secondary hemostatis (pembentukan cross -linking fibrin).
Penyakit dengan defek pada secondary hemostasis adalah
hemofilia. Hemofilia A terjadi akibat defisiensi FVIII dan hemofilia B
akibat defisiensi FIX.
Pada hemofilia didapatkan pemanjangan CT dan APTT.
Pemanjangan CT terjadi akibat gangguan pembentukan
benang fibrin. APTT memanjang karena gangguan pada FVIII
atau FIX.
Hemofilia diturunkan dengan sex x-linked jadi hanya
ditemukan pada anak laki-laki
Jawaban: B. Hemofilia A

Hemostasis & Kaskade


Koagulasi

Hemostasis primer: dari


perdarahan sampai terbentuk
thrombocyte primary plug. Defek
pada proses ini menyebabkan
penyakit Von Willebrand dengan
perdarahan lama (prolonged
bleeding)
Hemostasis sekunder: dari
thrombocyte primary plug hingga
terbentuk cross-linking fibrin. Defek
pada proses ini menyebabkan
penyakit Hemofilia dengan
perdarahan tertunda (delayed
bleeding).

Hemofilia

Patogenesis: terjadi akibat defek


pada secondary hemostasis akibat
defisiensi FVIII atau FIX
Klasifikasi

Hemofilia A: FVIII (1:10.000)


Hemofilia B: FIX (1:30.00050.000)

Klinis

Aktifitas
FVIII/FIX

Perdarahan

Ringan

5-25%

Trauma berat

Sedang

1-5%

Trauma
ringan

Berat

<1%

Spontan

Dasar diagnosis
Anamnesis: delayed
bleeding, soft tissue
bleeding, epistaksis,
hematuria
PF:
Neonatus:
perdarahan
umbilikus
Anak: hemarthrosis
TRM (+) bila terjadi
perdarahan
intrakranial
PP: trombosit (N), BT (N),
CT , PT (N), APTT ,
FVIII/FIX, inhibitor FVIII/FIX

187. C
Keywords:
S: keluhan pucat sejak 1 bulan yang lalu
O: konjungtiva anemis, hepatosplenomegali, Hb 7 g/dL, MCV 70 fl, MCH 22 pg,
dan sel target (+)

Pada kasus ini ditemukan anemia mikrositik hipokrom (MCV < 76,
MCH < 28). Ddx/ anemia MH ada 4, yaitu
Anemia defisiensi besi (ADB)
Anemia penyakit kronik (ACD)
Thalassemia
Anemia sideroblastik

Sel target merupakan sel patognomonik yang ditemukan pada


keadaan hemolisis sehingga diagnsosis pada pasien ini adalah
thalassemia.
Hemolisis pada thalassemia terjadi akibat presipitasi rantai
hemoglobin.
Jawaban: C. Thalassemia

Anemia Mikrositik Hipokrom


Pendekatan Diagnosis

Thalassemia Patogenesis,
Patofisiologi

Hb A (22)
Hb F (22)
Hb A2 (2 2)
Hb Gower 2
(22)
Hb Portland
(22)
Hb Gower 1
(22)

188. E
Keywords:
S: cepat lelah dan sesak nafas bila beraktivitas fisik, sianosis (-)
O: tekanan darah di lengan 130/90 mmHg sedangkan tekanan
darah pada tungkai 110/80 mmHg

Gejala gagal jantung yang dialami pasien kemungkinan


disebabkan oleh PJB asianotik. Pada pemeriksaan fisis
didapatkan perbedaan tekanan darah tungkai dan lengan
dimana tekanan lengan > tungkai. Hal ini menunjang
diagnosis Coarctatio Aorta (CoA)
CoA merupakan kelainan pada aorta dimana terjadi
penyempitan lumen aorta desendens distal dari arteri
percabangan lengkung aorta sehingga menyebabkan
perbedaan tekanan darah di lengan dan tungkai.
Jawaban: E. Coarctatio Aorta

PJB - Klasifikasi
Penyakit Jantung
Bawaan (PJB)
Asiano
tik

Sianotik

L-R
Shunt

Tanpa L-R
Shunt

PDA
ASD
VSD

AS
PS
CoA

aliran
darah ke
paru
TGA
dgn
VSD
Truncus
Arteriosus

TAPVD

Aliran
darah ke
paru N
TGA tanpa
PS

aliran
darah ke
paru
ToF
Atresia
Pulmoner
Atresia
Trikuspid

189. C
Keywords:
S: batuk-batuk sejak 2 minggu yang lalu,
demam (+), pilek (-), sesak napas (+)
O: somnolen, nadi 124 x/menit, pernafasan
55 x/menit, suhu 40C. Konjungtiva tampak
hiperemis dan bercak perdarahan (+) pada
sklera

Pada kasus ini diagnosis mengarah pada


pertusis.
Jawaban: C. Pertusis

Pertusis Patogenesis, Stadium


Klinis
Durasi penyakit umumnya 6 minggu,
dengan masing-masing fase
berlangsung 2 minggu.
Stage 1 Catarrhal phase
(Indistinguishable from common upper
respiratory infections. Pertussis is
most infectious when patients are in
the catarrhal phase)

Nasal congestion

Rhinorrhea

Sneezing

Low-grade fever

Tearing

Conjunctival suffusion
Stage 2 Paroxysmal phase

Paroxysms of intense coughing


lasting up to several minutes,
occasionally followed by a loud whoop

Posttussive vomiting and turning red


with coughing
Stage 3 Convalescent stage

Chronic cough, which may last for


weeks

Komponen B.pertusis

Pertusis Toxin (PT): eksotoksin,


merangsang sistem imun

Filamentous hemaglutinin (FHA): u/


perlekatan kuman

Aglutinogen: u/perlekatan

Pertacrine: berkerja sama dengan


adenyl cyclase

Adenyl cyclase: mencegah fagositosis

Tracheal cytotoxin: cilliary stasis &


cytotoxic effect
Kuman berinokulasi di saluran napas
menghasilkan toksin yang menyebabkan
kelumpuhan bulu getar trakea
gangguan aliran sekret saluran napas
sumbatan jalan napas dan pneumonia

Pertusis Diagnosis,
Tatalaksana
Pemeriksaan fisik: umumnya tanpa
demam, dapat ditemukan perdarahan
konjungtiva maupun petechia akibat
batuk. Inspiratory gasping/ whooping
didapatkan pada anak usia 6 bulan-5
tahun.
Terapi: Untuk bayi di atas 1 bulan:
eritromisin, clarithromycin, dan
azithromycin
Prophylaxis: Erythromycin selama 14 hari

190. B
Keywords:
S: anak 1 tahun, kejang
O: telah diberikan diberikan terapi diazepam rectal 2x
dan intravena 1x tapi pasien masih kejang

Jika pasien masih kejang setelah pemberian


diazepam i.v. 1 x maka dapat diberikan fenitoin
i.v. dosis 20 mg/kgBB/ kali pemberian.
Tiap 10 mg fenitoin diencerkan dengan NS 1 cc, dosis
maksimal per kali pemberian 1 gr, kecepatan
pemberian 50 mg/menit.

Jawaban: B. Loading dose fenitoin dan siapkan


fenobarbital

Kejang Demam Definisi,


Patofisiologi
Kejang demam adalah
kejang yang terjadi
akibat demam suhu
aksila >38,5C (suhu
rektal 38C) tanpa
adanya infeksi SSP atau
gangguan elektrolit akut,
terjadi akibat proses
ekstrakranial, terjadi
pada anak di atas usia 1
bulan dan tidak ada
riwayat kejang tanpa
demam sebelumnya.

Patofisiologi
Keadaan hipoglikemia dan
hipoksia akan menyebabkan
gangguan pompa Na+/K+
ATP dependent channel ion
di membran sel neuron
Pada keadaan demam,
setiap peningkatan suhu 1C
terjadi peningkatan
metabolisme basal sekitar
10-15% dan kebutuhan O2
20% di otak terjadi
keadaan hipoglikemia dan
hipoksia relatif gangguan
kanal ion NA+/K+ ATP
dependent kejang

191. E
Keywords: bengkak seluruh tubuh, pertama
terjadi 1 tahun yang lalu, edema pitting (+),
albumin 2 mg/dl dan protein urin +3
Batasan term sindrom nefrotik
Remisi: proteinuria negatif atau trace (<4
mg/m2/LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1
minggu
Relaps: proteinuria 2+ (>40 mg/m2/LPB/jam)
3 hari berturut-turut dalam 1 minggu
Relaps jarang: relaps kurang dari 2x dalam 6
bulan pertama setelah respons awal atau kurang
dari 4x per tahun pengamatan
Relaps sering: relaps 2x dalam 6 bulan pertama
setelah respons awal atau 4x dalam periode 1tahun

Dependen steroid: relaps 2x


berurutan pada saat dosis steroid
diturunkan (alternating) atau dalam 14
hari setelah pengobatan dihentikan
Resisten steroid: tidak terjadi remisi
pada pengobatan prednison dosis penuh
(full dose) 2 mg/kgbb/hari selama 4
minggu
Sensitif steroid: remisi terjadi pada
pemberian prednison dosis penuh
selama 4 minggu

Sindroma Nefrotik Definisi,


Patogenesis
Definisi
Proteinuria masif (>40 mg/m2/jam atau
dipstik 2+),
Hipoalbuminemia (<2,5 g/dL),
Edema, dan
Hiperkolesterolemia >200 mg/dl

Patogenesis
Terjadi akibat kegagalan/gangguan
filtrasi di glomerulus yang kemudian
menyebabkan terjadinya albumin
leakage
Membran filtrasi glomerulus: endotel
kapiler (pores/fenestration) , GBM
(negative discharge), foot proces
podocyte (filtration slit)

Oval fat bodies patognomonik pada


urinalisis pasien sindrom nefrotik
Edema terjadi karena albumin
berkurang sehingga tekanan onkotik
menurun

192. IKA Sindrom Nefrotik


Keywords: bengkak seluruh tubuh, edema pitting
(+), albumin 2 mg/dl
Edema pada sindrom nefrotik terjadi akibat
hipoalbumin. Albumin merupakan protein paling
utama di dalam tubuh yang bertugas menjaga
tekanan onkotik/osmotik. Penurunan albumin
menyebabkan penurunan tekanan onkotik sehingga
terjadi ekstravasasi cairan dari dalam pembuluh
darah ke ruang ketiga yang menyebabkan edema
pitting.
Edema non pitting hanya terjadi pada keadaan
obstruksi saluran limfe, misalnya: limfedema pada
pasien post mastektomi radikal.
Jawaban: E. Penurunan tekanan osmotik plasma

Sindroma Nefrotik Definisi,


Patogenesis
Definisi
Proteinuria masif (>40 mg/m 2/jam atau
dipstik 2+),
Hipoalbuminemia (<2,5 g/dL),
Edema, dan
Hiperkolesterolemia >200 mg/dl

Patogenesis
Terjadi akibat kegagalan/gangguan filtrasi
di glomerulus yang kemudian
menyebabkan terjadinya albumin leakage
Membran filtrasi glomerulus: endotel
kapiler (pores/fenestration) , GBM
(negative discharge), foot proces
podocyte (filtration slit)

Oval fat bodies patognomonik pada


urinalisis pasien sindrom nefrotik
Edema terjadi karena albumin
berkurang sehingga tekanan onkotik
menurun

193. B
Keywords:
S: anak laki-laki usia 3 tahun 6 bulan ; hemarthrosis (+) akibat trauma ringan;
sudah sering mengalami keluhan serupa
O: pasien mengalami kelainan darah

Hemartrosis kemungkinan akibat kelainan koagulasi (lihat slide


berikutnya)
Pilihan yang ada dan mungkin: vWD atau hemofilia
Keduanya merupakan penyakit yang diturunkan (vWD: autosomal
dominan/resesif, hemofilia A dan B: X-linked, hemofilia C: autosomal).
Tidak ada riwayat penyakit keluarga tidak menyingkirkan kemungkinan
diagnosis vWD atau hemofilia pada kasus ini)
vWD seharusnya ada keluhan yang mengarah ke kelainan platelet
Kemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah hemofilia sedang. Secara
epidemiologi lebih sering ditemukan hemofilia A daripada hemofilia B dan
C.
Jawaban: B. Hemofilia A

Kelainan hemostasis
Karakteristik Klinis Gangguan Perdarahan
Kelainan
Trombosit/Vaskular

Kelainan
Koagulasi

Tempat

Kulit, membrane mukosa

Di dalam jaringan
lunak (otot, sendi)

Lesi

Petekiae, ekimosis

Hemartrosis,
hematoma

Perdarahan

Setelah luka kecil: ya


Setelah bedah: langsung,
ringan

Setelah luka kecil:


jarang
Setelah bedah:
Koagulopati:
delayed, berat
Dengan riwayat penyakit dahulu (pernah terjadi sebelumnya)
dan riwayat keluarga: hemophilia, vWD
Tanpa RPD dan riwayat keluarga: akibat obat, penyakit hati,
defisiensi vit K, DIC

194. A
Keywords
S: keluhan bengkak di wajah dan kelopak mata terutama setelah bangun
tidur; kencingnya berwarna merah seperti air cucian daging; Riwayat sakit
tenggorok (+) 2 minggu sebelumnya
O: TD 140/90 mmHg

GNAPS merupakan salah satu sindrom nefritik yang ditandai oleh


timbulnya hematuria, edema, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal
GNAPS terjadi akibat deposisi kompleks imun (Rx hipersensitifitas
tipe 3) pada GBM dan atau mesangium sehingga terjadi reaksi
inflamasi. ggn f(x) ginjal komplikasi: ensefalopati hipertensif,
gagal jantung, edema paru dan gagal ginjal
Didahului oleh infeksi SBGA nefritogenik (tipe 4, 12, 16, 25, dan 49)
di saluran napas atas. Rx Ag-Ab terjadi setelah infeksi saluran napas
atas telah usai.
Jawaban: A. Streptokokus hemolitikus.

195. B
Keywords
O: Anak dilahirkan dari ibu dengan HBsAg +

Pada setiap anak yang dilahirkan dari ibu


dengan status HBsAg (+) perlu
mendapatkan vaksin hepatitis dosis
pertama dan HBIg 0,5 cc <12 jam untuk
mencegah transmisi vertikal
Jawaban: B. Pemberian vaksin hepatitis B
dosis pertama <12 jam dan
immunoglobulin hepatitis B 0,5 ml

Hepatitis B Pencegahan
Imunisasi Pasif (HBIg)
Diberikan pasca
paparan
Dosis
0,06 ml/kg; maksimum
5 ml dalam 48 jam
pertama
0,5 ml HBIg <12 jam +
vaksin Hep B dosis
pertama pada bayi
dengan ibu HBsAg +

Vaksinasi Hep B (Vaksin


Rekombinan)
Jadwal: 0,1,6 bulan
Isi: vaksin rekombinan, respon
protektif Anti HBs 10 mIU/ml
Metode pemberian: IM dalam
(bayi: anterolateral paha, anak
besar/dewasa: deltoid)
Dosis: bergantung produk dan
usia resipien
KI: alergi, demam tinggi
KIPI
Lokal: kemerahan, bengkak, nyeri,
demam ringan 2 hari
Sistemik: mual, muntah, nyeri
kepala, nyeri otot, nyeri sendi

Imunisasi Hepatitis B
pada Bayi Baru Lahir
HBsAg
Ibu
Positif

Negatif atau
tidak
diketahui

HBIg (0,5 ml) +


vaksin Hep B
(dosis I <12 jam
pertama)

Vaksin Hep B (dosis I


segera setelah lahir);
bila dalam 7 hari
terbukti ibu Hep B
diberi HBIg

Parasit

196. B. Malaria Tertiana


Keywords:
S: Demam sejak 1 minggu yl + mual dan menggigil. Pasien
sedang bertugas di Papua
O: parasit bentuk ring form dgn Schuffners dots dan ukuran
eritrosit > normal

Parasit bentuk ring form P. falciparum atau P. vivax


Schuffners dots dan ukuran eritrosit lebih besar dari
normal P. vivax atau P. ovale
Yang memenuhi seluruh karakteristik P. vivax
menyebabkan malaria tertiana atau malaria tertiana
benigna atau malaria vivax

Malaria Ringkasan
P.falsiparum

P.vivax

P.ovale

P.malariae

Malaria
falsiparum/tropi
ka/tersiana
maligna

Malaria
vivax/tersiana

Malaria ovale

Malaria
malariae/kuarta
na

Seluruh
kepulauan di
Indonesia

Seluruh
kepulauan di
Indonesia

Irian Jaya, Pulau


Timor

Papua Barat,
NTT, Sumatera
Selatan

Daur eritrosit

Tiap 48 jam

Tiap 48 jam

Tiap 48 jam

Tiap 72 jam

Eritrosit yang
dihinggapi

Muda,
normosit, tua

Retikulosit,
normosit

Retikulosit,
normosit muda

Normosit

Pembesaran
eritrosit

++

Titik-titik di
eritrosit

Maurer

Schuffner

Schuffner
(James)

Ziemann

Cincin,
marginal,
accole (1/6
eritrosit)

Cincin (1/3
eritrosit)

Bentuk
gametosit

Pisang

Bulat/lonjong

Bulat

Bulat

Pigmen warna

Hitam

Kuning tengguli

Tengguli tua

Tengguli hitam

Penyakit
Vektor
Distribusi
geografik di
Indonesia
Hipnozoit

Bentuk trofozoit
intra eritrosit

Anopheles sp.

Bulat/oval (1/3
eritrosit)

Band/pita,
basket/keranjan
g, rossete,
bulat

P. falciparum

P. Malariae

Band
form

Basket
form

P. vivax

197. D. Abses Hepar


Keywords:
S: anak, diare sejak 1 minggu yl, disertai lendir dan
darah, mual dan muntah
O: Pd pemeriksaan feses ditemukan organisme bentuk
bulat inti 4 dengan pusat inti terletak di sentral,
dengan kromatin merata

Gejala disentri + organisme bentuk bulat berinti 4


dengan pusat inti terletak di sentral, dengan
kromatin merata kemungkinan akibat
Entamoeba histolytica (organisme yang
ditemukan pada stadium kista)

Infeksi yang simtomatik:


Nondisentri: diare, kram perut, flatulens, mual, dan
anoreksia. Diare sering bergantian dengan
konstipasi atau tinja lunak, kadang bersama lender.
Disentri ameba: kram perut, tenesmus, dan kadang
tinja encer, tetapi berlanjut menjadi diare dengan
darah dan lendir. Sebagian pasien dapat mengalami
demam, muntah, nyeri perut, atau dehidrasi.

Amebiasis ekstraintestinal tersering abses


hati ameba Gejala: hepatomegaly, nyeri
hepar, nyeri peruta kanan atas, demam dan
anoreksia. Fungsi hati biasanya normal atau
sedikit abnormal. Abses hati kadang pecah ke
peritoneum, menyebabkan peritonitis

Protozoa pathogen usus

Kista
Trofozoit
Giardia lamblia
Ax: axonem
Fg: flagel
K: kariosom
Kromatin dalam nucleus
terkumpul dalam
kariosom

Dientamoeba fragilis
Hanya ada stadium trofozoit
Seringkali berinti 2
Biasanya non-patogen

Protozoa pathogen usus

Balantidium
coli
maN:
makronukleus
miN:
mikronukleus
CV: vakuol
kontraktil
Biasanya non-

Entamoeba histolytica
Endo: endoplasma
Ecto: ektoplasma
Psd: pseudopodium
Kariosom dikelilingi kromatin perifer
bergranul halus

Protozoa pathogen usus

Blastocystis hominis
Biasanya non-patogen

198. D. Invasi mukosa usus


Darah pada feses adalah tanda
invasi Amoeba
Mekanismenya: trofozoit memasuki
mukosa usus dan membunuh sel-sel
epitel menyebabkan nekrosis atau
ulkus
Amoeba yang masuk memakan selsel inang seringkali ditemukan
trofozoit dengan eritrosit di
dalamnya pada feses yang berdarah

Enteropatogen Invasif
1.C.jejuni
2.EIEC (Enteroinvasive E.Coli)
3.Shigella sp.
4.Y.enterocolica
5.E.histolytica
6.Salmonella sp.

SMART SOLUTION: CES-YES

199. A. Primakuin
Primakuin digunakan untuk
membunuh P. vivax dan P. ovale
bentuk jaringan laten yang bertahan
untuk menyebabkan relaps infeksi.
Terapi malaria vivax/ovale
Lini ke-1: klorokuin + primakuin
Lini ke-2: kina + primakuin

200. E. Doksisiklin
Keywords: pasien menderita HT dan gangguan bipolar
Rekomendasi untuk profilaksis:
Doksisiklin 1x100 mg sejak 1 minggu sebelum masuk sampai 1
bulan setelah kembali
Kontraindikasi: ibu hamil dan usia < 8 tahun

Mefloquine 250 mg/mgg, 2 mgg sblm1 bln stlh


KI: gangguan jiwa, epilepsi

Atovaquone/proguanil 1x1 tab, 1 hr sblm1 mgg stlh


KI: ibu hamil, menyusui bayi <5 kg, gagal ginjal berat

Di antara pilihan jawaban: doksisiklin yang


direkomendasikan untuk profilaksis dan tidak mempunyai
kontraindikasi bagi pasien