Anda di halaman 1dari 3

Intan Ratih Puspita

1137040035
Pembahasan
Abu merupakan residu zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik.
Kandungan abu dalam bahan pangan bergantung pada jenis bahan dan cara pengabuan yang
digunakan. Pengabuan merupakan suatu proses pemanasan bahan dengan suhu sangat tinggi
selama beberapa waktu sehingga bahan akan habis terbakar dan hanya tersisazat anorganik
berwarna putih keabuan.
Kandungan abu dari suatu bahan menunjukan kadar mineral dalam bahan. Ada dua
macam bahan mineral yang terdapat dalam pangan, yaitu mineral organik seperti garam asam
malat, oksalat serta asetat; dan mineral anorganik seperti garam fosfat, karbonat, klorida,
sulfat dan nitrat. Penentuan kadar mineral bahan secara asli sangatlah sulit sehingga perlu
dilakukan dengan menentukan sisa hasil pembakaran garam nieral dalam bahan tersebut.
Pengabuan dapat menyebabkan hilangnya bahan-bahan organik dan anorganik sehingga
terjadi perubahan radikal organik dan terbentuk elemen logan dalam bentuk oksida atau
senyawa lainnya (Muchtadi,1989).
Percobaan ini bertujuan untuk menganalisis kadar abu atau mineral dalam bahan pangan
nasi, beras, tempe dan tahu.Metode yang digunakan adalah pengabuan kering yaitu dengan
mengoksidasi zat-zat organik yang ada pada bahan dengan memanaskannya pada suhu
500-600C kemudian melakukan penimbangan zat-zat yang tertinggan setelah proses
pemanasan. Pengabuan dengan metode kering ini dilakukan untuk menentukan total abu, abu
larut air dan tidak larut asam. Penentuan abu total dapat mengetahui jenis bahan yang
digunakan, serta parameter nilai gizi bahan pangan.
Pada percobaan ini perlakuan pertama yang dilakukan adalah membakar cawan dalam
tanur selama 30 menit. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air dan endapan yang
terdapat dalam cawan. Cawan porselen digunakan karena karena dapat mencapai berat
konstan yang cepat tetapi mempunyai kelemahan yaitu mudah pecah pada perubahan suhu
yang mendadak. Selanjutnya cawan didalam desikator selama 15 menit kemudian ditimbang,
sehingga diperoleh berat dari keempat cawan kosong tersebut secara berturut-turut adalah:
31,2437 g; 40,0876; 40,9984; dan 35,1801 g.
Bahan yang akan ditentukan kadar abunya terlebih dahulu digerus dan dihaluskan untuk
memperkecil ukuran bahan, selanjutnya masing-masing bahan ditimbang sebanyak 7 gram.
Setelah itu, bahan dimasukan kedalam cawan yang telah diketahui beratnya agar dapat
dihitung berat awal bahan. Setelah ditimbang, cawan berisi sampel dipanaskan di atas hotplate
tujuannya untuk meminimalkan asap atau jelaga yang muncul pada saat pengabuan, setelah
dipanaskan sampel menjadi berwarna coklat dan kering.
Setelah dipanaskan, cawan dan sampel selanjutnya dibakar dalam tanur dengan suhu
500C tujuannya untuk mengoksidasi zat organik dalam bahan pangan, zat organik dapat
terbakar karena dalam senyawa organik terdapat karbon, nitrogen, oksigen dan hidrogen.
Temperatur ini harus diperhatikan karena banyak elemen abu yang dapat menguap pada suhu
tinggi misalnya unsur K, S, Na, Ca, Cl, dan P. Selain itu juga dapat menyebabkan

dekomposisi senyawa tertentu seperti K2CO3, CaCO3 dan MgCO3. Selama proses pemanasan
dari awal akan terjadi penguapan air dan zat-zat yang terdapat pada sampel sehingga yang
tersisa hanyalah sisa dari pembakaran yaitu abu.
Tahap selanjutnya cawan berisi sampel didinginkan dalam desikator selama 10 menit
dengan tujuan untuk menyeimbangkan suhu dan mendinginkan sampel. Pada desikator
terdapat bahan pengering seperti silika sehingga uap air yang terdapat pada sampel terserap
oleh silika gel dan diperoleh sampel yang benar-benar kering. Setelah didinginkan, sampel
dan cawan ditimbang sehingga diperoleh berat abu dari sampel nasi, beras, tempe dan tahu
secara berturut-turut adalah 32,1015 g; 40,0983 g; 41,0635 g; dan 35,2433 g. Dari hasil
perhitungan diperoleh kadar abu pada sampel nasi sebesar 42,89%, beras 0,4285%
berdasarkan literatur sebesar 0,1446%, tempe 3,2550% berdasarkan literatur sebesar 1,006%,
dan tahu 3,1600%. Perbedaan kadar abu hasil percobaan dengan literatur disebabkan oleh
penggunaan mutu bahan yang berbeda.
Berdasarkan hasil pengamatan, dari keempat bahan yang digunakan sampel yang
mempunyai kadar abu paling tinggi adalah nasi dan yang mempunyai kadar abu paling rendah
adalah beras. Kadar abu yang tinggi menunjukan banyaknya mineral yang terkandung dalam
bahan pangan sedangkan kadar abu yang rendah menunjukan kandungan mineral yang
sedikit.
Kelebihan dari analisis kadar abu metode kering adalah dapat digunakan untuk
penentuan kadar abu bahan pangan untuk sampel yang banyak; dapat digunakan untuk
menganalisis abu yang larut dan tidak larut dalam air serta tidak larut dalam asam; dan tidak
menggunakan reagensia sehingga biaya lebih murah dan tidak menimbulkan bahaya.
Sedangkan kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang lama, memerlukan suhu yang
tinggi dan memiliki kemungkinan kehilangan air yang terikat secara kimia akibat pemanasan.
Kesimpulan
1.

Analisis kadar abu pada bahan pangan dengan metode kering dilakukan dengan

mengoksidasi zat organik dalam sampel pada suhu tinggi kemudian menimbang zat yang
tertinggal setelah pemansan.
2.

Dari hasil analisis abu diperoleh kadar abu pada sampel nasi sebesar 42,89%, beras

3,2550%, tehu 3,16% dan tempe 0,428%.


Daftar Pustaka
Aini, Kurnia, dkk. 2014. Penetapan Kadar Abu. www.scribd.com (diakses pada 09 Maret
2016 11.00 wib)
Anonim. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Pangan. Bandung: UIN SGD Bandung
Muchtadi, D. 1989. Petunjuk Laboratorium: Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Bogor: Depdikbud
Dirjen Dikti, PAU Pangan dan Gizi IPB
Slamet, Sudarmadji, Bambang Haryono, dan Suhardi. 1984. Analisis Bahan Makanan dan
Pertanian. Yogyakarta: Liberty
Winarno, F. G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia