Anda di halaman 1dari 14

Aldina rani lestari 21579

Atik muttaqin 21355


KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

NEGARA, PEMBANGUNAN DAN KOMUNIKASI


Silvio Waisbord
-Rutgers University-

Banyak yang setuju mengenai kenyataan bahwa Negara adalah sebuah unit politik
dengan kekuatan membuat peraturan yang berlaku pada batas-batas geografis tertentu.
Negara berperan sebagai agen dari perubahan sosial ekonomi pada Dunia Ketiga. Dengan
pengaruh kekuasaan dari prinsip-prinsip free-market, ide bahwa Negara harus memiliki
fungsi penting dalam pembangunan menjadi banyak kehilangan kejayaan. Mengingat, selama
sesudah perang, program Keynesian dan Sosialist melihat pembangunan Negara sebagai
solusi tebaik untuk mengangkat Negara Dunia Ketiga keluar dari ketidakberkembangan.
Kohli dan Shue’s (1994) menyimpulkan bahwa Negara dunia ketiga memiliki dominasi
dalam mengontrol sumber daya dan memutuskan meskipun secara tidak begitu efektif dalam
mempromosikan perubahan yang merepresentasikan sebuah pembagian antara memimpin
institusi, pembuat kebijakan dan akademis. Banyak teori dan program pembangunan akhir-
akhir ini telah bergerak maju dengan tujuan orang-orang desa yang meletakkan organisasi
nonpemerintah dan asosiasi warga sebagai pusat dari inisiatif.
Artikulasi dari Negara dan komunikasi terlihat dari literatur yang membaginya
kedalam tiga sentral fungsi yakni, pengakuan kedaulatan, pembuatan peraturan dan
kewarganegaraan. Tidak ada teori besar dalam ranah komunikasi dan pembangunan, akan
tetapi telah menempatkan Negara sebagai pusat analisis. Meskipun peran dari Negara telah
berkurang di dalam pembelajaran dan inisiatif pembangunan, Negara menyisakan
kepentingan baik dalam relevansi analisis maupun program. Menurut analisa, Negara tetap
mampu mendesak dampak dari isu komunikasi meskipun ada pengaruh dari globalisasi.
Posisi Negara dalam dinamika globalisasi membutuhkan reevaluasi melalui pertimbangan
kekuatan dan kelemahan Negara saat ini. Pemerintah dan agen nonpemerintah harus berpikir
secara global dan tetap mempromosikan untuk berlaku secara lokal, diantara keduanya,
Negara menjadi bagian penting dalam desain dan aplikasi program pembangunan

1
Modernisasi dan Negara
Negara selalu menjadi pusat studi politik dan sosiologi dari pembangunan. Setelah
perang, sarjana barat tertipu oleh turbulensi politik dari Negara non barat dan melihat
penyebab serta prospek. Pemeliharaan kondisi politik di dunia ketiga menjadi topik yang
sesuai dengan ilmu politik dan sosiologi. Studi politik memerlukan pemahaman mengenai
karakteristik Negara dan prospek dari formasi Negara di semua wilayah Negara. Ini sangat
mengemuka pada agenda perang dingin dari pembuat kebijakan (Barat) dan secara jelas
mempengaruhi agenda penelitian dalam studi ilmu sosial. Kenaikan kaum elite pasca kolonia
dunia ketiga dipadukan dengan kepopuleran Negara sebagai pusat model pembangunan juga
membuktikan mengapa Negara menduduki posisi pusat baik dlam akademis maupun analisis
politik.
Komuniksi bukan sesuatu yang berdiri sendiri terpisah dari ilmu politik dan sosiologi.
Ilmu komunikasi menunggangi ilmu politik dan sosiologi. Pun demikian dengan studi
komuikasi pembangunan. Sarjana generasi pertama dari komunikasi pembangunan adalah
Daniel Lerner dan Wibur Schramm berbicara mengenai premis paradigma modernisasi
dengan ilmu politik dan sosiologi dari pembangunan.
Modernisasi lahir sekitar tahun 1950-an, yang ditandai beberapa momentum penting,
yaitu : Pertama, terjadinya revolusi intelektual di setiap Negara untuk melakukan respon
terhadap perang dunia II, banyak pihak yang meyakini teori ini enjadi pintu perubahan.
Kedua, terjadinya perang dingin antara Negara komunis di bawah pimpinan Negara sosialis
Uni Soviet yang berideologi sosialis dan Amerika Serikat yang berideologi Kapitalis.
Akibatnya, Negara-negara saat itu terpolarisasi ke dalam bentuk Negara maju-negara
nelakang, Negara kaya-negara miskin, Negara sosialis-negara kapitalis, dan lain-lain, yang
berkembang saat itu seiring perubahan dan kemajuan masyarakat bangsa. Singkatnya,
menurut teori Modernisasi, Negara yang belum maju atau masih tradisional, belum bisa lepas
dari nilai-nilai keteradisionalnya yang belum modern sehingga tidak dapat menompang
pembangunan bangsanya dan negaranya. Semula teori ini hanya sebuah gagasan perubahan
sosial, namun lambat laun menjadi ideology baru Negara-negara berkembang/yang beru
merdeka.
Teori Modernisasi berasal dari dua teori dasar yaitu teori pendekatan psikologis dan
teori pendekatan budaya. Teori pendekatan psikologis menekankan bahwa pembangunan
ekonomi yang gagal pada negara berkembang disebabkan oleh mentalitas masyarakatnya.
Menurut teori ini, keberhasilan pambangunan mensyaratkan adanya perubahan sikap mental
penduduk negara berkembang. Sedangkan teori pendekatan kebudayaan lebih melihat

2
kegagalan pembangunan pada negara berkembang disebabkan oleh ketidaksiapan tata nilai
yang ada dalam masyarakatnya. Secara garis besar teori modernisasi merupakan perpaduan
antara sosiologi, psikologi dan ekonomi.
Daniel Lerner dalam “The Passing of Traditional Society: Modernizing the Middle
East” menyatakan bahwa modernisasi merupakan suatu trend unilateral yang sekuler dalam
mengarahkan cara-cara hidup dari tradisional menjadi partisipan. Marion Ievy dalam
“Modernization and the Structure of Societies” juga menyatakan bahwa modernisasi adalah
adanya penggunaan ukuran rasio sumberdaya kekuasaan, jika makin tinggi rasio tersebut,
maka modernisasi akan semakin mungkin terjadi.
Lerner menemukan bahwa media massa merupakan agen modernisasi yang ampuh
untuk menyebarkan informasi dan pengaruh kepada individu-individu dalam menciptakan
iklim modernisasi. Sedangkan Schraam memandang pentingnya peran media massa untuk
pembangunan nasional karena mempertimbangkan beragam fungsi media massa dalam
pembangunan nasional untuk pengembangan sumberdaya manusia yakni sebagai pendidik,
pengawas dan pengambilan keputusan. Ketiga fungsi tersebut dijalankan media massa
melalui transmisi informasi dari media massa kepada khalayak. Peran komunikasi
interpersonal dan kelompok diakui penting oleh Schramm untuk memperkuat transmisi
informasi yang bersifat persuasif, tetapi tidak berperan sentral dalam pembangunan nasional.
Pentingnya umpan balik dalam perancangan komunikasi strategik ini, menempatkan prosedur
penelitian formatif yakni survey khalayak, focused group discussion dan pretesting pesan
dalam menjalankan komunikasi pembangunan. Teori ini melihat bahwa proses komunikasi
pembangunan harus dilihat sebagai proses yang bertahap yang memerlukan pesan-pesan dan
pendekatan yang berbeda pada setiap tahap proses perubahan perilaku.
Pendekatan pemberdayaan banyak digunakan dalam pengorganisasian komunitas,
pendidikan dan psikologi komunitas. Pemberdayaan dapat diartikan dalam banyak hal dan
dapat diamati pada berbagai level yakni individual, organisasi dan komunitas. Di tingkat
komunitas, pemberdayaan berarti proses peningkatan kontrol kelompok-kelompok terhadap
konsekuensi-konsekuensi yang penting bagi anggota kelompok dan orang lain dalam
komunitas yang lebih luas (Fawcett dkk, 1984) seperti dikutip Melkote (2002). Sedangkan di
tingkat individu, Rappaport (1987) seperti dikutip Melkote (2002) mendefinisikan
pemberdayaan sebagai ” perasaan psikologis berkenaan dengan pengendalian atau pengaruh
pribadi dan kepedulian terhadap pengaruh sosial yang aktual, kekuasaan politis, hukum
legal ... ”. Namun demikian, kebanyakan pemberdayaan baru dilakukan di tingkat individu
belum ditingkatkan di tingkat komunitas.

3
Komunikasi pembangunan menjembatani teori dan praktis mempunyai
kecenderungan menggabungkan berbagai pendekatan dengan orientasi terapan. Rogers
merespon kritik-kritik terhadap teori adopsi inovasi yang dikembangkannya dengan
menyajikan pemikirannya dalam berbagai buku barunya dengan melihat proses komunikasi
lebih konvergen dengan mengajukan konsep jaringan komunikasi (Rogers, 1985) dan
mengembangkan konsep-konsep pembangunan yang lebih kritis dengan memasukkan issue
partisipasi dan keberlanjutan. Konsep pemberdayaan direspon oleh Figuera dkk (2002)
dengan menggunakan tradisi cybernetic (pendekatan sistem) dengan melihat input yang
disebutnya sebagai katalis. Dalam pendekatan pemerintah atau media massa bukanlah katalis
dominan dalam perubahan sosial, tetapi terdapat katalis lainnya seperti stimuli internal
komunitas, dan inovasi. Proses komunikasi digambarkan sebagai proses dialog di dalam
komunitas yang menghasilkan tindakan kolektif dan mengembangkan indikator-indikator
perubahan perilaku sebagai efek komunikasi pembangunan yang diukur tidak hanya di level
individu ( perubahan sikap, pengetahuan, citra diri dan lain-lain), tetapi juga di level sosial
(kepemimpinan, norma sosial dan kohesi sosial dan lain-lain). Kontribusi terpenting dari Mc
Kee yakni menekankan pentingnya mobilisasi sosial tidak hanya di tingkat komunitas tetapi
juga stakeholder lainnya seperti perusahaan-perusahaan swasta, pemerintah, dan politisi
untuk merubah kebijakan melalui komunikasi advokasi.
Kritik terhadap teori modernisasi lahir seiring dengan kegagalan pembangunan di
negara dunia ketiga dan berkembang menjadi sebuah teori baru yaitu teori dependensi. Frank
(1984) mencoba mengembangkan teori dependensi dan mengemukakan pendapat bahwa
keterbelakangan pada negara dunia ketiga justru disebabkan oleh kontak dengan negara maju.
Teori dependensi menjadi sebuah perlawanan terhadap teori modernisasi yang menyatakan
untuk mencapai tahap kemajuan, sebuah negara berkembang harus meniru teknologi dan
budaya negara maju.

Perspektif Alternatif dan Kritis


Perspektif kritis dari komunikasi pembangunan merujuk pada teori depedensi dan
alternatif. Teori dependensi bertitik tolak dari pemikiran Marx tentang kapitalisme dan
konflik kelas. Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan
bagi masyarakat namun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan kapitalisme
adalah penguasaan akses terhadap sumberdaya dan faktor produksi menyebabkan eksploitas
terhadap kaum buruh yang tidak memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui
proses kesadaran kelas dan perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk

4
menuju tatanan masyarakat tanpa kelas.
Paradigma alternatif bertujuan untuk pendekatan bawah-atas yang memberikan
tekanan pada pembangunan dari kesadaran kritis dan mobilitas kolektif pada level lokal.
Paulo Freire adalah salah satu yang berpengaruh. Berdasarkan dari penelitiannya di Brazil
tahun1960’an, Freire menantang konsep dominan dari komunikasi pembangunan, terutama
yang berlaku untuk pelatihan literasi. Dia berpendapat bahwa program pembangunan telah
gagal mendidik petani kecil karena mereka lebih tertarik untuk mengajak mereka pada
keuntungan mengadaptasi inovasi saja. Program pembangunan mencoba untuk memasukkan
konsep asing dalam rangka pemenuhan informasi, untuk menekan polulasi lokal dalam
menerima ide Barat dan berlatih tanpa bertanya bagaimana latihan tetap mempertahankan
budaya. Freire menawarkan konsep kebebasan dalam memperoleh edukasi dan mengandung
komunikasi seperti dialog dan partisipasi. Kebebasan berdialog yang memprioritaskan,
identitas budaya, kepercayaan dan komitmen. Freire menyebutnya sebagai “dialogical
pendagogy”, keadilan distribusi dan partisipasi aktif masyarakat desa sebagai prinsip pusat.
Komunikasi harus menyediakan rasa memiliki melalui kegiatan berbagi pengalaman.
Pada kenyataanya, pergerakan radikal tahun 1960’an – 1970’an memberikan
dorongan untuk berpikir lebih dan beraksi secara strategik yang kemudian dikenal dengan
paradigma alternatif. Paradigma alternatif meletakkan tekanan pada politik dan budaya
(ketimbang ekonomi), inisiatif pembangunan dari bawah ke atas (ketimbang dari atas ke
bawah), dan bermacam strategi yang membutuhkan banyak pelaku sosial yang dilatih untuk
memperbaiki ketidaksamarataan.
Dependensi fokus pada Negara sebagai penjamin relasi kapitalis dari pembangunan
dan menjadi mesin dari pembangunan di dunia ketiga. Alternatif menggeser perhatiannya
pada masyarakat desa, dan isu komunitas.
Ada ironi yang mengemuka dalam progress teori komunikasi pembangunan, Teori
modernisasi, terus berjalan untuk tujuan merata dari hubungan internasional dan memberikan
sedikit perhatian untuk Negara. Teori kritis, yang mengadaptasi konsep globalisasi,
memperlihatan ketertarikan terhadap Negara.

Negara dalam Komunikasi Pembangunan


Negara nampak dalam studi yang menguji proses komunikasi/media dalam relasinya dengan
tiga isu utama yakni Pengakuan Kedaulatan, Pembuatan Peraturan dan Kewarganegaraan

Pengakuan Kedaulatan

5
Pengakuan kedaulatan merupakan konsep yang ambigu. Ada dua dimensi, yakni
ekternal dan internal. Eksternal, negara adalah pusat dari kancah global. Internal, negara
adalah pamglima tertinggi, otoritas yang tak terbantahkan dalam pemberian yuridiksi.
Kedaulatan tertinggi biasanya berasosiasi dengan fisik, dimensi ruang, dan juga ruang yang
tidak dapat diraba dari proses komunikasi yang ditegaskan oleh pemerintah. Komunikasi
pembangunan atau komunikasi pemerintah yang merujuk pada klaim status otoritas atas ide,
informasi dan budaya berada dalam wilayah kekuasaan atau teritorialnya. Di sini negara
diberi misi untuk memonitor dan menjamin komunikasi pemerintah. Kemampuan negera
untuk menggunakan otritasnya berdasarkan pada hak warga negara untuk menetukan
kehidupannya sendiri. Idealnya, negara mendapatkan otoritas melalui berbagai macam cara,
sistem control media, sensor, pembatasan kepentingan asing, uu mengenai persoalan bahasa
dan agama atau kepercayaan, intelejen domestic, propaganda, dan kebudayaan nasional.
Keberhasilan suatu negara diukur dari tingkat keefektifan dalam menjaga kedaulatan
negara yang bersangkutan, akan tetapi, tidak harus dirancukan dengan klaim negara bagian
yang menggunakan kedaulatannya atau otonominya. Kedaulatan mengasumsikan bahwa
negara atau organisasi lainnya tidak meruntuhkan kemampuan negara untuk membuat
keputusan atau kebijakan mengenai urusan politik, ekonomi, militer, dan komunikasi. Di
lapangan. Hal ini bagaimanapun juga menunjukkan bahwa campur tangan negara telah
melampaui definisi hukum tetang kedaulatan itu sendiri. Banyak negara menurut sejarah,
dihubungkan melalui banyak cara dalam membuat prinsip kedaulatan daripada realitas yang
sebenarnya.
Banyak diskusi tentang globalisasi yang fokus pada ide pembangunan dewasa ini,
yang mempunyai kontribusi pada pengikisan kedaulatan negara (camilleri dan falk, 1992).
Terpuruknya ekonomi nasional dalam ekspansi capital global dan prinsip pasar bebas,
penaklukan kekuatan militer pada desain global, runtuhnya batas informasi oleh beberapa ahli
dianggap sebagai tanda-tanda pudarnya konsep negara bangsa (ohmae, 1995). Teori
dependensi atau teori ketergantungan beragumen bahwa ada gap antara konsepsi kedaulatan
secara ideal dengan kenyataan yang ada. Negara dianggap menutup informasi dan
komunikasi. Ceeshamelink (1993) menulis focus integritas kedaulatan nasional suatu negara
muncul secara agresif dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi barat dan
produk kebudayaan sejak 1950-an dan mengalami percepatan pada tahun 1960-an. Banyak
argument berkembang bahwa persebaran informasi berkorelasi dengan media politik laissez
faire yang dikompromikan dengan informasi kedaulatan.
Ideology informasi yang bebas diperjuangkan oleh pemerintahan amerika untuk

6
membangkitkan informasi kedaulatan ke seluruh dunia. Dinamika yang timbul justru terjadi
di dunia ketiga. Penyebaran informasi dari barat berkembang di negara ketiga ini dalam
bentuk periklanan, hiburan, dan berita yang menunjukkan bahwa kedaulatan merupakan hal
yang bisa terwujud. Gagasan imperialisme media dan budaya serta sinkronisasi budaya yang
dideskripsikan sebagai informasi kedaulatan,sepenuhnya dikuasai oleh komunikasi dan media
barat. Hal ini tidak hanya menunjukkan masalah pengaruh barat terhadap kebudayaan lain,
tetapi lebih kepada pengaruh nilai-nilai tersebut kepada komunitas yang lain (schiller, 1976).
Hal ini tentu saja menunjukkan dominasi korporasi transnasional yang melampaui batas
komunikasi kedaulatan nasional.
Perkembanagn teknologi satelit yang dipromosikan usa melalui kebijakan ''langit
terbuka'' (open skies) memberi prospek yang rumit untuk informasi kedaulatan (Hudson,
1990). Bangsa barat selalu ingin mengontrol teknologi satelit di negara lain yang justru
kontradiksi dengan prinsip hak kedaulatan suatu negara. Pada tahun 1970-an situasi ini
menyebabkan negara dunia ketiga merasa khawatir terhadap control asing yang mengawasi
sumber ekonomi yang vital dan keamanan rahasia negara. Akhirnya banyak negara di bawah
rezim militer memaksa diri untuk mengembangkan teknologi satelit. Tujuan mereka tidak
hanya untuk kepentingan militer tetapi juga untuk pendidikan dan pembangunan negara
bangsa. Pada tataran ini, teknologi satelit dilihat sebagai instrumen yang bermanfaat bagi
integrasi nasional dan geografis serta untuk kepentingan propaganda. (Mody, 1987). Pada
tahun 1980-an kalangan sipil menggunakan satelit dimana di tahun-tahun ini, teknologi satelit
berkontribusi untuk komersialisasi global melalui siaran radio atau televisi dan
mengembangkan penetrasi ide-ide barat ke dalam komunikasi pembangunan di negara ketiga.
Teori imperialisme budaya menyatakan bahwa relasi dominasi global meniadakan
kemungkinan adanya kemampuan kemunikasi pembangunan di negara-negara selatan karena
kekuatan barat telah memotong kemampuan negara dunia ketiga untuk menggunakan
kedaulatannya. Teori ini mempunyai kelemahan yaitu asumsi model statisnya yang
mengabaikan perubahan bentuk budaya yang ada. Tidaklah mudah untuk meminimalisir
pengaruh media barat dalam ruang komunikasi pembangunan dan menghilangkan
ketidaksamaan hubungan dalam jalur informasi dan budaya antara arus utama dan pinggiran.
Selama otoritas rezim masih mengontrol aliran informasi dan batas budaya yang ada, maka
saat itulah komunikasi pembangunan harus digunakan.

Pembuatan kebijakan

7
Kajian komunikasi pembangunan selalu memberikan penekanan pada negara sebagai
pembuat kebijakan. Pembuatan kebijakan di sini merujuk pada sistem pemerintahan di mana
hukum dan institusi ditegakkan oleh para political order. Studi tentang undang-undang media
di bawah rezim politik yang berbeda-beda, pengaruh kelompok public dan swasta pada
media, dan kebijakan informasi merupakan dimensi yang dikontrol oleh negara. Salah satu
isu yang menjadi perdebatan di sini adalah peran negara sebagai aktor sekaligus sebagai
arena bagi pembuatan kebijakan media. Dalam konteks globalisasi, apakah negara cukup
mempunyai kekuatan atau justru lemah sebagai pembuat kebijakan?
Teori dependensi atau teori ketergantungan mengatakan bahwa dinamika media
global memberikan pengaruh dalam mengikis kapasitas negara dalam membuat kebijakan.
Salah satu hal yang menyebabkannya adalah tradisi imperialisme media yang dihembuskan
oleh barat yang sukses disebarkan ke seluruh dunia dengan melakukan ekpansi global. (boyd
barret, 1982). Hukum perundang-undangan di seluruh dunia juga ternyata mencerminkan
pengaruh barat yang menonjol. Perundang-undangan domestic suatu negara juga menyokong
kepentingan kapitalis asing dan hal ini membuat semacam hubungan ketergantungan antara
negara yang bersangkutan dengan pihak kapitalis asing (sussman, dan lent, 1991). Badan
hukum yang mengontrol informasi akhirnya mengurangi kapasitas pemerintah dalam
membuat keputusan.
Studi globalisasi lebih lanjut membahas dinamika global yang sama sekali
mengesampingkan kebijakan domestik suatu negara. Pada tataran ini negara tidak dapat
membuat kebijakan jika tetap menjaga jarak dengan dunia global. Di tahun 1980-an
pergeseran dari kebijakan pemerintah yang bersifat melindungi negara dari pengaruh global
kepada kebijakan laissez-faire dan kebijakan pasar yang paten di mana kebijakan ini
merefleksikan kelemahan negara sebagai pembuat kebijakan. Globalisasi pada akhirnya
mengurangi kekuatan negara, dan mereduksinya kedalam instrumen kebijakan yang
mendukung kepentingan capital global dan pemerintahan usa. Hukum media di seluruh dunia
secara meningkat merefleksikan dinamika capital global dan mengurangi otonomi negara, di
mana pemerintah yang ada malah mengadopsi kebijakan pasar di dunia penyiaran dan
telokomunikasi global. Sebagai konsekuensinya, media domestic mendapat tekanan media
global dan negara justru memainkan peranan yang lebih berpihak pada kepentingan swasta.
Pandangan alternatif lain melihat bahwa negara tidak bisa diabaikan peranannya
sebagai institusi pembuat kebijakan dalam isu-isu komunikasi. Pandangan ini muncul pada
studi media belakangan ini yang terkait dengan kebijakan media yang berimplikasi pada
negara sebagai sebuah pusat kekuasaan (garnham, 1986). Globalisasi merupakan sebuah

8
tantangan bukan sesuatu yang harus dilenyapkan atau dihapuskan oleh negara (lihat morris
waisbord, 2001). Kita harus melihat resioko dari globalisasi tersebut.
Thomas Jacobson menulis ‘’kekuatan negara menjadi penting untuk bernegosiasi
dalam persetujuan perdagangan internasional, untuk menentukan prioritas ekonomi nasional,
untuk menggunakan kekuatan atau sumber daya yang ada demi kepentingan sendiri, dan
pengaruh kekuatan negara pada kemungkinan-kemungkinan setempat.’’ perspektif ini
menawarkan pandangan kepada kita untuk menempatkan negara pada barisan depan dalam
analisis pada saat mengakui adanya relevansi dari dinamika global yang ada.
Negara merupakan aktor pemersatu sekaligus seperti tentara yang patuh pada
kepentingan kapital dari media global. Sebaliknya, aliran tradisional marxist berpendapat
bahwa tanggung jawab negara mendasari analisis teori ketergantungan, sedangkan perspektif
neoinstitutional memandang negara sebagai arena di mana berbagai kelompok kepentingan
yang berbeda berlomba-lomba untuk menentukan kebijakan yang dibuat. Negara terdiri dari
dari satu set institusi yang kompleks yang dilintasi oleh berbagai kontradiksi dan ketegangan
di dalamnya (srvaes, 1999). Jika negara tidak mempunyai jalan pemikiran atau logika tunggal
yang menjadi pedoman, maka negara bisa ditekan oleh berbagai kelompok kepentingan,
seperti kelompok agama, kalangan akademik, kalangan bisnis dan lain sebagainya dalam
membuat suatu kebijakan.
Banyak negara membuat kebijakan untuk menghentikan aliran produk media barat
guna melindungi negara dari pengaruh barat. Politik ’’pertahanan budaya’’ di negara-negara
yang bermacam-macam atau multikultural seperti brazil, canada, perancis, iran dan korea
menunjukkan bahwa tidak semua negara didesak untuk bersekutu dengan dirinya sendiri dan
sekaligus dengan aktor global (grantham, 2000; mohammadi, 1997). Namun, kebijakan yang
melindungi negara dari pengaruh barat tersebut justru jatuh kepada kegagalan dalam
membuat media asli yang bebas dari pengaruh asing. Pembajakan, gelombang televisi satelit,
internet dan perkembangan lainnya, justru membawa content media global yang melewati
batas-batas kebijakan suatu negara.
Kekuatan global, pada dasarnya bukanlah ancaman terhadap demokrasi informasi di
negara yang sedang berkembang. Privatisasi dan monopoli media, birokrasi negara serta
informasi yang disebut sebagai rahasia negara merupakan hal yang mengancam akses bagi
publik akan informasi yang seharusnya diketahui (sreberny- mohammadi, 1984) yang justru
mengancam demokrasi informasi. Politik ekonomi menggeneralisir bahwa konglomeralisasi
merupakan musuh bagi demokrasi informasi di seluruh dunia. Argumen ini juga memberikan
pemahaman yang berlaku di negara dunia ketiga.

9
Bukanlah hal yang mudah untuk memperdebatkan antara kekuatan perdagangan
global dengan usaha membangun demokrasi. Hal ini disebabkan oleh dua dua kemungkinan.
Pertama, dengan meniadakan fakta terutama di negara yang kecil dengan kondisi pasar media
yang miskin, negara memiliki kekuatan yang lebih besar daripada pasar (lihat Reevers, 1993).
Di negara afrika pasca kolonial dan di asia misalnya, atas nama kesatuan nasional sering
mematikan organisasi media yang kritis terhadap negara (Barnett, 1997). Selain itu amerika
latin juga memiliki sejarah panjang dengan rezim militer yang mengontrol media dan
menyensor berbagai perbedaan pendapat yang berkembang. Globalisasi tidak selalu memiliki
dampak negatif, tetapi globalisasi memberikan kontribusi yang cukup potensial pada
pembongkaran kasus-kasus penekanan yang dilakukan oleh struktur negara (lihat Ronning
and Kupe, 2000; Sreberny-Mohammadi, 2000).
Kedua, ekonomi politik tidak menawarkan alat analisis yang cukup sensitif pada
perubahan politik di masyarakat kapitalis. Karena mereka berasumsi bahwa setiap perubahan
dalam kapitalisme selalu meninggalkan struktur korporasi yang tidak tersentuh, mereka
menyimpulkan bahwa demokrasi liberal membuat adanya perbedaan kecil dalam
memperbaiki informasi yang tidak sama dan seimbang. Pada tataran ini perlu ada
pertimbangan mengenai konsekuensi dari kebijakan media yang ada dibawah pengaruh
perbedaan rezim politik yang berlaku.
Dalam hal ini kiranya kita juga perlu mempertimbangkan perubahan sosial yang
memberi harapan untuk demokratisasi media di beberapa negara di dunia. Kekuatan
perubahan masyarakat selama masa transisi di asia, eropa timur, dan amerika latin misalnya,
yang direfleksikan dalam tulisan yang penuh optimis tentang alternatif media. Di beberapa
negara penghilangan mekanisme sensor, undang-undang yang membebaskan dan melindungi
jurnalis, transparansi media, legalisasi radio komunitas dan lain sebagainya, mengindikasikan
kemungkinan bahwa tidak semua perubahan masyarakat dapat mengalahkan demokrasi di
tengah-tengah globalisasi.
Karena negara memiliki peran yang cukup penting sebagai pembuat kebijakan di era
global ini, negara dapat menjalankan kebijakan yang memperbaiki ketidakseimbangan akses
informasi, atau sebaliknya, lebih memihak pada kepentingan negara saja. Globalisasi
mematahkan model negara sebagai pemilik media sekaligus sebagai operator, tetapi hal ini
tidak berimplikasi pada hilangnya peran negara sebagai pembuat kebijakan. Tidak semua
negara memiliki reaksi yang serupa pada tekanan globalisasi. Globalisasi men-set konteks
struktur yang ada, tetapi negara membuat pilihan berdasar pada resolusi konflik internal dan
himpitan aktor-aktor domestik yang saling berbeda (horwitz, 2001).

10
Akhirnya politik lokal dan negara juga menentukan sifat globalisasi di suatu negara
yang bersangkutan (hirst dan thompson, 1996; palan, 1999). Kebijakan global sebenarnya
membutuhkan negara yang memiliki kekuatan yang besar sebagai pembuat kebijakan yang
tidak hanya mengadopsi perundang-undangan industri media global tetapi secara efektif
mengatur regulasi pasar media. Negara mempunyai peran utama dalam restrukturisasi pasar
komunikasi di seluruh dunia. Bagaimanapun juga negara tetap memiliki otoritas politik dan
kekuatan untuk memutuskan struktur informasi dan pasar media yang ada.

Warga negara
Studi komunikasi dan pembangunan juga membahas negara sebagai sebuah ruang
bagi warga negaranya. Beberapa teori menempatkan warga negara sebagai fokus bahasan
dalam komunikasi pembangunan. Bagi mereka pembangunan dipahami secara fundamental
sebagai partisipasi dan komunikasi sebagai aktifitas untuk mencapai tujuan. Lebih lanjut,
pembangunan yang terdiri dari transformasi informasi sebagaimana ditawarkan oleh sarjana-
sarjana modern melihat bahwa pembangunan membutuhkan komunitas partisipan untuk
mengembangkan kualitas hidup mereka.
Partisipasi merupakan konsep yang cukup membingungkan, sebagaimana ditulis oleh
pengarangnya(narula dan peace, 1986; servaes, jacobson dan white, 1996). Terdapat
persamaan teori partisipasi meskipun partisipasi di sini diartikan sebagai hal yang sama
dengan pembangunan. Pada perspektif ini, pembangunan dianggap memerlukan inisiatif
untuk berjuang memperoleh kepercayaan diri dan menejemen diri untuk mengontrol
keputusan yang mempengaruhi hidup mereka. Pada tataran ini, komunikasi diperlukan guna
membentuk pengertian melalui dialog antar warga negara ke arah pembangunan.
Berdasarkan premis teoritik, pendekatan partisipatori menawarkan perspektif kritis
atas negara. Negara dilihat sebagai entitas yang mengambil jarak, sebuah institusi yang
didominasi oleh kaum elit di tempat yang terisolasi dari masyarakat, negara dianggap sebagai
perwujudan dari pusat kuasa. Dengan kata lain, negara merupakan antitesis pembangunan.
Negara merepresentasikan hubungan komunikasi yang bersifat top-down (dari atas ke bawah)
dari pada komunikasi yang bersifat dari bawah ke atas. Negara merepresentasikan hirarki
politik dan berbagai hambatan bagi pembangunan. Teori partisipasi, memandang bahwa
negara memiliki sejarah yang panjang mengenai ketakutannya pada partisipasi politik dari
warga negaranya dan berusaha untuk memanipulasi warga negara melalui insitusi kontrol
negara. Pada akhirnya program pembangunan yang terpusat pada negara mengalami
kegagalan dalam memajukan pembangunan yang berkelanjutan.

11
Perspektif anti-statis juga menemukan dalam pendekatan partisipatori yang
menunjukkan bahwa banyak negara di dunia ketiga menganut paham otoritarian. Perjuangan
untuk demokrasi pada tahun 1980-an dan 1990-an membuktikan pandangan di atas. Teori
partisipatori dalam hal ini, menitikberatkan pada pusat partisipasi populer dan kebutuhan
akan pengalaman lokal yang sensitif (servaes, 1999). Belakangan ini, partisipasi yang
sesungguhnya diartikan sebagai mekanisme eksistensi pemerintahan dan pemerdayaan
warganegara.
Pendekatan partisiatori, menawarkan sebuah pandangan komunikasi yang tidak
terpusat. Kontras dengan proyek negara yang memobilisasi warga negara di negara
berkembang pada tahun 1950-an, ditawarkanlah konsep desentralisasi, pemberdayaan akar
rumput sebagai alternatif partisipasi. Oleh karena itu, media rakyat diarahkan pada integrasi
negara bangsa dan media komunitas ditawarkan sebagai contoh dari desentralisasi
warganegara. Video komunitas, radio komunitas, merupakan contoh yang menggambarkan
model kerakyatan. Berlawanan dengan partisipasi model patrilineal, banyak proyek yang
menawarkan ruang untuk mengekspresikan opini dan pengalaman menjadikan warga negara
merasa benar-benar terlibat dalam setiap urusan komunitas. Warga negara dipahami sebagai
tempat berbagi informasi antar anggota komunitas.
Teori partisipatori mengkritisi tingkatan negara yang didasarkan pada pendekatan
warga negara yang menawarkan partisipasi yang tidak sama dan tidak mencukupi.
Lingkungan, hak asasi manusia, isu-isu perempuan, konflik dan lain sebagainya merupakan
contoh fenomena global yang melewati batas negara dan membutuhkan partisipasi global,
justru kurang mendapatkan perhatian dari negara. Perubahan sosial dan global dari
masyarakat merubah konsep tradisional atas warga negara di dalam negara- bangsa( cohen
dan rai, 2000). Konsep negara bangsa dianggap terlalu besar untuk menyelesaikan masalah
pada tataran komunitas, dan terlalu kecil untuk menghadapi isu-isu global. Konsep
nasionalisasi warga negara akhirnya tidak cukup untuk menjelaskan fenomena di atas, hal ini
dikarenakan ada kaitannya dengan konteks waktu di mana negara bangsa menjadi unit sentral
dalam sistem dunia. Di sini, negara masih terus memonopoli hak-hak warga negara,
sekalipun kesepakatan internasional memberikan hak kepada setiap individu sebagai anggota
dalam komunitas global.

Kesimpulan

12
Bagian ini menjelaskan bagaimana literatur dalam komunikasi pembangunan
berkaitan dengan negara dalam melihat isu-isu kedaulatan, pembuatan kebijakan, dan warga
negara. Menekankan pada negara yang mengalami fluktuasi tergantung pada perubahan
komunikasi dan pembangunan secara luas, dan tergantung juga pada agenda organisasi
pembangunan internasional. Hal ini tidak mengejutkan, mengingat studi globalisasi juga
menekankan dinamika transnasional, yang memiliki relevansi dengan negara. Hal ini
mempunyai dua alasan, pertama alasan konseptual, di mana teori globalisasi secara eksplisit
mengkritisi dan menolak konsep negara sebagai pusat di dalam basis untuk memahami
dinamika masa kini yang melewati batas negara bangsa. Jika kita fokus pada negara, kita
akan kehilangan perspektif dinamika global. Alasan kedua adalah alasan yang empirik, di
mana negara bagi mereka adalah sesuatu yang ketinggalan zaman, hampir mati, dan
merupakan peninggalan zaman modern. Arjun appadurai’s (1996) mengemukakan pendapat
bahwa:
’’ .....Negara bangsa sebagai unit dalam sistem interaksi yang kompleks, tidak mungkin
menjadi wasit dalam waktu yang lama dalam hubungan antara globalisasi dan
moderniasi.’’(halaman 19).
Dengan menyerahkan ekonomi, politik, dan budaya pada pasar, negara telah
melepaskan peran pentingnya. Negara bagaimanapun lebih dari sekedar institusi yang secara
efektif memonopoli alat-alat legitimasi maupun alat-alat kekerasan. Dengan meningkatnya
neoliberalisme, privatisasi politik, liberalisasi, dan deregulasi media lebih menitiberatkan
pada kepentingan pasar. Di sisi lain, beberapa negara sibuk berusaha melindungi industri
medianya untuk mematikan ide-ide yang benar-benar merusak kebudayaan nasional, untuk
menekan perbedaan pendapat di kalangan internal, untuk menguasai kontrol kebijakan pasar
media, dan untuk mengontrol opini publik domestik. Di sini globalisasi benar-benar
memperlemah negara dalam kedaulatan kebudayaan, sebagai pembuat kebijakan dan sebagai
wadah bagi warga negaranya. Globalisasi memenuhi ruang budaya yang diklaim negara
sebagai miliknya, mempengaruhi pembuatan kebijakan media, dan membuka ruang bagi
bentuk baru partisipasi warga negara.
Globalisasi dalam suatu negara bisa dianggap sebagi hal yang positif atau negatif.
Pendukung globalisasi dan posmodernis tentu gembira melihat fenomena globalisasi tersebut,
namun sebaliknya nasionalis budaya dan aktifis anti neoliberal meratapi efek dari globalisasi
yang bagi mereka sangat menakutkan. Berbagai kritik ditawarkan, mengapa proyek yang
dipusatkan pada negara mengalami kegagalan, mengapa konsep negara bangsa tidak menjadi
unit sentral dari kajian teori modernisasi. Pada tataran ini, penting untuk memberikan

13
perhatian pada kebutuhan kita untuk menjaga pendekatan yang dapat dipakai untuk melihat
fenomena secara lebih dekat maupun lebih jauh, di mana hal tersebut berdasar pada hubungan
yang mempunyai banyak sisi antara negara dengan globalisasi dalam studi komunikasi dan
pembangunan.
Apa yang negara lakuakan dan apa yang negara tidak bisa lakukan, bagaimana negara
mengartikulasikan dinamika domestik dan global, bagaimana mereka mengkondisikan
globalisasi dan apa yang mereka lakukan guna menjawab tantangan globalisasi, hal ini patut
ditelaah lebih lanjut. Demikian kesimpulan ini hanya menjadi bagian dalam menerjemahkan
studi komunikasi, mencoba membuat generalisasi tentang kekuatan dan kelemahan negara
dalam hal komunikasi dan pembangunan. Studi ke depan tidak hanya membutuhkan
sensitifitas atas perbedaan yang ada tetapi juga karakteristik spesifik di setiap negara yang
berbeda di dunia.

14