Anda di halaman 1dari 9

Puti Syahrani

20505015
TUGAS METABOLISME

Narasi Handout Slide Kuliah


Glikolisis, Sistem Transport Elektrron, dan Fosforilasi Oksidatif

Slide hal 2.

Overvie w : Hubungan Katabolisme dan Anabolis me


Metabolisme dapat dibagi menjadi dua kategori umum : katabolisme, yaitu proses
degradasi senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana, yang secara
keseluruhan melepaskan energi, dan anabolisme, yaitu proses sintesis molekul organik
kompleks dari senyawa-senyawa yang lebih sederhana, yang secara kese luruhan
memerlukan energi. Kedua jalur ini, katabolisme dan anabolisme, terjadi dalam tiga
tahap, yang dibedakan berdasarkan ukuran molekulnya. Tahap pertama, perubahan
antara polimer dan lipid kompleks dengan monomer intermediet. Tahap kedua,
perubahan antara monomer gula, asam amino, dan lipid dengan senyawa organik yang
lebih sederhana lagi. Tahap ketiga, degradasi akhir menjadi senyawa anorganik, atau
sintesis dari senyawa anorganik, termasuk CO 2 , H2 O, dan NH3 . Struktur polimer
untuk proses katabolisme tidak sama dengan proses anabolisme.
Hubungan Metabolis me Karbohidrat, Lipid, Protein, dan Asam Nukleat
Gambar ini menunjukkan jalur-jalur metabolisme pusat dan beberapa intermediet
penting. Jalur katabolisme ditunjukkan dengan panah yang menuju ke bawah,
sedangkan jalur anabolisme ditunjukkan dengan panah yang menuju ke atas. Tahap
awal katabolisme karbohidrat adalah glikolisis, yaitu dari polisakarida menjadi
piruvat. Piruvat kemudian akan direduksi pada reaksi fermentasi atau masuk ke jalur
metabolisme oksidatif (respirasi) melalui perubahan menjadi asetil-CoA. Tahap
setelah glikolisis adalah metabolisme oksidatif (respirasi). Metabolisme oksidatif
meliputi oksidasi piruvat, siklus asam sitrat, transpor elektron, dan fosforilasi
oksidatif. Oksidasi piruvat menghasilkan asetil-CoA untuk siklus asam sitrat. Pada
organisme aerob, siklus asam sitrat ini adalah tahap yang sangat penting. Jika asupan

gula dalam sel kurang, akan digunakan cadangan energi lainnya berupa lipid.
Metabolisme lipid meliputi -oksidasi asam lemak yang akan menghasilkan asetilCoA untuk siklus asam sitrat. Jika cadangan lipid juga tidak ada, maka akan
digunakan protein. Metabolisme asam amino akan menyediakan bahan bakar untuk
siklus asam sitrat melalui beberapa jalur dan juga digunakan pada biosintesis
nukleotida dan metabolit lainnya. Asam nukleat juga dapat diubah menjadi
monosakarida yang kemudian akan masuk pada jalur glikolisis. Pada gambar ini juga
ditunjukkan anabolisme karbohidrat yang meliputi glukoneogenesis dan sintesis
polisakarida, serta proses fotosintesis yang terjadi pada tanaman.

Slide hal 3.

Karbohidrat
Pada tumbuhan tingkat tinggi dan hewan, penggunaan glukosa pada sel terdiri dari
tiga jalur utama, yaitu disimpan sebagai polisakarida, pati, atau sukrosa, dioksidasi
menjadi senyawa dengan tiga atom karbon (piruvat) melalui glikolisis, atau dioksidasi
menjadi ribosa-5-fosfat melalui jalur pentosa fosfat (fosfoglukonat),yang dapat
digunakan sebagai prekoursor nukleotida atau fotosintesis pada tanaman.

Metabolis me Karbohidrat
Beberapa istilah dan pengertiannya yang digunakan pada topik ini adalah :
1. Glikolisis : Jalur katabolisme pemecahan satu molekul glukosa menjadi dua
molekul piruvat.
2. Glukoneogenesis : Biosintesis karbohidrat dari prekursor non-karbohidrat yang
lebih sederhana, seperti oksaloasetat atau piruvat
3. Glikogenolisis : Pemecahan glikogen menjadi molekul glukosa.
4. Glikogenesis : Sintesis glikogen dari molekul glukosa.
5. Jalur anaplerotik : jalur yang dikatalisis oleh enzim yang dapat menghasilkan
persediaan senyawa-senyawa intermediet pada siklus asam sitrat, agar intermediet
selelu tersedia.
6. HMP : Hexose Monophosphat Pathway

Slide hal 4-13.

Jalur Katabolis me Karbohidrat


Melalui tahapan glikolisis, glukosa akan diubah menjadi dua molekul piruvat. Tiga
jalur alternatif katabolisme piruvat hasil glikolisis adalah :
1. Piruvat

akan dioksidasi

menjadi asetil-CoA dengan kehilangan

gugus

karboksilnya menjadi CO 2 yang membentuk gugus asetil dari asetil-koenzim A.


Kemudian asetil-CoA dioksidasi secara lengkap menjadi CO 2 melalui siklus asam
sitrat. Elektron yang terbentuk dari proses oksidasi ini diteruskan ke O 2 melalui
rantai pembawa elektron pada mitokondria, membentuk H2 O. Proses ini terjadi
pada hewan, tumbuhan, dan sel mikroba pada kondisi aerob.
2. Piruvat direduksi menjadi laktat melalui fermentasi asam laktat. Proses ini terjadi
ketika suatu jaringan seperti otot skeletal yang berkontraksi dengan kuat harus
berfungsi secara anaerob, dimana piruvat tidak dapat dioksidasi lebih lanjut akibat
kurangnya oksigen. Selain itu pada beberapa organisme yang melakukan
fermentasi asam laktat, laktat merupakan produk glikolisis dalam suasana anaerob.
Beberapa jenis jaringan dan sel tertentu (retina, otak, eritrosit), bahkan merubah
glukosa menjadi laktat dalam suasana aerob.
3. Piruvat diubah menjadi etanol dan CO 2 dengan fermentasi alkohol (atau etanol)
Proses ini berlangsung dalam suasana anaerob dan terjadi pada beberapa jaringan
tumbuhan, beberapa invertebrata dan mikroorganisme seperti ragi.

Katabolisme Karbohidrat
Proses glikolisis terdiri dari sepuluh reaksi yang terbagi menjadi dua tahap besar,
tahap persiapan (preparatory phase) yang memerlukan energi dan tahap akhir (payoff
phase) yang menghasilkan energi.
I. Prepatory phase : fosforilasi glukosa dan pengubahannya menjadi gliseraldehid-3fosfat, yang terdiri dari :
1. Fosforilasi glukosa membentuk glukosa-6-fosfat (fosforilasi I), dengan ATP
sebagai donor gugus fosfat. Reaksi ini dibantu oleh hexokinase. Go = -16,7
kJ/mol.

2. Pengubahan glukosa-6-fosfat menjadi fruktosa-6-fosfat (isomerasi). Reaksi ini


dibantu oleh fosfoheksosa isomerase (fosfoglukosa isomerase). Go = 1,7
kJ/mol.
3. Fosforilasi fruktosa-6-fosfat menjadi fruktosa-1,6-bifosfat (fosforilasi II).
Reaksi ini dibantu oleh fosfofruktokinase-1 dan menggunakan ATP sebagai
donor gugus fosfat. Go = -14,2 kJ/mol.
4. Pemutusan fruktosa-1,6-bifosfat, molekul C6 menjadi dua molekul C3, yaitu
gliseraldehid-3-fosfat (aldosa) dan dihidroksiaseton fosfat (ketosa). Reaksi ini
dibantu oleh fruktosa-1,6-bifosfat aldolase (sering disebut aldolase saja). Pada
proses ini, atom C-1, C-2 dan C-3 dari fruktosa-1,6-bifosfat diturunkan
menjadi dihidroksiaseton fosfat, sedangkan C-4, C-5, dan C-6 diturunkan
menjadi gliseraldehid-3-fosfat. Go = 23,8 kJ/mol.
5. Interkonversi triosa fosfat, yaitu isomerasi antara gliseraldehid-3-fosfat dan
dihidroksiaseton fosfat, dengan bantuan triosa fosfat isomerase. Go = 7,5
kJ/mol.
II. Payoff

phase

: Pengubahan

gliseraldehid-3-fosfat

menjadi piruvat dan

pembentukan ATP, yang terdiri dari (nomor menunjukkan urutan reaksi lanjutan
dari prepatory phase) :
6. Oksidasi dan fosforilasi gliseraldehid-3-fosfat menjadi 1,3-bifosfogliserat.
Reaksi ini dibantu oleh gliseraldehid-3-fosfat dehidrogenase.

Go = 6,3

kJ/mol.
7. Transfer gugus fosfat dari 1,3-bifosfogliserat ke ADP. Reaksi ini dibantu oleh
fosfogliserat kinase yang memindahkan gugus fosfat berenergi tinggi dari
gugus karboksil 1,3-bifosfogliserat ke ADP, membentuk ATP dan 3fosfogliserat. Go = -18,5 kJ/mol.
8. Pengubahan 3- fosfogliserat menjadi 2-fosfogliserat. Reaksi ini dibantu oleh
fosfogliserat mutase, yang mengkatalisis perpindahan reversibel gugus fosfat
antara C-2 dan C-3 gliserat. Go = 4,4 kJ/mol.
9. Dehidrasi 2- fosfogliserat menjadi fosfoenolpiruvat. Reaksi ini dibantu oleh
enolase, yang mengkatalisis pemindahan reversibel molekul air dari 2fosfogliserat membentuk fosfoenolpiruvat, yang merupakan molekul berenergi
tinggi. Go = 7,5 kJ/mol.

10. Transfer gugus fosfat dari fosfoenolpiruvat ke ADP. Reaksi ini dibantu oleh
piruvat kinase, yang memindahkan gugus fosfat dari fosfoenolpiruvat ke ADP,
menghasilkan piruvat dan ATP. Pada tahap ini, piruvat bertautomerisasi dari
bentuk enol ke bentuk keto. Go = -31,4 kJ/mol.

Slide hal 14.

Perubahan Piruvat me njadi Asam Laktat


Ketika jaringan hewan tidak dapat memiliki cukup oksigen untuk oksidasi piruvat dan
NADH hasil glikolisis, NAD+ dihasilkan kembali dari NADH oleh reduksi piruvat
menjadi laktat. Proses ini dikatalisis oleh laktat dehidrogenase, yang membentuk
isomer L asam laktat. Go = -25,1 kJ/mol.

Fermentasi Alkohol
Ragi dan mikroorganisme lainnya lebih memilih melakukan fermentasi glukosa
menjadi etanol dan CO 2 daripada menjadi laktat. Glukosa diubah menjadi piruvat
dengan glikolisis, kemudian piruvat diubah menjadi etanol dan CO 2 dalam dua tahap
proses. Tahap pertama, piruvat mengalami dekarboksilasi menjadi asetaldehid dengan
reaksi irreversibel yang dikatalisis oleh piruvat dekarboksilase. Enzim ini memerlukan
Mg2+ dan tiamin pirofosfat (TPP). Tahap kedua, asetaldehid yang terbentuk direduksi
menjadi etanol dengan bantuan alkohol dehidrogenase, yang juga memerlukan
NADH.

Slide hal 15.


Tiamin pirofosfat (TPP) adalah koenzim yang merupakan turunan dari vitamin B 1 .
Peran TPP penting pada pemutusan ikatan yang berada di sebelah gugus karbonil
(misalnya dekarboksilasi asam -keto) dan pada penataan ulang kimia yang
melibatkan transfer gugus aldehid teraktivasi dari satu atom karbon ke atom karbon
yang lain. Bagian yang fungsional pada TPP adalah cincin thiazoliumnya. Proton C-2
pada cincin bersifat sangat asam, dan hilangnya proton ini membentuk karbanion
yang merupakan spesi aktif pada reaksi yang bergantung pada TPP. Karbanion ini
akan menyerang gugus karbonil sehingga cinicin thiazolium memfasilitasi reaksi

seperti dekarboksilasi yang dikatalisis piruvat dekarboksilase. Beberapa reaksi yang


menggunakan TPP sebagai kofaktor tercantum pada Slide halaman 16.

Slide hal 16.

Beberapa Enzim Kunci Pada Glikolisis


1. Hexokinase,

mengkatalisis

fosforilasi

glukosa

menjadi

glukosa-6-fosfat.

Hexokinase dikendalikan oleh regulasi level substrat. Hexokinase diinhibisi secara


alosterik oleh produknya sendiri, yaitu glukosa-6-fosfat (G6P). Ketika konsentrasi
G6P dalam sel melebihi nilai normalnya, hexokinase akan terinhibisi sementara
dan bersifat reversibel. Hal ini menyebabkan laju pembentukan G6P seimbang
dengan laju penggunaannya.
2. Fosfofruktokinase-1 (PFK-1), mengkatalisis fosforilasi fruktosa-6-fosfat (F6P)
menjadi fruktosa-1,6-bifosfat. Enzim ini dikendalikan secara alosterik oleh
fruktosa-2,6-bifosfat, AMP, ADP, dan sitrat. Ketika laju pembentukan ATP lebih
tinggi daripada penggunaanya, ATP akan menginhibisi PFK-1 dengan berikatan
dengan sisi alosterik PFK-1 dan menurunkan afinitas enzim terhadap F6P. ADP
dan AMP, yang akanmeningkat ketika konsumsi ATP lebih cepat daripada
pembentukannya, akan bekerja secara alosterik untuk melepas inhibisi oleh ATP.
Konsentrasi sitrat yang tinggi meningkatkan efek inhibisi ATP sehingga
menurunkan aliran glukosa yang melalui glikolisis. Regulator alosterik yang
paling penting adalah fruktosa-2,6-bifosfat, yang mengaktivasi enzim ini dengan
kuat. Oleh karena itu, aktivitas enzim ini diaktivasi oleh AMP, ADP, dan fruktosa2,6-bifosfat, tetapi diinhibisi oleh ATP dan sitrat.
3. Piruvat kinase, mengkatalisis transfer gugus fosfat dari fosfoenolpiruvat (PEP),
membentuk piruvat dan ATP. Enzim ini dikendalikan secara alosterik oleh ATP,
asetil-CoA, D- fruktosa-1,6-bifosfat, dan modifikasi kovalen, yang disebut
fosforilasi. Konsentrasi ATP yang tinggi akan menginhibisi dengan menurunkan
afinitas enzim terhadap substratnya (PEP). Enzim ini juga diinhibisi oleh asetilCoA dan asam lemak rantai panjang.

Slide hal 17.

Daur Asam Trikarboksilat (TCA)


Tiga tahapan respirasi adalah : pembentukan asetil-koenzimA atau asetil-CoA dari
piruvat hasil glikolisis secara aerob atau sumber lainnya; oksidasi asetil-CoA dalam
daur asam trikarboksilat atau siklus asam sitrat tempat dihasilkannya NADH, FADH 2 ,
dan GTP, yang diawali dengan bereaksinya oksaloasetat membentuk sitrat; dan
transpor elektron dan fosforilasi oksidatif.

Daur TCA
Daur TCA terdiri dari 8 reaksi yang terbagi menjadi dua fase, yaitu :
I.

Penambahan bagian dua atom karbon (asetil-CoA) kepada senyawa empat-karbon


(oksaloasetat) membentuk anion organik enam-karbon, sitrat, yang diikuti dengan
lepasnya CO 2 :
1. Pembentukan sitrat dari asetil-CoA dan oksaloasetat (kondensasi), dibantu
oleh sitrat sintetase.
2. Isomerisasi sitrat melalui dehidrasi dan hidrasi membentuk isositrat, dibantu
akonitase.
3.

Pembentukan CO 2 oleh isositrat dehidrogenase (dekarboksilasi oksidatif)


membentuk -ketoglutarat dan menghasilkan NADH.

4.

Pembentukan CO 2 (dekarboksilasi oksidatif) oleh kompleks -ketoglutarat


dehidrogenase, membentuk suksinil-CoA dan menghasilkan NADH.

II. Regenerasi oksaloasetat dari suksinil-CoA (nomor menunjukkan urutan reaksi


lanjutan dari fase pertama) :
1. Fosforilasi level substrat, dikatalisis oleh suksinil-CoA sintase, mengubah
suksinil-CoA menjadi suksinat dengan melepaskan ATP.
2. Dehidrogenasi yang bergantung pada flavin (oksidasi), dikatalisis suksinat
dehidrogenase, mengubah suksinat menjadi fumarat, dengan menghasilkan
FADH2 .
3. Hidrasi ikatan ganda karbon-karbon, dikatalisis oleh fumarat hidratase
(fumarase), yang mengubah fumarat menjadi malat.
4. Dehidrogenasi (oksidasi) yang membentuk kembali oksaloasetat dari L- malat,
dibantu oleh malat dehidrogenase, dengan menghasilkan NADH.

Slide hal 18.

Energi Bebas Hasil Reaksi TCA


Pada tabel ini ditunjukkan reaksi-reaksi pada daur TCA, enzim yang digunakan, serta
energi bebas reaksi.

Siklus Glioksilat
Siklus glioksilat adalah variasi anabolisme dari daur TCA, yang merupakan jalur
biosintesis gula dari lemak yang melewati daur TCA pada glioksisom tanaman,
dengan tujuan untuk mensintesis gula dengan lebih cepat. Pada siklus ini, asetil-CoA
bereaksi dengan oksaloasetat membentuk sitrat seperti pada daur TCA. Pemecahan
isositrat tidak terjadi melalui reaksi dehidrogenasi isositrat, tetapi melalui pemutusan
yang dikatalisis isositrat liase, membentuk suksinat dan glioksilat. Glioksilat
kemudian bereaksi dengan asetil-CoA membentuk malat dengan bantuan malat
sintetase. Malat yang terbentuk kemudian dioksidasi menjadi oksaloasetat, yang dapat
bereaksi dengan molekul asetil-CoA lainnya untuk memulai siklus baru berikutnya.

Slide hal 19.

Sistem Transport Elektron dan Fosforilasi Oksidatif


Sistem transpor elektron terdiri dari serangkaian reaksi reduksi dan oksidasi (redoks)
yang saling berhubungan. Dari reaksi redoks ini dapat dihitung energi bebas yang
tersedia dari suatu reaksi redoks, untuk mengetahui mekanisme pembentukan energi
metabolisme dari reaksi- reaksi redoks yang terjadi.

Sistem transpor elektron ini terjadi pada membran bagian dalam mitokondria, yang
terdiri dari beberapa kompleks protein, dengan aliran elektron/rantai respirasi sebagai
berikut :
1. Kompleks I, disebut pula kompleks NADH dehidrogenase yang mengkatalisis
reaksi NADH menjadi ubikuinon.
2. Kompleks II, disebut pula kompleks suksinat dehidrogenase yang mengkatalisis
reaksi suksinat menjadi ubikuinon.
3. Koenzim Q, merupakan lipid pembawa elektron.

4. Kompleks III, disebut pula kompleks sitokrom bc1 atau ubikuinon-sitokrom c


oksidoreduktase, yang mengkatalisis reaksi ubikuinon ke sitokrom c.
5. Sitokrom c, merupakan protein pembawa elektron.
6. Kompleks IV, disebut pula kompleks sitokrom oksidase yang mengkatalisis
reduksi O 2 .
7. Kompleks V, disebut pula kompleks ATP sintetase, tempat terjadinya perpindahan
proton dari ruang antar membran menuju matriks.

Fosforilasi oksidatif merupakan proses sitesis ATP yang didorong oleh transfer
elektron ke O 2 . Rasio P/O merupakan ukuran efisiensi proses fosforilasi oksidatif,
dengan menentukan energi yang ditangkap dalam bentuk ATP sebagai bagian dari
total energi yang dilepaskan pada oksidasi suatu substrat. Pengukuran ini
dimungkinkan ketika kita dapat mengukur jumlah ATP yang disintesis per mol
substrat yang dioksidasi. Yang diukur sebenarnya adalah rasio P/O, yaitu jumlah
molekul ATP yang disintesis per pasang elektron yang dibawa melalui tranpor
elektron.

PUSTAKA
Lehninger, A.L., Nelson, D.L., and Cox, M.M. (1993), Principles of Biochemistry, 2nd
edition, Worth Publisher, Inc., New York.
Mathews, C.K., van Holde, K.E., and Ahern, K.G. (2000), Biochemistry, 3rd edition,
Addison-Wesley Publishing Company, San Francisco.