Anda di halaman 1dari 18

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

DEEP VEIN TROMBOSIS

OLEH :
NURHADIA YUNUS
C 111 09 260

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

DEFINISI
Deep vein thrombosis(DVT) pembentukan
bekuan darah pada lumen vena dalam (deep
vein) yang diikuti oleh reaksi inflamasi dinding
pembuluh darah.

Sering mengenai vena profunda pada tungkai.


Dapat juga terjadi pada vena dalam lainnya
(sinus cerebral, vena pada lengan, retina, dan
mesenterika).

ETIOLOGI
DVT disebabkan
Trauma vena
Hiperkoagulabil
itas
Gangguan
aliran darah
vena (stasis)
trias
virchow

FAKTOR RESIKO
Infark
miokard dan
payah
jantung
Kehamilan
dan
persalinan

Immobilisasi
yang lama
dan
paralisis
ekstremitas.

Tindakan
operatif

Defisiensi
Anto
trombin III,
protein C,
protein S
dan alfa 1
anti tripsin.

Obat-obatan
konstrasepsi
oral

Obesitas
dan varices

Fakt
or
Resi
ko

Proses
keganasan

PATOGENESIS

Statis
Vena

Immobilisasi dalam waktu yang cukup lama


Statis vena predisposisi untuk terjadinya trombosis lokal
gangguan mekanisme pembersih terhadap aktifitas faktor pembekuan
darah memudahkan terbentuknya trombin

Kerusakan
pembuluh
darah

Trauma langsung yang mengakibatkan faktor pembekuan


Aktifitasi sel endotel oleh cytokines yang dilepaskan sebagai akibat
kerusakan jaringan dan proses peradangan

Perubahan
daya beku
darah

Normal seimbang antara sistem pembekuan darah


dan sistem fibrinolisis
Trombosis aktifitas pembekuan darah meningkat
atau aktifitas fibrinolisis menurun
Trombosis vena hiperkoagulasi, defisiensi Anti
trombin III, defisiensi protein C, defisiensi protein S dan
kelainan plasminogen

PATOGENESIS
Asal terjadinya
trombus pada katup

peningkatan ekspresi protein C


reseptor endotel (EPCR),
thrombomodulin (TM) dan
penurunan ekspresi Von
Willebrand faktor (vWF)

TROMBUS
fibrin

red
cell

dibentuk pada aliran darah yang lambat


atau yang terganggu

GEJALA KLINIS
Gejala tidak spesifik dan keparahan penyakit
tidak berhubungan langsung dgn luas penyakit

Gejala yg biasanya timbul :


Nyeri pada ekstremitas yg terkena (nyeri berdenyut)
Nyeri tekan
Bengkak (edema)
Meningkatnya turgor jaringan disertai pembengkakan
Kenaikan suhu kulit
Bintik-bintik

DIAGNOSIS
Anamnesa
Pemeriksaan
Tanda Homan nyeri tekan pada betis sewaktu

dorsofleksi kaki
Tanda Lowenburg nyeri di paha atau betis
sewaktu penggembungan manset

MANIFESTASI KLINIS
lokas
i

Vena di daerah tungkai


vena tungkai superfisialis
vena dalam di daerah
betis vena poplitea
vena femoralis
vena iliaca.

Nyeri
Pembengkakan
Perubahan warna kulit
Sindroma post-trombosis

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
2. PEMERIKSAAN RADIOLOGI:

VENOGRAFI/FLEBOGRAFI
USG DOPPLER (DUPLEX SCANNING)
USG KOMPRESI
VENOUS IMPEDANCE PLETHYSMOGRAPHY (IPG)
MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI)

PEMERIKSAAN PENUNJANG (1)


1.

Pemeriksaan D-Dimer merupakan tes darah yang digunakan sebagai


tes penyaringan (screening) untuk menentukan apakah ada bekuan
darah. Digunakan sebagai indikator positif atau negatif.
negatif tidak ada bekuan darah.
positif kemungkinan terjadi trombosis,
banyak kasus-kasus lain mempunyai hasil positif (kehamilan, infeksi,
malignansi).

PEMERIKSAAN PENUNJANG (2)


2. Doppler ultrasound Teknik Doppler dipakai untuk menentukan
kecepatan aliran darah dan pola aliran dalam sistem vena dalam dan
permukaan.
3. Duplex ultrasonic scanning mendapatkan gambaran vena dengan
teknik penggabungan informasi aliran darah Doppler intravaskuler
dengan gambaran ultrasonic morfologi vena. Dengan teknik ini obstruksi
vena dan refluks katup dapat dideteksi dan dilokalisasi.

PEMERIKSAAN PENUNJANG (3)


4. Pletismografi vena mendeteksi perubahan dalam volume
darah vena di tungkai.
mencakup: Impedance plethysmography , Strain gauge
plethysmography (SGP), Air plethysmography ,
Photoplethysmography (PPG)
5. Venografi teknik yang dianggap paling dipercaya untuk
evaluasi dan
perluasan penyakit vena.
kelemahan tes invasif : lebih mahal, tidak nyaman bagi
penderita, resiko lebih besar.

TERAPI
FASE
AKUT

TUJUAN:
1. mencegah perluasan trombus
2. membatasi bengkak yang progresif
3. melisiskan atau membuang bekuan darah
( trombektomi)
4. mencegah disfungsi vena atau sindrom pasca
trombosis (post thrombotic syndrome)
5. mencegah rekurensi trombosis
6. mencegah komplikasi lambat seperti
hipertensi pulmonal, sindrom post trombotik,
dan
7. mencegah emboli

TERAPI
1. Unfractionated heparin (UFH)
atau
Low molecule weight heparin/LMWH atau heparin
2. Setelah pemberian UFH atau LMWH dilanjutkan
dengan antikoagulan oral
3. Terapi trombolitik bertujuan untuk melisiskan trombus
secara cepat dengan cara mengaktifkan plasminogen
menjadi plasma
4. Trombektomi terutama dengan fistula arteriovena
5. Filter vena cava inferior

KESIMPULAN
DVT pembentukan trombus pada vena profunda + reaksi inflamasi dinding
pembuluh darah & jaringan perivena

cedera pada pembuluh darah


hiperkoagulabilita
TROMBOSIS VENA DALAM
Triad Virchow stasis

Lokasi DVT sering di vena-vena di daerah tungkai vena tungkai superfisialis, vena dalam di daerah
betis atau lebih proksimal seperti vena poplitea, vena femoralis dan vena iliaca.

Manifestasi trombosis vena dalam nyeri, bengkak, perubahan warna kulit dan sindrom post
trombosis

Terapi yang digunakan meliputi UFH atau LMWH, dapat juga dengan fondafarinux.

THANK YOU