Anda di halaman 1dari 4

Jurnal Sains Materi Indonesia

Indonesian Journal of Materials Science

Vol. 10, No. 3, Juni 2009, hal : 284 - 287


ISSN : 1411-1098
Akreditasi LIPI Nomor : 536/D/2007
Tanggal 26 Juni 2007

PENGARUH PENCAMPURAN BATUBARA MUDA DARI


SUMATERA SELATAN DAN KALIMANTAN SELATAN
TERHADAP SUHU PEMBAKARANNYA DENGAN
MENGGUNAKAN FIXED BED COMBUSTOR
Nukman
Jurusan Teknik Mesin, FT - UNSRI
Jalan Raya Prabumulih km 32, Inderalaya (30662)
e-mail : ir_nukman2001@yahoo.com

ABSTRAK
PENGARUH PENCAMPURAN BATUBARA MUDA DARI SUMATERA SELATAN DAN
KALIMANTAN SELATAN TERHADAP SUHU PEMBAKARANNYA DENGAN MENGGUNAKAN
FIXED BED COMBUSTOR. Salah satu cara meningkatkan kualitas batubara adalah dengan menggunakan
teknologi blending yaitu mencampurkan dua atau lebih jenis batubara yang berbeda kualitas, dengan perbandingan
tertentu sehingga didapatkan hasil blending atau pencampuran yang sesuai dengan permintaan pasar. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pencampuran batubara berkualitas rendah dari dua propinsi yang
berbeda di Indonesia, agar didapat batubara yang mempunyai kualitas baru. Pengujian yang dilakukan mencakup
analisa proksimat, analisa ultimat, analisa nilai kalor dan sulfur serta pengujian dengan tungku pembakaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran 75 % Sub Bituminous Bukit Asam (SBA Sumatera Selatan)
dengan 25 % Sub Bituminous Sungai Danau (SBK Kalimantan Selatan) dapat menghasilkan nilai kalori
6.944,1 kal/g dan suhu pembakaran sebesar 345 oC.
Kata kunci : Batubara sub bituminous, Pencampuran, Fixed Bed Combustor

ABSTRACT
BLENDING INFLUENCE OF SOUTH SUMATERA AND SOUTH KALIMANTAN COALS TO
COMBUSTION TEMPERATURE USING FIXED BED COMBUSTOR (FBC). One of coals manufacturing
is by using blending technology in which two or more coals in different quality are blended with certain
composition to get the blending or mixing result depend on market demand. Therefore the research to know
how far the influence of coal blending from two provinces in Indonesia with the low quality to get the new
quality has to be done. The examination covered the analysis of proximate, ultimate, calorie value, and sulphuric
as well as observation of the combustion using fixed bed combustor. The research result show that blending
75 % Bukit Asam (SBA Sumatera Selatan) Sub Bituminous with 25 % Sungai Danau (SBK-Kalimantan Selatan)
Sub-Bituminous produce calorific value of 6.944.1 kal/g and have a combustion temperature of 345 oC.
Key words : Sub-Bituminous coal, Blending, Fixed Bed Combustor

PENDAHULUAN
Krisis energi bahan bakar minyak di dunia
berdampak pada tingginya harga jual bahan bakar minyak
termasuk minyak tanah di Indonesia. Minyak tanah yang
selama ini disubsidi menjadi beban yang sangat berat
bagi Pemerintah Indonesia karena nilai subsidinya
meningkat pesat akibat pemakaian yang lebih kurang 10
juta kilo liter pertahun. Kebijakan pemerintah untuk
mengurangi subsidi harga minyak tanah dicoba
diantisipasi dengan mencari bahan bakar alternatif yang
murah dan mudah didapat [1].
Batubara merupakan salah satu pilihan dari bahan
bakar alternatif pengganti minyak tanah, karena lebih
284

murah dan memungkinkan untuk dikembangkan secara


massal. Akan tetapi batubara yang telah berhasil
dieksplorasipun masih mempunyai kendala dalam
penggunaannya, yaitu ketidakseragaman kualitas yang
dimiliki oleh setiap batubara tersebut, dalam arti bahwa
batubara mempunyai tingkatan kualitas yang berbedabeda yang menyebabkan hasil pembakarannyapun
menjadi tidak seragam. Hal inilah yang menjadi
pertimbangan banyak orang dalam penggunaannya.
Namun sekarang ini telah banyak dikembangkan metode
pencampuran (blending) batubara guna mendapatkan
batubara yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Pengaruh Pencampuran Batubara dari Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan Terhadap Suhu Pembakarannya dengan
Menggunakan Fixed Bed Combustor (Nukman)

Dalam pemanfaatan batubara, terdapat empat


faktor utama yang perlu diperhatikan yaitu : layak secara
teknis, dimana karakteristik batubara harus sesuai dengan
persyaratan teknis yang diinginkan dalam aplikasinya,
tidak merusak lingkungan, layak secara ekonomis
dan dapat diterima oleh masyarakat [2]. Faktor-faktor
di atas perlu dikaji lebih lanjut dalam proses pencampuran
batubara ini.
Pencampuran disebut juga blending adalah
proses pencampuran antara dua jenis batubara atau lebih
dengan proporsi perbandingan dan metode tertentu.
Dalam industri penambangan, pencampuran bertujuan
untuk memenuhi standar kualitas yang sesuai dengan
permintaan konsumen. Dalam pelaksanaan pencampuran
harus mengikuti hasil perhitungan secara teoritis yang
telah didukung oleh analisis skala laboratorium agar
didapat kualitas batubara yang diharapkan. Prinsip kerja
pencampuran adalah mencampur dua jenis batubara atau
lebih yang berbeda kualitas dengan proporsi
perbandingan yang telah ditentukan, hasil pencampuran
harus benar-benar homogen (tercampur rata) agar
didapat hasil perhitungan yang akurat.
Penelitian pencampuran batubara Amerika antara
low grade anthracite dengan bituminous telah
dilakukan oleh Sarma V Pisupati [3]. Pencampuran dua
jenis batubara berbeda kualitas ini menghasilkan suatu
karakteristik pembakaran yang berbeda dibandingkan
dengan batubara tanpa pencampuran. Sementara
itu penelitian dengan lima jenis batubara di Chile
dari lima sumber yang berbeda telah dilakukan oleh Hele
Sonia [4]. Pencampuran silang antara kelima jenis
batubara tersebut dengan kualitas yang berbeda
menghasilkan kondisi proporsional dan membentuk garis
linier untuk analisis proksimat dan ultimat. Namun terjadi
perbedaan yang cukup signifikan pada pengamatan
kadar hidrogen.
Mengingat pemakaian jenis batubara antara satu
peralatan (misalnya ketel uap pada Pembangkit Listrik
Tenaga Uap) dengan yang lainnya dalam hal spesifikasi
bahan bakar (yang bergantung pada disain awal
peralatan dibuat), maka dengan cara teknologi blending
ini diharapkan didapat suatu jenis batubara yang
setidaknya bisa memenuhi disain awal peralatan.
Penelitian ini memberikan informasi terjadinya
peningkatan kualitas batubara hasil pencampuran dua
batubara kualitas rendah dari Bukit Asam (Sumatera
Selatan) dan Kalimantan Selatan. Peningkatan kualitas
ditunjukkan dari hasil analisis ultimat, proksimat, nilai
kalori dan perbedaan karakteristik pembakaran akibat
pencampuran.

METODE PERCOBAAN
Preparasi Sampel Batubara
Batubara yang digunakan dalam penelitian ini
adalah batubara jenis Sub Bituminous, yang diambil dari

Bukit Asam (SBA) dan Kalimantan Selatan (SBK).


Persiapan contohan dilakukan di PT. Tambang Bukit
Asam unit Dermaga Kertapati Palembang yang berupa
penghancuran bongkahan batubara hingga mencapai
ukuran 0,212 mm.

Pencampuran (Blending)
Setelah kedua sampel selesai di preparasi maka
selanjutnya adalah mencampurkan kedua sampel dengan
berbagai variasi perbandingan persen berat.

Analisis dan Pengujian


Dalam menentukan sifat-sifat batubara ada
beberapa analisis yang berhubungan dengan komposisi
batubara. Analisis dan pengujian serbuk batubara lebih
ditekankan pada pungukuran kadar karbon padat, kadar
zat terbang, kadar abu, kadar sulfur dan nilai kalori.

Analisis Proksimat (Proximate analysis) dan Nilai


Kalori (Calorific Value)
Analisis proksimat dilakukan dengan metode
titrasi di laboratorium batubara PT. Tambang Batubara
Bukit Asam (Persero) unit Dermaga Kertapati Palembang,
meliputi kadar air lembab, kadar abu, kadar zat terbang
(volatile matter) dan kadar karbon padat, serta pengujian
nilai kalori dengan memakai bomb calorimeter. Metode
yang digunakan berdasarkan ASTM.

Analisis Ultimat (Ultimate Analysis)


Analisis ultimat untuk menentukan kadar karbon
(C), hidrogen (H), nitrogen (N) menggunakan alat CHN
LECO 2000 dengan teknik infra merah (IR) dan analisis
sulfur (S) memakai LECO S-144 dengan teknik infra
merah (IR). Analisis ini dilakukan di salah satu
laboratorium Tekmira (Pusat Penelitian Teknologi
Mineral), Bandung.

Pengujian dengan Sistem Pembakar UnggunTetap


(Fixed Bed Combustor)
Pembakaran adalah reaksi bahan bakar dengan
oksigen dari udara yang berlangsung cepat dan banyak
mengeluarkan panas dan dapat disertai peristiwa
timbulnya cahaya (api). Pembakaran spontan adalah
pembakaran dimana material mengalami oksidasi
perlahan-lahan sehingga kalor yang dihasilkan tidak
dilepaskan, akan tetapi dipakai untuk menaikkan suhu
material secara pelan-pelan sampai mencapai suhu nyala.
Untuk memperlancar proses pembakaran harus terjadi
sirkulasi udara ke dalam ruang pembakaran.
Untuk pengujian ini digunakan suatu tungku
bakar FBC yang sudah didisain khusus untuk membakar
285

Jurnal Sains Materi Indonesia


Indonesian Journal of Materials Science

Vol. 10, No. 3, Juni 2009, hal : 284 - 287


ISSN : 1411-1098

batubara dan sumber udara utama didapat dari


satu blower. Tujuan analisis ini adalah untuk
mengetahui suhu yang terjadi pada saat proses
pembakaran batubara. Pengukuran dilakukan pada
tiga titik tertentu berada di sekeliling tungku berjarak
15 cm dari atas hamparan batubara yang dibakar.
Untuk mengukur suhu tersebut digunakan termokopel
mini digital, merk Krisbow dengan seri KW 06-277.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Analisis Proksimat dan Ultimat serta
Nilai Kalori
Dari pengujian material batubara maka didapat
hasil seperti Tabel 1. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa
untuk kadar zat air dengan persen pencampuran, telah
terjadi penurunan secara proporsional. Sedangkan untuk
persentase zat terbang terjadi kenaikan untuk
perbandingan 75 % SBA dengan 25 % SBK dan
kemudian menurun untuk 50 : 50 dan 25 : 75. Sedangkan
untuk kadar abu terjadi peningkatan persentase seiring
dengan peningkatan perbandingan SBA : SBK.
Persentase karbon tetap adalah selisih dari 100 % - (kadar
air + zat terbang + abu).

nilai seiring dengan penurunan perbandingan SBA : SBK.


Sedangkan untuk persentase 50 : 50 dan 25 : 75 menurun.
Hal ini terjadi karena zat terbang untuk perbandingan
75 : 25 juga mengalami hal yang sama. Zat terbang
batubara terdiri dari materi mengandung gas-gas seperti
hidrogen, karbon monoksida, dan gas-gas yang mudah
terbakar seperti metana serta hidrokarbon lainnya. Tar
dan gas-gas tak terbakar seperti karbon dioksida dan
uap juga terdapat dalam volatile matter ini. Dekomposisi
atau penguraian komposisi unsur proksimat berbeda
untuk tiap jenis batubara. [5]. Sehingga dapat dipahami
bila terjadi kelainan kadar zat terbang dan nilai kalori
yang diukur seperti yang telah didapat diatas.

Hasil Analisis Pembakaran


Pada analisis pembakaran ini alat yang digunakan
adalah Fixed Bed Combustor yang dirancang khusus
dalam skala laboratorium. Tujuan dari analisis ini adalah
untuk mengetahui suhu yang dihasilkan dari pembakaran
batubara pada tungku tersebut, baik batubara tanpa
pencampuran maupun batubara dengan pencampuran.
Pada pengujian ini dua suplai udara yang dipakai yaitu
dari bawah kisi (udara primer) dan udara dari atas ruang
pembakaran (udara sekunder). Gambar tungku
ditampilkan pada Gambar 1.

Tabel 1. Hasil analisis Proksimat, Ultimat dan Nilai Kalori


(SBA= Sub Bituminous Bukit Asam dan SBK = Sub Bituminous
Kalimantan)
Perbandingan % berat antara SBA : SBK
100 : 0

75 :25

50 : 50

25 : 75

0 :100

Proksimat ( % )
Zat Air
Zat Terbang
Abu
Karbon Tetap

14,61
42,02
2,60
40,77

10,76
44,12
2,84
42,28

8,36
42,98
3,06
45,6

8,66
41,71
3,10
46,53

8,67
38,84
3,12
49,37

Ultimat ( % )
Karbon
Hidrogen
Nitrogen
Sulfur
Oksigen

56,91
5,12
0,96
0,64
36,64

63,52
5,06
0,82
0,55
30,05

66,01
4,92
0,60
0,42
28,05

67,64
4,9
0,48
0,31
26,65

69,16
5,14
0,14
0,18
25,38

Nilai Kalori (kal/gr)

6820,2

6944,1

6412,1

6055,2

5437,8

Keterangan : 100:0 untuk SBA: SBK adalah nilai untuk SBA, sedangkan 0:100 untuk SBA:SBK
adalah nilai untuk SBK.

Untuk analisis ultimat, terlihat bahwa kadar


karbon terjadi peningkatan dan ini sesuai dengan hasil
analisis proksimat dimana kadar karbon tetap meningkat.
Untuk ketiga unsur lainnya seperti hidrogen, nitrogen
dan sulfur telah terjadi penurunan proporsional seiring
dengan penurunan perbandingan persentase SBA: SBK.
Kadar oksigen adalah selisih 100% unsur dengan
unsur lainnya.
Untuk pengujian nilai kalori, terlihat bahwa untuk
perbandingan 75 % SBA : 25% SBK, terjadi peningkatan
286

Gambar 1. Fixed bed combustor

Prinsip kerja dari alat ini adalah dengan cara


membakar batubara di dalam fixed bed combustor hingga
terbakar seluruhnya dan suhu diukur dengan termokopel
hingga suhu maksimum dicapai. Pada pengujian ini udara
yang disuplai dari bawah kisi (udara primer) berupa
udara bebas yang dihembuskan oleh blower dan udara
dari atas ruang pembakaran (udara sekunder) berupa
udara bebas.
Pada analisis pembakaran ini, digunakan batubara
dengan ukuran butiran lebih besar dari batubara untuk
analisis proksimat dan ultimat, yaitu batubara yang
mempunyai ukuran butiran 5 mm hingga 10 mm.
Mula-mula batubara dibakar diluar reaktor (combustor)
yang bertujuan untuk mempermudah penyalaan api
pada proses pembakaran. Setelah batubara menyala,
selanjutnya dimasukkan kedalam reaktor dan dialirkan
udara dari blower lewat bawah kisi. Pada saat batubara
terbakar seluruhnya maka dilakukan pengukuran,

Pengaruh Pencampuran Batubara dari Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan Terhadap Suhu Pembakarannya dengan
Menggunakan Fixed Bed Combustor (Nukman)

suhunya dan dicatat bila termokopel telah menunjukkan


nilai maksimum yang dicapainya. Pengujian dilakukan
sebanyak 2 (dua) kali dan nilai rata-ratanya merupakan
nilai pengujiannya. Pada metode ini, batubara yang
dibakar seberat 1000 gram. Hasil pengujian dapat dilihat
pada Gambar 2.
Nilai kalori merupakan faktor utama yang
mempengaruhi suhu pembakaran batubara. Secara
teoritis suhu pembakaran sebanding dengan nilai kalori.
Tetapi nilai kalori tidak mutlak mempengaruhi suhu
pembakaran. Terdapat juga banyak faktor yang
mempengaruhi suhu pembakaran antara lain kadar zat
air, zat terbang (volatile matter) dan kadar abu.

1. Hasil pengujian batubara dengan dan tanpa


pencampuran menghasilkan kecenderungan
membentuk pola perubahan proporsional yang
meningkat ataupun menurun, baik untuk parameter
analisis proksimat, ultimat dan kadar sulfur.
2. Pada pengujian ini suhu pembakaran yang tertinggi
dihasilkan pada pembakaran sampel 100 % murni
sub bituminous Sumatera Selatan dengan suhu
369 0 C.
3. Bila dilihat dari keseluruhan pengujian, campuran
yang optimum adalah 75 % sub bituminous Sumatera
Selatan dan 25 % sub bituminous Kalimantan Selatan.

DAFTAR ACUAN
[1].

[2].

[3].
Gambar 2. Perubahan suhu untuk perbandingan
persentase berat.

Pada Gambar 2, terlihat bahwa batubara sub


bituminous Bukit Asam memiliki nilai suhu yang
maksimum dibandingkan sampel lain. Hal ini
dikarenakan nilai kalori batubara Sumatera Selatan
juga tinggi bila dibandingkan dengan batubara dari
Kalimantan Selatan. Apabila persentase perbandingan
batubara Sumatera Selatan dikurangi maka suhu
akan turun.
Pada gambar di atas juga dapat dilihat bahwa
pada pencampuran 75% sub-bituminous Sumatera
Selatan dengan 25% sub-bitumunous Kalimantan Selatan
juga menghasilkan suhu yang tinggi, ini dikarenakan juga
kadar zat terbang yang terkandung dalam sampel
tersebut juga tinggi. Akan tetapi zat terbang tidak
bertahan lama dalam proses pembakaran karena zat
terbang mempunyai sifat mudah terbakar dan cepat
habis, artinya zat terbang akan habis sebelum batubara
habis terbakar.
Selain itu juga kadar abu juga mempengaruhi suhu
pembakaran, semakin tinggi kadar abu maka akan
semakin berkurang juga suhu yang dihasilkan karena
abu bersifat menghalangi distribusi panas yang
dihasilkan dari pembakaran.

[4].

[5].

www.berita iptek.com, Briket Batubara sebagai


Alternatif Pengganti Minyak Tanah, 21 November
(2005)
FAJARUDDIN, Perancangan Tungku Briket
Batubara Untuk Penyulingan Daun Nilam
Kapasitas 40 Kilogram, Tugas Akhir, Jurusan
Teknik Mesin Universitas Sriwijaya, Palembang,
(2000)
PISUPATI, S.V., B.G. MILLER, and A.W. SCARONI,
Fuel Processing & Technology, 32 (1992)
159-179
SONIA, HELLE,ALFREDO GORDON, GUILEMO
ALFARO, XIMENO GARCIA, and CLADIA
ULLOA, J. Fuel Processing Technology, 80
(Issue 3) (2003) 209-223
NUKMAN, Proses Aglomerasi Air Minyak Sawit
untuk Menurunkan Kadar Abu dan Sulfur Serta
Meningkatkan Nilai Kalori Batubara Semi Antrasit,
Bituminus dan Sub Bituminus, Disertasi Program
Doktor Ilmu Material, UI, (2006)

KESIMPULAN
Dari beberapa pengujian dan pembahasan
yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
287