Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pola kesehatan tidur-istirahat menggambarkan pola tidur, istirahat, dan
relaksasi yang digambarkan sepanjang 24 jam. persepsi individu, ritual, dan alat
bantu yang digunakan untuk mempermudah dan berpengaruh tidur dan istirahat.
Tidak ada yang tahu persis mengapa kita tidur, tapi itu adalah kenyataan
bahwa kita semua membutuhkan tidur untuk berfungsi secara normal. Tidur
tampaknya memungkinkan waktu tubuh untuk meremajakan dan untuk
menanggapi tekanan hidup sehari-hari. Kurang tidur yang cukup dapat
mempengaruhi kesehatan dan perilaku. Studi telah menghubungkan kurang tidur
dan insomnia mengubah nafsu makan; kelelahan; penurunan kemampuan untuk
melakukan tugas-tugas yang membutuhkan koordinasi tingkat tinggi; peningkatan
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan di rumah, jatuh, dan gangguan emosional;
ketidakstabilan emosional; kesulitan dengan konsentrasi; dan gangguan
penghakiman.
Banyak lansia mengalami masalah yang berkaitan dengan tidur.
Diperkirakan bahwa sebanyak setengah dari semua orang dewasa yang lebih tua
hidup sendirian dan dua pertiga dari orang dewasa yang lebih tua memiliki
gangguan tidur. masalah yang berhubungan dengan tidur dapat menjadi masalah
bagi individu untuk mengalami penuaan dan sering merupakan dasar dari
kunjungan ke dokter dan keluhan kepada perawat. Beberapa masalah ini hasil dari
perubahan yang biasanya terjadi akibat penuaan; beberapa mungkin disebabkan
atau diperburuk oleh masalah kesehatan akut atau kronis. Perawat harus
memahami pola tidur normal dan dapat mengidentifikasi perubahan pola tidur
yang berkaitan dengan usia dan gangguan tidur yang umum untuk menilai,
rencana, dan intervensi tepat dan efektif.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari istirahat dan tidur pada lansia?
2. Apa saja penyebab gangguan istirahat dan tidur pada lansia?
3. Apa saja gejala dari gangguan istirahat dan tidur pada lansia?
4. Apa saja klasifikasi istirahat dan tidur pada lansia?
5. Bagaimana fisiologi tidur normal?
6. Bagaimana hygine sebelum tidur pada lansia?
7. Apa saja tahap istirahat dan tidur pada lansia?
8. Apa saja manifestasi klinis gangguan istirahat dan tidur pada lansia?
9. Bagaimana penatalaksanaan gangguan istirahat dan tidur pada lansia?
10. Bagaimana pencegahan gangguan istirahat dan tidur pada lansia?
11. Bagaimana asuhan keperawatan teori gangguan istirahat dan tidur pada
lansia?
1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Untuk mengetahui pengertian dari istirahat dan tidur pada lansia?


Untuk mengetahui penyebab gangguan istirahat dan tidur pada lansia?
Untuk mengetahui gejala dari gangguan istirahat dan tidur pada lansia?
Untuk mengetahui klasifikasi istirahat dan tidur pada lansia?
Untuk mengetahui fisiologi tidur normal?
Untuk mengetahui hygine sebelum tidur pada lansia?
Untuk mengetahui tahap istirahat dan tidur pada lansia?
Untuk mengetahui manifestasi klinis gangguan istirahat dan tidur pada

lansia?
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan gangguan istirahat dan tidur pada
lansia?
10. Untuk mengetahui pencegahan gangguan istirahat dan tidur pada lansia?
11. Untuk mengetahui asuhan keperawatan teori gangguan istirahat dan tidur
pada lansia?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Gangguan Tidur (Insomnia )adalah kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk
tetap tertidur, atau gangguan tidur yang membuat penderita merasa belum cukup
tidur pada saat terbangun.
2.2 Penyebab
2

Gangguan tidak saja menunjukan indikasi akan adanya kelainan jiwa yang
dini tetapi merupakan keluhan dari hampir 30% penderita yang berobat ke dokter,
disebabkan oleh :
1. Faktor Ekstrinsik (luar) misal: lingkungan yang kurang tenang.
2. Faktor intrinsik, mial bisa organik dan psikogenik.
a. Organik, misal: nyeri, gatal-gatal dan penyakit tertentu yang membuat
gelisah.
b. Psikogenik, misal: depresi, kecemasan dan iritabilitas.
Lansia dengan depresi, stroke, penyakit jantung, penyakit paru,
diabetes, artritis, atau hipertensi sering melaporkan bahwa kualitas
tidurnya buruk dan durasi tidurnya kurang bila dibandingkan dengan
lansia yang sehat. Gangguan tidur dapat meningkatkan biaya penyakit
secara keseluruhan. Gangguan tidur juga dikenal sebagai penyebab
morbiditas yang signifikan. Ada beberapa dampak serius gangguan tidur
pada lansia misalnya mengantuk berlebihan di siang hari, gangguan
atensi dan memori, mood depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik
yang tidak semestinya, dan penurunan kualitas hidup. Angka kematian,
angka sakit jantung dan kanker lebih tinggi pada seseorang yang lama
tidurnya lebih dari 9 jam atau kurang dari 6 jam per hari bila
dibandingkan dengan seseorang yang lama tidurnya antara 7-8 jam per
hari.
Gangguan tidur bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang
memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional,kelainan fisik dan
pemakaian obat-obatan. Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun
usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti
kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan. Kadang seseorang sulit tidur
hanya karena badan dan otaknya tidak lelah. Pola terbangun pada dini hari lebih
sering ditemukan pada usia lanjut.Beberapa orang tertidur secara normal tetapi
terbangun beberapa jam kemudian dan sulit untuk tertidur kembali.Kadang
mereka tidur dalam keadaan gelisah dan merasa belum puas tidur.Terbangun pada
dini hari, pada usia berapapun, merupakan pertanda dari depresi. Orang yang pola

tidurnya terganggu dapat mengalami irama tidur yang terbalik, mereka tertidur
bukan pada waktunya tidur dan bangun pada saatnya tidur.
Tidur dan Penuaan
Efisiensi tidur berkurang karena peningkatan usia, banyak orang dewasa yang
lebih tua mengeluh bahwa mereka tidak merasa segar setelah tidur. Meskipun
peningkatan jumlah waktu yang di habiskan di tempat tidur sama dengan
peningkatan usia, namun jumlah waktu yang digunakan untuk tidur lelap
menurun. rata-rata tidur orang dengan usia 70 tahun hanya 6 jam permalam, yang
merupakan 1,5 jam lebih sedikit dari waktu yang dihabiskan oleh orang dewasa
tidur. penurunan jumlah waktu dan kulitas, serta sifat tidur. orang yang lebih tua
mngalami penurunan kualitas 4 tahap tidur non REM dan REM. perubahan ini
sebagai penyebab penurunan terjadiya tidur dalam pada lansia, sehingga akan
sering mengalami tidur lebih awal namun bangun lebih awal. selain itu, ganggun
tidur lainnya seperti bangun di malam hari lebih sering terjadi pada lansia karena
mudah terganggu dengan rangsangan kebisingan lingkungan.
Selain itu, perilaku di bawah ini juga dapat menyebabkan gangguan tidur pada
beberapa orang:
1. Higienitas tidur yang kurang secara umum (cuci muka, dll)
2. Kekhawatiran tidak dapat tidur
3. Mengkonsumsi caffein secara berlebihan
4. Minum alkohol sebelum tidur
5. Merokok sebelum tidur
6. Tidur siang/sore yang berlebihan
7. Jadwal tidur/bangun yang tidak teratur
2.3 Gejala
Penderita mengalami kesulitan untuk tertidur atau sering terjaga di malam
hari dan sepanjang hari merasakan kelelahan.
Gangguan tidur bisa dialami dengan berbagai cara:
1. sulit untuk tidur
2. tidak ada masalah untuk tidur namun mengalami kesulitan untuk tetap
tidur (sering bangun)
3. bangun terlalu awal
4. Kesulitan tidur hanyalah satu dari beberapa gejala insomnia. Gejala yang
dialami waktu siang hari adalah:
5. Mengantuk
4

6.
7.
8.
9.

Resah
Sulit berkonsentrasi
Sulit mengingat
Gampang tersinggung

Berdasarkan dugaan etiologinya, gangguan tidur dibagi menjadi empat


kelompok yaitu, gangguan tidur primer, gangguan tidur akibat gangguan mental
lain, gangguan tidur akibat kondisi medik umum, dan gangguan tidur yang
diinduksi oleh zat. Gangguan tidur-bangun dapat disebabkan oleh perubahan
fisiologis misalnya pada proses penuaan normal. Riwayat tentang masalah tidur,
higiene tidur saat ini, riwayat obat yang digunakan, laporan pasangan, catatan
tidur, serta polisomnogram malam hari perlu dievaluasi pada lansia yang
mengeluh gangguan tidur. Keluhan gangguan tidur yang sering diutarakan oleh
lansia yaitu insomnia, gangguan ritme tidur,dan apnea tidur
2.4 Klasifikasi Gangguan Tidur
1. Gangguan tidur primer
Gangguan tidur primer adalah gangguan tidur yang bukan
disebabkan oleh gangguan mental lain, kondisi medik umum, atau zat.
Gangguan tidur ini dibagi dua yaitu disomnia dan parasomnia. Disomnia
ditandai dengan gangguan pada jumlah, kualitas, dan waktu tidur.
Parasomnia dikaitkan dengan perilaku tidur atau peristiwa fisiologis yang
dikaitkan dengan tidur, stadium tidur tertentu atau perpindahan tidurbangun. Disomnia terdiri dari insomnia primer, hipersomnia primer,
narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan,
gangguan ritmik sirkadian tidur, dan isomnia yang tidak dapat
diklasifikasikan. Parasomnia terdiri dari gangguan mimpi buruk, gangguan
teror tidur, berjalan saat tidur, dan parasomnia yang tidak dapat
diklasifikasikan.
a. Gangguan tidur terkait gangguan mental lain.
Gangguan tidur terkait gangguan mental lain yaitu terdapatnya
keluhan gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh
gangguan mental lain (sering karena gangguan mood) tetapi tidak
memenuhi syarat untuk ditegakkan sebagai gangguan tidur tersendiri.
Ada dugaan bahwa mekanisme patofisiologik yang mendasari

gangguan mental juga mempengaruhi terjadinya gangguan tidurbangun. Gangguan tidur ini terdiri dari: Insomnia terkait aksis I atau II
dan Hipersomnia terkait aksis I atau II.
b. Gangguan tidur akibat kondisi medik umum
Gangguan akibat kondisi medik umum yaitu adanya keluhan
gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh pengaruh
fisiologik langsung kondisi medik umum terhadap siklus tidurbangun.
c. Gangguan tidur akibat zat
Yaitu adanya keluhan tidur
menggunakan

atau

yang

menghentikan

menonjol
penggunaan

akibat
zat

sedang

(termasuk

medikasi). Penilaian sistematik terhadap seseorang yang mengalami


keluhan tidur seperti evaluasi bentuk gangguan tidur yang spesifik,
gangguan mental saat ini, kondisi medik umum, dan zat atau medikasi
yang digunakan, perlu dilakukan
2.5 Fisiologi Tidur Normal
Rata-rata dewasa sehat membutuhkan waktu 7 jam untuk tidur setiap
malam. Walaupun demikian, ada beberapa orang yang membutuhkan tidur lebih
atau kurang. Tidur normal dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya usia.
Seseorang yang berusia muda cenderung tidur lebih banyak bila dibandingkan
dengan lansia.
Waktu tidur lansia berkurang berkaitan dengan faktor ketuaan. Fisiologi tidur
dapat dilihat melalui gambaran ekektrofisiologik sel-sel otak selama tidur.
Polisomnografi merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak selama tidur.
Pemeriksaan polisomnografi sering dilakukan saat tidur malam hari. Alat tersebut
dapat

mencatat

aktivitas

EEG,

elektrookulografi,

dan

elektromiografi.

Elektromiografi perifer berguna untuk menilai gerakan abnormal saat tidur.


Stadium tidur - diukur dengan polisomnografi - terdiri dari tidur rapid eye
movement (REM) dan tidur non-rapid eye movement (NREM).
Tidur REM disebut juga tidur D atau bermimpi karena dihubungkan dengan
bermimpi atau tidur paradoks karena EEG aktif selama fase ini. Tidur NREM
disebut juga tidur ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. Kedua stadia
ini bergantian dalam satu siklus yang berlangsung antara 70 120 menit. Secara
6

umum ada 4-6 siklus REM-REM yang terjadi setiap malam. Periode tidur REM I
berlangsung antara 5-10 menit. Makin larut malam, periode REM makin panjang.
tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu stadium 1,2,3,4.
2.6 Higiene Tidur Pada Lansia
Gangguan tidur dapat berbentuk buruknya higiene tidur dan gangguan tidur
spesifik. Evaluasi keluhan tidur lansia hendaklah selalu dilakukan. Keluhan tidur
hendaknya jangan diabaikan meskipun mereka sudah tua. Buruknya higiene tidur
dapat disebabkan oleh harapan yang berlebihan terhadap tidur atau jadual tidur.
Akibatnya, lansia sering menghabiskan waktunya di tempat tidur atau sebentarsebantar tertidur di siang hari.
2.7 Tahap Tidur
Tahap 1 : REM
1. Tahap paling ringan dari tidur.
2. Tahap berlangsung dalam beberapa menit.
3. Penurunan aktivitas fisiologis diawali dengan penurunan tanda vital dan
metabolisme.
4. Orang mudah terangsang oleh rangsangan sensorik seperti sebagai
kebisingan.
5. Terbangun, orang merasa seakan hanya sekedar melamun.
Tahap 2 : NREM
1.
2.
3.
4.
5.

Tahap ini adalah periode tidur nyenyak.


Proses relaksasi berlangsung.
Rangsangan untuk terbangun relatif mudah.
Tahap berlangsung 10 sampai 20 menit.
Fungsi tubuh terus melambat

Tahap 3 : NREM
1. Ini melibatkan tahap awal dari tidur lelap
2. Orang tidur sulit untuk membangunkan diri dari tidur dan sulit untuk
bergerak
3. Otot-otot seluruhnya sudah berelaksasi.
4. Tanda-tanda vital menurun tapi tetap siaga.
5. Tahap berlangsung 15 sampai 30 menit.
Tahap 4 : NREM
1. Tahap terdalam tidur
2. Sangat sulit untuk bangun tidur

3. Jika terjadi kurang tidur, orang yang tidur akan mengahbiskan seluruh
malam, untuk tidur pada malam hari
4. Tanda-tanda vital secara signifikan lebih rendah dari pada saat bangun
5. Berjalan sambil berjalan dan enuresis dapat terjadi
Tahap tidur REM
1. Bermacam-macam mimpi terjadi pada tahap ini. Tidak bermimpi terjadi
pada tahap lain
2. Tahap biasanya terjadi sekitar 90 menit setelah tidur di mulai
3. Ditandai dengan respon spontan cepat bergerak mata, berfluktuasi jantung
dan pernapasan, dan peningkatan atau berfluktuasi tekanan darah
4. Hilangnya tonus otot
5. Sekresi lambung meningkat
6. Sangat sulit untuk dibangunkan
7. Durasi REM tidur meningkat dengan setiap siklus dan rata-rata 20 menit
2.8 Manifestasi klinis
1. Insomnia
Insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur walaupun ada keinginan
untuk melakukan. Lansia rentang terhadap insomnia karena adanya perubahan
pola tidur, biasanya menyerang tahap 4 (tidur dalam). Keluhan insomnia
mencakup ketidakmampuan untuk tidur, sering terbangun, ketidakmampuan untuk
kembali tidur dan terbangun pada dini hari. Insomnia terdiri dari tiga jenis:
a. Jangka pendek: Berakhir beberapa minggu dan muncul akibat pengalaman
stres yang bersifat sementara seperti kehilangan orang yang dicintai, tekanan
di tempat kerja, atau takut kehilangan pekerjaan.
b. Sementara: Episode malam gelisah yang tidak sering terjadi yang disebabkan
oleh perubahan-perubahan lingkungan seperti jet lag, kontruksi bangunan
yang bising, atau pengalaman yang menimbulkan ansietas.
c. Kronis: Berlangsung selama 3 minggu atau seumur hidup. Disebabkan oleh
kebiasaan tidur yang buruk, masalah psikologis, penggunaan obat tidur yang
berlebihan, penggunaan alkohol berlebihan, gangguan jadwal tidur bangun,
dan masalah kesehatan lainnya. Dan disebabkan oleh masalah fisik seperti
apnea tidur, sindrom kaki gelisah, atau nyeri kronis karena artritis.
2. Hipersomnia
Dicirikan dengan tidur lebih dari 8 atau 9 jam per periode 24 jam, dengan
keluhan

tidur

berlebihan.

Penyebab
8

hipersomnia

berhubungan

dengan

ketidakaktifan, gaya hidup yang membosankan atau depresi. Keluhan keletihan,


kelemahan dan kesulitan mengingat atau belajar merupakan hal yang sering
terjadi.
3. Apnea tidur
Apnea tidur adalah berhentinya pernapasan salama tidur. Gangguan ini
diidentifikasi dengan gejala mendengkur, berhentinya pernapasan minimal 10
detik, dan kantuk di siang hari yang luar biasa. Gejala apnea tidur antara lain:
a. Dengkuran yang keras dan periodic
b. Aktivitas malam hari yang tidak biasa, seperti duduk tegak, berjalan
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

dalam tidur, terjatuh dari tempat tidur


Gangguan tidur dengan seringnya terbangun di malam hari
Perubahan memori
Depresi
Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari
Nokturia
Sakit kepala di pagi hari
Ortopnea akibat apnea tidur
Pengobatan yang spesifik untuk apnea tidur melibatkan penurunan berat

badan, dengan penatalaksanaan medis atau pembedahaan untuk membuang


penumpukan jaringan di area faring. Pasien dapat dianjurkan untuk menghindari
alkohol dan obat-obatan yang dapat memengaruhi respons terbangun dan untuk
menggunakan bantal tambahan atau tidur di kursi.
2.9 Penatalaksanaan Gangguan Tidur Pada Lansia
1. Pencegahan Primer
a. Tidur seperlunya, tetapi tidak berlebihan, agar merasa segar dan sehat
di hari berikutnya. Pembatasan waktu tidur dapat memperkuat tidur;
berlebihnya waktu yang dihabiskan di tempat tidur tampaknya
berkaitan dengan tidur yang terputus-putus dan dangkal.
b. Waktu bangun yang teratur dipagi hari memperkuat siklus sirkadian
dan menyebabkan awitan tidur yang teratur.
c. Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur;
namun, latihan yang hanya dilakukan kadang-kadang tidak dapat
memperbaiki tidur pada malam berikutnya.

d. Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang (mis. bunyi pesawat


terbang melintas) dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut
tidak terbangun oleh bunyinya dan tidak dapat mengingatnya di pagi
hari. Kamar tidur kedap suara dapat membantu bagi orang-orang yang
harus tidur di dekat kebisingan.
e. Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur,
namun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kamar yang terlalu
dingin dapat membantu tidur.
f. Rasa lapar mengganggu tidur; kudapan ringan dapat membantu tidur.
g. Pil tidur yang hanya kadang-kadang saja digunakan dapat bersifat
menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis tidak efektif
pada kebanyakan penderita insomnia.
h. Kafein di malam hari dapat mengganggu tidur, meskipun pada orangorang yang tidak berpikir demikian.
i. Alkohol membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih
mudah, tetapi tidur tersebut kemudian akan terputus-putus.
j. Orang-orang yang merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur
tidak boleh berusaha terlalu keras untuk tertidur tetapi harus
menyalakan lampu dan melakukan hal lain yang berbeda.
k. Penggunaan tembakau secara kronis dapat mengganggu tidur.
Tindakan pencegahan primer lainnya antara lain adalah:
a. Kasur yang baik memungkinkan kesejajaran tubuh yang tepat.
b. Suhu kamar harus cukup dingin (kurang dari 24C) sehingga cukup
nyaman.
c. Asupan kalori harus minimal pada saat menjelang tidur.
d. Latihan sedang di siang hari atau sore hari merupakan hal yang
dianjurkan.
2. Pencegahan sekunder
Catatan harian tentang tidur merupakan cara pengkajian yang sangat bagus
bagi lansia di rumahnya sendiri. Catatan tersebut harus mencakup faktorfaktor berikut ini:
a. Seberapa sering bantuan diperlukan untuk memberikan obat myeri,
tidak dapat tidur, atau menggunakan kamar mandi.
b. Kapan orang tersebut turun dari tempat tidur.
c. Berapa hari orang tersebut terbangun atau tertidur pada saat diobservasi
oleh perawat atau pemberi perawatan.

10

d. Terjadinya konfusi dan disorientasi.


e. Penggunaan obat tidur.
f. Perkiraan orang tersebut bangun di pagi hari.
2.10 Pencegahan
Jika terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan,
kondisi pasien memerlukan rehabilitas melalui tindakan-tindakan seperti
pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut dan mempengaruhi jalan napas.
Data-data tersebut membantu menentukan pengobatan yang terbaik untuk
mengatasi kesulitan dan merehabilitasi lansia sehingga ia dapat menikmati tidur
yang berkualitas baik sampai akhir hidup.
Penatalaksanaan Terapeutik
Bootzin dan Nicassio menganjurkan aturan-aturan berikut untuk mempertahankan
kenormalan pola tidur:
1. Pergi tidur hanya jika mengantuk.
2. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur; jangan membaca, menonton televisi
atau makan di tempat tidur.
3. Jika tidak dapat tidur, bangun dan pindah ke ruangan lain. Bangun sampai
anda benar-benar mengantuk, kemudian baru kembali ke tempat tidur. Jika
tidur masih tidak bisa dilakukan dengan mudah, bangun lagi dari tempa tidur.
Tujuannya adalah menghubungkan antara tempat tidur dengan tidur cepat.
Ulangi langkah ini sesering yang diperlukan sepanjang malam.
4. Siapkan alarm dan bangun di waktu yang sama setiap pagi tanpa di malam
hari. Hal ini membantu tubuh menetapkan irama tidur bangun yang konstan.
5. Jangan tidur di siang hari.
Mengatasi Gangguan Tidur
Kesulitan untuk tidur dan tetap tertidur adalah masalah yang sering terjadi pada
lansia, baik lansia yang tinggal di rumah atau di panti jompo. Jika pasien anda
memiliki masalah tidur, anjurkan ia untuk:
1. Mempertahankan jadwal harian yang sama untuk berjalan-jalan, istirahat dan
tidur.
2. Bangun di waktu biasanya ia bangun bahkan jika tidurnya terganggu atau
waktu tidurnya berubah sementara.
3. Melakukan ritual waktu tidur dan mengikuti dengan patuh.

11

4. Melakukan olah raga setiap hari tetapi hindari olah raga yang terlalu berat
pada malam hari.
5. Membatasi tidur siang 1 dan 2 jam perhari, pada waktu yang sama setiap
harinya.
6. Mandi air hangat di waktu akhir sore atau menjelang malam.
7. Makan kudapan ringan karbohidrat dan lemak sebelum tidur.
8. Menghindari minuman dan produk yang mengandung kafein, khususnya
menjelang waktu tidur.
9. Mempraktikkan metode relaksasi seperti nafas dalam, masase, mendengarkan
musik atau membaca bacaan yang merilekskan.
10. Menghindari minuman beralkohol atau batasi asupan alkohol pasien hingga
sesedikit mungkin setiap harinya.
11. Menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
12. Jika ia terbangun tengah malam selama lebih dari 30 menit, bangkit dari
tempat tidur dan lakukan aktivitas yang tidak menstimulasi seperti membaca.
2.11 Asuhan Keperawatan Teori
A. Pengkajian
1. Pemeriksaan fisik
a. Integumen :
a) Lemak subkutan menyusut
b) Kulit kering dan tipis, rentang terhadap trauma dan iritasi,
serta lambat sembuh
b. Mata :
a) Areus senilis, penurunan visus
c. Telinga :
a) Pendengaran berkurang yang selanjutnya dapat berakibat
gangguan bicara.
d. Kardiopulmonar :
a) Curah jantung berkurang serta elastisitas jantung dan
pembuluh darah berkurang, terdengar bunyi jantung IV
(S4) dan bising sistolik, kapasitas vital paru, volume
ekspirasi, serta elastisitas paru-paru berkurang.
e. Muskuloskeletal :
a) Massa tulang berkurang, lebih jelas pada wanita, jumlah
dan ukuran otot berkurang.
b) Massa tubuh banyak yang tergantikan oleh jaringan lemak
yang disertai pula oleh kehilangan cairan.
f. Gastrointestinal :

12

a) Mobilitas dan absorpsi saluran cerna berkurang, daya


pengecap, serta produksi saliva menurun.
g. Neurologikal :
a) Rasa raba juga berkurang, langkah menyempit dan pada
pria agak melebar. Selain itu, terdapat potensi perubahan
pada status mental.
2. Pemeriksaan Fisik Umum
a. Kesadaran : klien dapat menunjukkan tingkat kesadaran baik
(tidak ada kelainan atau gangguan kesadaran).
b. Sistem Integumen : Tidak adanya anemis, ikterus, sianosis,
serta lesi primer dan sekunder.
c. Pengkajian status gizi :Terjadi malnutrisi
3. Pengkajian Fisik Khusus
a. Pengkajian sistem perkemihan : Inkontinensia
b. Pengkajian sistem pernapasan : Perubahan pada saluran
pernapasan atas, diameter dinding dan dinding dada kaku.
c. Pengkajian sistem kulit/integumen : Pertumbuhan epidermis
melambat (kulit kering, epidermis menipis), berkurangnya
vaskularisasi, juga melanosit dan kelenjar-kelenjar pada kulit.
d. Pengkajian pola tidur : susah tidur pulas, sering terbangun,
serta kualitas tidur yang rendah, lama ditempat tidur serta
jumlah total waktu tidur per hari yang berkurang.
e. Pengkajian status fungsional :
a) Tentang mandi = Dikatakan mandiri (independen) bila
dalam melakukan aktivitas klien hanya memerlukan
bantuan untuk menggosok atau membersihkan sebagian
tertentu dari anggota badannya, Dikatakan dependen bila
klien memerlukan bantuan untuk lebih dari satu bagian
badannya.
b) Berpakaian = Independen bila tak mampu mengambil
sendiri pakaian dalam lemari atau laci.
c) Ke toilet = Independen bila lansia tak mampu ke toilet
sendiri, beranjak dari kloset, merapikan pakaian sendiri.
Dependen bila memang memerlukan bed pan atau pispot.
d) Transferring = Independen bila mampu naik turun sendiri
dari tempat tidur atau kursi roda. Dependen bila selalu

13

memerlukan bantuan untuk kegiatan tersebut diatas atau


tak

mampu

melakukan

satu

atau

lebih

aktivitas

transferring.
e) Kontinensia = Independen bila mampu buang hajat sendiri
(urinari dan defekasi). Dependen bila pada salah satu atau
keduanya miksi atau sefekasi memerlukan enema atau
kateter.
f) Makan = Independen bila mampu menyuap makanan
sendiri, mengambil dari piring.
g) Pengkajian aspek spiritual = Perasaan individu tentang
kehidupan
kewajiban

keagamaannya,
agar

melakukan

berkontemplasi

tentang

kewajibankehidupan

menurut agama dan kepercayaannya


B. Diagnosis keperawatan
Gangguan pola tidur
C. Intervensi Keperwatan
Tujuan keperawatan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pola tidur
menjadi efektif
Kriteria Hasil :
1. Klien mampu mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tidur
yang berhubungan dengan penuaan
2. Klien mampu mengungkapkanbahwa intervensi yang diterapkan
mendukung perbaikan pola tidur
3. Klien melaporkan bahwa merasa lebih segar ketika bangun. dan
Laporan perasaan beristirahat dan segar di kenaikan.
Intervensi berikut harus dilakukan di rumah sakit dan fasilitas perawatan
jangka panjang:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi untuk gangguan tidur
Rasional :
Perawat harus mengidentifikasi penyebab gangguan tidur sehingga
intervensi yang paling sesuai dapat dipilih. Berbagai faktor internal
dan eksternal dapat mengganggu tidur. Nyeri, baikitu kronis atau akut,
mengganggu

atau

mempersulit

14

tidur.

Penyebab

nyeri

harus

diidentifikasi dan langkah-langkah yang diambil untuk membuat


lansia senyaman mungkin. Tindakan medis dan pemberiaanobatobatan diambil untuk mempermudah tidur. Lansia dengan penyakitt
kardiovaskular seperti yang mengalami nyeri angina selama tidur
REM yang menyebabkan mereka mudah terbangun. Pasien dengan
ulkus mengeluarkan jumlah berlebihan asam selama tidur REM, yang
menyebabkan rasa sakit dan bangun lebih awal. Individu dengan
COPD mungkin mengalami dyspnea yang mengalami kesulitan
berbaring hingga tidur. Hal ini dapat mengakibatkan kekurangan
oksigen dan kecemasan dan dapat mengganggu tidur.
Kecemasan dan depresi sering mengakibatkan bangun lebih awal dan
ketidakmampuan untuk kembali tidur setelah terbangun. Obat untuk
hipertensi umumnya menyebabkan pola tidur berubah. faktor
lingkungan, termasuk pencahayaan, kebisingan, dan perubahan suhu,
juga harus dipertimbangkan.
2.

Jadwal intervensi keperawatan untuk menurunkan gangguan tidur


yang adekuat.
Rasional :
Keperawatan dan tindakan medis dapat mengganggu tidur. pemberian
obat, ganti baju, atau kebutuhan eliminasi dapat mengganggu tidur.
Meskipun perawat tidak dapat mengontrol seluruh jadwal dari
pengobat danperawatan, mereka harus berusaha untuk merumuskan
rencana yang menurunkan gangguan tidur. Misalnya, jika obat diuretik
diberikan dekat dengan waktu tidur, maka frekuensi kencing dapat
menganggu individu tidur dengan lelap. Perubahan jadwal untuk
memberikan pengobatan obat diuretik lebih awal akan menurunkan
masalah ini. Jika prosedur ini tidak berdampak baik untuk klien, tidak
dapat dijadwalkan pada malam hari. Beberapa perawatan dan
pemberian obat-obatan sekarang ini dikhusus diberikan pada klien
ketika klien bangun untuk menghilangkan kebingungan atau
kekhawatiran mengenai jadwal tindakan.

15

3.

Rencana waktu tidur dan waktu bangun klien lebih didahulukan dari
tindakan perawatan.
Rasional :
Meskipun jadwal tidur yang teratur sangat disarankan, kali ini harus
dipilih

dengan

mempertimbangkan

usia

seseorang.

Faktanyalansiaakan lebih memilih menjadwal pola tidurnya pada


seluruh hidup untuk diubah ke kebijakkan. Lembaga harusnya
mengikuti keyakinan klien. Banyak orang yang lebih tua ditemukan
bahwa mereka tidak bisa tidur ketika mereka pergi ke tempat tidur.
Mereka sering terjaga dan menjadi semakin cemas. Kecemasan ini
berlanjut mengganggu kemampuan mereka untuk tertidur. Jika orang
tersebut tidak dapat tidur setelah 20 sampai 30 menit, ia harus
didorong untuk bangun dan diam-diam menonton televisi, membaca,
atau mendengarkan musik.
Beberapa saran harus tersedia agar kegiatan ini tidak mengganggu
tidur orang lain. Ketika seseorang lelah, mungkin mereka dapat tidur
kembali. Perlu dukungan mental yang berhubungan dengan tempat
tidur.
4. Memberikan kesempatan pada seseorang menjalankanritual yang
membantu meningkatkan proses tidur.
Rasional :
Beberapalansia memiliki ritual yang membantu mereka tidur. Ritual
sebelum tidur sangat individual, termasuk membersihkan diri sebelum
tidur, menggunakan bantal khusus, berdoa, dan berbagai kegiatan
lainnya. Perawat harus mendiskusikan keyakinan individu dan
memasukkannya ke dalam rencana perawatan.
5.

Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk tidur.


Rasional :
Untuk mencegah klien lain agar tidak terbangun, perawat harus
menurunkan pencahayaan dan memutar musik sebagai pengantar
tidur.Jadwal sehari-hari ditetapkan untuk jadwal malam. Jika

16

memungkinkan, tempatkan individu yang memiliki kesulitan tidur di


diruangan yang berbeda jauh dari suara telfon, tempat kerja, dan dari
kebisingan lainnya. Kebisingan yang terjadi disepanjang hari, seperti
percakapanperawat di nurse station dan sistem panggilan tak terjawab,
dapat mengganggu tidur di malam hari. Pencahayaan yang
memungkinkan untuk keamanan namun tidak mengganggu tidur harus
disediakan. Gorden dan pintu harus diposisikan untuk menghindari
cahaya yang tidak diinginkan. Beberapa individu bisa tidur jika ada
pencahayaan dan lainnya terganggu dengan adanya pencahayaan.
Karena perubahan sirkulasi, banyak lansia membutuhkan lebih banyak
selimut untuk kenyamanan di malam hari. Rasa hangat dan
pencahayaan yang redup lebih disukai lansia.
6.

Memberikan tindakan kenyamanan untuk mempermudah tidur.


Rasional :
Lingkungan yang nyaman mempermudah tidur. Tempat tidur harus
bersih, kering, dan rapi. Pada lansia dorong untuk mengosongkan
kandung kemih sebelum tidur untuk menghindari kebutuhan untuk
bangun. Nokturia terjadi paling sering dalam beberapa jam akan tidur.
Selain itu, jika lansia tidur dengan keadaan basah, maka tidur akan
terganggu selama beberapa jam. Mereka akan bangun dan megganti
bjunya yang basah, baru dapat kembali tidur.

7.

Kelola obat tidur (sedatif dan hipnotik) seperti yang diperintahkan.


Rasional :
Perawat harus menilai pasien atau warga mereka untuk efek yang
diinginkan dan efek yang tidak diinginkan dari obat tidur. Karena
banyak obat yang digunakan untuk mempermudah tidur dapat
menyebabkan hipotensi ortostatik, jika ada efek pusung, individu
harus diamati, perubahan posisi harus dilakukan perlahan-lahan, dan
bantuan harus diberikan selama ambulasi untuk mengurangi risiko
jatuh atau cedera lainnya.

17

Obat untuk mempermudah tidur harus menjadi pilihan terakhir karena


banyak obat penenang dan obat hipnotik dapat memberikan efek
buruk pada lansiadan dapat berkontribusi menjadi insomnia. Obat ini
benar-benar dapat menyebabkan tidur terganggu karena mereka
mengubah sifat dan kualitas tidur. obat dengan berproses lama dapat
dipertahankan dalam tubuh untuk jumlah waktu yang berlebihan,
berpotensi menyebabkan kebingungan, disorientasi, dan kantuk di
siang hari. Obat yang mempengaruhi respirasi harus digunakan
dengan hati-hati pada lansia

8.

Memberikan suplemen gizi yang membantu tidur.


Rasional :
Sebuah makanan ringan atau minuman sebelum tidur umumnya
diminta. Minuman berkafein seperti kopi harus dikurangi, karena
kafein dapat mengganggu tidur. Kopi tanpa kafein, teh herbal, dan
susu adalah pilihan yang baik. Susu sering disarankan karena
mengandung tryptophan, yang memiliki sifat mempengaruhi tidur.
Makanan berat menempatkan tekanan ekstra pada tubuh dan harus
dihindari dekat dengan waktu tidur. Minuman beralkohol juga harus
dikurangi karena mereka dapat mengganggu siklus tidur normal dan
dapat menyebabkan kebangkitan karena diuresis.

9.

Tingkatkan kenyamanan emosional dengan cara mendengarkan


keluhan klien
Rasional :
Kecemasan

dan

depresi

mengganggu

tidur. Beberapa

menit

percakapan tenang pada sebelumtidur dapat membantu menurunkan


beban dan mempermudah tidur pada lansia. Pelatihan relaksasi atau
teknik manajemen stres lainnya mungkin cocok untuk beberapa
individu.
10. Amati pasien untuk pola kelelahan atau tidur sepanjang hari.

18

Rasional :
Tidur siang berlebihan atau kelelahan di siang hari bisa mengganggu
tidur malam hari. Perawat harus mengkaji perilaku sepanjang hari
yang mempengaruhi tidur. Jika individu menghabiskan terlalu banyak
waktu tidur siang, perawat harus menentukan alasannya. Jika
kebosanan

adalah

penyebabnya,

aktivitas

pengalihan

harus

ditingkatkan. Jika individu terlalu lelah atau dirangsang oleh kegiatan


hari itu, waktu istirahat maka lebih sering harus didorong.
Intervensi berikut harus dilakukan di rumah:
1.

Gunakan jadwal untuk menilai tidur dan pola istirahat.


Rasional :
Banyak lansia yang mengeluhkan masalah tidur tidak menyadari
rutinitas sehari-hari mereka. Menulis jadwal untuk mencatat tidur
siang, waktu tidur, periode kebangkitan, dan waktu naik di pagi hari
sering menghasilkan informasipenting. Jika individu tidak bisa
melakukan ini sendiri, pasangan atau kerabat dapat membantu. Setiap
informasi yang mungkin relevan (misalnya, nyeri, nokturia) harus
diperhatikan.

2.

Jelaskan pentingnya aktivitas yang cukup dan olahraga sepanjang hari.


Rasional :
Latihan dan aktivitas yang cukup membantu mempromosikan tidur
yang baik. aktivitas yang berlebihan harus dihindari dalam waktu 2
jam sebelum tidur, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan suhu
tubuh dan benar-benar mengganggu tidur.

3.

Membantu

lansia

dalam

membangun

lingkungan

yang

mempromosikan istirahat dan tidur.


Rasional :
Perawat harus memastikan bahwa kondisi di rumah mempermudah
istirahat dan tidur dan bahwa lansia memiliki tempat tidur yang
memadai dan mencakup. Mereka juga harus memastikan bahwa

19

tindakan adekuat. Jika suara dari tetangga atau lalu lintas, mungkin
dapat diatasi dengan diskusi
4.

Diskusikan membatasi asupan cairan di malam hari jika nokturia


Rasional :
Jika nokturia yang mengganggu tidur, lansia harus didorong untuk
mengurangi asupan cairan selama 1 sampai 2 jam sebelum tidur.
Namun, yang penting adalah konsumsi cairan yang adekuat di pagi
hari untuk mencegah masalah keseimbangan cairan.

5.

Mendorong penggunaan latihan relaksasi, menghipnotis diri sendiri,


atau teknik relaksasi lainnya.

Rasional :
Banyak teknik yang mempermudah relaksasi dapat digunakan untuk
membantu mempengaruhi tidur. Banyak kaset audio dan buku yang
tersedia untuk menggambarkan teknik ini, banyak yang bisa
menguntungkan lansia dan tidak menyebabkan masalah yang
disebabkan oleh obat-obatan.
6.

Gunakan setiap intervensi yang tepat yang digunakan dalam


pengaturan kelembagaan.

D. Implementasi
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik.Tahap implementasi dimulai setelah rencana tindakan disusun untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.Tujuan dari implementasi
adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah titetapkan yang
mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemulihan kesehatan.
(Erb, Olivieri, Kozier, 1991 : 169)
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan
yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Meskipun tahap evaluasi diletakkan pada

20

akhir proses keperawatan, evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap
proses keperawatan. Pengumpulan data perlu direvisi untuk menentukan apakah
informasi yang telah dikumpulkan sudah mencukupi dan apakah perilaku yang
diobservasi sudah sesuai.Diagnosa juga perlu dievaluasi dalam hal keakuratan dan
kelengkapannya.Tujuan dan intervensi dievaluasi untuk menentukan apakah
tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif atau tidak. (Erb, Olivieri, Kozier,
1991 : 169)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Istirahat adalah suatu kondisi yang tenang, rileks tanpa ada tress
emosional, bebas dari kecemasan. Namun tidak berarti tidak melakukan aktivitas
apa pun, duduk santai di kursi empuk atau berbaring di atas tempat tidur juga
merupakan bentuk istirahat. Sebagai pembanding, klien/orang sakit tidak
beraktifitas tapi mereka sulit mendapatkan istirahat begitu pula dengan mahasiswa
yang selesai ujian merasa melakukan istirahat dengan jalan-jalan
3.2 Saran
Oleh karena itu perawat dalam hal ini berperan dalam menyiapkan
lingkungan atau suasana yang nyaman untuk beristirahat bagi klien/pasien.

21

DAFTAR PUSTAKA
Darmojo, Boedhi, dan Martono, Hadi. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
Lanjut), Edisi 2. 2000. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Maryam R Siti,dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika
Rosidawati, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta.
Salemba Medika
Stanley Mickey. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC
Stockslager Jaime L. 2007. Asuhan Keperawatan Geriatrik Edisi 2. Jakarta. EGC
Tamher S, Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut Dengan Pendekatan Asuhan
Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika

22