Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH KONSENTRASI Na2SO3 TERHADAP HOLD UP GAS (),

LAJU SIRKULASI (vL), DAN KOEFISIEN TRANSFER MASSA GASCAIR (KLa) PADA HIDRODINAMIKA REAKTOR
Efraim Ade Novian Ginting, Eko Nur Widodo, dan Louise Claudia Marpaung
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Jln. Prof. Soedarto, SH., Semarang 50239, Telp./Fax. 0274-7460058
Abstrak
Reaktor merupakan alat tempat terjadinya reaksi kimia untuk mengubah bahan baku menjadi
produk. Pada perancangan reaktor, fenomena hidrodinamika yang meliputi hold up gas dan laju
sirkulasi cairan merupakan faktor penting yang berkaitan dengan laju perpindahan massa. Tujuan
percobaan ini akan mempelajari hidrodinamika pada reaktor air-lift terutama pengaruh konsentrasi
Na2SO3 terhadap hold up gas (), laju sirkulasi (vL) dan koefisien transfer massa gas-cair (KLa).
Hidrodinamika reaktor meliputi hold up gas dan laju sirkulasi cairan disperse dalam fase tersebut.
Variabel tetap dalam percobaan ini yaitu hc=91,5 cm, Na2S2O3.5H2O 0,1 N dan laju alir gas masuk 6
ml/detik. Sedangkan variabel berubahnya yaitu Na2SO3 0,035 N, 0,045 N, 0,05 N. Metode yang
digunakan ialah metode sulfit, dengan langkah menentukan hold up gas () pada riser dan downcomer,
KLa, dan vL. Hasil percobaan menunjukkan nilai hold up gas semakin tinggi dengan meningkatnya
konsentrasi dikarenakan semakin meningkatnya konsentrasi Na2SO3 maka nilai densitas dalam larutan
semakin bertambah dan viskositas menurun. Semakin besar nilai dari konsentrasi Na2SO3 maka harga
laju sirkulasi menurun karena mol terlarut O2 semakin banyak menyebabkan densitas cairan
meningkat. Semakin besar nilai laju alir maka harga KLa akan semakin bertambah karena semakin
banyak mol O2 yang bereaksi.
Kata kunci: hidrodinamika reaktor; konsentrasi Na2SO3; hold up gas; laju sirkulasi; KLa; reaktor airlift
Abstract
Reactor is a place which chemical reactions occur to convert raw materials into product. To
design a reactor, hydrodynamics phenomena, which include hold up gas and liquid circulation rate,
are important factors related to mass flow rate. The aim of the experiment is to learn hydrodynamics
of an air-lift reactor, especially the Na2SO3 concentrations that affects hold up gas (), circulation rate
(vL) and gas-liquid mass transfer coefficient (KLa). The fixed variables are: hliquid= 91,5 cm,
Na2S2O3.5H2O 0,1N and gas input rate 6 liter/minute. The changing variables are: Na2SO3 0,035N,
0,045N, and 0,05N. The kind of method used is sulfite method, with steps: decide hold up gas () in
riser and downcomer, KLa, and vL. The results show that the number of gas hold up increase with the
increase of concentration, because if the Na2SO3 concentration increase so the fluid density will
increase too and the viscocity is decrease. As the Na2SO3 concentration increase then the number of
circulation flow is decrease because the dissolve mole of O2 more higher and make the density increase.
If the flow velocity more higher then the number of KLa will increase too because there are more mole
of O2 which is reacting.
Keywords: reactor hydrodynamics; Na2SO3 concentrations; hold up gas; circulation rate; KLa; air-lift
reactor

1. Pendahuluan
Reaktor adalah suatu alat tempat
terjadinya suatu reaksi kimia untuk
mengubah suatu bahan menjadi bahan lain
yang mempunyai nilai ekonomis lebih

tinggi. Reaktor Air-lift adalah reaktor yang


berbentuk kolom dengan sirkulasi aliran.
Kolom berisi cairan atau slurry yang terbagi
menjadi 2 bagian yaitu riser dan
downcomer. Riser adalah bagian kolom
yang selalu disemprotkan gas dan

mempunyai aliran ke atas. Sedangkan


downcomer adalah daerah yang tidak
disemprotkan gas dan mempunyai aliran ke
bawah. Pada zona downcomer atau riser
memungkinkan terdapat plate penyaringan
pada dinding, terdapat satu atau dua buah
baffle. Jadi banyak sekali kemungkinan
bentuk reaktor dengan keuntungan
penggunaan dan tujuan yang berbeda-beda
(Widayat, 2004). Secara umum reaktor airlift dikelompokkan menjadi 2, yaitu reaktor
airlift dengan internal loop dan eksternal
loop (Christi, 1989; William, 2002).

mempengaruhi luas permukaan gas cair


yang diperlukan untuk perpindahan massa.
Hold up gas tergantung pada kecepatan
kenaikan gelembung, luas gelembung dan
pola aliran. Inverted manometer adalah
manometer yang digunakan untuk
mengetahui beda tinggi cairan akibat aliran
gas, yang selanjutnya dipakai pada
perhitungan hold up gas () pada riser dan
downcomer. Besarnya hold up gas pada
riser dan down comer dapat dihitung
dengan persamaan :
....(2)
....(3)

Internal loop

Eksternal loop

dimana :
r
d
L
g

Gambar 1. Tipe Reaktor Air-lift

Di dalam perancangan bioreaktor,


faktor yang sangat berpengaruh adalah
hidrodinamika reaktor, transfer massa gascair, rheologi proses, dan morfologi
produktifitas organisme. Hidrodinamika
reaktor meliputi hold up gas (fraksi gas saat
penghamburan) dan laju sirkulasi cairan.
Kecepatan sirkulasi cairan dikontrol oleh
hold up gas, sedangkan hold up gas
dipengaruhi oleh kecepatan kenaikan
gelembung. Sirkulasi juga mempengaruhi
turbulensi, koefisien perpindahan massa
dan panas serta tenaga yang dihasilkan.
Hold up gas atau fraksi kekosongan gas
adalah fraksi volume fase gas pada disperse
gas-cair atau slurry. Hold up gas
keseluruhan ().
.......(1)

dimana : : hold up gas


V : volume gas (cc/s)
VL : volume cairan (cc/s)
Hold up gas digunakan untuk
menentukan waktu tinggal gas dalam
cairan. Hold up gas dan ukuran gelembung

: hold up gas
: hold up gas riser
: hold up gas down comer
: densitas cairan (gr/cc)
: densitas gas (gr/cc)
: perbedaan tinggi manometer
...riser (cm)
: .perbedaan tinggi manometer
...downcomer (cm)
: perbedaan antara taps
.....tekanan (cm)

Hubungan antara hold up gas riser


(r) dan donwcomer (d) dapat dinyatakan
dengan persamaan (4) :
.....(4)
dimana : Ar : luas bidang zona riser (cm2)
Ad : luas bidang zona downcomer (cm2)
Sirkulasi cairan dalam reaktor air
lift disebabkan oleh perbedaan hold up gas
riser dan downcomer. Sirkulasi fluida ini
dapat dilihat dari perubahan fluida, yaitu
naiknya aliran fluida pada riser dan
menurunnya aliran pada downcomer.
Besarnya laju sirkulasi cairan pada
downcomer (ULd) ditunjukkan oleh
persamaan (5) dan laju sirkulasi cairan pada
riser ditunjukan oleh persamaan (6) :
....(5)

dimana : ULd : laju sirkulasi cairan pada


...downcomer.(cm/s)
Lc : panjang lintasan dalam
...reaktor (cm)
tc
: waktu (s)
Dikarenakan tinggi dan volumetrik
aliran liquid pada riser dan downcomer
sama, maka hubungan antara laju aliran
cairan pada riser dan downcomer yaitu :
ULr.Ar = ULd.Ad

....(6)

Luas kontak adalah parameter


gelembung yang tidak bisa ditetapkan. Di
sisi lain koefisien transfer massa pada
kenyataannya merupakan faktor yang
proposional antara fluks massa dan substrat
(atau bahan kimia yang ditransfer), Ns, dan
gradient yang mempengaruhi fenomena
beda konsentrasi. Hal ini dapat dirumuskan
dengan persamaan (8) :
N = KLa (C1-C2)

....(8)

Dimana : ULr : laju sirkulasi cairan riser


....(cm/s)
ULd : laju sirkulasi cairan
....downcomer (cm/s)
Ar
: ..luas bidang zona riser (cm2)

dimana:N : fluks massa


KLa : koefisien transfer massa gas...........cair (l/detik)
C1 : konsentrasi O2 masuk (gr/L)
C2 : konsentasi O2 keluar (gr/L)

Waktu tinggal tld dan tlr dari


sirkulasi liquid pada downcomer dan riser
tergantung pada hold up gas seperti
ditunjukan pada persamaan berikut :

Untuk perpindahan massa oksigen


ke dalam cairan dapat dirumuskan sebagai
kinetika proses, seperti di dalam persamaan
(9) :
...(9)

.....(7)

dimana : C : konsentrasi udara (gr/L)


dimana: tlr
:.waktu tinggal sirkulasi
...........................liquid pada riser (s)
tld
:.waktu tinggal sirkulasi
...........................liquid pada downcomer (s)
Ar
: luas bidang zona riser (cm2)
Ad
: luas bidang zona downcomer
..........................(cm2)
r
: hold up gas riser
d
: hold up gas downcomer
Perpindahan massa antar fase gascair terjadi karena adanya beda konsentrasi
antara kedua fase. Perpindahan massa yang
terjadi yaitu oksigen dari fase gas ke fase
cair. Kecepatan perpindahan massa ini
dapat ditentukan dengan koefisien
perpindahan massa (KLa). Terdapat 2 istilah
tentang
koefisien
transfer
massa
volumetrik, yaitu:
1. Koefisien transfer massa KLa, dimana
tergantung pada sifat fisik dari cairan
dan dinamika fluida yang dekat
dengan permukaan cairan.
2. Luas dari gelembung per unit volume
dari reaktor.

Koefisien perpindahan gas-cair


merupakan fungsi dari laju alir udara atau
kecepatan superfitial gas, viskositas, dan
luas area riser dan downcomer atau
geometrik alat. Pengukuran konstanta
perpindahan
massa
gas-cair
dapat
dilakukan dengan metode sulfit. Metode ini
berdasarkan pada reaksi reduksi natrium
sulfit. Mekanisme reaksi yang terjadi :
Reaksi dalam reaktor : Na2SO3 + 0,5 O2
Na2SO4 + Na2SO3 (sisa)
Reaksi saat analisa : Na2SO3 (sisa) + KI
+ KIO3 Na2SO4 + 2KIO2 + I2 (sisa)
I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Mol Na2SO3 mula-mula (a)

.........
Mol I2 excess (b)

berubahnya adalah konsentrasi Na2SO3


masing-masing 0,035 N, 0,045 N, 0,05 N.

Mol Na2SO3 sisa (c)


..................=

N Na2 S2 O3
eq

x v Na2 S2 O3

Mol O2 yang bereaksi (d)


......
O2 yang masuk reaktor (e)

Koefisien transfer massa gas-cair (KLa)

Berikut ini beberapa proses yang


dasar dalam perancangan dan operasinya
menggunakan
prinsip
hidrodinamika
reaktor :
1. Bubble Column Reactor
Contoh aplikasi bubble column reactor
antara lain :
a. Absorbsi polutan dengan zat tertentu
(misal CO2 dengan KOH).
b. Untuk bioreactor.
2. Air-lift Reactor.
Contoh aplikasi air-lift reactor antara
lain :
a. Proses produksi laktase (enzim
lignin
analitik
yang
dapat
mendegradasi
lignin)
dengan
mikroba.
b. Proses produksi glukan (polisakarida
yang tersusun dari monomer
glukosa dengan ikatan 1,3 yang
digunakan sebagai bahan baku obat
kanker dan tumor) menggunakan
mikroba.
c. Water treatment pada pengolahan air
minum.
d. Pengolahan limbah biologis.

Langkah pertama yaitu menentukan


hold-up pada riser dan downcomer.
Pertama, mengisi reaktor dengan air hingga
80 cm. Kedua, menambahkan Na2SO3
0,035 N ke dalam reaktor, ditunggu 5 menit
agar larutan Na2SO3 larut dalam air dan isi
reaktor samapi ketinggian 91,5 cm. Ketiga,
melihat ketinggian inverted manometer.
Setelah
itu,
hidupkan
kompressor
kemudian melihat ketinggian inverted
manometer setelah kompresor dihidupkan.
Ambil sampel untuk titrasi dan menghitung
densitasnya serta menghitung besarnya
hold up gas. Langkah kedua yaitu
menentukan konstanta perpindahan massa
gas-cair.
Pertama,
mengambil
sampel
sebanyak 10 ml. Lalu, menambahkan KI
sebanyak 5 ml ke dalam sampel. Lalu,
menitrasi dengan Na2SO3.5H2O 0,1 N
sampai terjadi perubahan warna dari coklat
tua
menjadi
kuning
jernih
dan
menambahkan 3 tetes amilum. Lalu,
menitrasi sampel kembali dengan larutan
Na2SO3.5H2O 0,1 N hingga warna putih
keruh. Lalu mencatat volume titran, dan
mengulangi untuk mendapatkan volume
titran tiap 5 menit hingga konstan. Langkah
ketiga yaitu, menentukan kecepatan
sirkulasi.
Dengan cara mengisi reaktor
dengan air dan Na2SO3 0,035 N. Lalu
menghidupkan kompresor. Setelah itu
memasukkan zat warna pada reaktor
downcomer. Setelah itu, mengukur waktu
yang dibutuhkan oleh cairan dengan
indikator zat warna tertentu untuk mencapai
lintasan yang telah digunakan. Terakhir,
menghitung besarnya kecepatan sirkulasi.

2. Metode Penelitian

3. Hasil dan Pembahasan


Pengaruh konsentrasi Na2SO3 terhadap
hold-up gas

Pada percobaan ini variabel tetap


adalah tinggi cairan 91,5 cm, konsentrasi
Na2S2O3.5H2O 0,1 N dan laju alir gas
masuk 6 liter/menit. Sedangkan variabel

Dalam pembahasan pertama ini


akan disajikan data berupa grafik tentang
pengaruh konsentrasi Na2SO3 terhadap
hold-up gas seperti di bawah ini :

Gambar 2. Pengaruh konsentrasi Na2SO3


terhadap hold up gas
Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa
hold up gas naik sebanding dengan
meningkatnya konsentrasi Na2SO3. Hal ini
dikarenakan semakin besar konsentrasi
Na2SO3 maka densitas cairan dalam reaktor
semakin tinggi pula. . Hal tersebut sesuai
dengan persamaan :

1000
=

Jika konsentrasi Na2SO3 diperbesar,


maka densitas cairan akan meningkat. Hal
ini menyebabkan nilai hold up gas (), baik
riser maupun downcomer akan
membesar. Hal tersebut dapat diterangkan
melalui persamaan (2) dan (3) dimana
besarnya hold-up gas sebanding dengan
densitas :
....(2)
....(3)
....(4)
Sedangkan besarnya hold up gas
total sebanding dengan hold up gas riser
maupun downcomer. Dari data percobaan
juga didapatkan riser selalu lebih besar
dari downcomer. Hal tersebut
dikarenakan h riser lebih besar dari pada
h pada downcomer akibat dari masuknya
gas melalui bagian riser. Gas masuk melalui
nozzle yang ada pada bagian riser, nozzle
tersebut menghamburkan gelembung udara
ke dalam cairan sehingga ketinggian air
meningkat dan ketika gelembung mencapai

permukaan cairan gelembung tersebut akan


terlepas ke udara tanpa melalui bagian
downcomer.
Semakin besar densitas akan
mengakibatkan besaran hold up gas
membesar (persamaan 2 & 3). Semakin
viskous cairannya maka semakin sulit
udara/gas yang akan masuk ke cairan,
sehingga daya yang digunakan gas untuk
menembus cairan akan semakin besar
karena besarnya gaya gesek antara lapisan
gas dan cairannya. Hal ini menyebabkan
fraksi udara dalam cairan berkurang,
sehingga besarnya hold up gas menurun
dengan adanya peningkatan viskositas
(Haryani & Widayat, 2011).
Pengaruh konsentrasi Na2SO3 terhadap
Laju Sirkulasi

Gambar 3. Pengaruh konsentrasi Na2SO3


terhadap laju sirkulasi
Berdasarkan gambar di atas dapat
disimpulkan bahwa secara umum semakin
besar konsentrasi Na2SO3 maka laju
sirkulasinya semakin meningkat. Hal ini
dikarenakan semakin besar konsentrasi
Na2SO3 maka densitas juga besar dan
mengakibatkan viskositasnya menurun.
Akibatnya fluida mengalir dengan gaya
gesek yang cukup kecil sehingga
didapatkan waktu untuk melewati batas
ukur dengan waktu yang lebih cepat. Akan
tetapi terdapat penyimpangan pada
konsentrasi Na2SO3 0,05 N. Fenomena ini
dapat dijelaskan melalui persamaan
berikut:
0,853

KLa = 4,561 x 10-4 (Jg)0,206(1 + )


0,425

Dapat dilihat bahwa laju alir


berbanding terbalik dengan viskositas
sehingga semakin tinggi viskositas maka
laju aliran udara semakin kecil, akibatnya
gaya dorong untuk transfer massa tertentu
juga kecil sehingga laju sirkulasi menurun.
Penurunan viskositas akibat naiknya
konsentrasi Na2SO3 akan menyebabkan
menurunnya laju sirkulasi cairan dan
penurunannya merupakan penurunan yang
linier.

Pengaruh Konsentrasi Na2SO3 terhadap


KLa

Pada kondisi ini fraksi gas dalam


cairan cukup banyak, sehingga akan
menghambat laju pewarna yang dijadikan
indikator sehingga tercatat waktu yang
dibutuhkan lebih banyak, sehingga
didapatkan laju sirkulasi yang lebih kecil
(Haryani & Widayat, 2011).

Gambar 4. Pengaruh konsentrasi Na2SO3


terhadap KLa

Dari grafik juga dapat dilihat bahwa


laju sirkulasi downcomer lebih besar dari
laju sirkulasi riser. Hal ini karena laju
sirkulasi berbanding terbalik dengan luas
area, seperti pada persamaan (5&6) berikut:
ULr . Ar = ULd . Ad
ULr = ULd x

Dari gambar di atas dapat dilihat


bahwa nilai KLa berbanding lurus dengan
konsentrasi Na2SO3. Hal ini dikarenakan
semakin besar konsentrasi Na2SO3 maka
laju alir udara semakin rendah, sehingga
banyak oksigen yang tertahan dan berada di
medium sehingga proses perpindahan
massa oksigen berlangsung cepat karena
perbedaan konsentrasi oksigen yang besar.
Di sisi lain jumlah oksigen untuk bereaksi
dengan Na2SO3 cukup banyak, dengan
reaksi seperti di bawah ini :

Ad
Ar

Setelah diketahui laju alir sirkulasi


riser dan downcomer maka dapat
dihubungkan
dengan
persamaan
kontinuitas, seperti di bawah ini :
A1 x v1 = A2 x v2
Pada reaktor airlift ini digunakan
luas area downcomer (Ad) sebesar 91 cm2
sedangkan riser 109,2 cm2. Melalui
persamaan (8) dapat diketahui bahwa jika
untuk mencari laju sirkulasi riser digunakan
pembagi yaitu luas riser, jadi karena luas
riser lebih besar maka didapatkan laju
sirkulasi riser lebih kecil dari laju sirkulasi
downcomer (Haryani & Widayat, 2011).

Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)


Na2SO3(sisa) + KI + KIO3 Na2SO4 +
2KIO2 + I2(sisa)
I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Semakin besar konsentrasi Na2SO3
maka mol awal Na2SO3 juga semakin besar.
Sedangkan untuk mencari mol Na2SO3 sisa
adalah melalui persamaan berikut :
Mol Na2SO3 sisa = I2 ekses 0,5(mol
Na2SO3 awal)
Dari persamaan di atas dapat
disimpulkan bahwa semakin besar mol
awal Na2SO3 maka mol Na2SO3 sisa
semakin kecil. Jumlah gas oksigen yang
masuk reaktor dapat dihitung melalui
jumlah oksigen yang bereaksi pada
persamaan di atas dengan persamaan :
Mol O2 yang bereaksi = 0,5 (mol Na2SO3
awal mol Na2SO3 sisa)

Mol O2 yang masuk reaktor =


2 2
60

Dengan mol Na2SO3 sisa yang


bernilai kecil maka mol oksigen yang
masuk dan bereaksi dalam reaktor semakin
besar. Besaran KLa sangat ditentukan oleh
banyaknya gas O2 dalam rekator seperti
dalam persamaan di bawah ini :
KLa =

dipengaruhi oleh mol O2 yang masuk


reaktor seperti dijelaskan pada persamaan
berikut:
KLa =

2
0,008

Dan mol O2 yang masuk reaktor


sangat dipengaruhi oleh mol O2 yang
bereaksi seperti dijelaskan pada persamaan
berikut :

Mol O2 yang masuk reaktor =

0,08

2 2
60

Dari persamaan di atas dapat


diketahui semakin banayak O2 yang ada
dalam reaktor maka KLa semakin besar.
Akibatnya laju perpindahan oksigen yang
berada dalam reaktor berlangsung cepat,
sehingga transfer massa air-gas semakin
besar. Oleh karena itu nilai koefisien
transfer massa air-gas semakin besar
(Widayat, 2011).
Hubungan Waktu terhadap KLa

Gambar 5. Hubungan waktu terhadap KLa


Dari gambar di atas dapat dilihat
bahwa semakin lama waktu nilai KLa
semakin kecil. Reaksi yang terjadi adalah :
Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)
Na2SO3(sisa) + KI + KIO3 Na2SO4 +
2KIO2 + I2(sisa)
I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Semakin lama waktu reaksi maka
semakin sedikit Na2SO3 yang bereaksi
dengan O2, karena reaktan yang telah jenuh
dengan gas, sedangkan KLa sangat

Semakin lama waktu maka jumlah


O2 yang bereaksi ssemakin sedikit karena
reaktan yang semakin jenuh dengan gas.
Hal ini mengakibatkan jumlah mol O2 yang
bereaksi semakin menurun sehingga mol O2
yang ada dalam reaktor berkurang dan
menyebabkan KLa semakin kecil.
Pada waktu yang sama (t = 5 menit)
diperoleh nilai KLa sebagai berikut :
Variabel I (Na2SO3 0,035 N) sebesar 1,808
L/s , Variabel II (Na2SO3 0,045 N) sebesar
2,324 L/s dan untuk Variabel III (Na2SO3
0,05 N) sebesar 2,583 L/s. Semakin besar
konsentrasi Na2SO3 maka semakin besar
pula nilai KLa, hal ini dikarenakan semakin
besar konsentrasi Na2SO3 maka semakin
besar pula mol Na2SO3 awal dan mol
Na2SO3 sisa semakin kecil. Dengan mol
Na2SO3 sisa yang kecil maka mol O2 yang
bereaksi dan masuk reaktor akan semakin
besar sehingga nilai KLa akan semakin besar
(Widayat,. dkk, 2011).
4. Kesimpulan
Pada
percobaan
ini
dapat
disimpulkan bahwa Semakin besar
konsentrasi Na2SO3 maka hold up gas akan
semakin meningkat. Semakin besar
konsentrasi Na2SO3 maka laju sirkulasi
dalam kolom riser maupun downcomer
akan semakin tinggi. Semakin besar
konsentrasi Na2SO3 maka koefisien transfer
massa gas-cair semakin besar. Semakin
lama waktu reaksi, maka KLa semakin
menurun karena jumlah O2 yang bereaksi

berkurang akibat reaktan yang semakin


jenuh oleh gas.
DAFTAR PUSTAKA
Christi, M. Y., 1989, Air-lift Bioreactor,
El Sevier Applied Science, London.
Christi Yusuf, Fu Wengen dan Murray Moo
Young. 1994. Relationship Between
Riser and Downcomer Gas HoldUp In Internal-Loop Airlift Reactors
Without Gas-Liquid Separator. The
Chemical Engineering Journal,57
(1995) B7-B13. Canada
Haryani dan Widayat. 2011. Pengaruh
Viskositas dan Laju Alir terhadap
Hidrodinamika dan Perpindahan
Massa dalam Proses Produksi
Asam Sitrat dengan Bioreaktor AirLift dan Kapang Aspergillus Niger.
Jurnal Reaktor Vol. 13. Jurusan
Teknik
Kimia
Universitas
Diponegoro (diakses tanggal 23
Maret 2014)
Popovic, M.K. and Robinson, C.W., (1989).
Mass Transfer Stuy of External
Loop Airlift and a Buble Column.
AICheJ., 35(3), pp. 393-405
William, J. A. 2002. Keys To Bioreactor
Selections. Chem. Eng. Prog., hal
3441